HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
RESPONS


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Unit apartemen Kafeel, Jakarta, Indonesia....


“Jangan lagi bicara soal mengakhiri hubungan ya?” pinta Kafeel pada Val yang langsung mengangguk patuh seraya tersenyum, dimana Kafeel pun juga ikut tersenyum.


Kafeel bahagia. Itu saja. Dicintai oleh Val sampai sebegitunya, bahkan sudah memiliki Val walau belum sepenuhnya, karena kalimat ijab belum Kafeel kumandangkan di depan Pak Penghulu.


Kafeel sungguh bersyukur, karena Tuhan membuatnya memiliki rasa yang sama seperti halnya Val pada Kafeel.


Karena jika tidak, Kafeel pasti akan merasa sangat bersalah pada makhluk belia yang cantiknya paripurna ini-macam para ibunya  Val, baik yang kandung maupun para ibu angkatnya-yang mana sama kadar kecantikannya.


Sejenak Kafeel dan Val saling diam, hanya dalam memandang netra masing-masing pujaan hati sepasang insan yang rentang usianya cukup jauh, namun saling mencintai itu.


Kala sejenak telah terlewat, Kafeel menempelkan bibirnya pada bibir val. Mengecup bibir tipis nan menggoda milik Val itu dengan singkat saja.


Kemudian Kafeel menarik pelan kepalanya, hingga tautan bibirnya dan Val pun terlepas.


Meski Kafeel telah melepaskan tautan bibirnya dari Val dengan menarik sedikit kepalanya, namun posisi wajahnya dan Val tetap dekat.


Kafeel kembali lagi menatap wajah Val lekat tanpa berbicara. Menikmati suguhan pemandangan indah dari sebuah bentuk sempurna sebuah wajah ciptaan Tuhan yang sungguh beruntung Kafeel rasa, sudah menjadi miliknya-walau belum seutuhnya.


Tapi Kafeel sudah bertekad, akan membuat Val menjadi milik dirinya seutuhnya dalam kurun waktu yang cepat.



Sebagaimana Kafeel yang hanya diam memandangi Val selepas memberikan ciuman singkat di bibirnya, Val juga melakukan hal yang sama sebagaimana Kafeel.


Val sedang menikmati paras tampan ciptaan Tuhan yang sudah ia cintai sejak lama, dan kini telah benar-benar bisa Val dapatkan orang berikut hatinya. Well, yang mana sama seperti Kafeel, belum Val miliki sepenuhnya karena Kak Kafeel tercintanya itu belum menjadi suaminya.


Tak apa, Val akan sabar menunggu, saat indah itu datang, yang Val yakini tidak akan lama lagi. Jadi sekarang, Val nikmati dulu apa yang sudah ia dapat-Kafeel Adiwangsa juga hatinya.


Yang mana orangnya sedang menatap Val dengan tatapan penuh arti, seiring salah satu ibu jarinya sedang mengusap lembut bibir Val, hingga membuat Val merasa berdebar tak karuan.


Hingga kemudian Val merasakan kepalanya terdorong, dengan tangan Kafeel yang berada di tengkuknya, hingga bibirnya dan bibir Kafeel bersinggungan. Sebentar saja bibir Val bersinggungan dengan bibir Kafeel.


Hanya sepersekian detik mungkin. Karena tak lama setelah bersinggungan\, bibir Kafeel langsung m*mag*t  bibir Val dengan syahdunya\, dan Val pun terbuai. Hingga dengan spontan Val mengalungkan tangannya di leher Kafeel.


Val menatap wajah Kafeel yang matanya terpejam, disela Kafeel sedang menggoda bibir Val dalam pagutan lembut bibir kekasih setengah om-omnya itu.


Lembut, manis dan memabukkan bagi Val, hingga ia pun akhirnya ikut memejamkan matanya untuk meresapi ciuman Kafeel yang begitu membuat Val terbuai.


Kafeel sempat mengurai sebentar tautan bibirnya dari Val, namun tak lama kembali menempelkan bibirnya lagi pada bibir kekasih kecilnya itu, yang sudah menjadi candu bagi Kafeel.


Val sempat terkejut\, kala tubuhnya sedikit terangkat hingga kemudian posisinya-Val sadari telah berada di atas pangkuan Kafeel\, yang perlahan tubuh Kafeel melandai sampai kepalanya Kafeel tertopang disanggahan sofa dan membuat pria itu jadi mendongak\, dengan posisi bibirnya dan Val masih saling m*mag*t mesra.


Tangan Kafeel yang berada di tengkuk dan pinggang Val, mencengkram posesif dua bagian itu.


Tidak keras, namun tidak begitu lembut juga. Hingga pada akhirnya, ciuman yang sarat kelembutan dengan ritme teratur itu berganti pada ciuman yang sarat akan gairah dari diri Kafeel.


Kafeel tak tahan untuk tidak m*lum*t habis bibir ranum milik Val itu\, meski Val nampak kewalahan mengimbanginya. Namun Kafeel seolah tak peduli\, karena sungguh Kafeel tidak ingin berhenti menikmati bibir yang sudah menjadi candunya ini.


Val sudah cukup terengah-engah bahkan, namun Kafeel tetap tidak mau melepaskan tautan bibirnya yang kini mulai ganas ‘menyerang’ bibir Val.


Tapi Val tetap memilih untuk menikmati saja bagaimana Kafeel sedang memperlakukan bibirnya dengan bibir kekasih setengah om-omnya itu juga.


Val masih polos, jadi dia tidak bisa aktif-bahkan kewalahan menghadapi serangan bibir Kafeel yang seolah mengoyak bibirnya saat ini.


Jadi Val mengikuti naluri saja, meski mungkin terkesan kaku. Lalu membiarkan Kafeel mendominasi ciuman mereka dengan gigitan kecil berikut ******* yang memenuhi hati dan pikiran Val ini.


Hingga pada detik dimana Val kemudian menarik paksa bibirnya dari bibir penjajah milik makhluk tampan berusia matang kekasih hatinya itu, kala Val merasakan ada yang menonjol tapi bukan bakat pada bagian tepat dibawahnya yang berada dalam pangkuan Kafeel.


“K-kak..” ucap Val terbata, sekaligus tenggorokannya ia rasa tercekat, kala sesuatu yang menonjol Val rasakan di dudukannya itu sedikit.... bergerak?.... ‘Oh ya ampun, apa itu.... itu.... ‘tongkat pusaka’ Kak Kafeel yang baru saja ‘menyapa’ ku?---‘


Wajah Val terasa memanas.


‘Apakah aku akan di ‘iya-iya’ oleh Kak Kafeel dan merasakan percikan api neraka tapi katanya terasa bagai di surga kalau sudah merasakannya menurut  beberapa teman-temanku di London yang sudah merasakan bercinta dengan kekasih mereka itu?’


Val membatin.


“Ja-ngan ber-gerak, ya.... baby?—“ ucap Kafeel dengan suaranya yang berat kala ia menyadari sekaligus merasakan sesuatu dibalik celananya itu mulai ‘berulah’ akibat sesi ciuman hotnya dengan Val.


“Iy-a....” Val melirih, setelah ia terkesiap sehabis mendengar ucapan Kafeel dengan suaranya yang berat, bahkan seolah kekasih setengah om-om Val itu sedang menahan nafasnya.


‘*F*k!’ Kafeel mengumpat kasar dalam hatinya, karena ‘tongkat starwars’ miliknya tidak mau kembali tidur juga, meski Val sudah mematung di atas pangkuannya-dan Kafeel pun sama tak bergerak, saking ia takut gelap mata, lalu melakukan hal yang tidak senonoh pada Val.


__ADS_1


“V,al....”


“I-iya.... kak?” Val menyahut gugup, pada Kafeel yang juga memanggil namanya dengan gugup dan pelan, serta suara Kafeel terdengar agak berat.


“Tolong buat pengalihan,” ucap Kafeel. “Agar aku tidak sampai khilaf sama kamu, baby ---“ sambungnya. “Tapi tetap jangan bergerak dulu, ya?”


Val mengangguk takut-takut, sambil memandangi Kafeel yang merebahkan kepalanya lebih menjorok ke belakang di atas sanggahan kepala sofa.


“Ta-pi, pengalihan yang bagaimana?” ucap Val seraya bertanya dengan kikuk.


“Anything (Apapun)....” sahut Kafeel.


Mata Val mengerjap. Lalu otaknya mencoba berpikir cepat untuk membuat pengalihan seperti yang Kafeel minta.


“Bagaimana kalau.... makan?....” sebuah ide yang terlintas di kepala Val dalam keadaan tertekan saat ini pada posisi yang sungguh membuat dirinya canggung sendiri pada akhirnya.


Kafeel langsung mengangkat kepalanya. “Makan?”


“I, ya.” Sahut Val seraya mengangguk hati-hati. “Kata orang, makan makanan tertentu bisa sedikit mengalihkan ragam pikiran dalam waktu-waktu tertentu.”


“Begitu ya?—“ Kafeel menyahut seraya bertanya, dengan suara yang terdengar seperti gumaman namun masih dapat Val dengar.


“I, yaa.”


“Ya sudah, ayo kita makan.” ajak Kafeel dengan cukup antusias, agar omesnya segera teralihkan.


“Kak Kafeel punya stok makanan disini?—“


“Hanya sereal saja paling.” Jawab Kafeel. “Soalnya aku juga memang ga stok makanan olahan, selain mi instan, itupun ga banyak. Dan terakhir yang aku ingat juga sudah habis sepertinya----“ tambah Kafeel. “Paling kudapan instan dan buah kalengan yang masih ada di kulkas—“


“Huum. Kalau begitu pesan online saja ya?”


“Good idea.” Tukas Kafeel tersenyum, namun kemudian dia sedikit meringis.


“Kak Kafeel ada aplikasi food delivery online disini?” tanya Val yang lupa dengan titah jangan bergerak dari Kafeel, dengan dirinya yang telah memutar badannya sebelum ia bangkit dari pangkuan Kafeel hingga membuat Kafeel sedikit merasa ngilu. “Karena di ponsel Val tidak ada kalau untuk memesan makanan disini—“


‘Aish—‘ Kafeel mengeluh dalam hatinya, sambil ia sedikit menggigit bibir bawahnya kala Val memutar tubuhnya saat masih berada di atas pangkuan Kafeel hingga ‘tongkat starwars’ nya itu kian menunjukkan tanda-tanda minta dibebaskan dari kurungan boxernya.


“Kak?” suara Val membuat fokus Kafeel pada kengiluan dibalik boxernya itu sejenak teralihkan.


“Y,a?” sahut Kafeel.


“A-ada.” Jawab Kafeel. “Kakak ambilkan dulu di kamar.”



Kafeel merasakan ada kesempatan bagus untuknya-membuat rasa ngilu pada bagian sensitifnya setidaknya bisa berkurang, saat ia hendak mengambil ponselnya yang tadi ia tinggal dalam kamar saat ia mengganti atasannya. Kafeel berpikir, mungkin dia akan pergi ke kamar mandi, lalu mengguyur kepala dan seluruh tubuhnya di bawah kucuran shower dengan setelan air dingin, kalo perlu air es jika memang ada.


Tapi....


“V-al.... Mau kemana?....”


“Ikut Kak Kafeel ke kamar—“


Dimana ucapan Val itu membuat sedikit mendelik.


“Val mau lihat kamar Kakak---“ ucap Val. “Boleh?”


Kafeel menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Kalau Val ikut bersamanya ke kamar, yang ada pengalihan untuk tidak ‘mengiya-iyakan’ Val, akan gagal total.


“Tidak boleh ya Kak?”


“Ya---“


“Ya sudah tidak apa-apa kalau tidak boleh.”


Val tersenyum, namun terlihat seperti tersenyum kecut di mata Kafeel, hingga membuat dirinya merasa tidak nyaman.


Namun bila ia dan Val pergi ke kamar, bukankah para saiton akan segera berkumpul disana lalu berbisik tajam di telinga Kafeel untuk membawa Val ke atas ranjangnya lalu sampai ke pada tahap 'iya-iya'?.


“Boleh Val, boleh.” Ucap Kafeel pada akhirnya, dengan menahan lengan Val yang sudah berbalik untuk menjauh darinya. “Silahkan Val ke kamar Kakak, mau tidur pun silahkan.”


Kafeel pun tersenyum.


“Yuk aku tunjukkan, tapi aku tunggu diluar saat Val masuk ya?—“


Kafeel mengusap kepala Val lembut.


“Kalau kita masuk berdua, aku takut khilaf beneran.”

__ADS_1


“Iya Kak.” Sahut Val. “Val hanya ingin melihat saja sebentar kok, seperti apa kamar Kakak.”


“Baik Tuan Putri.” Tukas Kafeel dengan tersenyum. “Sekalian Val yang ambilkan ponsel Kakak aja ya?” sambungnya. “Ada di atas tempat tidur.”


Val pun mengangguk, lalu melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar Kafeel yang memang sudah terbuka pintunya.



“Val saja yang memesan makanan yang Val inginkan.” Ucap Kafeel pada Val yang telah selesai melihat-lihat sebentar kamar pribadinya dalam apartemen.


“Tapi Val ingin memakan makanan pedas sekarang Kak.” tukas Val.


“Ah.... Boleh juga tuh. Seger kayaknya.” Tukas Kafeel.


“Okay!”


Val menyahut riang.


“Lalu Kakak maunya apa?”


“Samain aja sama kamu, baby....”


“Okay!” sahut Val. “Kak Kafeel ada e-money di aplikasi food delivery online-nya?”


“Ada---“


Kafeel menyahut.


“Kamu pesan aja, nanti saat mau check out kan ada pilihan pembayarannya. Kan bisa keliatan ada saldonya atau engga. Setahu aku sih masih ada.”


“Ya sudah Val pesan dulu yah?”


Kafeel pun mengangguk.


*


Beberapa saat  kemudian....


“Sshh..” Seorang pria kedapatan sedang bermandikan keringat di sofa pada ruang tamu dalam apartemen miliknya.


Yang mana, pria itu adalah Kafeel yang sedang mendesis dengan nafasnya yang terengah, meringis, menahan sesuatu yang sulit untuk Kafeel ungkapkan dengan kata-kata.


“Va-ll---“ lirih Kafeel sambil menatap ke samping kirinya, dimana seorang gadis-yakni Val sedang duduk santai menikmati makanan yang ada di tangannya. “Kamu dendam sama aku ssshhh....”


Dimana Val yang juga bermandikan keringat karena makanan yang ia makan itu cekikikan melihat ekspresi dan mendengar ucapan Kafeel yang nampak begitu tersiksa itu.


Meski Val juga merasakan rasa pedas yang begitu tajam di lidahnya, namun Val tidak nampak tersiksa seperti halnya Kafeel, karena Val amat sangat menyukai jenis makanan pedas, sampai kepada level pedas yang diatas rata-rata.


“Tadi kan Val katakan, ssshhh, Val ingin makan makanan yang pedas. Lalu, sshh Kakak katakan ‘good idea’, sshh. Jadi kenapa mengeluh sekarang?” sahut Val dengan santai.


“Sshh.... haaahh.... bagaimana ga ngeluh Vaaaall.... sshh.... astagfirullaaaaahhh.... ini pedesnya kabina-bina kalo kata Bundaahhh, sshh, huhhaaahhhh....”


Val semakin cekikikan melihat Kafeel yang sampai membelalakkan matanya, lalu mata Kafeel juga mengerjap cepat bak orang kelilipan-saking menahan pedas yang sungguh menyiksa mulutnya itu.


“Ini ayam geprek level berapa sih?! Sshhhh.....” tanya Kafeel sambil terus mendesis tanpa henti. “Sumpah ini aku ga sanggup ngabisinnya Val. sshh-huhhh....”


Nafas Kafeel sudah sangat terengah, bahkan matanya sampai merem melek. Dan berkali-kali menghapusi keringat di keningnya yang tak habis-habis keluar, bahkan rasanya wajah Kafeel sudah dibanjiri oleh keringat saking ia merasakan pedas yang luar biasa di mulutnya hingga sampai tembus itu pedas dan panas ke wajahnya.


“Terus kamu, sshh.... itu sama levelnyaahh dengan yang aku makan? Ssshhh....” tanya Kafeel yang melihat Val makan menu yang sama namun ekspresi Val hanya seperti kepedesan biasa aja.


“Sama kok...."


Val menjawab cepat.


ini Kak Kafeel coba saja ayam geprek punya Val—“ sahut Val sambil menyodorkan makanan yang ada dalam piringnya pada Kafeel. “Sama Kan?” ucapnya setelah Kafeel mengambil sedikit sambal ayam geprek yang ada di bagian kekasih kecilnya itu.


“Sshhh.. iyaa ssiihhh....” sahut Kafeel yang telah merasakan ayam geprek milik Val yang pedasnya mampus gila-kalau menurut Kafeel. “Kamuhh pesen yang level berapa sih, memangnya?? Ssshhh....”


“Tertulis di menunya sih hanya ‘Pedas Dunia Akhirat’” jawab Val enteng.


“Allahu Akbar!”


Dan Kafeel pun nyebut dari hati yang paling dalam.


‘Ga sekalian cari ayam geprek yang level pedesnya Neraka Jahanam!’


*


To be continue......

__ADS_1


__ADS_2