HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
SENJA YANG TAK MENGENAL FAJAR


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Little Star Island, Isola, Italy,


“Ya udah, kami dulu ya, Moms, Dads, Kakek-kakek, Nenek-nenek, kami dulu para muda-mudi yang duluan menjenguk Val ya?...”


Adalah Isha yang bicara dengan memaksa manja kepada para orang orang tua dan tetua di keluarganya, setelah Celine selesai menjelaskan tentang hal-hal terkait kondisi Val.


Dan ucapan Isha itu didukung dengan anggukkan antusias para saudara-saudarinya itu yang berdiri bersamanya dalam momen memaksa dengan manja itu untuk lebih dulu masuk ke ruang rawat intensif Val, dimana mereka tak sabar bertemu dengan Val yang telah tersadar dari koma.


“Ya sudah sana.”


Lalu Dad R yang paham tentang kebahagiaan para pewaris muda itu karena Val yang telah terbangun dari ‘tidur panjangnya’ itu, mengiyakan pemaksaan manja mereka dengan Isha yang mewakilkan para saudara-saudarinya yang nampak bersemangat sekali untuk menemui Val seperti dirinya.


Dan ketika ijin dari Dad R terdengar, Isha-Ann-Aina-Ares serta Mika nampak langsung lebih sumringah wajahnya seraya memekik girang dan berbalik serempak untuk masuk ke ruangan tempat Val berada selama ini.


“Inget yang tadi Kak Celine bilang!” Lalu Drea mengingatkan adik-adiknya yang langsung juga menjawabnya dengan kompak.


“Iyaa.“


“Jangan lama-lama!”


“Iyaa.“


🌷🌷


“Setelah mereka, kami dulu para wanita. Ladies first, after kiddos, oke? Oke!”


Lalu setelah para pewaris muda generasi adik terkecuali Aro dan Rery itu masuk ke ruang rawat Val, Mommy Ara bicara.


Meminta persetujuan pada para pria untuk giliran kedua menengok Val setelah anak-anak mereka yang sudah ngacir ke ruang rawat intensif Val, jatuh kepada dirinya dengan para wanita dewasa.


Namun ya itu, seperti Isha yang meminta ijin dengan memaksa manja—Mommy Ara pun kiranya melakukan hal yang sama.


Meminta persetujuan pada para pria, namun Mommy Ara sendiri yang menjawab permintaan persetujuannya untuk giliran menengok Val setelah para kiddos.


Dan tentu saja apa yang Mommy Ara lakukan itu mendapat dukungan penuh dari para Moms dan Nenek juga dua kakak perempuan, tanpa memberikan kesempatan bagi Dad R dan para pria lainnya untuk menjawab.


Membuat para pria itu mendengus geli saja di tempat mereka, dengan kelakuan anak-anak serta para wanita dalam keluarga mereka itu.


🌷🌷


“Val...”


Lima orang anggota The Kiddos kompak menyebut nama Val ketika mereka telah memasuki ruang rawat intensif Val.


Dimana Val langsung menoleh ke arah Mika-Isha-Ann-Aina dan Ares dengan tersenyum, walau tipis saja senyum Val itu.


“Ha,i—“


“Eh, Val...”


“Nona...” suara The Kiddos dan asisten Celine terdengar ketika Val nampak hendak mengangkat tubuhnya setelah si mantan ‘putri tidur’ itu menyapa para saudari dan satu saudara lelakinya yang baru saja masuk ke ruangan tempatnya berada itu.


Dimana ke enam orang itu spontan menghampiri Val kemudian dengan sedikit panik.


“Kamu mau apa, Val?...” tanya Mika.


“A, ku ingin du-duk...”


Val menjawab pertanyaan Mika dengan masih sedikit terbata.


“Pung, gungku rasanya, pa-nas...”


Val bicara lagi.


“Ta, pi tubuhku lemas, dan ka-ku...”


🌷🌷


“Wajar tubuh kamu lemas dan kaku, Val. Kamu tertidur cukup lama sekali soalnya—“


“Iya, Val...”


Isha menimpali ucapan Ann.


“Soalnya kamu kan sudah hampir enam bulan koma.”


“Ko-ma?—“


🌷🌷


“Kak Aida, memang Val boleh bangun?”


Tadinya Val hendak lagi berkata, namun Mika yang berbicara pada asisten Celine itu membuat Val urung untuk kembali buka suara.Dan lagi, fokusnya yang ingin bertanya itu pecah karena Mika yang bertanya pada asisten Celine tersebut.


Dan Val yang memang ingin sekali duduk itu pun, memperhatikan wanita bernama Aida yang ditanya oleh Mika. Melupakan keinginannya untuk bertanya tadi. Bahkan Val lupa ingin bertanya apa.


“Setahu saya boleh,” jawab asisten Celine. “Tapi kapan pastinya, saya harus bertanya dulu pada Nona Celine.”


🌷🌷


“Boleh minta tolong Kak Aida tanyakan pada Kak Celine, tentang Val yang ingin duduk ini?” Mika kembali angkat suara.


“Tentu, Nona...” Asisten Celine itu langsung mengiyakan permintaan Mika. “Saya akan menanyakannya sekarang kalau begitu,” ucap Aida lagi. “Permisi—“


“Terima kasih Kak Aida.”


“Sama-sama.”


🌷🌷


“Ada apa? Apa Val baik-baik aja?...”


Nenek Yuna yang pertama melihat Aida keluar dari ruang intensif Val saat ia dan para wanita lainnya menunggu The Kiddos selesai dalam ruang tunggu di ruang rawat Val itu sontak berdiri dari duduknya dan langsung menghampiri Aida untuk bertanya.


Dimana para wanita yang bersama Nenek Yuna pun juga bangkit dari duduk mereka, serta juga menghampiri Aida dengan sedikit khawatir. Aida yang diserbu oleh para Nyonya itu kemudian tersenyum. “Nona Muda Valera baik-baik saja.”


Aida pun lalu menjawab dengan tenang dan santun.


“Saya hanya ingin bertanya pada Nona Celine, karena Nona Val mengatakan ia ingin duduk.”


🌷🌷


“Kak Ara, mending liat Val sekalian deh. Sama ingetin anak-anak jangan lama-lama. Kan Celine juga harus observasi Val secepatnya.”


Momma kemudian berucap setelah Aida undur diri dari hadapannya dan para wanita yang bersama dengannya. Mommy Ara pun mengangguk dan mengiyakan saran Momma barusan.


“I-ni, di rumah, sakit, ma-na?”


Sementara itu di ruangan khusus dimana ia di tempatkan, Val kemudian melontarkan pertanyaan pada empat saudari dan satu bocil lelaki setelah kepergian Aida dari ruangan tempatnya.


“Ini bukan di rumah sakit, Kak. Ini di kastilnya Abang yang di Isola itu loh, yang kita ga pernah diajak ke sini sama Abang yang katanya rahasia. Nah karena Kak Val koma dan butuh perawatan khusus jadi Kak Val di bawa kesini...”


Cerocosan kemudian terdengar dari mulut Ares.


Val lalu nampak mengernyit. “Ah, iya... a-ku ini, ko-ma?...” Val kemudian bertanya dengan suaranya yang sedikit melirih.


“Iya Kak, Kak Val koma setelah—“


“Ares, Ain...” Mika menggeram samar, sambil mendelik pada Ares dan Aina yang bercerocos itu, dan keduanya langsung melipat bibir ketika melihat satu kakak perempuan mereka mendelik kepada mereka berdua.

__ADS_1


“Se-telah—sshh—“


“Val, are you okay?...”


“Ke-palaku sedikit pusing.”


🌷🌷


“Val, kamu tidak apa-apa?”


Suara Mommy Ara bersamaan dengan sosoknya muncul ke hadapan Val dan The Kiddos yang sedang bersamanya itu, bertanya dengan nampak khawatir karena Val nampak meringis.


“Kak Val bilang kepalanya sedikit pusing, Mommy—“


“Kamu sama Ares abisnya bawel banget.” Isha menukas ucapan si bontot ga jadi itu. “Jadi Kak Val pusing karena suara kalian tadi.”


“Iya, maaf—“


🌷🌷


“Sudah, sudah. Kalian cukupkan dulu menjenguk Val ya?”


Mommy Ara lalu berujar lembut sambil memandangi lima orang anaknya selain Val.


“Karena biar bagaimanapun, Val perlu beristirahat untuk memulihkan kondisi tubuhnya untuk nanti juga diobservasi kesehatannya oleh Kak Celine. Jadi kunjungan kalian dicukupkan dulu sekarang, ya?”


Dan kelima anaknya itu langsung mengangguk mengiyakan dengan patuh.


“Ya sudah Val, kami tinggal dulu ya?” Ann kemudian bersuara, berpamitan pada Val mewakili The Kiddos lainnya.


🌷🌷


“Apa ini membuatmu nyaman?...”


Adalah Varen yang bicara.


Ia masuk ke dalam ruangan Val, setelah Aida mengatakan jika Val ingin duduk dan hendak bertanya pada Celine yang sedang berada di lab pribadinya.


Varen lalu meminta Aida menghubungi Celine lewat alat komunikasi khusus dalam kastil untuk bertanya pada satu orangnya itu tentang keinginan Val, apakah boleh dilakukan sekarang atau tidak.


Maka setelah Celine mengatakan boleh, Varen langsung mengajukan diri untuk masuk ke dalam ruang rawat guna membantu Val, bersamaan dengan para adik yang keluar dari dalam ruangan tersebut.


🌷🌷


Val mengangguk pelan seraya tersenyum tipis setelah Varen yang sudah membantunya untuk duduk dengan sangat hati-hati bersama Momma itu mempertanyakan kenyamanannya ketika Val berhasil dibuat untuk duduk di atas ranjang perawatannya.


“Tapi belum bisa lama-lama dulu ya, Baby?” ucap Varen lagi. “Karena kondisi kamu masih belum pulih benar.”


“I, ya, A-bang—“


“Bagaimana perasaanmu?”


“Ham-pa...”


🌷🌷


Varen sontak terdiam sambil memperhatikan Val yang setelah menjawab pertanyaannya, adik kandungnya itu nampak memandang kosong.


Lalu Varen memandangi orang-orang yang bersamanya, yakni para Mom, Nenek dan Drea serta Via yang seperti Varen mendengar jawaban Val dan melihat Val yang nampak memandang kosong setelah menjawab pertanyaan Varen tentang perasaannya.


Dan di detik berikutnya, mata Varen dan para wanita itu termasuk juga Celine yang sudah datang ke ruang rawat intensif Val, saling bicara dengan tatapan.


“Val...”


“Ya?...” Val lalu terkesiap ketika Gamma memanggilnya seraya mengusap lembut kepala satu cucunya itu.


“Kenapa? Kok melamun?...”


Gamma lalu bertanya.


“Iya. Tadi habis kamu bilang perasaan kamu hampa, kamu langsung diam.”


“Heu?...” Val mengernyit kecil.


“Val mikirin apa?...”


Mama Jihan yang kemudian bicara seraya bertanya.


Val menggeleng samar.


“Perasaan kamu, hampa bagaimana?...” Varen kemudian bicara.


“Ham-pa?—“


“Tadi kamu bilang perasaan kamu hampa. Apa—“


“Me-mangnya, tadi, Val bilang begitu ya?—“


🌷🌷


“Nona Muda Valera, duduknya cukup dulu ya?...” Celine bersuara. “Sekarang Nona Muda berbaring dulu lagi, setelah nanti ingin duduk kembali, tinggal bilang saja. Tapi berhubung kondisi Nona masih lemah, jadi untuk sementara waktu jangan duduk terlalu lama—“


“I, ya,” tukas Val samar.


“Tapi nanti saat makanan datang, Nona Muda Valera bisa duduk kembali.”


“Val sudah bisa makan sekarang, Cel?” tanya Mommy Ara menanggap ucapan Celine barusan.


“Sudah, Nyonya Kyara... Saya sudah meminta Nilam menyiapkan makanan untuk Nona Muda Valera sebelum saya ke sini tadi.”


Celine menjawab lugas dan santun.


“Mohon maaf jika saya melangkahi, karena pikiran saya kalau Nyonya semua sedang ingin sekali berada di dekat Nona Valera. Jadi saya berinisiatif untuk meminta Nilam menyiapkan makanan Nona Muda Valera.”


“Kenapa harus meminta maaf Cel? kami justru sangat menghargainya,” ujar Mommy Ara.


“Makasih ya Cel,” ucap Mommy Ara dan lainnya. Dan Celine membalas ucapan terima kasih itu dengan santunnya lagi.


“Setelah makan nanti, Nona Muda Valera istirahat dulu ya?” tutur Celine.


“Iya, Cel...”


🌷🌷


Varen yang saat Val duduk itu menopang tubuh adik kandungnya tersebut, kemudian membaringkan kembali tubuh Val ke atas ranjang perawatannya dengan sangat hati-hati.


“Abang tinggal dulu ya?—“


“I,ya, Abang...”


Varen tersenyum, lalu mengecup sekilas kening Val dan ia menjauh dari sisi Val kemudian.


🌷🌷


"Seperti yang aku katakan tadi, aku takut Val tidak senang melihatku di sini... Dan lagi, aku akan memegang janjiku padamu, Pop. Aku akan pergi sejauh-jauhnya saat Val membuka mata."


Varen yang tadi saat hendak keluar dari ruang rawat intensif Val mengkode Celine dengan tatapan matanya agar salah satu orang kepercayaannya itu ikut dengannya, mengurungkan niat untuk bertanya pada Celine ketika suara Kafeel ia dengar dari arah luar ruang rawat Val.


"Tak apa, Pop... aku sendiri juga merasa minder untuk menampakkan wajahku kepada Val. Jadi aku lebih baik segera pergi saja."


Lalu suara Kafeel terdengar lagi setelah Poppa bicara. "Tunggu."


Varen kemudian bersuara ketika ia melihat Kafeel yang hendak berpamitan pada para pria yang sedang menunggu giliran untuk menjenguk Val itu.

__ADS_1


“Ingat apa yang gue bilang saat lo gue bawa ke sini?...”


Varen berbicara lagi setelah menyergah apa yang hendak Kafeel lakukan setelah pria itu menanggapi ucapan Poppa padanya.


“Lo hanya boleh pergi dengan ijin gue, atau kalau Val yang menyuruh lo pergi secara langsung setelah lo menyampaikan permintaan maaf lo ke dia, lalu Val tidak terima. Tapi, kalau setelah lo meminta maaf dan Val ga mengijinkan lo pergi, sampai mati lo harus tetap di sini.”


Penegasan yang Varen tekankan pada Kafeel.


“Apa lo mengerti, Kafeel Adiwangsa?”


🌷🌷


“Val gimana kondisinya, Kak Celine? Udah oke kan?... Maksud aku, ga ada indikasi Val akan balik koma lagi kan, Kak?...”


Adalah Aro yang bersuara, bertanya pada Celine setelah Varen menutup penegasan dan penekanannya pada Kafeel.


Dimana pertanyaan Aro itu, ditanggapi oleh Varen sebelum Celine sempat memberikan jawaban.


“Nanti saja kalau kalian ingin bertanya banyak pada Celine,” kata Varen. “Aku ingin bicara dengannya terlebih dahulu,” sambung Varen.


“Ada apa, Boy?” Dad R lantas bertanya, karena wajah Varen nampak lebih serius dari saat ia memberikan penegasan pada Kafeel tadi.


“Hanya ingin mengetahui hasil observasi awalnya Val saja, Dad—“


“Ya sudah. Katakan pada kami nanti bagaimana hasilnya,” tukas Dad R.


🌷🌷


“Ka...”


Varen memanggil Kafeel setelah ia mengiyakan ucapan Dad R.


Dimana Kafeel langsung menyahut menanggapi panggilan Varen itu.


“Iya, Va?”


“Saat The Dads, Gappa dan Ake masuk untuk menjenguk Val nanti, lo jangan ikut dulu.”


Kafeel langsung mengangguk menanggapi ucapan Varen barusan.


“Lo bisa bertemu Val, saat kondisinya sudah jauh lebih baik dari sekarang.”


“Iya, Va. Gue paham—“


🌷🌷


Tiga hari kemudian,


Dari sejak Varen mengatakan padanya, jika dia bisa bertatap muka dengan Val apabilan kondisi Val sudah berangsur membaik, selama tiga hari ke depannya Kafeel bersabar menunggu ijin itu ia dapatkan. Dan selama tiga hari itu, memang Val cukup intens melakukan pemeriksaan yang dilakukan oleh Celine dengan dibantu oleh Dokter Mario yang memang sudah sering datang untuk mengecek kondisi Val dan berkomunikasi dengan Celine.


Lengkapnya peralatan di Little Star Island membuat keluarga The Adjieran Smith tidak perlu repot memindahkan Val ke rumah sakit, karena sekalipun ada alat yang dibutuhkan terkait pemeriksaan dan proses penyembuhan Val itu belum tersedia di Little Star Island, maka alat tersebut sangatlah mudah untuk disediakan dan didatangkan ke pulau pribadi mereka tersebut.


Jadi Val juga tidak mempunyai banyak kesempatan untuk dijenguk dan diajak mengobrol karena proses pemeriksaan termasuk pengobatannya itu yang cukup banyak tahapannya.


Namun walau belum bisa bertatap muka dengan Val, Kafeel masih bisa curi-curi memandangi Val saat gadis itu sedang tertidur selepas pemeriksaannya. Dan Kafeel mendapatkan ijin untuk itu.


“Hari ini Val menjalani pemeriksaan apa, Dad?”


Kafeel sedang berada di halaman kastil bersama Dad R, Papa Lucca dan Nathan.


Sedang membunuh waktu dengan bermain golf pada lapangan buatan yang tidak seluas padang golf pada umumya.


“EEG dan Physiotherapy.”


Kafeel pun mengangguk setelah mendengar jawaban Dad R.


“Mengingat betapa bodohnya yang pernah mencoba mengakhiri hidupmu, aku rasa kau perlu juga melakukan pemeriksaan EEG. Karena barangkali kau pernah tersengat listrik yang membuatmu jadi bodoh.”


Setelahnya Dad R bicara lagi dengan mencibir Kafeel namun dengan nada santai, setelah ia mengambil giliran untuk memukul bola golf setelah Papa Lucca.


Kafeel, Papa Lucca serta Nathan sontak terkekeh mendengar ucapan iseng Dad R untuk Kafeel tadi. Kemudian Dad R nampak fokus dengan bola golf yang akan ia pukul, sementara Papa Lucca mengambil tempat di samping Nathan yang berdiri bersebrangan tak jauh dari Kafeel.


“Abis maen deket sutet jangan-jangan.”


Nathan menimpali ucapan Dad R yang mencibir santai Kafeel, dimana Kafeel tertawa geli saja mendengarnya.


Lalu Kafeel mengambil posisi untuk memukul bola golf setelah Dad R selesai.


Nathan terkikik, namun kemudian Nathan terlihat melongo.


Tidak hanya Nathan, tapi Dad R dan Papa Lucca juga sama melongo seperti Nathan.


“V-Val?...“


Membuat Kafeel urung memukul bola golf yang hendak ia pukul itu.


“Halo Kak Tan – Tan... Abang... Daddy...”


Tak hanya urung memukul bola golf, tapi Kafeel juga menegang tubuhnya.


Dirinya ingin berbalik, tapi ada rasa takut yang menyelinap di hatinya. Namun dada Kafeel juga sudah berdebar dengan hebatnya.


“Val, ingin menghirup udara segar. Silahkan saja jika ingin menyapanya.“


Adalah Varen yang bicara di belakang Val yang duduk di atas kursi roda.


Dimana ucapan kalimat terakhir Varen bermakna sebuah kode untuk Kafeel yang ia yakin jika Kafeel memahaminya.


Gugup, serta kelu.


Namun seperti yang dipikirkan Varen, Kafeel paham jika kalimat Varen tentang ‘menyapa’ adalah sebuah kode untuknya yang sudah sampai masa diperbolehkan bertatap muka dengan Val.


Jadi Kafeel menghirup panjang nafasnya dan menghembuskan perlahan, setelahnya Kafeel berbalik dengan jantung yang bertalu dengan hebatnya.


“V—“


“Nanti setelah Val benar-benar sehat, dan bisa berdiri dengan normal, kita main sama-sama ya?”


Tepat setelah Kafeel berbalik dan hendak menyapa Val, gadis itu sudah keburu bicara lagi.


Dan Val sudah berada dalam pandangan Kafeel yang terkesima melihat Val benar-benar ada di hadapannya dengan gadis itu yang sudah tidak lagi dalam kondisi koma.


Kafeel tak bisa menahan matanya untuk tidak berkaca-kaca. Memperhatikan Val, bisa berada di dekat Val sedekat itu sungguh membuat bahagia di hati Kafeel membuncah, meski Val seolah mengabaikannya.


“Nanti battle sama Kak Tan-Tan, oke?” Nathan bersuara dan bersimpuh di kaki Val yang tertopang di penahan kaki kursi roda. Val tersenyum dan mengangguk menanggapi ucapan Nathan yang kemudian melirik pada Kafeel dan kemana mata Nathan terarah, mata Val mengikutinya.


Di detik dimana Kafeel, semakin bertalu hatinya. Antara senang dan takut berkecamuk di sana. Senang bisa bertatap muka dengan Val yang kini sedang melihat ke arahnya, tapi takut juga jika Val kemudian emosi melihatnya. Kafeel tegang. Namun ketegangannya itu seketika mencair, ketika senyuman tipis dari Val tertuju padanya.


Rasa mimpi bagi Kafeel, yang kemudian tersenyum balik pada Val dengan makna yang banyak di senyumnya itu. “Apa kamu ingin diberikan ruang?...” Dad R kemudian berkata, saat Val dan Kafeel nampak saling melempar tatap dan senyum.


“Ruang?...”


Val lalu menoleh kepada ayah kandungnya itu yang mengangguk setelah Val berujar.


“Ruang untuk apa, Daddy?...”


“Ruang untuk berbicara berdua dengannya...”


Dad R menggerakkan samar kepalanya ke arah Kafeel yang nampak tertegun di tempatnya.


Val mengernyit kecil, lalu menoleh lagi ke arah Kafeel yang Val pandangi kemudian sebelum sebuah kalimat keluar dari mulutnya.


“Memangnya, dia siapa?...”

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷


To be continue.....


__ADS_2