
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
Semoga selalu syuka.
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Kembali ke Kota Patriot,
Menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, Ann-Aro-Rery sampai juga di rumah Keluarga Cemara sehabis ngalong sebentar.
Meski ada dua bodyguard yang ditempatkan di rumah Keluarga Cemara serta satu pengurus rumah yang nampak sigap berdiri menyambut kepulangan tiga majikan muda mereka tersebut yang sudah masuk ke halaman depan rumah tersebut, namun Aro dan Rery tetap disiplin memasukkan motor Poppa dan Varen yang mereka pinjam ke garasi.
Dan meskipun juga ada dua bodyguard lain yang menyertai tiga pewaris muda itu, yang mana sudah menawarkan untuk membantu Aro dan Rery memasukkan motor yang habis mereka pakai ke garasi, setelah-Fajar turun dari boncengan motor Momma yang dikendarai oleh Achiel, dimana satu bodyguard itu langsung memasukkan motor Momma tersebut ke garasi khusus motor.
“Selamat pagi Kak Junjung, Kak Ibad, Mang Ateng.“
Ann menyapa tiga orang tersebut saat Aro dan Rery sedang memasukkan motor ke garasi rumah Keluarga Cemara.
“Selamat pagi, Nona Adrien.”
“Selamat pagi, Nona Muda.”
Dua bodyguard dan satu pengurus rumah yang disapa Ann barusan itu pun membalas sapaan Ann dengan santun.
“Apa sudah ada yang bangun?” tanya Ann kemudian.
“Bapak Herman sama Ibu Bela udah bangun, Non.“
“Oh ya sudah.”
Ann menyahut ramah, pada tiga orang yang ia sedang ajak bicara itu.
♥
Setelah rampung memasukkan motor Poppa dan Varen ke garasi, sebagaimana Ann-Aro dan Rery menyapa tiga orang yang terjaga pada pagi buta tersebut.
Dimana dua bodyguard itu pasti akan berganti dua sampai tiga kali sehari, alias kerja dengan sistem shift. Namun seringnya, mereka yang ditempatkan di rumah Keluarga Cemara itu biasa senang berlama-lama menjaga rumah tersebut-soalnya si empunya rumah kelewat ramah dan kelewat bae, sering ngajak liwetan.
Sementara dia yang dipanggil Mas Ateng itu memang sudah lama ikut dengan Ake Herman dan Ene Bela, dari saat keduanya mulai merintis bisnis penyewaan alat-alat pesta dan katering di Bekasi, sejak Ake Herman dan Ene Bela mendapatkan bantuan dari orang bae-yang mana adalah Gappa.
Aro dan Rery kemudian mengapit Ann selepas saling menyapa dengan tiga pekerja di rumah Keluarga Cemara-selain pamit pada Achiel dan Fajar, berikut berterima kasih karena sudah menemani mereka. Setelahnya,ketiga pewaris muda tersebut, mengayunkan langkah mereka untuk masuk ke dalam rumah Keluarga Cemara. Dimana aktifitas mulai nampak didalamnya, karena ART sudah pada bangun dan sedikit-sedikit mulai menjalankan tugas mereka. Sebelum nanti subuh berjamaah, dan sarapan sama-sama dengan para majikan yang pada kelewat bae itu.
Namun tetap para pekerja di rumah Keluarga Cemara dan seluruh ART The Adjieran Smith khususnya, akan bersikap tahu diri walau baik-baik banget majikan mereka itu tanpa tekecuali. Meskipun diantara para majikan itu ada yang jarang senyum dan datar saja ekspresi mukanya, serta judes.
Tapi biar begitu, ga ada yang memandang rendah pada para pekerja mereka, apalagi berlaku semena-mena.
“Oh iya Mang Ateng, nanti itu motor Poppa sama Abang yang aku Rery dan Kak Achiel habis pake, termasuk motornya Momma juga, minta tolong bawain ke tempat cucian motor ya?” pinta Aro pada satu dari beberapa pengurus rumah Keluarga Cemara dengan santun.
“Siap Den Aro.”
♥
Dua remaja dan satu remaji itu kemudian mengucapkan salam saat masuk, dimana salam mereka terdengar dibalas dari dalam rumah.
Lalu Ann-Aro-Rery, mendudukkan diri mereka di ruang tengah rumah Keluarga Cemara, dan salah satu ART menghampiri ketiganya.
Menanyakan jika ada yang ketiga majikannya itu butuhkan, dimana Ann-Aro-Rery minta tolong dibuatkan teh anget. “Kamu langsung istirahat saja sana, Ann,” kata Rery setelah teh manis anget buatan Bi Nini telah menghangatkan perut Rery, Ann dan Aro.
“Kalian berdua?....” tanya Ann pada Rery dan Aro.
“Kami nanggung subuh dulu.” Aro yang menjawab.
“Oh, iya, ya?....”
Ann menyahut.
♥
“Udah sana ke kamar, Ann,” ujar Aro perhatian. “Mata kamu udah ngantuk tuh keliatannya,” sambungnya. “Tidur sana –“
“Iya....”
Ann mengiyakan ucapan Aro.
“Tapi usahakan saat waktu sarapan kamu bangun ya, Ann?”
Rery yang kemudian bersuara.
“Soalnya kan kita terakhir sama-sama Ake dan Ene sarapan disini, karena siangnya kita sudah pergi dari sini.”
“Iya, Re-An.”
Ann mengiyakan permintaan Rery tanpa beban.
__ADS_1
♥
Tak lama setelah Ann undur diri dari hadapan Aro dan Rery untuk pergi ke kamarnya yang ia tempati bersama Aina-Val dan Isha, Aro dan Rery terlibat pembicaraan dengan bisik-bisik. “Ro-“
“Hem?”
Aro menanggapi Rery yang memanggilnya sambil ia selonjoran di atas karpet yang sedang ia duduki.
“Kita bicarakan soal Kak Lena yang kita lihat tadi ke Abang pas Abang sedang sama Kak Kaf, atau kita bicara sama Abang dulu?”
“Enaknya kita ngomong sama Abang dulu secara pribadi deh-“ jawab Aro.
“Gue juga berpikir seperti itu sih, kalau ingat ucapannya Kak Achiel tadi-“
“Ya entar pokoknya kita langsung masuk kalo Abang pas lagi ga sama Kak Kaf.”
“Ya sudah, okay-“
♥
Ketika Aro ingin lagi membahas soal Lena dengan Rery, Ene Bela muncul dari lantai dua, dan Aro mengurungkan niatnya untuk bicara dengan Rery yang kemudian berdiri untuk menyalim takdzim punggung tangan kanan si Ene yang seperti biasa selalu full senyum itu pada para cucu-cucunya.
Tak peduli itu cucu kandungnya seperti Aro dan Rery yang mana masing-masing adalah anak dari dua anak perempuan kandung Ene Bela, ataupun cucu-cucu angkat dari para anak angkat yang Ene Bela kasih sebagaimana juga dengan Ake Herman yang sama seperti Ene Bela terhadap semua cucu dari pasangan Kakak Ganteng dan Ibu Peri, sampai pasangan Papa Ghost dan Mama Fabi.
“Aro sama Rery abis pergi?“ tanya Ene Bela, karena melihat ada dua jaket kulit teronggok di sofa dengan berantakan.
“Iya, Ne. Abis maen bentar tadi.” Aro yang menjawab.
“Berduaan aje? ....”
“Sama Ann ....”
“Terus En-nya mana?-“
“Sudah ke kamar untuk tidur, Ne,” Rery yang kini menjawab.
“Nah Aro sama Rery kenape ga langsung ke kamar juga istirahat sono? Ene liat dah pada ngantuk matanya?”
“Tanggung Subuh, Ne.”
“Ya Aloh, cucu-cucu bujang Ene pada sholeh beut dah ah. Si solehnya aja ampe kalah.”
Aro dan Rery pun terkekeh mendengar celotehan Ene mereka yang sama ceriwisnya dengan Momma dan Mami Prita yang merupakan anak kandung Ene Bela dan Ake Herman.
♥
“Pagi....”
Kata sapaan terdengar saling bersahutan ketika waktu subuh tiba.
“Abis jalan kalian?” Mami Prita yang turun bersama Papi John sontak bertanya pada Aro dan Rery yang kelihatan masih duduk-duduk di ruang keluarga.
Aro dan Rery kompak mengiyakan. “Iya ....”
“Dari RR? ....”
Gantian Papi John yang bertanya pada Rery dan Aro.
Dimana Aro dan Rery sekali lagi kompak mengiyakan tebakan Papi John, karena memang tepat tebakan si Papi yang melihat jaket kulit masih teronggok sembarangan di salah satu sofa ruang keluarga rumah Keluarga Cemara.
“Apa sih, Pih? ....” kata Rery, karena Papi John mendekatinya dan Aro sambil juga sedikit mengendus. “Kami tidak minum-minuman keras, okay? ....”
“Tau sih? ....”
“Aku hanya memastikan jika kalian berdua masih mematuhi ucapan kami-“
Papi John menanggapi perkataan Rery dan Aro.
“Anak-anak soleh nih,” celoteh Aro. “Patuh lah sama ortu-“
Didetik dimana Papi John memutar bola matanya malas, karena celotehan si sulung kandungnya itu-hitungannya.
♥
“Nanti kalian dari sini jam berape perginya ke Bandara?”
Ake Herman bertanya pada mereka yang akan bertolak ke London hari ini, selepas mereka yang tidak berhalangan itu melakukan Subuh berjamaah di dalam ruangan yang dijadikan sebuah mushola dalam rumah Keluarga Cemara.
“Kemungkinan sehabis makan siang, Pa.”
Poppa yang menjawab.
“Maaf ya Pa, aku dan Fania harus meninggalkan Papa dan Mama dulu untuk sementara waktu ....”
__ADS_1
“Kaga ape-ape,” tukas Ake Herman. “Kan emang kamu sama Fania tinggal disono?” lanjutnya.
“Iya, tapi aku merasa tidak enak meninggalkan Papa yang habis kurang sehat seperti ini,” tutur Poppa.
“Kaga ape-ape, Endru. Papah udeh sehat ini-“ tukas Ake Herman.
“Meskipun udah ngerasa sehat, tetep harus disiplin sama apa yang dianjurin Alan loh, Pah-“
“Iyeee ....”
Ake Herman menanggapi ocehan sulung kandungnya-Momma.
“Jangan iye, iye aja. Tuh jangan bikin Syahelah darting, karena Papah susah dibilangin.”
“Tuh dengerin ....”
Ene Bela dengan cepat menyambar.
“Denger kalo orang ngasih tau. Jangan kelewat keras kepala, jadi malah nyusahin orang. Tuh si Endru, Reno, si Luka segala yang harusnya udeh pada balik ke London dari kemaren-kemaren kan jadi pada ngejedog disini, terus kerjaannye dia orang pade terbengkalai .... Belom lagi noh cucu-cucunya yang harus pada kuliah, sekolah, jadi nambah bolosnya. Belom lagi noh si Paren ama si Tan-Tan jadi kaga fokus kerja gegara pade khawatir sama Papah segala nih si Jon, Jep sama si Dewa segala.”
Alih-alih membela suaminya, Ene Bela menambahkan wanti-wanti Momma dengan cerocosan panjang lebar yang Ene Bela teruntukkan pada Ake Herman. Dimana Ake Herman nampak meringis saja mendengar cerocosan Ene Bela padanya itu. Sementara sisanya terkekeh.
“Kalau untuk merasa direpotkan oleh Papa ataupun Mama-termasuk oleh semua orang tua kami, aku-Fania dan Reno serta lainnya, sama sekali tidak merasa seperti itu. Kami yang kadang cerewet soal kesehatan kalian ini, semata-mata karena kami ingin Papa dan Mama serta semua orang tua kami itu selalu dalam keadaan sehat. Aku pribadi pun inginnya kita berkumpul semua seperti ini selalunya. Tapi mengingat Mika sampai Ares- setidaknya sampai para kakak siap meneruskan kami mengambil tanggung jawab ini selain Varen, Nathan dan Drea berikut Via, sayangnya aku dan lainnya harus tetap bekerja dulu sampai waktunya tiba-waktu dimana mereka semua siap.“
Poppa bicara panjang lebar, sambil menunjuk para anak yang ada dengan gerakan kepalanya.
“Terlepas hendak menjadi apa mereka dimasa depan nanti. Yang jelas mereka tetap bisa mengemban tugas untuk menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga kita ini ....”
♥
Waktu bergulir, dan mereka dari KUJ ( Kediaman Utama Jakarta ), telah datang ke rumah Keluarga Cemara.
Sengaja datang pagi-pagi, demi untuk sarapan bersama. Hal yang dibuat menjadi kebiasaan-selain akan berkumpul bersama dihari saat mereka yang tinggal jauh dari Jakarta datang untuk berkumpul secara lengkap dalam satu waktu kebersamaan, begitupun saat hendak berpisah walau hanya sementara.
“Assalamu’alaikum,” sapaan salam terdengar ramai dari pintu masuk, dan sahutan salam dari dalam rumah Keluarga Cemara pun terdengar ramai juga. Dimana satu per satu orang dalam rumah kemudian menghampiri mereka yang baru saja tiba itu.
“Nah lo? Ikut juga pagi-pagi kesini?” tanya Nathan yang melihat Arya ada bersama rombongan keluarganya.
“From very early in the morning ( Dari pagi buta )” Papa Lucca yang menjawab Nathan, dan Arya sontak terkekeh.
“Maklum baru jadian, bawaannya pengen buru-buru ketemu yayang Mika.”
“Heleh!”
“Lebay!”
“Sebodo.”
Arya menyahuti Nathan dan Varen yang mengejeknya itu.
“Ayang Mika-nya mana deh?. Masih bobo-kah? –“
Celoteh Arya masih celingukan.
“May baru kelar mandi, Kak Arya.”
Isha yang menyahuti celotehan Arya barusan.
“Oh, kirain masih bobo,” tukas Arya. “Baru mau ijin sama Daddy Dewa and Mom Ichel buat bangunin anaknya pake ciuman dari Pangeran.”
“Otak lo!” satu toyoran mendarat di kepala Arya dari tangan Nathan, dan si eks-sadboy itupun terkekeh.
“Namanya juga usaha,” kekeh Arya. “Gue baru inget belum dapet kiss sambutan sebagai pacar semalem dari si Mika.”
Arya melanjutkan celotehannya lagi sambil cengengesan.
“Berarti ilmu lo masih dibawah ini juragan onta,” tukas Varen. “Yang langsung maen samber bibir Val, bahkan sebelum mereka jadian.”
“Widih, kalem-kalem tukang nyosor!” cibir Arya sambil terkekeh geli memandang pada Kafeel yang senyam-senyum wae. “Gue aja baru dapet jidat. Itu juga full perjuangan dari curi-curi kesempatan-“
“Derita lo itu sih! ....” sambar Kafeel dengan melirik remeh pada Arya. "Keberuntungan lo ga sebaik gue-"
“Ga apa lah masih banyak kesempatan gue buat dapet bibirnya Eneng Judes.”
Arya berujar.
“Secara gue kan akan tinggal deket sama kekasih hati gue di London. Kiss nomor dua, yang penting gue bisa deketan sering-sering sama Neng Mika tersayang. Sementara lo, bakal LDR-an,” ledek Arya pada Kafeel.
“No big deal ( Bukan masalah besar )” sahut Kafeel.
Tanpa mereka yang sedang mengobrol iseng itu sadari-jika ada yang memperhatikan pembicaraan ke empat orang itu dibelakang mereka, dan kini sedang merasakan getir dalam hatinya.
♥♥♥
__ADS_1
To be continue ....