HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 131


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Singapore,


Perhatian banyaknya orang pada sebuah Bandara yang berada di sebuah negara dengan julukan Kota Singa itu tertuju ke satu arah yang sama.


Dimana ada beberapa orang yang delapan diantaranya adalah makhluk – makhluk yang lebih menonjol diantara beberapa orang yang bersama mereka.


Yap, delapan orang makhluk – makhluk yang nampak menonjol dari segi perawakan dan penampilan itu adalah mereka yang memiliki sebutan The Krucils, meskipun usia mereka sudah bukan lagi balita.


Namun trademark The Krucils tetap melekat pada diri delapan muda – mudi tersebut, meskipun mereka kian beranjak menuju kedewasaan. Dan ada tambahan trademark lain untuk mereka, mengingat tingkah pola delapan makhluk itu yang kadang membuat pusing kepala orang tua dan kepala mereka.


The Bangor Kids.


Kini juga tersemat pada delapan muda – mudi tersebut, yang tak lain dan tak bukan adalah para pewaris muda The Adjieran Smith yang merupakan generasi adik dari tiga kakak di atas mereka.


♥♥♥♥


Jangan ditanya apakah keberadaan ke delapan pewaris muda itu menjadi pusat perhatian orang – orang yang berada di area Bandara tempat mereka berada itu sekarang.


Sudahlah pasti semua mata mengamati mereka dengan seksama, sembari bertanya – tanya siapakah gerangan makhluk – makhluk muda dengan kaki jenjang dan paras yang rupawan itu.


Wajah dengan kerupawanan yang nyaris tanpa cela, berpadu dengan kesimetrisan proporsional tubuh, sungguh membuat banyak mata teralih secara otomatis pada mereka.


Berjalan dengan derap langkah teratur namun pasti.


Elegan.


Namun dengan ekspresi wajah dengan pandangan lurus ke depan.


Nampak angkuh, namun terlalu sedap untuk dipandang, jadi sayang kalau tidak diperhatikan.


Yang melangkah dengan tertib dan elegan memasuki area dalam Bandara-dimana Achiel dan tiga orang pria yang tingginya kurang lebih sama dengan Achiel, telah menunggu ke delapan orang pewaris muda tersebut, berikut beberapa orang yang menyertai mereka.


♥♥♥♥


‘Kalo pada begitu kan, kalem. Sedap banget ngeliatnya itu bocah-bocah terlanjur kaya dari di dalam perut ibunya masing-masing?....’


Itu hatinya Achiel yang berbisik, kala matanya sudah menangkap kehadiran delapan makhluk muda yang menjadi tanggung jawab dirinya dan beberapa rekan sesama bodyguard untuk mereka jaga selama perjalanan ke Indo, dimana delapan makhluk muda itu kini sedang berjalan ke arahnya dan beberapa rekan Achiel yang memang sudah menunggu kedatangan delapan majikan muda mereka itu.


‘Tapi kalo jail dan tengilnya pada kumat, mendingan gue disuruh jadi sukarelawan ke jalur Gaza, daripada disuruh menghadapi segala kejahilan dan ketengilan mereka!’


Hati Achiel berbisik lagi.


♥♥♥♥


“Tuan Muda, Nona Muda, Tuan Kafeel, Tuan Arya ...” sapa Achiel dan beberapa rekannya yang sudah berhadapan dengan Mika hingga Ares.


“Kita langsung berangkat Kak Achiel?”


Mika langsung melontarkan pertanyaan pada Achiel.


“Tiga puluh menit lagi Nona Mikaela.”


Achielpun dengan sigap dan santun menjawab pada Mika.


Mika CS pun mengangguk.


“Lalu, kita menunggu dimana? ...”


Val bertanya pada Kafeel yang memang berjalan bersisian bersamanya dengan bergandeng tangan dari sejak turun dari mobil.


“Di rumah Pak RT!” sahutan yang menanggapi pertanyaan Val dengan sangat cepat pun terdengar.


Padahal Val bertanya pada Kafeel, tapi sahutan justru keluar dari mulut Aro yang paling sering nyinyir itu.


“Kacamata buka makanya!” cetus Aro. “Biar keliatan tuh bangku-bangku.”


‘Hm, mulai!’ batin Kafeel dan para bodyguard kala melihat interaksi Aro dan Val, yang mereka yakini akan adu debat unfaedah.


“Ih Aro, biasa saja kelles!” cebik Val, namun ia tersenyum geli sambil melengoskan wajah Aro melalui kembaran Isha itu. Yang walaupun kembar, namun wajah mereka tidak uplek mirip seperti anak kembar pada umumnya-selain perbedaan gender.


“Ga cocok lo ngomong begitu, Val ---“ tukas Aro.


“Kenapa memangnya?” tanya Val.


“Ga cocok sama logat, ngomong bahasa yang kita orang jekardah pake!”

__ADS_1


Aro menyergah.


“Logat lo, Ann sama Rery tuh macem keluarga kerajaan Inggris. Jadi ga ada pantes-pantesnya ngomong, ‘biasa aja kelles’.”


Aro setengah mengejek.


“Lagian yang bener tuh ‘biasa aja kelles’, B aja B. Bukan ‘biasa saja kelles’.”


“Ih suka-suka aku dong!”


‘Nah kan?!’ batin mereka yang tadi membatin sebelumnya.


“Dibilangin.”


“Tau ih Aro, nyinyir banget mulutnya sama sodara sendiri?!” celetuk kembarannya Aro.


‘Nah satu lagi nyamber, sebentar lagi semuanya juga ikutan nyamber. Coba aja!’ Yang berkomentar dalam hati, membatin lagi.


“Lagian gue heran deh sama lo Val, sering bolak-balik ke Jakarta, terus ada Momma diisana, logat British lo masih aja nempel banget perasaan? ... Rery aja biasa logatnya. Ann aja juga engga perasaan? ...”


“Ah, Gappa yang lahir dan besar walau sampai usia tujuh tahun aja di Italia, lalu lama tinggal di Indo juga Bristish banget logatnya.”


‘Bener kan, satu-satu nyamber ujung-ujungnya?????-‘ Batin para komentator yang sedari awal hanya berkata dalam hati melihat interaksi para pewaris muda tersebut.


♥♥♥♥


“Eh ngomong-ngomong kita belum belikan oleh-oleh untuk mereka yang di Indo loh?!” celetuk Isha saat perdebatan unfaedah beberapa diantara mereka yang dimulai oleh Aro dan Val telah selesai.


“Isha, kita udah kelewat sering datang ke negara ini –“ tukas Rery. “Dan mau membelikan oleh-oleh macam apalagi sementara apapun yang kita mau tidak hanya dari negara ini, tapi juga dari negara lain bisa kita dapat hanya dari tempat kita duduk? ...”


“Ya iya sih, segalanya perasaan memang sudah ada di Kediaman,” tanggap Isha atas ucapan Rery.


“Nah ya udah mau beli oleh-oleh apalagi coba? –“


“Ah paling engga kita belikan untuk Ake dan Ene!. Kita langsung ke rumah Keluarga Cemara kan setelah sampai di Indo? ...” sambar Isha.


“Kamu benar Isha, setidaknya kita membawakan sesuatu untuk Ake dan Ene ...” timpal Ann. “Dan juga untuk Nenek Yuna, serta para pekerja bukan? ...” imbuh Ann. “Kalau our Dads and Moms kan tidak perlu karena mereka saja sudah keliling dunia lebih banyak dari kita?”


“Iya betul tuh Kak Rery, yang bekerja di Kediaman dan ga giliran ikut kita kali ini perlu dibawakan oleh-oleh tau?-“ Aina ikut menimpali. “Kata Momma kan jadi orang ga boleh pelit, nanti kuburannya sempit!”


Rery mendengus geli, dan sisanya terkekeh mendengar celotehan Aina.


“Kalau sekedar oleh-oleh kecil, aku sudah belikan untuk para pekerja di Kediaman ...”


“Hemm.” Sahut Rery.


“Iya, aku Kak Rery sama Kak Aro semalam pergi ke toko suvenir yang ada di dalam hotel buat beli oleh-oleh untuk para pekerja yang ada di Indo, termasuk untuk Ake sama Ene dan Nenek Yuna-“


“Ululu Daebak banget sih kalian cowo-cowo, lebih peka dan gercep dari kita orang yang cewe-cewe?-“ sambar Isha.


“Heh, sadar diri.”


Aro menyambar setengah sinis pada Isha yang menggoda Ares dengan mencubit gemas pipi si bontot itu.


“Tahu!” timpal Rery. “Ga usah bawa-bawa kuburan, karena ga perlu banyak omong, tapi berpikir dan bertindak cepat. Karena sementara kalian asik maskeran, kami sudah mengabsen dan membeli barang-barang di setiap toko suvenir hotel untuk oleh-oleh. Kami jauh lebih peka daripada kalian cewe-cewe, tahu?!”


“Tempe!”


Isha, Ann, Aina, Mika dan Val kompak menyahut atas repetan Rery yang ga banyak omong emang orangnya macam sang ayah kandungnya-Poppa.


( Dulu ya, sebelum Poppa kenal Momma, terus sebelum ketemu lagi dan bersatu menjadi sepasang suami istri. Poppa memang tak banyak bicara. Kalo sekarang udah ketularan Momma, dikit – dikit nyeletuk. Yang kadang celetukannya nyelekit, kadang nyinyir doang, kadang receh ga ketulungan ).


Nah, Rery ini prototypenya Poppa dulu sebelum ketemu Momma. Tak suka basa-basi, tak banyak bicara, tapi sekalinya bicara ya kadang sampai merepet dan kadang nyelekit.


Cuma aja Rery ga plontos dan berotot macam Poppa.


Bedanya lagi, Poppa tidak memperhatikan-ogah ngurusin lebih tepatnya, hal-hal yang Poppa anggap tidak penting.


Sementara Rery pemerhati, macam Momma.


Kalem sih, ga macam Poppa yang sedikit temperamental.


Tapi bukan Poppa ringan tangan sembarangan ya? ...


Rery berpredikat anak baik di sekolah dan lingkungan pergaulannya selama ini, selain cerdas dan rajin.


Belum pernah terlibat keributan dengan yang namanya adu fisik baik di sekolah atau dimanapun.


Belum pernah ada yang ‘nyubit’ Rery sih. Istilahnya.

__ADS_1


Jadi tidak tahu sampai dimana kadar sabar dan kekuatan anak bontotnya pasangan bebek dan entok itu.


Kalau kakak kandungnya kan-Kak Drea, udah jelas terbukti punya kekuatan ‘samson’ macam Poppa dibalik tubuh rampingnya.


Karena Kak Drea pernah menghajar lebih dari lima orang para pembuli di sekolahnya, sendirian, tangan kosong pula.


Kalau Rery? ...


Si bujang yang selalunya terlihat kalem itu, apakah se-temperamental ayah kandungnya pada dasarnya? ...


Lihat saja bagaimana kedepannya.


♥♥♥♥


Setelah sedikit merepet, Rery mendudukkan dirinya di kursi yang tersedia pada ruang tunggu penumpang yang ada di Bandara tempat mereka berada sekarang.


“Kita naik maskapai milik The Dads dan The Bro’ bukan, Kak Achiel?-“ tanya Aro yang ikut duduk bersama Rery, juga Ares dan Arya yang lagi dalam mode anteng plus sibuk dengan ponselnya dari mengganggu dan menggoda Mika. Sementara satu lagi, si AA. Setia ketempelan kekasih kecilnya yang tidak mau dilepas dan melepas Kafeel jauh-jauh darinya.


Yah, namanya juga ulat bulu yang berharap jadi tokek.


“Bukan Tuan Avaro.”


Achiel segera menjawab Aro.


“Kak Achiel, kami mau ke Les Oiseaux dulu, ya?-“


Mika angkat suara.


“Sebentar lagi kita boarding, Nona Mikaela-“


“Sebentar aja si Kak Achiel, belum ada pengumumannya juga waktu untuk boarding pesawat yang akan kita gunakan, kan, kan? ...” tukas Isha.


“Hanya tinggal beberapa belas menit lagi kita akan boarding, Nona Alisha, dan sebaiknya tidak ada yang berpencar.“


“Kami hanya sebentar Kak Achiel, bilang tunggu sama Pilotnya jika kami belum masuk pesawat –“


‘Iya kali itu Pilot pesawat komersil mau nungguin dia orang main dulu baru berangkat?...’ batin Achiel. 'Diiket di sayap pesawat yang ada sama penumpang lain!'


“Jaga pintunya. Kalau tidak bisa percuma saja kalian Kak Achiel dan kawan-kawan mendampingi kami, kalau tidak bisa menahan pintu pesawat –“


“Kami manusia Nona Adrian, bukan ganjelan pintu ...” tukas Achiel dan yang mendengar pun terkekeh.


“Gan- what? ...” anak setan ora paham sama ganjelan. "Ganja? ..."


“Ganjelan is penahan pintu, you know? ...” sahut Achiel konyol, namun dengan ekspresi wajahnya yang datar. “A.K.A buffer, Miss Adrieanne-“


Yang melihat tingkah Achiel yang sangat pro menghadapi para biang rusuh itupun terkekeh lagi, selain takjub pada kesabaran satu bodyguard itu, selain bisa datar aja mukanya gitu-padahal di mata orang lain Achiel terlihat seperti sedang melucu.


“Hem.”


Ann berdehem dan manggut-manggut malas saja.


Sementara Achiel melapangkan dadanya, jika sifat keras kepala para majikan mudanya itu sedang muncul ke permukaan.


“Lagipula, yang akan kita naiki ini pesawat komersil milik orang lain, bukan milik para Tuan Besar, Nona-Nona, jadi  ---“ imbuh Achiel yang terpotong ucapannya, karena ...


“Jadi beli saja maskapainya atas nama kami!”


Ah, enteng banget emang mulutnya si Setan Kecil.


“Begitu saja pusing?. Kak Achiel itu senang sekali berpikir rumit? ... Memang beban hidup Kak Achiel banyak ya? ...”


Dimana orang yang dimaksud oleh Ann itu, kembali melapangkan dadanya, lalu berbisik di dalam sana.


‘Sabar dan ikhlas dalam tugas Achiel, karena sabar dan ikhlas itu kayak keset, diinjek-injek tapi tetap Welcome ...’


"Kak Achiel sudah dapat jatah uang jajan kami kan? Jadi hati Kak Achiel yang seluas samudera itu, diluaskan lagi menjadi seluas semesta, okay?"


Celetukan keluar dari mulut Val, yang melihat Achiel nampak geleng-geleng sambil mengelus dada saat mendapat ucapan seenaknya dari si Little Devil.


Lalu Val terkikik geli bersama yang lain, ketika Ann, Mika, Aina dan Isha tetap meneruskan langkah mereka untuk pergi ke bagian Bandara yang menyajikan sebuah karya seni dari seniman asal Perancis.


"Orang sabar, luas rezekinya loh Kak."


"Saya sangat sabar Tuan Rery, apa anda tidak memperhatikan jidat saya sudah semakin lebar, saking saya begitu sabar menghadapi anda-anda semua para pewaris muda yang luar biasa tingkah dan ucapannya? ..."


Bukan terkekeh lagi, Rery dan mereka yang didekatnya pun tergelak mendengar cerocosan Achiel barusan.


"Gundala lucu banget sumpah!" kekeh Aro.

__ADS_1


♥♥♥♥♥♥♥♥


To be continue ...


__ADS_2