HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
DON’T PLAY PLAY BOSQUE ( Bagian 2 )


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Jakarta, Indonesia...


“Kalian memang laki-laki beruntung di dunia, memiliki istri-istri yang luar biasa macam istrimu itu John ..” ucap salah seorang pria yang merupakan salah satu kolega dari The Dads of Adjieran Smith, saat melihat Mami Prita berdiri di panggung untuk memberikan hormatnya kepada para tamu yang hadir ketika pembawa acara memperkenalkan salah satu Mom of The Adjieran Smith itu sebagai pemilik dari sebuah sanggar seni yang ia kelola bersama kakak kandung berikut satu pewaris muda urutan ketiga.


Dimana sang suami tersenyum saja mendengar pujian yang dilayangkan pria tersebut untuk istrinya.


Namun setelahnya ia menanggapi lagi beberapa orang wanita cantik dan muda yang kini berdiri di dekatnya.


Setelah juga terlihat bermaksud memanas – manasi sang istri yang tadi sempat melirik ke tempatnya saat ia sedang mengobrol nampak akrab dengan para wanita cantik yang ada di dekat dia gerangan yang adalah Papi John.


“Don’t start a fire ( Jangan cari gara-gara )---“ seseorang berbisik di telinga Papi John setelah sempat juga melihat adegan Papi John dan Mami Prita yang tatap-tatapan sejenak, dimana si Papi terlihat seolah sedang memanas-manasi si Mami yang orangnya telah melangkah bersama asisten pribadinya, dan sudah sempat tampil dengan anggun di atas panggung.


Karena Papi John nampak berinteraksi sangat dekat dengan beberapa wanita cantik yang masuk dalam kategori wanita muda di dekatnya itu.


“Dia yang mulai---“ sahut Papi John pada Papa Lucca yang barusan berbisik padanya.


“Papi juga sama kekanakkannya macam Mami kalo begini, Pih. Nanti dibales sama Mami loh sikap Papi yang begini?---“


Ada Nathan yang berkomentar juga dengan kasak-kusuk di belakang Papi John saat Mami Prita telah kembali ke belakang panggung.


Papi John mendengar kasak-kusuknya Nathan di belakangnya itu.


“Heh ..” namun begitu saja tanggapan Papi John atas komentar Nathan yang mengarah pada sebuah peringatan kecil untuk si Papi itu. Mendengus remeh si Papi gerangan.


“Lebih baik lo hampiri Prita sana ..”


“Lalu membuat dia semakin besar kepala?” Papi John memiringkan sedikit tubuhnya ke arah para pria yang ia kenal sangat dekat itu, setelah permisi pada para wanita muda yang ada di dekatnya itu untuk menjeda sejenak obrolan mereka tanpa Papi John bergeser dari tempatnya.


Para penari asuhan Mami telah memulai penampilan mereka di atas panggung, saat Papi John tengah menanggapi para pria terdekat dengannya itu.


“Maaf saja---“ lanjut Papi John menyambung responnya pada anjuran Daddy Dewa.


“Maaf saja---“ Ada Varen yang ikut buka suara. “Nanti mohon-mohon maafnya Mami?...”


“Tidak akan!---“


Papi John dengan cepat menampik celetukan Varen.


“Never say never ( Jangan pernah bilang tidak akan ), Pih.”


“Tau,” tukas Nathan. “Lagian bener tuh yang Dad Boo-Boo bilang, mendingan Papi samperin sana Mami.”


Nathan menambahkan komentarnya.


“Daripada dibales Mami, nanti nyesek loh---“ timpal Varen.


“Masa bodoh ..” sambar Papi John.


“Yah dibilangin,” tukas Nathan dengan samar. Lalu beberapa pria The Adjieran Smith yang berkumpul bersama para pria kerabat terdekat mereka mendengus geli setelah mendengar tukasan Nathan.


Lalu Papi John kembali pada para wanita dari ajang kontes ratu kecantikan yang sebelumnya sudah pernah ia temui di sebuah kota yang memiliki julukan Paris Van Java itu.


“Biarkan saja dia---“ ada Poppa yang ikut juga berkomentar sambil ia memperhatikan pertunjukkan tari dari para anak asuh Mami Prita dan Andrea, yang juga masuk ke dalam anak asuhan sang istri tercintanya. “Nanti juga kena mental dari Prita ..”


Dan mereka yang mendengar celetukan kasak-kusuk datarnya Poppa dimana orang yang Poppa maksud itu tidak mendengar celetukannya karena sedang sibuk haha hihi dengan para wanita didekatnya itu, terkekeh bersama kemudian. Lalu kembali fokus melihat pertunjukkan tari dari anak-anak sanggarnya Mami Prita.

__ADS_1


♥♥♥


Dangdosan Sederhana .. Mojang Priangan ..


Delapan penari asuhan Mami Prita telah membentuk formasi yang menandakan akhir penampilan mereka, seiring seorang penyanyi dengan pakaian tradisional sunda telah mengakhiri nyanyiannya.


Yang mana penyanyi tersebut menyanyikan sebuah lagu sunda yang diaransemen apik oleh para pemusik pengiringnya dengan kolaborasi musik modern dan tradisional, meski alat musik tradisional yang mendominasi tarian jaipong yang ditampilkan oleh anak didiknya Mami Prita yang mantan atlit gimnastik dan dancer itu.


“WOAHH!”


Tepukan riuh dari orang-orang yang menyaksikan pertunjukan tari jaipong anak didik Mami Prita dan Drea juga tadi, terdengar menggema di seantero ballroom hotel setelah delapan penari itu membentuk formasi di akhir tarian mereka.


Diantara para penampil seni yang lain, memang penampilan delapan penari anak didik Mami Prita itu sangat menyita perhatian para hadirin yang ada di acara puncak festival tahunan tersebut – karena tarian yang enerjik dengan musik yang membuat rasa hati bersemangat. Belum lagi keindahan suara penyanyi yang melantunkan lagu tradisional sunda pengiring tarian, termasuk kemampuan para pemusik pengiring juga cukup membuat mata tak ingin berpaling dari panggung saat delapan anak didik Mami Prita-Drea dan para pemusik asuhan Momma itu tampil.


Belum lagi tarian tersebut disertai dengan beberapa geolan sedikit bikin resah para kaum adam saat delapan penari tersebut menggerakkan pinggul mereka seirama gendang.


“Ladies and gentlemen---“


Suara pembawa acara terdengar, namun sayup-sayup musik dari lagu tradisional yang tadi mengiringi delapan penari anak didik Mami Prita juga Drea masih terdengar di belakang suara sang pembawa acara yang bicara.


“Here I proudly present, an honor performance ( Saya dengan bangga mempersembahkan, penampilan kehormatan ) ..”


Dan perhatian para tamu yang tadinya hendak teralih kini kembali menatapi panggung setelah mendengar cuap-cuap dari pembawa acara yang memberitahukan jika ada penampilan seni tambahan yang entah apa.


Namun rasa penasaran dari hampir semua orang yang ada dalam ballroom mencuat ketika dua pembawa acara saling bicara bersahutan itu mengatakan jika penampilan yang akan hadir adalah sebuah penampilan kehormatan.


Lalu delapan penari yang tadi telah membuat formasi berakhirnya tarian mereka, kini membelah ke sisi samping dimana kemudian lampu tembak nan menyilaukan – kini menyoroti bagian tengah panggung, yang samar-samar terlihat sosok yang berjalan dari bagian belakang panggung hingga kemudian berhenti di tengah panggung tersebut.


Dan nampaklah disana, seorang wanita berkebaya merah yang membalut ketat tubuhnya, hingga bentuk tubuh yang masih nampak ideal di usianya itu membuat si wanita berkebaya merah menjadi pusat perhatian semua orang. Yang mana wanita berkebaya merah tersebut adalah sosok yang semua orang kenali dan sempat muncul juga di atas panggung sebelumnya tadi.


“Proudly present to you, Mrs. Prita John Smith ( Dengan bangga mempersembahkan, Nyonya Prita John Smith ) ..”


Kian riuhlah suasana ballroom ketika pembawa acara menyebutkan nama wanita berkebaya merah tersebut.


Lalu suara hentakan gendang pun terdengar, dan wanita berkebaya merah dengan tambahan selendang di pinggangnya itu nampak memasang kuda – kuda seperti hendak menari.


“Tarik atuh Kang ..” Mami Prita bersuara yang hanya di dengar oleh mereka yang berada di panggung, sementara yang berada di depan panggung hanya bisa melihat gerakan bibir Mami Prita saja yang disertai dengan senyuman merekah.


“Hiji Dua Tilu.”


Papi John membelalakkan matanya, ketika pembawa acara menyebutkan nama si wanita berkebaya merah. Yang kini sudah ..


Ah sudahlah, membuat gemetar kaum adam yang tak mengenalnya.


Ketika Mami Prita sudah memasang kuda-kuda tonggengan maut miliknya seiring suara musik pengiring.


Lalu tari jaipong ditampilkan dengan enerjiknya oleh si Mami dengan senyuman sumringahnya. Kiranya seluruh tubuh Mami Prita bergerak dengan enerjik dan seksinya.


Ah iya, jangan lupakan geolan setengah-setengah yang bikin penasaran dan juga meresahkan para kaum adam yang tak dekat hubungan dengan si Mami, yang kini kiranya membuat dia yang merasa bahwa dirinya adalah sang suami dari wanita berkebaya merah yang sedang menari jaipong itu juga ikut resah dan gelisah melihat sang istri yang sedang menari dengan seksinya meski tidak terlihat vulgar.


Namun cukup membuat jantung kaum adam yang melihat kiranya berdebar, karena bongkahan yang sesekali tersentak itu sangat ideal, dan lagi usianya juga belum sampai paruh baya -- karena ia adalah menantu termuda dari para istri pria-pria yang disebut The Dads of Adjieran Smith. Dimana The Dads itu sedang puas terkekeh melihat satu saudara mereka yang nampak shock dengan penampilan si wanita berkebaya merah.


“HEE-AAA!!!”


Ada kehebohan yang kian tercipta, kala geolan setengah-setengah menjadi bulat adanya.


“Dibilangin juga apa---“ Ada Nathan yang nyeletuk geli melihat si Papi yang sungguh terperangah hingga membeku melihat si Mami yang sedang meliukkan tubuhnya menari jaipong di area panggung tersebut.


“Ingat omongan ..” Ada Dad R yang ikutan nyeletuk iseng meledek Papi John yang hendak melangkahkan kakinya mendekat ke panggung. “Ga akan ganggu Prita karena dia ga ganggu lo sama perempuan-perempuan tadi ..”

__ADS_1


“Pria Adjieran Smith itu teguh memegang kata-katanya---“


Daddy Jeff menimpali.


Papi John menghentikan langkahnya karena ucapan Daddy Jeff barusan.


Merasa, ye kan Pih?


Diraksukan Kabaya, nambihan cahayana


Dangdosan Sederhana .. Mojang Priangan ..


Papi John menghela lega nafasnya, ketika musik terdengar seolah berhenti.


Kesal memang pada si Mami, tapi shock juga dengan kejutan yang ia dapatkan dari istrinya itu.


Ga rela banget si Papi melihat Mami geal-geol begitu, karena banyak sekali kaum adam yang menyaksikan dan dipastikan mereka ileran karena itu geolan Mami Prita yang lebih mantep dari geolan para anak didiknya.


♥♥♥


Papi John mengulas senyuman ketika Mami Prita turun dari panggung dan berjalan ke arahnya.


Tapi ..


Angkat Ngagandeuang Bangun Taya Karingrang


Alih-alih menghampirinya, Mami Prita melewati Papi John begitu saja sambil melepaskan selendang yang terikat di pinggang si Mami.


Suara penyanyi dan musik berlanjut lagi.


Kini Mami Prita telah berdiri di depan satu sosok pria.


Bukan Papi John tapi.


Umat Imut Lucu ..


Lagu dan musik masih berlanjut, seiring Mami Prita melingkarkan selendang pada pria di hadapannya.


Diraksukan Kabaya, nambihan cahayana


Berpakaian kebaya, menambah cahaya.


Maksud lirik lagunya.


Tapi ada yang mungkin kerasukan penunggu hati yang gerah, gegara kini Mami Prita menarik pria yang ia lingkarkan lehernya dengan selendang untuk menari bersama, kembali dengan geolan yang tercipta.


Geolan yang meresahkan jiwa.


Tak ada cahaya di wajah si Papi, melainkan redup adanya.


Kala Mami Prita mengabaikannya dengan fokus menari dengan sosok pria yang dipasangkan selendang olehnya.


“Sugar---“ lirih Papi John.


“Makan tuh sok-sok-an manas-manasin si Mami,” ledek Varen sepenuh hati.


“Kena mental ga tuh?! ..” timpal Nathan yang kemudian terkekeh geli puas sekali bersama para anggota keluarga lainnnya.


“Aki-aki tambeng sih?!”

__ADS_1


♥♥♥♥♥♥


To be continue ...


__ADS_2