HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
SOME TALKS – BEBERAPA OBROLAN


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Rumah Keluarga Cemara, Bekasi, Jawa – Barat, Indonesia....


Nengokin dulu yang ada di rumah Ake Herman dan Ene Bela.


“Makasih Fa.”


Mami Prita yang kebetulan berpapasan dengan Sifa, salah satu ARTnya Keluarga Cemara, langsung menerima bungkusan minimarket yang merupakan susu dari dua pewaris balita-yakni Putra dan Gadis, seraya berterima kasih, begitu ART tersebut masuk rumah.


“Sama-sama Nyonya Prita....” jawab Sifa.


“Terus itu si Nada Nadi—“


“Nada Nadi?—“


“Itu si Arya sama si Mika—“


“Oh—“


“Mana?”


“Tadi saya sama Mang Ujang ketemu Den Arya sama Non Mika di minimarket pas saya udah selesai beli susunya Aden sama Non Kecil.”


Sifa menerangkan.


“Terus mana dia orang?”


Momma ikutan bersuara, sambil ia dan Mami Prita membuatkan susu untuk kedua cucu mereka.


“Waktu saya sama Mang Ujang arah pulang, saya ngeliat Den Arya bawa motor ke arah yang banyak kafe-kafe itu loh Nyah.”


“Weh kemajuan!....”


Momma pun nyeletuk.


“Apanya yang kemajuan, Momma?”


Via datang dengan menggendong Gadis yang nampak sudah tak sabar ingin mendapatkan susunya.


“Tuh si Judesgirl sama si Sadboy lagi kencan! –“


“Gosip aje Drea ama Rery, emaknya!.....” Mami Prita menimpali ucapan Momma yang sedang terkekeh kecil.


“Nah mereka ga langsung balik kesini?—“ tukas Momma. “Malah cus mojok di kafe kan? Kencan bukan namanya?....”


Momma menyambung ucapannya.


“Haus kali itu mereka .....” tukas Via, lalu cekikikan bareng dua emak ceriwis.



“Kenapa ya udara disini itu panas sekali walau sudah malam begini?” celetuk Ann yang masih betah berkumpul dengan beberapa saudari dan saudaranya di ruang keluarga dalam rumah Keluarga Cemara. “Padahal ada air conditioner disini. Tapi sepertinya tidak berpengaruh?...” tambah Ann. “Iya kan?...”


“Ini daerah dekat laut jatuhnya Ann –“ timpal Rery. “Jadi ya macam begini ini udaranya, meskipun lautnya jauh dari sini,”iImbuh Rery dan Ann manggut-manggut, begitupun yang mendengar komentar Rery. “Lagipula itu pintu sedang terbuka biarpun didalam sini pakai AC juga,” kata Rery lagi, dan yang mendengar ucapan Rery manggut - manggut lagi.


“Iya ih, gerah banget!”


Isha bersuara.


“Jakarta aja panasnya udah ngelekep! Disini lebih lagi.”


Isha kembali bersuara.


“Ho oh!”

__ADS_1


Kembaran Isha pun menimpali.


“Ake sama Ene kenapa betah banget deh, tinggal di daerah sini? ...” Aro berkomentar kemudian.


“Udeh nyaman gimane?” Ake Herman menyahut.


“Iya sih .....”



“Aku jadi ingin Bobba Ice deh? –“


Ini Val yang berbicara.


“Ada kan ya yang jual Bobba Ice disini? ....” tanya Val lagi.


“Ya di Sumbek ada ....”


Ene Ela yang sedang menopang kepala Ares itu menyahut.


“Yah, kalau di Mall, sebentar lagi sudah tutup ....” tukas Val. “Padahal aku ingin sekali.”


Bibir Val mengerucut.


“Kok tiba-tiba pengen Bobba Ice?—“ Kafeel yang duduk disamping Val itupun bertanya.


“Ngidam jangan-jangan? --”


Isha nyeletuk asal.


Dimana celetukan Isha itu terdengar oleh dua Daddy yang sedang main catur didekat mereka, yang mana langsung melotot tajam ke arah Val dan Kafeel.


“Iihh jangan su’dzon ya Poppa, Papi .....”


Val dengan cepat bersuara, sambil memandang pada dua Daddynya itu.


“Tau lo.”


Aro menimpali sambil menoyor kepala Isha.


“Asal aja kalo ngomong.”


“Idih! Kayak sendirinya engga aja!”


Isha dengan cepat membalas perkataan Aro.


“Sesama orang lemes jangan ribut,” celetuk Mami Prita.


“Nah aku sama Aro lemes, nurunin siapa?” tukas Isha. “Mami kan?”


Dan toyoran pun melayang lagi ke kepala Isha dari Mami Prita sekarang. “Nyaut aja kalo dibilangin!”


Sementara Isha dan mereka yang bersamanya pun, sontak terkekeh.



“Sehubungan apa yang dilontarkan Isha tadi, sekali lagi aku ingatkan pada kalian, untuk bisa menjaga diri masing – masing.”


Poppa yang menjeda permainan caturnya dengan Papi John itu kini duduk dengan menghadap ke para anak – anaknya yang sebagian besar sedang berkumpul di dekatnya itu.


“Aku dan para orang tua kalian yang lain, sudah rasanya cukup memberikan nasehat pada kalian, terutama kalian yang  berada diatas usia Ares dan Aina.”


“........”


“Kalian sudah beranjak dewasa, dan kami tidak bisa sepenuhnya mengawasi gerak – gerik kalian.”


Poppa lanjut bicara, dimana suasana seketika hening, jika satu orang itu sedang berbicara dengan wajah yang nampak serius.

__ADS_1


“Segala hal yang kalian lakukan, sudah harus kalian pikirkan tanggung jawabnya, konsekuensi yang akan kalian dapat jika kalian berkelakuan buruk.”


“........”


“Aku dan para orang tua kalian yang lain, terlebih para kakek dan nenek kalian, tidak akan ikut campur dalam hal pasangan – pasangan kalian.”


Poppa masih mendominasi pembicaraan, yang berada didekatnya pun diam mendengarkan.


“Segala hal buruk yang pernah para Daddy kalian lakukan terutama dalam berhubungan dengan lawan jenis, baiknya jangan kalian ulangi kesalahan itu.”


“Termasuk kesalahan gue sama Kak Via..” timpal Nathan yang tahu diri.


“Kalian tanpa terkecuali,” Poppa menunjuk pada Val dan Kafeel. “Sekalipun hubungan kalian sudah sangat serius.”


Val dan Kafeel pun mengangguk dan menyahut mengiyakan secara bersamaan, sambil memandang serius pada Poppa.


“Cukup berenti di gue, yang pernah bikin keluarga ini malu, selain rasa sakit dalam hati The Dads dan Moms, para Kakek dan Nenek, selain gue udah sangat nyakitin Kak Via kalian.”


Nathan lagi bersuara, membuat Poppa dan Papi John berikut Momma dan Mami Prita serta Ake dan Ene tersenyum haru pada si Tan – Tan, yang meskipun pernah melakukan kesalahan fatal, namun mau membaginya demi sebuah contoh pada para adik yang sedang beranjak dewasa itu.


“Camkan itu baik – baik Kiddos, karena kalian kebanggaan kami, tahu?” kata Poppa lagi, dengan tangannya yang sudah merengkuh bahu Nathan.


“Selain kalian nyawa kami,” timpal Papi John.


Didetik dimana, The Kiddos a.k.a The Krucils yang barusan mendengarkan ceramah singkat Poppa itu, langsung berhambur memeluk Poppa dan Papi John.


**


“By the way ... Dimana Mika dan Kak Arya? ...” tanya Ann yang sadar jika ia sedari tadi tidak melihat kedua orang itu. “Bukankah tadi Momma meminta Mba Sifa yang membelikan susu Putra dan Gadis? ...” sambung Ann yang bertanya. “Mba Sifa sudah kembali, tapi mereka berdua sepertinya tidak terlihat lagi setelah dari luar?”


“Lagi shopping kali di Indo April. Tanggung udah jalan. Mereka kan ga tau kalo Momma nyuruh Mba Sifa berangkat duluan ke minimarket waktu si Mika sama Kak Arya masih adu bacot tadi?”


Aro menimpali.


“Lagi kencan mereka.” Celetuk Momma.


“Gossip Momma ...” tukas Rery. “Tom and Jerry gitu gimana kencannya coba?-“


"Ye, orang kata Mba Sifa, itu si sadboy sama si judesgirl pergi ke arah bagian area ruko tempat kafe pada kumpul...."


Momma menimpali.


"Oh ya? ...."


Momma manggut-manggut, menanggapi gurat ketidakpercayaan atas informasi yang disampaikan oleh Momma, berdasarkan info dari salah satu ART mereka tersebut.


"Yah paling juga sekedar nongkrong aja kelles, Mom?" tukas Isha. "Eh tapi aneh juga ya kalo Mika mau diajak nongkrong berduaan sama Kak Arya?"


"Jangan-jangan, Mika sudah ada rasa pada Kak Arya?"


"Atau bisa sebaliknya."


"Atau juga, jingin-jingin dua-duanya sama-sama punya rasa? terus sekarang lagi cari moment buat saling mengungkapkan? .."


"Bisa jadi!"


"Bagaimana kalau kita cari tempe??"


"Berangkat kalo gitu-"


Aro bangkit dari posisinya.


"Wahai para saudara dan saudariku yang keponya susah ketahan!"


♥♥♥


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2