
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Sebuah pulau pribadi, Kepulauan Borromean,
“Sir—“
“Yes, Sky?..”
“Mister Kafeel is at Great Mansion right now, Sir. And he pushed to get in by harm himself with a gun that he was looted from our man at gate ( Tuan Kafeel ada di Great Mansion saat ini, Tuan. Dan beliau memaksa untuk masuk dengan mengancam dirinya sendiri menggunakan pistol yang ia rampas dari orang kita di gerbang )”
“Let him in then. And connect me with Achiel ( Biarkan dia masuk kalau begitu. Dan hubungkan aku dengan Achiel )”
“Yes, Sir.”
---
“Dad..”
“Ya, Than?”
“Celine bilang semua sudah siap.”
“Baiklah—“
“Are you really sure want to do this? ( Apa lo benar yakin mau melakukan ini ), R?..”
“Ya.”
---
“DADS!”
“ADA APA DENGANNYA, CELINE?!”
“Sa-ya juga tidak tahu. I-ni tiba-tiba—“
“THEN CHECK HER!”
“I-iya.. tapi tolong tenang—“
---
“Apa yang terjadi, Celine?!”
“Apa itu salah satu efek?!”
“Bukan.”
“Lalu kenapa dia bisa sampai seperti tadi?”
“Apa kau salah memberikannya obat?!”
“Saya tidak akan selalai itu, Tuan.”
“Lalu??”
“Banyak faktor.”
“Jelaskan secara terperinci..”
“Saya sulit menjelaskannya secara harfiah. Salah satu diantaranya kemungkinan adalah dia sedang ‘bertarung’”
“But, she’s okay, right ( Tetapi dia tidak apa-apa, bukan )?..”
“Iya. Sekarang sudah stabil. Sudah ‘normal’ dalam ‘ketidaknormalan’ kondisinya, seperti sebelumnya—“
“Syukurlah..”
---
“What the—“
“Tuan Jo—“
“Ada apa, Boy?”
“Sony DM aku..”
“Apa katanya?”
“Kak-Kak Kaf.. bunuh diri..”
“APA?!—“
“Hubungi Abang!—“
“I-iya..”
⭕⭕
Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia,
Ada Varen yang sedang berada di sebuah tempat dalam kediaman keluarganya yang bertempat di Jakarta, selain dari yang bertempat di London. Tempat yang sering Varen susupi sejak kurang lebih tiga bulan yang lalu, ketika gilirannya sedang berada di kediaman keluarganya yang berada di Jakarta tersebut.
“Abang Bebeb!” sebuah suara membuat Varen menoleh ke arah belakangnya dengan bibir yang otomatis melengkung.
“Sudah perawatannya?..” tanya Varen pada dia gerangan yang langsung Varen dekap dan kecup bibirnya---Drea.
Yang orangnya langsung merungut menggemaskan di mata Varen.
“Udah..” jawab Drea.
“Terus kenapa merungut begini?”
“Habis Abang, Drea hubungi dari ruang perawatan ga diangkat-angkat telfon Drea.”
“Ponsel aku sedang di charge di kamar—“
“Pantes—“
“Ada apa memangnya, hem?”
“Drea tadinya mau ajak Abang sauna bareng, mumpung yang lain lagi pada di kamarnya.”
“Mau niat mesum-mesuman di sauna ya?”
“Idiih, Abang aja tuh yang piktor aja otaknya.”
Varen pun terkekeh kecil.
Kemudian merangkul Drea sedikit lebih erat sambil meletakkan dagunya di atas istri merangkap adik angkatnya itu.
“Abang, nanti malam kita jadi pergi dari sini?—“
__ADS_1
“Iya,” tukas Varen. “Kenapa? Kamu masih ingin tinggal lebih lama di sini, Little Star?”
“Engga kok Abang. Drea justru ingin segera ke Isola,” jawab Drea.
“Kita langsung ke London dari sini.”
“Jadi kita tunggu V—“
“Kak Drea!” sebuah suara membuat Drea tidak meneruskan ucapannya pada Varen.
“Kenapa, Ain?..”
“Kata Kak Isha, Baju-baju Kak Drea yang mau disumbangkan mana?”
“Oh iya. Masih di kamar!—“
“Aina yang ambilin aja apa?”
“Hayo deh sama Kak Drea, banyak soalnya.”
“Oke!—“
“Abang, Drea ke kamar dulu ya?”
“Iya,” jawab Varen pada Drea.
Drea pun hengkang dari hadapan suaminya yang sedang berada di dalam sebuah ruangan khusus dimana banyak tulip merah yang sedang dibudidayakan di dalamnya.
---
“Tuan—“
“Ya?”
Varen menyahut pada seorang bodyguard yang menyapanya selepas lima menit kepergian Drea dari hadapannya yang masih betah berada di dalam sebuah tempat yang disebut tulip house itu.
“Kafeel Adiwangsa, bunuh diri ...”
"Apa katamu?! ..." Varen spontan memekik.
"Tuan Arya yang mengabarkan pada orang tuanya, yang kemudian menghubungi Tuan Jonathan. Dan Tuan Jonathan tidak dapat menghubungi anda, jadi dia menghubungi saya."
Satu bodyguard yang membawa kabar mengejutkan untuk Varen itu sedikit menerangkan pada sang Tuan Muda Utama.
"Dimana Kaka sekarang?"
"Tuan Arya membawanya ke rumah sakit, Tuan."
"Bawa aku kesana."
“Baik, Tuan—“
"Kau tahu bagaimana kondisinya sekarang??.."
"Tadi saya sempat menghubungi Tuan Arya, dan beliau bilang Tuan Kafeel masih bernafas walau kritis.."
⭕⭕
“Abang, ada apa??”
“Kaka, mencoba bunuh diri, Little Star—“
“HAH?!—“
“Ya Allah, Kak Kafeel—“
“D-Drea ikut, Abang—“
Kriingg..
Dering telefon membuat Varen dan Drea yang bersama Aina dan Isha, dimana keduanya sedang berjalan dari lorong lift dengan membawa satu tas besar dimasing-masing tangan mereka itu, menoleh secara spontan ke arah pesawat telepon yang ada di kediaman mereka yang bertempat di Jakarta tersebut.
“Kamu stay dulu di sini.”
Didetik berikutnya Varen berbicara pada Drea yang nampak shock bersama Aina dan Isha itu.
“Abang kabari nanti,” tambah Varen.
⭕⭕
“Bodoh!”
Varen merutuk saat ia sudah berada di dalam garasi utama KUJ khusus motor.
Sang Tuan Muda Utama dalam Dinasti The Adjieran Smith itu memutuskan untuk menggunakan motor saja agar bisa sampai secepatnya ke rumah sakit tempat Kafeel dibawa setelah ditemukan bersimbah darah di dalam kamarnya.
“Kaka di rumah sakit mana?”
“Yang terdekat dari tempat tinggalnya, Tuan..”
“Okay!“
Varen langsung menstarter motornya dan melaju dengan cepat kemudian.
⭕⭕
Di perjalanan,
“Benar-benar pasangan serasi..”
Varen menggumam dalam ia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Di belakang Varen, ada satu mobil dan dua motor sport lain yang mengekori Tuan Muda Utama Dinasti The Adjieran Smith itu. Varen mendengus berat sambil meneleng pelan dan mendengus geli lebih ke miris. Mau bagaimanapun Kafeel pernah menyakiti Val hingga adik kandungnya itu sampai kelewat nekat dan hati Varen dibuat terluka karenanya, namun tetap saja—Varen tak dapat menampik, ada sedih di hatinya mendengar Kafeel bunuh diri.
‘Semoga lo selamat, Ka..’
⭕⭕
Di sebuah rumah sakit,
“AR!”
“Bang Alva??..”
“Kaka gimana?”
“Nadinya kesayat satu doang, tapi lumayan pendarahannya.”
“Butuh transfusi?? Golongan darah dia sama kayak gue—“
“Masih di IGD, belum ada informasi soal itu. Mungkin mereka punya stoknya—“
“Bunda sama Lena mana?” tukas Varen seraya bertanya pada Arya yang ia temui sedang sibuk dengan ponselnya di luar lobi utama rumah sakit saat Varen tiba.
“Di IGD—“
⭕⭕
__ADS_1
“Bunda—“
“YA ALLAH, ALVAA!!“
Bundanya Kafeel histeris melihat kedatangan Varen yang langsung memeluknya dengan prihatin.
“Maafiin, Kaka.. Alvaa..” luruh ibunda Kafeel dalam pelukan Varen. “Bukan salah Kakaa sampe dia nyakitin Val—“
“Iya, Bun. Aku dan keluarga sudah memaafkannya, Bun—“
“Kaka juga menderita Alvaa.. makanya dia sampe kayak begini.. Kaka hancur, Alvaa waktu denger berita kalau Val—“
“Sudah Bun, sudah ya?—“
“Ka-kalo Alva dan semua mau kasih hukuman karena—Kaka nyakitin Val, hukumnya Bunda aja—semuanya karena Bunda, Alvaa.. Kaka--kaka cuma mau nyelametin Bunda..”
Yang Bundanya Kafeel ceritakan semua pada Varen tentang apa yang sebenarnya terjadi hingga Kafeel memutuskan untuk mengorbankan hubungannya dan Val.
Lalu Varen berkesah sangat berat setelahnya.
⭕⭕
Beberapa jam kemudian,
“Eugh..“
Sebuah suara lenguhan lemah terdengar dari satu sudut di belakang Varen yang tengah berdiri di dekat jendela dalam sebuah ruang rawat.
Varen menoleh perlahan, sambil juga membalikkan badan. “Setelah apa yang lo lakukan pada adik gue, setidaknya gue bersyukur kalau dia ga jadi dengan seorang pengecut macam lo.”
“Alva..“ Adalah Kafeel yang baru saja siuman dari ketidaksadarannya, atas percobaan bunuh diri yang beberapa jam lalu ia lakukan.
“Kayaknya lo ga niat mati, karena irisan lo kurang tajam di nadi lo itu..“ cibir Varen. Dimana Kafeel mendengus, dengan nada yang terdengar getir.
“Kenapa ga lo pastikan, kalau nadi gue bener-bener putus sekarang?“
Kafeel menanggapi ucapan Varen dalam kondisinya yang masih lemah.
“Lo yakin dengan permintaan lo itu, Kafeel Adiwangsa?.. karena seperti yang lo tau dan masih ingat, kalau gue selalu membawa pisau favorit gue... Dan sejak Val hancur karena lo, betapa besar keinginan gue untuk menghabisi lo.”
Yang Varen katakan sambil menatap fokus pada Kafeel.
“Yakin,” jawab Kafeel dengan suara yang lirih dan pelan.
Varen menampakkan senyuman miring pada Kafeel, yang sedang mencoba bangkit untuk duduk.
“Karena gue ingin nyusul, Val..”
Varen tidak coba menghentikan, namun mata elangnya tajam memperhatikan. Berjaga, jika dirasa Kafeel mencoba melepaskan selang infusan yang menempel di tangannya.
“Dan lo pikir, dengan lo coba bunuh diri, terus lo mati lo bisa ketemu sama adik gue?” sinis Varen. Kafeel tersenyum tipis, dengan sedikit mendongakkan kepalanya. Ada air mata yang terlihat terjun dari pelupuk mata Kafeel.
“Engga..”
Kafeel menjawab lirih dan pelan.
“Gue yakin ga ketemu.. tapi paling engga.. gue ada di tempat yang sama dengan Val.. Tapi sebelum itu.. mumpung lo ada di sini.. kalau lo mau hukum gue atas apa yang udah gue lakukan, sampai.. sampai Val.. nekat—begitu, gue dengan senang hati menerimanya, Va—tapi abis itu, jangan halangi jalan gue buat pergi, ke tempat dimana Val berada.. “
“Dan membuat Bunda lo sedih seumur hidupnya?! Kalo macam itu ngapain lo ngorbanin adik gue buat nyelametin Bunda, Brengsek!”
Varen menyorot tajam pada Kafeel.
“Karena gue ga pernah berpikir sampai Val senekat itu, Va!..”
Kafeel menjawab ucapan Varen dengan menggebu, menggunakan tenaga yang ada ditubuhnya yang masih lemah itu.
“Gue juga ga ada maksud nyakitin, Va-al.. saat itu gue ga punya pilihan..” Kafeel menunduk tersedu kemudian.
Varen menghembuskan nafasnya dengan kasar.
“Bunda udah cerita semua sama gue. Tapi itu ga bisa merubah yang udah terjadi.”
“Gue tau, Va.. gue tau..”
“Denger,”
Varen menukas ucapan Kafeel.
“Gue paham posisi lo --- sebagai anak, lo melakukan hal yang benar --- tapi di sisi lain, lo ga hanya membuat satu hati bersedih, tapi satu keluarganya juga --- luka yang lo beri pada Val, berimbas pada semua orang --- May, contohnya... dia yang terluka atas jalan pintas yang dipilih saudarinya, takut jika dia tidak dapat memberikan kepastian masa depannya dengan Arya --- Lalu mencari cara agar Arya membencinya, hingga sampai Arya mau melakukan perjodohan bisnis dengan anak rekan bisnis ayahnya – Dan ya, Kafeel Adiwangsa, mendingan lo mati aja --- karena lo, telah membuat dua adik perempuan gue menderita --- yang satu lo tusuk langsung hatinya, yang satu harus mengorbankan cintanya karena ga mau memberikan warna abu – abu pada masa depan Arya bersamanya...”
“Matiin gue sekarang kalo gitu Va!!!” pekik Kafeel dengan sisa tenaganya.
“Lo lupa lo bagian dari keluarga siapa?! Tapi kenaifan lo yang dasarnya sebuah ketololan itu bikin lo gegabah, Bangs*t!”
“Kalaupun gue share sama lo, apa ada jaminan Bunda bisa dapet jantung pengganti dihari yang sama saat satu keluarga anj*ng itu mau ngeluarin jantung anggota keluarga mereka yang bunda pake sekarang?!..”
Kafeel menukas tajam ucapan Varen.
“Ya, gue tolol bahkan lebih dari tolol.. tapi—hari itu gue benar-benar terpojok Va.. mereka udah mempersiapkan semua.. gue, bunda dan Lena.. dilibas hari itu juga—“
“Hhh—“
“Lo boleh hukum gue dengan cara yang lo mau, Va.. tapi.. gue mohon.. kalo perlu gue cium kaki lo—dan semua keluarga lo—gue mohon.. bawa gue ke tempat peristirahatan terakhir Val—“
“Haish..”
Varen mendesis melihat Kafeel yang melepas infusannya dan hendak bergegas turun dari brankar tempatnya.
“Lo bener-bener nyusahin Kafeel Adiwangsa!”
Varen menggerutu namun ia bergerak cepat menahan Kafeel untuk turun dari brankarnya.
“Kak Kaf?!”
“Bantu gue Ar, cari tali dan ikat ini orang kalau perlu!”
Varen masih menggerutu sambil memegangi Kafeel disaat Arya masuk ke dalam ruang rawat Kafeel.
“Sekuat apapun kalian menahan, gue akan dapet kesempatan.. dan saat kesempatan itu datang.. gue pastikan.. gue akan sampai ke tempat yang sama dimana Val berada..”
Varen mendengus, sambil menahan Kafeel yang ingin bergerak turun—bersama Arya yang ikut memegangi pria itu lalu menekan tombol pemanggil perawat karena Kafeel melepas selang infus dari tangannya dengan kasar.
“Lo kuat jalan?—“
“Heu?.."
“Gue tanya. Lo kuat jalan ga?!” tanya Varen. “Karena gue ga sudi kalo harus dorong lo di kursi roda!”
“Ku-kuat..”
“Okay. Kalau lo bisa mencapai lobi saat gue belum meninggalkan rumah sakit ini, gue bawa lo ke tempat Val 'beristirahat'—“
⭕⭕⭕⭕⭕⭕
To be continue..
__ADS_1