HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 79


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia...


“Kak Kafeel bagaimana sih?! Sudah Val katakan ikuti rencana Val!”


Sebaris kalimat protes segera meluncur dari mulut Val pada Kafeel.


“Kalau rencananya ga baik ----“


“Katanya Kak Kafeel cinta sama Val!”


“Iya ----“


“Tapi Val bukakan jalan agar kita bisa menikah dengan cepat, malah tidak mau!”


Lagi, Val menyambar sebelum Kafeel lengkap berucap.


“Bukan begitu Val ----“


“Ck! Kak Kafeel tidak asik!”


“Val, aku itu ingin kita ----“ Kafeel hendak membujuk kekasih kecilnya yang sedang merajuk berat itu.


“Sudah ah! ----“


Namun lagi-lagi, ucapannya keburu di sambar Val.


“Kak Kafeel menyebalkan!”


Val berucap ketus saat Kafeel hendak bicara, setelah dirinya melayangkan protes pada Kafeel yang dianggapnya tidak bisa diajak bekerja sama, guna dinikahkan cepat-cepat.


Lalu Val hengkang dari hadapan Kafeel dan kedua orang tua kandungnya.


“Dasar om-om labil!”


Kemudian, kalimat cibiran keluar dari mulut Val, sambil ia yang merasa sebal pada Kafeel berjalan dengan menghentakkan kakinya ke lantai dengan masih bersedekap.


Membuat Kafeel sampai melongo membuka mulutnya, karena dikatai Om-Om labil oleh kekasih kecilnya itu.


Dan suara gelakan sontak saja keluar dari mulut Daddy R, sementara Mommy Ara terkekeh.


‘Waduh nih anak, gue dibilang om-om labil?!....’


Kafeel membatin tak percaya saat kedua camernya itu tergelak dan terkekeh selepas Val mengatai dirinya sebagai ‘om-om labil’.


‘Wah, anak naga minta diunyel-unyel dia ngatain gue begitu,’ kata Kafeel lagi dalam hatinya.


“Menyebalkan! Katanya cinta?! Tapi diajak kerjasama agar bisa dinikahkan dengan cepat tidak mau! Huh!”


Sementara itu, si anak ‘naga’ menggerutu sambil berjalan menjauh dari tiga orang yang ada dibelakangnya.


‘Eh kenapa Val ga belok ke arah backyard?....’ batin Kafeel yang memperhatikan Val yang sedang berjalan itu.


Sebenarnya ingin segera menyusul Val, tapi Kafeel rasa urung, karena kedua orang tua kandung kekasih kecilnya itu masih ada dihadapannya.


“Sudah sana!....” suara Daddy R yang macam tahu jika Kafeel ingin mengejar putri kandung bungsunya itu terdengar, sambil ia memandang pada Kafeel. “Silahkan saja jika kau mau mengejar kekasih kecilmu itu yang sepertinya sedang merajuk padamu....”


“Iya Uncle, terima kasih –“ jawab Kafeel.


“Tapi aku beritahukan padamu, jika dia serius merajuk, akan sulit membujuknya.”


Daddy R berbicara lagi sambil masih cengengesan sehabis tergelak barusan.


Mommy Ara juga masih senyam-senyum saja.


“Sabar-sabarkan hati ya, Ka?--” lalu Mommy Ara bersuara dengan setengah terkekeh. “Karena meskipun Val mencintai kamu, tapi dia juga sangat keras kepala jika ada keinginannya yang belum tercapai dan tidak dikabulkan.”


Mommy Ara lanjut bicara dan Kafeel mengangguk dengan tersenyum.


“Iya, Aunt. Terima kasih nasehatnya.” Ucap Kafeel dengan sopan. “Aku susul Val dulu ya Uncle, Aunt?”


“Iya Ka....” Mommy Ara yang menyahut seraya tersenyum sembari mengusap lengan Kafeel.


Sementara Daddy R mengangguk saja, namun masih mesam-mesem.


Kafeel lalu berlalu dari hadapan Daddy R dan Mommy Ara.


*


“Val....” panggil Kafeel yang berjalan dengan nampak sebal itu, karena terdengar gumaman dari mulut Val yang mengarah pada gerutuan.


Val yang sedang berjalan menuju lift dalam Kediaman keluarga besarnya itu menghentikan langkahnya seraya berbalik badan karena mendengar Kafeel memanggilnya.


“Apa?....” sahut Val dengan nada suaranya yang terdengar sebal, serta wajahnya cantiknya yang masih merungut.


“Mau k –“


Kafeel hendak bertanya pada Val.


“Mau kemana Val?....”

__ADS_1


Namun keduluan oleh Rery yang muncul dari dalam lift, dengan membawa sebuah gitar di tangannya.


“Mau ke kamar....” sahut Val pada Rery sambil ia berbalik dan kembali melangkah untuk mendekat pada lift.


“Ga mau main lagi di pool?” tanya Rery lagi dan Val menggeleng.


“Sudah tidak mood!”


“Eh, Val....”


Kafeel menggumam seraya memanggil pelan karena Val langsung memasuki lift setelah pintu lift terbuka lagi.


“Ngambek kenapa itu dia?....” gumam Rery sambil melirik pada Kafeel yang kemudian tersenyum canggung. “Pasti habis minta yang aneh-aneh lagi lalu ga digubris ya Kak?”


Rery yang paham sifat salah satu saudarinya itu pun berkomentar sambil bertanya pada Kafeel. “Begitu kira-kira.” Jawab Kafeel sambil tersenyum geli. ‘Bukan aneh lagi, tapi diluar nalar itu permintaan adenya si Alvarend.’


Kafeel membatin kemudian.


“Gabung ke pool aja yuk Kak....”


Rery yang tak mau ambil pusing dengan sikap Val itu kemudian mengajak Kafeel.


“Iya nanti Kakak nyusul, oke?.... Mau bujuk Tuan Putri Val dulu.” Sahut Kafeel dan Rery pun mengangguk-angguk sebelum ia berlalu dari hadapan Kafeel.


“Tapi sabar-sabar ya Kak, si Val tuh kalau serius ngambek, lama.” Kata Rery sebelum berlalu.


*


Kafeel telah berada di depan kamar Val, yang sudah ia ketahui dengan pasti letaknya kemarin.


Beep.


Suara dari sebuah kotak yang berada di salah satu dinding kamar berbunyi kala Kafeel menekannya.


Kafeel menekan salah satu tombol kotak tersebut, karena pintu kamar Val tertutup ketika ia tiba di depannya.


Meskipun Val adalah kekasihnya kini, Kafeel tetap bersikap santun dan tahu tata krama. Ia tidak mau begitu saja selonong boi masuk ke kamar Val. meski mereka adalah sepasang kekasih.


“Siapa?....”


Suara Val terdengar dari kotak yang salah satu tombolnya telah Kafeel tekan barusan.


Membuat Kafeel lantas tersenyum, meski fitur visual tidak diaktifkan oleh si empunya kamar saat menjawab pada kotak yang merupakan sebuah interkom dan merangkap juga sebagai kunci kamar dengan kata sandi.


“Aku, Val....” sahut Kafeel yang mana otaknya masih memikirkan cara untuk membujuk Val, yang katanya kalau serius merajuk, suka lama ngambeknya. ‘Kasih Val kata-kata romantis, dan itu pasti akan membuat dia berhenti ngambek!....’


Kafeel merasa yakin jika Val akan segera membukakan pintu kamarnya itu untuk dirinya, setelah Val mengetahui jika ia menyusul kekasih kecilnya itu.


‘Wajah Val selalu berseri-seri kalau gue bicara manis sama dia....’ batin Kafeel yang bermonolog. ‘Gue kasih gombalan apa ya?....’


Alih-alih langsung dibukakan pintu oleh Val, kekasih kecil Kafeel itu terdengar bertanya dengan nada suara yang datar.


‘Eh?....’


Kafeel yang tadinya percaya diri sekali kalau Val akan segera membukakan pintu kamarnya setelah kekasih kecilnya itu tahu jika ia menyusul kini mengernyit, karena Val malah bertanya ada apa bukannya langsung membukakan pintu kamar pribadi Val itu untuknya.


“Ini aku, Val....” ucap Kafeel menanggapi pertanyaan Val, dengan suaranya yang Kafeel sok imut-imutin.


“Iya, Val tahu. Kak Kafeel kan?” tukas Val.


“Kalau tahu, kok aku tidak dibukakan pintu?....”


Kafeel pun berkata dengan lembut seraya bertanya, karena Kafeel membaca tulisan ‘locked’ pada layar kotak yang sama dengan tombol yang tadi ia tekan.


“Val marah sama aku?....”


“Tidak-“ jawab Val cepat.


“Terus---“


“Tapi Val kesal pada Kakak!” Val segera memotong ucapan Kafeel.


Kafeel pun meringis pelan. “Ya sudah aku minta maaf....”


Kafeel memelaskan suaranya.


“Bisa bukakan pintunya agar kita leluasa bicara?....”


“Tidak bisa!”


‘Waduh!’ Kafeel tercengang mendengar jawaban Val yang menolaknya. “Kok Val-nya Kakak, jadi suka ngambek begini sih?”


“Wajar dong Val merajuk pada kekasih Val?!....”


Val menanggapi dengan cepat ucapan Kafeel barusan.


“Iya tapi setidaknya tolong buka pintunya dulu—“ bujuk Kafeel.


“Tidak mau.” Sambar Val.


Kafeel pun mendengus. “Kalau diperlakukan seperti ini aku bisa-bisa tersinggung loh?....”


“Tidak perduli karena Val sudah tersinggung lebih dulu!”

__ADS_1


‘Haish....’ Kafeel menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Kan aku sudah minta maaf tadi?....”


Kafeel merayu.


“Tapi Val masih kesal.”


Suara Val masih sedikit ketus.


“Lalu Val akan tetap akan membiarkan Kakak begitu saja disini?....”


“Iya terserah, Kakak mau berdiri disitu atau mau kemana. Val belum mau membukakan pintu dan mempersilahkan Kakak masuk ke kamar Val...”


“Kalau Val bersikap seperti ini Kakak pulang saja ya?....”


“Iya terserah.” sahut Val enteng.


‘Ye malah di iyain!’


Kafeel berkesah dalam hati, karena ancaman yang barusan ia katakan pada Val nyatanya belum ampuh untuk membujuk Val membukakan pintu kamar kekasih kecilnya itu untuknya.


“Aku tanya sekali lagi ya—“ ucap Kafeel. “Mau bukakan pintu kamar Val ini untuk Kakak atau tidak?.... Karena kalau tidak Kakak beneran pulang loh?” ancam Kafeel sekali lagi.


“Val jawab sekali lagi juga. Jawabannya tidak mau. Dan kalau Kak Kafeel mau pulang, ya pulang saja sana.” Pungkas Val.


“Jadi begitu?—“


“Iya.”


Val tetap bersikukuh.


‘Haish!’


Membuat Kafeel berkesah sekali lagi, karena ancamannya tak mempan juga membuat Val mau membukakan pintu kamar Val untuk dirinya.


Membuat Kafeel jadi geregetan sendiri juga.


Sejenak Kafeel terdiam, sambil memikirkan cara lain membujuk Val, karena ancamannya pada Val memang tidak serius.


“Kalau Val masih bersikap seperti ini, Kakak akan pulang dan menonaktifkan ponsel Kakak—“ ancam Kafeel sekali lagi, dengan menambahkan satu ancaman yang ia harapkan akan meluluhkan Val.


“Ya terserah!.... Val juga tidak berencana akan menghubungi Kak Kafeel dalam waktu dekat kok.” Sahutan Val membuat Kafeel geregetan lagi, karena ancaman tambahannya dipatahkan lagi oleh Val.


‘Ish ini bocil cakepnya kebangetan, kenapa selalu bisa banget ngebalikin ucapan gue sih?!’ sungut Kafeel dalam hatinya. ‘Kesel deh eike!’ sambil ia mencebik.


Kafeel terdiam lagi, sambil memikirkan cara lain untuk membujuk Val.


“Kak?....”


Lalu senyuman terbit di bibir Kafeel, kala mendengar suara Val memanggilnya.


‘Kan, Val pasti was-was gue balik beneran?....’ batin Kafeel yang percaya diri. “Iya Val, aku masih disini-“ sahut Kafeel dengan nada suara yang dibuat sok cool nan berwibawa.


Kafeel menegakkan dirinya di depan pintu kamar Val, yang iya yakini akan segera dibuka oleh si empunya kamar.


Tapi....


“Kok belum pulang?-“ yang diucapkan Val justru diluar ekspektasi Kafeel.


Alih-alih dibukakan pintu lalu Val merajuk sebentar dengan wajah cemberutnya nan menggemaskan dan kemudian berhambur ke pelukan Kafeel, kenyaataan yang terjadi malah kekasih kecilnya itu melakukan pengusiran secara halus padanya.


‘Kejam banget anak naga!!’


Kafeel merutuk dalam hatinya.


'Pacarnya loh ini, Pacar!'


*


Kafeel masih berdiri di depan pintu kamar pribadi Val yang berada di lantai tiga kediaman kekasih kecilnya itu. Ia memijat pelipisnya, karena ia rasanya sudah habis cara untuk membujuk Val. Sebal juga sih dengan Val, tapi Kafeel tak rela juga beneran mau pulang kalau diacuhkan seperti ini oleh Val. Merasa frustasi, kenapalah kekasih kecilnya ini suka kejauhan banget mikirnya, lalu pemikiran Val yang kejauhan itu akan menciptakan permintaan yang diluar nalar.


“Val....” panggil Kafeel lagi, setelah melirik lampu pada kotak interkom merangkap kunci kamar Val yang masih berwarna hijau-dimana itu menunjukkan jika Val belum memutuskan sambungan dari dalam kamarnya. Dan sahutan pun Val pun terdengar, walau hanya sebatas deheman dan sedikit agak jauh suaranya.


“Heemm??....”


“Ya udah gini, Val maunya apa? –“


“Tidak mau apa-apa, karena Val sudah punya semua.” potong Val sekali lagi dengan entengnya ia berbicara.


‘Aduuh Gustii!!....’ Kafeel rasanya ingin membenturkan kepalanya ke pintu kamar Val. "Val...." panggil Kafeel. 'Mau digigit?'


Gemasnya si AA.


*


To be continue....


Jangan lupa tinggalkan jejak apresiasi jika syuka dengan ceritanya, yawgh.


Dan jangan lupa untuk mengklik ikon Love nya juga jika syuka dan belum memasukkan dalam rak bacaan kalean.


Makasih.


Salam sayang ter blaem

__ADS_1


Emaknya Queen.


__ADS_2