
Bahagia!---Itu Saja.
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Kediaman Utama Jakarta The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia,
“Kayaknya Kak Kaf dan rombongan udah sampai deh? ..”
Adalah sebaris kalimat yang membuat Val seketika menjadi gugup.
Semakin gugup---ketika salah satu asisten The Moms dari beberapa asisten yang ada, datang ke kamar Val dan memberitahukan jika Val diminta untuk segera hadir di tengah-tengah mereka yang sudah berkumpul di ruang bagian depan kediaman.
Dimana disana juga telah menunggu sang pria pujaan Val yang telah datang secara resmi untuk melamarnya di hadapan keluarga besar Val. Yang tak Val sangka – sangka momen ini menghampirinya, meski memang Val selalu memimpikannya dan memintanya dalam doa di detik dimana dirinya sudah merasa jatuh cinta pada seorang Kafeel Adiwangsa.
Sudah lama memang Val berharap momen ini tiba. Momen yang mendekatkan Val dengan mimpi terbesar yang ia punya, yakni menikah dengan Kak Kafeelnya.
Namun Val tak menyangka, jika momen ini cepat sekali datangnya. Ah ya Tuhan, Val sungguh kian bersyukur hingga detik dimana dia mulai melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar pribadinya.
Cintanya pada Kak Kafeel bisa berbalas saja, Val rasa bagai mimpi.
Masih juga Val terkadang berpikir, bisa menjalin hubungan spesial dengan Kak Kafeel pujaannya itu adalah sebuah mimpi.
Diperlakukan spesial oleh Kak Kafeelnya, lalu sampai kepada tahap bibirnya dan bibiir Kafeel yang saling menempel---bahkan lebih sekedar nempel.
Lalu sekarang, Kak Kafeelnya datang dengan sebuah kejutan.
Kejutan yang membuat Val syok hingga kalang kabut, namun bahagia juga disaat yang bersamaan.
Sedang berpikir ini adalah mimpi indahnya Val yang lain, hingga kemudian langkahnya terhenti saat ia mendengar sebaris kalimat pelan,
“Valnya mana?“
Yang menanyakan dirinya.
Dan pemilik suara yang bertanya itu, adalah sang pujaan hati Val.
Hingga kemudian rasa bahagia berikut debaran di hati Val kian bertalu-talu, kala suara serempak terdengar bilang,
“Tuuhh ..”
Ah ya Tuhan, Val terpaku.
Ketika ia yang bertanya tadi kepada keluarga Val, menoleh ke arahnya.
Yang Val perhatikan jika sosok itu berdiri dengan tergesa, sambil berdiri menghadapnya.
Oh Kak Kafeel, tampannya pujaan hati Val itu dalam balutan atasan batik berwarna senada dengan pakaian para keluarga dan juga dirinya.
Yang membuat Val jadi tersipu juga kikuk disaat yang bersamaan, ketika sepasang netra dari sosok tercintanya di luar keluarga Val itu memandang intens padanya.
Ada pandangan memuja di netra teduh pria yang nampak tak sedikitpun mengalihkan pandangan darinya. Dan hal itu membuat Val kian mengurai senyumannya. Berharap jika senyumannya itu bisa menambah pesona, agar tidak hanya sekarang saja Kak Kafeelnya itu terpesona pada Val---namun untuk seterusnya.
♥
“A’ liat – liatannya entar aja atuh –“
“Tau ih, durasi – durasi!”
Hingga kemudian Val terkekeh kecil ketika ia mendengar Lena berkata pada kakaknya,
“A’, seganteng – gantengnya orang, kalo nganga kelamaan bisa jelek juga.”
Dimana Val terkekeh lagi, berikut juga mereka yang berada di sekeliling Val yang juga ikutan terkekeh.
Terlebih Kafeel yang nampak luar biasa kikuk itu menunjukkan sikap yang membuat orang-orang disekelilingnya merasa geli.
Lalu deheman samar terdengar dari mulut Kafeel, sembari ia juga meng-cool-kan lagi sikapnya.
Namun alih – alih nampak cool, Kafeel malah terlihat menggelikan lagi sikapnya.
“Si bege, malah duduk. Bukannya dikasih dulu itu buket bunganya ..“
Hingga satu celetukan yang kembali membuat geli perut mereka yang ada disekeliling Val dan Kafeel itu terdengar, akibat si AA yang bukannya sedikit maju untuk menjemput Val dan memberikan buket bunga pada perempuan belia yang ia cintai dan hendak ia lamar itu, tapi malah menduduki kursi yang sebelumnya Kafeel tempati.
♥
Kafeel yang jelas sekali kegugupannya hingga membuat dirinya jadi salah tingkah dan merasa bodoh sendiri itu, pada akhirnya kembali berdiri saat Val kembali diajak melangkah untuk duduk di tempat yang telah disediakan.
“Kamu sih, Tuan Putri. Terlalu indah, jadinya aku salting begini ..“
Namun Val dibuat berdiri berhadapan dulu dengan Kafeel sebelum duduk diantara Dad R dan Mommy Ara.
Sambil Kafeel memberikan buket bunga berukuran sedang yang sedari ia pegang, khusus Kafeel pesan dan beli untuk diberikan pada Val hari ini.
“Terima kasih –“
“Sekali bulol tetep bulol ..”
‘Kampret!’
Kafeel merutuk dalam hatinya, ketika celetukan tak berakhlak terdengar lagi saat ia hendak menjawab ucapan terima kasih Val padanya itu.
“Durasi woy!”
“Gombal receh skip dulu!”
Yang mana celetukan – celetukan tak berakhlak itu kembali bersahutan kemudian, hingga membuat Kafeel melirik sinis pada para pelaku dimana mereka cekakakan.
Dan Val pun kembali terkekeh kecil.
“Cantik banget Ya Allah,” ucap Kafeel dengan pandangan memuja ketika Val terkekeh di depannya.
♥
Kata sambutan dari pihak Kafeel yang diwakili oleh Uncle Rico---ayahnya Arya dan Sony, pria yang merupakan salah satu kerabat sangat dekat sekaligus sahabat para Dadnya Val itu telah selesai dikatakan---yakni mengutarakan maksud kedatangan Kafeel saat ini sebagai sebuah formalitas dalam sebuah acara lamaran resmi.
Lalu ada Ake Herman yang menjadi perwakilan dari pihak keluarga Val, untuk menerima itikad baik kedatangan Kafeel saat ini untuk melamar salah satu cucu perempuannya itu secara resmi dengan seriusnya.
Bersama dua keluarga inti Kafeel berikut beberapa kerabat dekat, dan beberapa teman baik dari kubu Kafeel ataupun dari kubu para pria di keluarga Val. Jangan lupakan juga, beberapa ragam hantaran yang Kafeel dan rombongan bawa sebagai pendukung keseriusan niat Kafeel untuk melamar Val, sebelum meminangnya.
Dan tiba waktu dimana Kafeel yang punya hajat itu---katakanlah begitu, dipersilahkan untuk bicara---mengatakan maksud hatinya kepada keluarga Val dan pada gadis itu sendiri, yang sedari tadi tak putus Kafeel pandangi. Habis Val sih, belum jadi pengantin aja udah manglingi.
Membuat sepasang netra Kafeel enggan melihat ke arah yang lain lagi, sebelum saat sekarang ia didaulat untuk bicara dan mengutarakan niat kedatangan Kafeel yang sebegini.
Hingga semua nampak termangu khusyu memperhatikan Kafeel yang bicara, lalu haru pun seketika menyeruak di sekitar mereka, saat Kafeel dengan rendah hatinya berkata untuk meminta.
“Saya, Kafeel Adiwangsa. Seorang pria biasa, yang jatuh cinta kepada salah satu putri anda yang cantik jelita. Yang bahkan sebelum cinta saya padanya meraja di dalam hati saya, dia sudah memanglah indah dalam pandangan mata saya. Jadi saat ini saya berdiri, dengan segala kerendahan hati mohon orang tua dan keluarga dia yang ingin saya minta dari kalian mengerti dan pahami. Dengan segala kekurangan yang saya miliki, mungkin juga tidak tahu diri. Tapi satu yang pasti, saya sungguh-sungguh datang hari ini untuk meminta dia, putri anda, yang namanya sudah saya selalu sebut disepertiga malam saya, Valera Madelaine Aditama Adjieran Smith. Yang saya seriuskan niat, untuk melamarnya saat ini, sebelum saya mempersuntingnya nanti. Menjadikannya tak sekedar ratu dalam hati, tapi juga dalam kehidupan saya.”
Lalu dia yang merupakan ayah kandung Val berdiri dengan wajah sumringah, menatap pada pria matang yang baru saja mengutarakan ketulusan niatnya untuk melamar satu putri tercinta yang adalah anak kandungnya.
Seperti yang lainnya, ada bahagia dan haru yang menyeruak dalam hati dia sang ayah kandung dari seorang anak perempuan yang sedang diminta oleh pria yang ada dihadapannya ini.
Dad R angkat suara, dengan wajah berekspresi hangatnya yang ia tampakkan pada Kafeel dan semua berbalut senyuman bahagia.
__ADS_1
Menyambut baik niat Kafeel untuk mempersunting salah seorang putrinya, namun Dad R hanya sekedar menerima.
Karena keputusan diserahkan langsung pada dia yang sedang tersenyum manis memandang pada ayah kandungnya---Val.
Yang diminta berdiri oleh keluarga untuk berhadapan dengan Kafeel yang sudah tersenyum dengan bahagianya, kemudian Kafeel bicara pada Val dengan saling melempar pandang.
Lalu pada Val---Kafeel katakan, sebaris kalimat yang sudah Kafeel susun untuk dipertanyakan.
“Jadi, Valera Madelaine Aditama Adjieran Smith, apa kamu mau menerima lamaran aku untuk menjadikan kamu sebagai istri aku?..”
Dengan segala harap serta kesungguhan yang Kafeel tampakkan dihadapan semua orang, melamar Val dengan segenap cinta dan keyakinan.
Namun suara Val tidak langsung terdengar untuk memberikan jawaban.
Padahal Kafeel telah membayangkan jika kekasih kecilnya yang hobi menubruk dirinya untuk memeluk---atau akan loncat kepadanya setelah sebaris kalimat tadi Kafeel ucapkan, pun ia tanyakan pada Val.
Mengingat betapa Val sangat menginginkan untuk Kafeel agar segera melamarnya, atas nama Val yang ingin nikah cepat-cepat dengannya. Tapi kenapa Val malah diam dengan wajah dan tatapan yang membuat Kafeel bertanya-tanya dalam hatinya sekaligus was-was.
‘Val kenapa?’
‘Apa ada salah dalam ucapan gue sebelumnya?’
‘Apa lamaran gue ga sesuai ekspektasi acara lamaran seperti yang Val inginkan?’
‘Oh Tuhan, jangan sampai Val berubah pikiran –“
“Tidak mau.”
Dimana jawaban Val itu, sungguhlah membuat semua orang terkejut dan tercengang hingga riuh yang tak bising pun langsung tercipta.
“Ke – kenapa, Val? ..”
Kafeel bertanya dengan tergagap, karena ia sungguh lebih – lebih terkejut dari pada yang lainnya atas jawaban Val itu.
Padahal Val sedari muncul tak habis – habis menampakkan senyumannya pada Kafeel.
Tapi kenapa Val justru bilang ‘tidak mau’?..
"Kenapa tidak mau .. Val? .. Apa -"
“Tidak mau kalau hari ini Kak Kafeel hanya melamar Val saja, langsung nikah saja lah ya?”
Yang ingin ditoyor kepala Val itu oleh keluarganya.
“Sekeh sekali tuh si Val. Bikin orang kelimpungan aja tuh anak hobinya.”
Ada Nathan yang berbisik sebal karena kelakuan satu adiknya yang memang paling sering membuat para orang tua memijat kepalanya.
Yang kalau sudah urusan Kafeel tuh anak ga ada jaim – jaimnya.
Kaleman dikit kek lagi momen agak sakral begini?.
Dengan santainya pula dia menghampiri Kafeel yang tersenyum geli dengan kelakuan kekasih kecilnya yang harusnya membuat momen lamaran itu haru, malah jadi lucu adanya.
Ditambah dengan tingkah Val yang belum habis juga agresifnya, seperti saat dulu Val mulai mengejar Kafeel.
“Ya?! Okay?!” kata Val pada Kafeel yang Val guncang kecil tangannya.
Lalu dengan entengnya si ‘gadis ulat bulu’ menoleh ke arah keluarganya.
“Sudah cepat Dad, telfon Bapak Penghulu. Janjikan uang satu koper pasti langsung datang.”
Ampun deh Val!. Kiranya begitu keluarganya Val membatin.
Yang kemudian geleng-geleng tanpa terkecuali, karena satu pewaris muda itu punya kelakuan.
♥
Tapi Kafeel ingat janjinya pada diri sendiri, untuk memberikan yang terbaik bagi kekasih kecilnya.
Termasuk indahnya pernikahan yang sesuai dengan tema yang Val inginkan.
Val pun luluh adanya pada bujukan Kafeel seperti biasa.
Kak Kafeelnya sudah sampai secepat ini melamarnya saja, sudah membuat hati Val teramat berbunga-bunga.
Semakin berbunga-bunga ketika satu cincin simbol ikatan sementaranya sebelum menjadi istri Kak Kafeel tercinta, telah disematkan di jari Val oleh Kafeel dan begitu juga sebaliknya.
Lalu kelegaan selain rona bahagia kian terpancar adanya, memenuhi kediaman utama The Adjieran Smith yang berada di Jakarta saat ini.
Seiring doa agar perjalanan dua insan yang baru saja terikat dalam pertunangan ini, tak menemui kendala berarti dalam langkah mereka untuk menuju pelaminan.
Aamiin.
♥
“Makasih ya Val? Makasih udah terima lamaran aku ..”
Ada Kafeel yang mengambil kesempatan untuk berduaan sejenak dengan Val, kala sesi lamaran telah selesai dan acara santai yang sekarang tergelar di kediaman utama The Adjieran Smith.
“Val pun berterima kasih, Kak. Terima kasih sudah membuat Val kian bahagia ..”
Val menyahut --- membalas ucapan terima kasih Kafeel padanya itu, dengan senyuman bahagia yang nampak sekali di wajah Val seperti halnya Kafeel.
“I love you, Tuan Putri. Sangat ..”
“Val love you too, my future husband.”
Kafeel pun tersenyum lebar setelah mendengar balasan Val untuk kalimat romantis yang tadi ia katakan pada kekasih kecil yang kini telah resmi menjadi calon istrinya itu.
Embel-embel ‘My Future Husband’ yang Val ucapkan itu, membuat Kafeel rasa senang. “Makasih ya, My future wife ..” kata Kafeel.
Namun didetik berikutnya Kafeel mengernyit kecil.
“Kenapa? ..”
Dimana Kafeel sontak bertanya, karena Val terkekeh kecil sambil menutup mulutnya sendiri dengan satu tangan setelah Kafeel berucap sebelumnya.
“Val senang saja, Kak,” jawab Val. “Val tak sangka, kalau Val bisa sampai dititik ini .. menjadi calon istri Kak Kafeel secara resmi.”
Lalu Val menampakkan senyuman menggemaskan pada Kafeel, yang orangnya kembali mengulas senyuman lebar selepas Val berkata seperti tadi.
“Akupun ga percaya, Tuan Putri ..” ucap Kafeel dengan senyuman bahagianya itu.
“Tapi Val sebal juga pada Kakak, tahu? –“
“Kenapa? –“
“Karena Kak Kafeel tidak mengatakan pada Val, kalau Kak Kafeel ingin melamar Val hari ini.”
“Kan aku ingin memberikan kejutan namanya juga ..” tutur Kafeel sembari memainkan rambut Val dan memandangi calon istri kecilnya itu dengan tatapan kagum.
“Ya tapi kan Val jadi tidak memiliki persiapan selain Val seperti orang gila tadi ..” rungut Val dan Kafeel terkekeh kecil.
“Kan sudah disiapkan oleh aku dan keluarga kita semua hal untuk hari dan momen ini?”
“Iya memang tapi tetap saja Val sedikit merasa sebal, karena tidak ikut terlibat mempersiapkan acara lamaran Val sendiri ..”
__ADS_1
Kafeel tersenyum lalu mengelus satu sisi garis rahang Val. “Untuk itu aku minta maaf, hm? –“
“Iya, sudah Val maafkan kok, Kak..” tukas Val. “Tenang saja,” sambungnya. “Val ini kan calon istri yang baik hati selain cantik sekali.”
Membuat Kafeel jadi terkekeh geli dan gemas disaat yang bersamaan, dengan tingkah calon istri kecilnya itu seperti seringnya.
♥
“Tapi Kak Kafeel harus janji loh pada Val.”
“Janji apa? –“
“Janji kalau untuk pernikahan kita nanti, Kak Kafeel tidak boleh mengurusnya tanpa melibatkan Val?”
“Tentu saja kalau untuk yang satu itu aku tidak akan diam – diam seperti ini,” tutur Kafeel. “Karena aku mau, pernikahan kita nanti itu semuanya sesuai dengan kehendak dan keinginan kamu, Tuan Putri.” sambungnya.
Mata Val pun membola seiring dengan senyuman lebarnya yang merekah. “Benar begitu???!!! –“
“Iya –“
“Aaa!!!” Val memekik kegirangan.
Hingga aksinya itu sempat menjadi perhatian orang – orang yang berada di sudut berbeda dengan Kafeel dan agak dekat dengan keduanya.
Namun sekejap saja.
Karena didetik berikutnya mereka yang sempat menoleh ke arah Val dan Kafeel itu kemudian melengoskan wajah mereka lagi.
Karena sudah maklum dengan kelakuan satu pewaris yang kadang suka berlebihan dalam mengekspresikan sesuatu itu.
Antepin aje.
Kalo kata Keluarga Cemara.
♥
“Ka, Val! Kemarilah! –“
“Iya, Dad! ...” Val dan Kafeel kompak menyahut untuk menanggapi Daddy Jeff yang memanggil keduanya.
“Duduklah ...”
Gantian Papi John yang berbicara, ketika Val dan Kafeel menyambangi tempatnya berada bersama beberapa orang tua dan tetua serta kerabat, selepas Daddy Jeff memanggil keduanya tadi.
“Iya, Pih.” Val dan Kafeel menyahut lagi dengan kompak.
“Du ileh, calon pengantin kompak banget! –“
“Iya dong!” tukas Val antusias dengan tersenyum lebar.
“Tetap kalah dengan kekompakan kita, Heart –“
“Poppa selalu saja tidak mau kalah...” celetuk Ann, sambil melirik pada satu Dad yang paling besar badannya itu diantara para Dads of The Adjieran Smith yang lain---seraya Ann sedikit merungut.
“Poles aja kepalanya!” kekeh Momma yang langsung mendapat rengkuhan gemas dari Poppa, lalu mereka terkekeh berdua.
“Perasaan yang abis lamaran terus tunangan kita, kenapa jadi Poppa sama Momma lebih mesra dari kita ya, Tuan Putri?”
Kafeel berbicara pada Val.
Dimana tunangan kecilnya itu manggut-manggut antusias sambil memandangi dua sejoli yang sudah tidak muda lagi itu----yang kadang lupa kalo umurnya sudah banyak, tapi interaksi dengan kemesraannya itu tidak pernah keduanya malu untuk tunjukkan dihadapan orang-orang.
“Memang dasar tua-tua keladi.”
Val menanggapi kasak – kusuk calon suami setengah om – omnya itu.
“Iri?...” Satu yang menjadi bahan kasak – kusuk Val dan Kafeel yang mengundang juga kekehan geli orang – orang yang berada disekeliling duo bebek dan entog itu, melontarkan ucapan karena ia mendengar kasak – kusuk Kafeel pada Val.
“Bilang Boss!!!“
Yang dengan cepatnya sang pasangan pun menyambar untuk mendukung lontaran seloroh pasangannya itu.
“Bebek uzur yang kompak!”
Celetukan Dad R membuat lainnya tergelak.
♥
“Jadi keputusan untuk waktu pernikahan kalian, bagaimana?”
Daddy Dewa angkat suara setelah ia dan lainnya yang kini sudah bersama Val dan Kafeel itu selesai bersenda gurau untuk sejenak.
“Kalau untuk hal itu, aku belum membicarakannya dengan Val, Dad –“
“Lalu, ingin dibicarakan sekarang, atau nanti saja setelah kalian bicara saja dulu berdua? ....” Dad R yang kini bertanya pada Kafeel dan Val.
“Aku serahkan keputusan itu pada Val ....” ucap Kafeel sambil memandang teduh dan melempar senyuman pada Val. “Val punya pernikahan impiannya, dan aku ingin mewujudkannya.”
Sambil Kafeel raih juga tangan Val, yang melempar senyuman balasan pada Kafeel.
“Bagaimana Val ingin hal itu dipersiapkan, mungkin seiring sejalan sambil kami berdua mempersiapkan.”
Kafeel kembali mengambil alih untuk bicara.
“Tapi jika mempertanyakan targetku sendiri sih, sebenarnya satu tahun lagi –“
“Aduh, itu terlalu lama!”
Val dengan cepat menyambar.
“Aku ingin siap secara finansial juga sih Val, agar tidak terlalu merepotkan keluarga kamu.”
“Bulan depan saja –“
“Heu? ....”
“Poppa sama Momma saja seminggu kan katanya dulu persiapan pernikahannya?”
“Tapi Mommamu tidak meminta pernikahan yang bagaimana – bagaimana,” tukas Poppa dengan segera.
“Iya, betul itu. Sementara kamu kalo ngomongin soal pernikahan kan maunya yang bak negeri dongeng? –“
“Kalau untuk itu mana bisa mempersiapkannya selama seminggu? –“
“Kan Val katakan tadi satu bulan lagi? –“
“Kalau menurutku rentang waktu satu bulan itu jika ingin mewujudkan pernikahan negeri dongeng seperti keinginan kamu rasanya juga tidak cukup, Val –“
“Cukup itu –“
“Eemm, lagipula, aku takut finansialku belum juga cukup Val, jika bulan depan pernikahan kita dilaksanakan dengan konsep seperti yang kamu inginkan.”
“Tenang saja, Kak. Nanti Kak Kafeel pinjam uang Val saja dulu. Hitung – hitungan setelah menikah saja, termasuk berapa kali cicilannya –“
♥♥
To be continue .....
__ADS_1