HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 162


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Rumah Keluarga Cemara, Bekasi, Jawa – Barat, Indonesia,


Mereka yang berencana begadang, meneruskan rencana mereka, setelah Mika dan Drea undur diri dari hadapan mereka yang berencana begadang itu-yang mana kembali melanjutkan pertandingan bola di televisi.


Ares yang sedari tadi entah kemana dia, sekarang sudah bergabung lagi dengan para kakak lelaki di ruang tengah rumah Keluarga Cemara. Lalu seperti biasanya, para pria yang sedang menonton bola, mulut mereka tidak akan diam.


Saling melempar komentar dan sebagainya akan dilakukan para pria yang menonton pertandingan bola di televisi itu. Macam para wanita kalau sedang berkumpul. Yang mulutnya jarang diam, karena ada aja kan yang dibahas?.



“Lo sama yang bakal balik ke London, berangkat dari sini apa dari kediaman dulu Ry?-“ tanya Aro ketika televisi sedang menayangkan komentator pertandingan bola yang tadi mereka tonton itu.


“Kayaknya dari sini.”


Rery segera menyahut, sebelum ia memasukkan kacang kulit yang sudah ia kupas ke dalam mulutnya.


“Lusa kan?....” tanya Aro lagi, dan Rery mengangguk.


“Kenapa? Lo mau ikut?”


Rery balik bertanya.


“Gue masih aktif sekolah kelles!....”



Ketika akhirnya siaran bola berakhir, mereka yang memang niat bener begadang itu tak nampak mengantuk sama sekali. “Kartu mana, Res?” tanya Nathan pada si bontot.


“Kartu apa, Kak? ....”


“Ya kartu remi, masa kartu keluarga?”


“Oh ....”


Ares menanggapi selorohan kakak keduanya dengan polos, sementara sisanya mendengus geli saja.



Mereka yang sedang begadang itu kini telah berganti posisi.


“Gue mau bikin mi instan. Ada yang mau juga? ....”


Setelah Ares beranjak dari tempatnya untuk mengambilkan kartu seperti yang diminta oleh Nathan, Arya ikutan berdiri, karena ia merasakan perutnya sedikit lapar.


“Aku mau dong Kak!” padahal Arya bertanya pada mereka yang sedang ada di dekatnya, namun Ares yang berjalan dari arah berlawanan justru yang menjawab duluan.


“Oke!” Arya menanggapi jawaban Ares.


“Ayo Kak, aku temenin bikin mi-nya ....”


Aro beranjak dari tempatnya.


“Lo mau, Ry? ....” Aro beralih pada Rery.


“Mau. Tapi nanti gue buat sendiri aja. Lo duluan aja sana ....”


Rery pun menyahut, dan Aro lekas mengangguk, lalu mengajak Arya untuk pergi ke dapur dalam rumah Keluarga Cemara.


“Kalian bertiga, mau ga?-“


“Ngapain pake lo tanya? Buatin, buatin aja ....” tutur Varen enteng saja.


Dan baru Arya hendak menyahut, Nathan sudah keburu menyambar.


“Gue mi goreng, ya?” kata Nathan, dan Arya pun mengangguk mengiyakan.


“Lo, mi goreng apa kuah maunya, Bang Alva?-”


“Apa aja,” jawab Varen.


“Yo wes,” tanggap Arya. “Lo, Kak Kaf? ....”


“Nanti aja gue gampang. Mau mandi dulu,” jawab Kafeel sambil ia berdiri dari tempatnya.


Arya menunjukkan jempolnya pada Kafeel, kemudian menyusul Aro untuk pergi ke dapur.



“Kalo lo lewat kamar itu cewe-cewe dan lo denger mereka masih kasak-kusuk di sana-dan kalo ada Drea, tolong mintain ponsel gue, Ka....” ucap Varen kala Kafeel hendak beringsut dari hadapan mereka yang berniat begadang bersama itu.


“Oke....”


Kafeel menyahut mengiyakan.


“Kalau Drea ga ada, minta salah satu dari mereka ambilin di kamar gue, ada di atas nakas samping bed....”


“Oke....” sahut Kafeel lagi, sebelum ia beringsut pergi ke kamar yang bisa ia gunakan kamar mandinya untuk membersihkan diri. “Tapi kalo sepi, gue ga ketok kamar mereka ya?....”


Varen pun mengangguk.



‘Kayaknya udah pada tidur itu ciwi-ciwi.... Sepi....’ Kafeel berkata dalam hatinya, saat ia telah berada di depan kamar yang digunakan oleh para adik perempuan selalunya di rumah Keluarga Cemara.


Kafeel tersenyum tipis di tempatnya.


‘Padahal gue berharap mereka masih bangun. Kan bisa sekalian gue curi-curi waktu sebentar sama Val? ....‘


Kafeel berkata lagi dalam hatinya.


‘Lumayan kan, bisa dapet bibir Val sebentar gitu?’


Sudut bibir Kafeel tertarik tipis, sambil ia geleng-geleng, merasa geli pada dirinya sendiri yang sudah mencandui bibir kekasih kecilnya itu.


‘Haish. Otak lo, Ka .... Ka,’ kata hati Kafeel lagi, lalu mendengus geli sendiri, sambil ia melangkahkan kaki, ke kamar yang biasa digunakan oleh para adik lelaki gunakan bersama, jika kamar yang tersedia di rumah Keluarga Cemara full terisi.



Kafeel sudah mencapai kamar yang ingin ia gunakan kamar mandinya. Namun tangan Kafeel yang telah memegang knob pintu kamar yang hendak dimasukinya itu sejenak terhenti, ketika ia tak sengaja menoleh ke arah balkon dalam lantai tempatnya berada.


‘Ada orang kayaknya di balkon? .... Siapa ya?’ Kafeel bertanya-tanya sendiri dalam hatinya. Lalu ia menjauhkan tangannya dari knob pintu, lalu melangkah ke arah balkon karena penasaran. “Val?”


Kafeel dengan segera bersuara, kala ia melihat jika orang yang sedang berada di balkon lantai dua rumah Keluarga Cemara itu adalah kekasih kecilnya.


Dimana Val, sedang berdiri landai dengan bersandar pada pembatas balkon, sambil menatap pada tangannya.

__ADS_1


Yang mana, satu tangan Val sedang memutar sebuah cincin yang tersemat disalah satu jari manisnya.


“Kak Kafeel?” Val yang mendengar suara yang memanggil dirinya yang memang sedang melamun itu, segera menoleh kala namanya dipanggil oleh seseorang yang amat Val kenali suaranya. Dan Val pun langsung melemparkan senyumannya pada Kafeel yang barusan memanggilnya itu.


“Kenapa ada disini?-“


“Iseng Kak-“


“Kamu kenapa belum tidur, hm?”


Sambil Kafeel mendekat pada Val, dan langsung memposisikan dirinya berhadapan dengan Val. Val terus mengulas senyuman sambil memandang pada Kafeel, yang kemudian terulur tangannya untuk mengusap puncak kepala Val dan menyusuri surai kekasih kecilnya itu.


"Ada yang menganggu pikiran kamu?-"


"Tidak kok, Kak-"


"Lalu kenapa belum tidur?"


“Val belum mengantuk, Kak,” jawab Val lagi. "Terlalu bahagia, jadi sulit mau tidur, takut kalau apa yang Val terima dari Kak Kafeel ini hanya mimpi ...."


Kafeel tersenyum dengan tampannya, lalu menangkup wajah Val dengan kedua tangannya.


"Bukan hanya kamu aja yang merasa begitu tau?. Aku juga sama. Makanya ini begadang, karena takut juga kamu yang udah aku punya-walau belum sepenuhnya, cuma fantasi aku aja."


Val menambah kadar kemanisan senyumnya. Membuat Kafeel jadi gemas saja.


Cup!


Kesampean juga si AA merasakan kekenyalan bibir Val.


'Lumayan biar cuma sebentar doang cium bibir Val ....'


Kafeel membatin senang.



“Mika, Isha dan Ann serta Aina udah tidur memangnya?“ tanya Kafeel setelah ia terpaksa melepaskan bibir Val.


“Sudah, Kak ....” jawab Val, yang masih sedikit tersipu atas ciuman Kafeel di bibirnya beberapa saat yang lalu.


“Oh iya, Kak Drea ada di kamar yang sama dengan kamu?-“


“Kak Drea tidur di kamarnya Kak Tan-Tan dan Kak Via, karena Putra tertidur disana-“


“Hmm-“


“Kenapa memangnya?”


Val sontak bertanya.


“Engga, itu tadi Abang minta tolong kalau Kak Drea masih bangun, minta dibawain ponselnya ke bawah.”


“Kak Drea sepertinya sudah tidur deh, Kak.”


Val berujar.


“Val saja deh yang ambilkan ponselnya Abang di kamarnya Abang dan Kak Drea?-“


“Baru aku mau bilang begitu-“


“Tapi Kak Kaf yang memberikannya ke Abang ya? .... Soalnya Val takut dimarahi sama Abang, kalau nanti Val ke bawah.”


Kafeel tersenyum saja. Paham betapa kekasih kecilnya itu memang sangat berhati-hati bersikap pada Varen, meskipun santai seringnya.


“Soalnya kan Abang tadi menyuruh Val dan yang lainnya istirahat, nanti kalau Abang tahu Val masih terjaga, Val takut dimarahi Abang.”


“Ga lah, Abang ga akan marah karena kamu belum tidur.”


Kafeel lekas menanggapi ucapan Val.


“Ambilkan gih? Nanti turun sama aku.”


Mendengar ucapan Kafeel barusan, Val pun tersenyum dan mengangguk.



Val sudah mengambilkan ponsel Varen di kamar yang biasa digunakan kakak lelaki kandungnya itu dan istrinya, yang merupakan kakak angkat perempuannya Val-istilahnya.


“Ngomong-ngomong tadi Kak Kafeel itu sudah hendak tidur?” tanya Val saat ia dan Kafeel hendak turun ke lantai bawah, dimana mereka yang begadang itu sedang berkumpul ria.


“Engga-“


“Lalu mau apa?-“


“Mau mandi.”


Val berdehem lalu manggut-manggut kecil saja setelah mendengar jawaban Kafeel.


“Mandi malam-malam kan kurang bagus untuk kesehatan, Kak?” ujar Val.


“Ini kan sudah mau lewat tengah malam?”


“Oh iya, ya,” sahut Val.


Kafeel tersenyum saja mendengar jawaban polos Val.



“Kenapa masih berkeliaran, hem? ....”


Kehadiran Val yang datang ke ruang santai Keluarga Cemara itu langsung disambut dengan teguran Varen.


“Maaf, Abang-“


“Kau ada salah padaku hingga meminta maaf?”


“Iya takutnya Val salah, karena masih terjaga padahal Abang sudah menyuruh Val istirahat tadi.” Val lalu menyahut sambil menampakkan wajah memelas takut-takut pada Varen.


Varen lalu mendengus geli.


“Anaknya belum ngantuk, jangan dimarahin. Masa orang belom mau tidur lo marahin juga? ....”


Kafeel membela yang benar.


Eh membela kekasih hatinya yang nampak gugup itu.


“Kemarilah.” Varen menepuk ruang di sampingnya.


“Abang ga marah, kan?” tanya Val saat ia telah mendudukkan dirinya disamping Varen.

__ADS_1


“Benar kata calon suamimu itu, jika kamu belum mengantuk, masa iya aku marahi? ....”


Val sumringah, lalu memeluk Varen.


“Sa-yang Abang.”


Lalu Val mengucapkan kalimat yang dicetuskan Kak Drea dulu, hingga kemudian kalimat yang mencakup dua kata tersebut, menjadi satu jargon dalam keluarga mereka untuk mengungkapkan perasaan.


“Sa-yang, AA Kafeel? ....” celetuk Kafeel sambil cengengesan.


“Ga ada!”


Varen menukas celetukan Kafeel barusan itu.


“Ada dong. Sebagai kekasihnya, gue berhak dapet pelukan dari Val.”


Kafeel membela diri.


“Gue bahkan udah jadi calon suami Val itungannya-“


“Belum resmi!” tukas Varen.


“Ya pasti akan gue resmiin lah!”


“Kapan??” Sahutan serempak kemudian terlontar dari mulut Varen dan Val.


“Kompak banget ade kakak,” tanggap Kafeel.


“Kayaknya Kak Kafeel tercintamu itu tak serius padamu deh Val.”


“Heits, calon kakak ipar jangan fitnah. Sama calon adek ipar jangan jahat mulutnya ....”


“Heh!”


“Kalau gue ga serius, ga bakal gue kejar sampe gue lamar dia di depan banyak orang waktu di Singapura.” Lagi, Kafeel membela dirinya.


“Belum kasih kepastian kan tapi? ....”


Varen bertanya pada Val sambil menoleh pada adik kandungnya itu.


“Kapan dia akan resmi melamar kamu pada kami? .... belum kan dia membicarakan dengan kamu secara pribadi?-“


“Belum.”


Val menyahut secara menggeleng.


“Yah kan emang belum-“


“Patut dipertanyakan itu kesungguhan dia ke kamu, My Dear Sister (Adikku Sayang)” potong Varen yang tidak menggubris Kafeel yang hendak membela diri itu.


“Yah ilah!. Malah dihasut adenya!” protes Kafeel.


Varen hanya melirik Kafeel sekilas, lalu beralih lagi pada Val, yang matanya memandang pada Varen dan Kafeel bergantian.


“Aku saja langsung mengutarakan niatku pada Poppa dan Momma dan langsung memberikan kepastian untuk melamar Kak Drea secara resmi hanya kurang dari satu minggu .... sementara dia? ....”


Varen yang tak menggubris Kafeel itu berbicara lagi pada Val, lalu menjeda sedetik untuk menunjuk Kafeel dengan kepalanya.


“Bahkan berbicara pribadi denganmu untuk menentukan pastinya dia mau melamarmu secara resmi dengan membawa Bunda dan Lena saja belum kan?”


Varen lanjut bicara.


Val pun mengangguk.


“Ckckck,” tanggap Kafeel sok prihatin. “Kalau aku jadi kamu, aku pasti akan memikirkan ulang tentang keseriusan dia yang katanya serius mencintai dan ingin menikahimu itu-“


“Val, Baby ....” gegas Kafeel menyambar untuk bicara pada Val. “Jangan didenger ya ucapan sesat abang kamu itu???-“


“Sembarangan lo bilang gue sesat!-“


“Ya emang sesat kalo gitu caranya lo ngomong ke Val!”


Kafeel menyambar omongan.


“Dah tau gue cinta mati sama ade lo ini.”


“Cinta mati tapi ga bahas kepastian peresmian lamaran?”


Kafeel dan Varen sahut-sahutan, sisanya menyaksikan tontonan pengganti siaran bola yang telah usai.


“Belum ketemu waktunya duhai Tuan Muda Alvareend.”


Gemas sekali Kafeel pada Varen.


“Ada aja waktu memang niat serius ngomong sih.”


Yang selalu punya stok buat membalas kalimat Kafeel.


“Sini Than!-“


“Mau goreng apa kuah?”


Nathan datang dengan dua porsi mi instan beda varian dalam wadah yang berbeda juga, berucap seraya ia mendekat pada Varen.


“Bagus deh lo makan. Biar diem itu mulut nyinyir lo , Alvarend Aditama Smith.”


“Pikirkan yang Abang katakan padamu tadi barusan Val.”


Belum habis ternyata Varen menjahili tangan kanan sekaligus sahabatnya itu.


“Hish!-“


“Istikharah ya My Dear Lovely Sister?”


“Wah!” Kian sebal si AA.


“Biar lebih afdol menjatuhkan pilihan, karena takutnya, nama Kafeel Adiwangsa ga tertulis di Lauhul Mafhfudz buat kamu ....”


“Minta dicabein mulutnya ini si Alvarend!” sewot Kafeel.


♥♥


To be continue ....


Enjoy selalu para reader, baca yang santai-santai dulu.


Sebelum nanti, pada suatu episode ketenangan kalian terusik.


Wkwkwk.

__ADS_1


__ADS_2