HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
I N T E R L U D E


__ADS_3

( SISIPAN )


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Little Star Island, Isola, Italy,


Langit di atas sebuah kastil pada sebuah pulau pribadi yang tersembunyi itu telah mulai menggelap.


“Sir, Ma’am, dinner is ready.”


Seorang maid yang bekerja pada keluarga The Adjieran Smith dari beberapa orang yang dibawa dari mansion yang berada di London dan kediaman mereka yang berada di Jakarta, memberitahukan perihal makan malam yang sudah siap kepada beberapa Tuan dan Nyonya-nya yang sedang duduk santai pada sebuah ruangan.


“Thanks, Nilam ...”


Momma yang mewakili untuk menyahut pada sang maid yang memberitahukan perihal makan malam itu.


“Have you prepared more chairs for Arya and Kafeel ( Apa kamu juga sudah menyiapkan kursi tambahan untuk Arya dan Kafeel )? ...”


“Already, Mrs. Fania ( Sudah, Nyonya Fania ) ...”



“Have you inform the others ( Kamu sudah memberitahukan yang lainnya ), Nilam? ...” tanya Via yang ada bersama Momma dan Poppa serta dua pasang orang tua lain selain pasangan bebek dan entog itu yang sedang bermain bersama Gadis dan Putra.


“Already Mrs. Kevia. Lita already inform the others (  Sudah Nyonya Kevia. Lita sudah memberitahukan pada yang lainnya ) ---“


“Okay then. Thank you, Nilam,” tukas Via. Lalu satu maid bernama Nilam itu kemudian undur diri dari beberapa majikannya tersebut.


“Nathan mana Vi? ...”


“Sedang di ruang komunikasi, Ma. Biar Via panggilin ---“


“Panggilin Kak Kaf juga ya Vi? ...” tukas Mama Jihan pada menantunya itu.


Via pun langsung mengangguk mengiyakan permintaan Mama Jihan barusan.


“Ngomong – ngomong, Arya masih di kamarnya May? ...“ tanya Mama Jihan pada beberapa orang yang ada di dekatnya setelah Via undur diri dari hadapan mereka.


“Sepertinya begitu ...” Poppa yang menanggapi duluan pertanyaan Mama Jihan.


“Kira – kira gimenong itu hasil drama si Recehboy? ... Jadi penasaran ---“


“Kayaknya sih sukses ... Soalnya ga ngeliat ada adegan kejar – kejaran dari waktu si Arya nyusul May ke kamarnya ---“


“Pantes si Arya lama banget di kamarnya May,” tukas Mami Prita menanggapi celotehan kakaknya.


“Eh, Poppa D? Mau kemana? ...”


Momma sontak bertanya ketika Poppa tahu – tahu bangkit dari duduknya.


“Mau mengecek itu si bocah tengik di kamar May. Jangan – jangan dia memanfaatkan situasi. Atau melakukan pemaksaan yang macam – macam pada May ---“


“Macam lo dulu sama si Kajol, ya Drew? ...”


Daddy Jeff menimpali ucapan Poppa yang nampak mengkhawatirkan sesuatu, dengan dirinya yang cengengesan.


Paham maksud ucapan Poppa, yang ia kaitkan dengan kelakuan minus Poppa yang dulu takut Momma meninggalkannya, hingga terjadilah ‘gencatan senjata’ Poppa terhadap Momma di atas ranjang dalam kamar Poppa sebelum ia menikahi Momma.


Poppa langsung melirik sinis pada Daddy Jeff yang cengengesan dan cekikikan bersama beberapa anggota keluarga mereka yang sedang bersama dua Dads of The Adjieran Smith itu.


“Ngerasa yaaaaa? ...”


Momma langsung melemparkan ledekan pada Poppa, yang orangnya langsung berdecak malas.


“Terus saja meledek aku, nanti setelah makan malam, akan aku ikat kamu di ranjang sampai besok pagi.”


Dan kalimat ancaman yang kiranya akan selalu Poppa lontarkan pada Momma akan senantiasa keluar dari mulut Poppa, jika Momma meledeknya seperti itu.


“Waduh! ...” cetus Momma yang kemudian mencebik. “Udah tua masih aja doyan!”



Mari mengintip dia gerangan yang sedang menjadi topik pembicaraan.


Yang orangnya masih dalam posisinya, sejak hubungannya dengan sang mantan telah dirajut kembali.


Entah sudah berapa lama ia tersenyum sendiri di posisinya sambil merasakan rasa pegal di punggungnya yang tersandar di tempat tidur dalam sebuah kamar.


Tidak hanya punggung, pinggangnya pun sudah Arya rasakan mulai pegal. Namun rasa pegal itu kiranya Arya abaikan. Demi tidak mengganggu sang cewek tersayang yang tertidur bersandar di dadanya selama lebih dari satu jam.


Entahlah, Arya tidak memperhatikan sudah berapa lama Mika tertidur bersandar di dadanya. Meskipun Arya memakai sebuah arloji di salah satu pergelangan tangannya.


Tak peduli soal waktu, Arya sedang fokus menikmati momen kebersamaannya dengan Mika yang hilang selama beberapa bulan di belakang.



“Nngg ...” dia yang tertidur pulas dengan bersandar di dada Arya yang merengkuhnya itu terdengar menggumam.


Namun Arya tidak bersuara, pun tak bergerak. Sedang memperhatikan saja dia gerangan yang entah sudah berapa jam ia rengkuh dalam dekapannya itu, menampakkan pergerakan.


Takutnya, dia gerangan yang adalah Mika --- hanya melindur saja.


Dan Arya takut jika ia bergerak, maka Mika yang seharusnya hanya melindur itu malah terbangun.


‘Lelah banget kayaknya ini si Neng Judes,’ batin Arya. ‘Lelah lari dari kenyataan yang sebenarnya cinta sama gue, tapi malah milih nyiksa diri keknya sih ...’



“Ar – ya?? ...” Arya yang cekikian kecil dalam hatinya itu sontak tak meneruskan celotehannya di batiniahnya itu ketika Mika yang sempat bergumam dan bergerak kecil kemudian terbangun.

__ADS_1


“Hei ...”


Arya langsung menyapa Mika dengan senyuman di bibirnya.


“Ya ampun, Ar. Sorry ---“


“It’s okay, Baby ...” tukas Arya pada Mika yang nampak menyadari jika gadis judes yang sudah tidak berstatus mantan itu, telah tertidur di dadanya.


“Jam berapa ini? ---“


“Jam tujuh.”


“Hah?! ---“



“Ya ampun.”


Mika nampak sedikit panik.


“Berarti dua jam lebih gue bersandar di elo ya??”


“Kurang lebih ...”


“Ya ampun, Ar. Kenapa ga bangunin gue?? ...” Mika masih nampak sedikit panik, selain ia merasa bersalah karena menyadari jika selama itu --- ia membuat Arya menjadi bantal dirinya yang entah kenapa bisa ketiduran begitu.


Namun Arya tersenyum saja.


“Mana tega gue bangunin cewek gue yang tidur pules gitu? ---“


“Ya tapi pasti kan badan lo jadi pegel banget gara – gara gue yang lama tidurnya di dada lo gitu? ...”


“Baru dua setengah jam ... Seumur hidup elo senderin, juga gue rela, Mi ...” sahut Arya.



“Makasih, ya, Ar?”


Mika yang terenyuh dengan ucapan Arya yang diucapkan dengan santai, namun manis terdengar di telinga Mika.


Arya pun tersenyum lembut setelah mendengar ucapan terima kasih Mika yang disertai sentuhan lembut di wajahnya dari Mika.


“Iya sama – sama.”


Arya menjawab ucapan terima kasih Mika dengan memencet gemas hidung Mika.


Namun kemudian Arya dibuat mengernyit kecil kala Mika nampak celingukan, seperti mencari sesuatu, dan spontan melontarkan pertanyaan.


“Cari apa sih? ---“


“Ah! Ini dia,”cetus Mika.


“Siniin itu piso. Mau ngapain lo? ...”


“Biar gue yang simpan ini pisau ---“


“Eh, jangan – jangan,” tukas Arya menyergah.


“Bodo. Gue yang simpen untuk sementara waktu, karena gue masih parno sama tindakan lo yang tadi ---“


‘Waduh, gawat kalo itu piso si Aro di simpen Mika. Tar yang punya nanyain di depan si Neng Judes, bisa ketauan sandiwara gue! ...’ batin Arya. “Ga gue ga bakal aneh – aneh sama itu piso. Kita kan udah jadian lagi ...”


“Eh tapi kok ini? ...” gumam Mika disaat yang sama Arya berkata setelah membatin.


“Kenapa? ...”


“Seinget gue, pisau lipat milik lo itu warna navy macam milik Kak Kaf dan Felix juga Kak Sony? ... Sementara yang warna hitam begini, kan punya Abang, Kak Tan – Tan, Aro dan Rery? ...”


‘Omaygat!’


Arya berseru panik dalam hatinya.



“Gue tukeran sama Aro! Udah lama. Dah siniin itu piso.” Otak Arya yang kadang – kadang gampang bulusnya itu dengan cepat mengeluarkan karangan bebas yang langsung Arya cetuskan lewat mulutnya.


“Ih! ...”


Mika yang sedikit terkejut karena Arya dengan cepat merampas sebuah pisau lipat yang sedang ia pegang itu.


Dan Arya langsung memasukkan pisau lipat yang sebenarnya memang milik Aro itu ke dalam salah satu saku celananya.


“Dah sana mendingan lo cumuk deh ---“


“Kesiniin dulu pisaunya! ---“


“Ga! ... Yang ada ntar lo pake ini piso buat ngancem gue ngebatalin jadian kita yang kedua!”


Arya langsung menyergah dengan seruan bernada was – was, dan Mika tersenyum geli mendengarnya.


“Tapi lo juga janji, jangan ngancem gue dengan cara yang kayak tadi lo lakuin! Gue udah hidup dalam ketakutan karena Val selama beberapa bulan belakangan ---“


“Iya, Neng Judes sayang ...” Arya langsung menukas ucapan Mika dengan menangkup wajah ceweknya itu. “Dah ya, gue keluar dulu? Lo juga pasti mau bebersih badan kan? ...”


Arya berkata dan Mika mengangguk kecil. Setelahnya Arya mengecup singkat kening Mika.


Yang orangnya langsung tersenyum teduh, kala Arya mengecup keningnya itu dengan rasa sayang yang dapat Mika rasakan --- walau singkat saja kecupan Arya di keningnya itu.


“Ketemu di bawah ya? ---“



“Astagfirullah! ...” Arya yang spontan istighfar, kala ia melihat keberadaan makhluk berkepala licin saat ia membuka pintu kamar sang pacar yang orangnya sudah masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Dimana Arya mendapat picingan mata menyelidik dari makhluk berkepala licin itu, saat ia hendak keluar dari dalam kamar Mika.


“Kenapa lama sekali kau di dalam sini, hem?! ...” Adalah Poppa makhluk berkepala licin yang menatap Arya dengan picingan menyelidik itu.


Sekaligus bertanya dengan penuh kecurigaan pada si Recehboy.


“Apa kau melakukan hal yang macam – macam pada May? ...”


“Semacem aja, Pop ---“


“Aku sedang bicara serius bocah tengik!”


Poppa lantas menyergah Arya dengan cepat, berikut memberikan toyoran tajam di kepala si Recehboy yang orangnya kemudian nyengir lebar.


“Hehehe. Sorry, Pop ---“


“Minggir ...”


Poppa menggeser begitu saja tubuh Arya yang berdiri di ambang pintu kamar Mika.



Bak seorang detektif polisi, Poppa menyisir keadaan kamar Mika dengan matanya.


‘Tempat tidur sih rapih. Tidak ada bau - bau mencurigakan juga ---‘


“Jangan suud’zon, Pop. Aku sama Mika ga melakukan hal – hal yang Poppa takutkan ...” tukas Arya yang kiranya bisa menebak pikiran Poppa saat ini.


“Lalu, apa yang membuatmu lama sekali berada di dalam sini? ...”


Poppa masih sedikit menyelidik.


“Apa sebegitu sulitnya kau meyakinkan May? ...“


“Ya lumayan ...”


“Kau tidak melakukan saran yang aku dan The Dads lain berikan? ...”


“Hehe, udah dong ---“


“Lalu? ...” tukas Poppa yang tatapan menyelidiknya kini telah menjadi sebuah kekepoan.


“Empat jempol kesuksesan! ...”


Arya mengangkat dua jempol tangannya ke arah Poppa.


Karena dua jempol kakinya tidak mungkin ia angkat.


Seketika Poppa tersenyum lebar, setelah mendengar jawaban Arya. “Mantap!”


Cetusan yang keluar dari mulut Poppa kemudian pada Arya yang juga tersenyum lebar.


“Lalu May-nya mana? ...”


“Di kamar mandi ...” jawab Arya.


Lalu picingan selidik Poppa nampak lagi.


Arya mengulum senyumnya menanggapi picingan selidik Poppa yang nampak mencurigainya lagi.


“Bersiin iler Poppa ...” ucap Arya kemudian, menanggapi kecurigaan Poppa padanya. “Si Mika tadi ketiduran, makanya aku lama di sini ... Satu, ga tega ninggalin dia. Dua, eike masih kangen.”



Poppa dan Arya telah keluar dari kamar Mika yang sempat memergoki Poppa berada di dalam kamarnya sedang cengengesan dengan Arya.


Namun begitu, Mika tidak memiliki kecurigaan apapun pada keduanya.


Karena tentu saja --- sebagai seseorang yang begitu berpengalaman dalam urusan ngeles – mengeles, Poppa bisa menguasai keadaan.


Dan lagi, Mika juga tidak sampai kepikiran jika Poppa ada ‘apa – apanya’ dengan Arya. Mengingat kesan dingin Poppa macam Dad R sebagai pribadi, selain Poppa dikenal sangar.


Jadi Mika tidak sampai berpikir, jika Arya yang sempat menunjukkan gelagat ingin bunuh diri di depannya itu adalah berdasarkan ide para Dad-nya. Pun, sandiwara Arya itu tidak terendus olehnya.



Jadi setelah, Poppa mengeles dengan mengatakan pada Mika jika kedatangannya memang penasaran karena tahu Arya sedang berada di dalam kamar Mika yang kemudian Mika ingin menjelaskan namun Poppa sambar dengan mengatakan jika secara garis besarnya Mika dan Arya sudah balikan --- Poppa lalu mengatakan pada Mika untuk turun makan malam.


Yang kemudian langsung Mika iyakan, dengan mengatakan, “Kalian duluan aja ...”


Dan Poppa kemudian keluar dari kamarnya bersama Arya untuk pergi ke ruang makan.


“Bagaimana usahamu, Boy?! ...”


Dimana kemunculan Arya bersama Poppa itu, langsung mendapat cecaran dari jiwa – jiwa yang kepo. Yang kemudian tertawa lebar setelah mendengar cerita Arya secara garis besar mengenai sandiwaranya. Dan tawa lebar serta obrolan seru tentang sandiwara Arya pada Mika dalam rangka membuat Mika kembali padanya itu terhenti, ketika tokoh utama wanita bahan gibahan itu terlihat sedang menuruni anak tangga.


“Katanya udah balikan? ... Kok kayaknya cuek – cuekan? ...” Nathan yang duduk bersebelahan dengan Arya itu berbisik kepo di telinga Arya, setelah semua orang dalam kategori The Adjieran Smith family --- sudah mengambil tempat di ruang makan yang cukup luas itu.


Termasuk juga Mika yang mengambil tempat duduk di bagian kursinya seperti biasa. Dan Arya duduk di sisi ujung berjarak serta berlawanan dari Mika, di himpit oleh sepasang ayah dan anak kandung.


“Hoax jangan – jangan itu acara balikan? ...”


Lalu ayah kandung Nathan yang juga duduk di sisi lain Arya menimpali ucapan anak lelaki kandungnya itu.


“Hoax sih bukan ...” tanggap Arya sambil juga setengah berbisik, dengan ia yang melirik ke arah Mika. “Tanya aja sendiri sama yang bersangkutan kalo aku sama dia emang udah balikan ---“


“Terus kenapa kayaknya cuek – cuekan?” kepo Nathan lagi.


“Ada syarat dan ketentuan berlaku ...”


“Macam mau ambil kredit perbankan.”


♥♥♥♥♥

__ADS_1


To be continue ......


__ADS_2