
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Hari itu :
Di Kediaman Utama The Adjieran Smith yang berada di Jakarta.
Varen terlibat sebuah pembicaraan berdua dengan Kafeel.
“To the point aja Ka, lo mau membatalkan hubungan lo dengan Val? Ya atau tidak? - Gue ga mau punya adik ipar yang plin – plan..” ( Varen ).
“Secara perasaan, engga--- “Gue sudah jatuh terlalu dalam pada satu adik lo itu.” ( Kafeel ).
“Lalu?” ( Varen ).
“Tapi secara logika, Ya.” ( Kafeel ).
“Logika macam mana?. Jangan bilang, lo adalah satu primitif yang mempertimbangkan soal kasta sosial –“ ( Varen ).
“Bukan itu –“ ( Kafeel ).
“Usia?” ( Varen ).
“Masa lalu gue Va ------ Gue telat mikir, jadi gegabah dengan mengungkapkan perasaan gue pada Val ------ Gue terlalu naif, Va..” ( Kafeel ).
“......”
“Gue terlalu naif kalo gue akan bisa membahagiakan Val selama dia bersama gue.” ( Kafeel ).
“......”
“Tapi gue gegabah. Gue yang dibutakan sama cinta dan perasaan takut kehilangan dan dijauhi Val, ga ingat soal masa lalu gue.. Ya you know lah!” ( Kafeel ).
“......”
“Masa lalu-terutama soal bagaimana gue berhubungan dengan cewe-cewe gue dulu ga gue inget saat gue menyatakan perasaan gue ke Val –“ ( Kafeel ).
“......”
“Dan gue merasa salah untuk itu. Well, terlambat emang gue berpikir sampai kesana. Kalau bagaimana cara berpacaran gue dulu, akan menjadi sesuatu yang membebani Val, terlebih dia tahu detailnya. Eh –“ ( Kafeel ).
( Kafeel menengok pada Varen ).
( Varen mendengus geli ).
“I know ( Gue tahu ) ..” ( Varen ).
“......”
“Gue tahu kalau Val dan Ann pernah menyusup ke ruang kerja utama di Mansion London dan mengambil informasi tentang lo dari Uncle Omar yang diberikan pada Dad R. Ulat bulu dan Setan Kecil memang kompak kalau menyusun rencana dan Ann yang pintar soal IT membuat CCTV seolah normal-normal saja, hingga tiga Dads disana tak curiga sedikitpun. Ann memang smart about IT, bahkan sedikit melebihi Rery ..” ( Varen ).
“Tapi lupa kalo Abang Varen mereka adalah Master of IT.” ( Kafeel ).
( Varen mendengus geli ).
“Jadi, apa Val merasa keberatan dengan gaya berpacaran lo dimasa lalu itu?..” ( Varen ).
“Val memang bilang engga. Tapi dia kepikiran, dan itu mengganggu kenyamanan hati gue.” ( Kafeel ).
“......”
“Val memang selalu menampakkan ekspresi ‘alright’ tentang itu, tapi gue tahu kalau hatinya lumayan terganggu setiap kali dia inget tentang kisah gue sama barisan para mantan yang ga cuma sekedar pacaran dengan nonton di bioskop.” ( Kafeel ).
“......”
“Jadi kayaknya gue ga pantes buat adik kandung lo yang terlalu berharga itu.” ( Kafeel ).
“Lo pintar. Tapi otak lo dangkal.” ( Varen )
“Mungkin iya.” ( Kafeel ).
“Bukan mungkin tapi memang otak lo dangkal, kalau hal itu lo jadikan patokan ujung hubungan lo dan Val.” ( Varen ).
“She deserves better than me ( Dia pantas mendapat yang lebih baik dari gue ) –“ ( Kafeel ).
“Two J Dads bahkan lebih parah perilakunya ketimbang lo sebelum mereka jatuh cinta pada Mami dan Mama Bear lalu menikah.” ( Varen ).
“......”
“Kalau di kumpulin, gue rasa mereka berdua bisa benar-benar membangun gua betulan saking banyaknya ‘Gua’ yang udah mereka ‘masuki’.” ( Varen ).
( Kafeel terkekeh kecil ).
“Mami dan Mama Bear tahu persis kelakuan dua Dad X Don Juan kelas kakap itu. Tapi mereka terima-terima aja dengan masa lalu Papi dan Papa Bear. Mami dan Papi deh contoh yang paling dekat sama lo dan Val. Mami tahu persis kayak apa pergaulan Papi, terutama sama perempuan-perempuan dalam hidupnya sebelum sama Mami. Tapi pada kenyataannya, cinta Mami ga pupus sama Papi-“ ( Varen ).
“......”
“Gue yakin, Mami pernah punya perasaan yang sama seperti bagaimana perasaan Val sekarang di awal-awal hubungannya sama Papi. Tapi cinta Mami ke Papi ga sampai membuat itu jadi hal besar buat diperdebatkan. Dan gue yakin Val pun seperti itu.” ( Varen ).
( Varen membuat dirinya dan Kafeel berhadapan ).
“Bagaimana Val akan terganggu dengan perasaannya soal gaya berpacaran lo dengan para mantan cewe lo itu tergantung pada diri lo sendiri.” ( Varen ).
“......”
“Kalau lo memang benar-benar mencintai Val dan serius padanya, lo akan bisa menemukan cara untuk menghentikan perasaan terganggunya atas segala hal yang berhubungan dengan barisan para mantan cewe lo itu, terlepas seberapa liar hal yang lo lakukan dengan mereka.” ( Varen ).
“......”
“Tapi jika lo memang memiliki pendapat lo sendiri, itu hak lo, Ka—“ ( Varen ).
“......”
“Hanya satu hal gue minta, putuskan dengan cepat. Karena gue harus berpikir cepat jika lo membuat Val patah hati.” ( Varen ).
( Kafeel manggut-manggut ).
“Gue, Dad R dan others Dad , termasuk Tan-Tan masih disini sampai besok pagi. So keputusan lo kami tunggu sampai sebelum kami bertolak ke SIN.” ( Varen ).
♥
Hari itu dimalam harinya.
Mereka yang berada di dalam Kediaman Utama The Adjieran Smith yang berada di Jakarta-dan sudah akan bersiap masuk ke peraduan mereka masing-masing, walau baru hendak beranjak setelah bercengkrama-dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang nampak begitu tergesa.
“Assalamu’alaikum!”
Pria yang baru saja datang tergesa itu mengucapkan salam, dengan sedikit terengah.
“Wa’alaikumsalam.”
Sapaan salam itupun berbalas.
“Loh Ka? Kamu ada apa malam-malam kesini? Agak ngos-ngosan gini?”
Kaka, alias Kafeel.
Pria yang baru saja datang dengan nampak tergesa ke tengah-tengah para anggota keluarga The Adjieran Smith yang baru saja hendak membubarkan diri dari sesi bercengkrama mereka, meskipun hanya sebagian saja dari keseluruhan personil inti keluarga tersebut.
“Apa kau sadar jam berapa ini, hem?. Tidak tahu etika waktu untuk bertamu ke rumah orang? –“ Daddy R dengan cepat berucap, sebelum Kafeel sempat menjawab pertanyaan sebelumnya dari Mom Ichel.
“Maaf Uncle R.”
__ADS_1
Kafeel menjawab.
“Tapi aku ingin melamar Val.”
♥
Dan sekarang ..
Singapore ..
Kuharap semua ini bukan sekedar harapan, Dan juga harapan ini bukan sekedar khayalan.
Biarkan ku menjaganya sampai berkerut dan putih rambutnya, Jadi saksi cintaku padanya.
Tak main-main hatiku.
Apapun rintangannya, kuingin bersama dia.
Val membekap mulutnya syok, kala pria penyebab hatinya mencelos bahkan sedih tadi nampak berjalan dengan ke arahnya dengan sebuah mikrofon tanpa kabel dengan melantunkan dua bait lagu, lalu berhenti dan menatap Val dalam seraya tersenyum teduh padanya saat pria tersebut sudah berdiri di hadapannya.
Pria itu... Kak Kafeel nya. Yang katanya sedang ada di Dubai, lalu sulit dihubungi dan terakhir bersikap dingin pada Val melalu pesan chatnya, kini sudah ada dihadapan dirinya dengan memegang sebuket bunga kesukaan Val.
Lalu Kafeel mengatakan sesuatu yang membuat mata Val berkaca-kaca hingga ia tak kuasa meneteskan sebulir air matanya.
“JADI, TUAN PUTRI VAL, WOULD YOU MARRY ( Maukah kamu menikahi ) OM-OM INI? ..”
Tanpa banyak basa-basi Kafeel to the point mengucapkan sebaris kalimat lamaran yang ia persembahkan untuk Val, ditengah riuhnya suara ke-antusiasan dari mereka yang menyaksikan adegan romantis yang sedang tersaji dihadapan itu.
Val bersumpah jika ini hanya mimpi atau khayalannya saja yang sedang frustasi akibat pesan chat Kafeel yang isi pesan chatnya itu menggambarkan jika Kak Kafeel tercintanya itu memutuskan hubungan dengannya, Val selamanya tidak mau bangun dari tidurnya.
“May you give the your answer fastly please? Or these people will throw me with their drink bottles because I disturb this program too long.”
( Bisakah kamu dengan cepat memberikan jawabanmu? Atau orang-orang ini akan melempariku dengan botol minuman karena sudah mengganggu acara ini terlalu lama ).
Lalu suara kekehan riuh pun terdengar, setelah mendengar Kafeel sedikit berkelakar.
“I love you, Val. My Dear Little Lover, Kekasih kecilku-“
Kafeel berbicara lagi saat riuh kekehan mereda.
“And I feel that I won’t lose you ( Dan aku rasa aku tidak ingin kehilangan kamu ). Tidak hari ini, besok dan seterusnya.”
Kafeel menyerahkan buket bunga kesukaan Val itu ke tangan Val yang sudah meneteskan air matanya.
“Kamu memang bukan pacar pertama aku.” Tambah Kafeel. “Not even the first girl that I have a date with ( Bukan juga gadis pertama yang aku ajak kencan )”
Satu ibu jari Kafeel menghapusi jejak air mata Val.
“Tapi kamu gadis pertama yang membuat hati aku ga karuan, sering salah tingkah, padahal aku kan pria matang dan kamu cewe ABG ya?”
Kafeel terkekeh tampan sambil menggoyangkan dagu Val yang orangnya ikutan terkekeh kecil, dengan mata yang masih berkaca-kaca.
“Tapi memang itu yang aku rasa, Val, My Tuan Putri. Cewe ABG yang bisa membuat aku blingsatan ga karuan.” Kafeel masih berbicara, dengan menatap lekat dan teduh ke dalam netra Val. “Kamu memang bukan gadis pertama dalam kehidupan percintaan aku.”
Kafeel merunduk dan meraih satu tangan Val yang kemudian ia genggam.
“Tapi kamu gadis pertama dan satu-satunya. Terakhir bahkan. Yang bisa membuat aku ga bisa menunggu hari esok datang untuk meminta kamu pada orang tua kamu. Kamu gadis pertama, yang bisa membuat aku kepikiran melakukan hal macam ini di hadapan orang yang kelewat banyak.”
Kafeel mendengus geli. Ia pun tak percaya dirinya sampai mempersiapkan dan melakukan semua hal yang ia lakukan untuk Val sampai detik ini.
“So, my center of universe ( Jadi, pusat semestaku ) ..” Kafeel mengelus satu pipi Val dengan ibu jarinya. “Aku ga mau lagi melewati malam dengan cara yang sederhana dengan minum kopi secukupnya sambil memandangi foto kamu aja.”
“.......”
“Yang aku mau, melewati malam, dengan memandangi kamu disisi aku.”
“Kak –“
“Jadi –“
“Menikahlah denganku Valera Madelaine Aditama Adjieran Smith.”
“Kak...”
“Would you?” pinta Kafeel mesra. “Menjadi seseorang yang membuatku melepas masa lajangku, with you as my wife ( denganmu sebagai istriku )”
Kafeel mengecup kening Val penuh perasaan.
“Jawab Tuan Putri---“
Kembali Kafeel membuat wajahnya dan Val berhadapan.
“Ga boleh nolak loh ya.”
Kafeel berucap lagi, dan Val tersenyum lebar.
“Marry me? –“
Sekali lagi Kafeel meminta pada Val.
“Eh ralat. Let me marry you ( Biarkan aku yang menikahimu )”
Val tak bersuara, namun anggukkan kepalanya sudah merupakan sebuah jawaban, serta alasan senyuman lebar spontan terpatri di wajah Kafeel.
Dengan dirinya yang langsung merengkuh tubuh Val yang kemudian ia angkat dengan antusias, kala Val langsung melingkarkan tangannya di leher Kafeel.
Val tersenyum dengan sumringahnya, namun beberapa bulir air matanya menetes.
Tanda, betapa Val begitu bahagia saat ini.
♥
Flashback on...
Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia
“Assalamu’alaikum!” ( Kafeel ).
“Wa’alaikumsalam.” ( Mereka yang ada dihadapan Kafeel ).
“Loh Ka? Kamu ada apa malam-malam kesini? Agak ngos-ngosan gini?” ( Mom Ichel ).
“Apa kau sadar jam berapa ini, hem?. Tidak tahu etika waktu untuk bertamu ke rumah orang? –“ ( Daddy R ).
“Maaf Uncle R.” ( Kafeel ).
“......”
“Tapi aku ingin melamar Val.” ( Kafeel ).
“Kau sedang mabuk?...” ( Poppa ).
“Uncle bisa mengecek sendiri apakah aku mabuk atau tidak---“ ( Kafeel ).
“Kalau begitu antara kau sedang mengigau atau otakmu sudah geser.” ( Daddy R ).
“Kalian silahkan menganggap aku gila. Tapi apa yang aku katakan soal ingin melamar Val, benar-benar serius.” ( Kafeel ).
( Toyoran mendarat di kepala Kafeel dari tangan The Dads yang merupakan ayah angkat Kafeel secara langsung )
“Bodoh! Mana bisa ucapan orang gila dianggap serius?! ( Papi John ).
( Kafeel dan lainnya yang berada di dekat Papi John pun terkekeh )
__ADS_1
“Tolong dengarkan aku baik-baik.” ( Kafeel ).
“......”
“Maafkan ketidaksopananku ini, tapi sungguh, aku tidak sanggup lagi untuk menunggu detik jam berlalu hingga esok hari untuk mengatakan niatku menyunting Val pada kalian.” ( Kafeel ).
“......”
“Dan aku rasanya tidak mau mengulur waktu lebih lama untuk membuat Val menjadi milikku, dan menjadikannya ratu dalam hidupku.” ( Kafeel ).
“Dan kau pikir kau sudah merasa sangat layak untuk menjadi suami dari salah satu Princess tercinta kami?... Kau bahkan tidak membawa apa-apa saat datang melamar! Heh!” ( Daddy R ).
“Untuk itu aku minta maaf. Untuk hanya datang dengan tangan kosong untuk menyatakan jika aku ingin mempersunting Val aku minta maaf... akan aku bawakan apa yang kalian minta, semampuku, saat aku resmi datang untuk melamar Val bersama keluargaku nanti.” ( Kafeel ).
“......”
“Tapi untuk sekarang, aku ingin meminta ijin untuk melamar Val dan membuatnya bahagia, dengan caraku. Aku mohon, ijinkan aku untuk memberikannya hal yang indah, sebelum aku datang resmi bersama keluargaku untuk melamar Val pada kalian.” ( Kafeel ).
( Kafeel merendahkan tubuhnya sampai ia bersimpuh di atas kedua lututnya di hadapan beberapa orang tua dan tetua keluarga besar Val yang tentunya merasa tekejut selain tercengang dengan sikap Kafeel saat ini )
“Jangan minta aku untuk membuatkan candi, karena aku tidak mampu.” ( Kafeel ).
( Keluarga Val yang berada dihadapan Kafeel terkekeh kecil )
“Tapi untuk mempersembahkan hidup dan segenap jiwa ragaku untuk membahagiakan satu Princess tercinta kalian yang mana aku cintai juga, aku yakin aku mampu.” ( Kafeel ).
“Bangun Ka.” ( Daddy R ).
“Ijinkan aku menyelesaikan ucapanku dulu...” ( Kafeel ).
“Bangun dari posisimu, lalu kau bisa lanjut bicara. Kecuali kau musuh kami, kami bukan Tuhan yang pantas untukmu berlutut apalagi sampai bersujud dihadapan kami.” ( Daddy R ).
( Kafeel mengangguk lalu langsung berdiri )
“Saya, Kafeel Adiwangsa, dengan ini meminta ijin pada kalian semua-keluarga Val, untuk mengajukan lamaran pribadiku pada Val, sebelum aku dengan resmi datang pada kalian setelahnya.” ( Kafeel ).
“Berapa jumlah tabunganmu?” ( Poppa ).
“Tidak banyak jika dibandingkan dengan harta kalian, tapi aku rasa cukup untuk membuat pesta pernikahan seperti yang Val inginkan. Termasuk menghidupinya dengan layak. Selain, aku akan bekerja keras dan giat, agar Val tidak merasa kekurangan secara finansial.” ( Kafeel ).
“Sanggup menjamin keamanan dan keselamatan Val?” ( Papi John ).
“Aku akan menjadi perisai hidup untuk Val.” ( Kafeel ).
“Kalau begitu, tahan dipukuli?” ( Daddy Jeff ).
“Silahkan dites.” ( Kafeel ).
“Tahan luka fisik?” ( Daddy Dewa ).
“Boleh ukir nama Val disini dengan pisau atau apapun sekarang juga secara langsung kalau memang kalian mau melakukannya.” ( Kafeel menyerahkan lengannya ).
“How fast ( Seberapa cepat )?” ( Papa Lucca ).
“Excuse me ( Maaf )?” ( Kafeel sedikit tak paham ).
“Step aside ( Minggir )” ( Papa Lucca )
( The Dads yang tadi dihadapan Kafeel pun membelah dan membawa lainnya untuk menciptakan ruang selurusan Papa Lucca dan Kafeel ).
“Hem, not bad ( lumayan )” ( Papa Lucca ).
( Dimana Papa Lucca tersenyum miring, setelah melemparkan pisau lipat miliknya yang selalu ia bawa kemana-mana meskipun saat di rumah )
“Maybe you can try with gun, Uncle ( Mungkin Uncle bisa mencoba dengan senjata api )” ( ucap Kafeel setelah dengan cepat dapat menghindari lemparan pisau dari Papa Lucca yang ekstrem itu ).
( Papa Lucca mendengus geli. The Moms termasuk Mama Fabi hanya geleng-geleng saja dengan kelakuan si Papa Ghost itu )
“Ingatkan aku tentang itu kapan-kapan.” ( Papa Lucca dengan berbahasa Indonesia logat Italia ).
“Tentu.” ( Kafeel ).
( Kemudian The Dads yang tadi membelah kembali berdiri tegak dihadapan Kafeel dengan formasi setengah lingkaran. Sementara sisanya memperhatikan saja, termasuk Varen dan Nathan )
“Jadi, apa kalian memberikanku ijin untuk melamar Val yang akan aku susul ke SIN?...”
“Melecehkan Putri kami sebelum waktunya, kepalamu taruhannya.” ( Daddy R ).
Flashback off...
♥
Saat ini...
Daddy R tersenyum tampan menyaksikan lamaran tidak resmi yang Kafeel persembahkan untuk Val sambil ia mengingat saat Kafeel datang tergesa untuk mengatakan niatnya, yang kemudian Kafeel wujudkan pada putri kandungnya saat ini.
Sebuah lamaran manis dan norak-kata Daddy R pada Kafeel saat pria itu menjabarkan rencananya yang sedang dilakukan saat ini.
Sebuah kejutan untuk satu Princess kesayangan dalam Dinasti keluarga The Adjieran Smith yang wajahnya nampak berbinar bahagia, hingga menciptakan senyum bahagia terpasang tak hanya di wajah Daddy R saja.
“Thank you Daddy!”
Val telah berada tepat dihadapan Daddy R.
“For what ( Untuk apa ), hem?...”
Daddy R yang satu tangannya sedang merengkuh pinggang Mommy Ara itu mengusap sayang kepala Val.
“Terima kasih untuk menjadi Daddynya Val. Terima kasih karena tidak membatasi Val untuk memilih dan mencintai seseorang. Terima kasih karena telah mengijinkan Val untuk menjalin hubungan dengan pria pilihan Val, dan terima kasih karena mengijinkan Kak Kafeel untuk dengan cepat melamar Val ---“ lirih Val, namun wajahnya tersenyum. “Val beruntung sekali memiliki Daddy sebagai ayah Val---“
Val pun berhambur memeluk Daddy R juga Mommy Ara.
“Terima kasih pada Mommy juga.” Isak Val. “Juga pada kalian.”
Val mengurai pelukannya dari Daddy R dan Mommy Ara, lalu memandang pada keluarganya yang lain.
“I feel like I’m the luckiest person in this world, to have all of you as my family ( Aku merasa menjadi orang yang paling beruntung di dunia, memiliki kalian dalam hidupku )”
“Apa kamu bahagia Baby?-“
Daddy R menyentuh kedua pundak Val.
“Very ( Sangat ) Daddy! Very!” Seru Val dengan sumringah.
Daddy R tersenyum lebar.
“Maka teruslah tersenyum seperti ini. Karena bahagiamu adalah bahagiamu juga, terutama aku, sebagai ayah kandungmu. Seburuk apapun aku-sikapku sebagai ayahmu, senyum dan kebahagiaanmu adalah energi untukku.”
Dengan ketulusan ucapan dan tatapan lembut Daddy R berkata pada Val yang tak sanggup menahan harunya.
“Well, selain senyum Mommymu yang merupakan energi terbesarku.”
Val terkekeh geli, namun ia tetap berhambur lagi kepada Daddy R yang langsung memegangi tubuh putri kandungnya karena sudah meloncat agar digendong oleh Daddy R.
“Benar-benar tidak tahu malu---“ cibir Daddy R pada Val yang sudah ia gendong bak bayi koala. Namun begitu, Daddy R tetap mendekap erat tubuh Val dalam gendongan yang orangnya sudah terkekeh geli mendengar cibiran canda dari Daddy kandungnya itu.
Daddy R dan semua keluarga Val, juga kerabat yang ada bersama mereka tersenyum lepas, termasuk Val sendiri dan Kafeel yang melihat interaksi Val dan ayah kandungnya itu.
Daddy R memang sering memarahi Val.
Namun diatas itu, Val-maupun para saudara-saudarinya yang walau bukan anak kandung Daddy R, bagi Daddy R dan para Dad lainnya-berikut para Mom dan kakek-nenek, kebahagiaan para pewaris muda, seolah nyawa mereka.
Jadi, jika Val sedang berbahagia saat ini, maka Daddy R lebih berbahagia lagi.
__ADS_1
♥♥♥
To be continue...