HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
TONG KHILAP, NYAK?


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


“Jangan berduaan di tempat sepi kelamaan, entar di rayu setan.”



London, Inggris,


“Mi---“


Gluk!


‘Anjrit!’


Arya, yang sebelumnya hendak memanggil Mika untuk mengatakan jika ada titipan dari ibu kandungnya untuk si Neng Judes tercintanya itu, langsung menahan ucapannya dengan langsung meneguk saliva dan berseru tercengang dalam hati.


Karena saat ia keluar dari dalam kamar apartemen sewaannya itu untuk kembali menyambangi Mika di dapur, Arya disuguhkan oleh pemandangan yang cukup membuatnya berdesir.


♥♥


Arya membeku di tempatnya akibat terpaku dengan pemandangan yang sungguh tidak pernah terbersit dalam pikirannya.


Tidak mau munafik, terkadang Arya juga pernah berpikir nakal tentang Mika yang bentuk tubuhnya bak jam pasir itu.


Ditambah sejak menjadi sepasang kekasih dengan Mika, Arya kelewat sering berdekatan dan menempel dengan Mika.


Memeluk hingga mencium.


Bahkan sempat satu dua kali, Arya berciuman dengan cukup bergelora dengan Mika yang sampai juga ia pangku.


Merasakan harum tubuh Mika yang memeluk posesif lehernya sambil membalas ciumannya, menjadikan hal itu sebuah ingatan yang bisa membuat Arya----selain rindu kala berjauhan dengan Mika, namun juga membuat Arya berpikir nakal tentang kekasihnya itu.


♥♥


Namun senakal – nakalnya pikiran Arya tentang Mika, tak pernah sekalipun Arya niatkan untuk menyentuh Mika lebih jauh dari yang sudah pernah ia lakukan bersama Neng Judes tercintanya itu.


‘Lo kuat Arya Narendra. Mending sekarang lo balik kanan,’ Hati Arya berbisik. ‘Daripada lo kegep si Mika kalo lo lagi merhatiin bokongnya yang ngegemesin itu dan lo dianggap cabul terus dia jadi ilfeel dan mutusin lo which is lo ga bakal jadi nikahin dia----yakin pasti gue sih kalo Mika bakal mutusin lo kalo ketauan lo lagi ngeliatin bokong dia begitu!’


Lalu hati Arya bermonolog panjang. Mengingatkan, sekaligus menakuti dirinya sendiri.


‘Mau lo kehilangan Mika?’


♥♥


‘Rela lo? Kalo Mika jadi milik orang lain?....’ hati Arya berbisik lagi. ‘Apa lagi udah liat itu tuh....’


Mata Arya kembali lagi memperhatikan ke arah bongkahan belakang Mika, yang orangnya kini telah berdiri.


Namun begitu, mata Arya masih tertuju ke bagian bongkahan milik Mika tersebut yang sempat Arya lihat. Walau masih tertutup daleman.


Tapi tidak tertutup semua. Ditambah ada renda gemes dipinggirannya. ‘Sayang amat kalo lo kegep Mika dan dituduh cabul. Lo cuma kebagian liat doang, yang pegang cowok laen---‘


“B*ngke diem lu!” Arya spontan mengumpati hatinya yang sedang memprovokasi itu.


“Eh Ar?---“


‘Mati lo ketauan!’


Hati Arya berseru kala Mika kemudian menoleh dan menegurnya yang sedang berdiri terpaku tak jauh dari dapur.


“Eh Mi, ja---“


“Lo telfonan sama siapa?....”


Mika keburu bicara lagi sebelum Arya menyelesaikan kalimatnya.


‘Eh? Kayaknya dia ga sampe mikir kalo gue bersikap cabul?’ batin Arya.


♥♥


“Biasa si merek elektronik.” Arya kemudian menguasai dirinya, dan mencoba bersikap normal di depan Mika. “Mau pinjem motor gue melulu, tapi asal abis pake pasti ada yang kegores.” Lalu Arya mengarang bebas dengan melibatkan Sony, yang Arya juluki merek elektronik.


Dan untungnya Mika nampak percaya dengan alasan yang Arya karang dengan cepat itu, karena si Neng Judes kemudian manggut-manggut.


Lalu Mika kembali lagi pada kegiatannya. Sementara Arya mengelus dadanya tanpa diperhatikan oleh Mika yang sudah mulai menggoreng itu. ‘Selamet!’ batin Arya, sambil ia melangkah menuju ruang tamu. Karena ingat titipan sang mama buat Mika yang kemudian bersuara lagi. Dan Arya menghentikan langkahnya.


“Lo mau kemana? Kok belom ganti baju juga?....” begitu kata Mika, seraya bertanya pada Arya yang langsung menjawab pertanyaan Mika tersebut.


“Gue inget ada titipan mama buat lo. Makanan. Kesukaan Neng Judes---“


“Rendang buatan Mama Shireen?!” tukas Mika dengan sumringah. “Bawa sini cepet!”


♥♥


“Nih.” Arya menyodorkan tas kecil yang ia bawa serta dari Jakarta pada Mika. “Dicek dulu, takutnya basi---“


“Ga bakal basi rendang kalau satu hari aja belum lewat. Dan pasti ini masih baru Mama Shireen buat sebelum lo berangkat ke sini kan?”


Arya mengangguk setelah mendengar cerocosan Mika itu.


“Lagian rendang kan bisa tahan sampai tiga hari?”


“Iya sih,” sahut Arya.


“Mmmh.... harumnya aja masih oke.”


Mika mengendusi rendang dalam wadah plastik yang sudah ia keluarkan dari tas thermal yang diberikan Arya padanya.


Didetik dimana, Arya langsung membatin.


‘Rendang yang diendusin, kenapa gue yang ser-ser-an?---‘


♥♥


“Ganti baju lo sana.”


Mika kemudian bicara pada Arya setelah ia selesai mengendusi makanan favoritnya dari calon mertua yang dibawakan Arya.


Dan Mika sudah kembali kepada gorengannya di atas kompor, namun Mika tetap meneruskan bicara pada Arya.


“Lo pasti ga sempet ganti baju selama perjalanan dari Jakarta ke sini, kan? Atau lo naik jet ke sini?---“


“Ga,” tukas Arya. “Gue pake pesawat komersil.”


“Kenapa? Tumben? Jet Papa Rico lagi dipakai?”


“Iya.”


“Kenapa ga pakai jet kami aja?---“


“Malu dong nebengin jet keluarga calon istri mulu---“


“Beli jet sendiri dong makanya!” tukas Mika.


“Ntar dulu dah kalo jet pribadi. Buat biaya nikah kita dulu kan yang penting?---“


♥♥


“Kapan mau nikahin gue emangnya?---“


“Besok?---“


“Sekarang aja gimana?---“


“Nantang?---“


“Siapa takut?---“


“Beneran loh ya, gue telpon Dad Boo-Boo nih---“


“Silahkan, tapi tetep ada syaratnya. Buatkan gue candi.”


“Lo titisan Rara Jonggrang?”


Arya berseloroh, dan Mika terkekeh kemudian.


♥♥


“Gue ganti baju dulu, ya?....”


Arya lalu pamit pada Mika selepas keduanya bercanda.


Mika pun mengangguk sambil tersenyum menjawab kalimat pamit Arya untuk undur diri dari hadapan Mika sebentar.

__ADS_1


“Ga usah mandi ya?”


Mika berucap kala Arya sudah berbalik badan.


“Udah mau jadi masakan perdana gue....”


Arya yang sudah langsung menoleh kala suara Mika terdengar lagi itupun langsung menyahut dan mengangguk.


Lalu Arya meneruskan langkahnya dan menuju kamar dalam apartemennya tersebut. Tanpa lagi ia memikirkan soal bongkahan belakang Mika yang ia lihat dengan jelas itu bentuknya tanpa celana luaran.


Sementara Mika kembali lagi pada gorengannya yang sudah hampir matang itu Mika kira, dimana Mika juga menggoreng kentang di teflon yang berbeda. Kentang potong yang sudah siap masak, yang Mika jadikan cadangan kalau dirinya tidak sempat membuat sendiri kentang pendamping untuk masakan utamanya.


Yang mana kentang cadangan itu yang akhirnya terpakai, karena Mika tidak bisa mengupas kentang yang masih berupa bonggolan. Yang sudah sempat ia coba, tapi nyatanya memang Mika tidak bisa – bisa selesai mengupas kentang, saking berhati – hati memegang pisau yang takut sampai menggores jarinya. Lebih menyulitkan daripada membelah ayam tanpa tulang.


♥♥


“Wangi, Mi....”


Arya sudah kembali ke dapur dengan pakaian berbeda.


“Lo masak apa sih emangnya?” tanya Arya yang sudah berada di sisi Mika yang masih berdiri menghadap kompor.


“Salah satu kesukaan lo, Chicken Cordon Bleu---“


“Wih keren!---“


“Ya tapi ga tau deh rasanya?”


“Harum gini mah gue yakin lo sukses sama Chicken Cordon Bleu buatan lo ini.”


♥♥


Mika tersenyum mendengar pujian Arya yang orangnya kemudian melongok ke arah kompor.


“So gue bantu apa nih?....”


“Udah hampir selesai kok. Oh ini aja deh lo angkat kentangnya sebentar lagi. Gue tiriskan ini ayamnya dulu.”


“Oke.”


“Nanti langsung taruh di sini ya, Ar?”


“Oke,” jawab Arya lagi pada Mika yang baru menunjuk sebuah piring beralaskan kertas minyak untuk makanan.


Mika kemudian berkutat dengan menu utama yang sudah ia letakkan di atas sebuah piring yang juga sudah beralaskan kertas minyak untuk makanan.


Sepasang sejoli itu bekerjasama di dapur dengan cukup baik. Tanpa keduanya sadari, jika mereka sudah nampak terlihat seperti suami istri.


♥♥


“Fuuh.... selesai juga ini masakan,” ucap Mika yang sudah selesai menata sajian masakan dari percobaan perdananya dalam memasak itu, dimana Mika cukup puas dengan hasil tatanan masakan itu di atas sebuah piring biasa, karena di apartemen Arya terbatas barang – barang dapurnya.


Namun peralatan masak standar cukup lengkap. Yang Arya beli tak lama setelah ia menyewa apartemen tersebut, atas saran ibu kandungnya.


Tapi kalau peralatan makan, terbatas. Baik jumlah dan jenisnya.


Namun tak penting jenis piring di apartemen Arya yang tak seperti di kediaman keluarganya yang punya jenis piring segala rupa, termasuk gelas dan sendok----yang bahkan punya ruangan sendiri untuk menyimpannya.


Untuk sekarang, yang penting masakan Mika itu ada wadah untuk menyajikannya saja ya sudah cukup---walau hanya piring makan biasa. “Jadi ga sabar pengen nyobain,” ucap Arya yang ikut memperhatikan hasil masakan Mika yang si Neng Judes tata dengan cukup apik di atas piring.


Mika memang baru ini memasak.


Tapi Mika cukup piawai dalam menata makanan jadi terlihat sedap dipandang dan menggugah selera.


“Cuman kok gue sayang ya makannya ini masakan?....”


Arya lanjut bicara.


“Sayangnya?---“


“Udah ditata begini cantiknya soalnya. Sama kayak yang bikin. Cantik.”


Arya menukas ucapan Mika dan menyelipkan pujian, dan membatin kemudian.


‘Menggugah selera juga yang bikinnya.’


Ehem!


♥♥


Bahan masakan yang tidak terpakai sudah dimasukkan ke dalam kulkas, lalu sampah bekas masakan pun sudah dimasukkan kedalam kantung plastik sampah.


Termasuk rendang dari mamanya Arya untuk Mika juga dimasukkan ke dalam kulkas, karena tidak ada persediaan nasi di apartemen Arya.


Yang semuanya dilakukan oleh Arya, agar Mika yang nampak lelah sampai keringetan dan mengeluh mukanya jadi amat berminyak karena masak itu, dapat beristirahat sejenak.


Mika sendiri sudah hendak membantu Arya membereskan bekas masaknya, namun Arya melarang. Selain tak tega pada Mika yang nampak kelelahan itu, Arya takut tak tahan kalau lihat Mika seliweran dengan pahanya yang cukup terekspos di mata Arya.


Bahaya!


Bisa salah gigit nanti dirinya. Pikir Arya.


♥♥


Bicara soal gigit-menggigit, Mika dan Arya kini telah duduk bersama di kursi yang meja sajinya menyatu dengan meja pantri.


“Enak Mi! Sumpah!”


Arya memuji dengan bersemangat.


Karena memang masakan Mika terasa cukup lezat di lidahnya.


“Jangan ngibul!---“


“Ga percaya banget!”


Arya menukas ucapan Mika.


“A!”


Lalu menyuruh Mika membuka mulut, karena ia hendak menyuapkan potongan kecil Chicken Cordon Bleu buatan si Neng Judes itu.


Mika pun menerima suapan dari Arya.


“Bener kan? Enak?---“


“Ga seenak buatan Dad Boo-Boo....”


“Ya ilah. Ini udah TOP BGT buat ukuran orang yang baru banget belajar masak....”


Arya menukas Mika lagi dengan antusias, membuat Mika jadi tersenyum sumringah karena Arya terlihat lahap memakan masakannya, sambil juga menyuapi dirinya.


“Thanks ya?---“


“Kenapa jadi lo yang terima kasih sama gue?”


Arya menukas lagi ucapan Mika.


“Ada juga gue yang terima kasih sama lo, yang repot belajar masak, dan menunya salah satu makanan kesukaan gue.”


Mika tersenyum.


“Thanks ya?....” tulus Arya.


Mika pun tersenyum lagi seraya mengangguk.


♥♥


“Ah ya ampun!”


“Kenapa?....”


“Gue baru sadar, kalau gue pakai kemeja lo....”


“Kenapa kepikiran pake kemeja gue? kangen yaa?....”


Arya melemparkan ledekan kecil.


“Gue ga mungkin masak pake kemeja semi kasual plus ketat pula dan profesional pant oke? Dan kemeja lo ini cukup longgar---”


“Tapi meresahkan, Mi....”


Arya menggumam samar.


“Apa?” Mika yang mendengar suara Arya yang tak jelas ucapannya itu lantas langsung bertanya.

__ADS_1


“Apanya yang apa?....”


Arya balik bertanya.


“Barusan gue denger lo ngomong?---“


“Ga ada gue ngomong. Orang lagi ngunyah.”


♥♥


“Dah gue aja,” ucap Arya saat masakan Mika telah ludes, dan Mika hendak meraih piring bekas masakan untuk dia taruh ke wastafel.


“Gue sekalian mau kumur-kumur,” balas Mika.


“Sama,” timpal Arya. “Lo kumur-kumur di kamar mandi aja sana.”


“Ya udah,” jawab Mika pada Arya yang sedang merapihkan bekas makan mereka.


Namun dirinya tak menyegerakan pergi ke kamar mandi, karena hendak membuang botol kemasan air minum yang sudah tinggal sedikit sekali airnya.


Mika pun pergi ke arah yang sama dengan Arya, yakni wastafel. Karena tempat sampah ada di dekat tempat cucian piring itu. Membuat Arya jadi spontan melirik pada Mika yang menggunakan sisa air kemasan untuk berkumur dan membuang bekas kumuran di wastafel seperti yang Arya sudah lakukan duluan.


“Sayang airnya kalau dibuang gitu aja---“


“Iya paham,” tukas Arya lalu tersenyum. Kemudian bergerak untuk mengambil tisu.


“Elo nih, keringin mulut gue, sementara mulut lo sendiri aja masih basah, Ar?....” ucap Mika setelah Arya menyeka mulutnya dengan tisu.


♥♥


“Sini,”


Gantian Mika yang mengambil tisu untuk Arya, lalu melakukan apa yang sebelumnya Arya lakukan padanya.


Arya pasrah saja menerima perlakuan Mika yang pada hakekatnya membuat Arya bahagia.


“Thanks Neng Judes.”


“Sama-sama Recehboy.”


Mika dan Arya sama mendengus geli kemudian.


Hingga selanjutnya sama-sama terdiam dan hanya saling pandang.


Lalu didetik berikutnya, wajah yang orangnya sama terdiam dan saling pandang itu seolah punya pikiran yang sama, karena kemudian----Mika dan Arya saling mendekatkan wajah, sampai akhirnya bibir mereka bersinggungan.


♥♥


“Love you,” ucap Arya setelah mencium bibir Mika dengan singkat.


“Too,” balas Mika.


“Oh iya sampe lupa.”


Arya meraba saku celananya, lalu mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari sana.


“Tadi di bandara ada marshmallow kesukaan lo.”


“Makasih---“


Syut!


Arya spontan mengangkat tubuh Mika dan ia dudukkan di meja pantri.


“Tunggu sini, gue meltingin dulu ini marshmallow. Lo sukanya makan marshmallownya begitu kan?”


Mika mengangguk. “Tapi sekarang gue mau makan gitu aja,” ucapnya kemudian.


Sambil Mika membuka kemasan yang sudah berada di tangannya.


“Mau?”


Arya mengangguk atas tawaran Mika tersebut.


“Aa....”


Mika mengarahkan agar Arya membuka mulutnya.


“Gue berasa Putra yang lagi dibujuk kalo susah makan.”


Arya berucap lalu tersenyum geli, dan Mika terkekeh karena sikapnya memang seperti sedang mau menyuapi anak kecil.


Arya pun membuka mulutnya.


“Suap sendiri!”


Mika berkata demikian dengan dirinya yang malah memasukkan marshmallow yang ditujukan untuk Arya, ke mulutnya sendiri, padahal Arya sudah menganga sedemikian rupa.


“Konyol banget muka lo sumpah! Harusnya gue foto---“


“Waa ngajak perang anaknya dewa mabok....”


Arya kemudian menggelitiki Mika yang terkekeh geli.


Yang ujungnya, Mika malah menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan Arya----dimana setelahnya, dua sejoli itu kembali saling tatap dan melempar senyum.


Lalu bibir yang tadi berjauhan, kini sudah menempel lagi. Tanpa ada kata singkat dalam dua pasang bibir yang sudah saling m*magut itu pada akhirnya.


Kemudian sepasang tubuh yang tadinya agak berjarak itu jadi benar-benar menempel. Sampai pada akhirnya, tangan Arya menempel di paha Mika tanpa sengaja.


Namun tak lama kemudian Arya menyadarinya.


Pun ia melirik ke arah tangannya berada, yang arah pandangannya itu diikuti Mika, dan Neng Judes lalu jadi kikuk sendiri.


“Lo terlalu menggoda hari ini, Mi....” ucap Arya, dengan suaranya yang kini terdengar pelan, namun agak berat.


Dimana didetik berikutnya, Arya meraih tengkuk Mika dan menempelkan lagi bibir mereka. Dengan ritme pelan, yang kemudian menjadi bertambah seiring tubuh yang saling rapat.


Ada yang tersulut di masing-masing diri Arya dan Mika. Hingga bibir Arya mulai menyisir sampai ke leher Mika. “Ar-r....”


Membuat Mika spontan menggeram kecil, saat merasakan rasa geli di lehernya karena bibir Arya sedang menari di sana, mengecupi setiap sentinya.


Geraman kecil, namun punya efek besar untuk Arya. Membuat si Recehboy terbuai, hingga bibirnya terus menyisir turun, dan kini sudah sampai di tulang selangka Mika----dan ia kecupi juga bagian itu.


Lalu bibir Arya lebih turun lagi dibeberapa detik berikutnya.


Berhenti di garis tengah dada Mika, lalu berhenti menggerakkan bibirnya.


Dimana Arya mendongak, memperhatikan wajah Mika yang sudah agak memerah----mungkin sama seperti wajahnya kini, yang memerah atas sebuah kata yang bernama 'hasrat'.


Tak ada suara dari Mika dan Arya, hanya tatapan keduanya saja yang nampak menyiratkan suatu makna. Sampai kemudian bibir Arya menyambar lagi bibir Mika. Menciptakan sesi ciuman dengan ritme teratur, namun cukup memburu.


Cukup memburu, hingga membuat tangan Arya yang----entah sadar atau tidak, mulai bergerak ke kancing kemejanya yang Mika pakai.


Dan entah Mika sendiri sadar atau tidak, namun sudah terlanjur kala Mika sadari kancing kemeja Arya yang ia pakai itu, kini sudah terbuka sampai tiga.


Mika meneguk salivanya, kala Arya melepaskan pagutan mereka. Lalu Arya memandanginya dengan paparan pandangan Arya yang tidak pernah Mika lihat sebelumnya.


Mika kemudian menggigit bibirnya, kala Arya mengalihkan pandangan ke arah kemeja yang kancingnya sudah hampir terbuka semua.


Arya bungkam saja, namun berkali-kali meneguk ketat salivanya.


“I want you, Mi....”


Yang tercetus dari mulut Arya pada akhirnya.


Pertahanannya runtuh.


Tak tahan melihat kemolekan tubuh di hadapannya, walau masih ada pakaian yang tersangkut di sana.


Lalu di detik setelahnya, Arya kembali menarik Mika hingga tubuh keduanya kembali menempel, tanpa Arya berikan kesempatan bagi Mika untuk membalas ucapannya karena Arya kembali menyambar bibir Mika dengan bibirnya tanpa lagi ia lepaskan.


Syut!


Arya mengangkat tubuh Mika yang bibirnya kembali sudah ia serang itu.


Membawa tubuh Mika yang kaki Neng Judes tercintanya Arya itu, spontan melingkar di pinggangnya, saat Arya mengangkat dara itu dari posisinya----dan kini telah dalam gendongan depannya dengan bibir yang masih saling ‘menyerang’, mengarah menuju kamar pribadi Arya dalam apartemen.


Lalu beberapa saat kemudian, Arya sudah memangku Mika dengan ia yang duduk dipinggir ranjang----kala Arya sudah membawa Mika ke dalam kamar pada apartemennya tersebut.


Dalam keadaan, dimana kemeja Arya yang Mika pakai, kancingnya sudah terbuka semua----lalu kaos yang sebelumnya Arya kenakan, juga sudah terlepas dari tubuhnya.


♥♥♥♥


To be continue....

__ADS_1


__ADS_2