
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia ....
“Kau putuskan saja kekasihmu ini, Baby .... Mushy! ( Lembek! ) Bagaimana mau melawanku di tarung sarung tanpa peraturan nanti?! Mau mati?!”
Poppa mengeluarkan cibiran tajam untuk Kafeel yang kalah bermain panco dengannya hanya dalam hitungan detik saja.
“Sarung tarung? ....” Val sontak bertanya seraya ia mengernyit.
Kafeel mengangguk.
“Tarung sarung ....”
Beberapa meralat ucapan Val.
Val pun langsung berdecak malas. “Sama saja ih,” pungkas Val kemudian.
Lalu Val mengalihkan kembali pandangannya pada Kafeel.
“Lalu bagaimana itu maksudnya ada tarung sarung?” tanya Val.
“Aku ingin membuktikan pada semua, terutama Daddy kandung kamu, kalau aku bersungguh-sungguh dengan kamu, Val ..”
Kafeel yang menjawab keheranan Val. Dimana Val langsung menarik sudut bibirnya.
“Jadi Kak Kafeel sedang di tes ya? ..” tanya Val dengan polosnya kemudian.
“Hu’um ..”
Kafeel menyahut mengiyakan seraya mengangguk.
“Wuih sarung tarung yang dari Sulsel itu ya?!”
Rery yang sudah kembali dari dapur itu langsung menerka.
Kafeel mengangguk, dan para Dad hanya berdehem untuk mengiyakan tebakan Rery barusan.
♥♥
“Aku dipilihkan untuk melawan Poppa oleh Uncle R ..”
Kafeel berkata lagi pada Val. Dengan dirinya mencoba fokus saja ke wajah Val.
Karena leher ke bawah Val, sungguh lah mengganggu kenyamanan ‘tongkat starwars’ milik Kafeel.
“Hem, begitu ya? ..” ucap Val. dan Kafeel mengangguk lesu.
Well, hanya berlagak saja itu si AA depan Val sebenarnya demi membuat Val menyelamatkan dirinya dari tantangan konyol namun menegangkan bagi Kafeel.
“Ya sudah.... Hanya itu saja kan Dad, tantangannya? ..”
Kafeel melongo sambil memandang pada Val yang menganggap enteng tantangan dari para Dadnya itu untuk Kafeel.
Alih-alih merengek pada para Dadnya, Val seolah mengijinkan para Dadnya itu untuk meneruskan tes untuk Kafeel.
Dan mau tidak mau, Kafeel pun pasrah, karena Val tidak merengek pada para Daddynya untuk menghentikan tantangan tarung sarung yang dicetuskan oleh para Daddynya Val.
♥♥
“Jadi bagaimana, jadi atau tidak kalian mau main challenge-challenge-an?”
Gamma bersuara.
“Must be! ( Harus jadi! )”
Poppa dan Daddy R yang kompak menjawab.
“Terus kapan mulainye?... Papah rada ngantuk ini udah.”
Ake Herman bersuara.
“Tapi pengen liat dulu itu tarung sarung yang beneran kayak gimane.” Lanjut si Ake.
“Iye jangan beneran-beneran amat juga Dru. Kesianan itu calon cucu mantu kalo babak belur ..”
Ene Bela ikut bersuara.
‘Bukan kalo lagi kalo lawannya si Endru sih! Babak belur beneran anak orang bisa-bisa kalo lawan die..’ Ene Bela membatin kemudian.
“Halah, laki-laki, babak belur, luka-luka sudah biasa itu, Ma.” Pungkas Poppa.
“Mana ada!” sambar Gamma. “Ga ada itu yang namanya luka-luka adalah hal yang biasa!”
“Loh, Andrew, R, two J, Lucca dan Dewa pernah memiliki luka tembak bahkan!”
“Betul itu!” timpal Daddy R. “Ini masih lebih ringan daripada harus baku tembak, Mom.”
“Kalau dibilangin sama orang tua, masih aja suka menyahut! Lupa sudah jadi kakek-kakek kalian?!” Poppa dan Daddy R cekikikan.
Begitupun mereka yang berada didekat keduanya serta Gamma saat ini yang ikut cekikan juga.
“Memang hobi kalian aja menyambangi itu bahaya!” ketus Gamma.
Poppa dan Daddy R mendengus geli kemudian, termasuk juga para putra generasi pertama The Adjieran Smith lain selain Poppa dan Daddy R.
“Enak saja Nyonya Anthony kalau bicara ---“ pungkas Poppa. “Bukan kami yang hobi menyambangi bahaya.. tapi bahaya itu saja yang kegenitan selalu menyambangi kami.”
Poppa mencebik.
“Lagipun, kalau kami ini tidak akrab dengan bahaya hingga kami jadi terbiasa dan tahu serta paham bagaimana menghadapinya---“
Poppa belum selesai bicara.
“Aku dan R tidak akan sanggup menyelamatkan suami anda itu—“
Tunjuk Poppa pada ayah kandungnya-Gappa.
“Dan anda, Nyonya Erna Anthony Kingsley Adjieran Smith, sudah menjadi janda sejak lama---“
“Pongah, heh?...” pungkas Gappa.
__ADS_1
“Of course! ( Tentu saja! )—“
Poppa spontan menyergah.
“Jika aku dan R telat menyelamatkanmu Dad, kau sudah berada di neraka saat ini akibat dosa-dosamu yang suka bermain perempuan macam ini nih—“
Poppa yang memang sekate-kate mulutnya-kalo kata Keluarga Cemara, mencibir dan mengejek Gappa lalu menunjuk pada anak kembar generasinya yang beda orang tua.
“Dua mantan penjahat kelamin..”
“Bocah tua tengik!” pungkas Gappa sambil memandang sebal pada anak lelaki kandungnya itu. “Berani kau menyumpahi ku?!”
Gappa berdiri dari duduknya sambil berkacak pinggang dan mendelik tajam pada anak lelaki kandungnya yang kini tergelak tanpa akhlak.
“If not because of your wife and my two grand-child of you and Fania ( Jika bukan karena istri dan dua cucuku darimu dan Fania )—“
Gappa masih melotot pada Poppa.
“Sudah aku coret namamu dari daftar warisan keluarga!” semprot Gappa pada Poppa dengan dirinya yang sudah memang fasih berbahasa Indonesia dari sejak Gappa remaja.
Hanya saja logat British Gappa tidak pernah hilang, walau pernah lama sekali tinggal dan menetap di Indonesia.
“Corrosion Duck! ( Dasar Bebek Karatan! )”
Gappa merutuki anak lelaki kandungnya itu.
Dimana gelakan seketika membahana dari mereka semua yang berada didekat Gappa dan Poppa.
Melihat Gappa yang selalunya cool itu memasang tampang jengkel saja sudah membuat keluarganya tersenyum dan tertawa geli.
Jadi mendengar Gappa merepet yang sungguh jarang-jarang didengar dan dilihat sambil merutuk pada Poppa apalagi dengan celetukan, tak ayal mengundang tawa bagi keluarga dan kerabat yang sedang ada bercengkrama bersama saat ini.
*
“Ya sudah, ayo kita mulai!”
Daddy R berseru.
“Tunggu dulu—“ sergah Kafeel.
“Kenapa? Nyalimu menciut, hem?”
Poppa pun menyambar.
“Bukan, aku kan ga paham bagaimana ketentuan itu tarung sarung --” Kafeel kembali berucap.
“Sudah aku katakan tadi tidak ada peraturan.”
Dan Poppa kembali menyambar ucapan Kafeel.
“Yap!”
Daddy R menimpali.
“Kau hanya tinggal masuk ke sarung yang sama dengan Uncle Andrew, setelah itu silahkan baku hantam sebebas-bebasnya sampai ada yang tumbang.”
Daddy R menambahkan.
Mika yang bertanya.
“Setahu aku tarung sarung ada turnamennya malah.”
Para Dad mengangguk. “Memang ada.”
Poppa yang menyahut.
“Tapi ini kan bukan turnamen –“
Daddy R menimpali.
“Ini kan tantangan untuk pria yang katanya mencintai salah satu saudari kalian yang mau membuktikan cintanya pada si ini ulat bulu.”
Daddy R berbicara lagi sambil melirik malas pada Kafeel dan menunjuk pada Val dengan dagunya yang mana membuat mereka yang berada di dekat Daddy R mendengus geli.
“Makanya tidak perlu ada peraturan.” lanjut Daddy R.
“OOO..”
“Bulat!”
Poppa nyeletuk saat para pewaris muda sontak ber ‘O’ ria secara serempak.
“Macam kepala Poppa dong ya? ---“
“Berani mengataiku kalian para bocah tengik?..”
Poppa mendelik pada para muda-mudi, anak-anaknya itu yang kemudian cekikikan.
“Jika ku-batalkan semua perjanjian tentang hadiah kalian dan ku ambil habis fasilitas kalian, bahkan para Dad yang lain takkan mampu menghentikanku.”
“Aih, Poppa.. begitu saja marah..”
“Masa bodoh!”
“Kami pijat Poppa, oke??..”
“Poppa butuh sesuatu?..”
“Aku buatkan minuman kesukaan Poppa, ya?..”
“Ich liebe dich Poppa.. Saranghe, Ana uhibbuk, Aku padamu..”
“Cih!” Decih Poppa menanggapi rayuan maut anak-anaknya akibat ancamannya tadi.
Ancaman yang sebenarnya hanya gertakan saja pada para pewaris yang macam orang tuanya, suka iseng mulutnya.
“Sayaang Poppaa..”
Dan para pewaris muda itu pun berhambur kepada Poppa secara serentak dengan tawa lebar, hingga si Poppa mendengus geli saja pada kelakuan para bocah kesayangan itu.
Mereka yang ada disekitaran Poppa dan para pewaris muda pun tertawa saja.
*
__ADS_1
“Tapi kok Daddies tahu saja soal tarung sarung ini?” celetuk Via seraya bertanya.
“Ya kalau tahu sudah dari dulu.” Daddy Dewa yang menyahut. “Tahun lalu kami berkunjung ke Makasar dan menonton turnamen tarung sarung ini..”
“Hu’um..”
“Kebetulan lihat Ake Herman pakai sarung, jadi kita orang itu soal tarung sarung.”
Papi John menimpali seraya terkekeh kecil. Dan kekehannya pun menular pada yang lain.
*
“Ya sudah mulai dong kalau begitu..”
Ares bersuara. Nampak tak sabar ingin melihat itu yang namanya tarung sarung.
“Iya mulai dong!” timpal Rery.
“Nanti habis Poppa versus Kak Kafeel, aku sama Rery mau coba ya?..”
Aro ikut bersuara.
“Ya kan Ma Bro?!”
“Oh iya dong!” sahut Rery.
*
“Cepatlah kalian berdiri!”
Daddy Jeff bersuara, sambil memandang pada Poppa dan Kafeel.
Kafeel langsung mengangguk dan menyahut mengiyakan, kemudian berdiri dari duduknya.
“Semangat ya Kak?..”
Val memberikan semangat pada Kafeel dengan tersenyum cantik.
“Iya, pasti Val. Kan demi kamu?” jawab Kafeel juga dengan tersenyum pada Val.
“Heleh!” celetukan Daddy R.
Kafeel menahan tawanya dan Val mencebik manja pada sang ayah kandungnya.
Sementara sisanya terkekeh kecil.
Lalu Val kembali pada berbicara pada Kafeel.
“Maaf ya Kak, gara-gara Val, Kak Kafeel jadi harus bertarung dengan Poppa..”
“Tidak masalah kok Val.. Untuk Val, Kakak sanggup melewati segala rintangan..”
Kafeel menyahut lembut seraya tersenyum teduh pada Val yang meninggikan sudut bibirnya selepas mendengar ucapan Kafeel.
“🎵Because I’m your Iron Man, and I love you 3000..🎵” kata Kafeel mengutip sebuah penggalan lagu sembari juga si AA sedikit bersenandung.
“Cuih!”
Cibiran julid terdengar dari mulut Daddy R dengan spontan.
“Ih, Daddy usil!” cebik Val, sementara Kafeel dan yang lainnya terkikik saja.
Para pewaris tahunya, para Dad mereka itu memang orang yang sangat serius jika diluaran-termasuk Daddy R.
Tapi jika sudah didalam lingkup keluarga, Daddy R dan para Dad lainnya sungguhlah sering menyala mode yang jauh dari kata serius, bahkan tak jarang bersikap konyol.
Terlebih setelah Momma featuring Keluarga Cemara masuk ke dalam lingkup keluarga mereka, jauh dari sebelum para pewaris hadir ke dunia. Sebelum bertemu lagi dengan Momma, melihat Daddy R tertawa adalah sebuah hal yang langka.
*
“Sudah cepat ambil ini, dan buktikan ucapan soal kesungguhanmu untuk memberikan bukti jika kau benar-benar mencintai Val!”
Daddy R memberikan sarung pada Kafeel yang langsung diterima oleh Kafeel dengan tersenyum pada camernya itu.
“Hey Donald Bebek Tua, tunggu apalagi?” cetus Daddy R pada Poppa yang bukannya berdiri, malah bermesraan dengan Momma yang sudah berada di dekat si Poppa sekarang.
“Ck.” Decakan kecil terdengar dari mulut Poppa. “Lo sajalah yang bertarung dengan si Kaka, R!” kata Poppa kemudian. “Adu panco saja dia sudah kalah dari gue hanya dalam waktu lima detik.”
Poppa lalu memandang pada Kafeel.
“Meski kau jauh lebih muda dariku, tapi tenagamu masih belum sebanding denganku.”
Pongahnya Poppa.
Ga aneh.
‘Ye, gue kalah juga gegara itu penampilan Val yang membuat gue jadi hilang fokus seketika!’
Sementara Poppa berseloroh, Kafeel membatin sebal.
‘Ah ilah, jadi pengen ngeliatin Val lagi dari atas sampe bawah kan?..’ Sambil Kafeel melirik ke arah Val yang masih berada dekat dengannya.
“Sini Val pakaikan sarungnya Kak—“
Val merebut pelan sarung yang dipegang Kafeel.
“Menunduk sedikit Kak..”
Val berucap.
Gadis ulat bulu itu telah berada di hadapan Kafeel, dengan penampilannya yang membuat tangan Kafeel rasanya gatal ingin meraih pinggang ramping Val lalu merapatkan tubuh keduanya.
‘Rezeki ga kemana emang..’ batin Kafeel yang sumringah, karena pemandangan dua bukit kembar dibalik tanktop olah raga Val kini ada dihadapannya meski berjarak.
Selain bulatannya yang menggoda imron, belahan yang nampak sedikit terlihat itu membuat Kafeel rasanya ingin hiking menyusuri pegunungan, lalu merasakan sensasi dingin-dingin empuk?.
‘Pura-pura kesandung apa ya gue?..’ hati Kafeel berbisik nakal. ‘Pas banget kan nanti jatuhnya pasti..’
AA.. sentil nih ya..
*
To be continue..
__ADS_1