
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
Jangan lupa dukungannya.
Baca dulu tapi episodenya, okeh?
Tenkyu
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Kata orang, kalau mata kiri kedutan terus menerus --- pertanda yang mengalaminya akan menangis. Entah siapa itu orang yang ngomong, yang jelas mulutnya sakti bener. Karena setiap ‘kata itu orang’ rata - rata kejadian.
----- Naomytha Stephania alias Momma Fania -----
♥♥♥
The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, England....
“Val sedang memikirkan, bagaimana jika acara ijab kabul Val dan Kak Kafeel dilakukan di sini saja.” Ada Val yang sedang duduk – duduk santai bersama dua nenek dan satu momnya. Dimana Val berucap antusias menjawab pertanyaan yang sempat terlontar dari salah satu neneknya.
Lalu ucapan Val itu ditimpali oleh satu neneknya yang lain.
“Jangan aneh – aneh Valera Madelaine Aditama Adjieran Smith. Acara ijab kabul kamu dan Kaka sudah diurus untuk dilangsungkan di Jakarta dan sudah rampung 60 persen.”
“Yaa ... Val kan berpikir jika ijab kabul di sini lalu digelar di Hampton pada taman indahnya itu. Lalu memesan ribuan tulip merah dari Keukenhof, rasanya akan unik sekali bukan?...“
“Yang ada kamu lebih menyusahkan banyak orang ----“
“Mana ada susah sih Mom? Kan The Dads atau Gappa hanya tinggal bicara saja, maka ijin untuk menggunakan Hampton pasti akan didapatkan detik itu juga. Lalu ribuan tulip merah, jika dipesan sekarang untuk dihias di Hampton rasanya pasti akan disanggupi oleh kenalan kalian di Keukenhof pada hari bahagia Val itu, iya apa iya? ----“
Val menimpali ucapan salah satu mom yang sedang bersamanya itu dengan cerocosan tanpa beban.
“Ck!”
Satu nenek dan satu mom langsung saja berdecak kecil selepas mendengar cerocosan Val barusan, sementara satu nenek yang lain terkekeh saja --- dan si pelaku cerocosan dengan ide spontannya dia utarakan sebelumnya itu hanya memasang saja ekspresi wajah tanpa dosanya.
“Kenapa ga sekalian aja ijab kabul di Keukenhofnya sekalian?“ seseorang kemudian terdengar berbicara, menanggapi soal ide Val yang dianggap nyeleneh oleh dua --- dari tiga orang yang sedang bersamanya itu.
Dimana empat orang yang sedang duduk bersama itu spontan menoleh ke sumber suara, dan kemudian satu orang langsung loncat dari duduknya. “Kak Kafeel!!” seraya ia memekik girang. “Kak Kafeel kok tidak bilang mau datang ke sini??“
Adalah Val --- tentu saja.
Yang terkejut sekaligus senang bukan kepalang melihat kedatangan Kafeel yang tiba – tiba itu ke mansion keluarganya yang berada di London.
Lalu berhambur dengan bersemangatnya kepada Kafeel yang langsung menangkap tubuh Val, dimana Val loncat begitu saja tanpa tahu malunya dengan dua nenek dan satu momnya yang geleng – geleng saja dengan kelakuan satu incess dalam keluarga mereka itu --- hingga Kafeel sampai harus menyiagakan tangan untuk menahan tubuh Val yang berakhir digendongannya.
“Kangen sama calon istri,”
Kafeel berucap sumringah, menjawab pertanyaan sebelumnya dari Val yang berhambur manja padanya.
Yang kemudian Kafeel turunkan perlahan tubuh Val dari gendongannya, lalu ia daratkan sebuah kecupan ringan di puncak kepala Val.
“Sa—yang Kak Kafeel...“
“Sayang—eh, cinta deh sama Val.“
Kafeel pun membalas ucapan mesra nan menggemaskan Val padanya itu dengan tersenyum lebar, selain selalu merasa gemas sendiri pada Val dengan keimutan yang merajalela di mata Kafeel.
“Ih bucin.”
Val berseloroh gemas menanggapi ucapan Kafeel.
Dimana Kafeel sontak terkekeh dengan mengacak gemas juga rambut calon istri kecilnya itu yang imut pake banget di matanya.
Sementara Nenek Yuna, Gamma dan Mommy Ara yang sedang bersama Val itu tersenyum bahagia melihat keduanya yang nampak juga bahagia selain mesra.
Lalu Kafeel menyambangi dua nenek dan satu mom untuk ia salim takdzim tangannya, kemudian digeret Val untuk ikut duduk bergabung bersamanya dan dua nenek serta satu momnya itu.
♥♥♥
“Kamu sudah makan, Ka?...” tanya Nenek Yuna.
“Udah tadi di pesawat, Nek ----“
“Kak Kafeel kenapa tidak bilang mau ke sini?...” Val menyambar. “Kalau bilang kan, Val bisa jemput di bandara? ----“
“Lalu kamu ajak Kak Kafeelmu kemana – mana dengan seenak jidat. Tidak paham orang lelah bekerja, terlebih habis pergi ke beberapa negara...” tukas mom Ara dengan setengah malas melirik kepada putri kandungnya itu, sementara Kafeel mendengus geli saja sambil mengacak pelan rambut Val yang orangnya gelendotan aja pada Kafeel itu.
“Kak Kafeelnya juga mau – mau saja kalau Val ajak kemana – mana ----“
“Gimana ga mau – mau aja kalo mintanya pakai puppy eyes yang super memelas? Ya luluh lah hati AA biar cape juga...”
Kafeel menukas Val sembari memencet gemas hidung calon istri kecilnya itu, lalu ia dan empat orang yang bersamanya itu terkekeh bersama.
♥♥♥
“Kamu dari mana ini?...”
Mommy Ara bertanya.
“Paris, Mom. Sebelumnya dari Massachussets ----“
“Bawa oleh – oleh tidak untuk Val?”
Val kembali menyambar dan Kafeel mengangguk.
“Bawa dong,” jawab Kafeel kemudian.
“Lama kan di sini?...”
“Besok aku sudah kembali ke Jakarta, Gam.”
Dimana Val langsung saja berkesah. “Kok cepat sekali kembali ke Jakartanya sih?”
“Ya sebenarnya memang tidak ada jadwal ke sini. Tapi berhubung aku kangen, jadi aku sempet – sempetin nengokin kamu ----“
“Ugh, so sweet,” tukas Val dan Kafeel tersenyum geli.
__ADS_1
“Berarti besok Nenek bisa bareng kamu aja terbang ke Jakartanya, Ka.”
“Nenek mau kembali besok?”
“Iya.”
“Ya udah kalo gitu ----“
“Val sudah boleh ikut juga ke Jakarta tidak?”
“Tidak.”
“Yaahhh ----“
Val berkesah lagi.
“Tapi kan Val harus membantu mempersiapkan pernikahan Val di Jakarta, kasihan bunda dan Lena----“
“Pernikahanmu masih tiga bulan lagi. Bunda dan Lena juga tidak akan letih mengurus karena The Moms di kediaman berikut Isha, dan lainnya juga sudah ikut membantu. Lagipula pernikahan kalian sebagian besar sudah diurus oleh EO dan WO. Jadi jangan membuat alibi untuk bisa menempeli Kak Kaf mu ini lalu malah mengganggu konsentrasinya bekerja...”
Val pun mengerucutkan bibirnya, dan Kafeel mencubit gemas pipi Val. “Kamu konsentrasi sama kuliah kamu aja dulu. Aku juga ini ngejar kerjaan biar cepet selesai, so bulan depan aku udah santai dan bisa sering – sering menemani kamu sampai nanti waktu pingitan tiba... okay, calon Nyonya Kecilnya Kafeel Adiwangsa? ----“
“Ookay Calon Suami Om – omnya Vaaall...” balas Val yang membuat Kafeel terkekeh renyah. Dan Nenek Yuna, Mommy Ara serta Gamma mendengus geli saja.
♥♥♥
“Hei...”
Kafeel menjentikkan jarinya di depan wajah Val saat ia dan Val kini telah berdua saja.
“Pasti memikirkan yang aneh – aneh deh? Atau jangan – jangan sedang punya pikiran nakal, ya?...”
Val lalu terkekeh setelah mendengar kelakar Kafeel.
“Mikirin apa sih, hm?”
“Ga kok, Val ga mikirin apa – apa, Kak. Hanya sedang membayangkan Kak Kafeel menyebut nama Val saat ijab kabul nanti...”
Val menjawab pertanyaan Kafeel yang kemudian langsung merengkuh Val dan membuat Val bersandar di dadanya. “Aku bahkan lebih sering membayangkan hari itu, Val. Rasanya tidak sabar menunggu hari itu datang. Hari bahagia kita...” Kafeel berucap lembut.
Val tersenyum bahagia.
“Oh iya, ngomong – ngomong soal tulip merah, itu kamu serius mau bunga itu berjumlah sampai ribuan?...”
Lalu Kafeel bertanya.
“Kalau memang bisa, itu pasti akan menyenangkan. Kan itu bunga favorite, Val?...”
“Iya tau. Tapi sampai ribuan?...” tanya Kafeel seraya tersenyum. “Nanti tenggelam di dalam itu ribuan tulip merah bisa – bisa pak penghulunya...”
Val terkekeh, dan Kafeel ikutan.
“Ya kan itu hanya cetusan sekali lewat Val saja, Kak.”
Val berujar kemudian.
♥♥♥
Hari berganti....
Mansion Pribadi ‘Pasangan Bebek dan Entog’, London, England....
‘Astagfirullah, Astagfirullah, Astagfirullah...’ seseorang sedang beristigfar dalam hatinya ketika mata kirinya berkedut lagi.
“Heart...” sebuah suara dari sosok yang sudah lebih dari dua puluh tahunan hidup bersama dengan seseorang yang sedang duduk bersimpuh sehabis menjalankan satu kewajibannya sebagai umat itu pun membuat dia yang sedang beristigfar dengan masih terduduk di atas sajadah sedikit terhenyak.
“D...” adalah Momma, seseorang yang sedang beristigfar dan duduk bersimpuh di atas sajadah meskipun dirinya telah selesai melakukan kewajibannya sejak beberapa menit sebelumnya.
Namun ketika hendak bangkit selepas berdoa, mata kirinya berkedut dan Momma urung bergeser dari posisinya hingga kemudian Poppa datang.
Dimana Momma langsung saja bangkit sambil melepaskan mukenanya yang ia sampirkan di tangan terlebih dahulu sebelum ia lipat demi untuk menyambangi Poppa dan menyalim takdzim pada suaminya itu.
“Kirain ga pulang buat maksi?”
Momma berucap kemudian setelah Poppa mengecup sekilas keningnya.
“Pekerjaan sedang tidak terlalu banyak hari ini, Heart...”
“Ya udah, aku siapin makan siang dulu buat kita ---“
“Iya, Momma Kajol. Aku sekalian mau dzuhur dulu ---“
“Iya, Abi...” tukas Momma sambil melipat rapih mukenanya.
“Namaku Andrew, bukan Abi...” tukas Poppa dan Momma mengulum senyumnya.
“Iya, Abi Andrew...”
“Andrew Eager Adjieran Smith.”
“Abi tuh panggilan sayang lah!”
“Donald Bebek atau ‘D’ panggilan sayang kamu ke aku tidak perlu diubah – ubah ---“
“Ish, Abi itu kan indah atau Papa artinya, sayangku Donald Bebek Uzur...”
“Poppa lebih bagus.”
Lagi – lagi Poppa menyergah ucapan Momma.
Sementara Momma memutar bola matanya malas.
Agak – agak susah emang kalau debat sama Poppa andai mode suaminya itu sedang normal, yang mana memang begitu orangnya --- ga mau kalah.
Kecuali dia bikin salah sama Momma deh tuh baru.
Momma salah juga dibener – benerin aja sama Poppa hingga berhari – hari tanpa Poppa berani menyergah.
__ADS_1
♥♥♥
‘Ya Allah, ini mata kiri kenapa kedutan ga kelar – kelar sih???...’
Momma yang membatin. Kala ia sedang menemani Poppa yang sedang mengutak – atik mobil di garasi pada mansion pribadi mereka.
‘Mau nangis kejer kah?... ah, ja ----‘
“Heart ---“
“Astagfirullah!”
Momma sedikit berseru seraya mengendik.
“Kebiasaan deh suka ngagetin!” protes Momma kemudian.
Poppa sontak mendengus geli lalu mengambil tempat duduk di samping Momma, yang kemudian Poppa bawa ke atas pangkuannya.
Hal yang rasanya tak lekang di telan waktu.
Kemesraan Poppa pada Momma.
“Aku memanggil kamu pelan, Heart...”
“Pelannya kamu tetap aja ngagetin, D.”
“Ada apa, hem?”
“Aku lagi gelisah.”
Lalu Momma bergelayut manja di atas pangkuan Poppa.
“Mata kiri aku kedutan terus dari sejak beberapa hari ini ----“
“Lalu hubungannya dengan rasa gelisah kamu, apa?...”
Poppa berujar seraya bertanya.
“Kata orang, kalau mata kiri kedutan tuh pertanda kita mau nangis ----“
“Kamu ini. Masih percaya saja takhyul begitu...” tukas Poppa.
“Ih, bukan takhyul itu... Aku udah sering ngalamin, kalau mata kiri aku kedutan tuh pasti ga lama nangis deh. Entah di hari yang sama atau besoknya... Pokoknya pasti beneran nangis ----“
“Ya sudah, dibawa pikiran positif saja, Heart. Mungkin kamu mau nonton drama sedih lalu menitikkan air mata. Lagipula ,sebabnya bisa banyak kan orang mengeluarkan air mata, bukan karena menangis sedih? Terkena debu pun bisa menyebabkan orang menangis, atau kamu saat menggunakan mascara lalu aku mengagetkan kamu sampai mascara itu berbelok arah ke bola mata kamu, menangis juga kan?...”
Poppa berujar campur selorohan, lalu Momma pun terkekeh.
“Iya sih ----“
“Ya sudah, tidak perlu kamu terlalu larut dengan ‘kata orang’ yang entah siapa ----“
“Maunya gitu, tapi ini kedutannya macam ga biasa, D... Sudah beberapa hari aku alami, udah gitu sering lagi. Tapi aku belum nangis juga sampai dengan hari ini... Jadi kok aku ngerasanya, ini air mata lagi dipersiapkan buat tumpah banyak banget dan ga berhenti, ya, D?...”
♥♥♥
The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, England....
Momma dan Poppa datang ke mansion utama keesokan harinya.
“Yang lain mana?...” tanya Momma pada kakak gantengnya yang sedang bermain catur bersama Gappa ketika ia dan Poppa tiba, selepas ia menyalim takdzim pada keduanya.
“Ara dan Fabi sedang di wardrobe room, Mom dan Mama sedang di rumah kaca. Sementara Lucca sedang di ruang kerja ----“
“Anak – anak?...”
Gantian Poppa yang bertanya.
“Mika sedang mengantar Arya ke bandara. Rery dan Ann belum kembali dari sekolah. Val ----“
“Momma! Poppa!...”
“Dan tolong bawa dia menjauh dari sini, karena suara cemprengnya itu mengganggu konsentrasiku dan Dad ----“
“Daddy iiiihhh...”
Dimana Momma, Poppa dan Gappa mendengus geli saja melihat interaksi bapak kandung yang sering sentimen sama putri kandungnya sendiri.
“Wiiwww... Terang amat, Neng?????...” celetuk Momma ketika ia telah menelisik penampilan Val yang menggunakan dress santai berwarna merah menyala.
“Setahuku kau tidak menyukai warna merah menyala seperti ini? Tumben sekali?...” cetus Poppa.
“Sepertinya aku akan menyukai warna merah terang seperti ini mulai sekarang ----“
“Pasti karena Kafeel bilang jika dia suka wanita yang memakai warna seperti itu ----“
“Daddy salah, weee...” ledek Val. “Justru Kak Kafeel itu sukanya Val memakai warna – warna soft ----“
“Lalu kenapa pake ini warna merah jablay?...”
“Jangan begitu dong, Momma. Val kan wanita baik – baik ----“
“Ye, itu juga perumpamaan kelles...”
Momma berujar.
“Trus ada angin apa make baju mere begindang?...”
“Karena aku bermimpi, dimana aku dan Kak Kafeel berdiri di atas pelaminan dengan menggunakan pakaian berwarna merah ----“
“Heu?...”
Momma tertegun dan terdiam seketika.
Katanya, kalau ada seseorang yang bermimpi menjadi pengantin dengan menggunakan pakaian berwarna merah ---- itu adalah sebuah pertanda yang amat sangat tidak baik...
♥♥♥♥♥♥
__ADS_1
To be continue...