HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
KEPASTIAN #3


__ADS_3

Happy reading yah....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Jakarta, Indonesia....


“Jadi yah, setelah Val menimbang-nimbang dengan seksama, meski setelah ini Val pasti akan menangis banyak.... sekarang saja Val sudah mau menangis...”


Val sedang mengungkapkan segala apa yang ada di hati dan pikirannya pada Kafeel, setelah ia merenungi semua perkataan orang-orang disekitarnya mengenai sikap Val pada sang pria pujaan hatinya itu.


“Tapi Val tidak boleh egois, bukan?. Dan yah, Val menyadari, jika berada di dekat Kak Kafeel saat ini, membuat Val bahagia dan sedih secara bersamaan... karena kini Val tahu, jika Kak Kafeel tidak akan pernah bisa Val miliki ... Jadi mulai sekarang, Val akan belajar untuk perlahan melepaskan ... melepaskan jeratan cinta konyol Val pada Kakak ....”


Val melepaskan tangannya dari pipi Kafeel. Tapi sesaat kemudian tangan Val yang tadi memegang pipi Kafeel itu menggantung di udara.


Ada yang menahan tangan Val, yang ingin ditarik si empunya.


Tangan Kafeel.


“Tidak boleh!”


Bersamaan denga Kafeel yang setengah memekik, mengucapkan dua buah kata larangan.


“Tidak boleh apa, Kak?”


“Melepaskanku ....”


Kafeel berucap.


“Aku tidak mengijinkan.”


Lantang sambungan ucapan dari mulut Kafeel tercetus.



“Val... Kakak .. minta maaf .. Kakak –“


Kafeel tertunduk, dengan tangannya yang masih menggenggam satu tangan Val yang tadi menyentuh pipinya untuk beberapa saat, juga menggantungkan ucapannya.


“Aku –“


Lagi-lagi Kafeel tidak langsung berbicara dengan lengkap, dan suara Kafeel tidak selantang sebelumnya, seperti saat dirinya mengeluarkan kalimat larangan pada Val.


“Kakak—sungguh tidak ingin Val sampai menjauhi Kakak seperti yang Val bilang tadi ....”


Kafeel menjeda ucapannya.


“Rasanya, seharusnya Kakak lah yang meminta maaf pada Val, yang karena Kakak, Val sampai membuang waktu Val untuk Kakak selama ini, dimana Kakak seolah menganggap enteng saja perasaan Val pada Kakak. Kakak mohon maaf untuk itu.”


Kafeel menundukkan kepalanya kemudian.


“Mungkin terdengar egois ...”


Lalu Kafeel mengangkat kepalanya lagi, kembali memandang pada Val dengan lembut namun juga memelas.


“Kakak menganggap enteng perasaan Val, tapi Kakak tidak ingin Val menjauh dan menjaga jarak dengan Kakak ..”


Kafeel membasahi bibirnya sendiri. Menjeda ucapannya.


“Karena Kakak, sudah merasa terbiasa dengan sikap Val selama ini ke Kakak ..”


Kafeel menatap Val, dengan tatapan yang terlihat sungguh-sungguh yang mengatakan kata-kata yang otaknya telah pilih, lalu dipertimbangkan untuk diucapkan pada Val.


Didetik berikutnya, Val menarik sudut bibirnya, tersenyum pada Kafeel yang sedang menatapnya itu.


“Jadi kalau Val ingin menjauhi Kakak dan juga menjaga jarak, rasanya Kakak akan kehilangan...”


Kafeel menyambung ucapannya, ucapan yang merupakan penjelasan dari Kafeel, yang mengatakan pada Val tentang perasaannya, ketika Val berencana untuk ‘menarik diri’ dan menjaga jarak dengannya.


Lalu Kafeel menarik sudut bibirnya seperti Val, dan terdiam setelahnya. Memandang pada Val sembari memperhatikan paras gadis belia itu.


Paras yang menurut Kafeel memiliki aset wajah yang tak kalah rupawan dengan wanita-wanita rupawan yang ada dalam keluarga Val.


‘Cukup ga ya alasan gue untuk membuat Val mengurungkan niatnya menjaga jarak dari gue?’


Kafeel membatin sambil dirinya memandangi Val yang sedang tersenyum teduh padanya itu.


‘Semoga cukup!’


“Kak ..” Bibir Val yang tadinya terkatup, kini terbuka dan mengeluarkan suara.


Memanggil Kafeel dengan lembut. Dan Kafeel segera memfokuskan dirinya pada Val yang sepertinya hendak berbicara padanya itu.


“Ya? ...” sahut Kafeel lembut.


“Jangan memaksakan diri....”


Val berucap.


“Maksud Val?”


Kafeel pun bertanya.


Val kembali menarik sudut bibirnya.


“Kak Kafeel jangan memaksakan diri untuk membesarkan hati Val ..” jawab Val lembut, namun ada ketegasan yang terbaca didalamnya.


“Aku tidak memaksakan –“


“Val tahu Kak Kafeel adalah pria baik...”


Val menyambar saat Kafeel hendak berbicara.


“Selain tampan bukan main di mata Val.” Val nampak mengeluarkan candaan, dan ia terkekeh kecil kemudian.


Sementara Kafeel hanya menarik tipis sudut bibirnya. Namun Kafeel fokus pada Val yang sepertinya masih ingin bicara.


“Val senang...”


Dan memang benar Val masih mau melanjutkan ucapannya.


“Val senang sekali rasanya mendengar ucapan Kak Kafeel yang melarang Val untuk menjauhi serta menjaga jarak dengan Kakak. Val bahagia, mendengar Kak Kafeel yang juga mengatakan, jika Kak Kafeel akan merasa kehilangan jika Val melakukan hal itu.”


Val tersenyum lagi, namun kini Val menarik perlahan tangannya yang sedang digenggam oleh Kafeel.


Sembari Val merubah posisi duduknya.


“Mendengar Kak Kafeel katanya akan merasa kehilangan kalau Val menjaga jarak dari Kakak, rasanya hati Val meleleh, tahu?”


Val yang tadi tubuh dan wajahnya berpaling ke arah lautan yang terhampar dihadapannya itu, kembali menolehkan wajahnya ke arah Kafeel seraya tersenyum.


Dimana sudut bibir Kafeel tertarik sedikit lebih tinggi, membalas senyuman Val padanya itu, sembari ia tetap fokus memperhatikan Val. Dimana juga, Kafeel rasanya merasa ada yang hilang, saat Val menarik tangannya dari genggaman Kafeel.


“Val cinta sekali pada Kak Kafeel.... Tapi Val benci....” kata Val. Dan Kafeel mengangkat satu alisnya. Karena ucapan Val terdengar ambigu di telinga Kafeel. “Val benci dikasihani ...” sambung Val, yang membuat Kafeel membuka mulutnya untuk bicara.


Namun sebelum Kafeel sempat bersuara, Val sudah lanjut berbicara lagi.

__ADS_1


“Apalagi oleh pria yang Val cintai..” lanjut Val. “Jadi jangan Kak Kafeel memaksakan diri untuk membesarkan hati Val, dengan kata-kata seperti tadi....”


“Engga Val --” sambar Kafeel.


“Hanya karena Kak Kafeel tidak ingin menyinggung perasaan Val....”


Val juga menyambar untuk terus berbicara, memotong lagi kalimat Kafeel.


“Jadi, jangan Kak Kafeel memaksakan diri untuk membesarkan hati Val, karena sekarang Val sudah menyadari, jika Kak Kafeel tidak akan pernah menanggapi perasaan Val dengan serius.”


“Val—“


“Jangan Kak, jangan membuat Val merasa dikasihani oleh Kak Kafeel, karena Val benci hal itu.”


Val kembali memotong lagi ucapan Kafeel. Membuat Kafeel terlihat sedikit jengkel.


“Jangan membuat Val membenci Kak Kafeel, karena Kakak mengasihani Val.” Lalu Val, kembali memalingkan wajahnya dari Kafeel, setelah melempar senyumannya yang hanya segaris saja.


“Sudah selesai bicaranya?”


Dimana suara Kafeel yang terdengar datar, bahkan tersirat ketidak sukaan didalamnya terdengar.


Suara Kafeel terdengar, tak lama berselang setelah Val memalingkan wajahnya dari Kafeel.


“Heemm ...”


Val pun menoleh lagi pada Kafeel.


“Sepertinya sudah!”


Lalu Val menjawab dengan santainya pada Kafeel, seraya tersenyum pada pria pujaan hatinya itu. Padahal wajah Kafeel kini nampak serius memandang pada Val, dengan rahang Kafeel yang nampak sedikit mengetat.


“Bisa aku bicara sekarang, tanpa ada interupsi dari kamu hingga aku selesai bicara?” ucap Kafeel.


“Silahkan, Kak.” sahut Val seraya mengangguk dan tersenyum pada Kafeel.



Kafeel menghela nafasnya sebelum ia mulai mengatakan apa yang ingin ia katakan pada Val.


“Val bilang kalau Val cinta sama Kakak?” tanya Kafeel sambil menatap pada Val. Dan Val yang memang masih memandang pada Kafeel itu pun dengan cepat mengangguk.


“Kalau memang seperti itu, seharusnya Val mengerti sekali sifat Kakak, bukannya?”


“Iya Val mengerti! ---“


“Jadi seharusnya Val tahu, apa yang tadi Kakak bilang soal Kakak yang akan merasa kehilangan jika Val menjauh dan menjaga jarak dari Kakak, itu yang sebenar-benarnya Kakak rasa.” Potong Kafeel.


“......”


“Bukan semata-mata ingin membesarkan hati Val, karena merasa tidak enak pada Val, atau pada Abang, dan pada keluarga Val yang lain.”


Kafeel terdiam sesaat, menatap lekat wajah Val dari jaraknya. Lalu Kafeel mendengus pelan. Memalingkan wajahnya sejenak dari Val, menatap kembali pada lautan.


“Tapi itu yang sesungguhnya.”


Val bergeming memperhatikan Kafeel. Dan Kafeel kembali mengarahkan tatapannya pada Val.


“Awalnya iya ....” sambung Kafeel.


Lalu Kafeel menarik tipis sudut bibirnya.


“Awalnya Kakak memang merasa terganggu dengan sikap Val.”


Kafeel menyambung ucapannya.


Kafeel menarik lagi sudut bibirnya.


“Tapi itu hanya sebentar saja.” Lanjut Kafeel.


“......”


“Karena tingkah Val yang seperti itu, malah mengalihkan perhatian Kakak pada Val.”


“......”


“Semakin lama, Kakak semakin menyukai tingkah Val itu.” Tangan Kafeel terulur ke atas kepala Val. “Menggemaskan.”


Lalu Kafeel mengusap pelan puncak kepala Val.


Val juga menarik sudut bibirnya. “Tapi perasaan Kak Kafeel ke Val? ....”


Val kemudian mencetuskan sebuah pertanyaan.


“Bagaimana yang sesungguhnya?” sambung Val yang bertanya.


Sembari Val menatap Kafeel dengan tatapan yang rasanya bercampur-campur sekarang.


Penasaran, sekaligus penuh harap, juga takut.


Takut, jika ternyata jawaban yang Val takutkan lah yang akan keluar dari mulut Kak Kafeel tercintanya Val itu.


Kafeel menarik lagi sudut bibirnya.


“Sebelum kakak jawab pertanyaan Val itu, boleh kakak mengajukan satu pertanyaan pada Val?” ucap Kafeel, seraya bertanya.


“Silahkan ....”


“Apa Val benar-benar yakin jika Val memang mencintai Kakak? ....” Kafeel mencetuskan pertanyaan yang membuat wajah Val menjadi sedikit berubah serius.


“Kakak tahu hal apa yang Val benci selain dikasihani? ....” Lalu satu pertanyaan tercetus dari mulut Val, sebagai balasan dari pertanyaan Kafeel padanya barusan. “Keraguan atas perasaan Val pada Kakak.”


“......”


“Kenapa? Karena Val ini hanya gadis belasan tahun yang terlihat ingusan di mata Kak Kafeel ya?.” lanjut Val.


“Bukan---“


“Jadi Kak Kafeel pikir Val ini hanya terkena euphoria sindrom jatuh cinta remaja labil pada umumnya.”


“Ya bukan seperti itu juga—“ Kafeel hendak menyanggah ucapan Val.


“Sudah ya Kak ....” Namun Val segera lagi memotong ucapan Kafeel. “Val sudah tahu ujungnya pembicaraan kita ini.”


Val menampakkan sepotong senyumnya pada Kafeel. Namun sekilas saja, sebelum ia melengos dan beranjak dari duduknya.


“Val mungkin sakit hati ....” Kemudian Val menoleh lagi pada Kafeel. “Tapi Kak Kafeel tidak akan Val benci.”


Seutas senyum nan manis, Val tampakkan lagi pada Kafeel.


“Ayo Kak, sebaiknya kita pulang sekarang! ....” ucap Val kemudian, seraya menggerakkan kakinya.


Namun langkah Val tertahan.


“Aku menyayangi kamu, Val ....” Kafeel bersuara, dimana kini dia dan Val saling beradu pandang.

__ADS_1


Val yang memang menoleh pada Kafeel saat ia merasakan cekalan pelan pada tangannya itu menatap pada Kafeel yang masih duduk ditempatnya, namun memandang Val dengan sedikit tajam.


Val menampakkan senyumnya lagi. Lalu didetik berikutnya Val mengangguk dan berucap,


“Iya, Val tahu itu. Kak Kafeel menyayangi Val seperti seorang kakak pada adiknya bukan? ---“


“Bukan!”


Kafeel dengan cepat menyanggah ucapan Val.


Kemudian Kafeel berdiri dari tempatnya, dengan tangannya yang masih memegang pergelangan tangan Val.


Kafeel membuat dirinya berada dihadapan Val yang memperhatikan wajah Kafeel dengan seksama.


Wajah yang kini menatap Val lekat, dengan mata yang seolah tak berkedip. Lalu tak lama kemudian, terdengar helaan nafas Kafeel yang terdengar sedikit berat, seolah ada beban yang Kafeel lepaskan melalui helaan nafas itu.


Kafeel kemudian merundukkan kepalanya, dengan masih berdiri dihadapan Val, dengan satu tangannya yang memegang pergelangan tangan kanan Val. “Val.”


Kafeel menyebut nama Val, sembari tangan kanannya meraih tangan kiri Val. Memegangnya, sebagaimana Kafeel memegang tangan Val yang lainnya.


“Rasa sayang Kakak ke kamu lebih dalam dari itu.” Sambung Kafeel dengan menatap lekat pada netra Val. Dimana Val terpaku di tempatnya.


Val tercengang, dengan jantungnya yang mulai berdegup-degup karena sebaris kalimat yang tercetus dari mulut Kafeel barusan. ‘Aduh, kenapa aku jadi gugup seperti ini??? ....’


Val membatin, akibat ucapan Kafeel berikut sepasang netra elang milik pria pujaan hati Val itu sedang tajam menatapnya, namun dengan sorot yang lembut terpancar disana.


Membuat harap Val jadi melambung tinggi.


‘Ah tidak! aku tidak boleh terlalu cepat menjadi besar rasa. Me-nya-ya-ngi, Val.’


Namun harap Val yang tadinya melambung tinggi itu, kemudian Val tarik sendiri agar jangan sampai melambung tinggi, nanti tahu-tahu malah terbanting dengan keras ke bawah.


‘Kak Kafeel mengatakan jika dia me-nya-ya-ngi kamu. Bukan mencintai!’


Perdebatan Val dan hatinya pun terjadi.


‘Tapi .... Kak Kafeel katakan tadi, ‘rasa sayang kakak ke kamu lebih dalam dari itu’. Lalu apa maksudnya itu?’


Otak Val yang kadang polos cara berpikirnya itu jadi bingung sendiri sekarang.


‘Kalau Kak Kafeel memiliki rasa sayang padaku lebih dalam dari perasaan seorang kakak pada adiknya kan, itu berarti ....’ batin Val yang menduga.


“Yang Kakak rasa ke kamu, bukan seperti rasa sayang seorang kakak lelaki pada adik perempuannya,” ucap Kafeel.


Val menggigit bibir bawahnya sendiri, setelah mendengar kata-kata Kafeel barusan itu.


Ia ingin merasa bahagia, karena jika Val pikir-pikir ucapan Kafeel barusan padanya itu bukankah mirip dengan sebuah pernyataan cinta?.


Tapi apa iya begitu maksud Kak Kafeel?-pikir Val.


“Apa maksud Kak Kafeel itu, Kakak memiliki perasaan sebagaimana perasaan seorang pria pada seorang wanita? ....”


Tercetus pertanyaan dari Val untuk Kafeel.


“Katakanlah seperti itu ....” jawab Kafeel dengan menampakkan seutas senyuman pada Val.


Val juga menampakkan senyuman pada Kafeel. Hanya saja bukan senyuman lebar cerianya Val seperti yang seringnya ada di wajah Val.


“Kak .... sudah Val katakan tadi, jangan memaksakan diri ....”


Namun disela rasa bahagia Val, ada pikiran lain yang terlintas di pikiran Val.


“Jangan, Kak ....”


Val melirih dengan menggelengkan pelan kepalanya pada Kafeel, juga tersenyum miris.


“Jangan mengasihani Val!”


Lalu Val berseru pada Kafeel, dengan matanya yang berkaca-kaca, sambil melepaskan kasar tangannya yang berada dalam pegangan Kafeel.


Membuat Kafeel cukup terkejut dan tersentak.


“Val benci dikasihani!” Kembali Val berseru pada Kafeel.


Air mata Val sudah turun kini.


“Val cinta sama Kak Kafeel!”


Val berseru lagi.


“Iya! Sangat!” sambung Val dengan seruan. ”Val memang ingin memiliki Kakak!”


Sambil Val menunjuk dirinya sendiri.


“Tapi Val tidak mau jika Kak Kafeel merasa terpaksa untuk itu ....”


“Val---“


“Don’t, Kak .... Jangan pada akhirnya Kakak menerima Val dalam hidup Kakak, berdasarkan rasa kasihan ....”


Sudah tak lagi sebulir air mata Val.


“Jangan membuat Val membenci Kak Kafeel, karena Kakak mengasihani Val ....”


Val menggelengkan lagi kepalanya dengan pelan, sembari menatap Kafeel dengan tatapan kekecewaan.


Memang Val cinta pada Kafeel. Tapi ya itu, Val tidak mau dikasihani. Terlalu menyedihkan rasanya bagi Val, jika pada akhirnya Kafeel mau bersamanya hanya berdasar rasa kasihan.


“Please, don’t ....” Dan setelahnya, Val hendak membawa tubuhnya untuk berbalik pergi dan menjauh dari Kafeel.


Namun sekali lagi, Val tak sukses untuk melangkahkan kakinya. Langkah Val kembali tertahan, karena sebuah cekalan di pergelangan tangannya.


Cekalan yang sedikit lebih kuat dari sebelumnya.


Dimana tubuh Val juga ditarik paksa, walau tidak secara kasar, untuk kembali menghadap ke tempatnya tadi, dalam hitungan se per sekian detik.


Dan dalam waktu se per sekian detik itu pula ....


Cup!.



Kau Boleh Acuhkan Diriku, Dan Anggap Kutak Ada.


Tapi Takkan Merubah, Perasaanku Terhadapmu.


----


Ku-yakin Pasti Suatu Saat, Semua ‘Kan Terjadi.


Kau ‘Kan Mencintaiku, Dan Tak Akan Pernah, Melepasku


♥♥♥


To be continue....

__ADS_1


Jangan lupa dukungan kalean untuk karya ini yawgh duhai reader emak yang blaem-blaem.


__ADS_2