
Terima kasih masih setia
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Hai-hai, terima kasih untuk kalean yang masih teteup setia baca.
Semoga selalu suka...
Mohon Supportnya juga untuk karya ini.
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading yah....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
“Ayo Kak!” Val mengajak Achiel dengan bersemangat.
“Kemana Nona?” tanya Achiel. “Pulang?...” sambung Achiel yang bertanya pada Val
“Bukan,” jawab Val.
“Ke Mal?” tanya Achiel lagi dan Val langsung menggeleng.
“Temani aku mencari orang yang bisa ilmu yang bisa membuat orang jatuh cinta itu...” kata Val.
“Nona Muda Valera,” tukas Achiel.
“Hem?” sahut Val. “Kak Achiel pasti tahu kan tempatnya? Kak Achiel kan orang Indonesia asli. Kan? Kan?”
“Pertama, saya ga percaya sama gitu-gituan, walaupun saya orang Indonesia asli. Kedua, saya ga tahu juga tempat-tempat seperti itu.”
Achiel menekankan.
“Gimana sih Kak Achiel! Masa-----“
“Ketiga, Nona Muda orang beragama kan?” potong Achiel.
“Ya iya tentu saja dong Val orang beragama!”
“Kalau memang Nona adalah orang yang beragama, seharusnya Nona tidak percaya akan hal-hal semacam itu.”
Achiel berucap.
“Itu kan menduakan Tuhan namanya Nona.”
Achiel kembali berucap. Val pun menghela nafasnya sedikit berat.
“Iya sih, Kak.”
Val kembali melangkahkan kakinya menyusuri tepian pantai.
“Habis Val sudah takut akan hasil yang akan Val dengar dari mulut Kak Kafeel, jika Val jadi bertanya tentang perasaan Kak Kafeel ke Val....”
“Saran saya Nona, sebelum Nona bertanya pada Tuan Kafeel untuk hal yang mau anda tanyakan padanya, ya lebih baik Nona persiapkan dulu diri dan hati Nona sebelum bertanya pada Tuan Kafeel...”
Achiel berkomentar.
“Jadi, seandainya jawaban Tuan Kafeel mengecewakan Nona ----“
“Ih, Kak Achiel jangan menyumpahi dong!”
Val memotong ucapan Achiel, lalu merungut.
“Saya bukan menyumpahi Nona, saya hanya memberikan gambaran dan sedikit saran aja....”
“Ya sudah teruskan....” ujar Val pada Achiel.
“Teruskan apa Nona?”
“Teruskan hal yang tadi Kak Achiel ingin sampaikan ke Val....”
“Oh itu....”
“Jadi, seandainya jawaban Kak Kafeel mengecewakan Val, apa yang harus Val lakukan?“
“Ya Nona harus berlapang dada menerimanya....”
“.........”
“Kan cinta itu tidak bisa dipaksakan Nona?.... Selain itu Nona harus kuat jika kenyataan tidak sesuai dengan harapan Nona....”
Val mendengarkan dengan serius setiap ucapan dari bodyguard khususnya itu. Sembari ia menelaah setiap kata-kata yang keluar dari mulut Achiel.
“Kalau menurut Kak Achiel sikap Val ke Kak Kafeel apa berlebihan?. Apa Val terlalu memaksakan?. Terkesan murahan?” kata Val seraya bertanya.
“Eeummm---“ Achiel menggumam.
“Tidak apa-apa Kak Achiel bicara jujur saja. Val tidak akan marah kok....”
Val menukas, karena melihat Achiel nampak ragu-ragu untuk menjawab.
“Val kesini kan ingin mencari pencerahan, nah Kak Achiel kan ada disini sama Val, dan lebih dewasa dari Val. meskipun Kak Achiel belum laku-laku---“
“Saya bukannya belum laku-laku Nona ----“
Achiel memotong ucapan Val.
‘Enak aja gue dibilang belum laku-laku. Cewe yang ngantri mah banyak!. Kalo gue mau pacar gue banyak sekarang!’
Batin Achiel yang tak terima.
‘Suka asal banget ini majikan satu kalo ngomong!’
Achiel Menggerutu sedikit.
Tetap hanya di dalam hati Achiel saja.
“Saya bukannya belum laku-laku Nona, memang saya yang belum ingin pacaran. Seperti yang Nona Muda bilang tadi, belum ada yang sreg.“ Achiel meralat ucapan Val yang mengatakan dirinya belum laku-laku.
“Iya, Iya....” tukas Val. “Jadi bagaimana, menurut Kak Achiel sikap Val pada Kak Kafeel seperti apa?. Murahan kan?”
“Murahan sih tidak Nona, tapi sedikit berlebihan, iya.”
“Dimana letak berlebihannya?. Sikap Val pada Kak Kafeel?....”
“Ya Nona kan sering gelendotan ---“
“Gelendotan?....”
Val tak paham satu kata itu.
“Gelayutan Nona.”
Val manggut-manggut dengan bibirnya yang membentuk huruf ‘O’.
“Ya sudah teruskan....”
“Nona kan selalu bergelayutan pada Tuan Kafeel setiap kali Nona menemuinya. Dan kalau menurut saya ya itu berlebihan....”
“Tapi kan Val hanya bergelayut saja, tidak sekalian mengecupi pipi atau bibir Kak Kafeel?....” sergah Val.
“Iya tapi Nona tidak sedetikpun melepaskan tangan Nona yang menggelayuti Tuan Kafeel sampai kalian berpisah.”
“Jadi menurut Kak Achiel itu hal yang memalukan bagi Kak Kafeel?....” tanya Val kemudian.
“Ya kalau masalah itu memalukan bagi Tuan Kafeel sih, itu saya tidak tahu Nona. Tapi yang jelas kurang sedap dipandang aja kalau Nona bersikap seperti itu pada seorang pria. Malahan Nona nanti yang dicibir orang-orang. Bisa aja mereka yang melihat sikap Nona yang seperti itu pada Tuan Kafeel menciptakan pikiran jelek orang-orang terhadap Nona sendiri.”
Val memperhatikan Achiel dan ucapannya. “Val begitu menyedihkan berarti ya? ....” gumam Val.
“Tidak Nona, anda tidak menyedihkan ....”
Achiel menyela, karena ia mendengar gumaman Val.
“Anda hanya terlalu bersemangat mengejar cinta Tuan Kafeel, Nona Muda.”
Val tersenyum getir.
“Ucapan Kak Achiel itu sama dengan ucapan para saudara-saudari Val ....”
“.........”
“Wanita yang seperti tidak ada harga dirinya ya, sampai mengejar laki-laki seperti yang selama ini Val lakukan pada Kak Kafeel ....” lirih Val.
__ADS_1
Val membalikkan badannya ke arah hamparan air di bawah cakrawala.
Untung saja cuaca tidak terlalu terik. Karena jika tidak, bisa-bisa kulit mulus Val yang bak pualam itu akan tersengat panasnya matahari pantai, meskipun dirinya telah memakai sebuah hat visor yang sempat dibelinya tadi.
“Nona jangan berpikir seperti itu ---“
“Memang seperti itu kan Kak, kenyataannya ....” potong Val. “Setidaknya kalau para saudara dan saudari Val berkata seperti itu, orang diluar pasti akan menganggap aku gadis yang terlewat centil dan tidak tahu malu ....”
“Saya rasa para saudara dan saudari Nona tidak ada maksud sama sekali membuat Nona merasa buruk.“
“Memang tidak, Kak ....”
Val menukas.
“Mereka sangat menyayangi Val. Aku tahu pasti soal itu. Keluargaku memang selalu bicara apa adanya. Dan Val paham, semua yang mereka katakan itu adalah untuk kebaikanku sendiri. Ya para saudara-saudari Val, The Dads and Moms juga ....”
Pandangan Val masih terarah pada lautan yang terhampar di pandangan matanya.
“Val yang seringnya keras kepala .... Menutup mata dan telinga jika mereka mempersoalkan sikapku pada Kak Kafeel ....”
“.........”
“Habis bagaimana? Val sangat mencintai Kak Kafeel dan Val ingin menunjukkan itu padanya. Berharap Kak Kafeel akan memahami perasaan Val dan menyambut cinta Val ....”
Val terdiam sejenak.
“Maaf Nona Muda ....” cetus Achiel.
“Kenapa, Kak?” Val pun menoleh ke arah bodyguard khususnya itu.
“Nona Valera yakin kalau yang Nona rasa pada Tuan Kafeel itu cinta? ....” tanya Achiel.
Val langsung mengangguk dengan tersenyum. “Yakin, Kak.”
“Bukan obsesi? ....” tanya Achiel lagi.
“Bukan, Kak. Perasaan Val ke Kak Kafeel ini murni rasa cinta, bukan sebuah obsesi ....”
Val berkata yakin.
“Val rela menunggu Kak Kafeel mengatakan cinta pada Val sampai kapanpun ....”
Tersungging senyuman di sudut bibir Val.
“Kalau obsesi Val akan menghalalkan segala cara untuk membuat Kak Kafeel jadi milik Val kan?. Termasuk itu tadi ilmu peyek ---“
“Pelet, Nona ....” ralat Achiel cepat.
“Iya, itu ....” tukas Val.
“.........”
“Val cinta pada Kak Kafeel. Bukan obsesi. Karena jika sebuah obsesi, Val tidak akan bertahan di London kan?. Val akan dengan mudah saja kalau mau masuk ke apartemennya Kak Kafeel, meskipun tanpa ijinnya. Iya kan, Kak?”
“Iya Nona.”
“Hati Val selalu bergetar, meskipun hanya mengingat Kak Kafeel, tanpa bertemu. Kalau Kak Kafeel menghubungi Val saat kami berjauhan, rasa ada kupu-kupu yang beterbangan di perut dan hati Val. Melihat foto Kak Kafeel saja, bibir Val akan otomatis tersenyum ....”
Dan bibir Val pun mengukir senyuman. Namun sebentar saja.
“Makanya Val takut untuk bertanya dengan serius pada Kak Kafeel mengenai perasaannya pada Val. Val takut, jika jawaban Kak Kafeel adalah hal yang Val tidak ingin dengar .... Val tidak hanya akan bersedih, tapi mungkin Val akan mati ....”
“Jangan bicara seperti itu Nona .... ga baik.”
Achiel menyela.
“Kita boleh merasa sedih, kecewa dan sakit hati. Tapi jangan sampai hal itu menguasai kita....”
Val kini kembali menghadapkan dirinya pada Achiel.
“Nona Valera cantik, kaya lagi. Sayang Nona, kalau disia-siakan karena terpuruk andai cinta Nona tidak bersambut.”
“Tapi Val memang sepertinya tidak bisa kalau harus melepaskan Kak Kafeel, Kak Achiel. Harapan Val sudah terlalu tinggi. Val ingin hidup bersama Kak Kafeel.”
“Ada saat untuk berharap, dan ada saat untuk berhenti. Ada masa untuk memperjuangkan, tapi juga ada masa untuk mengikhlaskan, Nona.”
Achiel berbicara sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya, sehubungan dengan curhatan Nona Mudanya ini. Kalimatnya yang barusan, Achiel ucapkan dengan lugas.
Val memang memperhatikan ucapan Achiel tersebut.
Tapi sesaat kemudian alis Achiel terangkat satu. Ekspresi wajah Val membuat Achiel sedikit keheranan.
Val nampak tertegun memandang pada Achiel.
Namun didetik berikutnya...
“Aaa Kak Achiel!!!!...”
Tiba-tiba saja Val melompat sekali macam kelinci tepat dihadapannya.
Sampai Achiel sedikit kaget dibuatnya, dan spontan bergerak mundur beberapa senti dari tempatnya berdiri.
“Keren sekali kata-katanya itu tadi!!!...” seru Val dengan tersenyum lebar pada bodyguard khususnya itu.
“Eeumm Nona...”
Achiel bersuara.
Pelan, nampak kikuk.
“Sumpah, Val benar-benar takjub dengan kata-kata Kak Achiel itu!”
Val nampak sumringah, tak lagi sendu.
Senang sih Achiel melihat Nona Mudanya kembali memasang tampang ceria.
Hanya saja, Achiel sedikit merasa kurang nyaman, sekaligus agak merasa nyeri di bagian wajahnya.
Pasalnya sang Nona Muda yang tadi sempat nampak galau dan sendu, lalu tertegun kini sedang mencubit dua pipinya dengan gemas, seperti sedang gemas pada dua ponakan sang Nona Muda.
“Jomblo tua suka menggemaskan yah?!” seru Val sesuka hatinya.
Masih mencubit gemas pipi Achiel yang juga Val goyang-goyangkan ke kanan dan ke kiri. Mau Achiel hentikan, tapi sungkan.
Karena pasti Achiel akan memegang tangan sang Nona Muda. Dan Achiel tidak mau kalau sampai dibilang hendak berlaku kurang ajar.
Jadi Achiel memilih pasrah saja dengan perlakuan sang Nona Muda yang sedang menganiaya pipinya itu.
Sementara sang Nona Muda juga masih asik saja menganiaya pipi Achiel seraya tersenyum lebar.
“Val!”
Sebuah suara bariton membuat Val dan Achiel spontan menoleh ke arah sumber suara secara bersamaan.
‘Waduh!’
Achiel yang terkejut spontan berseru dalam hatinya saat kemunculan seseorang dengan suara bariton tersebut.
♥♥
Mundur cantik dikit...
R Corp, Jakarta, Indonesia...
“Abang, Kak Drea, Val ga mampir lagi ke dalam yah?” ( Val )
“Kau tidak ingin bertemu lagi dengan Kak Kafeelmu itu?” ( Varen )
“Engga deh...” ( Val )
♥♥
“Val pamit yah Abang, Kak Drea?”
♥♥
Ruang kerja pribadi Varen...
“Sorry Boss, bikin kalian jadi nunda keberangkatan buat honey moon yang entah keberapa...”
Seorang pria bersuara bariton masuk ke dalam ruang kerja pribadi Varen tersebut, tak lama setelah si empunya beserta istri tercintanya masuk ke dalam ruangan tersebut.
Varen mendengus geli mendengar celotehan pria yang baru saja memasuki ruangannya tersebut, dengan membawa sebuah map odner di tangannya.
__ADS_1
“Sorry ya Drea...” ucap pria itu lagi dengan menampakkan senyumnya pada orang yang kini ia ajak bicara.
“Santai Kak Kafeel...” sahut Drea yang sebelumnya sempat tersenyum geli karena celotehan Kafeel pada Varen.
“Sebentar aja kok.”
Kafeel berucap sembari memberikan map odner yang tadi ia pegang pada Varen dan berdiri disisi Varen yang sedang mengecek beberapa berkas dalam map odner yang diberikan Kafeel padanya itu.
Kafeel celingukan kemudian.
“Eh, ngomong-ngomong Val mana?... ke toilet?...” tanya Kafeel karena menyadari satu orang yang seharusnya ada bersama dua orang dalam ruangan Varen itu tidak ia lihat. “Dia jadi ikut kalian lunch, atau langsung balik?...”
“Val ikut kami makan siang, Kak.”
Andrea yang menjawab.
“Lalu Val nya mana sekarang?...”
“Ga mampir lagi kesini setelah makan siang sama gue dan Drea...” Varen yang menjawab.
“Yah.” Kesah Kafeel.
“Nah elo, mengacuhkan dia.”
Varen berucap dengan matanya yang tetap fokus pada berkas yang sedang ia periksa itu. Kafeel meringis kecil.
“Ya bukan gitu... gue ga ada maksud cuekin Val. Gue sudah turun perintah ke anak-anak IT buat meeting habis kita meeting sama pihak Qusad. Itu aja udah terjeda, karena ternyata si Rara kerja disana dan ngobrol bentar sama dia. Kalau gue batalkan atau tunda, ga ribet urusan?...”
“Derita lo itu sih...” celetuk Varen.
“Iya derita gue, lo pembuatnya!” tukas Kafeel.
“So what...” ucap Varen enteng.
“Itu program yang baru lo buat, anak IT disini susah sampainya. Jadi gue harus terjun langsung untuk mengajari mereka. Maksud gue juga buru-buru menyelesaikan itu meeting sama mengajari anak-anak IT tentang itu program, supaya gue cepat punya waktu free untuk Val.”
“Lalu, sudah paham mereka?...”
“Sudah. sudah tiga kali gue ajarkan, kalau masih susah sampai, mending pecat aja!”
“Ih, Kak Kafeel, kasihan tau kalau sampai mereka dipecat...” celetuk Andrea.
“Ya mau gimana dong, dalam profesionalitas tidak ada rasa kasihan. Semua sama rata.” ucap Kafeel.
“Pintar!”
Varen berucap.
“Nih!” sembari menyodorkan map odner yang isinya telah Varen periksa.
“Sudah okay, atau ada yang perlu direvisi?”
Kafeel bertanya pada Varen seraya menerima map odner yang disodorkan Varen padanya.
“Okay!” jawab Varen yang sudah berdiri dari kursi kebesarannya.
“Ya sudah, nanti gue minta Syifa rapihkan ini berkas dan copynya gue suruh berikan ke Har.”
Kafeel berbicara dan Varen mengangguk.
“Gue sama Drea berangkat dulu ya?...”
Varen yang telah menggandeng Drea itu berpamitan pada Kafeel.
“Have a great time both of you! ( Selamat menikmati waktu kalian! )”
“Thanks...” sahut Varen dan Drea bersamaan.
“Eh iya, ngomong-ngomong, Val langsung balik ke kediaman atau dia ada bilang mau pergi kemana?”
Kafeel menyergah untuk bertanya pada dua orang yang sedang berjalan ke arah pintu ruang kerja pribadi Varen.
“Antara balik ke kediaman atau menyusul Via dan Mika ke JSC.”
Varen yang menyahut.
“Okay then.”
“Tinggal lo hubungi aja Val langsung, atau lo detect tracker ponselnya.”
Varen telah berada di ambang pintu dan Kafeel berada di belakangnya.
“Siap Boss!”
Kafeel meletakkan tangannya di kening dengan gaya hormatnya pada Varen.
“Yuk, Kak Kafeel...”
Drea berpamitan saat Varen menggandengnya untuk masuk ke dalam lift dan naik menuju puncak gedung dimana sebuah helikopter yang akan ditumpangi keduanya telah terparkir disana.
Kafeel pun melambaikan tangannya pada Drea, yang lebih dulu melambai padanya seraya berpamitan.
Kafeel segera meraih ponselnya untuk menghubungi Val.
‘Eh lihat tracker saja deh. Biar gue kasih kejutan sama si cantik yang sedang ngambek ini.’
Kafeel membuka aplikasi program untuk melacak keberadaan Val.
Dan didetik berikutnya, Kafeel mengernyit.
‘Ancol?...’
Kafeel membatin sembari melihat aplikasi tracker buatan Varen yang lebih inovatif daripada aplikasi tracker umum yang sudah ada.
‘Dengan Via dan Mika?...’ batin Kafeel yang mulai fokus dengan program yang sedang ia lihat dan periksa itu.
Kafeel mengernyit lagi.
‘Kalau sedang bersama Via dan Mika, seharusnya sinyal ponsel mereka berada dekat Val. Tapi kenapa hanya ponselnya Achiel dan Adri saja yang terdeteksi didekat Val?’
Kafeel menutup aplikasi tracker yang barusan dia buka, lalu melakukan panggilan telepon.
“Ngambek beneran ini kayaknya karena gue abaikan sampai telepon gue ga mau Val terima...”
Kafeel yang sudah berada dalam mobilnya itu menggumam.
“Ini si Achiel kenapa juga ga terima panggilan gue?... Apa disuruh Val untuk tidak menerima telepon gue?”
Kafeel masih menggumam.
“Adri, kalian dimana?”
Kafeel segera bicara saat ia menghubungi nomor kontak supir yang bersama Val tersebut.
“Saya di Ancol, Tuan Kafeel. Menemani Nona Muda Valera yang minta diantar kesini...”
“Apa Nona Valera ada dekat kamu?” tanya Kafeel.
“Nona Muda Valera sedang jalan-jalan di pantai restoran yang biasa disewa sama para Tuan dan Nyonya kalau sedang ada acara disini, Tuan Kafeel....”
“Oh, ya sudah. Siapa yang menemani Nona Valera?”
“Achiel, Tuan. Mahen dan Tata sudah disuruh kembali ke kediaman oleh Nona Muda Valera dari sejak di kantor Tuan Reno tadi...”
“Hmm... Kenapa kamu ga ikut? ...”
“Ga diajak sama Nona Muda Valera, Tuan. Katanya pengen berdua aja sama Achiel ----“
“Apa katamu?!”
♥♥♥♥
To be continue...
Ma acih buat kalian para reader blaem-blaem kesayangan emak yang masih setia...
I loph yuh sekebon toge.
***Bisa jadi sekebon raya, kalo dikasih supply support, jempol, like, komen ama vote dah.
Loph Loph,
__ADS_1
Emaknya Queen.