HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
PEACE, PLEASE?...


__ADS_3

( Damai, Ya? )


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Jakarta, Indonesia,


Ada yang terpaku di tempatnya dengan wajah memelas, ketika seorang wanita berkebaya merah telah selesai dengan geolannya dengan mengajak satu tamu undangan berjenis kelamin pria untuk menari bersama dengannya.


Hanya satu wajah itu saja yang nampak memelas ketika wanita berkebaya merah itu beramah tamah dengan pria yang diajaknya ‘Ngibing’ selama beberapa menit.


Kemudian beramah tamah dengan mengulas senyuman lebar nan cantik mempesona pada setiap orang yang menepukinya dan mengucapkan kata-kata kagum serta pujian pada si wanita berkebaya merah itu.


Yang selama beberapa belas menit tadi, membius semua orang dalam ballroom hotel tempat satu acara puncak sebuah festival tahunan diadakan dengan tarian jaipong yang enerjik serta eksotik punya.


Terutama para kaum adam yang bukan keluarga atau kerabat sangat dekat wanita berkebaya merah, yang adalah Mami Prita. Dimana si Mami nampak mengumbar senyuman ceria pada semua orang selain bersikap ramah atas pujian yang ia terima.


♥♥♥


Apa yang ditunjukkan Mami Prita kepada orang-orang dalam ballroom yang memuji dan memberikan apresiasi besar padanya dengan senyuman keramahan yang mereka indah, tidak ia bagi pada satu orang yang sedari tadi memandanginya dengan memelas dan hendak mendekatinya.


Namun Mami Prita nampak acuh, bahkan terkesan menghindari dia gerangan yang seperti sedang mengharapkan belas kasihan dari si Mami.


“Dibilangin kan Pih, jangan nantang-nantang Mamih?”


“Sudah diam –“


Gerangan yang masih diacuhkan Mami Prita, yakni Papi John – menyergah dengan cepat celetukan yang keluar dari anak kandungnya barusan.


Yang mana si anak kandung itu sudah mesam-mesem melihat ekspresi ayah kandungnya yang memelas memandangi sang ibu kandung yang malam ini bak seorang seleb terkenal yang sedang dihujani ketakjuban dan pujian atas aksinya menari jaipong di usianya yang tak muda, meski ibu kandungnya itu belum bisa juga dikategorikan tua – karena perbedaan usia orang tuanya itu cukup signifikan rentangnya.


Dimana ibundanya dari seorang anak yang terlahir memiliki kembaran tidak identik berbeda jenis kelamin itu, lebih muda dua belas tahun dari sang ayah.


♥♥♥


“Makan tuh masa bodoh... dibikin lebih panas kan you, Mister John Alton Adjieran Smith sama Nyonya Priwitan?” celetuk Daddy Dewa pada Papi John yang matanya terus memperhatikan Mami Prita.


Dimana Papi John langsung berdecak sebal saja menanggapi celetukan salah satu saudara angkat lelakinya itu, yang mana celetukan Daddy Dewa itu adalah sebuah cibiran berikut ledekan untuk si Papi.


Dan celetukan Daddy Dewa barusan adalah sebagai perwakilan dari para saudaranya yang lain juga pada si Papi yang seperti kata Momma bakal kebakaran jenggot, karena keras kepala melawan ngambeknya Mami Prita yang seharusnya ga boleh si Papi ambekin balik itu jika Mami Prita merasa benar.


Jika tidak ingin mengalami hal yang seperti ini, yang sebelumnya sudah diwanti-wanti oleh para saudaranya, juga oleh dua anak angkat tertua dalam garis pewaris muda.


Bahkan anak sulung kandung Papi John juga sudah pernah memperingatkan si Papi atas sikapnya pada Mami Prita. Namun ya itu, “Batu” kalo kata Aro setelah ia coba memperingatkan ayah kandungnya agar jangan menanggapi tantangan ibunda kandungnya dan Isha.


Jawaban Aro pada mereka yang menanyakan bagaimana tanggapan Papi John setelah Aro sedikit menasehati sang ayah kandung, karena sedikit banyak Aro memahami sifat para orang tuanya—baik yang kandung maupun angkat. Jadi Aro sempat menyampaikan komentarnya atas bendera perang dingin Mami Prita yang mendapat sambutan dari Papi John.


Walhasil, Mami Prita mengeluarkan statement—tidak akan ikut campur atas urusan Papi John dan begitu juga sebaliknya si Papi, yang perkataan Mami Prita itu Papi John tanggapi.


Sampai Papi John memanas-manasi Mami Prita yang memang tambah panas hatinya setelah si Papi ingkar janji, lalu terlihat akrab dan asyik mengobrol dengan beberapa wanita yang Mami Prita anggap sebagai biang kerok atas Papi John yang ingkar janji untuk sebuah makan malam romantis yang sudah Mami Prita siapkan sampai sebegitu detailnya.


Tapi ya itu, jika Papi John ‘batu’—Mami Prita punya gengsi setinggi langit pada si Papi. Selain memang Mami Prita sudah bertekad untuk bersikap masa bodoh pada Papi John saat sang suami bukannya membujuknya habis-habisan setelah bikin salah, tapi malah mendikte juga dan menerima tantangan si Mami dengan tangan terbuka.


Dan hasilnya? ..


Papi John mendapatkan serangan mental dari Mami Prita malam ini.


♥♥♥


Flashback ..


“Mami masih enerjik banget sih, Mih?” Ada Kevia yang datang ke studio tarinya Mami Prita dengan ikut bersama Drea yang juga ikut aktif mengurus studio tarinya Mami Prita yang berkolaborasi dengan sanggar seninya Momma. “Kalah jauh deh aku.”


“Eleh ..”


Mami Prita tersenyum geli.


“Kamu kalo lagi di atas si Tan-Tan yakin Mami kalo kamu kek uler piton jagonya, pas meliuk-liuk di atas badan itu si Tan-Tan.”


“Ya ampun Mami ..” Via terkekeh. “Kok teu sih?? –“ sambung Via, lalu ia tertawa lebar bersama Mami Prita dan Drea.


“Terus jadinya Mami mau begini-begini aja gitu sama Papi?” Drea bertanya kemudian.


“Itu aki-aki jual, Mami beli lah. Borong sekalian itu egoisnya si John Smith .. Udah tuir bikes aja kerjanya.”


Lalu Drea dan Via terkikik geli selepas Mami Prita merepetkan kekesalannya pada Papi John. “Emang Papi ga merayu Mami gitu seperti biasa kalo Mami ngambek? –“


“Boro!” sungut Mami Prita. “Yang ada dia bilang Mami kek bocah katanya,” lanjut Mami Prita. “Enak dia ngomong begitu. Ga ngaca!” masih lanjut mengeluarkan unek-uneknya itu Mami Prita. “Dia aja kalo lagi minta jatah terus Mami bilang cape, mukanya ditekuk kek topo dapur terus diemin Mami ..”


“Alhamdulillah Bebeb Abang ga begitu –“ tukas Drea dimana Via juga mengeluarkan komentar yang kurang lebih sama dengan Drea. Dan Mami Prita menghembuskan nafas frustasi.


“Abang sama Tan-Tan beda sama para Dad kalian,” ucap Mami Prita. “Kalo Abang, kita orang tau sendiri kek apa tuh dia bucinnya sama Drea –“ tambahnya. “Kalo Drea nolak apa, pasti Abang langsung mikirnya dia ada salah sama Drea.”


Drea tersenyum geli.


“Nah si Tan-Tan ke Via kan kurleb sama kek Abang ke Drea ..” Mami Prita lanjut bicara. “Selain bucin ke Via tingkat Daddy Dewa –“


Ucapan Mami Prita terjeda karena Drea dan Via terkekeh pada satu Mom yang memang luar biasa ceriwis macam Momma, dan suka membuat celetukan-celetukan yang membuat perut rasa geli.


“Si Tan-Tan tuh, biar gimana selalu merasa bersalah atas perbuatannya dulu ke kamu Vi. Jadi mau kamu nolak dia atau ketus sama dia gimanapun, Tan-Tan pasti sama kek Abang yang mikir mungkin ada salah yang dia buat –“ lalu Mami Prita melanjutkan ucapannya.


Lalu Via tersenyum.


“Tapi kan Papi juga cinta mati sama Mami? –“


“Dulu iya kali. Sekarang mana tau. Bisa aja udah ngikis kali cintanya ke Mami itu si John Smith? –“


“Jangan ngomong gitu ah Mih,” sergah Via.


Mami Prita mengendikkan bahu. “Ya siapa tau dia kangen jadi casanova? –“


“Ga mungkin lah Mih .. Drea yakin, Papi bakal mikir triliyunan kali buat selingkuh dari Mami.”

__ADS_1


Drea berkomentar, dan Mami Prita mengendikkan bahunya sekali lagi.


“Abis si Papi nya begitu tuh sikapnya. Udah salah, malah ikutan nyolot. Nantangin lagi katanya kalo Mami tuh seenaknya kayak gini dia juga bisa! –“


“Eemm ..”


“Kenapa Drea?”


Mami Prita bertanya pada Drea yang nampak berpikir.


“Mami ga ada rencana gitu bicara dari hati ke hati sama Papi?”


“Ga. Males –“


“Bikin Papi klepek-klepek aja gimana?”


“Klepek-klepek gimana?” tanya Mami Prita, menanggapi ucapan Drea barusan.


“Ya klepek-klepek sampai bikin Papi mohon-mohon minta maaf ke Mami ..”


“Dipanas-panasin gitu? –“


“Iyap. Bikin kebakaran jenggot sekalian Mih.”


Drea mencetuskan ide. Dimana Mami Prita tersenyum penuh arti kemudian.


--


“Okay done, Mih.”


Ada Drea yang berucap antusias selepas dia selesai berbicara di telepon.


“Nanti Mami langsung tampil habis mereka,” ucap Drea lagi, dan Mami Prita kian meninggikan senyumnya.


Sementara Drea jadi heboh sendiri. “Ih Drea ga sabar liat mukanya Papi pas nanti Mami jaipongan gutak-gitek –“


“Biar nyut-nyutan itu pala aki-aki egois,” tukas Mami Prita.


“Tapi Papi ngamuk ga nantinya Mih?” tutur Via. “Nanti malah makin berantem Mami sama Papi?”


“Sebodo amat. Yang rugi itu aki-aki kalo mau ribut sama eike.”


“Ga bakal ngamuk Papi. Stroke iya kali kalo liat Mami jaipongan pake geal-geol nanti pas acara..” celetuk Drea, lalu ia tergelak bersama Mami Prita dan Via.


Flashback off


♥♥♥


Stroke.


Rasanya hampir Papi John kena serangan itu, saat setelah Mami Prita jaipongan dengan enerjik di atas panggung, sang istri melipir ke bawah panggung kemudian.


Berpikir, jika Mami Prita hendak menghampirinya, meski kesal melihat sang istri tampil seksi dalam tarian tradisional namun Papi John sudah sadar jika itu adalah bentuk protes kesal Mami Prita padanya.


Jadi ya sudah, Papi John menganggap seri lah ya. Kesalahannya di mata Mami Prita dan begitu juga sebaliknya.


Tapi sayang sungguh sayang, Papi John nyatanya Mami Prita lewati begitu saja – dilirik pun tidak. Hingga serangan Stroke itu hampir menimpa si Papi, kala Mami Prita melepas selendang yang ada di pinggangnya, lalu menyampirkan selendang itu pada salah satu tamu pria yang berada di dekat Papi John.


Dimana suara gendang yang bergemeletuk, membuat jantung pria yang Mami Prita ajak ‘ngibing’ itu ikut bergemeletuk yang kemudia menyambar pada jantung kaum adam yang lain – yang menyaksikan tambahan geolan si Mami sambil mengajak salah satu tamu pria menemani tariannya.


Ikutan bergetar rasa tubuh kaum adam yang tidak kenal dekat dengan Mami Prita itu saat si Mami menggetarkan seluruh badannya seiring gemeletuk gendang.


Terlebih pria yang sedang diajak menari oleh Mami Prita dan diberikan tarian yang menggetarkan jiwa. Sebodo amat ada suaminya yang berdiri dekat dengan menatap tajam padanya.


Anggap aja ga liat itu suami yang matanya menatap dirinya berapi-api, lalu menatap memelas pada sang istri yang justru tak pernah mau melengos pada suami yang hampir stroke itu.


“Stop it, Sugar ..”


Papi John melirih, namun tak mampu berbuat apa-apa selain memperhatikan Mami Prita yang geal-geol semlehoy dengan asiknya – sementara Papi John mencelos hatinya. Teringat ia yang menerima tantangan Mami Prita untuk tidak ikut campur urusan satu sama lain.


Mami Prita sudah mewujudkan kata-katanya dengan tidak ‘mengganggu’ dirinya saat dia asyik haha hihi dengan para wanita yang tadi mengelilinginya, jadi Papi John sadar betul jika diapun harus memegang kata-katanya meski hatinya sudah panas betul sekarang. Ada prinsip yang harus ia pegang sebagai pria Adjieran Smith.


Prinsip mutlak yang tidak boleh dilanggar oleh setiap pria dalam keluarga tersebut.


Jadi ya sudah, kini Papi John pasrah. Melihat Mami Prita jaipongan dengan pria lain tepat di depan matanya.


Balasan dari si Mami sungguh berlipat ganda ya, Pih? ..


Udahlah si Mami sekarang malah haha hihi dengan pria yang tadi ia ngajak ‘ngibing’.


Kan, makin pedih rasa hati si Papi.


Yang orangnya ..


“Sugar,” melesak tajam di antara Mami Prita dan pria teman ‘ngibing’ nya si Mami.


Membelakangi pria yang tadinya ada berhadapan dengan Mami Prita dan kini ia yang berhadapan dengan sang istri dan senyuman yang dibuat tampan pun terpatri di wajah Papi John.


“Pulang, yuk? .. “ ucap Papi John dengan lembutnya.


♥♥♥


“Saya permisi ya?” Mami Prita berucap ramah pada pria yang tadi diajak ‘ngibing’ olehnya selepas Papi John bicara padanya tadi.


Namun Mami Prita hanya melirik saja kemudian menggeser tubuhnya yang berhadapan dengan si Papi dan kembali pada pria yang sebelumnya mengobrol dengan si Mami sehabis ‘ngibing’ bareng.


“Terima kasih sudah menemani saya menari tadi. Mohon maaf sekali lagi kalau membuat anda tidak nyaman,” ucap Mami Prita pada pria yang ia ajak 'ngibing' tadi.


“Saya malah merasa sangat terhormat diajak menari oleh wanita cantik seperti anda.”


Pria itu menanggapi Mami Prita dengan tak kalah ramahnya.


Mengabaikan si Papi yang memandangnya tak suka. “Seperti mendapat rezeki nomplok saya malam ini..”


‘Jelas dapat rezeki nomplok! Dapat pemandangan langsung bumper istri gue ya nomplok banget itu rezeki!’

__ADS_1


Ada yang langsung membatin kesal nan sinis selepas pria teman ‘ngibing’ nya Mami bicara barusan. Dimana Papi John berdecih dalam hatinya kemudian.


Kesal sekali rasa hati si Papi saat ini. Ya pada si Mami, juga pria yang wajahnya cerah merona sehabis melihat geolan Mami Prita dari jarak sangat dekat.


Tapi untuk bersikap ketus atau memarahi Mami Prita rasanya tidak mungkin Papi John lakukan. Bisa lebih parah lagi balasannya dari si Mami yang entah apa dan bagaimana Mami Prita melayangkan protesnya kalau dia sudah malas merepet pada si Papi.


“Acara belum selesai. Kalo mau pulang, pulang aja sana. Ga usah ajak aku,” desis Mami Prita sambil ia berjalan menuju ke satu arah. “Tadi juga aku dateng ke hotel ini ga sama kamu,” tambahnya menanggapi ajakan Papi John untuk pulang.


Papi John langsung saja meringis mendengar tanggapan sinis si Mami meski bibir Mami Prita mengurai senyuman ketika ada yang menegurnya saat berpapasan.


Yang sayangnya senyuman Mami Prita itu tidak sedikitpun ia bagi pada Papi John.


“Udah sana..”


Diusir pula.


“Balik lagi ke itu para semut rang-rang kaki jenjang.”


“Sugar ..”


Papi menyergah.


Namun Mami Prita tidak mau menghentikan langkahnya.


“Aku mau ke ruang ganti anak-anak sanggar .. ga usah ikut.”


“Aku temani ..”


“Ga usah! ..” Mami Prita menyergah tajam.


Namun Papi John tidak menyerah.


“Aku memaksa.”


“Oh, mau ngeliat body cewe-cewe muda????”


“Ya bukan begitu, Sugar –“


“Sana pergi ke para Miss yang bodynya kek gitar spanyol. Kasih duit suruh buka baju depan kamu ga bakal nolak mereka.”


“Ya ampun, Sugar –“


“Dah awas! .. aku mau masuk! ..”


Mami Prita menukas saat ia telah berada di depan sebuah pintu ruangan yang dijadikan ruang ganti para penampil, dengan Papi John yang mengekorinya.


“Jadi mau ikut masuk liat body cewe-cewe muda?!”


“Jangan bicara begitu dong Sugar." jawab Papi John dengan nada yang lembut, lalu mengulas senyuman yang juga lembut. "Aku tunggu kamu disini ..”


“Lama aku didalem bakalan! –“


“Selama apapun aku tunggu kamu disini .. jangankan berjam-jam, seumur hidup aku tungguin kamu.”


Papi John mengulas senyuman yang ia buat setampan mungkin.


Dimana tanggapan Mami Prita ..


“Sebodo!” dengan ketus lalu ia masuk ke dalam ruang ganti.


♥♥♥


Papi John langsung menampakkan senyumnya ketika Prita telah keluar dari ruang ganti----dimana dua orang penanggung jawab teknis acara masuk ke dalam ruang ganti sebelumnya, dan menginformasikan jika acara penutupan festival akan dimulai.


“Acara sudah mau selesai, Sugar. Kita harus ada disana,” ucap Papi John dengan lembutnya.


“Udah tau!” hanya saja balasan sinis yang tetap Papi John dapat dari Mami Prita, padahal dia sudah cukup lama berdiri di luar ruang ganti.


‘Sabar ..’


Papi John yang memberitahu hatinya untuk menerima saja sikap Mami Prita saat ini padanya.


Dan bahkan Mami Prita berjalan duluan tanpa menunggu dirinya yang sudah sabar berdiri di depan ruang ganti demi memperbaiki hubungan dengan si Mami yang di dalam ruang ganti itu berhaha hihi tanpa peduli pada si Papi yang berdiri di luar ruang ganti macam pengawal pribadi.


♥♥♥


“Kita ga semobil ya waktu dateng tadi –“


“Iya aku tahu,” tukas Papi John saat Mami Prita langsung melontarkan kalimat cibiran padanya yang memasuki mobil yang sama dengan si Mami dan telah duduk disamping istrinya yang tak habis-habis acuh tak acuh serta ketus padanya.


“Aku minta maaf, Sugar,” ucap Papi John memelas sambil meraih satu tangan Mami Prita. “Maaf kalau ada sikap aku yang menyinggung perasaan kamu.”


“Basi!” ketus Mami Prita yang langsung menarik tangannya dari genggaman Papi John. “Udah sana jangan satu mobil sama aku.”


Diusir lagi si Papi.


“Gerah!”


“Jangan seperti itu dong, Sugar .. kan aku sudah minta maaf? –“


“Ga nyuruh!”


Balasan ketus lagi yang Papi John dapat dari Mami Prita.


Dimana Papi menghela nafas frustasi---selain menyabarkan dirinya.


Lalu memikirkan banyak cara di otaknya untuk merayu Mami.


Aha!


Papi John mengulas senyuman tipis ketika satu ide terpikir oleh otak tua tampannya.


“Kamu lapar tidak Sugar? Kalau kamu lapar aku juga lapar. Mau langsung candle light dinner? Kamu iyakan, makan aku akan langsung persiapkan .. kalau perlu besok kita keliling dunia-“


♥♥♥♥♥♥

__ADS_1


To be continue ....


__ADS_2