
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
🌹Seonggok cerita, sebelum percikan bahagia🌹
Ada Val yang sedang berdiri bersisian dengan salah seorang bodyguard yang begitu akrab dengannya.
“Setahu Val, Coffee Shop Kak Kafeel itu bukankah didominasi menjual kopi yang memang menjadi kesukaan para pria?..”
“Itu memang benar, Nona—“
“Tapi kenapa nama Coffee Shopnya Kak Kafeel ini terkesan feminim?” tukas Val pada jawaban sang bodyguard paling akrab dengannya itu----Achiel----yang menanggapi ucapan Val sebelumnya.
“Karena itu berhubungan dengan anda, Nona. Nama bunga kesukaan Nona kan itu?..”
“Iya, memang—“
“Memang anda baru tahu kalau Tuan Kafeel pakai nama Red Toulipe untuk nama kafenya?..”
“Iya, Val baru tahu sekarang. Val tidak pernah bertanya-tanya tentang Coffee Shop Kak Kafeel ini, karena kalau sudah bertemu Kak Kafeel, kan Val suka lupa segalanya?”
“Hmm,“
“Ya sudah, Ayo kita masuk..” ajak Val pada Achiel kemudian. “Eh tapi sepertinya Kak Achiel tunggu di sini saja deh..”
Namun ajakannya pada Achiel itu, sepersekon kemudian Val batalkan.
“Sepertinya sudah mau tutup ini Coffee shopnya. Nanti Kak Achiel juga bengong saja melihat Val dan Kak Kafeel pacaran?.. Nanti ingin, sementara Kak Achiel kan tidak punya pacar?” celotehnya kemudian.
♥
Val sudah masuk sendiri ke dalam Kafe milik Kafeel, setelah Achiel sekedar mengecek kondisi dalam Coffee Shop Kafeel demi keamanan Val. Meski Achiel sendiri yakin, jika tidak ada bahaya yang mengancam satu nona mudanya itu saat ini.
Namun tugas adalah tugas, yang amat dijunjung tinggi oleh Achiel atas nama tanggung jawab dan keseriusannya dalam menjalani tugasnya sebagai pengawal pribadi. Dan memang ada tugas tertulis untuk melakukan tugasnya dalam sebuah prosedur.
Yang sudah Achiel lakukan. Lalu mempersilahkan Val untuk masuk ke dalam Coffee Shop Kafeel setelah ia mengikuti prosedur tugasnya secara umum sebagai pengawal pribadi. “Silahkan, Nona Valera. Mereka bilang Tuan Kafeel ada—“
"Memang ada. Kan Val sudah memastikan kalau Kak Kafeel ada di sini, makanya Val meminta untuk langsung datang ke sini dari bandara. Bagaimana Kak Achiel ini? Masih muda sudah pikun?----eh Kak Achiel sudah masuk ke ranah usia setengah om-om, ya?"
"Iya Nona, iya. Lebih baik nona segera masuk. Mau lepas kangen dengan Tuan Kafeel kan?" kata Achiel kemudian, sambil menahan dongkolnya yang sekali lagi diledek Val. meskipun Val mengatakan ledekan itu bukan dengan maksud yang sama, melainkan asal ceplos saja dengan apa yang dipikirkannya.
♥
“Selamat malam, Kak..”
Val yang sudah masuk ke dalam Coffee Shop Kafeel yang pintunya dibukakan oleh Achiel itu, lalu disambut oleh seorang pegawai Coffee Shopnya Kafeel tersebut.
“Selamat malam..”
Val pun menjawab sapaan dari salah seorang pegawai Coffee Shopnya Kafeel itu.
“Tapi mohon maaf Kak, kami udah close order.”
Pegawai Coffee Shopnya Kafeel itu bicara lagi pada Val, dan gadis yang pernah menyandang julukan ‘putri tidur’ itu paham kalau Coffee Shopnya Kafeel sudah tidak menerima pesanan dan kedatangan pelanggan untuk hari ini, karena sudah dekat dengan waktu tutup mereka.
“Jadi Kakak silahkan datang lagi di lain waktu, ya? Kami buka dari jam—“
“Maaf sebelumnya..”
Val menyergah, memotong ucapan satu pegawai Coffee Shopnya Kafeel yang kembali bicara lagi padanya itu.
“Eum saya ke sini mencari Kak Kafeel—“
“Kak Kafeel?.. Oh! AA?—“
“Iya. AA Kafeel. Bilang—“
“Ada apa, San?”
Ucapan Val terpotong karena ada pegawai lain yang mendekat ke arahnya, sambil bertanya pada rekannya yang sedang berbicara dengan Val itu.
“Ini, Kakak ini cari AA--”
Pegawainya Kafeel yang dipanggil ‘San’ itu, langsung menjawab rekannya yang bertanya dan sudah berdiri juga di hadapan Val.
“Ada perlu apa cari AA?..”
Pegawai Coffee Shopnya Kafeel yang baru saja bergabung dengan name tag bertuliskan Dona itu lalu mencetuskan kalimat bernada pertanyaan, sambil ia menelisik Val dengan tatapannya.
“Urusan pribadi—“
“Urusan pribadi?—“
“Hem. Mengerti kan maksud dua kata itu?”
Val menukas pegawai Kafenya Kafeel yang bernama Dona, setelah wanita itu menukas ucapan Val lebih dulu.
“Lagipula kamu kenapa ingin tahu sekali dengan urusan Kak Kafeel?” Val lanjut bicara.
Lalu Dona menimpalinya.
“Semua urusan yang menyangkut Kafeel Adiwangsa itu, adalah urusan gue.”
Begitu ucap pegawai bernama Dona itu.
“Kenapa semua urusan Kak Kafeel jadi urusan kamu?? Seenaknya saja bicara—“
“Lo yang seenaknya! Sok kecakepan!” Dona dengan cepat menimpali ucapan Val dengan sangat sinis kemudian, dimana dua gadis itu kini jadi tontonan para pegawai Kafeel yang lain.
“Kayak gue pernah liat muka nih berbie idup?..”
Salah seorang pegawai Coffee Shopnya Kafeel menggumam di tempatnya sambil memperhatikan Val, saat beberapa rekannya sedang misuh – misuh di dekatnya.
“Paling – paling lo tuh satu dari para cewek gatel yang pengen caper sama AA! Cabe – cabean dasar!—“
“Kamu Yang Cabe – Cabean!” Val pun sewot maksimal.
“Sembarangan Lo Bilang Gue Cabe – cabean! Keluar lo!” Dona sedikit mendorong Val.
“Jangan kasar, Don.” Satu rekannya mengingatkan, yang kemudian ditimpali oleh rekannya yang lain.
“Iya siapa tau dia bener kenalannya AA—“
“Yakin bukan! Emang pernah lo semua liat dia sebelumnya dateng ke sini?!” Dona langsung menimpali dengan cepat ucapan 2 rekannya itu.
“Ya belum sih—“
__ADS_1
“KAK KAFEEEELLL!”
Lalu disaat Dona sedang misuh – misuh dengan para rekannya, lengkingan membahenol keluar dari mulut Val yang tangannya sedang memegangi ponsel, yang tertempel di telinganya.
“VAL ADA DI COFFEE SHOP KAK KAFEEL DAN VAL DIPERLAKUKAN DENGAN TIDAK HORMAT OLEH KARYAWAN KAKAK!!”
Dimana lengkingan tanpa titik koma yang membahana dari mulut Val itu menjadi sebuah kehebohan setelahnya.
♥
Heboh suasana Coffee Shop milik Kafeel kemudian, setelah suara lengkingan membahana Val terdengar di dalam Kafe yang sudah tidak ada pengunjungnya lagi itu. Karena pengunjung terakhir, keluar saat Val masuk beberapa menit yang lalu.
Achiel yang mendengar jelas lengkingan nona mudanya itu, tentu saja langsung tergesa masuk dari sejak awal ia mendengar lengkingan cempreng milik sang nona muda yang membuatnya kaget bukan main.
Disusul suara gerabak – gerubuk dari arah dalam Coffee Shop Kafeel, dimana itu adalah suara kaki Kafeel yang terbirit – birit turun ke lantai bawah Coffee Shopnya tersebut, lepas Val meneleponnya dan berkata dengan nada suara yang Astagfirullah bikin Kafeel kaget setengah mati----selain telinga Kafeel jadi auto pengeng.
Dan dibeberapa detik kemudian, Kafeel sudah berada dihadapan Val yang nampak bersedekap sambil merungut dengan sangat memandangi Kafeel.
Lalu di detik berikutnya, para pegawai Kafeel meneguk saliva mereka dengan kompak.
Setelah mereka lihat kalau Kafeel memang mengenali Val, ditambah sikap Kafeel pada Val yang menunjukkan kalau bos mereka dan satu cewek yang belum lama berteriak dengan lengkingan suara mirip rocker cempreng itu, tidak hanya sekedar kenal.
Bahkan terkesan spesial, karena setelah tergesa menyambangi dan menyapa Val, Kafeel langsung berkata seraya bertanya dengan tajam kepada para karyawannya sambil menatap mereka satu –satu----yang secara otomatis langsung menjejerkan diri mereka kala tahu Kafeel datang, suara bos mereka itu----mereka dengar.
♥
“Val?!—“
“KAK KAFEEL!”
Val kembali lagi mengeluarkan lengkingan cemprengnya kala Kafeel sudah mendekatinya, sambil juga meraih tubuh Val dengan menelusupkan satu tangannya ke pinggang gadis belia tercintanya itu. hingga tubuh Val menjadi agak rapat pada dirinya.
Kafeel menatap khawatir pada Val yang merungut parah itu, lalu Kafeel menyempatkan dirinya menatap pada Achiel yang juga ada dalam pandangannya dan segera bertanya padanya.
“Saya juga kurang tahu ada apa, Tuan. Tadi Nona Valera meminta saya tunggu diluar. Saya baru masuk saat mendengar Nona Valera berteriak memanggil anda.” Achiel menjawab, karena Kafeel bertanya padanya. Bukan pada Val.
“Apa benar kalian memperlakukannya dengan tidak hormat?!—“
♥
“Oh Val ralat ucapan Val tadi!.. bukan mereka semua yang memperlakukan Val dengan tidak hormat, tapi satu orang saja. Dia!”
Val menimpali cepat ucapan Kafeel yang bertanya dan memandang tajam pada para pegawai Coffee Shopnya itu, sambil menunjuk pada satu pegawai yang tadi sempat terlibat adu mulut dengannya, serta sempat juga mengatai Val.
“Benar itu, Dona?!—“
“Benar lah! Masa Val bohong?!”
Val yang malah menjawab pertanyaan Kafeel pada satu pegawai Coffee Shopnya itu.
Dengan nada suara Val yang terdengar ketus.
“Maaf ‘A, Dona—“
“Huh enteng saja sekarang kamu minta maaf!” sambar Val, memotong kalimat si Dona.
“Val cantik, Val tunggu disini sebentar?”
Kafeel berucap lembut pada Val yang sedang dalam mode super sewot.
♥
“Memang Kak Kafeel mau kemana?” Val langsung mencetuskan pertanyaan pada Kafeel yang sebelumnya meminta Val untuk menunggu ditempatnya sekarang, tanpa Val mengindahkan tawaran Kafeel yang menawarinya satu jenis minuman kesukaan Val.
“Kakak akan bicara dengannya untuk menegurnya secara pribadi—“
“Enak saja! Tidak boleh! Val tidak rela Kak Kafeel berduaan dengan dia!”
Val langsung mencetuskan larangannya pada Kafeel yang kemudian ingin menjawab larangan Val itu. Namun Val keburu bicara lagi dengan cepatnya.
“Kalau begitu—“
“Tadi saja dia bersikap ketus dan mengatai Val didepan teman-temannya ini—“
“Mengatai Val?..”
Kafeel langsung menimpali setelah Val membeo dengan masih nampak ketus, dengan Kafeel yang ekspresi wajahnya menjadi serius.
“Heem,” sahut Val dengan pasti walau hanya berdehem mengiyakan.
“Mengatai bagaimana?”
Kafeel bertanya lagi, sambil memandang ke arah pegawai yang dimaksud Val.
“Begini ‘A, bukan gitu, Dona---“
“Apa bukan gitu?!”
Val langsung menyambar lagi.
“Ingin menyangkal?! Dan tidak usah sok cute begitu!”
Val kembali menyambar dengan ketusnya.
“Karena aku lebih cute-cute dari kamu!” beo Val.
Dimana setelah itu, Val langsung bicara pada Kafeel. Serta juga bicara pada Achiel untuk mendapatkan dukungan dari ucapannya yang memuji dirinya sendiri itu.
“Iya kan, Kak Kafeel?.. Val benar kan, Kak Achiel? Kalau Val ini sangat imut?---“
“Benar Nona, anda selalu benar. Anda yang paaling imut di alam semesta.”
Achiel langsung menjawab nona mudanya itu, karena kalau tidak----dirinya merasa bisa kena imbas yang harusnya tidak dia tanggung atas Val yang sedang nampak merajuk agak lebih parah dari biasanya itu.
♥
“Tuh dengar tidak?..”
Val kembali lagi pada Dona yang sesekali melihat padanya juga pada Kafeel, lalu wanita itu menunduk.
Dan Dona melakukannya dengan sering. Nampak ia begitu salah tingkah sekarang.
Sementara rekan sekerja Dona sedang sekuat tenaga untuk tidak terkekeh melihat satu gadis cantik bak barbie sedang mengomel, namun gayanya mengomel sungguh menciptakan geli di perut mereka, selain gemas sekali melihat si barbie hidup itu mengomel dengan tepat seperti ucapannya. Imut!
Karena dimata pegawai Coffee Shopnya Kafeel, Val bahkan lebih dari sekedar imut.
“Kak Achiel sudah menjawab, tapi Kakak belum.”
__ADS_1
Val lalu bicara sambil memandang pada Kafeel.
“Benar tidak kalau Val lebih imut dari dia??..”
Dengan Val yang memaksa Kafeel untuk menjawab melalui sikap dan ucapannya itu.
“Benar Sayang.. tentu Val jauh lebih imut darinya..” Kafeel pun langsung menjawab Val dengan lembutnya. “Udah ya? Val cantik jangan marah-marah terus. Nanti Val cape..”
Kafeel lalu mencoba menenangkan kekasih belianya itu. Dimana yang bersangkutan langsung menjawab ucapannya barusan. “Habis Val kesal! Seenaknya saja dia mengatakan kalau semua urusan Kakak adalah urusannya. Memang siapa dia? Val yang seharusnya bicara seperti itu karena Val ini kan calon istri Kakak?!—“
“Calon istri AA?..” Para pegawai Kafeel termasuk Dona sama menggumam tak percaya setelah mendengar ucapan Val yang memproklamirkan kalau dirinya itu calon istri Kafeel.
“Benar. Ini calon istri gue.” Kafeel langsung mengiyakan, sekaligus memberikan pembenaran atas ucapan Val, yang mengumumkan pada pegawai Coffee Shopnya tentang status Val sebagai calon istrinya. “Dan lo bisa – bisanya ga sopan sama dia?..”
Kafeel lalu tertuju pada Dona.
“Sekalipun yang datang mau ketemu gue bukan calon istri gue, lo harusnya jaga sikap, Dona.”
Kafeel yang sedang bicara pada satu pegawainya itu, nampak berbeda dari Kafeel yang selama ini bersikap di depan mereka.
Yang mana biasanya Kafeel selalu bersikap ramah, bahkan hangat pada para pegawai Coffee Shopnya.
“Bukan begitu, ‘A.. Dona—“
“Bukan begitu apanya?!.. kamu bahkan mengatakan aku perempuan gatal!“
Dimana Kafeel langsung nampak terkejut mendengar aduan Val yang terus saja mengoceh kesal saat Kafeel sedang terkejut selepas mendengar seruan Val yang nampak juga singit pada salah satu pegawainya itu.
“Apa?!”
“Lalu kamu mengatakan juga kalau aku cabe-cabean!”
♥
Didetik dimana Val mengadu kalau dirinya disebut cabe-cabean oleh salah satu pegawainya, Kafeel kian meradang.
“Bener Lo Ngatain Calon Istri Gue Cabe-Cabean Dan Ngatain Dia Perempuan Gatel?!—“
“Benar!” Sekali lagi Val menyambar. “Masa Val mengada-ngada?! Dia sembarangan saja mengatai Val Cabe-Cabean. Enak saja mengataiku cabe-cabean. Bahkan ikat rambutku saja seharga 13 juta rupiah. Memang cabe-cabean mampu membeli ikat rambut seharga itu?..”
Val lalu menggerutu, disaat Kafeel sudah nampak geram sambil melotot tajam pada pegawainya yang bernama Dona, yang orangnya nampak sudah begitu gugup.
“Jawab Dona!” Suara Kafeel meninggi.
Sontak semua pegawai Kafeel jadi terkejut, terutama Dona.
“Y-a maaf, ‘A.. Dona kan ga tau kalau dia.. calon istri.. AA.. lagian dianya juga yang mulai sinis duluan sama Dona—“
“Ih enak saja!” Sambar Val tak terima. “Bisa-bisanya kamu bersilat lidah?! Menyebalkan sekali karyawan Kakak yang satu ini!—“
“Siapa yang juga bersilat lidah?! Lo Aja—“
“Diem Lo Don!” Kafeel langsung berseru geram pada satu pegawainya itu, yang langsung menunduk takut. “Ada Gue Disini Dan Lo Bisa-Bisanya Kurang Ajar Sama Calon Istri Gue?!—“
“Maaf ‘A.. bukan gitu.. abisnya Dona—“
“Val tidak suka padanya.” Val menyambar, kala Dona hendak membela dirinya.
♥
“Dan Val yakin jika dia ada rasa pada Kakak. Val ingin Kak Kafeel memecatnya sekarang juga.”
“Ih mana bisa begitu?—“
“Bisa!”
Kafeel langsung menyambar, kala Dona menyergah ucapan Val yang merugikannya itu.
“’A?!—“
“Dan seperti apa yang calon istri gue bilang, lo gue pecat sekarang—“
“’A! Please jangan gitu.. Dona kan udah banyak bantu AA disini—“
“Ga cuma lo yang banyak bantu gue disini tapi semua pegawai!” tukas Kafeel dengan ketus pada Dona. “Ambil barang-barang lo, dan cepet pergi dari sini. Gaji dan pesangon lo gue transfer nanti—“
“Dona ga mau ‘A! AA harusnya hargai Dona dong? Dona udah sering lembur dan jarang ngambil libur—“
“Lo mau keluar sendiri, atau gue suruh bodyguard calon istri gue ini buat seret lo keluar dengan cara yang kasar?”
‘Tahu rasa!’ Val berseru dalam hatinya, sambil ia melirik ke arah pegawai Kafeel yang bernama Dona itu----dimana yang bersangkutan sudah pergi dari hadapannya dan Kafeel dengan menangis.
♥
‘Apa yang pernah menimpaku dan Kak Kafeel dihari kemarin sudah sempat memporak-porandakan dunia kami. Duniaku terutama. Dan itu benar-benar menjadi pelajaran untukku.’
Val membatin lagi.
‘Jadi saat ini dan seterusnya, aku akan jeli pada setiap ancaman yang dapat mengganggu jalinan kasihku dengan Kak Kafeel.’
Val masih terus membatin, saat Kafeel tengah bicara pada sisa pegawainya. Dimana tak seberapa lama kemudian, pegawai yang baru saja dipecat Kafeel keluar dari arah dalam Coffee Shop Kafeel dengan sudah membawa barang-barangnya sambil tetap menangis.
Mata Val kini tertuju pada wanita bernama Dona itu. “Apa lihat-lihat?!” cetus Val pada Dona yang sempat berhenti untuk memohon pada Kafeel, namun tidak bisa.
Karena Kafeel dengan segera mengusirnya.
Bahkan Achiel mendapat perintah untuk menggiring Dona untuk keluar dari Coffee Shopnya dengan segera. Dimana saat dirinya digiring Achiel itu, ia sempat melirik begitu sinis pada Val.
Namun hanya bisa sekejap saja Dona melirik sinis pada Val, karena Achiel sudah begitu sigap menggiringnya pergi dari hadapan sang nona muda.
"Selangkah kau berani mendekat ke arah nona mudaku, akan aku pastikan tubuhmu ada di dalam koper dan ditemukan tidak bernyawa besok."
Sambil Achiel membisikkan kalimat yang membuat Dona jadi langsung ketakutan, ditambah Achiel mengatakannya dengan ekspresi wajah bak seorang psikopat.
‘Aku sebenarnya tidak tega sampai membuat seseorang kehilangan pekerjaannya.. Tapi jika dihadapkan pada ancaman seorang wanita yang terbuka aksesnya untuk menggoda Kak Kafeel meskipun aku yakin Kak Kafeel tidak akan tergoda pada wanita manapun karena dia sudah cinta mati padaku, tetap saja aku harus waspada! Jadi aku akan memblocked jalan para wanita yang berniat menggoda Kak Kafeelku, bagaimanapun caranya. Bahkan sebelum para lalat-lalat betina itu berusaha mengganggu Kak Kafeelku—‘
Val masih terus membatin, sambil matanya terus menatap ke arah Achiel yang menggiring Dona keluar dari Coffee Shop Kafeel.
‘Mau merebut Kak Kafeel dariku?!’
Val lanjut membatin, dengan dirinya yang kini memandangi Kafeel.
‘Langkahi dulu mayatku!’ seru Val dalam hati kemudian. “Eh, aku kan sudah pernah jadi mayat ya?—“
♥♥♥♥♥♥
To be continue...
__ADS_1