
HANYA INGIN BERTEMU
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, England,
“Dads! Mom!..” Val berseru sambil ia berlari ke arah mereka yang ia panggil, di saat Val menangkap adanya eksistensi beberapa anggota keluarganya di ruang santai lantai tiga, saat Val keluar dari kamarnya dengan tergesa.
“Val.. Sayang.. ada apa?..”
Momma yang sudah berdiri sebelumnya karena terkaget mendengar pekikan Mika dan Ann dari dalam kamar Val bersama mereka yang sedang bercengkrama dengan Momma sebelum Val muncul dengan tergesa juga dengan jejak air mata di wajahnya itu, langsung saja menegur Val.
Sambil Momma meraih bahu Val karena Momma berjalan mendekat pada Val saat gadis itu tengah berlari ke arah dirinya dan enam orang lainnya berada.
Tak hanya Momma yang langsung berdiri terkejut ketika mendengar pekikan Mika dan Ann yang menyebut nama Val dengan keras dan terdengar panik, namun semua yang juga sedang bersama Momma --- berekspresi yang sama dengan nyonya bebek itu.
Yang langsung mengerubungi Val kemudian. Lalu Val yang bahunya telah dirangkul Momma bersama *Momm*y Ara, langsung diarahkan untuk duduk di salah satu sofa yang dekat dengan mereka. Namun Val bergeming.
Adik kandung Abang Varen itu tidak mau mendudukkan dirinya. “Val ingin ke Jakarta.. saat ini juga --- Val ingin.. bertemu Kak Kafeel..”
Dimana Val langsung berkata dengan tergugu. Sambil memandangi satu per satu mereka yang tadi Val hampiri itu, melirih dengan juga memohon.
Momma dan lainnya bingung dengan apa yang terjadi pada Val, karena satu incess itu datang sambil berlari dan berseru tergesa kepada mereka. Serta juga ada jejak air mata di wajah Val yang mata mereka tangkap.
Dimana kemudian, pandangan Momma dan lainnya itu teralih pada Mika dan Ann yang telah juga nampak berlari dari kamar Val.
Dan kedua incess itu telah juga menghentikan langkah mereka, di tempat yang sama dengan Val.
Yakni di dekat beberapa anggota keluarga Mika dan Ann yang sebelumnya mereka tahu sedang bercengkrama di ruang santai lantai 3 mansion mereka tersebut.
🌷
“Val sudah kami lihat menangis saat ia bangun. Lalu saat hendak aku dan May dekati, dia sudah bangkit dengan cepat dari ranjangnya dan berlari.”
Adalah Ann yang berkata, ketika mereka yang sebelumnya sedang bercengkrama di lantai 3 mansion itu kompak memandang ke arah dirinya dan Mika.
Dimana baik Ann dan Mika paham, jika beberapa anggota keluarga mereka itu pasti terkejut selain heran dengan sikap Val yang tahu-tahu berlari dari arah kamar lalu sempat berseru tergesa, dan sekarang melirih memohon dengan jejak airmata di wajahnya.
Bahkan mata Val juga masih nampak berkaca-kaca.
Jadi walau tanpa adanya pertanyaan yang tercetus, namun Ann paham atas mereka yang sedang memandangi dirinya dan Mika setelah Val bersikap seperti itu --- bahwasanya pandangan tersebut adalah pandangan untuk meminta penjelasan.
Yang kemudian Ann katakan penjelasan yang sesuai dengan yang dirinya dan Mika alami sesuai apa yang ia katakan tadi.
🌷
“Val, ingin ke Jakarta.. Daads..“
Suara Val yang memohon dengan lirih langsung terdengar lagi setelah Ann menjawab keterkejutan berikut keheranan beberapa anggota keluarganya itu, yang bertanya melalui tatapan.
“Iya, Baby, tapi..“ dimana selanjutnya, pandangan semua orang yang sedang berkumpul dalam satu area mansion itu kembali kepada Val. Dan Dad R yang paling pertama menanggapi permohonan lirih Val itu.
“Tolong jangan halangi Vaal untuk bertemu Kak Kafeel..“ Val dengan cepat menukas ucapan Dad R yang semula ingin menyergah permintaan Val karena beberapa pertimbangan, dengan wajahnya yang nampak gelisah. Dimana kemudian Dad R langsung lagi merespons ucapan Val yang terdengar gelisah barusan.
“Tidak ada dari kami yang akan menghalangimu untuk pergi ke Jakarta dan menemui Kak Kafeel, Baby..“ yang mana ucapan Dad R ini, kemudian diiyakan oleh para lima orang tua yang lain. Lalu dengan cepat lagi, Val menyahut.
“Sekarang, ya Dads? Karena Val ingin segera bertemu dengan Kak Kafeel..“
“Tapi Kak Kafeel..“
Poppa yang selanjutnya bersuara.
“Please Daddy.. Poppa.. Papa.. Val mo – hoon..“
Hanya saja, belum sempat Poppa menyelesaikan kata – katanya, Val kembali melirih sambil memandang penuh pengharapan kepada tiga daddy yang kini sudah ada di hadapannya.
Lalu atas dasar tidak tega setelah sempat saling tatap dengan yang lain sebelumnya, Dad R kemudian mengiyakan permintaan Val. “Baiklah ...” ucap Dad R yang kini tidak bisa menolak permintaan Val dengan tegas seperti dulu selalunya.
Kondisi Val, dan sebuah kenekatan yang pernah anak perempuan kandungnya lakukan itu sungguh membuat Dad R memiliki kekhawatirannya sendiri atas kelabilan psikis Val yang akan mudah kepikiran lalu akan memicu rasa nyeri timbul di kepala Val.
Selain Dad R memang memiliki trauma setelah tindakan nekat Val yang sempat menciptakan sembilu dan duka serta kekhawatiran berikut ketakutan dalam keluarga mereka selama beberapa waktu.
Jadi tak ingin menyergah lagi permintaan Val yang melirih dan nampak hampir menangis itu, Dad R dengan pun mengiyakan permintaan Val tersebut. Dan memang Dad R juga teringat janjinya sendiri saat Val dinyatakan telah tutup usia.
Bahwasanya andai ada keajaiban dan meninggalnya Val hanyalah sebuah mimpi buruk saja, Dad R akan mengabulkan apapun permintaan Val asal anak perempuan kandungnya itu bisa bernafas lagi, bahkan hidup dengan sehat wal’afiat dan berumur panjang.
Karena seyogyanya --- layaknya orang tua yang mencintai anak – anak mereka, bagi Dad R --- adalah sebuah mimpi buruk bagi para orang tua jika harus melihat kematian anak – anaknya dan melihat pemakaman mereka.
__ADS_1
🌷
“Benar, Daddy.. Val.. boleh ke Jakarta saat ini juga?..”
Val langsung bersuara dengan menatap Dad R untuk memastikan.
“Apa aku pernah mengingkari ucapanku sendiri, hem?---“
“Terima kasih, Daddyy..” tukas Val dengan melirih dan langsung berhambur memeluk Dad R.
Yang mana Dad R langsung melingkarkan tangannya memeluk Val. “Anything for you, Baby..” kata Dad R kemudian.
🌷
Val tak hanya berhambur memeluk Dad R --- pelukannya itu ia bagi juga pada Poppa, Papa Lucca dan tiga mom - nya.
Yang tentunya membalas pelukan Val dengan penuh kasih. “Happy?..” Papa Lucca kemudian bersuara. Dimana Val langsung mengangguk seraya tersenyum.
“Yes, Papa..”
Papa Lucca pun tersenyum.
Begitu juga lainnya.
“So no more tears, okay?”
Papa Lucca berkata lagi, sambil menghapus air mata Val yang sempat jatuh ke pipi satu incess itu saat memeluk dirinya dan lima orang tua yang lain.
“Yes, Papa..”
🌷
“Duduklah dulu dan tenanglah, hem? Kami akan menghubungi bandara dan pilot untuk mempersiapkan penerbangan sekarang.”
“Iya, Poppa.”
“Ini Val, minum dulu..”
“Terima kasih, May.”
🌷
“Val, Sayang, boleh kami tahu, mengapa tiba – tiba kamu ingin menemui Kak Kafeel?---“
“Really, Baby?---“
“Iya, Daddy..”
“Alhamdulillaahh.”
“Di mimpi Val tadi, semua terputar. Walau lebih banyaknya tentang Kak Kafeel.”
“Itu cukup bagi kami, asalkan ingatan kamu sudah kembali.. walau hanya baru tentang Kaka saja.”
“Val juga ingat, kalau Val sudah melupakannya, Daddy.. Val ingat sudah melupakan Kak Kafeel dari sejak Val terbangun dari koma. Kenapa ya, Val sampai tidak ingat sama sekali tentang Kak Kafeel?---“
🌷🌷🌷
“Nomor ponsel Kak Kafeel masih sama tidak?---“
“Masih sama. Apakah kamu ingin menghubunginya?..”
“Heemm.. tidak deh. Val ingin memberikannya kejutan. Sekaligus Val ingin melihat bagaimana Kak Kafeel menatap Val saat melihat Val datang ke hadapannya secara tiba – tiba. Jadi kalian jangan mengatakan padanya ya? Kalau Val akan segera menemuinya..”
“Iya.”
🌷🌷🌷
“Val ingin duduk di sana, boleh Dad, Mom?.. untuk sedikit melepas rindu Val sebelum bertemu Kak Kafeel, karena itu kan tempat duduk Val dengan Kak Kafeel biasanya ya, jika Val bepergian dengan Kak Kafeel menggunakan jet ini?”
Val kini sudah berada di dalam jet pribadi pada sebuah lahan luas yang dibeli oleh keluarga The Adjieran Smith untuk mereka jadikan sebagai bandara pribadi mereka, setelah menemukan area yang kiranya tepat untuk mereka membangun fasilitas parkir khusus burung – burung besi nan mewah yang keluarga itu miliki dalam jumlah yang kiranya dapat dikatakan banyak.
Yah meskipun tidak mencapai 10 unit jet pribadi yang The Adjieran Smith Family miliki, namun untuk ukuran horang kayah --- punya 5 jet pribadi saja sudah wah sekali dalam pandangan umum. Itu belum termasuk beberapa unit helikopter, yacht dan kapal pesiar besar --- jangan lupakan koleksi mobil dan motor super mewah yang The Adjieran Smith Family miliki dari tiap – tiap anggota keluarga mereka itu.
Jadi atas pertimbangan privasi, selain memang jumlah jet pribadi mereka yang terbilang banyak itu --- The Adjieran Smith Family memutuskan untuk membeli lahan yang kiranya tepat untuk mereka buat sebagai parkiran berikut landasan terbang untuk beberapa unit jet pribadi mereka tersebut.
Termasuk untuk tempat parkir beberapa unit helikopter.
Yang terkadang, salah satu helikopter itu ada di halaman The Great Mansion of The Adjieran Smith yang memang memiliki sebuah helipad.
Karena terkadang, ada perjalanan mendadak yang dilakukan oleh anggota keluarga The Adjieran Smith, dan helikopter menjadi pilihan untuk transportasi.
__ADS_1
Namun mengingat perjalanan udara dari London ke Jakarta memakan waktu hingga belasan jam, kiranya jet pribadi lebih nyaman untuk digunakan saat Val memohon untuk menemui Kafeel dengan segera.
🌷
“Tentu, Baby. Silahkan saja kamu duduk dimanapun yang kamu mau. Di area flight deck (kokpit) juga boleh.. asal jangan kamu meminta untuk duduk di sayap pesawat.” Jawaban Dad R pada pertanyaan Val sebelumnya. Membuat Val jadi terkekeh kecil setelah mendengar ucapan ayah kandungnya itu.
“Hihi, Daddy bisa saja,” cetus Val kemudian.
Dad R dan Mommy Ara lalu mengulum senyum mereka.
“Kalau begitu, Val ke sana sekarang, ya?---“
“Iya---“
🌷🌷🌷
“Hon..”
“Hem?”
“Apa kita perlu menghubungi Abang dulu sekarang dan mengatakan padanya tentang apa yang telah terjadi pada Val, dan kita sedang mengarah ke Jakarta saat ini? Karena aku baru ingat, jika Kaka kan tidak berada di Jakarta sekarang?---“
“Ah iya, aku sampai melupakan itu.”
“Ya sudah, coba kamu hubungi Abang.”
“Aku akan mengiriminya pesan saja. Dan meminta Abang menjawab via chat juga.”
“Semoga saja Val tidak gusar dan berpikir kita menghalanginya bertemu Kaka jika kita katakan Kaka tidak ada di Jakarta saat ini.”
🌷🌷🌷
Jakarta, Indonesia,
“Kita kembali ke kediaman dulu ya? Kamu istirahat dulu, sayang. Ini kan pertama kalinya kamu berada belasan jam dalam perjalanan selepas kamu tersadar dari koma, jadi kamu harus memperhatikan kondisi tubuh kamu dulu, Val.”
“No, Mommy. Aku ingin segera bertemu dengan Kak Kafeel—“
-----
“Val ingin bertemu Kak Kafeel sekarang! Sebelum Val melupakan apa yang sudah Val ingat tentang Kak Kafeel! Sebelum Val jadi bodoh lagi! --- Daddy dan Mommy tidak tahu bagaimana rasanya jadi Val yang bodoh ini—“
“Baby ....”
“Val ....”
“Val ingin bertemu Kak Kafeel sekarang. Tidak peduli ini tengah malam—“
“Ya sudah baiklah—“
“Val hanya ingin bertemu dengan Kak Kafeel dengan segera—“
“Iya, sayang, iya .... Tapi Val, Val tenang dulu ya? .... bukan kami ingin menghalangi Val untuk bertemu Kak Kafeel. Tapi Val memang tidak bisa menemui Kak Kafeel saat ini .... karena Kak Kafeel, itu sedang tidak ada di Jakarta Val.”
"Mommy dan Daddy kenapa menghalangi Val saat ini untuk bertemu Kak Kafeel dengan mengatakan itu?---"
"Kami tidak menghalangi, Val.. karena itu memang yang sebenarnya. Kak Kafeel sedang tidak berada di Jakarta sekarang ini. Dia ---"
"Val tidak percaya sampai Val membuktikannya sendiri ---"
"Val ---"
"Daddy dan Mommy malu iya, karena Val mau menghampiri suami orang? ---"
"Vaal ---"
"Val hanya ingin bertemu dengan Kak Kafeel! ---"
'Ya Tuhaan ---'
🌷🌷🌷
Teet.. Teet.. Teet.. Teet..
Sebuah benda pipih di dinding pagar rumah seseorang, ditekan lalu berbunyi hampir tanpa jeda.
“V – al?—“
“Lena, Kak Kafeel mana?—“
“A.. A—“
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
To be continue....