
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
London, Inggris,
Di dalam sebuah kamar, dimana sepasang insan sedang berada di atas ranjang yang sama, berbalut satu selimut yang sama.
“Untuk yang barusan terjadi, aku minta maaf—“
“Heu?—“
“Maaf kalo aku ga bisa nahan diri.”
Adalah Mika dan Arya sepasang insan tersebut.
Dimana Arya sedang menopang kepala Mika di atas satu tangannya.
Kemudian Arya mengangkat tubuhnya sedikit dan memiringkannya. Menatap pada Mika.
Yang satu pipinya kini sedang diusap lembut oleh telunjuk Arya. “Tapi mohon jangan berpikir, kalo gue ini fucekboi ya?”
♥
Mika tersenyum setelah mendengar ucapan Arya barusan, yang juga memandanginya dengan tatapan yang terlihat khawatir.
Lalu Mika berucap, “Sedikitpun gue ga berpikir begitu, Ar—“
“Makasih ya, Mi. Aku takut banget kamu punya pikiran negatif tentang aku, setelah apa yang tadi aku lakuin ke kamu.”
“Lo melakukannya juga bukan dengan pemaksaan juga, Ar.” Mika menanggapi ucapan Arya barusan. Dan Arya kemudian tersenyum, lalu menjawab ucapan Mika.
“Biar gitu tetep aja aku salah, Mi.”
♥
Mika menarik sudut bibirnya lagi. “Kita sama-sama salah—“
“Iya sih,” sambar Arya. “Emm tapi kayaknya kalo itung-itung salah sih.. kamu yang duluan salah—“
“Ih, kok gitu??”
Mika spontan menyambar dengan nada protes.
Arya tersenyum jahil, lalu langsung menjawab Mika.
“Ya gitu. Siapa suruh kamu pake kemeja aku yang bikin lo terlihat seksi banget?”
“Apaan sih.. gombal aja Recehboy—“
“Serius..”
Arya berujar dengan ekspresi sungguh-sungguh, sambil ia kembali mengusap satu sisi pipi Mika.
“Bikin gemes—“
Cup.
Arya lalu mengecup singkat pipi Mika yang barusan ia belai itu.
“Dan bikin aku hilang akal,” kata Arya lagi. Dan Mika langsung tersenyum teduh.
“By the way, Ar—“
“Kenapa?..”
“Lo sadar ga sih?—“
“Waktu nyerang kamu tadi?—“
“Bukan—“
“Trus sadar soal apa?—“
“Cara lo ngomong ke gue.”
“Cara.. aku ngomong ke kamu?—“
“Ya itu barusan,” tukas Mika lagi. “Lo pake aku-kamu dari tadi ngomong ke gue.”
♥
“Sadar,” Arya menjawab pertanyaan Mika sebelumnya. “Kenapa? Aneh ya?” imbuh Arya seraya bertanya. Dan Mika langsung mengangguk, lalu bertanya setelahnya.
“Kenapa tiba-tiba ganti panggilan kita?”
“Pengen aja..” jawab Arya. “Lagian wajar kan orang pacaran ditambah kita-akan gue pastikan jadi nikah, pake panggilan aku-kamu?”
“Tapi awkward ga sih?” Respons Mika. Dan Arya lantas tersenyum.
“Ya dibiasain biar ga awkward..” jawab Arya kemudian. Dan Mika terdiam sambil melipat bibirnya.
♥
“Kamu ga nyaman kalo aku mau mulai pake bahasa aku-kamu diantara kita?” tanya Arya karena ekspresi Mika.
“Biasa aja,” jawab Mika. “Kalo emang mau lo gitu, ya gue ikut aja.”
“Try, then (Coba, kalo gitu),” timpal Arya. Sambil ia menjepit dagu Mika dengan jarinya.
Membuat Mika jadi lebih menengadah ke arahnya. Dengan Arya yang memasang tampang menunggunya.
♥
“Iya nanti--“
“Sekarang aja.”
Arya menukas ucapan Mika.
“Ya nanti pas kita ada ngobrolin apa lagi gitu? Timbang ngomong aku-kamu aja, sama para member The Adjieran Smith juga aku juga ngomongnya pake aku-kamu—“
“Sama aku kan belom pernah?..”
“Ya nanti lah ada masanya—“
“Coba sekarang, please?” tukas Arya lagi.
“Ya ngomong apa yang pake penempatan aku-kamu sekarang?—“
“Arya Narendra aku cinta kamu—“
“Dih lebay. Geli!..“
“Kok lebay? Biasanya kita juga sering saling bilang I love you?” timpal Arya cepat. “Aku cinta padamu kan itu—“
♥
Mika dan Arya selanjutnya terlibat dalam sesi canda, dengan keduanya yang masih di atas ranjang Arya dan berbalut selimut.
Lalu berakhir, saat Arya kembali memberikan kecupan singkat pada Mika. Kini di dahi si Neng Judes. “Lo mau mandi?” dan bertanya kemudian.
Dimana Mika langsung mengangguk. Lalu Arya mulai bergerak. Beringsut dari tempatnya, meski ingin sekali berlama-lama seperti itu dengan Mika.
Namun Arya sadar, jika lebih lama lagi berada dengan Mika dalam keadaan mereka sekarang, apa yang sudah padam akan berkobar lagi. Pasti!
Jadi mumpung iminnya sudah mulai lurus sekarang, Arya rasa. Lebih baik dia segera beringsut dari tempatnya sekarang. Lalu berniat mengantarkan Mika kembali ke Great Mansion of The Adjieran Smith yang berada di London itu, setelah ia dan Mika selesai membersihkan diri mereka.
Masing-masing, ga barengan.
“Oh iya Ar.” Mika berkata, saat Arya sudah berdiri dari tempatnya.
“Iya Sayang?—“
__ADS_1
♥
Mika langsung mencebik kecil, serta juga tersenyum geli setelah mendengar sahutan Arya. “Dih, sok mesra?—“
“Cewek tuh, kalo cowoknya nyaut dengan mesra dan lembut tuh harusnya seneng. Ini malah protes. Dasar Neng Judes.”
“Siapa yang protes coba?”
Mika langsung membalas celotehan Arya.
“Lo aja yang lebay!—“
“Lebay gini juga calon suami kamu, Neng Mika—“
“Balik kanan dulu, gue mau pakai baju—“
“Ya elah pake malu-malu, tadi aku kan udah liat?—“
Buk!
Mika langsung melempar Arya dengan sebuah bantal.
♥
“Tadi mau ngomong apa?..” tanya Arya yang sebelumnya terkekeh karena dilempar bantal oleh Mika, dan telah berbalik lagi berhadapan dengan kekasihnya itu sesudah Arya juga sempat membalikkan badannya, kala Mika sedang mengenakan kembali kemeja Arya yang tadi sempat teronggok di atas lantai.
“Ga jadi, gue—“
“Aku,” tukas Arya.
♥
“Biasain.”
Arya menambahkan ucapannya.
Mika lantas berdecak kecil.
Dan Arya langsung mengulum senyumnya.
“Lanjutin omongannya.. Ga jadi apa?..”
“Ga jadi mau minta tolong ngomong sama Abott..”
“Mau ngomong apa sama dia?”
“Kan gue—“
“Aku.”
“Iya, iya! Ribet!”
Mika langsung menimpali Arya yang menukas dan meralat sekaligus ucapannya.
“Aku mau bilang ke Ab kalau dia silahkan aja mau istirahat makan. Kan aku juga mau mandi ini, terus ada lo—“
“Kamu,” tukas Arya lagi.
“Ish!” Mika mendesis sebal.
Namun kemudian ia kembali berucap, dengan mengikuti keinginan Arya.
“Ada kamu di sini, kan? Jadi Ab dan Carver bisa santai istirahat dulu. Selain pasti mereka belum makan—“
“Ya udah aku aja yang ngomong sama mereka,” tukas Arya. “Masa kamu mau nemuin mereka dengan pakaian kek gini?—“
“O iya ya?.. Hehe.. lupa..” Mika langsung menjawab Arya.
“Dah sana mandi. Jangan sampe aku mandiin pake keringet.”
“Recehboy cabul!..”
Mika pun langsung berseru pada Arya yang terkekeh, sambil ia berjalan menuju kamar mandi di dalam kamar Arya pada apartemen kekasih recehnya tersebut.
♥
“Ar,” panggil Mika pada Arya yang sudah mengenakan jeans dan kaos kerah. Dimana keduanya akan segera keluar dari apartemen Arya untuk pergi ke mansion keluarga Mika yang berada di London.
Arya yang memang sudah menggandeng tangan Mika dan siap untuk keluar dari apartemennya itu segera menyahut. “Iya, Sayangku Mikaela?” sambil Arya menyisipkan goda untuk Mika disahutannya itu. Dan si Recehboy itu juga cengengesan.
“Aku yang mau aku omongin sama kamu sebentar.. jangan keluar dulu,” ucap Mika lagi. Yang membuat Arya dengan segera menghentikan cengengesannya, lalu membawa Mika duduk di sofa ruang tamu pada apartemennya tersebut. Dan kemudian duduk berhadapan dengan si Neng Judes tercintanya itu.
Dimana Arya sedang bertanya-tanya dalam hatinya, perihal apa yang ingin Mika bicarakan dengannya—sampai wajah Mika jadi agak serius begitu. “Mau ngomongin soal apa emang?.. kok mukanya serius gini?” yang kemudian pertanyaan dalam hatinya itu, Arya cetuskan juga pada Mika yang langsung menjawabnya.
“Soal yang udah terjadi antara kita di kamar kamu tadi.”
“Kenapa?—“
“Biar jadi rahasia kita ya?”
Mika dengan segera lagi berucap.
“Kamu ngerti kan?”
“Iya, Mi. Aku ngerti.”
♥
Kediaman Utama Keluarga The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia,
Beberapa hari telah berlalu dari sejak kedatangan Arya ke London. Dan kini, Personel inti The Adjieran Smith telah kesemuanya lengkap berada di salah satu hunian utama mereka tersebut, karena mereka yang di London telah datang ke Jakarta.
Sebab liburan musim panas di London telah tiba, yang mana waktu tersebut memang selalunya dimanfaatkan anggota keluarga yang berdomisili di London untuk berkunjung ke Jakarta.
Dimana rencana untuk sebuah liburan juga seringnya selalu diadakan. Demi satu kepentingan, yakni mempererat tali kekeluargaan, satu hal yang dari beberapa—begitu dijunjung tinggi oleh Klan The Adjieran Smith.
“Loh, Val mana?—“
“Menyusul Kaka ke Kafenya. Mau memberikan surprise padanya, Val bilang.”
Dad R yang menjawab pertanyaan Papi John tadi.
“Bukannya Kaka sudah tahu kalau kalian memang mau datang?—“
“Kaka tahunya besok kita orang sampai. Ini kan penerbangan kami percepat karena Momma sudah gatal dengan persiapan lamaran plus acara pertunangan Arya-May berikut Kaka-Val, jadi tahulah bagaimana kalau dia sudah punya mau? Dan maunya Momma kami merubah jadwal keberangkatan dari London lebih cepat dari yang direncanakan.”
Poppa lalu menanggapi celetukan Daddy Jeff dengan bercerocos, dan Daddy Jeff langsung mendengus geli—bersama beberapa lainnya. Yang kemudian berpisah untuk melakukan kepentingan masing-masing dalam KUJ.
Dimana mereka yang baru tiba di London, sebagian ada yang keluar lagi dari kamar, karena hari belum sampai tengah malam.
♥
Sementara itu di tempat lain,
“Setahu Val, Coffee Shop Kak Kafeel itu bukankah didominasi menjual kopi yang memang menjadi kesukaan para pria?..”
Ada Val yang berdiri di depan sebuah tempat yang memiliki lahannya sendiri pada sebuah kawasan, dan kini Val sedang berdiri di depan area Kafe sambil sedikit menengadah melihat ke arah papan nama Kafe tempatnya berada—dengan Achiel yang berdiri di sebelahnya.
“Itu memang benar, Nona—“
“Tapi kenapa nama Coffee Shopnya Kak Kafeel ini terkesan feminim?”
“Karena itu berhubungan dengan anda, Nona. Nama bunga kesukaan Nona kan itu?..”
“Iya, memang—“
“Memang anda baru tahu kalau Tuan Kafeel pakai nama Red Toulipe untuk nama kafenya?..”
“Iya, Val baru tahu sekarang. Val tidak pernah bertanya-tanya tentang Coffee Shop Kak Kafeel ini, karena kalau sudah bertemu Kak Kafeel, kan Val suka lupa segalanya?”
Val lalu cekikikan sendiri.
“Hmm,“ jawab Achiel sambil ia manggut manggut. 'Iyain aja deh!' dan Achiel membatin kemudian.
__ADS_1
“Ya sudah, Ayo kita masuk..”
Val mengajak Achiel.
“Eh tapi sepertinya Kak Achiel tunggu di sini saja deh..”
Val kembali berucap.
Melirik pergelangan tangannya dan melirik ke sebuah papan yang menampilkan jam buka dan tutup Coffee Shop.
“Sepertinya sudah mau tutup ini Coffee shopnya. Nanti Kak Achiel juga bengong saja melihat Val dan Kak Kafeel pacaran?..” polos Val. “Nanti ingin, sementara Kak Achiel kan tidak punya pacar?”
“Terserah Nona Val saja,” jawab Achiel yang pasrah.
Selain enggan mendengarkan ledekan sang nona muda padanya lebih lagi.
“Tapi saya ikuti prosedur dulu ya? Sebelum saya membiarkan Nona Val meskipun ada Tuan Kafeel di dalam, saya harus memastikan keamanan Nona dulu." Lalu Achiel berkata lagi.
Dimana Achiel lalu masuk ke dalam Kafe setelah mendapat persetujuan Val untuk ia melakukan tugasnya, dan keluar lagi setelah memastikan kondisi aman untuk Val masuk ke dalam tanpa pengawalan.
♥
“Kenapa kamu tidak kembali ke KUJ dan telfon aku, biar kamu ga jadi repot ke sini, Tuan Putri?..”
Kafeel yang sebelumnya turun dari lantai dua Kafenya setelah Val menghubungi ponselnya dan mengatakan tentang keberadaan Val sekarang di Coffee Shopnya itu, kini sudah membawa Val ke ruangan pribadinya dalam bangunan dua tingkat itu.
“Val sudah kelewat rindu.” Val pun menjawab ucapan kekasih setengah om-omnya itu.
Dimana Kafeel sontak tersenyum lebar. “Aku juga udah kangen banget, sama Tuan Putri yang mengemaskan ini.”
Kafeel lalu menjepit dagu Val dan berkata dengan gemas. Val lalu tersenyum, sambil memasang ekspresi yang makin membuat Kafeel semakin gemas.
“Ya udah, minum dulu ini mocha hot chocolatenya. Aku buatnya ga terlalu panas kok. Sama dicoba juga ini mille cripesnya, terus kasih tau pendapat Val tentang rasanya..”
Val meraih cangkir berisikan minuman kesukaan Val yang juga ia masukkan ke dalam menu di Kafenya tersebut, sambil juga menunjuk satu slice kudapan di atas piring, yang juga salah satu kesukaan Val.
“Terima kasih ya Kak? Sudah lah memakai nama bunga kesukaan Val untuk nama Coffee Shop Kakak ini, lalu Kak Kafeel juga menyertakan makanan minuman kesukaan Val dalam menu—“
“Apa sih pakai terima kasih segala?.. malah aku yang jadi ga enak nih, belum sempat minta ijin kamu buat itu.”
“Tidak perlu minta ijin,” sahut Val. “Kan semua tentang Val sudah menjadi hak Kak Kafeel?” tambah Val.
“Belum sepenuhnya,” timpal Kafeel. “Kan belum Kakak nikahin?..”
“Kalau begitu nikahi Val besok?”
Val pun berujar, hingga membuat Kafeel jadi tergelak.
“Kan mau bareng sama May katanya?—“
“Oh iya..” tukas Val, dan Kafeel pun tersenyum lebar sekali lagi.
♥
“Gimana, enak?”
Kafeel bertanya saat Val sudah mulai mencoba kudapan manis kesukaannya yang sampai Kafeel pelajari cara membuatnya.
Dan sedang disuguhkan untuk Val saat ini, karena memang masih ada stoknya. Lalu minuman yang sudah juga dinikmati Val sebelumnya pun, Kafeel yang membuatkannya sendiri.
Dengan bahan-bahan yang tersedia di pantri Kafenya, karena memang ada dalam menu---jadi bahan pembuatnya selalu ready.
“Very yummy!” jawab Val dengan bersemangat. “Kak Kafeel coba juga?..”
Val lalu memanjangkan tangannya yang memegang sendok dengan sepotong kecil kudapan manis yang sedang dinikmatinya itu dan Val arahkan kepada Kafeel.
“Aih, maaf Kak..” Kafeel yang tak siap menerima suapan dari Val itu jadi terkena krim kudapan di pipinya. Dan Val langsung meminta maaf untuk itu.
“It’s okay, Baby—“
“Biar Val yang bersihkan.”
Sambil Val agak beranjak dari tempatnya dan kini sudah berada dalam posisi lebih dekat dengan Kafeel, dengan dirinya yang jadi sedikit lebih tinggi dari Kafeel yang sedang dalam posisi duduk disamping Val.
Val menghapus krim di pipi Kafeel dengan ibu jarinya, lalu wajahnya kini berada begitu dekat dengan Kafeel.
Lalu disepersekon berikutnya, Val menyambar bibir Kafeel yang aksesnya begitu terbuka untuk Val cium itu.
“I miss you so much, Kak.”
Val lalu berucap pelan, mengatakan kalimat romantis pada Kafeel.
“I miss you more, Tuan Putri..” balas Kafeel dengan sama romantisnya. Lalu disepersekon berikutnya lagi, Kafeel yang kemudian menyambar bibir Val.
♥
Saling dekap dan membalas ciuman dari masing-masingnya, Val dan Kafeel mengurai kerinduan mereka.
Hanya saja, rindu yang sedang Val dan Kafeel urai sekarang, sedikit lebih bergelora karena adanya adegan pangku-pangkuan dalam mereka saling m*magut bibir.
Yang efeknya, membuat Val dan Kafeel berada dalam posisi tubuh yang begitu rapat—dengan Kafeel yang memburu menciumi bibir Val, yang orangnya sesekali bergerak—dimana gerakannya menyentuh titik sensitif Kafeel, sampai pria itu jadi terbawa suasana—menciumi Val seolah tak ada hari esok.
Terlalu terbawa suasana, sampai bibir Kafeel turun terus ke leher Val yang aksesnya terbuka bebas akibat baju yang dipakai Val itu berkerah model boat neck. Lalu bibir Kafeel yang menyusuri sedikit nakal leher Val, membuat si empunya leher kegelian—dengan perasaan lain yang asing untuk Val, namun sulit untuk Val abaikan pun rasanya enggan ia lepaskan.
Yang terjadi kemudian, Val yang terbuai dengan apa yang dilakukan Kafeel padanya. Lalu Kafeel yang terbawa suasana, jadi membangkitkan sesuatu dalam dirinya atas dasar pria dewasa. Membuat tangan Kafeel bergerak perlahan namun pasti--menarik turun resleting atasan Val.
Tak memakan waktu lama, sampai kemudian baju atasan Val sudah melorot sampai dadanya yang membuat dua bongkahan bulat dan kenyal milik Val itu jadi begitu kian terekspose dan membuat mata si AA berkabut.
♥
Kediaman Utama Keluarga The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia,
Keesokan harinya,
“Val! Kenapa jalan kamu begitu?”
Adalah Isha yang nyeletuk, saat melihat Val berjalan dengan nampak hati-hati.
“Eum..”
Val lalu menggigit bibirnya.
♥
Lalu ditempat lain dalam KUJ, ada beberapa pria The Adjieran Smith yang sedang duduk bercengkrama di satu ruangan terbuka.
“Kalau menurut gue sih, lebih baik-daripada kita ke Bali, better minta si Recehboy datang melamar May secara resmi, termasuk juga Kaka—“
“Prepare liburan di Bali sudah siap, kita pun sudah mengundang Simon dan keluarganya untuk ikut, berikut beberapa kerabat kita yang lain. Bahkan Mor dan Far akan datang juga.Tidak mungkin dibatalkan.”
“R benar—“
“Yaa jangan dibatalkan. Tunda saja sebentar.”
“John was right. Acara lamaran tidak lebih rumit dari acara pernikahan. Besok kita persiapkan, lusa sudah dapat digelar. Esok harinya kita tetap masih bisa berangkat ke Bali. Selagi ada moment berkumpul dengan lengkap dan waktunya cukup panjang, lebih baik dimanfaatkan dengan baik.”
“Setuju dengan si Donald Bebek tua ini.”
“Hah! Mengatai gue tua. Sebaiknya lo lihat diri lo sendiri di kaca, Papa Bear. Cakar beruang lo itu bahkan sudah keriput!”
“Heh! Mana ada!”
“Sesama pria renta ga usah saling meledek—“
“Termasuk lo, Dewa Mabuk? Yang bahkan sudah mulai membawa minyak angin kemana-mana—“
“Hahaha!”
Suara gelakan dari beberapa pria lainnya setelah satu kalimat ledekan yang keluar dari mulut Dad yang kepalanya licin senantiasa itu, kemudian membahana.
Sampai kemudian suara gelakan itu berhenti otomatis dengan kompak saat ada suara yang mereka dengar berasal dari area dapur bersih, tak jauh dari tempat para pria itu sedang bercengkrama.
“Hoek!—“
__ADS_1
♥♥♥♥♥♥♥♥♥
To be continue..