
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Terima kasih masih setia baca yawgh.
Noted: Banyak umpatan di episode ini, disesuaikan dengan jalan cerita yang ada. Bukannya maksud ngajarin yang ga bae.
Tapi kembali lagi, ini hanya bacaan.
Ambil yang bae ( kalo ada ), yang jelek antepin.
So, jangan menjudge authornya. Woles aja, ngogheeeyyy? ..
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Jakarta, Indonesia,
Mereka yang akan pergi menghadapi para berandalan kriminal yang telah tergabung dalam satu geng motor, dimana geng motor tersebut banyak melakukan tindak kriminalitas -- kini sudah mulai mempersiapkan diri. Jas dan blazer yang tadi membalut para pria muda yang hendak menghabisi para kriminal target mereka karena sudah mengusik dan merusak salah satu kerabat mereka itu, kini sudah berganti dengan jaket kulit yang memiliki lambang tertentu di belakang ataupun di bagian dada.
Berbeda-beda tapi tetap satu jua. ( halah si emak, gaje ).
Para Dads dan kerabat dekat seusia mereka yang tadi ikut berkumpul bersama para pria matang dan muda yang sebagian besar adalah anak-anak mereka itu, kini telah membubarkan diri untuk kembali ke tempat tinggal masing-masing----sambil menunggu kabar terbaru soal anak-anak mereka dan orang-orang yang menyertai para pria matang dan muda tersebut.
“Lo jalan duluan, Ka,”
Dia yang memiliki sebutan ‘Anak Naga’ bersuara.
Alvarend Aditama Adjieran Smith.
Abang Varen.
Pria berusia matang yang digadang-gadangkan sebagai penerus terkuat The Dads of Adjieran Smith karena sifat dan kemampuannya yang setara dengan para Hot Old Daddies tersebut.
Menitahkan pada Kafeel untuk melakukan sesuatu, karena dirasa sudah saatnya mereka bergerak. Kafeel pun langsung mengangguk setelah mendengar permintaan Varen padanya. “Jadi Zio yang ngiring gue apa lo?”
Kafeel kemudian bertanya pada pria yang bernama Bagas, yang kini telah berada di dalam Ballroom bersama dengan adik lelakinya----yang merupakan teman Aro dan Rery, juga wakil mereka di satu geng motor yang cukup tersohor seantero SMA di Jakarta.
“Zio aja. Biar mereka merasa besar kepala aja dulu-“ jawab Bagas.
“Berapa orang lo bawa?” tanya Nathan pada Bagas.
“Sepuluh-“ jawab Bagas pada Nathan.
“Sisa segitu doang anggota lo?”
Cibiran lalu keluar dari mulut Sony----bestinya Nathan, dan Bagas sontak terkekeh.
“Oy Bapak Polisi yang terhormat, usia gue udah mengharuskan gue kerja serius buat modal nikah. Termasuk anggota gue juga sama. Udah males deh tawuran-tawuran begini! Tapi berhubung urusan sama itu para lanang babi, makanya gue mau ikut serta.. udah lama emang gue incer tuh mereka. Cuman belom sempet aja ngurusin itu manusia-manusia babi!”
Bagas menyahut malas pada Sony yang terkekeh bersama lainnya.
“Ga sempetnya lo malah keburu mereka nambah banyak,” tukas Sony.
“Ck, kalo ga mendadak gini gue masih bisa ngumpulin dua kali lipat orang plus ajak si Zahrain.”
Bagas membela dirinya dari Sony.
“Selama itu lanang babi ga ngusik, males amat gue mikirin dia. Lagian kan gue bilang, daripada ngurusin itu manusia-manusia ga punya moral sejak lahir, mending gue sama anak-anak di kelompok gue mulai fokus sama masa depan, cari duit yang banyak buat foya-foya saat tua!...”
“Heleh, alesan aja lo...” tukas Sony. “Bilang aja lo dah mulai jiper sekarang...”
“Dih si anying-“
“Hish!...” Desisan lalu terdengar. “Lo berdua macam ibu-ibu komplek yang sedang belanja sayur-“
“Deehhh Abang Varen, kek pernah liat aja ibu-ibu komplek belanja sayur?...”
Ada Arya yang iseng nyeletuk.
“Gue sayat dan buat macam Joker bibir lo, dibuang lo sama Mika!...”
“Terlalu sadis caramu-“
Arya membalas dengan bersenandung ancaman jengkel Varen padanya, lalu ia terkekeh kecil bersama yang lainnya.
“Kalian jalan sekarang.”
Varen bersuara, selepas canda sudah tidak lagi mengudara.
“Kalian jaga jarak di belakang mereka bersama Bagas,” lalu Varen bicara pada beberapa bodyguard perwakilan, setelah berbicara pada Kafeel dan Zio. “Son, lo bisa siapkan tim lo sekarang. Sisanya, bareng gue,” titah Varen lagi. “Ponsel tinggalkan semua dan berikan pada Achiel.”
“SIAP!”
Mereka yang bersama Varen menyahut lantang secara bersamaan menanggapi titah ‘Anak Naga’ dimana perintah Varen untuk saat – saat tertentu macam saat ini, adalah mutlak adanya.
♥
Sesuai dugaan Varen dan mereka yang bersamanya, Mobil Kafeel memang sudah ‘ditandai’ oleh seorang pria yang merupakan ketua satu geng motor kriminal yang sering meresahkan masyarakat Jakarta sejak lama.
__ADS_1
Dimana geng motor kriminal tersebut sudah ada sejak jaman para Dad of Adjieran Smith masih berada di kisaran usia matang. Hanya saja tidak The Dads itu pedulikan, karena tidak pernah ada kontak langsung dengan mencari gara – gara pada sekumpulan ‘Naga’ itu.
Hanya saja geng motor kriminal tersebut sempat menghilang, karena pemimpinnya berikut puluhan anggota geng tersebut—telah digulung oleh aparat terkait yang dibawahi oleh beberapa orang kenalan para Dad of Adjieran Smith yang memang memiliki kewenangan untuk menangkap para kriminal yang meresahkan masyarakat, baik perorangan maupun kelompok.
Namun setelah sempat senyap, belakangan geng motor kriminal paling meresahkan masyarakat itu muncul lagi dan kian besar saat ini—bahkan lebih ‘licin’ dan brutal daripada pendahulunya.
Hingga aparat terkait sering kali diajak main ‘kucing-kucingan’ oleh para anggota geng kriminal tersebut sehabis mereka melakukan ragam kejahatan.
Tapi sekarang, geng kriminal tersebut nyatanya harus berhadapan dengan mereka dari Klan Adjieran Smith berikut pasukan yang telah dipersiapkan dengan matang—untuk ‘menggulung’ habis setiap anggota dari geng motor kriminal yang menjadi target Varen dkk malam ini.
Bukan niat menjadi jagoan macam Superhero pembasmi kejahatan di film – film, melainkan karena ketua dari geng motor kriminal tersebut, telah memaksakan kehendak--melecehkan--melakukan kekerasan fisik sampai merusak masa depan seorang gadis yang adalah Lena, adik perempuan kandungnya Kafeel.
Gadis yang sudah dianggap sebagai anak oleh para orang tua dari Klan The Adjieran Smith seperti halnya sang kakak, dimana almarhum ayah mereka adalah sahabat baik dari para Dads, dan ibunda Lena serta Kafeel sudah dianggap saudara oleh para Mom of Adjieran Smith.
Makanya atas dasar itu—rasa tidak terima atas satu anggota keluarga yang diusik dan dirugikan lahir maupun batin, membuat beberapa dari pewaris muda The Adjieran Smith merasa perlu sekalian saja menghabisi tak hanya si ketua, melainkan seluruh anggotanya—untuk diberikan sebuah pelajaran yang akan menjadi pelajaran sangat berharga, atau mungkin pelajaran terakhir dalam hidup mereka.
Lihat bagaimana situasi dan kondisinya nanti.
Jika orang – orang dalam geng motor kriminal itu tidak memberi perlawanan, maka Sony dan kesatuannya yang akan mengurus proses hukum para anggota geng motor kriminal tersebut.
Tapi jika sebaliknya yang terjadi, maka yang terjadi terjadilah.
♥
Kafeel sudah masuk ke dalam mobilnya dan tak lama Zio yang merupakan adik dari Bagas—seorang pria matang seusia Nathan dan memang temannya Nathan dan Sony—kakak lelakinya Arya, juga ikut bergerak dengan motor berikut beberapa rekan satu geng motornya yang diketuai oleh Aro dan Rery.
Satu geng motor yang memang terbentuk atas dasar hobi balapan, bukan untuk sok jagoan, sok keren dengan label anak geng motor. Cuma ya bisa dikondisikan jika memang ada yang cari ribut duluan.
Karena seyogyanya mereka yang tergabung dalam geng motor balapan unik karena memiliki dua ketua itu, bukan hanya anak – anak yang hobi balapan motor saja.
Ada beberapa yang punya ikon ‘badboy’ di setiap lingkungan tempat teman – teman satu perkumpulan Aro dan Rery berada seringnya.
“Mereka sudah bergerak di belakang Kafeel dan rombongan Zio.” Sebuah suara di alat komunikasi yang digunakan Varen dan kawan – kawan terdengar serempak di setiap alat komunikasi yang digunakan oleh Varen dan pasukannya.
Dan Kafeel yang juga sudah menggunakan alat komunikasi khusus yang terpasang di dalam telinganya, melirik ke arah belakang mobil melalui kaca spion tengah dan samping kanannya. Dimana segerombolan orang – orang dengan menggunakan sepeda motor dengan jenis yang hampir sama semua, ada di belakang rombongannya Zio.
Zio juga langsung melirik ke kaca spion motornya, kala pemberitahuan dari orang kepercayaan kakak tertua dua ketuanya selain Kafeel, ia dengar dari alat komunikasi khusus yang terpasang di telinganya—seperti halnya Kafeel dan beberapa lainnya. Mereka yang ikut bersama Zio juga sama mendengar pemberitahuan tersebut, dan sudah bersiap untuk mendengar arahan selanjutnya dalam alat komunikasi.
♥
Kafeel tetap menjalankan kemudi mobilnya, meski ada rombongan motor yang lebih banyak jumlahnya dari Zio dan teman – temannya yang mengiringi dirinya—dimana Kafeel melalui jalanan yang memang sudah disetting sedemikian rupa sebagai rute jalanan yang ia lalui seperti biasanya.
Jalanan yang cukup sepi, terlebih saat malam.
Karena jalanan tersebut terkenal dengan daerah tempat seringnya tindak kriminal terjadi.
Saking sepinya jalanan tersebut, yang memang akan dihindari oleh masyarakat untuk melewatinya terlebih saat malam hari.
♥
Kafeel terus saja membawa mobilnya menyusuri jalanan yang telah dibuat sebagai ‘rutenya’.
Dimana gerombolan motor di belakangnya dan Zio serta teman-teman dari wakilnya Aro dan Rery itu sudah mulai mengintimidasi Kafeel dan Zio dengan derung motor yang bersahut-sahutan dari stang gas yang dimainkan, hingga mengeluarkan bunyi bising dari knalpotnya.
“Cih!”
“Motor boleh nyicil aja bangga!”
“Kebanyakan gaya!”
“Motor gembel bunyinya kek kaleng rombeng banget njing!”
Celetukan-celetukan yang berupa penghinaan dari kubu Varen sontak langsung terdengar bersahutan dari beberapa orang setelah mendengar derungan knalpot motor yang digeber hingga kebisingan menyeruak.
“Ingetin akikah buat bakarat itu motor-motor rongsokan mereka nanti ya Jeng??...”
“Eims Sis, nanti eike ingetin yey buat bakarat itu motornya si dese-dese ga ngotak itu, yeh...”
“Oke Siiss-“
“NAJIS!”
“JIJIK BANGET GUE DENGERNYA!”
“DASAR KAUM TULANG LUNAK!”
Lalu celetukan-celetukan lain yang menanggapi ucapan dua orang di awal, juga memenuhi ruang komunikasi khusus Varen dan rombongan -- hingga yang mendengar dan tidak ikutan menyergah mereka yang tadi berbicara bak cowok ager-ager, itu tergelak geli bersama-sama.
“COCOMBLAI!”
“What is cocomblai??”
“Cowo-cowo kaum melambai!”
“Bangkeee!!!! –“
“HAHAHAHAHA.”
♥
__ADS_1
Hanya sebentar saja kekonyolan suara-suara guyonan terjadi pada alat komunikasi Varen dan pasukannya, setelah informasi berikut tampilan gambar pada monitor mereka yang menggunakan mobil dan memegang sebuah benda pipih, menampilkan segerombol orang dengan menggunakan motor juga, hendak menghadang Kafeel dan Zio berikut rombongan mereka saat ini.
“Kasih tau kalau butuh bantuan –“
“Giring sekarang Ka.”
Suara Varen terdengar selepas Sony berbicara di alat komunikasi.
Sony dan timnya berpisah dengan gerombolan Varen, guna mengamankan ‘rute’ mereka sesuai dengan tugas yang diberikan Varen padanya.
Membuat area sekitar tempat -- dimana mereka akan membabat para target mereka tersebut, agar tidak mendapati gangguan dalam bentuk apapun.
Selain berjaga-jaga untuk sebuah situasi dan kondisi yang akan terjadi nanti, selepas pertarungan.
“Check point.”
Suara Kafeel kemudian terdengar menyahut atas respon dari perintah Varen dalam alat komunikasi, setelah ia berbelok melawan ‘rutenya’.
Dimana jalanan yang Kafeel lalui saat ini adalah menuju sebuah tempat terbengkalai yang cukup luas dan tersembunyi karena banyaknya pohon besar di segala sisinya.
Satu tempat yang memang sengaja dipilih oleh Varen dan pasukannya, karena dirasa tepat untuk bertarung—oh bukan, tempat yang tepat untuk sebuah kuburan masal, melihat luasnya area terbengkalai itu.
Gelap, angker, selain sangat luas dan sepi.
Gambaran tempat dimana Kafeel dan Zio berikut rombongan, telah menghentikan kendaraan mereka masing-masing.
“Lo dan tim bersiap, Gas.”
Suara Varen terdengar lagi, dan dia yang disebut namanya oleh Varen pun lekas menyahut.
Lalu seperti halnya Sony, Bagas dan kelompoknya memisahkan diri dengan maju duluan. Lalu tak lama berhenti pada satu titik tersembunyi setelah mensenyapkan kendaraan yang ia dan kelompoknya gunakan.
♥
“Salah jalan, calon kakak ipar? ..” kalimat itu yang didengar Kafeel dari seorang pria berwajah lumayan namun tengil dan nampak urakan, ketika ia keluar dari dalam mobilnya.
“Cih!”
Kafeel berdecih jijik sambil menatap pria yang berbicara padanya itu.
Dimana pria yang sungguh ingin cepat-cepat Kafeel habisi itu terkekeh remeh selepas mendengar decihan Kafeel yang disisi kiri dan kanannya sudah ada Zico dan teman-temannya.
“Segini doang backup lo??!! .. Bocah-bocah ingusan begini yang lo rekrut buat ngelindungin lo?” ucap pria tersebut lagi dengan remeh, dan rombongan pria itu juga ikutan tertawa remeh. Kemudian pria tersebut melirik pada Zio. “Segini doang pasukan lo, Cil? –“
“Gue orang bukan kancil.”
Zio dengan cepat menyergah ledekan dari pria yang sebenarnya adalah musuh bebuyutan Bagas, kakak Zio.
“Lucu banget si anj*ng adenya si brengsek Bagas ..”
“Lo yang brengsek Bangs*t!”
Kafeel yang barusan menyergah kala pria yang adalah ketua dari rombongan orang-orang geng motor kriminal itu sedang mengejek Zio.
“Wah, calon kakak ipar. Sebenarnya gue ga tega buat ngabisin lo malem ini .. tapi berhubung lo udah gegayaan hajar gue waktu itu dan ngelarang Lena sama gue, jadi lo harus terima nasib naas lo malem ini ..”
Kafeel mendengus sinis selepas si ketua geng motor kriminal itu merepet barusan.
“Nasib lo yang bakal naas malem ini ..” tukas Zio.
“Bacot banget lo bocah!”
Seseorang yang berada di dekat ketua geng motor itu langsung berseru selepas Zio berucap tadi.
“Gede juga nyali lo, njing! ..” seru si ketua geng motor kriminal tersebut. “Ngomong-ngomong, mana kakak lo?!. Udah ga punya nyali dia ngadepin gue sampe ngirim adenya sama monyet-monyet bocilnya ini?? ..”
“Jangan suka ngadi-ngadi ..”
Sebuah suara terdengar menyambar dari belakang orang-orang yang mengepung Zio, setelah si ketua geng motor kriminal itu sedang merepet dan mengejek Zio serta teman-temannya.
“Gosip dari mana lo bilang gue takut sama lo, njing? ..”
“Bangs*t mulut lo!” seruan dari kubu geng motor kriminal terdengar lagi selepas Bagas berbicara.
“Ngaca woy!”
“Mau mati banyak bacot lu! –“
“Lo semua yang bakal mati, para bangs*t sampah masyarakat! Manusia-manusia rendahan!” sambar Kafeel.
"BANGS*T!"
"EMANG CARI MATI LO!"
"SERANG!"
**
To be continue ....
__ADS_1