
Happy reading yah....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
*Mundur cantik dikit.*Kediaman Utama, The Adjieran Smith, Jakarta , Indonesia...
“Ini ada apa sih?!” Ini Mom Ichel yang berbicara seraya bertanya, dengan wajah yang terheran-heran.
Begitu juga dengan tiga orang yang datang bersama Mom Ichel dengan ekspresi wajah yang sama dengan istrinya Daddy Dewa itu.
Kala ke empatnya mendapati adegan ‘penganiayaan’ pencet jempol seorang pria, yang dipegangi oleh empat pria yang mana Mom Ichel dan ketiga orang yang datang bersamanya itu kenal dengan sangat.
“Itu, Kak Kafeel kami curigai kerasukan penghuni pantai –“
Dan seorang gadis yang berdiri didekat tempat kejadian perkara ‘penganiayaan’ pencet jempol itu pun menjawab pertanyaan Mom Ichel.
Dimana kalimat si gadis yang adalah Val itu, menciptakan reaksi tercengang dari empat orang yang baru saja menyambangi TKP, termasuk si korban ‘penganiayaan’ yang juga ikut tercengang.
“Hah?!”
“Yang benar saja???...”
“Kak Kafeel kemasukan roh begitu?!”
“Apaan, engga!”
Dan sanggahan pun langsung tercetus dari mulut si korban 'penganiayaan’.
Kafeel, yang mulai meronta untuk melepaskan diri dari empat pria yang kadang jahilnya luar biasa itu.
Yang mana ke empat orang tersebut, masih ketat memegangi Kafeel sambil cekakakan.
“Argh! Than! Sakit, an---“
Dan hampir saja Kafeel mengumpat dengan sangat kasar.
Tapi Kafeel keburu tersadar untuk tidak melanjutkan kata umpatan yang akan terdengar sangat kasar itu, walaupun pencetan di dua jempol kaki Kafeel yang ia rasakan, ngebetnya terasa sampai ke ulu hati pria itu.
“Sudah! Lepaskan dia!. Kalian ini benar-benar kurang kerjaan!”
“Habis dari tadi tingkah Kak Kafeel itu aneh, Mom ----“
Val pun mulai bercerocos ria.
“Mom Ichel ga lihat saja tadi Kak Kafeel seperti apa, bla .. bla .. bla ..”
“Ah mana ada sepert itu!”
“Iya, ish! Gila aja mikir aku kerasukan!”
Tak hanya Mom Ichel yang menyergah cerocosan Val tersebut, tapi juga si ‘korban penganiayaan’.
Yang spontan mengeluarkan celetukan, akibat jengkelnya itu. Dimana tanpa Kafeel sadari,
“Kak Kafeel mengatai Val gila?!”
Ada seseorang yang merasa tersinggung dengan celetukan spontan Kafeel barusan.
Dan ujungnya,
“Tega ih!”
“Vaall! Tunggu, jangan marah! Kakak ga ada maksud bilang Val gila Koook ..”
Pembelaan diri Kafeel percuma, karena yang bersangkutan sudah berjalan cepat sambil menghentakkan kakinya menuju lift.
Meninggalkan Kafeel yang dilanda ke-serba salahan setelahnya.
♥
Saat ini.
‘Kira-kira Kak Kafeel akan membiarkanku lagi seperti di R Corp. tadi atau dia akan mengejarku sekarang? ..’ Ini hati Val yang berkata.
Yang mana orangnya telah berada di dalam lift yang tersedia pada Kediaman Utama keluarganya yang berada di Jakarta ini. Val sedang menuju kamarnya.
‘Karena sekarang kan aku sudah menjadi kekasihnya Kak Kafeel.’ Kata Val lagi di dalam hatinya. Lalu ia nampak terkikik pelan.
Val terkikik dengan tersenyum lebar, namun tangannya menutup mulutnya sambil ia berjalan menuju kamar pribadinya yang berada di lantai tiga Kediaman tersebut setelah lift yang ia gunakan telah sampai di lantai tiga.
‘Eh aku jadi meninggalkan Kak Kafeel dibawah.’
Val masih membatin saat telah sampai di depan pintu kamarnya.
‘Ah biarkan saja. Lagipula tubuhku sudah terasa lengket dan bau matahari.’
Val sedikit mengendusi tubuhnya.
‘Jadi aku harus mandi.’ Val lalu melangkah masuk ke dalam kamar pribadinya itu.
♥
Val masuk ke kamarnya dengan nampak bahagia, sampai ia bersenandung dan sedikit menari-nari karena rasa bahagia yang membuncah di dalam hatinya itu saat ini.
“🎵Every night in my dreams, I see you, I feel you .. That is how I know you, go on .. 🎵”
Val pun bernyanyi pelan sambil meraih salah foto Kafeel yang ada di dalam kamarnya itu.
“🎵Near, far, wherever you are .. 🎵”
Salah satu foto Kafeel yang terbingkai dalam sebuah pigura itu Val pegang dengan kedua tangannya dan ia angkat tinggi-tinggi sambil Val masih tetap bernyanyi dan sedikit menari, macam ia sedang berdansa. Wajah Val begitu berseri-berseri.
“🎵And you’re here in my heart and, my heart will go on and on . 🎵.”
Yang tak lama kemudian Val dekap dengan erat foto Kafeel dalam pigura tersebut, sambil nampak kesenangan.
‘My lovely Kafeel ( Kafeel tercintaku )’
Hati Val bermonolog lagi.
‘Val sungguh tidak percaya jika Kak Kafeel ternyata juga mencintai Val ..’ batin Val berkata, sembari ia menatap foto Kafeel dalam pigura yang sedang ia pegang itu. ‘Bahkan kita sudah menjadi sepasang kekasih sekarang.’
Sudut bibir Val melengkung dengan sangat tinggi.
Dengan wajah yang berseri-seri, dan mata Val yang berbinar.
‘I love you Kak Kafeel. Ich Liebe Dich, Ti Amo, Mahal Kita, Saranghae’
Val mengucapkan kata cinta dalam ragam bahasa di hatinya sambil ia tersenyum bahagia.
“Val cinta sekali pada Kakak ..”
Lalu ia menggumam dengan masih memandangi foto Kafeel.
“Mmmmuahhh.”
Dan kecupan mesra Val berikan pada foto Kafeel yang masih berada dalam genggamannya itu.
“Val mandi dulu yah? ..” ucap Val pada foto Kafeel tersebut, sambil ia meletakkan kembali ke tempatnya.
Val berbalik menjauh dari nakas samping tempat tidurnya setelah meletakkan foto Kafeel yang tadi ia ajak berdansa dan Val ajak bicara.
Lalu Val melangkahkan kakinya dengan gembira menuju ke kamar mandi pribadinya, yang berada dalam kamarnya tersebut.
‘Ah iya!’
Val menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba.
Karena Val teringat akan sesuatu. ‘Aku harus berterima kasih pada Momma.’
♥
Pada suatu hari di Great Mansion of Adjieran Smith yang berada di London..
“Anak perawan jangan keseringan bengong,”
__ADS_1
Seorang wanita diusia yang tak lagi muda, langsung menegur seorang gadis yang nampak duduk tepekur di teras pada halaman belakang Mansion Utama keluarga The Adjieran Smith yang berada di London tersebut.
Sang gadis yang barusan ditegur setelah terkesiap karena dipencet pelan hidungnya oleh wanita yang sangat dewasa usia itu menyahut kemudian.
“Eh Momma.”
Momma dan Val, adalah kedua wanita tersebut.
“Sudah selesai semua urusan Momma hari ini, Mom? ..”
“Udah dong! .. Kalo belum selesai ga mungkin udah nongol disini sekarang.”
Momma menyahut sambil mengambil tempat disisi Val untuk mendudukkan dirinya.
“Tidak bareng Poppa?”
“Poppa sedang banyak kerjaan.”
“Hemmm.” Val manggut-manggut.
“Lagi mikirin AA Kapel?” celetuk Momma.
“Hehe.. Momma tahu saja..”
“Ga cape mikirin dia melulu?..”
Momma iseng saja bertanya dengan berceloteh.
“Kayaknya malah yang dipikirin sama kamu siang-malem, pagi-sore itu yang cape.”
“Hihi.”
“Jadi kenapa bengong?. AA Kapel ga bisa dihubungin ini hari?”
“Bisa kok...” sahut Val.
“Terus bengong kenapa?”
Momma kembali bertanya.
“Val sedang memikirkan nasib Val ke depannya.”
“Apaan yang mau dipikirin soal nasib kamu yang udah kelewat jelas cerah masa depan kamu, kaya ga kelar-kelar.”
“Bukan masa depan yang itu yang Val maksud.” Tukas Val.
“Terus? ...”
“Tentang hubungan Val dan Kak Kafeel yang terus saja seperti ini.”
Val menjawab, lalu mengerucutkan bibirnya.
“Tak selesai-selesai Val mengejar Kak Kafeel, karena sepertinya Kak Kafeel tak pernah serius menanggapi Val.”
Lalu Val menghela nafasnya dan menyandarkan dirinya. Sementara Momma tersenyum geli sejenak. “Mau tahu pendapat Momma?...”
“Tentang?...”
“Tentang AA Kapel kamu itu.”
“Mau dong!”
Val menyahut antusias.
“Apa menurut Momma, Kak Kafeel itu suka mempermainkan wanita?....”
“Engga sama sekali.”
“Lalu?”
“Kafeel itu baik, untuk urusan perempuan, Mom rasa dia macam para pria di keluarga ini, termasuk dua Daddy kamu yang mantan fucek boy itu.” Ujar Momma. “Bertanggung jawab dan dapat dipercaya. Bukan tipe yang suka have fun sama perempuan.. Yakin sih begitu. Karena kayaknya kalau Kafeel itu seorang fucek boy juga, mana kamu bakal diijinin buat ngejar-ngejar AA Kapel kamu itu.”
“Iya sih...”
“.........”
“Tapi sebelum itu Mom mau tanya dulu---“
“Tentang?”
“Kamu tau-tau mikirin soal hubungan kamu kedepannya sama AA Kapel kenapa? Udah bosen ngejar dia?”
“Tidak akan Val bosan mengejar Kak Kafeel untuk mendapatkan cintanya... Val juga terkadang bingung ini sama hati Val, kenapa juga ga bosan-bosan sama Kak Kafeel?...”
“Ya mungkin memang kamu benar-benar mencintai Kafeel, Baby...” ucap Momma.
“Memang Val benar-benar mencintai Kak Kafeel sii...kalau tidak kan, Val sudah memiliki kekasih saat ini.”
Momma pun tersenyum pada Val, sambil mengacak pelan rambut salah satu anaknya itu. Lalu Momma menyesap es kopi yang tadi disuguhkan seorang maid untuknya.
“Jadi pendapat Momma itu apa yang berhubungan dengan Kak Kafeel?”
“Perasaan dia ke kamu...”
Momma menjawab cepat.
“Momma pasti ingin mengatakan jika Kak Kafeel tidak akan pernah menganggap Val lebih dari seorang adik ya?”
Momma menggeleng. “Ya ini sih pendapat pribadi dan perkiraan Momma aja.... kalau menurut Momma malah, Kafeel itu sebenarnya juga ada rasa sama kamu, Baby...”
“Hah?!. Benarkah itu Momma?!”
“Hem... tapi ya itu, hanya perkiraan Momma...”
“Tapi kalau memang seperti itu, kenapa Kak Kafeel terkesan malah selalu tidak ingin membahas tentang Val yang ingin bersama dengan dia sebagai kekasihnya?...”
“Yah, mungkin Kafeel punya banyak pertimbangan untuk itu.” Jawab Momma. “Namanya kamu masih bocil begini...” sambung Momma.
“Lalu Val harus bagaimana Momma?...”
“Ya cari jawabannya—“
“Caranya?” potong Val.
“Mau tau aja apa mau tau banget?”
Momma berguyon.
“Aa Momma.. Val serius mendengarkan ini!”
Val mencebik manja, dan Momma terkekeh kecil.
“Ayo jelaskan ...” Val memohon manja.
“Tapi Momma tidak menjamin ini menuai hasil seperti yang Val inginkan ya?---“
“Iya tidak apa-apa...”
“Yakin ga apa-apa?”
“Iya yakin. Jika ada cara untuk mendapatkan hati Kak Kafeel---“
“Kan Momma bilang belum tentu ini hasilnya sesuai dengan harapan kamu, Baby...”
“Iya maksud Val, kalau ada cara Val mendapatkan kepastian tentang perasaan Kak Kafeel pada Val, Val akan melakukannya, dengan resiko apapun.”
Val nampak bersungguh-sungguh dalam berucap. Dimana Momma kemudian tersenyum dan membelai kepala Val dengan lembut.
“Segitu cintanya ya, sama AA Kapel?”
“Iya Mom.”
“Ya udah, Momma kasih tau caranya.”
“.........”
__ADS_1
“Sekali lagi, Momma ga kasih jaminan oke loh ya?” kata Momma.
“Iya...”
“Val kan mau memastikan perasaan AA Kapel kamu itu ke kamu, jadi jika jawaban yang Val dapat dari Kak Kafeel tidak sesuai dengan yang Val harapkan, Val harus berlapang dada...”
“.........”
“Meskipun Momma sih yakin itu si Kafeel sebenarnya punya rasa spesial ke kamu, Cuma dia masih antara ragu sama malu, sama apa tau deh... tapi tetep aja ini cara ada resikonya...”
“Ya sudah katakan Momma...”
“Tarik ulur!” cetus Momma.
“Maksudnya?...” tanya Val.
“Gini, nanti saat kamu kapan tau ketemu Kafeel lagi, ajak dia bicara serius... Terus ilangin itu sikap ulet bulu kamu dulu. Sok cool, sok cool ... terus kamu tanya lah itu, ‘Perasaan Kak Kafeel pada Val itu bagaimana sebenarnya?’... pake tampang cool tapi penuh arti dan serius, tapi anggun... paham?...”
“Engga...”
“Hadeh!”
Momma menepak jidatnya.
“Gini, “
Lalu memberikan contoh raut wajah seperti yang dia katakan tadi pada Val.
“Begitu.” Ucap Momma. “Paham?”
“Oh, oke! Paham, paham! Lalu?....”
Val menyahut antusias dan sumringah. Karena paham dengan maksud Momma, lalu ia meminta Momma melanjutkan.
“Lalu pasang muka lelah menunggu...”
“Bagaimana itu Momma?...”
“Begini...” Momma pun memperagakan suatu hal yang menjadi salah satu bakatnya itu. “Bisa?”
“Bisa!”
“Bagus...”
“Lalu?...” Val kembali bertanya dengan antusias.
“Nah ini, penentuan...” jawab Momma. “Kalau setelah ini, Kafeel bilang, ‘ya sudah kalau begitu, tidak apa-apa’...”
Sambil Momma kembali memberi peragaan.
“Val harus berlapang dada jika seperti itu nanti kondisinya.”
“Heeem..”
Val sedang menimbang-nimbang.
“Ya sudah Val akan coba. Val akan berusaha berlapang dada..”
“Bener siap?..” Momma memastikan seraya bertanya.
“Okay, siap. Katakan Mom, bagaimana Val harus bersikap sebagai penentuan?”
“Perhatikan baik-baik. ‘Kak’..”
Momma mulai memberi contoh.
“Muka Momma perhatiin!”
“Okay!”
“Val cintaa banget sama Kakak—“
Momma menjeda.
“Ya pokoknya kamu pilih-pilih kata yang puitis lah..”
“Tenang itu, nanti Val kumpulkan dari internet lalu Val buat clipping kalau perlu.. lalu Val hafalkan.”
Mom mengangkat jempolnya.
“Contoh ya, ‘Jika memang Kak Kafeel merasa tidak akan pernah memiliki perasaan spesial pada Val, maka Val akan belajar melepaskan—“
Momma kembali menjeda.
“Ekspresi jangan lupa!”
Kembali memberi penegasan ekspresi pada satu murid dadakan di kelas akting telenovela si Momma.
“Val janji, Val, tidak akan mengganggu Kakak lagi. Selamat tinggal, Kak, dan terima kasih, untuk waktu yang Kak Kafeel berikan untuk Val, serta maaf, jika sikap Val selama ini mengganggu Kakak... mulai hari ini, Kak Kafeel, Val lepaskan...”
Contoh akting dari guru akting telenovela telah totalitas dicontohkan oleh Momma pada Val. Yang mana anak murid dadakannya itu sedang memandang takjub pada si Momma.
“Sampe sini paham?” tanya Momma.
“Paham!”
“Nah itu makanya Momma bilang penentuan... Setelah kamu ngomong begitu tinggal nunggu reaksi si AA deh.” tukas Momma.
“Okay lah jika begitu!” Val nampak bersemangat. “Val akan melakukannya, apapun hasilnya nanti!”
“Yakin kuat kalo jawaban Kafeel ga sesuai harapan kamu?” tanya Momma.
“Insya Allah!”
Val mengangguk yakin.
“Kita yakin, kita percaya, kita bisa!”
Lalu Val mengepalkan dengan semangat tangannya.
“Semangkaaa!! .. Semangat Kakaaa!! ..”
Momma memberikan dorongan semangat pada anak didik akting telenovela dadakannya.
“Val akan mempersiapkan diri untuk tarik ulur cantik itu pria setengah om-om!”
♥
Kembali ke saat ini.
Kediaman Utama, The Adjieran Smith, Jakarta , Indonesia...
‘Aku harus berterima kasih pada Momma.’ Ini suara hati Val.
Yang orangnya sedang cengengesan, lalu melengos ka arah sebuah foto lain yang tergantung di dinding.
Foto berbeda dari yang tadi sempat di pegangnya, namun orang yang didalam foto dalam pigura yang tergantung di dinding adalah orang yang sama dengan yang ada di pigura kecil yang sempat Val pegang dan dekap, lalu Val cium tadi.
Val berjalan mendekati foto pada dinding kamarnya itu. Lalu tersenyum geli sambil mengusap wajah dalam foto, kemudian membatin sama geli dengan senyumnya.
‘Korban tarik ulur cantik.’
♥♥
***To be continue ..
Terus dukung karya ini yawgh my bebi bala-bala, wahai para reader yang blaem-blaem.***
***Ma acih sebelumnya.
Loph Loph,
Emaknya Queen.
__ADS_1