
Noted: Baca episodenya dulu, baru klik tanda jempolnya jika berkenan ya.
Thank You
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia
“Kak ..”
Val memandang pada Kafeel.
Yang mana orangnya menoleh seraya menyahut pada Val.
“Ya, Val? ..”
“Kira-kira berapa lama itu Kakak mau mempersiapkan, memikirkan dan mempertimbangkan untuk melamar dan menikahi Val?”
“Val ---“
“Jangan lama-lama Kak.” Val segera menyambar sebelum Kafeel yang hendak menanggapi ucapan Val itu lengkap berbicara.
“I ---“ Kafeel hendak lagi menanggapi.
“Soalnya kan Kak Kafeel sudah tua?”
Namun Val keburu menyambar lagi.
“Ya bukan apa - Kalau Val sih sampai kapan juga akan sabar menunggu Kak Kafeel siap untuk melamar dan menikahi Val .. Tapi justru Val mengkhawatirkan Kakak.”
“Kenapa gitu? ...”
“Ya Val kasihan pada Kakak, nanti kalau sampai dicibir orang-orang---“
Val dengan wajah tanpa dosanya.
“Yang mengatakan, Masa istrinya cantik dan muda, suaminya tua begitu?—“
Dimana Kafeel memandang tak percaya pada kekasih kecilnya ini yang berujar macam tanpa perasaan.
Dan yang mendengar ocehan tanpa perasaan Val pada Kafeel itupun cekikikan. “Ya ampyuunnnn ... Dedek Val kalo ngomong suka beneeer ...”
Yah celetukan keluar dari mulut Nathan yang usil itu memang selalunya, hingga mengundang gelakan tanpa akhlak untuk berkumandang.
Kafeel hanya berekspresi malas saja menanggapi celetukan usil Nathan, berikut kroni – kroninya yang kini sedang cekakakan.
Tapi ya itu, si kekasih kecilnya Kafeel memasang wajah tanpa beban dan tanpa dosanya pada Kafeel kala ia membahas perbandingan umurnya dan umur Kafeel secara tidak langsung.
‘Untung gue sayang sama ini anak perawan!’
Kafeel berkesah dalam hatinya.
‘Cinta malah .. Jadi gue ga ambil hati deh omongannya ini Dedek Val!’
Hati Kafeel yang masih berkesah pasrah.
“Makanya Val katakan jangan lama – lama mempertimbangkan untuk melamar Val dengan segera, agar kita bisa menikah dengan segera juga.”
Dan yah, tetap dengan seolah tanpa mempertimbangkan perasaan si AA yang kalau Val menggambarkan dalam kata – katanya Kafeel itu terkesan tua sekali, Val tetap saja mengoceh ria tentang usia si AA – yang mana kalau dibandingkan dengan usia Val, yaa Kafeel memang setua itu ukurannya.
Tapi ya ga usah sefrontal itu juga kali ngatainnya – begitu batin Kafeel kira – kira.
“Karena kalau itu terjadi, Val yakin Kak Kafeel pasti minder deh dicibir sama orang – orang karena menikah dengan gadis cantik dan muda macam Val ini..”
Begitu percaya dirinya Val berbicara.
Dengan wajah yang nampak serius prihatin pada Kafeel.
“Nanti Val pasti akan ikut terluka jika Kak Kafeel sampai dicibir orang – orang karena menikah dengan Val, dan karena Kak Kafeel lama mempertimbangkan, lalu semakin tua, akan semakin menyakitkan pasti cibiran mereka, kan? Kan? ----“
“Yaa..” sahut Kafeel malas – malasan. ‘Sabar aja lah Sob, inget selalu aja cinta lo sama Val!’ batin Kafeel.
“Apalagi kan mulut – mulut orang jaman sekarang itu pedasnya bukan main. Macam Mika ....”
Val menunjuk pada Mika yang masa bodoh saja mendapat tudingan dari Val sebagai seseorang yang pedas mulutnya.
__ADS_1
Yah, karena memang hal itu benar adanya. Mulut Mika itu pedasnya bisa sampai level Saiton Nirojim kalau dia niat mencibir orang habis – habisan.
“Kak Kafeel dua tahun lagi sudah kepala tiga, iya kan?...” ucap Val lagi.
Dan Kafeel mengangguk saja lah.
“Nah berarti dua tahun lagi Kak Kafeel sudah mencapai kepala tiga ...”
‘So what gitu loh? ...’ sahut Kafeel.
Tapi, dalam hatinya saja. Tak mungkin rasanya dia menjawab seperti itu pada Val, yang Kafeel jaga perasaannya.
Tapi sayangnya Kafeel tidak mendapat perlakuan yang sama. Yaaa bukan berarti Val semena-mena, atau kurang ajar padanya.
Karena sesungguhnya Val adalah anak gadis yang baik budinya.
Tapi kadang Val kelewat jujur atau polos. Dan selalu mengatakan apa yang ada dipikirannya.
Jadi ya seperti sekarang ini. Kelewat jujur dan polos, tanpa sadar kalau kata-katanya itu merasuk sungguh menyebalkan bagi Kafeel yang berkali-kali disindir tentang ketuaannya jika dibandingkan dengan Val.
“Coba nanti kalau hubungan kita ini sudah terpublish?... Lalu ada yang mengatakan, ‘Ya ampun gadis secantik dan semuda itu, masa mau sih sama om-om? –“
“Astagaaaa ...”
Kafeel berkesah tak percaya mendengar entengnya Val bicara seperti itu padanya.
“Masa aku dibilang om-om?..”
“Iya namanya orang mencibir kan, pasti tajam dan pedas ucapannya –“
Val menyergah protes kecilnya Kafeel.
“Ya tidak salah juga kan?...”
“Mana ada ga salah? ... ya salah lah kalau aku dibilang om-om.”
Gantian Kafeel yang menyergah ucapan Val. Namun dengan nada suara yang tidak meninggi sama sekali.
Sok woles, padahal jengkel.
“Iya kalau dibandingkan usia Val dengan Kakak sih sepertinya tidak salah kalau ada yang bilang Val berpacaran dengan om-om –“
Kafeel menggumam diantara frustasi dan pasrah yang ia rasa. Dan yah, tentu saja, tidak mungkin tidak, yang berada didekat Val dan Kafeel dan memperhatikan dua sejoli itu-dimana yang satu begitu mendominasi pembicaraan dan yang satu lagi hanya bisa berpasrah diri, lagi-lagi cekikikan.
“Eh iya deh engga ---“
Val berkata.
“Bukan om-om.”
Lalu Val berucap.
“Memang bukan ---“
Kafeel menanggapi ucapan Val yang baginya sedang meralat ucapan.
“Setengah om-om maksudnya.” Sayangnya Val hanya meralat secuil aja ucapannya.
‘Ah elah!’ gerutu Kafeel dalam hatinya.
“Tapi tetap saja ya, Kak Kafeel hitungannya tua juga sih kalau dibandingkan dengan Val..”
‘Lapangkanlah dada hambamu yang ganteng, Ya Allah..’
“Yah pokoknya Val hanya menyarankan saja ya Kak, selain memang Val butuh pembuktian jika Kak Kafeel benar-benar mencintai Val..” sambung Val. “Jangan terlalu lama berpikir untuk menikahi Val. Setidaknya untuk melamar Val deh.”
“Iya Val.” Kafeel iya-iya aja deh. Seperti kata si Arya tadi. Cari aman, selain memang hayati Kafeel sudah lelah menanggapi ucapan Val yang kelewat jujur dan spontan itu.
“Takutnya ya itu, Kak Kafeel akan mendapatkan cibiran yang menyakitkan dari orang-orang---“
‘Kirain udah selesai habis gue iyain omongannya ---‘ keluh hati Kafeel.
“Lalu Kak Kafeel pasti akan sakit hati seandainya ada yang mengatakan, ‘Ya ampun Valera, kamu itu kan cantik luar biasa, muda, kaya lagi. Kok mau sih sama om-om begitu?. Pas kamu masih cantik paripurna, suami kamu pasti sudah menjadi kakek-kakek’ ..”
Demi apapun di dunia ini, Kafeel benar-benar merasa emezing, wah, sampe ga tau harus ngomong apa, gimana nanggepinnya, selain ia menoleh seraya melongo saat mendengar ocehan Val saking wah luar biasa sekali bikin jleb hati Kafeel yang campur antara syedih dan jengkel.
‘Tadi masih mending om-om, sekarang segala sampe gue kakek-kakek pula dia bahas! Sungguh super sekali pacar ABG gue niiih!’
“Aduh Val tidak terbayang deh sakit hatinya Kakak kalau ada yang bilang seperti itu –“
__ADS_1
‘Ga usah dibayangin oh sayangku Val—‘
Kafeel dengan cepat membatin.
‘Ga usah nunggu orang ngomong begitu ... sekarang aja hati aku tuh, rasanya gimanaaa gitu enjlebnya denger omongan kamu!’
Kafeel menghela nafas frustasinya dengan samar. Lagi, para penonton non bayaran, cekikikan ga kelar-kelar.
“Rasanya di roasting sama cewek sendiri tuh, sesuatu ya Kak Kaf?” celetuk Sony. Yang cekikikan lagi setelahnya.
“Hmm ...” Kafeel manggut-manggut lesu. “Udah dibilang om-om, nyampe ke kakek-kakek pula-“
“Sakitnya tuh –“ celetuk Aro sambil ia berdiri. “Disini ya Kak?...” sambil Aro menunjuk dada kirinya dengan gaya yang kocak.
Hingga yang tadinya cekikikan jadi terkekeh geli.
“Anggap aja ini cobaan, kerikil tajam dalam hubungan, baru dua hari pacaran udah di roasting abis –abisan, sama pacar sendiri pula!”
Dan ocehan Arya pun membuat kekehan semakin lebar.
“Tampar aja aku Dek, Tampar ..”
“Ngahahaha! ..”
( Semoga diberi kesabaran punya pacar yang dahlah ABG, kadang polos dan jujurnya kelewatan, ya A’ ).
“Jadi, bagaimana perasaan anda setelah diroasting abis-abisan sama yayang Tuan Kafeel Adiwangsa? ..”
Celoteh Sony sembari berlagak bak wartawan yang sedang mewancarai narasumber.
“Yah, saya hanya bisa mengelus dada.”
Kafeel yang memang sebenarnya sudah terbiasa dengan adik-adiknya Varen berikut juga dengan Sony dan Arya yang memang dapat dikatakan sering bercengkrama bersama sejak ia tinggal kembali di Indonesia dan bekerja pada Varen, menanggapi kekonyolan Sony itu.
Dan tentu saja mereka yang masih berada di tempatnya dari sejak Val dan Kafeel terlibat obrolan berdua dimana Val yang polos sok serius itu, kini terkekeh geli kembali dengan tingkah Kafeel yang menanggapi kekonyolan Sony.
Ditambah Kafeel pun memasang ekspresi kocak seperti orang yang tertindas.
“Ada pesan yang ingin anda bagi pada semua orang?....” Sony masih dengan tingkah konyolnya yang bak reporter itu.
“Yah, saya hanya bisa mengutip pepatah orang Jerman.” jawab Kafeel.
“Apa tuch???....”
“Nu ngarana hirup mah loba cobaan. Mun loba saweran eta ngarana dangdutan.”
“Mohon maaf bisa diartikan itu pepatah bahasa Jermannya Kakak? ...” celetuk Aro lagi yang cekikikan.
“Hidup itu, banyak cobaannya. Kalo banyak saweran, itu namanya dangdutan...”
Ari si AA...
Sa ae dah ah!.
Gelakan sontak saja membahana di tempat dimana Kafeel dan Val berada.
**
Di sudut lain ruang makan dimana ada meja dessert tak seberapa besar terbentang.
Ada dua orang yang sedang bersama mengambil hidangan pencuci mulut setelah mereka selesai menyantap menu utama.
“Awas diabet—“
Ini Arya yang nyeletuk saat ia sampai di meja dessert dimana ada Mika yang baru saja mengambil beberapa hidangan pencuci mulut yang manis.
“Paan sih.” Sahut Mika malas pada Arya yang cengengesan.
“Dih dibilangin. Ntar gendut, susah dapet pacar ---“ celoteh Arya. “Dah mana judes.”
Mika melirik malas pada Arya.
“Tuh, ngelirik aja judes begitu ....”
“Jangan sok godain gue, nanti yang ada lo naksir sama gue!”
“Kalo udah?---“
**
__ADS_1
To be continue..