HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 72


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia


“Hey Donald Bebek Tua, tunggu apalagi?” cetus Daddy R pada Poppa yang bukannya berdiri, malah bermesraan dengan Momma yang sudah berada di dekat si Poppa sekarang.


“Ck.” Decakan kecil terdengar dari mulut Poppa. “Lo sajalah yang bertarung dengan si Kaka, R!” kata Poppa kemudian. “Adu panco saja dia sudah kalah dari gue hanya dalam waktu lima detik.”


Poppa lalu memandang pada Kafeel.


“Meski kau jauh lebih muda dariku, tapi tenagamu masih belum sebanding denganku.”


Pongahnya Poppa. Sambil ia melirik malas pada Kafeel sejenak, lalu berucap lagi seraya menoleh pada Daddy R.


“Lo saja yang gantikan gue, R. Malas gue melawan bocah lembek yang ba – mphhh....”


Poppa yang diminta Daddy R untuk segera bangkit dari duduknya dan memulai tantangan yang mereka berikan untuk Kafeel, bicara dengan entengnya. Namun sebelum Poppa sempat menyelesaikan kalimatnya, mulut Poppa keburu dibekap oleh satu tangan Momma.


“Poppa ih!”


“Ya kan aku mengatakan yang sebenarnya Momma sayang, memang dia--“


Poppa menanggapi Momma yang barusan mencebik seraya menyergahnya karena mengatakan Kafeel lembek, sekaligus menunjuk pada Kafeel dengan gerakan kepalanya.


“itu lem-mphh....“


Mulut Poppa kembali dibekap Momma.


“Diem ga?” Momma menyergah. “Jangan gitu sama calon mantu.... Gigit nih!” gemas Momma.


Poppa pun terkekeh.



“Menunduk sedikit Kak..”


Val berucap sambil berdiri tepat didepan Kafeel dengan telah merampas pelan sarung yang tadi Daddy R berikan pada kekasih setengah om-omnya itu.


‘Rezeki ga kemana emang..’ batin Kafeel yang sumringah, karena pemandangan dua bukit kembar dibalik tanktop olah raga Val kini ada dihadapannya meski berjarak. ‘Pura-pura kesandung apa ya gue?.. Pas banget kan nanti jatuhnya pasti--’


“Wah, ada apa ini? ...” Suara selembut beledu terdengar menyapa saat Val meminta Kafeel untuk menunduk, dan Kafeel sedang tertegun dengan berbisik nakal di dalam hatinya. “Tunangan jaman now ini, pakai pengalungan sarung bukan tukar cincin lagi? ...”


“Ih Ibu Peri, bisa melawak juga ...” kekeh Rery pada Mommy Ara yang telah muncul kembali ke tengah-tengah mereka yang sedang berkerumun di teras halaman belakang Kediaman.


Kekehan Rery pun diikuti oleh yang lainnya.


Mommy Ara yang datang setelah mengantar dua cucunya tidur dan membawa sebuah mangkok di tangannya itu terkekeh kecil mendengar celotehan Rery, dimana yang lainnya pun ikut terkekeh kecil.


“Aunt ...”


Kafeel yang belum sempat bertemu dengan Mommy Ara itupun segera menghampiri camamer alias calon mama mertuanya itu, lalu menyapa dan menyalim takdzim tangan Mommy Ara.


Dan Mommy Ara menyambut uluran tangan Kafeel dengan menyodorkan tangan kanannya yang bebas, seraya Mommy Ara tersenyum ramah dan hangat pada Kafeel. “Apa kabar, Ka?”


Lalu Mommy Ara menyapa Kafeel. “Baik Aunt,” jawab Kafeel.


“Alhamdulillah...”


“Aunt Ara sendiri?”


Kafeel juga bertanya kemudian.


“Alhamdulillah baik juga, Ka...”


“Alhamdulillah...”


Kafeel pun mengucapkan syukur sama seperti yang tadi Mommy Ara ucapkan.



“Jadi ada apa ini, segala ada sarung?”


Mommy Ara lalu bertanya selepas ia dan Kafeel saling menyapa dan setelah ia dan Kafeel cipika cipiki.


“Ini Mommy Peri, Kak Kafeel hendak dites oleh para Dad untuk membuktikan cintanya pada Val...”


Ann yang menjawab.


Dan didetik berikutnya Mommy Ara geleng-geleng lalu menoleh ke arah Daddy R. “Kakak ganteng sedang kurang kerjaan kah?...”


Cibiran Mommy Ara membuat Daddy R dan lainnya terkekeh. “Aku hanya menjalankan tugas sebagai seorang ayah yang baik saja, Ibu Peri...” ucap Daddy R.


Dan Mommy Ara menanggapi ucapan Daddy R itu dengan mendengus malas.


“Lalu ini sarung maksudnya apa?...”


Mommy Ara bertanya kemudian, lalu menyeruput kuah dari dalam mangkok yang sedang ia pegang itu sambil menggerakkan sedikit kepalanya untuk menunjuk pada sarung yang sedang dipegang oleh Val.


Dimana tadi Val hendak menyampirkannya di leher Kafeel sebelum Mommy Ara muncul.


“Mau menantang Kak Kaf tarung sarung katanya, Mom.” Via yang menjawab karena ia berada tepat disamping Mommy Ara.


Mommy Ara pun mengangkat alisnya.


“Benar-benar kurang kerjaan...”


Ibu Peri menggumam sambil lagi geleng-geleng menatap pada Daddy R yang sedang tersenyum lebar menatap juga padanya.


“Bukan kurang kerjaan My Lovely Kyara---“


Meski gumaman, namun Daddy R mendengar perkataan istrinya itu.


“Aku hanya memastikan kelayakan pria yang akan bersanding bersama dengan salah satu Baby Girl kita, Sayang.” Lanjut Daddy R.


“Ya, ya,” tanggap Mommy Ara.



“Ayo dong mulai tarung sarungnya...” cetus Ares yang nampak tak sabar.


“Ga ada tarung – tarungan—“ tukas Mommy Ara. “Val jauhkan itu sarung yang kamu pegang... sluurrrp---“ Mommy Ara kemudian menyeruput lagi kuah dengan sebuah sendok dari dalam mangkok yang dipegangnya.


Kesahan penonton kecewa pun terdengar dari para pewaris selain dari Val dan Nathan.


‘Haaahhh...’ tapi helaan kelegaan ada di satu hati. ‘Dibelain camamer. Bisa selamat dong berarti ini gue.’

__ADS_1


Hatinya Kafeel.


‘Mudah-mudahan Aunt Ara bisa meyakinkan suaminya yang raja tega itu untuk melepaskan gue dari ini tantangan yang engga-engga!’


Kafeel sangat berharap.


“No, Nyonya Reno Aditama Smith ---“ Daddy R bersuara.


Suami si Ibu Peri menyergah ucapan istrinya tadi.


“Challenge ini tidak dapat dihentikan, karena ini menyangkut sebuah pembuktian apakah dia ini---“


Daddy R menunjuk pada Kafeel.


“Layak atau tidak menjadi bagian dari keluarga ini, terutama bagian dari kami, para pria Adjieran Smith---“


“Ga ada pokoknya ga ada tarung-tarungan untuk pembuktian!” potong Mommy Ara. “Dah, kamu duduk Ka---“


Mommy Ara berbicara pada Kafeel kemudian sambil menunjuk pada kursi taman yang berada dibelakang kekasih putri kandungnya itu.


‘Emang the best lah Aunt Ara ---‘


Kafeel rasa girang dalam hatinya.


‘Cocok bener emang dipanggil Ibu Peri!’


“Duduk Ka, Aunt yang tanggung jawab ---“ kata Mommy Ara.


“Oh tidak bisa seperti itu Ibu Peri ---“ sambar Daddy R. “Kalau kita tidak mengetesnya untuk mengetahui sampai dimana kekuatannya, bagaimana kita tahu jika dia dapat melindungi Val atau tidak ---“


“Pasti bisa.”


Mommy Ara kembali memotong ucapan Daddy R.


“Sudah lulus penataran senjata api dan memiliki sertifikat resminya juga, serta sudah sabuk hitam, sudah dipastikan Kaka mampu menjaga Val ---“


“Maka dari itu kami harus memastikan sendiri tentang kemampuannya itu Ibu Peri...”


“Pasti dia mampu.”


Perdebatan pun terjadi antara Kakak ganteng dan Ibu Peri.


“Biarin aje jangan dipisahin!...” bisik Momma pada lainnya, dan kemudian mereka cekikikan.


“Itu ngomong-ngomong si Ara makan apa sih, Jol? ---“  bisik Daddy Jeff pada Momma yang ia sudah biasa panggil dengan nama yang disematkan oleh Ene Bela pada Momma sejak jaman dahulu kala. “Sedap banget gue liat dia makan sambil ngomong sama R...”


“Tau deh, Kak?...” sahut Momma.


“Lihat sana Jol, ambilkan habis itu sekalian kalau ada stok.” Kata Daddy Jeff lagi.


“Okay!”



“Tetap harus kami tes.” Kata Daddy R setelah Mommy Ara menyergah.


Mommy Ara menggeleng sambil ia menyendokkan isi dari mangkok dalam pegangannya, yang merupakan jajanan merakyat ramai peminat. Seblak.


Yang memang sudah Mommy Ara dan para Mom yang lain sejak mereka muda, dan jajanan tersebut masih tetap in sampai sekarang.


“Kakak ganteng, jangan suka menyusahkan orang lain...”


“Kaka jago menembak dan sudah ban hitam, jadi itu sudah cukup aku simpulkan bahwa dia mampu menjaga Val...”


Ah, semakin bahagianya hati si AA yang dibela terus oleh camamer.



“Ibu Peri, meskipun Tuan Kafeel Adiwangsa jago menembak dan sudah menguasai bela diri, bukankah tetap harus berantisipasi, jika kemungkinan kita akan memiliki musuh lagi dan musuh-musuh itu sebesar itu –“


Daddy R menunjuk Poppa.


“Thanos –“


Yang mana membuat Mommy Ara cekikikan, begitupun lainnya. Termasuk ‘Thanos’ nya sendiri.


“Kakak ganteng...”


Lalu Mommy Ara kembali berbicara.


“Thanos itu memiliki Infinity Stones yang bahkan bisa merusak alam semesta, jadi tidak akan ada penjahat diluar yang melebihi itu Thanos yang menikah dengan biduan...”


Ah bisa ae Ibu Peri.



“Pokoknya tidak ada tarung-tarungan----” kata Mommy Ara yang telah mengambil duduk di dekat Isha. “Lebih baik kalian menikmati itu seblak yang dibuat Adis dan Desti...”


Lalu Mommy Ara memandang pada Val dan Kafeel.


“Val, ajak Kak Kafeel makan dulu sana.”


“Iya M ----“


“Ibu Peri. Apa Ibu Peri lupa ketentuan dalam keluarga ini, hem?...”


Daddy R keburu berbicara lagi sebelum Val utuh menjawab Mommy Ara.


Membuat Val tak hanya-tak jadi lanjut bicara, namun sedikit enggan untuk bicara.


Namun Val melirik pada Kafeel, yang memberikannya isyarat untuk tetap berada di tempat mereka saja karena Kafeel sedikit banyak merasa tidak enak sekarang melihat Daddy R dan Mommy Ara yang nampak berdebat.


Meski kedua orang tua kandung Val dan Varen itu bersikap tenang dan bicara dengan halus.


‘Kalo gini gue jadi rasa serba salah. Satu sisi gue senang ga jadi bertarung sama Thanos karena dibela Aunt Ara, satu sisi gue ga enak lihat Aunt Ara sama Uncle R debat begini. Kayaknya gue harus masuk nih supaya ga panjang ini perdebatan ‘naga’ sama ‘peri’, yang bisa-bisa berimbas si ‘naga’ malah jadi benci sama gue karena Aunt Ara belain gue begini---‘


Kafeel bermonolog panjang dalam hatinya.


“E—“


“Kami, para pria-lah pembuat dan pengambil keputusan...”


Namun sebelum Kafeel hendak bersuara, dimana dia ingin mengatakan jika dia mau meneruskan tantangan yang diberikan untuknya, Daddy R sudah lebih dulu berbicara lagi.


Mommy Ara yang terus asik dengan seblak nya itu, tersenyum pada Daddy R yang menampakkan senyum yang menggambarkan agar Mommy Ara tidak membantah kata-katanya.


“Dan apa Kakak Ganteng lupa, jika kami juga berhak untuk menerima atau tidak keputusan yang kalian buat dan ambil, heeem?...”

__ADS_1


Mommy Ara menimpali ucapan Daddy R. Masih dengan tersenyum elegan pada suaminya yang masih berada di tempatnya itu, dengan mangkok seblak yang masih di tangan Mommy Ara.


Yang masih juga sesekali Mommy Ara nikmati sambil berbicara dengan Daddy R.


“Tentu aku tidak lupa Ibu Peri Sayang... Tapi Ibu Peri harus ingat, semua hal yang berhubungan dengan persoalan pria, kalian tidak boleh masuk campur.” Tegas Daddy R namun dengan suara yang lembut, berikut dengan senyuman.


‘Ini Mom sama Dad, sebenarnya bertengkar apa mengobrol sih?...’ batin Val yang sedang menelisik kedua orang tuanya-yang sedang saling melempar ucapan.


Val belum beranjak dari tempatnya, begitu juga sebagian besar mereka yang berkerumun di teras halaman belakang kediaman.


Sementara sebagian kecil, sudah beranjak untuk mengambil seblak homemade dua asisten rumah tangga dalam kediaman mereka itu.


“Dan urusan pria muda bernama Kafeel Adiwangsa yang ingin menjalin hubungan dengan salah satu putri dalam keluarga ini, rasa-rasanya adalah persoalan pria...”


Daddy R lanjut bicara.


“Bukan begitu?...”


“Heeem.”


Mommy Ara berdehem santai.


“Ibu Peri paham, bukaannn?...”


Lalu Daddy R lebih menarik sudut bibirnya sampai matanya memicing saking ia memberikan senyuman dengan dua sudut bibir Daddy R yang meninggi menatap pada Mommy Ara.


Mommy Ara yang lagi, baru menelan seblak yang tadi telah ia suap pun manggut-manggut. “Paham, Kakak Ganteng,“ sahut Mommy Ara seraya tersenyum dengan elegan dan cantik pada Daddy yang kemudian menggambarkan kepuasan di wajahnya.


“Jadi urusan The Dads yang hendak mengetes kekuatan Tuan Kafeel Adiwangsa, The Moms and others tidak diperkenankan masuk campur.”


“Ya sudah kalau memang begitu ----“


“Kau ---“


Daddy R yang merasa puas dan masih tersenyum itu menoleh pada Kafeel setelah Mommy Ara nampak pasrah dan tidak terlihat akan menyergah lagi setiap ucapannya.


“Val...” namun saat Daddy R hendak berbicara pada Kafeel, suara Mommy Ara terdengar memanggil Val.


“Iya Mom?...” sahut Val.


“Apa Mom bisa berbagi kamar dengan Val?...”


Membuat Daddy R sontak mendelik dan banyak deheman kemudian berkumandang setelah mendengar ucapan Mommy Ara pada Val, dengan tersenyum pada sang putri kandungnya dan Daddy R dengan tetap tersenyum elegan tanpa menoleh kepada Daddy R.


“Ehem – ga ikut-ikutan...”


“Ehem – ambil seblak nyok!”


“Val mau kan berbagi kamar dengan Mommy?...”


Senyuman tetap menghiasi wajah Mommy Ara, namun tidak Daddy R.


‘Tuh Ibu Peri sih begitu ah!... Pakai mengancam segala. Ga asik!...’ batin Daddy R yang kini senyumannya berganti jadi rungutan.


“Mau kan Val ber—“


“Sudah sana pergi makan!”


Namun sebelum Mommy Ara sempat lagi berbicara pada Val, Daddy R keburu bersuara sambil mendelik pada Kafeel yang hatinya cekikikan karena paham situasi.


“Tantangan batal!. Kau ingin berpacaran dengan Val kan?! Kuijinkan!” seru Daddy R dengan sebal, Kafeel cengengesan. “Aku nikahkan sekalian detik ini juga kalau perlu!”


“Terima kasih Uncle R...” jawab Kafeel yang sumringah selain hatinya geli sekali melihat tampang Daddy R yang mendapat tekanan pisah kamar dari Mommy Ara.


Begitu juga Val yang merasa geli dalam hatinya, selain wajahnya yang nampak sumringah seperti Kafeel.


Selain sumringah Val menahan cekikikannya sambil memandang pada Mommy Ara yang wajahnya dipasang woles saja dengan tetap tersenyum cantik dan elegan.


“Cih!” Daddy R berdecih sebal. ‘Kalau dia berbicara sok tenang tapi dengan ekspresi seperti itu, sungguh patut diwaspadai keseriusannya tidak tidur sekamar denganku nanti malam, atau bahkan beberapa malam kedepan!’ Daddy R membatin sambil melirik pada Mommy Ara.


“Apa decihan itu tertuju untukku, Daddy R?”


Mommy Ara memandang pada Daddy R dengan memasang wajah yang polos.


“Mommy Ara... My Veery Beloved Kyara ( Kyara ku yang saangat kucintai ) ---“ dengan cepat Daddy R menyahut dan memasang senyum babang tamvan.


Sambil ia berjalan mendekati Mommy Ara.


“Jangan menyangka yang bukan-bukan pada suami...”


Lalu berjongkok di hadapan Mommy Ara setelah Daddy R sampai ke tempat Ibu Peri duduk dengan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Mommy Ara.


Dan Daddy R menopangkan dagunya di atas kedua tangannya yang berada di atas paha Mommy Ara, kemudian memberikan tatapan dengan tampang sok imutnya.


“Kan Mommy Ara tahu, Daddy R mencintai Mommy dengan sepenuh hati, segenap jiwa. Tidak mungkin aku berdecih padamu, Sayangku Kyara...”


Gombalan Daddy R.


“Jadi tidak perlu diambil hati, okay?. Tidak ada pelakor diantara kita, masa tidur terpisah?. Lihat, aku juga sudah menerima Kaka menjalin asmara dengan Val... Jadi Mommy Ara tidak perlu tersinggung dengan perkataan Dad R tadi, okay?”


Daddy R yang merayu.


“Paham kan?. Mommy Ara kan hatinya seluas samudra, bahkan lebih luas hati Mommy Ara daripada samudra...”


“......”


“Jadi tidak perlu dibesar-besarkanlah perihal aku yang tadi menegaskan posisi para pria dalam keluarga ini... Bisa flexible kok, tenang aja.”


Daddy R tersenyum manja kemudian sambil masih menatap Mommy Ara.


“Tidak perlu pisah kamar ya? Ya? Okay? Okay!”


Daddy R bercerocos, membujuk, memastikan, bertanya, tapi kemudian ia jawab sendiri.


“I love you Mommy Ara,” lanjut Daddy R. “Ibu Peri juga cinta kan pada Kakak Ganteng?”


Lalu Daddy R mengecup punggung tangan Ibu Peri yang ingin tertawa geli sebenarnya.


“Masa orang saling mencintai pisah kamar hanya gara-gara hal sepele?... Lagipula sudah clear kan? Aku sudah memberikan restu pada Val dan Kaka...” Daddy R tersenyum sok imut.


Sang ‘naga’ masih berupaya membujuk rayu 'Ibu Peri'.


Selain Val, Kafeel dan para pewaris yang sebenarnya merasa geli juga melihat kelakuan Daddy R-namun mereka menahan untuk tidak cekikikan karena takut dapat ancaman dari Daddy R seperti ancaman dari Poppa-sisanya cekikikan melihat Daddy R yang sudah menjadi tak berdaya akibat penyakit bucin akut yang dideritanya itu-setelah mendapat ancaman kecil dari Mommy Ara.


‘Halah ‘naga’ isti!’


♥♥♥

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2