HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 108


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Unit apartemen Kafeel, Jakarta, Indonesia....


“Kok udah bangun?....” Kafeel telah mendekat pada Val.


Kafeel bergegas menghampiri Val setelah ia selesai melakukan kewajibannya sebagai umat.


Dimana sosok Val tadi Kafeel tangkap di ekor matanya, sedang berdiri di dekat pintu sambil memandanginya.


“Ga nyaman ya tempat tidurnya?” tanya Kafeel. “Maaf ya?----“


“Apa sih Kak Kafeel nih.”


“Ya abis kamu cepet banget bangunnya.” Kafeel berujar. “Pasti karena ranjang aku ga senyaman ranjang kamu di Kediaman Utama?----“


Kafeel lanjut berujar, dan Val menggeleng.


“Engga kok Kak, Val terbangun karena sedikit haus tadi...”


“......”


“Dan lagi, memang biasanya Val juga terbangun dijam seperti ini untuk sholat subuh. Jika disini. Di London bahkan lebih pagi dari ini harus bangun untuk sholat subuh jika saat spring dan winter.”


“Duh, calon istri solehah—“ Kafeel menjawil gemas hidung Val, yang orangnya langsung mesam-mesem karena dibilang calon istri solehah.


“Kak Kafeel ih, pagi-pagi sudah merayu.” Ujar Val.


“Siapa juga yang merayu?”


“Itu barusan Kakak menggoda Val dengan mengatakan jika Val ini calon istri solehah? –“


“Memang kenyataan kan?” jawab Kafeel. “Kalau kamu calon istri aku yang solehah?. Buktinya inget untuk menjalankan kewajiban beribadah tanpa disuruh?”


“Iya karena kan, seburuk – buruknya manusia, sepatutnya dia tetap harus ingat pada Penciptanya .. Begitu kan? ..” kata Val.


“Betul sekali!”


Kafeel menjawab dengan tersenyum lebar, sambil memencet gemas hidung Val.



“Oh iya Kak, ngomong – ngomong, apa Kak Kafeel menyediakan mukena disini?----“ ucap Val seraya bertanya pada Kafeel. “Karena Val tidak membawanya.”


“Yah, ga ada baby.” jawab Kafeel.


“Hemm.”


“Habis tidak pernah ada perempuan yang kesini kan? ---“


Kafeel berujar.


“Jadi aku ga sampai kepikiran untuk menyediakan itu disini.”


“Ya sudah Kak, tidak apa-apa ---“


Val menyahut.


“Kalau aku antar kamu kembali ke Kediaman pun, ga akan cukup juga waktunya untuk ngejar subuh.”


Kafeel melipat bibirnya, nampak menyesal.


“Maaf ya, karena kamu menginap disini, jadinya kamu harus lalai sama kewajiban.”


“Kan tidak disengaja juga Kak?”


“Iya sih –“


Kafeel menyahut.


“Tapi tetep aja aku jadi merasa bersalah.” Kafeel mendengus pelan.


Val tersenyum.


Sambil ia menatap pria berusia matang yang ia kejar sejak ia masih remaja, hingga akhirnya kesampaian juga menjadikan pria matang di hadapannya ini sebagai kekasihnya dengan cara yang benar, tanpa harus bertindak murahan.


Karena Val, sebagaimanapun kekanak-kanakkan dirinya seringkali, Val adalah gadis yang memiliki prinsip dan memegang kuat prinsipnya itu.


Prinsip yang terbentuk dari bagaimana para wanita dalam keluarga Val yang lebih tua usia darinya, dan semua memenangkan hati para pria dalam keluarga Val tanpa menggunakan cara yang murahan.


Prinsip yang juga terbentuk dari nasihat-nasihat para orang tua dan tetua, serta dari ketiga kakak Val yang telah dewasa usianya dari Val. Jadi, sebucin-bucinnya Val pada seorang Kafeel, tetap Val ingin memenangkan hati Kafeel dengan cara yang wajar selain tulus. Yang mana ternyata, ketulusan Val berbuah manis. ‘Pengejarannya’ yang jor-joran pada Kafeel ternyata menghadirkan rasa di dalam hati Kafeel pada akhirnya untuk Val.


Rasa yang membuat Kafeel malah jadi kehilangan kalau Val tidak gencar menggoda dirinya, dalam artian celetukan-celetukan nyeleneh Val soal mengajak Kafeel menikah. Bukan menggoda Kafeel dengan menanggalkan pakaiannya di depan pria itu. Serta sikap manja Val baik saat berkomunikasi di telepon ataupun saat bertemu langsung. Membuat Kafeel malah jadi tergila-gila oleh Val. Sebagaimana Val pada Kafeel.



“Kamu sudah lapar Tuan Putri?” tanya Kafeel yang menggenggam tangan Val untuk berjalan menuju pantri dalam unit apartemennya. Dimana Val langsung mengulum senyumnya saat mendengar Kafeel menyebutnya dengan Tuan Putri itu.


“Belum sih .. Perut Val ini menyesuaikan jam sarapan di Kediaman ataupun di Mansion London .. Dan ini belum waktunya sarapan di Kediaman, jadi Val belum merasa lapar.”

__ADS_1


“Hahh syukurlah kalau begitu.”


Kafeel mengelus dadanya, dan Val sedikit mengernyit.


“Berarti hanya basa-basi saja Kak Kafeel menanyakan Val sudah lapar atau belum?—“


“Uuhh imut banget sih kalau lagi begini.” Kekeh Kafeel pada Val yang lalu mencebik selepas ia berucap, sambil Kafeel mencubit gemas lagi hidung Val.


‘Senangnya aku, jika setiap pagi seperti ini.’


Val membatin penuh harap, saking ia begitu senangnya pagi ini.


Senang yang merujuk pada bahagia dalam hatinya, dapat memulai hari dengan kebersamaannya dan pria yang paling Val cintai di muka bumi selain para pria dalam keluarganya.


Pria matang, yang mampu menahan hasratnya agar tidak larut dalam dosa besar berselimut kenikmatan, meski situasi dan kondisi sudah menyediakan kesempatan yang besar bagi Kafeel untuk membawa Val terjerumus dalam nafsu.


Membuat Val memilik kebanggaan tersendiri pada Kak Kafeelnya itu yang tidak menggunakan godaan kesempatan untuk ‘mengiya-iyakan’ dirinya, seperti orang normal yang beberapa sukanya berpikiran pendek.


Sehingga Val tidak sampai melewati malam panas berlumur dosa dengan Kafeel, lalu berakhir dengan kemungkinan adanya penyesalan di pagi harinya.


“Bukan basa-basi Tuan Putri, tapi kalau memang Tuan Putri sudah lapar, aku akan pergi ke bawah untuk pergi membeli makanan ke merchant makanan yang ada di lantai dasar. Karena aku hanya punya sereal dan susu aja kayaknya di kulkas.”


“Itu juga sudah cukup ---“


“Mana bisa cukup?” potong Kafeel. “Masa ada Tuan Putri datang, aku cuma kasih sarapan sereal sama susu doang?..” tambah Kafeel.


“Memang itu sudah cukup kok.” Sahut Val.


“Masa?”


“Iya benar—“ sahut Val, namun ucapannya dipotong Kafeel.


“Bukannya kamu makannya banyak macam Kak Drea ya?”


Kafeel berujar menggoda Val.


“Nih, pipinya gembul begini macam kelinci anggora.”


“Ih mana ada! Pipi Val esthetic ya bentuknya ---“


Kafeel pun terkekeh. Lalu ia manggut-manggut.


Kemudian Kafeel memundurkan sedikit tubuhnya.


“Masa sih estetik?” kata Kafeel sambil berlagak memperhatikan pipi Val dengan matanya yang Kafeel picingkan seolah sedang menginspeksi sesuatu.


“Lihat saja! Pipi Val ini mendekati sempurna ya, sesuai dengan wajah Val ini yang----“ sahut Val, namun ia lalu langsung terdiam.


Val tak melanjutkan kata-katanya, karena pipinya dikecup Kafeel dengan cepat.


“Iya, estetik! ... sangat estetik, sampai bikin aku ga tahan mau kecup terus ...”


Membuat Val jadi otomatis tersipu, apalagi Kafeel kini telah memegang kedua pinggang Val.


Jantung Val jadi mulai berdebar tak karuan, karena Kak Kafeelnya Val itu sudah membuat jarak mereka jadi begitu dekat, hingga Val dapat merasakan aroma mint yang menguar dari nafas Kafeel yang langsung membersihkan wajah dan mulutmya seraya menggosok giginya langsung saat bangun tidur, meski harus menggunakan peralatan kamar mandi yang ada di kamar tamu, karena Kafeel tidak mau masuk ke kamarnya dimana Val sedang tertidur disana.


Takut sengaja khilap si AA. Buahaya.


“Ga cuma pipi kamu sih yang estetik.”


Kafeel lanjut bicara, dengan menatap lekat pada Val.


“Tapi bibir kamu lebih estetik lagi.” Kata Kafeel, yang membuat debaran jantung Val semakin cepat.


Cuup.


Bibir Kafeel pun menempel lembut di dua bibir Val yang kata Kafeel estetik itu.


Ah, sa ae AA Kapel.



“Val mau sarapan apa?” ucap Kafeel seraya bertanya, setelah ia buru-buru mengajak Val keluar dari apartemennya, karena takut pada saiton yang sempat meniupkan lagi bisikan-bisikan menjerumuskan untuk ‘mengiya-iyakan’ Val di apartemennya.


“Val ingin bubur ayam pinggir jalan yang ada di masjid arah ke Kediaman Utama itu Kak. Tahu kan?” sahut Val.


Kafeel mengangguk. “Iya tau ---“


“Kak Kafeel tidak masalah kan kalau Val minta Kak Kafeel untuk makan di tempat makan seperti itu?”


Val kemudian menyambar untuk bicara, dan Kafeel sontak terkekeh. “Ada juga aku yang harusnya nanya begitu, Baby.” Kata Kafeel sambil mengacak gemas rambut Val di puncak kepala kekasih kecilnya itu. “Aku juga suka kok makan disitu.”


Val pun manggut-manggut.


“Tempat itu udah ada dari sejak orang tua kita masih kecil kayaknya. Dan waktu SMA aku sering makan disana, kadang pagi mau sekolah, siang atau nongkrong aja iseng disitu. Kan banyak tuh pilihannya kalo malem, apalagi malem minggu –“


“Oh ya? ....” potong Val.


Kafeel pun manggut-manggut.


“Nah kalau malam minggu lebih banyak lagi pilihannya, bahkan sampai pagi. Jadi aku lumayan sering juga makan disana, terutama kalo lagi pas mau track-track-an.”

__ADS_1


“Oh.” Sahut Val.


Karena mengemudikan mobil yang merupakan fasilitas kendaraan yang disediakan pihak apartemen untuk para penghuninya, jika ada yang membutuhkan mobil cadangan selain kendaraan yang mereka miliki.


Selain itu, Kafeel kan seseorang yang memiliki hak spesial dalam gedung apartemen tersebut-katakanlah begitu. Jadi untuk segala fasilitas dalam gedung apartemen milik keluarga Val itu, dirinyalah yang akan diutamakan selain pemiliknya.


Kafeel tidak mau menggunakan motornya untuk mengantar Val pagi ini, walaupun Val merasa tidak keberatan.


Lagian Val sudah terbayang bisa memeluk Kak Kafeelnya sepanjang perjalanan, meskipun pinggangnya akan sedikit pegal karena motor sport Kafeel tinggi jok boncengannya.


Jadi yang duduk disana, mau tidak mau harus nonggeng.


Tapi Kafeel tidak mau, dengan dalih nanti Val masuk angin.


Selain Kafeel takut kalau Val akan pegal-pegal jika membonceng motornya yang tinggi jok boncengannya itu.


Meskipun sama halnya dengan Val, Kafeel juga membayangkan akan merasakan pelukan Val sepanjang perjalanan, dimana hal itu rasanya pasti mengasyikkan.


Tapi tidak, kapan-kapan saja lagi nanti dia akan mengajak Val naik motor. Ga tega sama Tuan Putri yang biasanya naik mobil mewah kemana-mana.


“Lalu sama siapa Kakak makan disana?”


“Ya sama temen-temen yang mau nge-track bareng, plus pacar masing-masing.”


“Termasuk Kakak juga membawa pacar?” tanya Val.


“Yup.”


Kafeel spontan saja menyahut, sambil fokus pada jalanan, untuk mencari parkiran.


“Yuk?”


Ajakan kemudian keluar dari mulut Kafeel, kala ia telah mematikan mesin mobil yang ia kemudikan itu setelah mendapat parkiran di area dekat tempat makan yang ingin Val datangi.


“Langsung kembali ke Kediaman saja kalau begitu.”


“Loh kenapa?” tanya Kafeel heran. “Katanya mau makan bubur ayam yang ada disini?”


“Tidak jadi.”


“Kenapa memangnya?” tanya Kafeel lagi.


“Val tidak selera makan di tempat makan dimana ada kenangan Kakak bersama para mantan-mantan Kakak!”


“Yah kok gitu?” cetus Kafeel. “Itu kan masa lalu, Val.” ucap Kafeel sembari mengelus lembut pipi Val. “Kan kita udah bicarakan soal ini kemarin? ...”


“Iya memang, tapi Val cemburu.” Sahut Val, dan Kafeel tersenyum.


“Ya udah, kalau begitu, sebagai gantinya Val mau makan dimana?”


Kafeel memahami mood kekasih kecilnya itu yang jujur mengatakan jika ia sedang cemburu, dan Kafeel memilih untuk maklum.


Serta menanggapi sikap Val dengan kesabaran.


“Dimana saja, asal tempat itu tidak ada sedikitpun kenangan Kakak dengan para mantan pacar Kakak.”


Val bicara setengah ketus pada Kafeel. Merajuk, karena benar rasanya Val sedang merasa sedikit panas, dipagi hari yang cukup sejuk ini.


‘Sudahlah aku tidak kebagian perjakanya Kak Kafeel saat kami sudah menikah nanti, bibirnya juga second! Lalu, masa aku juga harus makan di tempat yang sudah pernah Kak Kafeel jajaki bersama para mantan kekasihnya?! Huh, aku tidak sudi! Besar kepala nanti para mantan kekasihnya yang ingin sekali aku maki-maki, terutama dia yang telah mengambil keperjakaan Kak Kafeel! Huh! Aku jadi semakin kesal!’


Val membatin serta menggerutu kian kesal.


“Kalau begitu, kita makan di Pujasera dalam komplek Kediaman aja gimana?”


“Pernah ajak mantan pacar Kakak ke sana tidak?.. Val tidak mau kalau Kak Kafeel pernah juga membawa mantan pacar Kakak kesana..”


Kafeel tersenyum. “Engga sayangku Val-“ jawab Kafeel.


“Benar?!..”


“I swear ( Sumpah )!”


Kafeel membentuk huruf V di dua jari tangannya yang ia tunjukkan ke arah Val.


“Ga ada kenangan apa-apa disana.”


“Baguslah---” Sahut Val.


Kafeel tersenyum lagi, sambil mengacak gemas rambut di puncak kepala Val.


“Karena kalau iya, Val akan merengek sejadi-jadinya pada The Dads untuk menghancurkan tempat itu---“


“Heu?..” Kafeel langsung menoleh tajam pada Val.


“Sekaligus Val akan menyuruh Kak Achiel membakar motor Kak Kafeel, jika ternyata Val bukan wanita pertama yang pernah duduk di jok belakang motor Kakak yang kemarin Val tumpangi itu.”


“Waduh.”


♥♥♥♥


To be continue ....

__ADS_1


__ADS_2