HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 284


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Jakarta, Indonesia...


“Lena?...”


“Ka-kamu?...”


“Tunggu Len. Jangan takut. Gue ga ada maksud jahat sama lo...”


“Kamu... kabur dari penjara?—“


“Gue bebas bersyarat, Len. Gue dikasih kesempatan sama orang yang masukin gue dan temen-temen ke penjara karena gue dan temen-temen yang memang bener-bener niat tobat nunjukin kesungguhan kita orang buat berubah.”


“Oh.”


“Udah hampir tiga bulan, gue dan temen-temen dalam tahap percobaan buat ngebuktiin kalo kita emang bener-bener mau berubah—“


“Oh. Sukur deh kalo gitu...”


“Lo apa kabar, Len?”


“Baik... ya udah—“


“Len—“


“Jangan kurang ajar, mau lo kalo gue teriak?!”


“Sorry, Len. Gue ga ada maksud jahat sama lo... justru gue mau minta maaf Len...”


---


“Len!... tunggu!—“


“Apalagi?—“


“Bentar—“


“.....”


“Ini, Len.”


“Apaan ini??...”


“Bunga—“


“Gue juga tau ini bunga—“


“Permintaan maaf gue, walau ga sebanding sama sekali sama jahatnya gue ke elo dulu, Len.”


“Ngomong-ngomong, baju lo—“


“Oh, ini seragam kerja gue, Len...”


“Lo kerja di sini?...”


“Iya...”


“Toko Bunga?”


“Aneh ya?”


“Untuk elo sih, ya aneh banget...”


---


“Mampir Len? Ada kafe juga di tempat gue kerja—“


“Ngomong-ngomong, lo di bagian apa kerjanya?...”


“Back side sih gue. Gue dapet pengajaran soal budidaya tanaman. Jadi gue yang ngurusin bunga-bunga yang  seger siap jual, selain gue kadang dapet tugas buat ngerawat tamannya para pelanggan tempat kerja gue yang minta staf khusus dari sini.”


“Lo bisa bantu gue?...”


“Kalo emang gue mampu, Insya Allah bisa...”


“Toko lo punya stok tulip merah?—“


“Tulip merah?”


“Iya—“


“Eh iya—“


“Apa?—“


“Waktu itu kalo ga salah Abang lo pernah ke sini juga dan minta satu buket tulip merah sama satu flowerist di sini—“


“Trus lo ketemu dia?...”


“Tadinya gue pengen nemuin dia buat minta maaf. Tapi gue takut dia masih emosi sama gue, terus malah nanti rame di sini dan takutnya gue malah kena pecat... Jadi gue urung nyamperin dia. Sorry ya Len, gue masih sepengecut itu—“


“Ga apa gue ngerti...”


“Gue bener-bener lagi mulai dari nol sekarang, dan pekerjaan ini emang gue butuhin banget...”


“Iya gue paham...”


“Mampir sebentar ke dalem yuk Len?... Jam kerja gue udah selesai, tapi gue harus lepas dulu ini seragam... kebetulan gue gajian hari ini...”


“Ga usah deh makasih...”


“Please?... gue ga ada maksud jahat sama lo, Len. Di dalem juga rame kok, kalo lo khawatir...”


“Tapi sekarang tempat lo kerja punya, stok tulip merah?...”


“Gue jelasin di dalem ya? Gue harus lepas seragam dulu kalo mau ngobrol sama lo—“


“Sebentar aja ya?...”


---


“Jadi gimana soal tulip merah, lo punya?...”


“Gue sih ga punya, tapi tempat kerja gue punya. Dan mereka punya akses buat dapet bibitnya langsung berikut bunganya dari Keukenhof.”


“Ada stoknya sekarang?...”


“Eh ini?—“


“Kenapa?”


“Ini kan Nona Mikaela Finn Smith sama sodara-sodaranya, bukannya?”


“Iya. Kok lo tau?”


“Oh iya ya, waktu Abang lo dateng buat bekuk gue sama teman-teman, kan ada Tuan Alvarend dan Jonathan juga...”


“Terus lo bisa tau Mika? Kan dia ga ada di TKP tempat lo dihajar sama AA gue?...”


“Gue kenal Nona Mikaela, pas gue udah kerja di sini, Len. Inget ga tadi gue bilang kalo gue bebas bersyarat dan ada yang jamin gue?—“


“Iya inget—“


“Nah yang ngebebasin dan jamin gue itu kakaknya yang paling tua. Termasuk yang ngasih macem-macem opsi bidang pekerjaan yang bisa gue dan temen-temen pilih buat jalan kita orang mulai semua dari nol untuk jadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya.”


“Jadi lo udah sering ketemu sama Mika dan keluarganya?”


“Sering banget sih engga, cuma dari tiga bulan lalu kurang lebih gue udah ketemu dia beberapa kali, termasuk keluarganya...”


“Mereka semua sehat-sehat, Van?...”


“.....”

__ADS_1


“Kenapa?”


“Kalo gue liat di foto yang jadi WP hp lo, kayaknya lo akrab banget sama mereka, Len?... kok malah nanya kabar mereka sama gue?”


“Ada something, dan gue lose contact sama mereka...”


“Oh—“


“Mereka sehat-sehat?”


“Kalo dari fisiknya, ya sehat aja sih gue liat...”


---


“Ngomong-ngomong soal hubungan lo sama mereka, tadinya gue mau nyaranin andai emang lo mau tulip merah, lo kenapa ga minta langsung aja sama Nona Mikaela atau keluarganya? Soalnya mereka membudidayakan tulip merah dengan khusus di sana.”


“Oh ya?”


“Iya...”


“Di Kediaman mereka yang di Ment itu?—“


“Iya. Dan kebetulan gue di tunjuk untuk merawat itu bunga di rumah gedongnya mereka itu.”


“Berarti Val tinggal di Indo sekarang?—“


“Val?...”


“Valera. Yang ini—“


---


“Kenapa?...”


“Eum... kalo gue ga salah denger sih, itu satu blok khusus tulip merah yang gue rawat itu persembahan buat dia ini... Yang kalo gue ga salah juga, orangnya udah ‘ga ada’.”


“Maksud lo?—“


“Ya... udah ga ada... di dunia ini...”


“Lo jangan asal ngomong!”


---


“Sorry, kalo gue salah... tapi semua anggota keluarga Smith kayaknya gue udah pernah ketemu walau ga sekaligus. Tapi dari semua, cuma satu Nona yang ini aja yang ga pernah gue liat... Dan iya gue inget, Nona Mikaela pernah nyebut itu hadiah buat satu saudara perempuan mereka yang namanya Val... terus bilang, ‘Tapi sayangnya, dia ga bisa datang dan melihat ini semua’—“


“.....”


“Dan seinget gue, bulan lalu, di kediaman mereka ada acara doa bersama gitu. Cuma tertutup. Gue juga taunya karena gue di suruh nyiapin ratusan buket bunga tulip merah dan perbuketnya jumlahnya harus 18 tangkai.”


“Ulang tahun, Val—“


“Heu?—“


“Tanggal 15 bulan lalu, Val ultah yang ke-18...”


“Oh. Kalo soal itu gue kurang tau Len. Cuma kalo liat beberapa art di sana pas hari itu, mereka nangis gitu sambil nyebut nama Nona Val. ‘Kasian Nona Val’. Gitu sih—“


“Ga mungkin, Val udah ga ada—“


“Len—“


“Lena?—“


---


“’A—“


“LO?!—“


“’A—“


“NGAPAIN LO ADA DISINI?!—“


“SAYA—“


“’A!“


---


“Kamu ngapain ada sama dia, Lena?!”


“Dia ga ada maksud jahat sama Lena, ‘A...”


“Lo harusnya di penjara, kan?!—“


“Saya bebas bersyarat—“


“Persetan! Ayo pulang Lena!”


“’A sebentar!—“


“Apalagi?! Mau jatuh lagi ke lubang yang sama kamu???!!!—“


“Bukan ‘A, bukan... dia kerja sama keluarganya Val sekarang—“


“Apa?...”


“Iya, ‘A—“


“Kok bisa?—“


“Ceritain semua yang lo ceritain ke gue tadi.”


“Saya... bla... bla... bla...”


“Dan Arvan bilang, kalo tulip merah yang dibudidayakan di KUJ itu untuk Val... Dan Val... katanya, udah—ga ada, ‘A—“


“Apa maksud kamu, Lena?!—“


“Val, udah tutup usia, ‘A—“


“Jangan sembarangan ngomong, Lena!...”


“Cerita!”


“Sejak tiga bulan lalu, saya sudah ditunjuk untuk menanam tulip merah di sebuah rumah mewah dan merawatnya untuk memastikan agar bibit – bibit itu tumbuh dengan baik. Kalau dari yang pernah saya dengar dari salah seorang yang kerja di sana sih, katanya satu blok taman tertutup yang khusus ditanam tulip merah itu persembahan buat salah seorang anggota keluarga yang tinggal di sana. Ya saya sih ga tau pasti, tapi persepsi saya soal ‘persembahan’ itu kayaknya orangnya udah ‘ga ada’. Kalau saya ga salah denger, Val - namanya ...”


“’A! Mau kemana?—“


“KUJ. Untuk memastikan kalo si brengsek ini salah!”


“Saya tadi baru dari sana... kalo Abang mau tanya sama anggota keluarganya langsung, mereka lagi ga ada di rumah mereka yang di Jakarta. Udah sebulan ini, belum ada lagi yang datang ke sana. Karena sejak saya kerja di sana, saya taunya semua keluarga mereka tinggal di London, dan datang sesekali. Itupun bergantian—“


♦♦♦


The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, Inggris...


“LET ME IN!”


Seorang pria sedang dipegangi oleh dua orang pria lain yang merupakan penjaga sebuah hunian super mewah nan megah pada satu daerah di London, Inggris.


“Kafeel Adiwangsa is here.”


BUGH!


“Let me in, or I shoot myself ( Biarkan aku masuk, atau aku menembak diriku sendiri )!”


Kafeel menodongkan pistol ke kepalanya sendiri, yang telah ia rampas dari saku seorang penjaga setelah Kafeel melakukan perlawanannya.


“VAL!”


Kafeel telah dibiarkan masuk pada akhirnya, ketika salah seorang penjaga mendapatkan titah untuk membiarkan pria itu masuk ke dalam The Great Mansion Adjieran Smith yang berada di London tersebut.


“Kamu dima - na, Vaall? ...”

__ADS_1


Kafeel telah menerobos ke satu kamar milik orang yang namanya ia teriakkan dengan sering setelah ia memasuki mansion milik The Adjieran Smith yang begitu sunyi macam tak berpenghuni itu.


Tak ada sesiapapun yang bisa ia tanyakan, selain para bodyguard yang mengekorinya. Namun begitu, kesemuanya bungkam ketika Kafeel bertanya pada mereka.


Kafeel bahkan tak peduli jika ia dikatakan lancang dengan memasuki beberapa kamar yang ada di lantai yang sama tempatnya berada sekarang untuk mencari seseorang yang bisa ia tanyakan sebuah kepastian akan berita yang membuat hatinya remuk redam di saat ia mendapati jika kamar Val kosong.


Setelah tak menemukan siapapun anggota keluarga Val, Kafeel kembali masuk ke kamar Val. Mengecek kamar mandi dan walk in closet yang kosong adanya.


Pemiliknya dipastikan tidak ada, dan dengan frustasi Kafeel duduk di sebuah kursi dengan sebuah meja yang terbentang di atas kursi yang sudah Kafeel tarik kemudian duduki.


Kafeel bicara dan bertanya-tanya sendiri sambil memandangi foto diri sang pemilik kamar yang ada pada dinding dekat meja, serta beberapa foto yang ada di atas meja di hadapan Kafeel itu.


Lalu atas rasa penasaran dan kalut karena tidak ada sesiapapun yang bisa ia tanyai sekarang, Kafeel menggeledah laci meja dan berharap ia mendapatkan petunjuk atas berita yang membuat hatinya sungguh berduka dan takut.


Dengan harapan, jika berita tersebut tidak benar.


Hanya saja,


“Engga...”


Secarik kertas yang Kafeel temukan di dalam laci itu membuat Kafeel yang tadinya melirih dan meratap, menjadi histeris kemudian.


Yang mencintai kalian,


--Valera Madelaine Aditama Adjieran Smith, the late one ( almarhum )—


“VAALLLL!!!!”



“Lo udah dapat apa yang ingin lo tau, kan?...”


“CHIEL!”


“Sekarang silahkan pergi dari sini—“


“Ini—ga bener kan, Chiel??... Val—“


“Dia meminum racun dan menenggelamkan diri.”


“Eng—ga, Chiel... Engga... LO PASTI BOHONG CHIEL!”


“Lo mau keluar sendiri, atau dipaksa?—“


“DIMANA VAL, CHIEL??!!—“


“Take him down ( Lumpuhkan dia )”


BUGH!


“Antar dia kembali ke rumahnya, Chiel.”


“Baik, Tuan.”



Jakarta, Indonesia...


“’A ....”


“Saya tekankan sekali lagi. Ini yang terakhir anda dibiarkan masuk ke mansion The Adjieran Smith ---“


“Achiel, apa benar kalau, Val ---“


“Saya permisi.”


Satu bodyguard yang memiliki kuasa lebih dari bodyguard lain dalam keluarga yang tadi ia katakan itu, mengabaikan ucapan yang berupa pertanyaan dari bundanya Kafeel.


Dimana setelahnya, Achiel pun pergi begitu saja setelah mengantarkan Kafeel kembali ke rumahnya setelah Kafeel menyambangi mansion The Adjieran Smith yang berada di London.


Kemudian hari – hari Kafeel jalani macam manusia yang kehilangan gairah hidup.


Hingga,


“ALLAH!!!”


“A – AAA!!!!---“


“Astagfirullah!”


♦♦♦


Kediaman Narendra, Jakarta, Indonesia...


“Cel, packing. Kita ke London sekarang. Son, telfon Arya. Bilang kita mau ke London sekarang juga. Tanya, dia mau ikut apa engga?—“


“Iya, Pa..”


“Apa perlu kita ajak Kaka, Pa?”


“Tanya dulu sama Dad R atau siapa Pa. Boleh ga kita ajak Kak Kaf ke sana?..”


“Ya udah. Papa hubungi mereka dulu buat nanya.”


“Berarti tunggu dulu telfon Aryanya, Son. Tunggu sampai Papa dapet jawaban. Kalo emang boleh kita ajak Kaka, Tante Magda dan Lena, kan Arya sedang ke sana. Biar sekalian bareng Arya ke sini dulu, baru kita berangkat sama-sama..”


“Iya, Ma—“


---


“Woy Ar!—“


“SON! LO KE RS SEKARANG!”


“RS MANA?! KENAPA?—“


“KAK KAF MOTONG NADINYA INI!!—“


“HAH?!”


---


“Kamu coba hubungi Jo, Papa coba hubungi John...”


“Iya, Pa...”


---


“Gimana Son?!”


“HP Jo ga aktif. Coba Via juga sama. Ini lagi coba hubungi Abang...”


“Nomor John juga sibuk, yang lain ga aktif—“


“Langsung hubungi Great Mansion aja coba, Pa. Seburuk-buruknya apa yang udah Kaka lakukan pada Val, mereka ga mungkin masa bodoh dengan berita soal Kaka ini. Ya Allah... kenapa nasib Val dan Kaka setragis ini???—“


♦♦♦


Di sebuah rumah sakit, beberapa jam kemudian...


“Eugh—“


“Setelah apa yang lo lakukan pada adik gue, setidaknya gue bersyukur kalau dia ga jadi dengan seorang pengecut macam lo.”


“Alva—“


“Kayaknya lo ga niat mati, karena irisan lo kurang tajam di nadi lo itu—“


“Kenapa ga lo pastikan, kalau nadi gue bener-bener putus sekarang?—“


“Lo yakin dengan permintaan lo itu, Kafeel Adiwangsa?.. karena seperti yang lo tau dan masih ingat, kalau gue selalu membawa pisau favorit gue... Dan sejak Val hancur karena lo, betapa besar keinginan gue untuk menghabisi lo.”


“Yakin.”


♦♦♦♦♦♦

__ADS_1


To be continue......


__ADS_2