HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
GREMET-GREMET


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Last Episode:


Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia....


“Kamu tidak ingin minta ijin? ..” tanya Ann pada Rery setelah mereka hengkang dari hadapan Val dan Kafeel.


“Ijin apa? ..” Rery balik bertanya.


“Ijin pada Papa Lucca untuk memacari aku lah.”


“Kamu ini Ann, Ann .. Kita ini masih sekolah!”


“Then?”


“Ya tidak perlu memikirkan soal pacaran!”


“Why nut?"


“Ya memang anak sekolah tugasnya belajar, bukan pacaran.”


“Ih Re-An, kita ini bukan masih di sekolah dasar atau junior ..Kita sudah senior. Berpacaran sudah lumrah diusia kita. Bahkan beberapa dari teman-teman kita saja sudah ada yang suka menginap di tempat kekasihnya.”


“Nah kita kan sudah tinggal bersama bahkan sejak kita masih bayi?!”


“Iya juga ya ..”


“Sudah deh Ann, daripada memikirkan soal hal ga penting macam pacar-pacaran itu, lebih baik kita fokus pada sekolah dan pelajaran sampai kita lulus dan menjadi yang terbaik di sekolah.”


“Mudah itu sih!”


“Jangan suka menyepelekan sesuatu!”


“Nah itu!”


“Apanya yang nah itu?!”


“Jangan menyepelekan hubungan kita ini Re-An!”


“Maksudnya? ..”


“Aih, dasar pria, selalu tidak peka!”


“Enak saja bilang aku tidak peka!” protes Rery.


“Memang iya!”


“Bagian mana dari aku yang ga peka, terlebih soal kamu yang keseluruhannya aku tahu?!”


“Ya itu soal hubungan kita, Re-An.”


“......”


“Sebelum kamu menyatakan cinta padaku secara resmi, kamu ijin saja terlebih dahulu pada Papa Lucca untuk berpacaran denganku. Jadi saat kita kuliah nanti tinggal langsung menjalani masa pacaran lalu menikah dan hidup bahagia ever after.”


“Ann, Ann ..”


“So, do you want to ask permission from Papa Lucca to dating with me or not? ( Jadi, kamu mau meminta ijin pada Papa Lucca untuk berpacaran denganku atau tidak? )”


“Tidak sebelum kita lulus sekolah dan dewasa.”


Rery menjawab Ann sekenanya.


“Ya sudah kalau begitu. Aku sajalah nanti yang meminta ijin pada Poppa untuk memacari mu.”



“Ya, ya....” Rery menyahut malas atas celotehan Ann padanya itu.


Begitu selalunya Rery menanggapi Ann yang selalu mendebatnya, dan seperti biasa tak akan ada habisnya perdebatan mereka, jika Rery tidak menyudahi dengan bersikap masa bodoh pada Ann.


“Tuh kan Rery, pas-hmph!” Ann tak dapat melanjutkan ucapannya, karena Rery dengan cepat menjejali sesendok seblak dari dalam mangkok yang ia pegang ke dalam mulut Ann.



Sementara itu di suatu sudut dekat meja jamuan....


“Kak Kafeel mau seblak?....” tanya Val pada Kafeel sepeninggal Rery dan Ann dari hadapan mereka berdua.


“Hm.... engga deh, Val---“


“Tidak suka ya?”


Val memotong kalimat Kafeel.


“Suka kok....” jawab Kafeel. ‘Lebih suka kamu tapi.’ Batin Kafeel. “Tapi aku masih agak kenyang....” ucapan yang Kafeel suarakan.


“Kalau begitu kudapan-kudapan ini saja ya?” kata Val menawarkan pada Kafeel, sambil ia menunjuk hidangan di atas meja jamuan.


“Iya boleh....”


Kafeel mengiyakan seraya ia mengangguk dan tersenyum.


“Ya sudah, pilih deh Kak. Biar Val yang ambilkan.”


Val meraih satu piring ceper dari susunan, yang ada disatu sisi meja jamuan


“Ini deh....”


“Apa? Tart pudding?....”


Val menyahut seraya menoleh.


“Yang ini jauh lebih manis daripada tart pudding,” kata Kafeel.


Dimana wajah Val yang telah menoleh pada Kafeel untuk melihat kudapan apa yang kekasih setengah om-omnya pilih itu, menjadi tersipu kemudian.


“Iiihhh Kak Kafeel....”


Val tersenyum malu-malu.


“Bisa saja....” Dan dengan refleks, Val mendorong tubuhnya ke arah Kafeel dengan sikap malu-malu ulat bulu-nya itu.


Yang mana tindakan Val barusan kemudian membuat Kafeel bergeming dan meneguk salivanya.

__ADS_1


‘Tong, tolong jangan bergerak, tetap di posisi lo sekarang, ini perintah!’


Kafeel berbisik pada sesuatu yang berada tersembunyi dibalik pakaiannya.


Pasalnya sikap Val itu membuat sebuah efek macam sengatan di tubuh Kafeel kala kekasih kecilnya yang malu-malu setelah di gombali sedikit oleh Kafeel dengan menyentuh tubuh Kafeel dan mendorong kecil itu, Val lakukan dengan mendorong tubuhnya kepada Kafeel hingga tubuh mereka menempel sesaat.


Tapi waktu yang ‘sesaat’ itu sungguh mampu membuat Kafeel menjadi ser-ser-an sekarang.


Karena tindakan Val yang menempelkan tubuhnya ke Kafeel sesaat dengan tingkah manja itu, membuat lengan Val ‘menoel’ sesuatu yang Kafeel sering sapa dengan sebutan ‘Tong’.


Si Otong.


Alias ‘Tongkat Starwars’-nya Kafeel.


Yang tiada memiliki akhlak.


Yang mana kelakuan ‘Tongkat Starwars’ tiada akhlak itu, mulai menunjukkan eksistensi nyata saat ini, karena ia sudah mulai bergerak perlahan menggeliat.


Sungguh meresahkan, selain membuat Kafeel jadi sedikit salah tingkah.


Entah Val sadar atau tidak akan hal itu.Bahwasanya tindakan kecil menggemaskannya dengan menempelkan tubuhnya pada Kafeel walau hanya dalam hitungan detik, membangunkan ‘makhluk tak berakhlak’ milik Kafeel setelah sempat tertidur.


Tapi mulai terbangun lagi, saat lengan Val yang tadi mendorong manja tubuh Kafeel menyentuh itu makhluk.


Belum lagi penampilan Val yang membuat Kafeel gagal fokus sejak tadi.


Ingin sih Kafeel buang muka, setiap kali Val menghadap padanya. Tapi berasa sayang juga kalau indahnya pemandangan gunung tersembunyi dari balik olahraga dimana ada ujung jalan setapak yang mengintip dari bagian atas tanktop olahraga yang Val kenakan disiakan begitu saja.


‘Otak lo Kaaaaa!.... Mata kondisikan mata woy!’


Hati Kafeel yang ber-orasi.



“Kak Kafeel ingin kudapan yang mana jadinya?....” suara Val yang bertanya lagi padanya, menarik Kafeel dari pikirannya yang mulai ngeres-ngeres dikit minta disapuin.


“Mana saja Val.” jawab Kafeel.


“Yah jangan terserah Val dong. Nanti kalau yang Val pilihkan ternyata bukan kudapan yang Kak Kafeel suka, bagaimana....”


Kafeel pun tersenyum geli melihat Val yang sedikit mencebik hingga membuatnya nampak menggemaskan.


“Aku pasti suka dengan semua yang kamu pilihkan....” ucap Kafeel seraya tersenyum dengan membelai kepala Val.


Val pun tersenyum lebar. “Kak Kafeel sweet sekali ih!”


‘Salah, gue....’ rutuk Kafeel dalam hatinya. Karena Val mencubit gemas satu pipinya.


Dan kini Kafeel dibuat menjadi kian salah tingkah oleh Val yang barusan mencubit gemas salah satu pipinya, karena Val telah berdiri begitu dekat dengannya hingga sedikit saja Kafeel menunduk, jalan setapak dua gunung tanpa pohon cemara di kanan dan kirinya – akan begitu jelas terlihat.


“Eemm..” Kafeel menggumam. “Val..” panggilnya pada Val, yang orangnya langsung merespon dengan sahutan berikut senyuman.


“Iya Kak?”


“Val ga dingin?..”


“Dingin?..” Val balik bertanya.


“Em itu, kamu basah gini soalnya..” Kafeel langsung berucap lagi.


“Oh----“


“Nanti Kak.”


“Ganti baju sekarang aja gih sana --“


Kafeel memaksa namun dengan nada yang biasa.


“Nanti masuk angin loh? ...” sambung Kafeel yang berusaha membujuk Val agar berganti pakaian yang biasa.


Biarpun sedap pemandangan penampilan Val saat ini, namun kiranya cukup meresahkan bagi Kafeel.


Jadi daripada Kafeel semakin resah dan gelisah lalu malu pada semut merah, lebih baik Kafeel kehilangan dulu pemandangan indah tubuh Val yang basah meski masih berpakaian lengkap.


Lengkap memang pakaian Val, tapi mayan kurang bahan, bikin Kafeel deg-deg-an seperti saat melihat Val hanya memakai bathrobe kemarin.


Maka dari itu, biarlah Kafeel kehilangan pemandangan indah itu sekarang, daripada migrain di dua kepala dan pastinya akan terasa menyiksa dirinya.


“Gih sana ganti baju?. Aku akan mengobrol dengan yang lainnya sambil menunggu Val selesai berganti baju ... karena kalau kamu basah-basahan begini masuk angin bisa-bisa, Val ...”


“Daripada kemasukan roh?” seloroh Val.


“Kakak serius Val.”


“Iya sorryy ..”


“Ya sudah sana ganti baju? ..”


“Nanti Kak, Val masih ingin bermain di kolam renang setelah ini ..”


Val menjawab santai.


“Jadi Kak Kafeel mau kudapan yang mana? ..”


Membuat Kafeel mendengus kecil, karena Val tidak mau mengikuti sarannya.


Yang mana, Kafeel harus membagi konsentrasi antara menanggapi Val dan menenangkan ‘Tongkat Starwars’ – nya.


“Yang mana saja ..”


“Heeemm ..” Val menggumam.


Sembari mata Val memandangi meja jamuan dengan ragam kudapan yang tersaji di atasnya.


“Tart Pudding nya jadi? ..”


Val menawarkan.


Kafeel mengangguk saja, biar Val tak berdiri lebih lama disampingnya dengan penampilan Val sekarang. Lalu pergi ke area kolam renang dan memakaikan bathrobe ke tubuh Val rapat-rapat.


“Ini.”


“Terima kasih.”


“Apalagi?” tanya Val setelah mengambilkan kudapan yang tadi ia sebutkan untuk Kafeel.


Lalu memberikan kudapan tersebut pada kekasih setengah om-om nya itu.

__ADS_1


Lalu Val mengambil piring lain dan menawarkan lagi pada Kafeel kudapan yang lain.


“Ini sudah cukup,” jawab Kafeel.


“Risoles mau juga ya?... Ini buatan Momma loh. Sangat lezat.”


‘Yakin lezatan kamu, Val!’ Kafeel spontan membatin.


“Sudah pernah coba risoles buatan Momma kan, Kak Kafeel?...”


“Iya sudah...” jawab Kafeel.


“Kalau begitu Val ambilkan ya?...”


“Iya—“


Tidak.


Seharusnya Kafeel menjawab tidak saja.


Karena yang terjadi membuat Kafeel mendesis – meski dalam hatinya, ketika melihat posisi Val saat ini.


‘Kenapa lah dia mesti pose macam tuuuu????..’


Kafeel menggerutu dalam hatinya akibat posisi Val sekarang.


Sebenarnya Val hanya mencoba mengambil kudapan yang ia inginkan, dimana kudapan itu sedikit jauh dari jangkauannya.


Tapi mungkin Val tak ada maksud apa-apa. Namun posisi Val sekarang ber – efek pada sesuatu kasat mata dari balik helai pakaian Kafeel, yang terasa berkedut-kedut lumayan intens.


Dan bersamaan dengan itu, ada yang Kafeel rasakan mulai menyiksa dalam tubuhnya.


Libidonya sebagai pria dewasa, melihat Val yang lagi nonggeng demi mengambil risoles yang jauh dari jangkauan Val itu.


‘Beruntungnya itu taplak..’ bisik hati Kafeel yang ser-ser-an, melihat gunung kembar tanpa pohon cemara milik Val menempel di atas meja jamuan.


Adudududu Kafeel rasa ser-ser-an sampai menggertakkan giginya walau samar. Sambil mengatur hasratnya yang kian menaik sekarang.


“Mm, ini juga.....”


Val masih sibuk mengambil kudapan dengan posisinya yang membuat Kafeel agak-agak blingsatan.


“Ah.....”


Ah, kenapa Val segala mendes@h?.


Di tambah tubuh Val semakin menonggeng pula.


‘Hollysht!*’


Kafeel mengumpat dalam hatinya karena ******* Val barusan.


Padahal des@han Val itu karena dia berhasil menggapai kudapan yang agak jauh dari jangkauannya.


“V-val—“


Kafeel hendak memanggil Val dengan suaranya yang pelan, efek sedang menahan sesuatu yang membuat suara Kafeel terasa mulai serak.


Hendak meminta Val untuk segera bangkit dari posisinya yang membuat hati dan otak Kafeel sangat kacau, macam meletusnya si balon hijau.


Namun sebelum Kafeel menyuarakan keinginannya, suara Val terdengar lagi.


Val masih dalam posisinya yang sedang menonggeng itu, dan kini sedang menoel krim yang ada di atas tiramisu.


“Eemh, enak sekali....”


Great! Sempurna!.


Godaan yang diciptakan Val yang mungkin Val lakukan tanpa sengaja dan sadari itu-membuat hasrat Kafeel bertambah berkali lipat sekarang, dengan Val yang sedang memasukkan telunjuknya dengan krim diatas sebuah cup tiramisu yang sedang Val colek-colek lalu ia emyut itu.


Pakaian plus penampilan Val yang basah. Cek.


Membuat beberapa aset pribadi Val hingga membuat dirinya nampak seksi meski berusia belia. Cek.


Tadi nyolek si Otong-meski ga sengaja. Cek.


Terus nonggeng. Cek.


Ditambah desah@n dan erangan manja. Cek.


‘Sudah cukup!’


Hati Kafeel yang berteriak.


“Val..” ucap Kafeel kemudian.


“Iya Kak?..”


Val menyahut seraya menoleh pada Kafeel tanpa merubah posisinya yang sedang menonggeng itu sambil masih menikmati krim berikut tiramisu dalam cupnya.


“Eh iya, Kak Kafeel mau coba ini---“


Bruk.


Piring berisikan tart puding yang Kafeel pegang, ia letakkan dengan cepat di atas meja.


“Aku permisi ke toilet..” ucap Kafeel yang langsung selonong boi dari hadapan Val.


Ujiannya saat ini, Kafeel rasa telah berada di ambang batas. Val keterlaluan sekali menurutnya.


Karena kekasih kecilnya itu telah membuat Kafeel benar-benar tak karuan saat ini, dan sialnya Kafeel tidak mampu berbuat apa-apa selain pergi ke kamar mandi dan entah akan berbuat apa disana gara-gara Val.


‘Apa lebih baik gue pulang dulu, lalu nanti kembali lagi setelah Val selesai main di kolam renang? ...’


Kafeel membatin.


Untung saja Kafeel buru-buru hengkang dari hadapan Val saat ini, karena ‘Tongkat Starwars’ nya yang terhalang kain itu kini terasa menggembung, karena tak dapat memanjang akibat terkurung dalam ‘sarung’ nya.


Karena jika Kafeel masih bertahan dihadapan Val sekarang, bisa-bisa Val kaget kalau menyadari ada yang menggembung tapi bukan balon, dan hanya satu bukan lima, dan tidak juga beragam warnanya.


‘Kalau Uncle R mau memberi tantangan dan hadiahnya adalah menikahi Val kalau gue mampu melewatinya, asli gue ga akan mikir untuk terima! Meski gue diajakin tarung sama Uncle R, mau satu lawan satu apa lawan itu semua Dadnya Val sekalian. Bonyok ga apa deh, asal gue bisa kawin cepat-cepat sama Val!’


Kafeel mengoceh dalam hatinya sambil ia berjalan menuju satu kamar tamu, untuk ia pergunakan kamar mandinya.


Lalu Kafeel mengumpat dalam hatinya, sambil melirik sesuatu yang ia sedang rasa mulai menggeliat kuat itu saat ia telah masuk ke dalam satu kamar tamu di Kediaman keluarga Val yang berada di Jakarta tersebut


‘Anjiiir ngebeet siauuuddd!’

__ADS_1


♥♥


To be continue..


__ADS_2