
Noted: Baca episodenya dulu, baru klik tanda jempolnya jika berkenan ya.
Thank You
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia ..
“Val kan suka bunga tulip-katanya?—“
“Iya.”
“Tapi kenapa hanya suka tulip merah aja?”
“Karena itu melambangkan cinta sejati, Kak ...”
“Seperti cinta kita? ...”
❤
“Ngomong-ngomong soal bunga kesukaan Val itu, apa ga bisa Val ganti dengan yang lebih lumrah?. Tulip merah kan susah carinya. Kalau aku pas mau kasih bunga ke kamu, masa harus pergi ke Belanda dulu?---“
“Ya tidak usah sering-sering memberi Val bunga tulip merah juga. Tapi Val harap orang-orang yang menyayangi Val, akan membuatkan taman tulip merah untuk Val, seandainya Val tidak punya banyak waktu di dunia ---“
Deg!.
Ada desir tak nyaman dalam hati Kafeel mendengar kalimat terakhir dari ucapan Val barusan.
Kafeel bahkan sampai menghentikan langkahnya secara tiba-tiba.
Lalu Kafeel memandang pada Val yang nampak sedikit terheran karena Kafeel yang menghentikan langkahnya secara tiba-tiba itu.
“Jangan bicara seperti itu.”
Kafeel memandang pada Val dengan tatapan serius.
“Aku tidak suka mendengarnya. Sangat tidak suka.”
Sementara Val sedikit mengernyit, karena kurang paham maksud Kafeel.
“Jangan lagi pernah mengatakan hal yang kamu katakan barusan. Hal tentang kamu yang tidak memiliki banyak waktu di dunia ---“
Oh, Val paham sekarang, kenapa wajah Kafeel berubah menjadi serius seperti sekarang. Val menampakkan senyumnya kemudian. “Kan seandainya, Kak ...”
Val berucap setelahnya, namun ucapannya tak dapat ia lanjutkan.
Kafeel dengan cepat meletakkan satu tangannya untuk menutup mulut Val.
“Stop it.”
Sambil juga Kafeel berucap untuk menyergah Val.
Satu tangan Kafeel masih ia tempelkan di mulut Val, namun dengan tidak kasar.
Sementara mata Kafeel menatap Val dengan lekat, dengan sorot mata yang mengisyaratkan jika hatinya sedang sedikit gusar.
Lalu sorot mata itu berikut ekspresi wajah dan gerakan kecil kepala Kafeel, meminta Val untuk mengiyakan perkataannya.
“Kak Kafeel nih, kenapa jadi serius sekali? ...” ucap Val setelah tangan Kafeel yang tadi menutupi mulutnya, telah dijauhkan oleh si empunya tangan.
Selepas Val yang membaca gelagat ekspresi Kafeel mengangguk mengiyakan, setelah Kafeel menyuruhnya untuk berhenti membahas hal yang barusan Kafeel larang.
“Jangan bicara seperti itu lagi.”
Kafeel masih nampak serius, meski saat Val berbicara tadi kala Kafeel telah menurunkan tangannya – Val mengatakannya dengan mencebik manja.
Tapi Kafeel seolah mengabaikan cebikan manja Val itu.
__ADS_1
Padahal biasanya, dari sejak Val belum menjadi kekasihnya, Kafeel selalunya merasa tak tahan setiap kali melihat Val membuat ekspresi yang menggemaskan.
Dan cubitan gemas, pasti akan dengan segera Kafeel layangkan ke pipi atau hidung Val.
Tapi tidak saat ini.
Hati Kafeel sedang merasa tak nyaman.
Entah kenapa setelah mendengar Val berkata tentang sebuah taman tulip merah yang dibelakangnya dibubuhi kalimat,
‘Seandainya Val tidak punya banyak waktu di dunia ...’
Hati Kafeel langsung rasanya tak nyaman.
Dan entah kenapa juga, Kafeel jadi menanggapi serius perkataan Val yang itu.
Padahal bisa saja Val hanya sekedar berucap saja, tanpa ada makna yang serius di dalam perkataannya itu.
Toh sedikit banyak perkataan Val ada benarnya jika dibahas secara harfiah. Umur manusia kan tidak ada yang tahu.
Namun begitu, Kafeel tidak mau Val mengatakan hal seperti itu tentang dirinya-kekasih hati Kafeel.
“Aku tidak mau lagi kamu mendengar hal-hal semacam yang tadi kamu katakan Val ...” kata Kafeel. “This is the first and the last ( Ini yang pertama dan terakhir ), kamu membicarakan hal seperti tadi.”
Kafeel sekali lagi menegaskan keinginannya pada Val.
Tidak keras, namun datar.
Pasalnya, perkataan Val soal ‘waktu yang sedikit di dunia’ itu, menciptakan satu pikiran buruk dalam benak Kafeel.
Dan hal itu sungguh sangat menganggu kenyamanan hati Kafeel sekarang ini.
“Paham ya Val?”
Kafeel sekali lagi menegaskan keinginannya pada Val.
Val pun mengangguk pelan.
“Iya, Kak ...” lirih Val. Melihat wajah Kafeel yang serius, membuat Val menjadi merasa gugup takut seperti jika ia sedang dimarahi oleh Abang Varen, yang bagi Val jauh lebih menyeramkan daripada Dad R atau para Dad-nya yang lain saat dirinya dianggap telah membuat kesalahan.
Dan kemarahan Abang sudah pernah Val rasakan sendiri, kala ia memposting fotonya yang sedang menggunakan bikini di media sosial.
Para Moms berikut kakek dan nenek Val, hanya menasehatinya saja.
Daddy R dan para Dad yang lainnya marah.
Tapi Abang Varen, murka!.
Akun media sosial Val bukan lagi diblokir, tapi dihilangkan oleh Abang Varen.
Selain Val di mencak-mencak habis oleh Abang Varen karena memposting fotonya yang memakai bikini itu.
Bukan masalah bikininya, karena kalau di dalam Mansion di Inggris atau di Kediaman Utama yang berada di Jakarta, Abang Varen atau siapapun tidak mempermasalahkan adik – adik perempuannya menggunakan baju renang super seksi itu.
Namun begitu, para perempuan di lingkup keluarga Val juga hanya memakai bikini jika sedang bersama para perempuan saja.
Karena kalau mereka memakainya saat para pria yang meskipun keluarga, masing – masing pasangan mereka sudah pasti akan melotot tajam.
Begitupun para pewaris muda yang berjenis kelamin pria. Aro, Rery, bahkan Ares pasti akan melayangkan protes jika para saudarinya memakai bikini saat berenang.
Tak suka melihat wanita – wanita di dalam keluarga mereka mengekspos tubuh secara berlebihan. Apalagi diumbar ke publik. Ya sudah, karena kesalahan Val akibat dia mendapat tantangan dari temannya, Val adalah satu – satunya pewaris di bawah Varen, yang pernah merasakan murkanya si Abang walau tanpa kekerasan fisik.
Tapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Val kapok, karena lumayan trauma juga dimencak – mencak Abang Varen.
Mana ga ada yang belain.
Malah,
‘Udah dibilangin jangan, masih dilakukan ----‘
‘Maaf ya, Mom sulit untuk membela kamu, soalnya kamu memang salah ----‘
__ADS_1
‘Tidak sekalian kau ekspos tubuhmu tanpa sehelai benang di social media?!’
‘Kau Mau Jadi Model Majalah Dewasa?! Kau Punya Harga Diri Tidak?! Kau Mau Menjual Diri?!’
Damage banget lah pokoknya murkanya Abang Varen.
Meskipun masih kadang nyeleneh, ya tetap Val punya ketakutannya sendiri pada wajah yang begitu serius, sinis, dengan rahang yang mengetat, walau tanpa mencak – mencak atau bicara dalam nada tinggi.
Tidak hanya jika Abang Varen yang nampak seperti itu, tapi jika Val sudah melihat para pria dalam keluarganya berekpresi seperti itu walau bukan dia penyebabnya, Val pasti bisa merasa gugup sendiri.
Dan kini, ekspresi tersebut Val lihat di wajah Kafeel.
Walau bukan ekpresi murka, tetap saja Val dilanda kegugupan, karena wajah Kafeel nampak datar dan sedikit dingin, selain begitu serius.
“Pilah-pilih jika mau bicara Val ... Jangan suka bicara sembarangan. Dan hal yang kamu katakan tadi, terasa sensitif untuk aku dengar ----“
Kafeel berkata lagi.
“Membuatku merasa sangat tidak nyaman ...”
Masih dengan ekspresinya yang datar.
“Maaf .....”
Val menyahut pelan.
Sambil menggigit bibir bawahnya, sambil menatap ragu-ragu pada Kafeel.
‘Kak Kafeel kenapa jadi serius dan sedikit menyeramkan sekali sih hanya karena ucapanku soal taman tulip merah? .... Aku memang menginginkan untuk memiliki taman tulip merah, kok. Dan lagi memang aku bicara benar kan? Umur manusia itu kan tidak ada yang tahu batasnya, termasuk aku?-‘
Val membatin lirih.
‘Lagipula aku kan hanya spontan mengatakan apa yang ada di pikiranku saja ...’
Hati Val yang bermonolog.
❤
Melihat wajah Val yang murung, Kafeel jadi menghela nafasnya.
“Maaf, kalau aku bicara sedikit keras ke kamu Val---“
“Tidak apa Kak.”
“Maafin Kakak ya?”
“Kak Kafeel ga perlu minta maaf. Val tidak marah kok. Tersinggung juga tidak.”
Val tersenyum kemudian.
“Ya sudah, ayo? ...” ajak Kafeel dengan mengarahkan tangannya untuk Val genggam seraya Kafeel tersenyum.
Val mengangguk seraya tersenyum dan meraih tangan Kafeel hingga jemari mereka bertautan lagi.
‘Sepertinya gue harus mengecek riwayat kesehatan Val ----‘ batin Kafeel yang kemudian bermonolog. ‘Gue tanya Alva aja apa ya? ....’
Hati Kafeel merasa masih was-was atas perkataan Val, selain entah kenapa ada takut yang menyelinap ke relung hatinya.
‘Semoga itu hanya ucapan sepintas lalu dari Val ...’ kesah Kafeel dalam hatinya. ‘Biarkan Val bersamaku,selama waktu di dunia ini berjalan, Ya Rab.’
❤❤❤
To be continue ....
Jangan lupa tinggalkan jejak.
LIKE, jika berkenan.
Thank you, and salam enjoy selalu.
Loph Loph,
__ADS_1
Emaknya Queen