
( ACAK )
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, England,
“Eh ini cairan apa Ann, warnanya lucu sekali?“
Ada Val yang sedang bersama Ann di satu bagian mansion utama mereka yang berada di London tersebut – hitungannya.
Dimana satu bagian itu walaupun masih dalam area mansion, namun letaknya ada di bawah tanah, tersembunyi dan rahasia untuk orang luar.
“Harum juga....” ucap Val lagi dengan fokusnya masih pada benda cair berwarna fuschia dalam wadah yang menarik minatnya itu. “Kamu membuat formula untuk parfum juga kah? –“
Sambil Val membuka tutup wadah yang berisikan cairan yang sangat membuatnya tertarik itu, dimana ia juga mengendusi aroma cairan dalam wadah kaca tersebut – yang sepertinya khusus, karena letaknya yang terlihat dispesialkan oleh Ann.
“Don’t touch it Val! ( Jangan sentuh itu Val! )”
Ann yang tak lama menyadari jika Val sedang geratak setelah kalem sebentar itu segera menoleh dan memekik sembari juga ia berjalan dengan langkah lebar mendekati Val.
“Hish tangan kamu ini,” gerutu Ann dengan tangannya yang cepat menggeser Val, sambil juga Ann sambar wadah kaca yang sudah dipegang oleh Val dan langsung Ann tutup dengan cepat. Kemudian Ann meletakkannya kembali ke tempat wadah kaca itu berada sebelumnya. “Cepat wash your hand (cuci tangan kamu)”
Ann menggeret Val untuk pergi ke sebuah wastafel yang ada di dalam ruangan yang disebut ‘lab’itu.
“Jangan sampai cairan itu masuk ke tubuh kamu.” Ann terus mengoceh sambil meletakkan tangan Val di bawah kran wastafel otomatis, kemudian menuangkan sabun antiseptik cair lumayan banyak ke kedua tangan Val yang ada tepat di kucuran kran wastafel.
“Tapi kan aku tidak menyentuh cairan lucu tadi, Ann?”
Val berucap, sambil memandangi Ann yang membantu mencuci tangan Val.
“Tetap aku tidak mau mengambil resiko-“
“Mana ada resikonya sih, kalau aku hanya menyentuh wadah dan tutupnya saja??” Val dengan komentarnya.
Namun didetik berikutnya ekspresi Val berubah horor.
“Astaga aku tadi menghirup aromanya! Apakah hawa cairan itu beracun? Oh Tuhan Ann! Aku tidak mau mati cepat! Nanti aku batal menikah dengan Kak Kafeel! AAAA!! ..”
Val histeris kemudian, tapi Ann malah terkekeh. “Itu bukan gas beracun lah .. kamu tidak lihat kalau itu berbentuk cairan? ..kalau itu gas beracun wadahnya tidak jernih seperti itu-“
“Haaahh syukurlaah ..” Val menarik nafas dengan leganya, sambil tangannya dikeringkan dengan handuk kecil oleh Ann. “Tapi kenapa kamu terlihat panik sekali?” tanya Val saat Ann menotolkan alkohol dengan media kapas disekitar telapak dan punggung tangan Val.
Lalu Val bertanya kemudian.
Dimana Ann lekas menjawab sambil ia melepaskan atribut lab yang ia kenakan.
“Aku hanya mencegah jika ada bekas cairan itu yang mengendap di bagian luar wadah kaca tempatnya yang mungkin bisa masuk ke tubuh kamu, karena efeknya tidak baik.”
“Racun? ..”
“Entah-“
“Bagaimana sih Ann, masa penemuan kamu sendiri kamu tidak tahu?”
“Ya memang aku tidak tahu harus menyebutnya apa-“
“Kenapa begitu?” tukas Val, lalu Ann menghembuskan nafasnya.
“Kemarilah-“
“Eh, kenapa tikus lucu ini?”
“Itu hamster lah Val-“
“Oh ya? ..... habis warnanya putih polos seperti itu-“
“Haish. Dari telinganya saja sudah jelas berbeda Val-“
“Dia sakit?”
“Semua organnya normal, tapi dia seperti mati.”
“Oh Tuhan Ann, apa kamu sedang membuat virus zombie??”
Didetik dimana Ann terkekeh geli selepas ucapan polos Val.
“Stupido. Itu hanya ada dalam film!-“
“Haahh, aku pikir kamu sudah gila menciptakan virus zombie.”
“Otak kamu yang suka terlewat jauh berpikiran, Val.”
“Jadi hamster lucu ini kenapa?”
“Akibat cairan tadi ..” jawab Ann.
“Jadi hamster tidak berdosa ini korban eksperimen kamu?” Val berkomentar seraya bertanya lagi.
“Ya kalau menggunakan tikus percobaan aku rasa kurang akurat saja.”
“Lalu?-“
“Tapi dia malah tidak sadarkan diri.”
“Lalu kenapa kamu tidak buat obat penawarnya?”
“Ingin aku seperti itu, tapi terus gagal. Aku sudah mencoba opsi lain tapi tidak bisa membangunkan hamster kecil ini. Makanya aku khawatir ada jejak yang mengendap di gelas kaca tadi lalu menempel di tangan kamu dan ada cairannya yang masuk lewat mulut dan nasib kamu akan seperti hamster ini..”
Ann menjawab dengan panjang pertanyaan Val.
__ADS_1
“Tapi dia okay kan? Hanya tertidur saja?..”
“Iya okay memang, tapi dia sudah tertidur selama dua bulan hanya karena satu mili cairan tadi.”
Ann memandangi cairan itu.
“Aku sulit menemukan apa itu sebenarnya sampai dengan detik ini, makanya aku diamkan saja cairan itu dulu, sampai nanti aku dan Re –An selesai dengan olimpiade sains yang akan kami ikuti, dan penemuan yang terbaruku ini juga selesai – yang mana lebih mudah dipahami.”
“Pusing aku mendengarnya Ann.”
Ann tersenyum geli kemudian selepas Val berucap barusan.
“Ya sudah ayo. Kita kembali ke mansion.”
“Tapi apa tanganku sudah dipastikan steril Ann?”
“Iya sudah,” jawab Ann.
“Benar ya? .... jangan sampai aku jadi snow white loh?”
Ann terkekeh. “Makanya mind your hands (tangannya jangan geratak)-“
“Siapa suruh kamu membuat eksperimen aneh – aneh?” gerutu Val, dan Ann terkekeh lagi.
“Pokoknya kamu jangan pernah lagi menyentuh apa yang ada disini, terutama formula tadi.”
“Okay Little Devil!”
♥♥♥♥♥
Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia,
Melipir kesindang dulu.
“Op – pa Pa – Pi....” Ada bocil menggemaskan yang merentangkan tangannya kepada salah seorang kakeknya, dari dalam gendongan seorang wanita yang adalah baby sitter si bocil laki – laki yang merupakan anaknya Varen dan Andrea.
Putra.
“Oh come here handsome boy ( Kemarilah bocah tampan )” Dia yang Putra panggil dengan Opa Papi itupun segera meraih Putra dari gendongan baby sitternya.
Yang mana Opa Papi itu adalah sebutan Putra untuk Papi John.
“Drea dan Varen mana? ....”
Opa papi alias Papi John itu bertanya pada baby sitternya Putra.
“Tuan Muda Alvarend ada di gym bersama Tuan Muda Jonathan. Sementara Nyonya Muda Andrea masih di kamarnya Tuan.”
“Ya sudah –“ ucap Papi John.
“Belenang ..” tukas Putra yang memotong percakapan Papi John dan baby sitternya Putra tersebut.
“Later ( Nanti ), little boy ..”
Ucapan Papi John membuat Putra merengek. Yang kemudian menggendong Putra dengan mendudukkan anak Varen dan Andrea itu di atas bahunya. Lalu menyuruh babysitter Putra untuk pergi sarapan, sementara Putra ia pegangi.
“Awas encok Pih ...”
Ada Aro yang kemudian terdengar suaranya, berikut orangnya yang sudah berada didekat Papi Joh yang menggendong Putra, dimana Aro telah nampak rapih dengan seragam putih abu.
“Inget udah tua ... joged-joged sambil gendong Putra begitu, kepelitek entar itu tulang rawan yang udah kropos.”
Papi John pun langsung melotot tajam pada anak sulung kandungnya yang hanya berbeda lima menit dengan saudarinya, anak bontotnya Papi John dan Mami Prita.
“Sembarangan saja kau bicara bocah tengik!”
Lalu membalas ucapan Aro yang berupa ledekan itu dengan ketus.
“Jangankan menggendong Putra, menggendongmu di atas pundakku pun aku masih kuat. Sembarangan saja kau mengataiku! –“
“Wa elah sensi amat aki – aki,” ledek Aro.
TAKK!
Satu sentilan mendarat dengan tajam di dahi Aro dengan cepat dari satu tangan Papi John yang bebas.
Sementara satu tangan Papi John yang lain memegangi Putra yang tertawa melihat adegan barusan. “Dasar bocah tengik!” rutuk Papi John pada Aro.
Dimana Aro terkekeh kemudian.
“Ocah te – ngik, ngik.”
Lalu terdengar kalimat rutukan Papi John pada Aro sebelumnya, ada yang mengulang – yakni Putra. Hingga membuat Papi John dan Aro terkekeh geli bersama pada akhirnya.
♥♥♥♥♥
“Om Alo belenang,” cicit Putra pada satu om nya itu, sambil kini Putra memberikan gestur jika dia ingin digendong Aro setelah tidak diiyakan keinginannya yang tadi sempat Putra rengekkan lagi ke Papi John.
“Yah, Om Alo kan mau cekolah ....“ ucap Aro yang menanggapi Putra dengan suaranya menirukan gaya bicara Putra yang masih agak cadel, namun sudah lancar.
“Bawa ke papapnya saja sana.” Papi John berucap, sambil ia memberikan Putra pada Aro.
“Siap Bos ..” sahut Aro yang menerima Putra dengan senang hati, walau ia telah rapih dengan seragam sekolahnya.
“Ciap Bos ..”
Sekali lagi ada kalimat yang Putra ulang dari omongan dua orang gede yang bersamanya itu, hingga membuat Papi John dan Aro gemas.
“By the way, Aro .. Kau lihat Mami mu?-“
“Di dapur,” tukas Aro menjawab pertanyaan Papi John sambil ia berjalan dengan menggendong Putra untuk menyambangi Varen di ruang gym.
♥♥♥♥♥
__ADS_1
Papi John melangkahkan kakinya menuju dapur dimana wanita yang ia cari ada disana - kata Aro.
“Sugar,” panggil Papi John pada si wanita yang ia cari – sang kekasih hati, teman hidupnya selama kurang lebih dua puluh tahun belakangan.
“Yes My Darling? ..”
Dia yang Papi John panggil ‘Sugar’ pun, yang adalah Mami Prita - menyahut dengan centilnya.
“Semalam aku sudah bilang belum kalau hari sore nanti aku mau ke Bandung?”
Mami Prita yang sedang membuat sarapan bersama dua art dan satu Mom lainnya itu mengangguk.
“Iya udah .. nanti aku siapin pakaian gantinya,” jawab Mami Prita.
“Siapkan dua pasang setelan formal, dua pasang setelan casual juga ya? –“
“Banyak amat, Pih? .. bukannya besok siangnya udah balik kesini? ..”
“Besok malam baru aku kembali dari Bandung, Sugar. Atau juga lusa pagi. Ada dua acara yang mau aku hadiri disana –“ ucap Papi John.
“Ikut ya kalo gitu? –“ cetus Mami Prita. “Papi sayang, ajak aye jalan – jalaan ..” yang orangnya nyanyi kemudian. “Aye udah bosen pegang panci penggorengan ..”
Membuat mereka yang sedang ada bersama si Mami ceriwis itu cekikan. Seperti biasa, kalau yang udah urusan dengan Mami Prita dan kakak ceweknya – mereka yang ada disekitar keduanya, bisa merasakan perut kegelian.
♥♥♥♥♥
“Ya? Ikut ya Pih? ...”
Meninggalkan dulu mereka yang belia, yang sedang berbahagia hatinya – ini ada Mami Prita yang setelah sarapan pergi ke kamar untuk menyiapkan pakaian suaminya seraya ia sedang membujuk agar diiyakan untuk ikut serta.
Dalam urutan menantu perempuan garis para Daddy, Mami Prita memang yang paling muda usia. Yang mana terpaut cukup jauh rentang usianya itu dengan Papi John, hingga terkadang sikap manja Mami Prita pada si Papih pun tak kalah dengan para perempuan belia.
“Cuma dua hari dua malam aja, Sugar. Dan lagi cuma ke Bandung?” jawab Papi John.
“Ya kan lumayan buat refreshing, Bandung juga, Pih?-“
“Kan baru dari Singapore juga kita. Kamu juga udah puas jalan – jalan, shopping disana, bukannya?”
“Ya kan udah mau lewat dua minggu, Pih?” cebik Mami Prita. “Gabut kan eike?”
Papi John mendengus geli. “Gabut dari mana? Kan kamu juga sibuk bolak – balik studio untuk persiapan acara festival tahunan kita? –“
“Anak – anak udah oke. Lagian ada Drea, sama Isha juga yang bantu disana,” tukas Mami Prita. “Ikut ke Bandung, Piiiih, Yaa??? ..”
Mami Prita mulai merengek, dan Papi John tersenyum.
“Tega amat sama istrinya?” masih merengek si Mami. “Ajak kemana kek, sibuk banget perasaan dari sejak kita pulang dari Singapur kamunya, Pih.”
Papi John tersenyum lagi. “Ya mau gimana, ada tanggung jawab aku sama keluarga ini, sama kamu, sama Aro dan Isha untuk mempertahankan masa depan yang layak untuk kita semua. Nanti kalau Aro dan Isha serta semua anak – anak kita siap menggantikan kami para Dad selain Abang dan Nathan, baru aku bisa bersantai lama – lama, Sugar.”
“Iya, sih ...” sahut Mami Prita. “Tapi lagi pengen jalan – jalan ini Pih, akunya ... udah lama juga kan kita ga ngabisin waktu berdua jalan – jalan romantis gitu? Nambah kemesraan, Pih ...”
“Nanti kita bicarakan lagi sepulang aku dari Bandung? –“
“Ck. Ajak aku jalan aja susah amat. Stress istrinya entar, tau rasa!” Mami Prita bangkit dari posisinya.
Merajuk, konon.
“Haish, Sugaarr –“
Makanya diiyain aja sih Pi?
Ajak kek si Mami ke Emol, ajak ke Pasar juga die girang.
“Ya sudah iya, aku usahakan pulang dari Bandung cepat dan malamnya kita candle light dinner, okay? ....”
“Nah gitu doong. Baru itu namanya suami idaman karena selalu bikin istrinya bahagia!” Wajah Mami Prita sudah sumringah sekarang.
♥♥♥♥♥
Pagi tergeserkan oleh malam, masih di KUJ keluarga The Adjieran Smith.
“Tuan, Nyonya, ada Tuan Kafeel.”
Salah seorang art memberi laporan pada beberapa majikan yang sedang bercengkrama di ruang santai keluarga pada Kediaman Utama mereka yang berada di Jakarta tersebut.
“Mana orangnya? ---“
“Suruh langsung masuk aja, Rum.”
“Iya, Tuan. Tuan Kafeel sedang parkirkan mobilnya, Tuan.”
Art tersebut menjawab pertanyaan Varen sekaligus menanggapi ucapan Daddy Dewa.
Art bernama Arum tersebut undur diri setelah memberitahukan soal kedatangan Kafeel kepada beberapa majikan yang ada di ruang santai KUJ.
♥♥♥♥♥
Kafeel telah berada di tengah – tengah beberapa personel sultan dan sultanah The Adjieran Smith di KUJ mereka. Sebuah topik pembicaraan tengah sedang dibahas dengan santai, sejak beberapa belas menit yang lalu.
“Jadi udah fix nih?” ucap Varen seraya bertanya.
“Insya Allah udah.”
Kafeel menjawab santai namun yakin.
“Oke, sepertinya kita harus segera booking MUA ---“
“Bufi apa Anha?” tukas Mom Ichel atas celetukan Mama Jihan seraya bertanya.
“Mana aja. Val cocok kok sama keduanya,” timpal Mami Prita. "Tapi kalo dua - duanya bisa yang sekalian aja booking keduanya," tambah Mami Prita. "Salah satu tim nya bisa buat kita orang."
“Oke, aku hubungi mereka berdua,kalau begitu ---“
__ADS_1
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
To be continue ....