HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
SEMOGA SAJA


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


London, Inggris ..


“Halo, Assalamu’alaikum. Apa kabar Mas Bro?” terdengar sebuah suara sapaan salam, dari seberang ponsel Varen yang sedang menghubungi nomor yang sudah menerima panggilan telepon selularnya itu.


“Wa’alaikumsalam Mas Sadboy,” jawab Varen setelah sempat ia mendengus geli sebelumnya.


“Ada kabar terbaru tentang Val yang bisa bikin Mas Sadboy ini jadi Mas Happyboy? ..”


Lalu orang yang Varen sedang hubungi itu bertanya selepas Varen menjawab salamnya, serta sempat orang tersebut terkekeh dengan jawaban Varen.


Dan Varen juga terkekeh kemudian setelah mendengar pertanyaan orang yang sedang dia hubungi, dimana pertanyaannya dibubuhi dengan kelakar.


♥♥♥


Setelah Varen terkekeh kecil, ia kemudian menyampaikan satu informasi kepada orang yang sedang Varen hubungi melalui sambungan telepon selular itu.


“Ka, hari ini kami sudah tiba di London.”


Dimana dia gerangan yang diberitahukan informasi tersebut oleh Varen, langsung saja menanggapi pemberitahuan Varen padanya barusan itu – Kafeel lah orang tersebut.


“Alhamdulillah .. Berarti kondisi fisik Val udah mulai kembali seperti semula, ya?”


“Iya, Val sudah sangat membaik. Dan Celine berikut Uncle Mario juga mengatakan jika getaran di pesawat tidak membahayakan untuknya.. Lagipula perjalanan dari Italy ke sini hanya sebentar saja.”


“Oh iya, ya. Cuma kurleb dua jam aja ya dari Italia ke London? ..”


“Hemm –“


“Lo bakal stay sama semua di London jadinya?”


♥♥♥


“Gue akan di sini dulu selama beberapa hari. Baru nanti kembali ke Jakarta bersama mereka yang berdomisili di sana. Tapi Val mungkin belum dapat diajak ke Jakarta. Karena selain dia merengek meminta untuk pergi berkuliah di kampus, perjalanan London – Jakarta cukup menyita waktu.“


Varen menjawab pertanyaan Kafeel. Dimana pria itu manggut – manggut di tempatnya, setelah mendengar jawaban Varen sebelum ia menanggapi jawaban Varen atas pertanyaan Kafeel sebelumnya. Disaat yang sama, Varen kembali berbicara pada Kafeel. Bertanya, tepatnya.


“Lo ada rencana mau datang ke sini dalam waktu dekat?“


“Kalau dalam waktu dekat mungkin engga, Va –“


“Ga kangen sama Val memang lo?”


“Pake nanya lagi gue kangen apa engga sama adik lo satu itu! Udah luber kangen gue!”


Lalu Varen terdengar terkekeh kecil selepas ia mendengar jawaban Kafeel atas pertanyaan isengnya.


“Yah, tapi gue sabar – sabarin dulu deh. Sambil nunggu Val inget lagi tentang dirinya, sambil gue merintis apa yang sedang gue rintis sekarang ini. Dan kalau udah rampung semua, gue ga akan menunda buat nemuin Val.”


“Hem, oke lah kalau begitu..”


Varen yang berujar, menanggapi ucapan Kafeel tersebut.


“Kalau dalam bulan – bulan ini ada rencana datang ke sini, kabari aja. Ada yang mau gue bahas juga sama lo –“


“Soal?”


“Ada lah. Nanti aja kalo kita ketemu muka gue bahas hal itu dengan lo –“


“Hm, ya udah kalo gitu,” tukas Kafeel dari seberang ponsel Varen. Dimana Varen juga langsung menimpali ucapan Kafeel.


“Ya sudah, gue hanya mau mengabari lo soal kami yang sudah kembali ke London hari ini.”


“Iya. Thanks banget, Va. Udah nyempetin buat ngabarin gue.”


“You welcome..“ jawab Varen atas ucapan terima kasih Kafeel.


“Titip tuh ya kesayangan gue tercinta. Jagain bener – bener –“


“Val adik gue kalo lo lupa. Ga perlu lo ingatkan gue untuk menjaga dia,” tukas Varen setelah sebelumnya ia berdecih geli mendengar ucapan Kafeel. “Yah, walaupun gue dan lainnya sempat lalai menjaga Val sampai tragedi itu terjadi. Ga usah baper lo. Males gue denger ucapan lo yang melow – melow itu,” tambah Varen.  “Lo mau titip salam untuk Val? -- Atau mau bicara sekalian?..“


Kembali Varen berkata pada Kafeel dengan sedikit keisengan.


Tanpa Varen sadari, jika orang yang barusan ia sebut namanya itu ada di belakangnya. “Siapa yang ingin titip salam untukku serta berbicara denganku, Abang?..“ Dimana dia gerangan – Val, langsung saja bertanya pada Varen dengan spontan.

__ADS_1


“Eh Val.“ Varen yang sontak terkesiap karena terkejut dengan keberadaan Val dengan juga bertanya padanya itu, sedikit menjadi gugup secara spontan – lalu hendak menjawab pertanyaan Val.


Namun sebelum itu terjadi,


“Eh, Val –“


“Hello, siapakah ini yang ingin bicara denganku?”


Varen dibuat terkejut lagi, karena Val sudah menyambar ponselnya begitu saja – dan langsung bicara.


‘Ah biar deh ah!..’


Varen lalu berkata dalam hatinya.


‘Paling engga bisa saling sapa dulu deh mereka.’


♥♥♥


Varen, sedikit banyak – selayaknya Dad R, memiliki rasa bersalahnya juga pada Kafeel. Dan tentunya, Varen ingin memperbaikinya.


Varen memang keras. Namun ia pun diajarkan untuk tidak ragu mengakui jika kiranya memang merasa memiliki kesalahan.


Lalu tak lupa juga untuk memperbaiki kesalahan – kesalahan yang kiranya telah diperbuat.


Dan itu yang Varen lakukan sekarang.


Meski sempat geram pada Kafeel, namun ia tahu jika pria yang sudah layaknya saudara baginya itu, sangat mencintai adik kandungnya.


Makanya setelah Val ternyata menerima efek penghapusan memorinya tentang Kafeel, lalu ia tahu dengan betul betapa sedih dan terlukanya Kafeel karena Val benar – benar melupakan tentang pria yang pernah sangat ‘dikejar – kejar’ oleh adiknya itu – Varen berjanji pada dirinya sendiri untuk memperbaikinya.


Namun sekali lagi, kondisi Val akan menjadi pertimbangan terlebih dahulu.


Jika kiranya Val tak lagi mengeluh sakit kepala jika ia berpikir terlalu keras, atau setidaknya sindrom ingatan jangka pendek Val sudah menghilang – Varen akan perlahan memasukkan Kafeel dalam ceritanya tentang kehidupan Val, yang adik kandungnya itu sedang lupakan.


Tapi bagaimana nanti Val dapat menerimanya atau tidak, itu Varen rasa diluar kuasanya. Yang tak mau membebani Val. Terlebih dia pun sudah berjanji pada dirinya sendiri, untuk mengabulkan semua yang Val inginkan, ketika nafas dan nadi Val pernah berhenti. Lalu saat nafas dan nadi Val itu kembali, tak Varen lupakan janjinya pada diri sendiri itu.


Apapun, agar dapat melihat Val membuka mata dan berbahagia lagi. Dan sekarang itu yang Varen lakukan. Namun tetap tak ia lupakan juga janjinya yang ia buat di dalam hati perihal Kafeel.


Karena pantang bagi seorang Alvarend Aditama Adjieran Smith mengingkari janjinya, meski pada diri sendiri.


Meski tak ada orang yang tahu jika ia mencetuskan janji itu di dalam sanubari.


Dan yeah, Drea pun tahu.


Karena sesungguhnya Varen akan membagi apapun dengan istri belianya yang sebenarnya bisa dikatakan sudah memasuki masa yang ga belia – belia amat.


Selain -- tanpa Varen mengatakan hal dalam hatinya, Drea tuh macam punya sixth sense yang kayaknya bisa nebak apa yang Varen rasa, apa yang Varen pikirkan.


Ah iya Drea,


Varen celingukan mencari istrinya itu.


Namun saat telah melihat Drea yang sedang sibuk menemani anak lelaki mereka di area kudapan manis, Varen tidak langsung menyambangi istrinya itu, melainkan melirik pada Val yang sedang bicara di telepon setelah merampas ponsel milik Varen.


‘Ingin tahu, bicara apa tuh si Kaka..’ batin Varen. Sambil ia memperhatikan Val yang kemudian terdengar berucap ‘ Halo, halo’ saja.


“Iih..”


Namun tak lama Val berkesah seraya merungut.


“Kenapa?..”


Varen pun sontak bertanya.


“Ini, tidak ada jawaban. Sunyi.” Val yang langsung menjawab.


Dan Varen langsung menerima ponselnya yang Val telah sodorkan.


Sorry Va, gue seketika jadi pengecut saat denger suara Val tadi.


Lalu sebaris pesan chat masuk dan langsung dibaca oleh Varen. Yang mana Kafeel adalah pengirimnya.


Varen melipat bibirnya selepas membaca pesan chat dari Kafeel itu.


Gue kumpulkan keberanian dulu. Dan kalau udah terkumpul, gue akan ngomong sama dia secara langsung. Mudahan aja langsung dapet ciuman dari Val pas nanti gue temuin dia.


Varen mendengus geli setelah membaca pesan chat kedua dari Kafeel.

__ADS_1


Sementara Val, langsung meloyor dari hadapannya setelah ia berkesah sambil merungut karena tidak mendapatkan sahutan dari seberang ponsel.


‘Eh iya, aku lupa mau tanya sama Abang, itu tadi siapa ya yang katanya mau titip salam dan bicara denganku?’


Val membatin dengan bertanya – tanya.


‘Aku tidak lihat tadi siapa nama kontaknya. Ah sudahlah! Mungkin itu pengagum rahasiaku?’


Val kembali bermonolog dalam hatinya, sambil sedikit mengendikkan bahu.


‘Nanti saja aku tanya pada Abang saat sudah tiba di mansion. Dan yang penting aku sampai dulu di sana..’


Sekali lagi Val bermonolog dalam hatinya.


‘Aku sungguh rindu dengan kamarku..’ bisik Val dengan rasa antusiasnya itu. 'Ah iya, apakah aku memiliki rahasia di dalam kamarku itu setelah aku 18 tahun? .. Siapa tahu aku memiliki catatan - catatan tersembunyi di laci meja belajarku? .. mungkin juga ada clue tentang orang tadi yang aku rasa adalah pengagum rahasiaku? .. Aaa aku jadi tidak sabar untuk segera sampai mansion!'


Sambil ia melangkahkan kaki dengan semangat untuk mencapai mobil, dan tiba di mansion secepatnya.


♥♥♥


“Val tadi kenapa?..” adalah Poppa yang tadi memperhatikan Val yang merampas ponsel Varen dari tempatnya berada. Dimana Poppa sebelumnya baru saja berjalan keluar dari lorong toilet saat mendapati Val yang merampas ponsel Varen, namun dibiarkan oleh Varen.


“Aku sedang berbicara dengan Kaka di telepon. Sedikit membahas Val, dan aku tidak tahu kalau ada Val di belakangku,” jawab Varen.


“Lalu?”


Poppa bertanya lagi.


“Sepertinya hanya kalimat terakhirku yang Val dengar sampai ia penasaran, lalu merampas ponselku saat ia dengar kalimat isengku pada Kaka yang bilang mau titip salam atau sekalian bicara dengan Val,” jawab Varen kemudian.


Dimana Varen lalu menunjukkan pesan chat dari Kafeel, yang seketika langsung Poppa pahami kelanjutan dari Val yang merampas ponsel Varen karena rasa penasarannya itu.


“Haish! –“


♥♥♥


Poppa berkesah.


“Bocah tengik satu itu. Guyonannya pun menyiratkan kepedihan..”


Lalu Poppa berkata dengan setengah frustasi.


“Yah, semoga saja mansion dapat lebih memicu Val untuk mendapatkan kembali ingatannya yang hilang. Begitupun ingatan tentang Kaka –“


“Yah semoga. Sekalipun ingatan buruk tentang Kaka yang menempel di pikiran Val. Namun kita dapat menjelaskan pada Val apa yang sebenarnya terjadi.”


Poppa menimpali ucapan Varen, dimana Varen langsung mengangguk mengiyakan.


♥♥♥


Sementara itu di satu sudut bumi yang lain ..


‘Maaf ya Val, kalau aku tidak menjawab kamu tadi. Aku hanya takut kamu bingung. Padahal sudah gatal mulut aku untuk bisa bicara dengan kamu.’


Adalah Kafeel yang sedang membatin ini.


‘Tapi tak apalah, aku simpan dan tumpuk lagi keinginan buat bicara dengan kamu, sampai kita bertemu kembali nanti secara langsung. Yang jika memungkinkan, walau saat itu kamu belum ingat sama aku, aku tembak aja lah kamu lagi.’


Kafeel terkekeh sendiri kemudian.


‘’Love you.”


Kafeel berucap lembut pada foto Val yang sedang ia pandangi.


“And miss you that much,” ucap Kafeel lagi dengan tersenyum sambil masih memandangi foto Val tersebut.


Lalu Kafeel kecup mesra gambar Val dalam foto yang sebelumnya ia pandangi itu.


“Hati Kakak ga akan kemana – mana Val. Cuma buat Val seorang. Sekarang, kemarin, besok dan seterusnya.”


♥♥♥


“Aku masih ada di sini, masih dengan perasaanku yang dahulu. Tak berubah dan tak pernah berbeda. Aku masih yakin nanti milikmu.”


---- Tanpa Batas Waktu --- PADI ----


♥♥♥

__ADS_1


To be continue..


__ADS_2