
Maaf, Aku Tidak Bisa
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
“Aku tidak akan membangun istana cintaku, di atas istana cinta saudariku yang telah hancur lebur.”
--Mikaela Finn Adjieran Smith—
💔💔💔
Pada satu waktu,
The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, England,
Hey Nyonya Kafeel wannabe. Pulang kuliah langsung kembali ke mansion. Calon suamimu ada di sini.
Ada Mika yang tersenyum geli sembari mengetikkan pesan ke salah satu nomor saudarinya, Val.
Dan tersenyum geli sekali lagi, ketika chatnya langsung mendapatkan respon dari Val yang menghubunginya langsung via panggilan telepon untuk memastikan.
“Kamu serius, May?!”
“Iyaa... Kapan aku bohong, coba? -----“
“Okay, I’m sleeding back.”
“Waduh!” Lalu Mika menepak jidatnya. ‘Aigooo!!!! Salah gue! Haish! Lupa jika si ulat bulu akan menjadi ulat bulu yang kegatalan sendiri kalau dia sudah mendengar Kak Kafeel ada disini!’
Mika merutuk dalam hatinya kemudian.
‘Harusnya ga gue kasih tau Val buru – buru soal Kak Kaf ada di sini. Bolos nih ya itu si ulat bulu pasti.’
Mika membatin lagi. Kemudian ia mengulum senyumnya lagi.
“Dasar bucin akut!...” cibir Mika dengan mendengus geli. ‘Macam lo sendiri bukan pengidap bucin akut sekarang, oh Mikaela Finn Adjieran Smith???...’
Kemudian Mika mencibir dirinya sendiri.
Lalu senyum-senyum sendiri sambil memperhatikan ponselnya, dimana fotonya dan Arya yang menjadi wallpaper layar utama ponsel Mika.
“Lagi sibuk ga ya, dia?...”
Mika menggumam.
Lagi ngapain?
Tak ingin mengganggu Arya yang Mika rasa sedang bekerja setelah ia melirik jam di dinding kamarnya, namun malah tangannya sudah keburu mengetikkan chat pada Arya dan ia kirimkan juga. Alibi Mika sih, ‘Iseng aja...’
Serta, ‘Gue gabut aja ini lagi kosong jadwal kuliah, tugas pun ga ada...’
Tapi hati bagian hati kecilnya yang lain nyeletuk,
‘Plus kangen juga sih... Hehehe,’ sambil Mika cengengesan sendiri.
Dan dikala Mika sedang cengengesan sendiri itu, ponselnya berdering.
Dan bibir yang cengengesan itu, berubah menjadi senyum yang merekah.
Kala orang yang dia kirimi chat barusan, menghubungi dan mengundangnya satu panggilan video, seperti seringnya.
“Cie, kangen nih ye???...”
Sebaris ledekan langsung terdengar dari ponsel Mika, berikut tampang si peledek yang menghubungi Mika tak lama setelah ia mengirimkan chat ke nomor yang bersangkutan.
“Ck.” Mika langsung saja berdecak dengan sedikit merungut ketika orang yang menghubunginya itu.
Arya,
Langsung meledeknya ketika telah saling terhubung dalam panggilan video.
“Gue juga kangen kok, Neng Judes.”
Arya lanjut bicara.
Mika pun mengulas senyumannya.
Gambaran hatinya yang sudah mulai senang, bahkan mungkin ketagihan jika Arya sudah bersikap dan mengucapkan kata-kata yang manis terdengar di telinga Mika.
“Baru bangun?”
Arya bertanya kemudian.
“Ih enak aja! Gue ga pernah bangun di atas jam enam pagi, oke?! -----“
“Mantep calon istri solehah,” tukas Arya, lalu Mika mendengus geli.
“Lo udah makan, Ar? -----“
“Bentar lagi,” tukas Arya. Kemudian obrolan santai disertai senda gurau berlangsung di antara dua sejoli itu selama beberapa belas menit.
“Jadi pulang tiga minggu lagi?...”
“Jadi, Insya Allah. Mudahan sih kurang dari itu. Gue kabarin buru-buru kalo emang gue bisa pulang sebelum tiga minggu lagi -----“
“Ya udah kalo gitu...”
“Ngomong-ngomong, persiapan pernikahannya Val sama Kak Kaf udah sampe mana?...”
Arya bertanya sebelum ia memutuskan panggilan videonya dengan Mika. Dan Mika langsung menjawabnya.
__ADS_1
“Ya udah kalo begitu. Sorry ya gue ga bisa bantu maksimal... Tapi nanti pas balik, gue usahain bakal nemenin lo bantuin Val ngurus pernikahannya dengan Kak Kaf...”
Lalu Arya menanggapi jawaban Mika. “Santai,” tanggap Mika. “Kita orang juga ga repot-repot amat kok. Sudah diurus sama WO dan EO sebagian besarnya. Jadi paling kita orang nih bakal sibuk buat fitting. Baru nanti pas bulan depan, kami semua ke Jakarta buat kroscek semua persiapan...”
“Huum,” gumam Arya.
“Pakaian lo nanti di kirim ke rumah Papa sama Mama lo yang di Jakarta aja ya? -----“
“Papa sama Mama lo juga itu -----“
“Iya, iya... Kenapa senyum-senyum gaje gitu?...”
Arya yang memang mengulum senyum itu jadi terkekeh karena ucapan Mika.
“Seneng gue, Neng Judes udah penurut sekarang -----“
“Bahagia ya hidup lo, Arya Narendra????” tukas Mika.
“Woyajelas,” sahut Arya. “Gue hidup dalam keluarga yang sejahtera, disayang ortu, bukan anak broken home, kerjaan gue jelas menuju kemapanan, punya pacar biarpun judes tapi cakepnya bukan main yang bikin gue jatuh cinta setengah mampus, udah mau lagi gue ajak nikah muda???... Gimana ga bahagia coba hidup gue???...”
Mika pun terkikik mendengar cerocosan Arya. Lalu mengulas senyuman kemudian, karena hatinya menghangat setelah mendengar cerocosan Arya dimana di dalam cerocosan pacar receh otw tunangannya itu ada kalimat Arya yang memuji dan mensyukuri diri menjalin hubungan dengan dirinya. Sesekali tidak percaya, jika si eks sadboy yang dulunya Mika sering cibir dan sebagainya---nyatanya dapat membuat dirinya jatuh cinta sedemikian rupa.
“Eh tapi Mi, lo ga berubah pikiran kan? -----“
“Tentang?” tukas Mika.
“Tentang niatan gue ngelamar lo nanti abis Val dan Kak Kaf nikah?...”
“Ada juga gue kali yang nanya begitu? Yang mau datang melamar kan elo?...”
Arya mengulas senyuman. “Ya iya justru itu,” cetusnya kemudian. “Gue sih udah yakin bin mantep buat lamar lo. Justru elonya yang bikin gue khawatir.”
“Khawatirnya?”
“Ya gue khawatir lo berubah pikiran.”
Lalu Arya terdiam memandangi Mika.
“Walaupun tetep, gue akan terima semua yang jadi keputusan lo, andai memang lo ragu untuk mendobrak prinsip lo. Karena seperti yang gue bilang, selama apapun gue bakal nunggu lo.”
“.....”
“Tapi untuk lo ketahui, Mi. Sekali lagi gue ingetin. Milikin lo seutuhnya, halalin lo. Adalah mimpi tertinggi gue.”
Mika menarik sudut bibirnya.
Arya juga sama, ia tersenyum hangat pada Mika.
“Makasih ya, Ar.” Mika melembut. “Dan seperti yang sudah pernah gue bilang, kalau lo memang serius terus datang buat melamar, gue ga akan beri penolakan...”
Arya kian tersenyum hangat.
“Makasih ya, Neng Judes?...” ucap Arya kemudian.
“Ya udah kalo gitu, gue lanjut kerja ya? Rekan kerja gue kayaknya udah siap mau pada maksi...”
“Iya...”
Mika menyahut dengan mengulas senyuman.
“Oh ya satu hal lagi Mi. Seserius gue yang mau datang melamar lo, gue juga serius waktu gue bilang kalo gue ga akan membatasi lo setelah kita nikah... termasuk kalo lo mau nunda punya momongan.”
“Iya, Ar.”
Mika mengangguk manis.
“Love and miss you, Mi,” ucap Arya.
“Too...”
Mika menyahut singkat, lalu mengulum senyumnya setelah Arya terkekeh renyah sebelum si eks Sadboy itu mengakhiri panggilan videonya dengan Mika.
Dimana beberapa menit setelahnya, “KAK KAFEEEELLLL!!...”
Suara teriakan histeris dari seseorang yang sangat Mika kenal, sayup-sayup terdengar ketika Mika hendak mencari kesibukan dan keluar dari kamar pribadinya.
“Val?!” cetus Mika cepat, sambil kemudian setengah berlari ke arah tangga mansion. “Ya Tuhan!!! Val! Ada apa ini?!... Val kenapa???!!!”
“M-aayyy... tolong... tolong kejar Kak Kafeel... May... Minta... min-ta dia kembali, Maayy...”
Dimana Mika langsung memeluk salah seorang saudarinya yang meraung parah itu. Yang kemudian Mika dengar fakta yang terjadi dari mulut Dad R setelah Val berhasil ditenangkan.
“Kaka datang padaku, untuk undur diri. Dia telah melakukan kesalahan fatal dimana sekarang ada seorang wanita yang sedang mengandung anaknya...”
Yang membuat Mika berkesah berat ketika ia sedang sendirian di kamarnya. “Kalau begini, boro-boro mikirin nikah sama momongan. Yang ada, gue ga tega terus melanjutkan rencana lamaran dan pertunangan gue sama Arya sementara Val terluka seperti itu...”
Mika dilema.
🌿🌿
Di beberapa hari berikutnya,
Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia,
“Jangan cerita dulu pada Kak Arya ya, May? Karena aku rasanya malu... Meskipun aku tahu jika Kak Arya tidak akan meledekku karena hal ini, tapi tetap saja aku merasa malu. Selain merasakan sakit yang teramat di dalam hatiku...”
‘Kasihan Val...’
Ada Mika yang kemudian menghembuskan nafasnya sedikit berat, setelah mengingat perkataan Val beberapa saat sebelum Mika kembali ke dalam kamarnya yang berada di kediaman keluarganya yang berada di Jakarta.
‘Aku mengerti posisinya sih, tapi dengan begini aku jadi tidak bisa meminta pada Arya untuk menunda dulu acara lamaran dan pertunangan kami. Aku bingung harus menggunakan alasan apa untuk meminta Arya mengundur jadwal kami itu, setelah permintaan Dad R serta Val yang tidak ingin orang-orang di keluarga ini tahu dulu tentang batalnya pernikahan Val dan Kak Kaf.’
Mika memijat pelipisnya.
__ADS_1
Tapi semasa itu, sampai Mika kembali lagi ke London---Mika masih tetap berkomunikasi dengan Arya seperti biasa, walau sesekali Mika mengabaikan chat dan panggilan telepon Arya.
Sampai sebelum sebuah tragedi yang terjadi di mansion utama keluarganya yang berada di London.
“May, boleh aku minta satu hal ke kamu?”
“Katakan saja, jika mampu akan aku berikan dan lakukan—“
“Rencana lamaran dan pertunangan kamu dan Kak Arya jangan dibatalkan.”
“Aku sudah tidak memikirkan hal itu, Val—“
“Tidak May, kamu harus memikirkannya. Kamu berhak bahagia May. Dan Kak Arya adalah kebahagiaan kamu—“
“Iya Val, tapi—“
“Ingat tidak betapa hancurnya kamu saat Kak Arya dikabarkan tewas?”
“Aku ingat Val. Tapi aku tidak mungkin egois meneruskan rencana lamaran dan pertunangan aku dengan Arya sementara kamu dan—“
“Itu bukan keegoisan, May—“
“Val—“
“Janji May, janji jangan dibatalkan kalau memang Kak Arya jadi melamar kamu—“
“Aku—“
“May, Janji. Lamaran dan pertunangan kamu dengan Kak Arya harus tetap dilaksanakan, apapun yang terjadi... Ga boleh dibatalkan, apalagi kalau sampai kamu berpikir untuk memutuskan Kak Arya hanya karena ketidakberuntunganku... Tidak boleh, May. Tidak boleh. Aku tidak rela. Jadi kamu harus berjanji pada aku ya, May? Tidak boleh memutuskan Kak Arya hanya karena aku. Titik. Janji, May?---Kamu sayang padaku kan, May?...”
“Ya iya lah—“
“Berjanji kalau begitu. Tidak boleh memutuskan jalinan cinta kamu dan Kak Arya hanya karena aku. Please, May. Berjanjilah padaku?”
“Iya, aku janji,”
🌿🌿
Janji.
Yang namanya janji harus ditepati. Karena janji, sama dengan hutang.
Mika, adalah orang yang konsisten dengan kata-katanya.
Terlepas dari perasaannya pada seorang Arya Narendra, yang dapat mematahkan prinsip Mika dalam soal hubungan antara lawan jenis.
Well, urusan hati, bukankah di luar kuasa insan biasa?...
Kembali ke perihal janji.
Janji Mika pada Val di suatu hari.
Yang harusnya Mika tepati, karena Val mengatakan, “Lamaran dan pertunangan kamu dengan Kak Arya harus tetap dilaksanakan, apapun yang terjadi...”
Namun jika yang terjadi begini?...
“Valera Madelaine Aditama Adjieran Smith, Time of death ( Waktu kematian ), 10 AM.”
Yang membuat mata Mika basah tak kering-kering.
‘Aku lebih dari hancur, May... Hatiku sakiiit sekali, May... Ditambah, kalian pun ikut merasakannya. Aku merasa bersalah pada kalian, May. Karena kalian akan menanggung sakit yang sama seperti yang aku rasakan entah sampai kapan... Aku semakin tidak dapat menanggung beban di hatiku ini, May. Rasanya sesak setiap kali aku bernafas... Ada tidak ya, May... Obat untuk menghilangkan sakit di hatiku ini?’
Dengan penggalan-penggalan perkataan Val sejak satu saudarinya itu terluka sangat parah karena cinta atas kasih tak sampai serta sebuah pengkhianatan.
‘Ada tidak ya May, yang menjual mimpi indah, masa depan yang juga indah bersama orang yang kita cintai?... Kalau ada, belikan ya untukku, May? Karena mimpiku sudah hancur, May... Hancur tanpa sisa...’
“Kamu bodoh, Val!...” rutuk Mika.
Namun begitu, rutukan Mika disertai derai air mata.
“Dan karena kamu bo-doh, maaf saja Val... aku tidak mau menepati janjiku padamu...”
Mika tenggelam dalam tangisnya kemudian.
🌿🌿
“Tapi mengenai rencanamu dengan Arya, tidak perlu ditunda ya?..”
“Aku sudah berpikir untuk menundanya, Dad..”
“Tidak May, tidak. Kebahagiaanmu juga hal yang utama bagiku.”
“Tapi, Dad-“
“Lakukan seperti rencana.. Acara lamaranmu dan Arya tetap harus berlangsung walau bagaimanapun. Setidaknya ada bahagia yang melingkupi hatiku, dalam duka ini.. Dan sepertinya.. Saat itu mentalku sudah kuat untuk menerima rasa simpati dari keluarga kita yang lain. Karena di hari itu setidaknya aku bisa merasa sedikit lega dan bahagia.”
‘Tapi aku yang tidak bisa merasa lega dan bahagia, dengan menari-nari di atas air mata saudariku meski air matanya telah mengering. Tidak! aku tidak bisa. Karena air mata Val mengering bukan karena ia sembuh dari lukanya, tapi ia paksa untuk mengering... Dan untuk itu, meneruskan pertunanganku dengan Arya?... No, I can’t.’
🌿🌿
“Fel, I want to collect a debt ( Fel, aku ingin menagih hutang )”
“Debt ( Hutang )?”
“You owe me your life when I saved you by donating my blood after you got an accident that time. Remember ( Kamu berhutang nyawa padaku saat aku mendonorkan darahku padamu setelah kamu kecelakaan waktu itu. Ingat )?”
“How the way I pay you then ( Bagaimana aku membayarmu kalau begitu )?”
“Help me betray Arya ( Bantu aku mengkhianati Arya )”
🌿🌿🌿🌿🌿🌿
To be continue......
__ADS_1