HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
ATENSI


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Little Star Island, Isola, Italy,


“Kak, kita semua, kenapa ada di pulau rahasia Abang?...”


“Kamu ga inget emang?Tadi waktu kami pertama jenguk kamu pas kamu udah sadar dari koma terus diperiksa Kak Celine, kan Ares bilang kalo kamu koma makanya dibawa ke sini. Makanya itu kita orang juga tinggal di sini. Inget kan?...”


“Tidak.”


---


“Abang...”


“Ya?...”


“Apa Val sakit parah?...”


“Tidak. Kamu dibawa ke sini karena kamu koma dan butuh perawatan intensif. Itu saja.”


“Kenapa Val tidak dibawa ke rumah sakit?...”


“Pertama, kami ingin menghindari wartawan di London yang pasti bertanya kenapa kau bisa koma. Kedua---“


“Oh iya, Val sudah mendengar beberapa kali jika Val ini koma. Memang, kenapa Val bisa koma?...”


“Kamu tidak ingat?”


“Tidak...”


🌷


🌷


“Hon.”


Adalah Mommy Ara yang bicara ini.


“Ya, Babe?” Dad R yang menyahut, karena memang hanya suaminya itu saja yang bersamanya sekarang.


“Apa tidak masalah jika Val dibiarkan tidur lagi?...” Mommy Ara lalu bertanya pada Dad R.


Keduanya sedang berada di ruang rawat intensif Val, dimana Val sedang tertidur di atas ranjang perawatannya. Setelah diperiksa Celine, selang beberapa lama setelah Val mendapatkan makanannya langsung melalui mulut.


Kemudian Celine memberikannya suntikan vitamin, lalu tak lama Val mengatakan jika dirinya mengantuk. Dan sekarang, Val sudah tertidur selama kurang lebih satu jam---dengan kedua orang tua kandungnya yang masih bertahan untuk tetap di dekat Val.


🌷


“Meskipun Val sudah tertidur cukup lama, namun dia juga perlu untuk mendapatkan waktu istirahatnya. Dan lagi, Val yang mengantuk tadi memang murni karena metabolisme tubuhnya. Celine pun mengatakan itu normal...  karena tidur panjangnya dipicu oleh racun bukan karena proses alami. Jadi jangan terlalu khawatir, hem?”


“Aku masih takut, Hon. Takut jika Val akan kembali ke kondisinya yang koma.”


Dad R tersenyum dan merengkuh lembut tubuh Mommy Ara, yang terduduk khawatir di salah satu sisi ranjang perawatan Val.


“Ingat apa yang selalu kamu katakan padaku?...” ucap Dad R kemudian. “Kita harus selalu berpikir yang baik-baik. Dan lihat garis serta angka di monitor itu?...”


Dad R menunjuk monitor yang ia maksud.


“Garis dan angkanya berbeda dari saat kondisi Val sedang koma. Jadi Ibu Peri tenanglah, hem?”


“Iya, Hon... Maaf jika aku khawatir terlalu berlebihan.”


Mommy Ara lalu bersandar pada Dad R. “Akupun sama khawatirnya denganmu, Babe. Tapi aku yakin Val tidak akan kembali ke kondisi pada saat dia koma. Tapi tetap, kita tetap harus berdoa agar Val terus sehat disetiap harinya---“


🌷


“Bocah tengik. Kemari. Aku ingin bicara.”


“Ya.”


Varen menanggapi Poppa yang barusan memanggilnya ketika ia baru saja keluar dari dalam kamar pribadinya dan Drea bersama Putra di kastil pada Little Star Island.


“Ada apa?” tanya Poppa kemudian, setelah Varen duduk di salah satu sofa kosong di ruangan terbuka di bagian dekat kamarnya dan Drea.


“Apanya yang ada apa, Pop?...”


Varen balik bertanya pada Poppa.


“Saat kau keluar untuk bicara dengan Celine dari ruangan Val, aku perhatikan wajahmu sedikit serius. Dad R pun menangkap hal yang sama denganku. Apa dia sudah mengatakannya padamu?”


“Aku belum sempat bicara lagi dengan Dad. Dia terlalu sibuk melepas rindu dengan Val bersama Ibu Peri.”


“Heem...” Poppa manggut-manggut kecil kemudian.


“Kalau soal Val, secara keseluruhan, kondisi tubuhnya stabil. Tapi aku merasakan sedikit kejanggalan pada dirinya...”


“Kejanggalan?...”


“Hemm,”


Varen menjawab dengan deheman pelan pertanyaan orang-orang yang bersamanya itu selain Drea.


Karena pada Drea, Varen akan lebih dulu mengungkapkan apapun yang ia pikir dan rasakan. Sebagaimana para wanita lainnya yang adalah pasangan para pria dalam keluarganya, Drea berperan lebih dari sekedar istri untuk Varen.


Wanita yang tidak hanya berstatus sebagai pasangan sah, namun juga berperan sebagai seorang sahabat untuk berbagi segala hal.


Jadi untuk apa yang sedikit mengganggu pikiran dan perasaannya terkait kondisi Val pasca adik kandungnya itu terbangun dari koma, Varen sudah lebih dulu mengungkapkannya pada Drea.


Dan lagi, Drea itu amat peka pada air muka Varen.


“Kejanggalan yang bagaimana?” Mom Ichel yang mencetuskan pertanyaan tersebut.


“Mom ingat aku bertanya pada Val soal bagaimana perasaannya ketika aku membantunya untuk duduk tadi?... Tapi setelahnya ia malah balik bertanya kapan aku bertanya soal itu padanya.”


Varen lalu menjawab pertanyaan dari Mom Ichel tadi. Dimana pertanyaan itu kiranya mewakili orang-orang yang berada di dekat Varen, yang sama penasaran dengan Mom Ichel. Terkecuali Drea.


“Aku khawatir Val mengalami gangguan fungsi otak. Karena Val tidak mengingat apa yang aku tanyakan padanya, padahal jedanya hanya kurang dari lima menit saja.“

__ADS_1


🌷


“Lalu apa yang Celine katakan?...” Daddy Dewa kemudian bertanya, menanggapi ucapan Varen soal kondisi Val yang membuatnya memiliki kekhawatiran seperti yang barusan Varen sampaikan. Dimana Daddy Dewa juga jadi ikutan memiliki kekhawatiran setelah mendengar penuturan Varen soal rasa was-was yang dimiliki naga junior utama itu terkait kondisi Val, begitu juga mereka yang mendengar penuturan Varen barusan.


“Ya harus ada pemeriksaan lanjutan jika memang aku sangat mengkhawatirkan hal tersebut---“


“Berarti Val akan melakukan MRI dan CT Scan besok?...”


Mom Ichel menukas ucapan Varen.


Varen manggut-manggut kecil kemudian.


“Tapi lihat dulu kondisi Val jika memang dia memungkinkan untuk melakukan MRI dan CT Scan besok.”


Varen berucap kemudian, dan mereka yang bersamanya itupun manggut-manggut kecil sepertinya tadi.


“Celine sih mengatakan padaku agar jangan khawatir yang berlebihan dulu, karena Val yang sepertinya mengalami ingatan yang pendek saat ini karena efek komanya selama kurang lebih enam bulan...”


“Bisa jadi seperti itu.”


Poppa angkat suara lagi.


“Saat kau membantunya untuk duduk tadi, Val baru sadar dari koma kurang dari satu jam. Ada kemungkinan dia masih linglung.”


Ucapan Poppa barusan kemudian diangguki Varen dan semua orang yang sedang berkumpul dengan pria yang memiliki perawakan paling besar diantara para pria lainnya dalam Klan The Adjieran Smith.


“Kan Celine sudah memperingatkan untuk tidak terlalu sering mengajaknya bicara dulu?” ucap Poppa lagi. “Biarkan dulu Val tenang. Mungkin otaknya masih belum sinkron dengan apa yang terjadi. Ingat, hampir enam bulan dia tertidur. Otaknya juga pasti sedang mengurutkan puzzle ingatan yang dia punya---“


“Poppa benar...” tukas Daddy Dewa. “Sebaiknya kita juga jangan terlalu khawatir secara berlebihan. Bersyukur saja Val dalam kondisi tanpa kecacatan fisik pasca ia tersadar dari koma, seperti kelumpuhan yang biasanya terjadi pada mereka yang mengalami kondisi sama dengan Val. Toh hasil tes darah Val, juga sudah dinyatakan jika darahnya bersih dari segala racun, bukan? Jadi seperti yang Poppa katakan, macam orang yang baru saja bangun tidur, nyawa Val belum terkumpul sempurna hingga membuatnya masih agak linglung---“


🌷


Di sisi lain kastil, Val masih tertidur di atas ranjang perawatan pada ruang rawat intensifnya.


Pintu ruangan tersebut tertutup rapat, namun ada seseorang yang berdiri tegak di depannya sambil memandangi pintu ruang rawat Val itu, selain dua orang bodyguard yang berdiri sigap di sisi kanan dan kirinya.


“No.” Adalah Kafeel seseorang itu.


Yang menahan salah seorang bodyguard yang hendak membukakan pintu ruang rawat Val saat Kafeel mendekat ke sana.


“I just want to stay here ( Aku hanya ingin berdiam di sini )”


🌷


Bodyguard yang sedang berjaga di sisi ruang rawat Val itupun mengangguk setelah mendengar ucapan Kafeel.


Dan seperti yang Kafeel katakan, dia tetap diam berjarak dari sebuah pintu besar kembar ruang rawat Val selama ini. Menahan rindu untuk seseorang di dalam yang belum bisa ia temui.


Namun Kafeel tak kisah. Hati kecilnya pun masih sedikit belum siap untuk bertemu Val karena Kafeel memiliki pikiran jika Val akan mengusirnya ketika ia muncul dihadapan gadis kecil tercintanya itu.


Kafeel akan sabar menunggu saatnya ia dipertemukan oleh Val. Karena janji dari Varen dan para pria lainnya dalam  Klan The Adjieran Smith yang merupakan para pria yang konsisten dengan kata-kata dan janji mereka, pastinya akan mereka tepati.


Dan Kafeel meyakini hal tersebut.


Jadi meski rindu sudah menggulung lagi, meskipun sudah dua bulan dia berada dekat sekali dengan Val, Kafeel akan bersabar untuk saatnya nanti ia bertatap muka dengan Val.


Untuk Memohon maaf secara langsung----dan jika boleh Kafeel bermimpi, Val akan merentangkan tangannya untuk menyambut Kafeel dalam pelukan. Kafeel mengulum senyumnya. Membayangkan hal yang dia bayangkan saat ini akan terjadi nanti saat dia sudah bertatap muka dengan Val.


🌷


Yang menyunggingkan senyuim spontan, lalu melangkah mendekati Kafeel. “Kau sudah tak sabar untuk bertemu dengan Val, hem?”


Adalah Papa Lucca, satu Dad yang menghampiri Kafeel itu.


Dimana Kafeel yang sedang melamun sambil berdiri menatap pintu ruang rawat Val itu langsung terkesiap.


Kemudian Kafeel langsung juga melempar senyum pada Papa Lucca yang sudah merangkul pundaknya seraya ia menoleh. “Begitulah, Pap...”


Kafeel pun menjawab terkaan Papa Lucca.


Penguasa sebagian besar Italia itu tersenyum menanggapi jawaban Kafeel.


“Tapi kau menunggu dulu, Boy. Karena selain Celine observing kondisi kesehatannya, lalu kita harus menunggu hasil observasi itu di setiap harinya, kami pun memperhatikan juga kondisi emosi Val dan memikirkan bagaimana reaksi awal Val saat melihatmu.Tak apa bukan?”


Papa Lucca lalu berujar.


“Sangat tidak apa-apa, Pap. Kalian pertimbangkan saja dulu bagaimana baiknya. Aku akan mengikuti apapun yang kalian katakan. Kesehatan Val lebih penting. Dan aku punya waktu seumur hidup menunggu untuk bertatap muka dengannya..."


Kafeel pun menanggapi ucapan Papa Lucca padanya itu.


Dimana Papa Lucca kemudian tersenyum teduh pada Kafeel sambil menepuk-nepuk pundak pria itu.


“Dan semoga saja Val tidak langsung mengusirku saat ia melihatku nanti.”


Papa Lucca tersenyum geli, selayaknya Kafeel yang sedikit berkelakar. “Well, jikapun itu terjadi. Kau harus menerimanya dengan lapang dada...”


“Pasti, Pap---“


🌷


“Dad.”


Atensi dua orang yang sedang bercakap di depan pintu ruang rawat Val itu kemudian teralih saat pintu tersebut terbuka dari dalam.


Kafeel langsung menyapa Dad R yang muncul ketika pintu itu terbuka. Dan Dad R pun langsung mendekati Kafeel yang sedang bersama dengan Papa Lucca itu.


“Bagaimana keadaan Val, Dad?---“


“Stabil.”


Kafeel langsung mengucap syukur setelah mendengar jawaban Dad R.


“Ada siapa di dalam?---“


“Hanya Ara dan Hana,” tukas Dad R menjawab pertanyaan Papa Lucca.


“Aku ingin melihat Val---“


“Sekaligus bisa kau temani Ara dulu sebentar? Aku ingin memanggil The Kiddos untuk gantian menemani Val, karena Ara nampak lelah dan aku perlu mandi...”

__ADS_1


“Okay.”


Papa Lucca mengiyakan permintaan Dad R.


“Biar aku saja yang memanggilkan Kiddos, Dad.”


Kafeel mengajukan diri setelah Papa Lucca masuk ke dalam ruang rawat Val.


“Dad langsung aja ke kamar Dad untuk mandi,” sambung Kafeel.


“Tak usah...” ucap Dad R. “Aku sendiri yang harus menemui para bocah tengik yang akan menjaga Val untuk memberikan mereka peringatan untuk menahan mulutnya sebelum satu saudarinya itu betul-betul membaik. Karena jika tidak, mereka bisa saja mengajak Val mengobrol semalaman...”


Selanjutnya Dad R sedikit mengoceh, dan Kafeel tersenyum geli karenanya.


“Val sedang tertidur.”


Dad R lalu berucap lagi.


“Masuklah jika kau ingin melihatnya.”


Lalu ucapan Dad R berikutnya membuat Kafeel menjadi sedikit terkejut.


“Aku boleh melihatnya, Dad?...”


Kafeel lalu memastikan ucapan Dad R yang barusan memberikannya ijin untuk masuk ke ruang rawat Val.


“Kau hanya masih ditahan untuk bertatap muka dengan Val sampai kondisinya stabil. Setidaknya setelah ia tidak nampak seperti orang bingung lagi. Karena kami mempertimbangkan perasaannya serta kestabilan emosinya juga jika bertemu denganmu.”


Dad R berujar tenang, dan Kafeel langsung mengangguk paham.


“Tapi tidak ada yang akan menahanmu jika kau ingin melihatnya saat Val sedang tertidur.”


Dad R berujar lagi.


“Sana masuklah. Nanti Val keburu bangun, dan aku yakin kau sulit tidur jika belum melihatnya.”


“Makasih, Dad...”


Kafeel pun sumringah, dan langsung masuk dengan bersemangat ke ruang rawat Val.


Namun Kafeel tetap memperhatikan jarak tempatnya untuk melihat Val yang hanya dari luar ruang intensif Val yang tersekat oleh beberapa kaca.


Tapi hal itu sudah cukup untuk menekan kerinduan Kafeel pada Val selama beberapa jam terakhir. Karena sedari Val sadar dari koma, Kafeel lalu amat sangat menjaga jarak dari gadis tercintanya itu.


🌷


Selama kurang lebih tiga hari, Kafeel curi-curi memandangi Val saat gadis itu tertidur sehabis melakukan pemeriksaan yang dilakukan bertahap pasca Val terbangun dari ‘tidur panjangnya’.


Val sendiri baru terlihat lebih fit setelah di hari kedua pasca bangun dari komanya.


Hingga pemeriksaan lebih terperinci baru bisa dilakukan di hari tersebut. Lalu di hari ketiga, Val sudah lebih aktif untuk berkomunikasi.


“Aku bosan duduk di kursi roda. Tapi tubuhku masih kadang limbung kalau berdiri---“


“Iya makanya banyak makan biar stamina kamu balik lagi, terus bisa lari-larian di luar kastil.”


Adalah Rery yang menanggapi ucapan Val ketika satu saudarinya itu baru selesai melakukan pemeriksaan lanjutan di sebuah ruangan khusus di luar ruang rawatnya.


Val mengulum senyumnya setelah mendengar ucapan Rery.


“Ya makanya itu, aku ingin segera bisa pulih, karena aku ingin berjalan-jalan dan melihat sekeliling pulau rahasia Abang ini.”


Val kemudian merungut dan berkesah. Varen dan Rery yang bersamanya serta dua orang lainnya tersenyum menanggapi kesahan Val itu.


“Kalau hanya ingin melihat-lihat di luar kastil dan sekitar Little Star Island, sekarang pun bisa tanpa harus menunggu kamu bisa berjalan dengan normal kok, Val.”


Varen angkat suara kemudian.


“Benar bisa, Abang?!” seru Val sumringah.


Varen mengangguk mengiyakan.


Val nampak lebih sumringah setelah melihat anggukan Varen, bahkan gadis itu sampai bertepuk tangan kecil. Dan Varen serta tiga orang yang bersamanya itu tersenyum bahagia melihat Val sudah perlahan kembali kepada Val yang biasanya ceria itu.


“Abang...”


Val memanggil Varen kemudian yang sudah mendorong kursi rodanya.


“Ya?...”


“Apa Val sakit parah?...”


“Tidak. Kamu dibawa ke sini karena kamu koma dan butuh perawatan intensif. Itu saja.”


“Kenapa Val tidak dibawa ke rumah sakit?...” tanya Val lagi.


“Pertama, kami ingin menghindari wartawan di London yang pasti bertanya kenapa kau bisa koma. Kedua---“


“Oh iya, Val sudah mendengar beberapa kali jika Val ini koma. Memang, kenapa Val bisa koma?...”


“Kamu tidak ingat?”


“Tidak...”


Lalu Varen terdiam sesaat.


“Abang...” Kemudian Varen terkesiap saat Rery berbisik di telinganya.


“Apa?”


“Ada Kak Kaf di halaman depan...”


‘Kak Kaf?...’


Val membatin ketika ia mendengar ucapan Rery yang berbisik di telinga Varen.


Karena saat Rery berbisik pada sang Abang, Varen menjeda dorongannya pada kursi roda Val sebelum menanggapi Rery yang memanggilnya,


Dan Val mendengar ucapan Rery yang menyebut satu nama tadi, kemudian Val memegangi dadanya.

__ADS_1


🌷🌷


To be continue...


__ADS_2