
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Kediaman Utama The Adjieran Smith Family, Jakarta, Indonesia....
“Iya, Chiel. Bagaimana?”
Adalah Dad R yang berbicara dengan ponselnya yang tertempel di telinganya, ketika dirinya dan Mommy Ara telah sampai di KUJ.
“Ya sudah. Biarkan saja Val bersama Kaka. Jangan kau interupsi mereka. Kabari saja aku jika Val telah selesai di sana.”
Dad R lalu berbicara lagi, setelah ia mendengar laporan Achiel dari ujung ponselnya.
🌷🌷
“Loh, Dad R, Mommy Peri?—“
“Ain?.. kok masih bangun jam segini?..”
Mommy Ara yang menukas ucapan Aina itu.
Dimana Aina nampak di lantai bawah KUJ saat Dad R dan Mommy Ara sudah masuk ke area dalam KUJ yang sudah sunyi itu.
“Jangan katakan kamu sedang begadang dengan para saudarimu yang lain, sementara jika aku tidak salah besok kamu masih masuk sekolah, bukan?..”
“Engga kok Dad—“
“Engga sekolah?”
“Engga begadang.”
“Lalu ada di sini pada jam seperti ini?”
“Habis pipis. Terus pingin minum susu. Jadi Aina mau ke dapur bikin susu—“
“Kalau begitu Mommy temani, yuk? Dad R mau dibuatkan minuman hangat?” tukas Mommy Ara sambil merangkul Aina, lalu bertanya pada Dad R.
“Boleh.”
“Kopi atau teh?—“
“Kopi saja..”
“Bitter (Pahit)?—“
“Iya.”
“Btw, kok Dad R sama Momny Peri datang.. perasaan Aina engga ada info Dad sama Mom mau dateng sekarang?”
Aina lalu bertanya sambil memandang kepada Dad R dan Mommy Ara, saat satu mommynya itu sudah hendak mengajaknya berjalan menuju dapur KUJ.
“Little Girl dilarang kepo pada urusan orang dewasa.” Dad R langsung menjawab pertanyaan Aina barusan yang langsung memonyongkan bibirnya. “Sudah sana buat susu dan kembali tidur.. nanti susah dibangunkan saat subuh.”
“Aina lagi halangan, Dad.. dan lagipula besok hanya ada kegiatan ekskul ajah soalnya guru-guru rapat. Jadi Aina dateng ke sekolah tuh ga sepagi biasanya. Ga masuk juga ga apa-apa—“
“Mana ada,” sergah Dad R. “Jika bukan libur resmi dari sekolah atau ada urusan dalam keluarga ini yang amat sangat mendesak seperti soal Kak Val-mu waktu itu, atau jika bukan kami orang tua yang menyuruhmu untuk tidak masuk sekolah ataupun kamu sedang sakit---tidak ada yang namanya bolos.”
Dad R merepet kemudian, dan Aina langsung mengerucutkan bibirnya. “Iya, Daad—“
“Sudah sana. Tuntaskan kepentinganmu dan kembali tidur setelah itu..” tukas Dad R dan Aina mengiyakan dengan tampang pasrah. Sementara Mommy Ara mengulum senyumnya.
Lalu dua wanita beda usia itu meninggalkan Dad R yang kemudian mengambil duduk di salah satu sofa di ruang tengah KUJ. ‘Ah iya. Aku harus mengingatkan Val jika dia sudah selesai melepas rindunya dengan Kaka, lebih baik dia pulang ke sini dulu untuk beristirahat..’ Dad R membatin kemudian.
Lalu Dad R mengeluarkan ponselnya dari dalam saku kemejanya.
🌷🌷
“Val membawa ponselnya tidak ya?”
Dad R bergumam.
“Seingatku sih ia membawanya.”
Dad R bergumam lagi.
“Tapi entah jika Val sedang berada dekat dengan ponselnya sekarang ini.”
🌷🌷
“Selamat malam, Tuan Moreno..” pada akhirnya Dad R memilih untuk menghubungi Achiel saja, dimana dengan cukup cepat Achiel menerima panggilan telepon darinya via ponsel itu.
“Malam, Chiel. Sambungkan aku dengan Val.. atau dengan Kaka juga boleh,” ucap Dad R kemudian.
“Baik, Tuan,” sigap Achiel yang tergambar dari nada suaranya di ujung sambungan telepon pada ponsel Dad R.
“Sudah bertemu dengan Kak Kafeelmu?”
Dad R lalu bicara lagi, selepas sapaan Val ia dengar dari ujung ponselnya.
“Iya, Val sudah bertemu dengan Kak Kafeel. Terima kasih Daddy. Daddy dan Mommy sudah sampai di KUJ?”
“Iya, sudah.”
“Daddy, Val sudah mengatakan pada Kak Kafeel kalau Val sudah ingat dia sekarang? Kok Daddy tidak cerita kalau Kak Kafeel adalah seorang duda sekarang?”
Kemudian Val yang balik bertanya pada Dad R.
“Ingat bagaimana kamu mendesakku saat di London ketika kamu sudah mendapat ingatanmu tentang Kak Kafeelmu itu hingga membuat aku dan keluarga di sana panik karena kamu mencecar kami untuk segera dipertemukan dengan Kaka? Kamu yang seperti itu tidak membuat kami berpikir hal lain selain segera mengiyakan permintaanmu itu. Lalu di jet kamu memilih menyendiri, kemudian setelah sampai kamupun mendesak lagi untuk segera menemui Kak Kafeelmu itu. Jadi mana sempat aku dan Mommymu menceritakan banyak hal tentang Kaka padamu?”
“Iya juga, ya?”
__ADS_1
🌷🌷
Percakapan kecil berlangsung diantara Dad R dan Val via ponsel.
Dad R nampak santai bicara dari sejak ia menghubungi nomor Achiel, kala Mommy Ara dan Aina sedang pergi ke dapur KUJ.
Dad R bahkan sempat menerbitkan senyum kecil di bibirnya karena mendengar suara ceria dan antusias Val saat ini.
Hingga kesantaian Dad R berubah jadi ekspresi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata ketika Val bilang, “Sudah dulu ya Daddy, Val mau meniduri Kak Kafeel..”
Tergugu Dad R kemudian. “A-apa..“ Hendak menyambung bicara, namun Val keburu memutus percakapan mereka---tapi Val tidak mematikan sambungan teleponnya dengan Dad R dengan Val yang menggunakan ponsel Achiel itu.
Jadi telinga Dad R kiranya masih dapat menangkap suara dari seberang ponselnya. Hingga tak lama kemudian Dad R membelalakkan matanya, bahkan sampai ia berdiri dari duduknya.
“Achiel! Apa yang aku dengar tadi?!..“
Gegas Dad R langsung meninggikan suaranya.
Hingga membuat Mommy Ara dan Aina yang telah muncul dari dapur terkejut dan tergesa menghampiri Dad R.
“Dan kau diam saja saat melihat anakku dan Kaka dalam keadaan yang tidak pantas?!..” Dad R masih fokus bicara pada Achiel, sementara Mommy Ara dan Aina terpaku bingung selain agak khawatir, apalagi saat Dad R bilang, “Mana si bocah tengik Kafeel Adiwangsa?!” dengan wajah Dad R agak horor.
🌷🌷
“Bocah tengik! Apa kau sedang memanfaatkan putriku yang sedang bersamamu itu?!—“
“Bukan! Bukan Dad! Ini hanya salah paham. Maksud Val itu bla.. bla.. Val hanya salah menggunakan kata Dad..”
“Haishh.” Lalu setelah mendengar penjelasan Kafeel, Dad R agak menggeram sambil memijat pelan pelipisnya.
“Ada apa, Hon?..” tanya Mommy Ara khawatir dengan segera pada Dad R setelah suaminya itu nampak telah selesai bicara di ponselnya.
“Dulu.. Valera Madelaine Aditama Adjieran Smith tercinta kita itu, membuatku jadi memiliki darah tinggi karena permintaan dan rengekannya soal Kaka. Lalu dia pernah membuat jantungku berhenti karena kenekatannya. Dan sekarang, dengan kondisinya yang belum stabil benar dia mampu membuatku hampir terkena stroke hanya karena satu kata.“
Dimana Mommy Ara segera bertanya inti masalahnya dengan lebih jelas, yang membuat Dad R agak gusar tadi, dan suaminya itu pun menceritakan hal yang sempat membuatnya gusar beberapa saat yang belum lama.
“Carikan guru Bahasa Indonesia untuk satu putri kita itu agar Bahasa Indonesianya lebih tertata. Kalau perlu baku macam si Dora!”
🌷🌷
Sekarang kita sambangi di gadis yang hampir membuat Dad R stroke karena pemilihan katanya yang kurang tepat.
Dan dengan entengnya dia menyahut, "Memang apa yang salah dari apa yang Val katakan? Val kan ingin meninabobokan Kak Kafeel. Benar dong jika Val ingin meniduri Kak Kafeel?.."
Yakni Val yang sedang kembali berduaan dengan Kafeel dalam kamar pria itu, dimana Kafeel dan Achiel langsung meringis setelahnya.
"Saya permisi dulu, Nona, Tuan."
Achiel yang memilih keluar saja dari kamar Kafeel dan tidak menanggapi ucapan tak bersalah Val tadi.
Kafeel lalu ingin memberikan pengertian pada Val tentang pendapat gadis belia tercintanya itu mengenai pemilihan kata yang Val gunakan hingga sampai membuat Dad R gusar.
“Ya sudah, Kak Kafeel lanjut istirahat sekarang. Val akan setia disini menemani Kakak,”
“Begini aja.”
Kafeel yang menanggapi ucapan Val barusan.
“Hampir satu tahun, Kakak kehilangan kesempatan bisa mandang wajah kamu sedekat ini dan Kakak ga akan menyiakan kesempatan itu sekarang.”
Menolak dengan lembut permintaan Val yang menyuruhnya untuk melanjutkan istirahat Kafeel yang Val anggap terganggu karenanya. “Masih banyak kesempatan untuk Kak Kafeel memandangi wajah Val.. Kan Val tidak akan kemana- mana lagi setelah ini?..” Val langsung merespons perkataan Kafeel sebelumnya.
“Aku masih agak trauma sebenarnya. Masih punya rasa takut akan jadi jauh lagi dari kamu setelah sekarang,” sambung Kafeel dengan menatap sendu Val yang juga sedang menatapnya, sambil Kafeel menggenggam satu tangan Val yang bebas dan Kafeel letakkan di atas dadanya.
Val lalu tersenyum sendu. “Takut amnesia Val yang melupakan Kakak, kembali lagi ya?“ kata Val kemudian.
Kafeel pun langsung mengangguk mengiyakan ucapan Val yang barusan itu.
Dimana setelahnya Val menanggapi ucapan Kafeel tentang satu ketakutannya yang juga Val cetuskan dugaannya.
Syahdu dan tenang percakapan yang Val dan Kafeel lakukan itu, namun kemudian Val terlihat panik. Karena dari ucapannya yang menanggapi ketakutan Kafeel, Val jadi ingat tentang Simon—pacarnya saat ini.
🌷🌷
Dan Kafeel menangkap kepanikan Val yang langsung ia pahami itu.
“Val ingat pacar Val sekarang, yah? Simon ya, kalau ga salah, namanya?—“
“Iya, Kak..” jawab Val polos.
“Kamu.. mencintainya?..”
Kafeel bertanya ragu dan sendu.
“Heem. Saat Val ‘menembaknya’ sih.. Val merasa jatuh cinta padanya—“
“Jadi kamu yang duluan suka sama dia?”
“Iya.”
Sekali lagi Val menjawab dengan polosnya. Membuat Kafeel jadi menghela nafasnya dengan berat.
Val lalu melontarkan pertanyaan pada Kafeel.
“Kak Kafeel cemburu?—“
‘Segala nanya lagi,’ tukas Kafeel dengan sebal dalam hatinya.
Namun senyum yang Kafeel tunjukkan pada Val.
“Menurut kamu?—“
__ADS_1
“Kak Kafeel cemburu pada Simon?”
Val menjawab dengan lugas, masih dengan kepolosannya.
Kafeel melipat bibirnya.
“Maaf..” tambah Val. “Tapi kan Val jatuh cinta pada Simon yang tampan juga seperti Kak Kafeel—“
‘Tampan dari mana itu si Simon. Kulitnya macem cat tembok rumah sakit yang kelewat putih begitu. Kalo Val jadi sama dia, yang ada anaknya macam kuda albino!’
Si AA yang mulai tersulut cemburu, membatin sebal saat Val sedang berkata.
'Coy! Coy! Jangan sampai Val jadinya sama Simon terus gue menjadi seseorang dengan predikat madesu, bucin menyedihkan! Hell No!--'
“Kak?—“
“Hm?..”
Kafeel terkesiap kala Val menyentuh wajahnya.
“Melamun?—“
“Engga kok—“
“Kak Kafeel marah pada Val?..”
“Maunya sih marah, karena iya aku cemburu.. tapi sekarang kan kita.. jatohnya.. memang tidak ada hubungan apa-apa—“
“Maksudnya, Kak Kafeel sudah tidak mencintai Val?..”
Val menukas ucapan Kafeel dengan wajahnya yang kini nampak sedih.
“Hei..”
Kafeel lalu menangkup wajah Val.
“Foto-foto Val di kamar aku ini, bukannya udah jelas kasih tau kamu bagaimana perasaan aku ke kamu?..”
Kafeel lanjut bicara, sambil memandang Val lekat.
“Ga ada yang berubah tentang perasaan aku ke kamu—“
“Lalu kenapa Kak Kafeel mengatakan kalau kita tidak apa-apa?..”
Val menukas ucapan Kafeel dengan ekspresi sedih dan sendu.
“Kan, Kakak yang memutuskan hubungan kita waktu itu. Yang sebenarnya terpaksa aku lakukan, karena bla.. bla.. bla..”
Kafeel menceritakan semua yang menjadi penyebab tragedi cintanya dan Val pada gadis itu--alasannya sampai tega sekali menyakiti hati Val kala itu, meski ia sendiri juga sangat terluka.
“Lalu Val kan amnesia dan kita kita memang putus hubungan selama berbulan- bulan. Lalu kamu.. berpacaran dengan Simon. Dengan begitu, berarti kita memang tidak punya hubungan apa-apa sekarang ini, Tuan Putri—“
“Ya sudah kita lanjutkan lagi hubungan cinta kita,” tukas Val. “Kak Kafeel I love youu.. jadi kekasih Val lagi yaa?—Iya,” oceh Val dengan menjawab sendiri pernyataan yang seharusnya dijawab oleh Kafeel. “Okay kita pacaran sekarang, Kak..”
Lalu Val berkata dengan entengnya.
Membuat Kafeel yang sedang sendu hatinya selain sedang merasakan cemburu juga jadi terkekeh kecil karenanya.
“Kamu ini.. bisa ga sih ga ngemesin?” ucap Kafeel kemudian sambil menyentuhkan ujung hidungnya dengan hidung Val dengan gemas.
Val lalu tersenyum manis.
“Jadi kalau kita pacaran sekarang, kamu akan memutuskan Simon berarti ya?..”
“Bagaimana ya?—“
“Kok.. kamu kayaknya bimbang? katanya kamu cinta sama aku?—“
“Habisnya Val seperti punya perasaan spesial juga pada Simon—“
“Heu?—“
“Rasa-rasanya sih, hati Val terbagi dua untuk Kakak dan Simon—“
“Be-neran itu?.. kamu cinta dia juga seperti kamu cinta sama aku—“
“Huum..” Val manggut – manggut kecil. “Simon baik habisnya. Seperti Kak Kafeel. Pengertian.. sabar.. lembut.. dan sejak jadi pacar dia selalu mengiyakan keinginan Val—“
“Aku jangan disamain dong dengan dia—“
“Ya memang seperti itu apa adanya,” tukas Val—sekali lagi dengan polosnya.
Kafeel menghela nafasnya dengan frustasi. “Gini aja..” Kafeel berkata lagi untuk memberikan sebuah solusi dari hatinya yang agak dongkol sekaligus miris. “Sebaiknya—“
“Ya sudah begini saja..”
Namun Val sudah keburu menukas ucapan Kafeel.
“Val akan mempertahankan kalian berdua, okay?!..”
Val berkata dengan wajah tanpa dosanya.
“Janji, Val akan adil pada Kak Kafeel dan Simon—“
“Heeuu?..”
Tercengo si AA.
‘Adil dari Hongkong!’
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
To be continue..
Terima kasih masih setia.