
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
Jangan lupa dukungannya.
Baca dulu tapi episodenya, okeh?
Tenkyu
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia....
Suasana mengharu biru tercipta di momen saat seluruh anggota keluarga The Adjieran Smith yang berada di kediaman mereka di Jakarta itu merencanakan dengan spontan sebuah penghiburan untuk Val.
Yang mungkin tidak dapat menghapus kesedihan Val dengan segera, namun cetusan melakukan sesuatu untuk menghibur Val itu---adalah sebuah bentuk usaha penyampaian perasaan, dari mereka yang menyayangi Val.
Hanya sebuah kalimat-kalimat menyentuh dari sebuah lagu yang dinyanyikan bersahutan oleh para anggota keluarga Val yang berada di kediaman mereka di Jakarta.
Namun begitu, penghiburan sederhana itu mampu membuat Val mengharu biru.
“Dad, dyy---“
“We love you, Baby”
Dad R berbisik pada Val yang memeluk erat dirinya dan meluruh tersedu.
“Sangat.”
Lalu satu per satu, para anggota keluarga yang sedang berkumpul itu mendekati dan memeluk Val setelah Dad R mengurai pelukan Val darinya sambil menghapusi air mata putri kandungnya itu.
Memeluk, mengelusi kepala, mengecup kening Val sambil membisikkan kalimat dukungan yang diharap dapat menenangkan hati Val.
Walau mungkin tidak dapat mengobati hati Val yang sedang cedera. Tak apa, begini saja rasanya sudah cukup bagi mereka yang tak lagi melihat Val diam mematung atau bahkan tiba-tiba histeris akibat kekecewaan hebat dalam hatinya pada Kafeel.
Iya, untuk saat ini, begini saja sudah cukup.
Dengan Val yang hatinya sedang patah itu, menyadari---jika ada keluarganya yang tidak akan pernah pergi, tidak akan pernah menyakiti.
Mengutip kalimat dari seorang bijak bernama Jalaludin Rumi,
“***Jangan bersedih. Apa yang hilang darimu\, akan kembali dalam bentuk yang berbeda.***”
♥♥♥
Setelah penghiburan dari para anggota keluarganya, Val kemudian memohon untuk undur diri lagi karena ingin kembali ke dalam kamar pribadinya.
“Janji, Val tidak akan memecahkan barang-barang lagi.... Val tidak akan menangis meraung lagi....”
Begitu janji Val pada keluarganya yang sudah dapat tersenyum lega, walau tidak sepenuhnya kelegaan itu mereka punya.
“Dan janji kamu harus makan ya, Val?....”
Ann berkata, dan Val pun mengangguk.
Dengan Val menampakkan seutas senyuman yang mengantarkan lagi kelegaan di hati para anggota keluarganya.
“Kalau Kak Val malas turun untuk makan malam, kasih tau Aina aja ya? Nanti Aina yang bawain makanan Kak Val ke kamar. Nanti Aina makan bareng sama Kak Val sekalian.”
♥♥♥
Val mengangguk dan tersenyum setelah mendengar ucapan tulus salah satu pewaris muda yang masuk hitungan sebagai adiknya Val. “Val, ingin makan malam bersama kalian nanti, boleh?...” ucap Val kemudian, sambil memandangi seluruh keluarganya yang lain---yang masih bersama Val itu.
Begitulah, kiranya tidak ada usahan yang membuahkan hasil. Hasil yang bagaimana yang akan didapat memang itu berdasar takdir.
Namun setiap usaha untuk sebuah kebaikan akan menuai hasil yang sama, bukan?
Yang diperlukan hanya kesabaran, karena hasil dari usaha biasanya tidak instan. Tak apa, yang penting usahanya tetap terus dilanjutkan hingga hasil yang diinginkan dapat tercapai---selain berdoa.
♥♥♥
Doa agar Val yang dulu dan selayaknya Val yang biasa---ceria, ‘berisik’ bahkan, dapat kembali seutuhnya.
Meski mungkin, butuh waktu lama.
Sekali lagi tak apa.
Setidaknya, usaha mereka---yang para anggota Val katakan dalam hati mereka, Val sudah mau bicara. Tak lagi terdiam bak patung tanpa jiwa.
♥♥♥
“Val, ingin makan malam bersama kalian nanti, boleh?...”
Jadi saat Val bicara seperti itu saja, seluruh keluarganya tersenyum sangat lebar.
“Kau ini amnesia atau apa?” Yang pertanyaan Val itu langsung ditanggapi oleh Poppa. “Kami ini keluargamu,” kata Poppa lagi. “Mana ada orang meminta ijin untuk makan bersama keluarganya, yang notabene memang kita sudah seharusnya selalu makan bersama.”
Val mengulum senyuman tipis, setelah Poppa selesai berbicara dan memencet gemas hidungnya. Yang kemudian Val undur diri dari Poppa dan semua.
♥♥♥
Val berpamitan dengan menunjukkan senyumannya pada para keluarganya, yang meski samar saja---saat ia hendak kembali ke dalam kamar pribadinya.
Namun saat Val telah sampai ke dalam kamar pribadinya yang telah dirapihkan itu, bahkan beberapa bagian dindingnya nampak kosong---senyum Val memudar.
“Setega itu Kakak pada Val...” Val bersuara, seolah sedang bicara pada seseorang. Lalu air matanya jatuh lagi, seiring rintik hujan yang perlahan mulai turun di luar jendela kamar Val.
Hujan...
Mungkin tak pernah tahu ia membasahi apa.
Tapi airmata Val?...
Airmata Val tahu, ia jatuh untuk siapa.
Orang yang gambarnya masih terpasang apik di sebuah figura---yang tidak ikut menjadi ‘korban’ kehisterisan Val.
Masih di tempatnya---selain dari figura-figura yang memajang foto Val yang sendirian, atau bersama keluarga besarnya.
Dan figura yang sedang Val pegang, adalah figura yang terpasang gambar diri dari subjek yang sama---yang terpasang dalam figura yang tadi Val pecahkan.
Ada yang sendirian, ada juga yang bersama dengan Val. Yang sedang Val perhatikan satu diantaranya---figura foto yang membingkai gambar diri Kafeel.
Val ambil salah satunya.
Val perhatikan lamat-lamat, dengan tenggorokan yang tercekat kuat, dengan airmata yang kembali deras tersemat.
Figura yang barusan Val angkat dan perhatikan itu kemudian ia dekap dengan kuat.
Lalu lirihan di sela isakan pun terdengar. “Hati Val, sakit sekali... Kak---“
♥♥♥
“Yang lalu biar berlalu ya, Val?”
Dimana ucapan itu diangguki dan disenyumi saja oleh Val.
Val memegang janjinya, untuk tidak akan memecahkan barang-barang serta juga tidak akan menangis meraung lagi.
Hanya saja saat sendirian---rasa sakit di hati Val, ia rasakan menjalar dengan begitu menyiksanya.
Seiring Val teringat pada potongan-potongan kenangan yang penuh tawa dengan sang pemilik hatinya, namun kini malah membuat hati Val teremat kuat rasanya.
Terasa begitu sakit.
__ADS_1
“Allah ga akan kasih cobaan diluar batas kesabaran hambanya, sayang,”
Dan ucapan dari salah seorang Nenek Val itu sedikit membuat Val berhenti merasakan goresan luka di dalam hatinya, yang kembali ucapan untuk membesarkan hatinya itu diangguki dan disenyumi saja oleh Val.
“Iya, Nek...” jawab Val pelan.
Namun hatinya melirih, perih yang teramat kembali Val rasakan menjalar.
‘Tapi ini sudah jauh di atas batas kemampuan Val, Nek... Sakitnya tidak hilang – hilang... Val... Tak tahan...’
Hanya tidak Val tunjukkan, perih yang lebih terbilang pada sakit yang hebat dalam hatinya---kepada para keluarganya yang sudah berkumpul tanpa terkecuali itu, kecuali yang berada di London.
“Rejeki... maut... sama jodoh itu... udeh ada takdirnya, Val... udeh diatur sama yang Di Atas. Kite cuma tinggal terima aje... Kalo sakit, didoain aje hatinya... Biar die sabar, sampe sakitnye ilang...” tutur salah seorang kakek Val yang sudah juga berada di kediaman, akibat menurut yang bersangkutan dimana ia tiba-tiba datang bersama sang istri tanpa pemberitahuan---adalah atas dasar hatinya merasa tak tenang, kepikiran maunya dateng aje ke kediaman The Adjieran.
Begitu, katenye die pade.
Ake Herman dan Ene Bela.
Yang menangis tersedu-sedu ketika mereka datang, setelah fakta yang menyesakkan tentang Val mereka dengar ceritanya.
Miris, sedih, kesel juga sama si Kapel.
Tapi ya itu---atas dasar tetua, Ake Herman dan Ene Bela harus bijak adanya, seperti juga Nenek Yuna.
Sebagaimana juga Gappa, Gamma dan Oma Anye.
Dimana kurang lebih pendapat para tetua itu sama, yakni,
“Mau sesakit apapun kenyataan, tapi yakin, akan ada hikmah disetiap kejadian. Tuhan ga kasih cobaan diluar kemampuan, namun insan juga memang dituntut untuk bersabar. Jika kiranya tidak ada yang bisa dilakukan, pasrah---memang satu-satunya pilihan. Namun doa dan usaha jangan dihentikan jika ingin perubahan, sisanya, serahkan pada Tuhan---“
( Bukan begitu sodara-sodari? )...
♥♥♥
“Jadi Val sabar ye?” kata Ake Herman lagi, dimana tubuh tuanya itu sedang dipeluk oleh Val.
Dan Ake Herman yang duduk mengapit Val bersama Ene Bela itu mengusap lembut kepala serta surai Val, dimana kemudian Val ia rengkuh dengan sayang.
“Sama gimane ke Abang sampai ke si Ares, Ake sama Ene sayaang banget sama Val---“
“Iye, makanya tadi denger cerita Val begini begono, Ake nyesek. Noh si Ene ampe kejer---“
“Maafkan Val... Maaf, pada kalian semua juga... Karena Val, kalian jadi bersusah hati---“
“Tuh si Papah si ah! Jadi nangis lagi kan tuh si Val. Cep cep cucu Ene. Sabar ye sayaang. Val ga salah, jadi ga perlu minta maaf. Kan kita keluarga?... Jadi yang namanye keluarga, kalo ada satu yang susah, yang laen juga otomatis ngerasa susah...” tutur Ene Bela. “Kenape cabe?...”
“Coba!”
Suara meralat kemudian terdengar.
“Iye itu maksudnya. Kepeleset lidah Mamah...”
“Iye maklum nini-nini namanya juga... jadi suka ketelisut lidahnya...”
Lalu Mami Prita menimpali ucapan ngelesnya Ene Bela.
Interaksi yang membuat rasa geli muncul di perut mereka yang melihatnya, jika itu Keluarga Cemara sudah mulai melempar canda.
“Pokoknya Val yang sabar, ye?” lanjut Ene Bela.
“Iya, Nek...” sahut Val pelan yang tadi juga sempat ikut tersenyum geli akibat tingkah salah satu neneknya yang sering bertingkah lucu itu.
“Nah gitu, senyum...” tukas Ene Bela, yang kemudian menarik lembut tubuh Val yang sedang memeluk Ake Herman itu. “Sini, peluk Ene aje. Ake bau ketek...”
♥♥♥
Hangat,
Interaksi keluarganya itu Val rasa.
Candaan para keluarganya itu, menjadi penghibur yang sementara saja.
Kadang suka ketinggalan, karena pikirannya tahu-tahu melanglang buana---memikirkan dia gerangan yang sudah begitu dalam menyakiti hatinya.
Nasehat pun masih ada juga yang tak Val perhatikan, karena---ya itu, pikirannya tahu-tahu terbang begitu saja. Yang membuat Val nampak bengong, memandang kosong.
“Val, berenang yuk?” ajak Isha, namun tidak langsung mendapatkan jawaban dari mulut Val. “Berenang...”
Isha kembali berucap pada Val yang nampak sedikit linglung akibat sempat melamun. “Oh,” baru Val menyahut setelah Isha mengulang ajakannya.
Yang kemudian berdiri dari tempatnya, saat para orang tua dan tetua yang ada mengatakan pada Val untuk mengikuti ajakan Isha, dimana ajakan itu juga cetusan ide dari para saudara-saudari Val yang lain.
Val tak menolak ajakan itu. ia mengikuti langkah Isha dan Ann yang sudah melingkarkan tangan mereka di sisi kiri dan kanan lengan Val, untuk pergi ke area kolam renang kediaman. Setelah sebelumnya Val berpamitan pada orang tua dan tetua yang ada.
Melemparkan senyuman tipis juga, dimana senyuman Val yang walau tipis adanya itu---cukup sukses menularkan terciptanya banyak senyuman dari orang-orang yang sedang bersamanya itu.
Yang walau sedikit mereka merasa lega, melihat Val yang akan tetap mereka kawal agar benar-benar menghilang sedihnya---meski senyum Val tipis saja.
Tak mengapa, masih banyak waktu untuk membuat senyuman sangat tipis Val menjadi kembali lebar.
Yah waktu.
Yang akan dihitung tiap detiknya berlalu.
Yang akan difokuskan tiap detik itu untuk menghapus sembilu.
♥♥♥
“Kenapa diabaikan telfonnya Kak Arya, May?” tanya Val pada Mika, yang nampak membalik ponselnya hingga menjadi telungkup di atas meja yang berada di pinggir kolam renang.
Meski Mika menyetel ponselnya ke mode diam, namun Val sempat melihat jika ada panggilan dari Arya yang masuk ke ponsel salah seorang saudarinya itu saat layar ponsel Mika menyala.
“Ga apa, Val---“
“I’m okay, May,” ucap Val pelan. “Tidak perlu merasa tidak enak padaku karena kamu menerima telefonnya Kak Arya...”
“Nanti aku akan menghubungi Arya balik setelah kita selesai disini, Val...”
“May...”
Val menyentuh lengan Mika.
“Terima saja, May. Jangan merusak kebahagiaan kamu, karena kebahagiaanku yang sudah cacat, May...”
♥♥♥
“Hai, Ar---“
“Hey,” sapaan sumringah menyambut Mika dari ujung ponsel yang tertempel di telinga satu dara itu, ketika Mika mengikuti ucapan Val yang memintanya untuk menerima panggilan dari Arya itu.
Dimana panggilan yang masuk dari Arya itu adalah panggilan video.
“Sibuk yah?...” tanya Arya dengan tersenyum manis pada Mika. Dimana Mika pun melempar senyum padanya.
Mika yang menerima panggilan Arya itu tidak lagi berada di samping Val, kala ia memutuskan untuk menerima panggilan video dari Arya tersebut.
“Engga kok---“
“Susah banget di telfonnya tapi?”
“Iya, sorry. Gue... lagi jarang pegang ponsel dari kemarin, Ar...” jawab Mika.
“Hmm.”
__ADS_1
“Lo lagi santai?”
Mika bertanya dengan sikap yang seperti biasanya pada Arya.
“Yap,” jawab Arya. “Ini hari libur gue---“
“Huum---“
“Eh Mi,”
“Ya?...”
Mika menyahut, sementara Arya nampak sedikit mengernyit.
“Lo, lagi di Jakarta?”
“Ah, i-iya...” pertanyaan Arya sedikit membuat Mika gugup.
“Kok tiba-tiba?---“
“Itu---“
“Ada masalah kah, Mi?”
“Eum, engga kok---“
“Tapi kok mendadak ada di Jakarta?---“
“Eum, itu---“
“Lo, habis nangis, Mi?” Arya bertanya.
Sambil Arya memperhatikan wajah Mika, setelah tadi ia sempat menelisik pemandangan di belakang tubuh Mika sekilas---namun Arya kiranya mengenali tempat dimana Mika berada sekarang, karena KUJ memang sangat familiar bagi Arya yang sering datang berkunjung ke sana.
‘For what happened ( Atas apa yang terjadi ).. Aku mohon, agar hanya keluarga kita saja yang tahu mengenai ini---Yang kumaksud hanya keluarga kita, ya hanya kita. Kalian yang sedang ada di hadapanku ini.’
“Ada apa, Mi?...”
“Ga ada apa...” jawab Mika, setelah ia teringat ucapan Dad R saat di London, di awal waktu Val mendapatkan ‘luka’ dari Kafeel.
“Tapi wajah lo sembab banget, Mi?---“
“Gue habis nonton film india aja ini. Terbawa suasana aja---“
“Tapi bukannya lo benci film india, Mi?...”
Mika meringis dalam hatinya.
“Yaa emaang...” sahut Mika.
“Tapi kok nonton?---“
“Yaa, karena semua pada berkumpul saat... Mami memutar itu film, jadi mau ga mau gue ikutan nonton juga---“
“Huum...”
Arya lalu manggut-manggut saja menerima penjelasan Mika yang mengulas senyumannya pada Arya.
Mika yang memang menjunjung tinggi para ayahnya, baik ayah kandung maupun ayah angkatnya itu memegang teguh janjinya pada Dad R yang meminta agar permasalahan Val, tidak keluar dulu dari lingkup keluarga mereka.
Dan itu yang Mika lakukan.
Jangankan memegang janji, berkorban pun akan Mika lakukan.
Semua demi rasa sayang antar saudara, selain Mika mencelos hatinya atas apa yang terjadi pada Val dan kisah cintanya yang berujung dengan Val hancur lebur hatinya.
Yang membuat Mika sedang dirundung dilema, dengan hubungannya bersama Arya.
Hati kecil Mika merasa, tidak benar rasanya jika ia berbahagia bersama Arya disaat Val sedang menanggung luka yang tidak Mika bisa bayangkan sakitnya.
♥♥♥
Lalu setelah kurang lebih satu bulan selepas hari itu ...
“You don’t have to do this ( Kamu ga harus melakukan ini ), May..”
Pada satu kesempatan, Mika berada di satu tempat.
Di dalam sebuah mobil tepatnya, setelah menghadapi momen yang sungguh menyesakkan dada Mika beberapa menit sebelumnya.
“Have to ( Harus ), Fel.. Have to..” jawab Mika, yang menanggapi ucapan seseorang dari tiga orang yang sedang menemaninya itu.
Felix dan Elena, sementara satunya adalah supir keluarga Mika.
“But, May... You’ve hurting your heart badly ( Tapi, May... Kamu menyakiti hati kamu sendiri dengan sangat )----“
“Val will be so mad to you because of this ( Val akan sangat marah sekali padamu karena ini ), May..”
“Then I’ll waiting ( Maka aku akan menunggu )..” Mika menanggapi ucapan dua orang kakak beradik yang sedang bersamanya itu. “I’ll be waiting Val come and pointed her finger to me. Scold me with her shrill voice ( Aku akan menunggu Val datang dan mengarahkan jarinya padaku. Memarahiku dengan suara cemprengnya )..”
Lalu Mika terkekeh.
Hanya saja kekehan Mika terdengar getir.
“But the question is.. will that happen??.. Can I, can we, hear her voice again ( Tapi pertanyaannya adalah.. Apa itu akan terjadi.. Apa aku bisa, kita bisa, mendengar suaranya lagi )?!..”
“We----“
“CAN WE ( BISA GA )?!”
Mika menyergah Elena yang hendak bersuara dengan memekik kencang.
Elena sontak terdiam.
Bukan karena tersinggung dengan pekikan Mika, namun karena Elena paham sebagaimana sang kakak yang memahami perasaan Mika sekarang.
“I just can’t ( Aku hanya tidak bisa )..”
Mika melirih serak.
Meluruh kemudian.
“When my sister choose.. to close her eyes for not feeling the pain in her heart.. and end her dream, how can I be happy on it ( Saat saudariku memilih untuk menutup matanya semata karena tidak mau merasakan sakit dalam hatinya dan menghentikan mimpi yang ia punya, bagaimana aku bisa berbahagia di atas itu )?..”
Lalu melirih lagi dengan suara yang sedikit tersendat, dimana Elena dan Felix juga ikut merasa tercekat.
“She has that dream before me.. and I don’t want to steal Val’s dream that was burried ( Dia memiliki mimpi itu lebih dulu sebelum aku.. dan aku tidak ingin mencuri mimpinya Val yang telah terkubur )----“
Tercekat.
Mika menghentikan ucapannya.
Selain karena juga ponselnya berdering dan Mika langsung terima panggilan telepon yang masuk ke ponselnya itu.
“Kembali ke kediaman Mas Bram.”
Lalu Mika berbicara pada orang yang bertugas menjadi supir saat ini---yang biasanya orang itu bekerja sebagai pengawal pribadi Mika sehari-harinya, dari dua pengawal pribadi yang Mika punya.
Setelah Mika selesai berbicara di ponselnya.
“Kita harus menyiapkan the green house yang akan ditanami tulip merah..”
🌷🌷🌷
__ADS_1
To be continue.....