HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
BUT STILL, THANK YOU


__ADS_3

( TETAP SAJA, TERIMA KASIH )


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


AUTHOR’S POV


Safe House, The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, England,


Airmata kembali menganak sungai --- setelah sempat tangisan yang meraung karena luruh berduka redam, pada tiap – tiap anggota keluarga tersebut diatas termasuk orang – orang yang sedari beberapa jam sebelumnya mengetahui detail pasti apa yang terjadi di dalam sebuah bangunan mewah nan megah yang di sebut The Great Mansion of The Adjieran Smith.


“Nona Valera masih hidup.”


Namun setelah salah satu orang mereka yang memiliki pengetahuan amat berlebih pada yang namanya ilmu medis, tapi tidak mau menjadi Dokter resmi --- mengatakan satu kalimat itu, selain membuat keterkejutan yang teramat sangat pun rasa tidak percaya --- pun pada akhirnya merubah suasana.


Hingga pada akhirnya, dia yang mengatakan jika Val yang telah dinyatakan tutup usia beberapa jam sebelum ia tiba, diberikan ijin untuk membuktikan kata – katanya, lalu tak lama sebuah bunyi pelan dari sebuah mesin terdengar hingga mesin itu berbunyi aktif kemudian bersamaan dengan garis yang tadinya lurus monitor sebuah alat bergerak membentuk ragam bentuk yang naik turun dan angka yang tadinya ‘ 0 ‘ tidak lagi berada di angka itu, apa yang dia gerangan berani nyatakan --- menjadi nyata.


Val, yang sudah dinyatakan tutup usia dengan tanpa detak jantung, nafas dan nadi --- ‘kembali’.


Terpaku, membisu, terkesima. Tak percaya dengan apa yang mereka lihat, tentu saja dialami oleh semua orang yang melihat kejadian itu.


Bagaimana bisa --- tentunya jadi pertanyaan di hati semua orang, namun sungguh mereka tidak membutuhkan jawaban untuk itu. Yang penting Val mereka ‘kembali’, tidak jadi ‘tidur’ dalam keabadian.


AUTHOR’S POV --- END


🌷🌷


“She’s back ( Dia kembali )”


Adalah ucapan lain dari Celine yang membuat hati Dad R – Poppa - Papa Lucca – Varen – Drea - Nathan dan Via campur aduk.


‘Celine tidak sedang bercanda kan?’ atau ‘Ini nyata, bukan?’


Adalah pertanyaan yang timbul di hati Dad R – Poppa - Papa Lucca – Varen – Drea - Nathan dan Via.


“Silahkan jika ingin mendekat ...”


Perkataan Celine yang membuat ke tujuh orang yang termangu itu kembali menoleh pada wanita nyentrik itu.


Celine tersenyum kecil kepada ke tujuhnya sambil menggerakkan samar kepalanya untuk memberi kode pada Dad R – Poppa - Papa Lucca – Varen – Drea - Nathan dan Via agar silahkan mendekati Val.


Dan setelah itu, Dad R – Poppa - Papa Lucca – Varen – Drea - Nathan dan Via, satu per satu menggerakkan kaki mereka setelah dibuat terkesima sampai termangu di tempat mereka dengan mata yang berkaca – kaca.


Lalu ketika ke tujuh orang tersebut telah sampai di dekat Val dan berdiri mengelilingi brankar tempat Val terbaring di atasnya, demi apapun di dunia, sungguh mereka tak dapat melukiskan perasaan mereka saat ini dengan kata – kata.


“V – al.”


Suara yang gemetar terdengar sangat pelan dari mulut Dad R – Poppa - Papa Lucca – Varen – Drea - Nathan dan Via.


Rasa tak percaya mendominasi, pun ketakutan jika apa yang mereka alami saat ini hanyalah sebuah mimpi.


Ingin rasanya mencubit diri untuk memastikan. Namun jika mimpi, masa bisa serempak ini mengalami hal yang sama persis?


Melihat Val telah ‘kembali’, walau matanya belum terbuka dan suaranya belum terdengar. Tapi garis dari alat yang terhubung dengan tubuh salah seorang kesayangan itu telah berbentuk dan aktif bergerak walau perlahan.


Perlahan dan ragu, namun Dad R – Poppa - Papa Lucca – Varen – Drea - Nathan dan Via pada akhirnya mulai mendekati Val yang kini dipasangi beberapa selang di tubuhnya --- serta alat bantu bernafas yang menutupi hidung dan mulutnya.


Air mata mereka sudah mulai berjatuhan ketika sudah mengelilingi Val yang terbaring di atas brankar. Yang dengan gemetar Poppa dan Dad R belai sedikit pipi dan pucuk kepalanya. Bahkan saking ingin memastikan -- karena takut jika ini bukanlah sebuah kenyataan, Dad R meletakkan tangannya di dada kiri Val. Dan dada Val yang beberapa jam lalu itu macam kamar kosong, kini Dad R rasakan ada yang berdentum di dalamnya.


Hal yang membuat Dad R meluruh di atas wajah Val yang keningnya ia lalu kecupi bertubi – tubi setelahnya.


Dan luruhan Dad R kemudian menular pada enam orang anggota keluarga lain yang bersamanya.


Sisanya menggigit bibir mereka dengan butir airmata yang keluar dari netra mereka itu. Haru, dan juga tergugu.


“Oh Val ... Baby ...” Kalimat yang dirapalkan berkali – kali kalimat itu oleh tiga Daddy yang menangis tanpa henti, namun bukan tangis kesedihan yang teramat lagi.


“Val ... Sayang ... Kamu, pulang ...” Para kakak yang juga menangis dengan airmata yang menganak sungai seperti sebelumnya.


“Terima, kasih ... Tuhaan ...”


Pujian pada Sang Pencipta yang kemudian diucapkan dengan spontan, atas rasa syukur atas Val yang tidak jadi ‘pergi’.


“Mohon maaf, Tuan, Tuan Muda, Nyonya Muda ...”


Achiel menginterupsi dan telah mendekat kepada tujuh orang yang sedang mengelilingi brankar Val.


“Tuan Besar Anthony dan lainnya, rasanya perlu diberitahukan tentang ini?” ucap Achiel lagi, dan ucapannya itu membuat Dad R – Poppa - Papa Lucca – Varen – Drea - Nathan dan Via sama berkesah.


“Ah ya ...”


Dad R bersuara.


“Ara ...”

__ADS_1


Dad R teringat sang istri tercinta yang sangat terguncang itu hingga sampai pingsan berkali – kali.


Hingga menitipkan betul – betul Mommy Ara pada sang adik angkat kesayangan Dad R sejak remaja, agar terus menemaninya, karena Dad R juga tak kuasa berada jauh dari Val yang tadi sempat ‘tidak ada’.


Ingin memanfaatkan waktu, karena akan ada masa dimana Dad R harus ‘melepasnya’, lalu sosoknya tidak akan Dad R lihat lagi sampai seterusnya sampai ia menyusul tutup usia.


Sebuah mimpi buruk yang menjadi momok terberat dalam hidup Dad R. Namun mimpi buruk itu telah sirna.


“Kyara! Kyara! ... Little F!”


Setelah diingatkan Achiel, Dad R melesat dari tempatnya menuju kamar tempat Mommy Ara berada.


Dimana orang yang bersangkutan, termasuk Momma yang ada di dalam kamar setelah Dad R sampai ke dalamnya, dibuat terkejut demikian rupa.


“Kak? –“


“H – on? –“


“Babe ... Val kita, telah kembali ... V – al, masih hidup, Little F ...”


Dad R melirih --- sambil langsung mengambil tempat di dekat Mommy Ara --- bersimpuh di lantai dekat tempat tidur dimana ada Mommy Ara dan Momma dengan memegang tangan dua wanita terkasihnya itu selain para wanita dalam keluarganya yang lain, setelah melesak masuk ke dalam kamar tempat Mommy Ara berada dan sedang menangis dalam pelukan Momma.


Namun alih – alih bersorak ataupun sumringah, Mommy Ara dan Momma memandangi Dad R dengan sendunya. “Hon ...” lirih Mommy Ara sambil mengusap lembut wajah suaminya itu yang pipinya basah oleh sebulir airmata yang turun dari pelupuk Dad R. Karena Mommy Ara pikir, Dad R sedang di puncak rasa terguncangnya oleh kepergian Val, hingga mungkin Dad R menjadi amat kacau sekarang mentalnya.


“Kak Ren,” gantian Momma yang bersuara sambil mengeratkan pegangan tangannya yang di pegang Dad R. “Kak Reno ... istirahat aja di sini sama Kak Ara, ya?” Momma yang berpikir sama dengan Mommy Ara, dan Momma meloloskan airmata dari pelupuknya.


Dad R tersenyum pada dua wanita itu, sambil ia mengusap airmata yang jatuh karena rasa harunya itu sebenarnya. Rasanya Dad R bisa menerka apa yang sedang dipikirkan oleh Mommy Ara dan Momma tentang dirinya saat ini. “Tenang saja, aku masih waras.”


Dad R berucap kemudian, sambil ia terkekeh kecil mengusap air matanya. Mengecup singkat tangan Mommy Ara dan Momma yang ia genggam bergantian.


“Ayo, ikutlah denganku –“


🌷🌷


“Heart ...”


Yang Poppa hampiri orangnya dimana yang bersangkutan terlihat datang bersama Dad R memapah Mommy Ara.


Lalu saat Dad R ingin lebih mendekatkan Mommy Ara yang sukar di lukiskan ekspresinya, Momma menghentikan langkah.


Terpaku di tempatnya, karena matanya menangkap pemandangan berbeda dari Val.


“D – D –“


“Val, kembali, Heart ...”


🌷🌷


Lalu dimenit – menit berikutnya, euphoria haru menyelimuti ruangan tempat Val berada di dalam safe house, The Great Mansion of The Adjieran Smith.


Apa yang tadi Dad R – Poppa - Papa Lucca – Varen – Drea - Nathan dan Via rasakan ketika melihat Val ‘kembali’, dirasakan oleh semua orang yang ada dalam mansion yang satu per satu berlari dengan kencangnya ketika berita tentang ‘kembalinya’ Val disampaikan pada mereka.


🌷🌷


“Terima, kasih ... Celine, kami berhutang nyawa padamu.”


Ucapan terima kasih yang diucapkan dengan sangat tulus oleh Dad R mewakili keluarganya.


“Tidak Tuan ... Semua ini takdir Yang Maha Kuasa. Saya hanya perantara,” tutur Celine dengan rendah hati.


Membuat Dad R tak kuasa untuk memeluk gadis nyentrik itu sebuah pelukan haru, bentuk terima kasihnya pada Celine.


‘Ya Tuhan, aku mimpi apa semalam bisa dipeluk oleh Tuan Moreno begini?? ...’ Sementara Dad R memeluknya haru, Celine membatin tak percaya dalam hatinya.


Semakin melongo ketika Poppa dan Papa Lucca juga ikut bergantian memeluknya.


‘Jika Tuan Alva dan Tuan Jo ikut juga memelukku, aku rasanya akan meminta satu brankar untukku di samping Nona Valera, berikut satu lagi ventilator!’


Si gadis nyentrik itu melemas kakinya, karena mendapat pelukan dari tiga pria yang bagi Celine bagai lapisan langit ke tujuh saking susah untuk di sentuh.


‘Dipeluk Tuan Reno, Tuan Andrew dan Tuan Lucca saja kakiku sudah macam agar – agar begini,’ batin Celine lagi.


“Ada apa, Celine?” Poppa bersuara, karena Celine nampak membeku di tempatnya.


“Heu? ...”


“Apa kau baik – baik saja? –“


“Aku mau pingsan –“


“Kau pasti kelelahan,” tukas Dad R, sambil mengusap pelan lengan Celine yang barusan bersuara, namun nanar pandangannya.


“Beristirahatlah Cel. Biar Achiel yang mengantarmu ke guest pavilion.” --- Pavililun Tamu.


“Celine? ...”


Papa Lucca menegur gadis nyentrik itu yang nampak termangu di tempatnya.

__ADS_1


Tik!


“Siap Tuan!”


Celine yang terkesiap setelah Poppa menjentikkan jari di depan wajah Celine yang nampak melamun itu, membuat orang – orang yang di dekatnya mengulum senyum karena tingkahnya.


“Kau melamun? ...”


“Ah tidak ... aku tidak melamun kok Tuan –“


“Maaf jika tenagamu jadi terporsir,” tukas Poppa.


“Tidak sama sekali Tuan Andrew –“


“Tapi tadi kau bilang kau mau pingsan?”


“Ah, itu ...”


Celine meringis malu hati.


“Aku ... hanya rasanya tidak percaya mendapat pelukan dari anda bertiga.”


Celine berkata jujur sambil memandangi Dad R, Poppa dan Papa Lucca bergantian yang langsung tersenyum geli mendengar penuturan gadis itu.


Lalu mereka yang sedang berada di sekeliling gadis nyentrik itu dibuat geli oleh tingkahnya sekali lagi, kala Varen dan Nathan mendekatinya. “Ah! Tuan Alva dan Tuan Jo tetaplah di tempat anda!”


Celine berkata sambil mengangkat telapaknya ke arah depan.


“Tidak perlu repot – repot memelukku karena bisa – bisa aku membutuhkan infusan,” oceh Celine kemudian.


“Cih! Percaya diri sekali jika aku ingin memelukmu,” cicit Varen malas, namun kemudian ia tersenyum geli.


“Ya ampun Tuan Alva, anda membuat saya merinding karena anda yang tersenyum pada saya begitu,” oceh Celine lagi.


🌷🌷


Haru, tak percaya dan semua perasaan yang kurang lebih seperti itu selain lega dan bahagia tentang ‘kembalinya’ Val, meski Val belum menampakkan pergerakan --- kemudian terjadi lagi setelah seluruh anggota keluarga inti dari Jakarta telah sampai ke mansion The Adjieran Smith yang bertempat di London itu.


Val masih berada dalam ruangan yang memang disiapkan secara khusus jika ada anggota keluarga yang mengalami penurunan kondisi tubuh, agar tidak harus tergesa dulu ke rumah sakit. Dan mendapat penanganan pertolongan pertama di rumah mereka sendiri. Ada beragam pertimbangan, kenapa Val tetap dipertahankan dulu di sana.


Peralatan cukup lengkap, yang mana telah diaminkan oleh Celine dan Dokter Mario yang memiliki cukup ilmu dalam dunia medis, jika Val tak mengapa jika harus dirawat di tempatnya sekarang. Dan beberapa hal yang Celine dan Dokter Mario katakan sebagai tambahan penunjang hidup Val, telah juga keduanya sampaikan pada keluarga yang bersangkutan agar dipersiapkan.


“I’m so sorry, I was so careless ( Maafkan aku yang tidak teliti )”


Dokter Mario angkat suara ketika semua orang dari Dinasti The Adjieran Smith telah berkumpul tanpa terkecuali.


Dokter Senior yang pernah menyelamatkan nyawa Momma dulu itu, merasa sangat menyesal karena menilai dirinya ceroboh.


“No need to say that ( Tidak perlu mengatakan itu ), Mario.”


Dad R yang bersuara untuk menanggapi, mewakili para anggota keluarganya yang kemudian mengamini ucapannya.


“We saw that you have been tried to do your best to save our Val ( Kamu telah melihat betapa kau berusaha untuk menyelamatkan Val kami )”


“Thank you ... But still, I have a big regret for it. For not thinking to check Val’s body condition after her death time. Very sorry once again ( Terima kasih ... Tapi tetap, aku memiliki penyesalan untuk itu. untuk tidak memeriksa kondisi tubuh Val setelah waktu kematiannya. Sekali lagi mohon maaf )”


Yang kemudian di rengkuh bahu Dokter Mario oleh Dad R dan menyampaikan ‘tak apa’ pada Dokter Senior yang nampak kecewa pada dirinya sendiri itu.


Dan ucapan ‘tak apa’ juga disampaikan oleh anggota keluarga lainnya pada Dokter Mario yang dianggap telah cukup berusaha menyelamatkan Val.


Sungguh memang tak apa.


Bagaimanapun yang terjadi sebelumnya, sungguh tak kisah.


Karena melihat Val bernafas lagi --- walau masih bergeming tubuhnya tanpa gerakan, sungguh teramat sangat cukup bagi Dad R dan seluruh anggota keluarganya, berikut semua orang yang menyayangi Val.


🌷🌷


“Lalu bagaimana selanjutnya, Cel?”


“Aku masih perlu melakukan beberapa pemeriksaan pada tubuh Nona Valera, Tuan. Sekaligus melakukan tes dan mengambil plasma darahnya untuk aku observasi. Tapi untuk itu, aku perlu pergi ke Isola –“


“Jika Val dibawa ke sana juga, apa beresiko? ...”


“Tidak, tapi perlu mempersiapkan banyak hal untuk membawa Nona Valera ke Isola.”


“Tuliskan saja apa yang dibutuhkan, Cel.”


“Baik, Tuan,” angguk Celine. “Tapi mohon maaf, dari sekarang saya katakan. Saya tidak dapat memberikan jaminan atas usaha saya membuat Nona Valera tersadar dari komanya ini. Jika saya tidak dapat menemukan obat atau cara untuk membuat Nona Valera bangun, setelah saya meneliti semuanya, maaf. Di saat itu, anda semua harus benar – benar ‘merelakan’ Nona Valera untuk kembali kepada Pemiliknya.”


Yang dijawab dengan anggukan lumayan berat oleh para anggota keluarga Val. Namun begitu,


“Kami mengerti, Cel. Tapi apapun jadinya nanti, sekali lagi kami ucapkan terima kasih kami padamu.”


🌷🌷🌷🌷


To be continue ....

__ADS_1


__ADS_2