
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
Terima kasih masih setia baca yawgh.
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Jakarta, Indonesia,
“MAJU!”
Sebuah suara tak lama menggelegar, ketika sang pemilik telah berdiri dengan tegak dan gagahnya di hadapan pihak lawan.
Sorot matanya yang nyalang berikut rahangnya yang nampak mengetat kaku, seolah mendukung aura gelap yang sedang mengelilingi dirinya yang barusan bersuara dengan kencang dan lantang itu sambil mengarahkan sebuah pedang ikonik dari Negeri Sakura.
Yang mana dia yang barusan bersuara dengan kencang dan lantang sambil mengangkat katana yang ada di satu tangannya lalu ia arahkan kepada pihak lawan itu adalah Varen, dimana suara menggelegarnya barusan itu sungguh membuat terkejut orang – orang yang ada di sekelilingnya.
“MAJU! NGAPAIN TAKUT?! MEREKA TETEP KALAH JUMLAH SAMA KITA!” Lalu seruan berapi-api dari salah seorang di pihak lawan, terdengar tak kalah menggelegar selepas Varen menantang para musuh di depannya itu, yang juga sudah membentuk formasi melingkar-----mengepung Varen dan timnya.
“Yakin gue orang kalah jumlah? ..”
Varen langsung menyambar omongan seraya ia menyeringai, selepas seruan berapi-api terdengar dan pihak lawan yang sangat banyak itu sudah hendak maju
Namun bersamaan ketika pihak lawan yang bersenjatakan senjata tawuran itu hendak maju, didetik yang sama-----suara derungan motor yang tak lama penampakannya terlihat dari arah pintu masuk.
Puluhan motor sport ber CC besar telah nampak jelas kini, dengan lampu motor yang menyoroti mereka yang sedang berada di area luas serupa lapangan tersebut. Dan ketika ‘Sang Panglima’ melirik ke arah pasukan bermotor sport dengan CC besar tersebut sambil yang bersangkutan tersenyum miring dengan gurat kepuasan, para pengendara motor tersebut kompak memainkan gas motor mereka hingga raungan knalpot yang garang pun terdengar gaduh.
Gas motor yang dimainkan itu memang dilakukan, sebagai sapaan hormat untuk ‘Panglima’ mereka yang gagah berani itu, selain banyak keahliannya diluar kejeniusan otaknya.
Puluhan motor sport ber CC besar tersebut langsung membuat formasi melingkar, memblok sekelompok besar orang yang adalah pihak lawan-----yang juga sedang mengepung sebagian dari kelompok Varen dan timnya.
“MAJU SEKARANG! MEREKA CUMA GERTAK!” Meski tahu rombongan motor sport ber CC besar adalah bukan bagian dari mereka, namun seruan profokatif kemudian terdengar nyaring dan berapi-api dari salah seorang pihak lawan dengan pandangannya yang sengit pada Varen.
Varen dan timnya langsung menyeringai tinggi, setelah seruan dari pihak lawan terdengar untuk menyerang mereka.
“DRAGONS!”
Dimana sepersekian detik dari seringai tinggi yang tersungging di bibir Varen, seruan lebih lantang dan bertenaga terdengar begitu menggema dari mulut si Abang.
Lalu satu detik setelah itu, puluhan orang muncul dari dalam gedung terbengkalai yang menjadi tempat pertarungan besar-besaran tersebut.
Dimana orang-orang yang baru keluar dari dalam gedung terbengkalai tersebut, memanglah sudah bersiap sebelumnya----direntang waktu yang agak jauh, setelah konfirmasi akan adanya penyerangan untuk Kafeel berikut Zio dan kawan-kawannya, telah konfirmasi akan terjadi oleh orang-orangnya Varen dan tim.
Jadi ‘Sang Panglima’ yang memang memiliki kecerdasan otak jauh diatas rata-rata orang normal-----bahkan IQnya menyentuh angka 263 itu, sudah dengan cepat dan rapih menyusun strategi dalam waktu yang terbilang singkat.
Hal yang kiranya sulit dilakukan jika orang tersebut bukanlah seorang ahli strategi penyerangan dalam perang, untuk melakukannya.
Tapi tidak bagi Varen, yang memang sudah terlihat kepintarannya dari sejak ia berusia tujuh tahun dan seiring usianya bertambah, kepintaran dan kemampuan Varen lainnya pun kian bertambah juga.
Jadi menyusun strategi yang katakanlah sebagai strategi penyerangan pada lawan ‘perang’, adalah hal mudah untuk Varen. Terlebih musuhnya hanya seujung kuku para musuh yang pernah menyerang keluarganya saat ia berusia sebelas tahun kurang lebih.
Namun begitu, tetap Varen menyusun strategi untuk mengepung pihak lawan, sebagai kemungkinan para lawannya memang ‘batu’ hingga akan tetap melawan meskipun setelah diintimidasi habis-habisan oleh Varen dan timnya.
Atensi para musuh yang tadinya sudah mengangkat senjata khas tawuran mereka, langsung teralihkan pada sekelompok orang yang dua kali lipat banyaknya dari jumlah mereka-----yang tahu-tahu muncul dari dalam gedung di belakang mereka dari berbagai arah.
“Tempat ini akan menjadi kuburan kalian,”
Varen berucap seraya ia menyeringai pada para musuh yang tampak terpaku melihat orang-orangnya yang baru keluar dari persembunyian itu dengan pakaian hitam-hitam.
“AAA B*NGSAT!!! LAGAK LO!!! ..”
Namun begitu, nyatanya perkiraan lawan yang ‘batu’ itu terjadi.
Karena ada satu pihak lawan yang berteriak lagi dengan posisi yang hendak menyerang Varen dengan orang itu yang tahu-tahu sudah memegang sebuah pedang di satu tangannya, dan satu pisau di tangannya yang lain. Hendak menyerang Varen, meskipun kelompoknya telah terkepung balik.
__ADS_1
Namun sebelum itu terjadi, sebuah tongkat baseball melayang ke arah tangan pihak lawan yang hendak menyerang Varen dengan pedang dan pisau di tangan orang tersebut. Dimana tongkat baseball yang di lempar oleh seseorang yang berada di dekat Varen itu tepat sasaran mengenai tangan lawan yang memegang pedang dengan telak dan keras, karena pedang tersebut lepas dengan segera dari genggaman dia yang berusaha menyerang Varen ----dan orang tersebut langsung mengaduh kesakitan.
“Anj*ng jangan berani-berani ada dihadapan Abang gue. Sayang mata bagusnya liat manusia anj*ng macam lo.”
Ada Nathan yang berdiri disamping Varen dengan berucap datar dan memandang dingin pada orang yang sempat terhuyung karena lemparan tongkat baseball miliknya.
Varen nampak santai saja bergeming di posisinya saat ada lawan yang hendak menyerangnya.
Bergerak satu senti dari tempatnya pun tidak itu si Abang Varen.
Emang anak naga ga ada takut-takutnya.
♥
Varen mendengus sinis kemudian bersama Nathan dan timnya, menatap remeh pada salah satu manusia menyedihkan selain menjijikkan dalam pandangan mereka.
“BANGS*T!”
Dia yang diserang Nathan kemudian bangkit lagi setelah dibantu beberapa temannya, dan hendak mengambil pedang yang lepas dari pegangannya akibat lemparan telak tongkat baseballnya Nathan yang mengenai tangannya dengan sangat keras.
Namun sebelum itu terjadi, sebuah tendangan menghantam wajah orang tersebut sampai ia terjerembab menjauh dari pedang yang ingin ia raih kembali.
Dimana Aro-----si pelaku penendang wajah musuh yang hendak menyerang Varen itu, langsung menyambar pedang tersebut dengan kakinya, lalu Aro pegang kemudian.
“Pedang gembel!”
Hinaan keluar dari mulut Aro yang langsung membuang pedang musuh ke belakang, yang langsung diamankan oleh salah seorang personel mereka.
“SERAAANGG!!!!!” Seruan langsung terdengar dari ketua geng motor kriminal tersebut.
Varen dan timnya kembali menyeringai.
“Lo semua yang minta ..”
Lalu didetik berikutnya,
“DRAGONS!”
Varen berseru kencang dan lantang sekali lagi.
“BANTAI TANPA SISA!”
Seruan lantang Varen yang terakhir adalah sebuah komando mutlak bagi para timnya untuk ‘bekerja’.
♥
“Salut sama nyali lo!”
Ucapan Varen pada satu orang yang nampak sangat bernafsu untuk membantainya.
Slash!.
Hanya saja sayang sungguh sayang, pria yang hendak berusaha lagi menyerang Varen itu kalah cepat dengan tangan Varen yang mengayunkan katananya.
“AAAARRGGGGGHHHH!!!---“ Hingga lolongan memulas telinga kembali terdengar menggelegar dari satu orang yang bernasib sama dengan temannya, dimana satu tangan orang yang ingin menghabisi Varen itu tertebas katana si Abang.
“Cacad kan lo?! ..”
Nathan melontarkan ejekan pada pria yang tangannya Varen baru saja tebas itu.
"Tambeng!"
Lalu Nathan bergabung dengan semangat ke arena pertempuran yang sebenarnya timpang itu, karena pada dasarnya musuh mereka sudah akan telak kalah karena kalah jumlah.
__ADS_1
Sudah kepalang bersemangat menghadapi orang – orang sok jagoan yang mentalnya keroyokan, jadi hadapi dengan cara yang sama saja bukan? ..
Bukan karena Varen dan timnya bermental pengecut sampai mengerahkan begitu banyak orang untuk mengeroyok satu geng motor kriminal yang selalu membuat keresahan hingga sampai menghilangkan nyawa orang demi uang atau barang orang – orang yang mereka rampok atau begal, atau sekedar memukuli orang hanya untuk senang – senang dengan lawan yang tak imbang-----karena ya itu, mental keroyokan tapi sok jagoan.
Jadi saat ini, Varen dan tim hanya memberikan mereka pelajaran agar mereka merasakan bagaimana jika berada di posisi para korban berikut keluarga korban – korban geng motor kriminal tersebut, yang telah mereka rugikan hingga sampai membuat nyawa melayang.
Well, pelajaran sangat berharga sih.
Karena dua diantaranya sudah terkapar tak berdaya dengan satu anggota badan mereka yang terpisah dari tempatnya.
Sisa dari anggota geng kriminal berikut ketuanya itu, pada akhirnya merasa kepalang tanggung dan gengsi untuk menyerah, maka mereka pun maju untuk menyerang Varen dan tim.
Namun sekali lagi, sayang sungguh sayang-----karena mereka sudah keburu kalah telak sebelum bertarung.
Para anggota geng kriminal itu dilumpuhkan lebih dulu oleh Varen dan tim, dimulai dengan mempreteli persenjataan khas tawuran yang pihak lawan itu masing – masing pegang.
Varen sudah menebas empat tangan dari empat orang yang berbeda. Nathan sudah menghantam setiap bagian tubuh lawan yang menghadangnya dengan tongkat baseball yang menjadi pegangan Nathan.
Aro dan Rery bersenjatakan dart rope dengan ujung yang berbeda pada masing – masing milik keduanya, namun ujung dari dart rope atau tali bermatakan anak ujung anak panah itu terbuat dari besi tajam, yang sabetannya minimal akan membuat luka sedalam lima centi meter pada kulit yang disapa oleh ujung dart ropenya Aro dan Rery.
Sementara tim inti sisanya macam Arya, Kafeel, Bagas, Zio berikut kawan – kawan dari kakak beradik tersebut dimana rombongan Zio adalah juga para anggotanya Aro dan Rery sudah masing – masing memilih lawan – lawan mereka untuk diserang dan dihantam habis – habisan.
Dimana serangan dan hantaman tersebut dengan posisi timpang tentunya, karena satu musuh akan di jaga lebih dari satu orang hanya untuk menjaga agar mereka tidak ada celah untuk kabur-----terutama mereka yang sedang berhadapan dengan para personel inti.
Sekali lagi, bukan tidak berani menghadapi para lawan dengan bertarung secara fair one by one-----namun lebih kepada membuat para kriminal itu merasakan, bagaimana rasanya dikeroyok dan dipukuli habis-habisan tentunya-----lalu ditertawai.
Agar juga orang – orang itu tahu pepatah yang mengatakan jika Di atas Langit Masih Ada Langit.
Merasa kelompoknya besar dan ditakuti orang – orang serta merasa licin juga, hingga para anggota kriminal itu berlaku semena – mena, dengan juga menyertakan kekejaman dalam aksi kriminal mereka.
Namun mereka tidak tahu, jika ada satu keluarga yang bahkan bisa membuat satu negara jika mereka memang ingin----- yang sayangnya engga ada yang ingin.
Yang dapat begitu mudahnya mengumpulkan orang – orang berkemampuan khusus dalam bertarung dengan hanya sekejap mata.
Dan sebagian dari anggota keluarga itu yang sedang membereskan mereka yang disebut ‘manusia sampah’ oleh Varen dan pasukannya, yang hampir kesemua ‘manusia sampah’ itu sudah tak karuan nasibnya yang menjadi samsak hidup bagi Varen dan pasukan, belum lagi sampai harus kehilangan salah satu anggota tubuh.
Tergolek tak berdaya, hingga raungan ‘ampun – ampunan’ terdengar bak musik merdu bagi Varen dan tim-----selain wajah – wajah para anggota geng kriminal tersebut sudah rasanya tak berbentuk dengan banyaknya lebam, selain luka di tubuh mereka dari sayatan salam katananya Abang, tongkat baseballnya Nathan, dart ropenya Aro dan Rery, bahkan dari jenis pedang lain yang digunakan Arya dan Bagas-----dengan Kafeel yang juga memegang tongkat baseball macam Nathan yang terbuat dari besi-----yang memang juga sudah Kafeel persiapkan di dalam mobilnya.
Yang Kafeel ambil dan keluarkan dari mobilnya, saat Varen dan rombongan yang menyusul datang ke arena pertarungan.
Sisanya, Zio berikut kawanan satu gengnya dan geng sang kakak, mempersenjatai diri mereka dengan kayu dan balok. Karena kata ‘Sang Panglima’, “Jangan gunakan tangan kosong buat bantai mereka. Sayang tangan gue dan tangan lo semua kalau harus lecet karena para anj*ng jalanan ..”
Begitu kata Varen ke semua timnya.
“Gue sih terserah sama kalian, tapi kalo gue sih males ngumpulin debu buat bersihin itu jejak najis.”
Oh Abang, memang senyinyir itu mulutnya. Selain,
“Senjata api silahkan bawa, tapi ga perlu digunakan kalau memang ga terdesak amat. Karena menyayat lebih nikmat.”
Hingga sebuah komentar pun tercipta,
“Abang Varen anggota GGS yuah? ..”
“Apa tuch GGS?”
“Ganteng – Ganteng Sikopat.”
♥♥
To be continue ......
Jangan lupa dukungannya yuah...
__ADS_1
Ma aciihhhhh...