HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
DARI VAL # 2


__ADS_3

( PS : Kalau mau membubuhkan LIKE, mohon setelah selesai baca episodenya yah?. Jangan kasih LIKE duluan ) – Thank you.


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, England......


“Kak Achiel, Ini,”


Ada Val yang sedang mengulurkan tangannya yang memegang sebuah kunci kepada Achiel yang Val minta untuk menemuinya di garasi depan mansion megah milik keluarga Val yang bertempat di London tersebut.


“Nona ingin keluar dengan menggunakan mobil pribadi Nona?—“


“Tidak,”


“Lalu? Apa mobil Nona bermasalah dan ingin saya mengeceknya?”


“Val tidak paham tentang mesin mobil. Dan lagi, Val jarang sekali menggunakan mobil Val itu...”


🎑


“Mobil ini untuk Kak Achiel,“ ucap Val pada Achiel yang terdiam saat Val menimpali ucapannya dengan selorohan, dimana ucapan Val itu membuat Achiel sedikit tercengang tidak percaya.


“Heu?—“


“Terima kasih, sudah baik sekali pada Val selama ini.”


Val berucap lagi, sambil tangannya masih terulur ke arah Achiel yang bergeming di tempatnya sembari menatap Val.


“Ambillah, Kak. Val serius.”


“Dengan tidak mengurangi rasa hormat, Nona Muda Valera...”


Achiel bersuara.


“Maaf, tetapi saya tidak bisa menerimanya—“


“Karena second ya, Kak?...”


Val menukas ucapan Achiel.


“Tidak Nona, sama sekali bukan karena itu—“


“Kalau begitu terimalah, Kak...” Val memaksa.


“Tidak, Nona...”


Dan Achiel pun juga tetap memberikan penolakannya.


🎑


“Jika Kak Achiel sungkan menerimanya karena takut dimarahi keluargaku, Kak Achiel jangan khawatir karena aku telah mengatakan pada mereka jika aku ingin memberikan mobilku pada Kakak dan mereka telah mengijinkannya—“


“Walaupun begitu, Nona—“


“Terimalah Kak, anggap saja ini hadiah ulang tahun dari Val untuk Kakak.”


Val menukas untuk kembali memaksa Achiel untuk menerima pemberiannya.


“Sekali Nona Muda Valera... saya tidak bisa menerimanya... ini—“


“Karena mobil bekas kan?” tukas Val. “Kalau begitu Val akan menghubungi showroom tempat Val membeli mobil ini dan menukarnya dengan yang baru, ya?”


“Jangan!” Achiel menyergah dengan cepat ketika Val kemudian mengangkat ponselnya seperti hendak menghubungi seseorang.


Val pun mengurungkan niatnya untuk melakukan panggilan telepon dengan ponselnya.


“Kalau begitu, terimalah kunci ini berikut mobilnya...” ucap Val dengan senyum kemenangan , sambil meletakkan dengan paksa kunci yang ia pegang ke telapak tangan Achiel yang telah ia raih.


“Tapi, Nona...”


Achiel berucap ragu.


"Val hanya memiliki satu mobil ini saja, karena Kak Achiel kan tahu sendiri jika Val tidak hobi berkendara. Jadi Val tidak seperti lainnya yang memiliki lebih dari satu kendaraan, kecuali Ares dan Aina--"


"Iya saya mengerti Nona, Tapi..." gugu Achiel.


Bukan perkara mobil yang terhitung second yang Val berikan padanya----yang merupakan mobil pribadi satu nona muda yang dikhususkan untuk ia jaga dalam bagian tugasnya.


Toh walaupun second, tapi kondisi mobil tersebut masih seperti baru karena memang Val adalah yang paling jarang berkendara dengan mobil pribadinya itu diantara para saudara-saudarinya yang lain selain Aina dan Ares.


Achiel justru merasa tidak pantas untuk menerima mobil yang harganya puluhan milyar itu, walaupun hitungannya adalah mobil bekas pakai Val.


“Terima, ya, Kak Achiel? Val benar-benar ingin memberikannya pada Kakak...” tutur Val dengan tersenyum lembut pada satu bodyguard khususnya itu. “Juga...”


Val mengulurkan kembali tangannya ke arah Achiel.


“Selamat ulang tahun ya, Kak?—“


“Makasih, Nona Muda Valera—“


“Maaf Val terlambat mengucapkannya...”


Val berbicara di saat yang bersamaan dengan Achiel yang berterima kasih pada satu nona muda yang dengan enteng sekali memberikannya mobil seharga puluhan milyar sebagai ulang tahunnya.


Bekas memang hitungannya, tapi bekasnya ini mobil Val bisa beli rumah mewah di Jakarta, masih ada lebihnya pula. Bisa jadi juragan kos-kosan ga tuh kalo Achiel jual itu mobil terus beli rumah gedong?.


Makanya Achiel sungkan menerima.


‘Kayaknya gue harus ngomong sama para Tuan Besar soal Nona Muda Valera yang ngasih gue mobilnya ini. Takutnya ni nona bocil lagi ngelindur, atau saking tertekan karena si kampret Kafeel Adiwangsa itu yang bikin satu nona gue ini kacau balau!----makanya tau-tau Nona Muda Valera kasih ini mobil ruar biasa mewahnya buat gue yang ga ada pantes-pantesnya naek ini mobil perasaan.’


Monolog Achiel dalam hatinya.


“Val baru ingat semalam kalau kemarin lusa Kak Achiel ulang tahun... Maaf ya?”


Achiel mengulas senyumannya pada Val, seraya ia menggeleng pelan.


“Dengan Nona Muda Valera mengingat ulang tahun saya saja, saya sudah sangat berterima kasih, Nona...” ucap Achiel kemudian. “Jadi Nona Muda Valera tidak perlu meminta maaf karena telat mengucapkan selamat ulang tahun pada saya... Orang saya sendiri saja lupa ulang tahun saya, Nona.”


Val sontak terkekeh setelah kalimat terakhir Achiel.


“Kak Achiel selalu saja sering membuat perut Val terasa geli,” ucap Val kemudian, yang membuat Achiel pun tersenyum lebih tinggi.


Karena sedikit banyak, ada rasa lega di hati Achiel dapat melihat satu nona muda yang paling sering ia jaga dengan khusus itu dapat kembali tertawa setelah Achiel sempat betapa parah keterpurukan satu nona mudanya itu.


“Nona Muda Valera... Jangan sedih lagi, ya?...” ucap Achiel tulus. “Nona... pasti bisa menemukan kebahagaiaan yang baru...”


“Iya, Kak,” jawab Val. “Terima kasih sudah perhatian pada Val...”


Sembari Val tersenyum lembut.


“Kak Achiel sehat-sehat yah?...”

__ADS_1


“Doa yang sama untuk Nona juga.”


Val mengangguk dengan masih mengulas senyumannya.


“Maafkan Val ya, Kak? Jika selama ini Val merepotkan Kakak.”


Achiel tertegun, ketika mendengar ucapan Val barusan. ‘Kok gue ga nyaman ya denger Nona Valera ngomong begitu?’ kata Achiel dalam hatinya sambil memperhatikan Val.


“Sekali lagi, terima kasih, sudah baik sekali pada Val selama ini,” ucap Val lagi dan Achiel mengangguk.


“Iya, Nona Muda Valera. Sama-sama... Terima kasih juga karena anda sangat baik pada saya selama ini...”


Val mengangguk dengan tetap tersenyum pada Achiel.


“Kalau begitu Val permisi dulu ya?...”


“Iya, Nona Muda Valera,” jawab Achiel. “Sekali lagi, terima kasih banyak.”


Val kembali mengangguk.


“Iya, Kak. Sama-sama. Bye, Kak Achiel. Sekali lagi terima kasih—“


“Iya, Nona...”


Achiel menjawab ucapan Val yang tak lama berbalik pergi ke arah dalam mansion melalui pintu penghubung yang ada di garasi depan hunian mewah dan megah tersebut.


‘Kenapa gue kok rasanya jadi melow ngeliat Nona Muda Valera melambai begitu ke gue, ya?...’ batin Achiel yang merasakan perasaan tidak biasa di hatinya sambil ia memandangi Val yang telah berjalan pergi menjauh darinya itu.


🎑


“Mama!—“


“Hey, Baby—“


“Mama hendak kemana?...”


“Green house.”


Adalah Mama Fabi yang ditemui Val ketika ia masuk ke dalam mansion selepas bertemu dan berbicara dengan Achiel yang Val berikan sebuah mobil, yang adalah mobil pribadi Val.


“Alone?”


“Momma, Mom Ara, Gamma and Oma already at there ( sudah ada di sana )”


“Boleh Val ikut serta ke Green House?”


“Sure, Baby. Why not?...” jawab Mama Fabi yang sudah paham bahasa Indonesia itu.


🎑


Val sudah berada di sebuah tempat dimana banyak bunga aneka rupa yang dibudidayakan di dalamnya. Sebuah tempat pada mansion megah The Adjieran Smith yang mereka sebut sebagai green house, yang mana adalah satu tempat para Moms berikut Nenek untuk menghabiskan waktu mereka jika sedang tidak kemana-mana.


Satu tempat lain dimana para orang tua dan tetua wanita biasanya lakukan untuk menghilangkan bosan, selain dari banyak hal yang para orang tua dan tetua wanita itu biasa lakukan bersama.


“Moms! Gams! Oma!...” sapa Val pada empat orang yang sedang nampak melakukan hal berbeda di dalam green house di mansion megah mereka itu.


Dimana ke empatnya langsung mengulas senyuman ketika melihat Val datang ke tengah-tengah mereka itu. “Eh, Val. Udah ketemu Achiel?...” ucap Oma Anye yang juga bertanya dimana, pertanyaannya itu lekas dijawab Val dengan anggukkan antusias.


“Sudah, Oma,” jawab Val kemudian.


“Gamma yakin kalau Achiel tidak mau menerima mobil pemberian kamu itu...”


“Iya, Gamma betul sekali.”


“Mungkin kamu sebaiknya belikan saja mobil yang baru untuk Achiel kalau memang ingin memberikannya hadiah ulang tahun.”


“Kak Achiel lebih menolak lagi, Mom Peri—“


“Terus jadinya gimana?...”


Momma ikutan bersuara.


“Tetapi akhirnya Kak Achiel mau menerima sih itu Bentley—“


“Syukurlah kalau begitu." Mommy Ara yang bersuara.


“Ngomong-ngomong Val kasih mobil Val ke Achiel, Val mau beli yang baru?”


“Iya, Momma...”


Sambil Val menarik sudut bibirnya.


‘Maaf karena Val berbohong...’ Val membatin lirih kemudian. “By the way, ada yang dapat Val bantu?...”


“Kemari, bantu Oma memetik bunga-bunga yang sudah mekar ini...”


Val pun mengangguk dan mendekati Oma Anye, kemudian melakukan hal yang seperti satu neneknya itu katakan.


‘Kak Kafeel ingat mawar-mawar ini?... Kakak memberikan Val bunga yang sama saat melamar Val di SIN dan di Kediaman.’


Val membatin sambil matanya memandang ke satu arah.


‘Aku tidak akan mengusir Kakak sekarang. Karena besok, Kakak sudah tidak dapat menggangguku lagi baik seperti saat sekarang ini, ataupun dalam mimpi. Jadi Val tidak akan merasakan sakit yang teramat lagi di hati seperti sekarang ini, dengan Kakak yang selalu muncul di hadapan Val atau saat Val ingin memejamkan mata----padahal Kakak sudah menghancurkan hati dan impian Val sebegitu parahnya...’


“Val?...”


🎑


“Val... Sayang?...” tegur Gamma sambil menyentuh bahu Val yang nampak aneh di matanya dan di mata empat orang lain yang bersama Gamma, karena Val nampak melamun. Namun Val nampak juga tersenyum sambil memandang pada satu arah, seolah ada orang di hadapannya.


“I-iya?...” Val terkesiap. “Maaf, Val tidak memperhatikan. Gamma ada meminta Val melakukan sesuatu?...”


Gamma tersenyum sambil mengusap lembut kepala Val.


Satu nenek Val berikut satu neneknya yang lain serta tiga Moms yang sedang bersama Val itu paham Val yang melamun, dan rasa-rasanya dapat menerka siapa yang sedang Val lamunkan.


“Kenapa kalian memandangi Val seperti itu?...”


Val berujar sambil menatap satu-satu lima orang wanita yang sedang bersamanya itu.


“Pasti kalian fikir jika Val sedang menangis ya?...” ucap Val dengan menampakkan senyumnya. “Tenang saja, Val tidak menangis kok... Lihat? Mata Val kering.”


Gamma, Mom Ara, Momma, Mama Fabi dan Oma Anye kompak tersenyum lembut kepada Val yang menampakkan jika dirinya ‘baik-baik saja’ itu. “It’s okay for not being okay, Sweety.”


Mommy Ara mengucapkan kalimat yang sarat makna pada Val, dimana empat wanita lainnya mengangguk mengiyakan ucapan Mommy Ara tersebut.


“Mom Peri benar, Sayang. Kalau Val masih ingin meluapkan sedih dan kecewa Val, silahkan. Momma, Mom Peri, Mama Fabi, Gamma dan Oma, tidak keberatan sama sekali mendengar keluh kesah Val. Luapkan aja semua. Kalau masih mau menangis, menangislah, jangan Val tahan karena bisa membuat dada Val sesak dengan berpura-pura kalau Val udah baik-baik aja padahal sebenarnya engga—“


“Momma was right, Baby. Crying when you still want to cry don’t hold it just because you don’t bear to see our sadness ( Momma benar, Baby. Menangislah sampai puas, jangan ditahan hanya karena kamu tidak tega melihat kami bersedih )”


“Iya, Sayang. Sedihnya kamu kan sedihnya kami juga, karena kita semua kan saling menyayangi serta saling memiliki satu sama lain?”


Val tersenyum mendengar tiap-tiap perkataan orang terkasihnya itu. ‘Dan aku tidak ingin melihat kalian bersusah hati terus-terusan menemaniku sampai kesedihanku ini hilang dan luka hatiku sembuh ini yang entah kapan membaiknya. Aku tidak sampai hati melihat kalian terus saja bersusah hati karenaku yang sering sekali merepotkan kalian ini—‘


“Val, jangan lagi simpan sedihnya sendiri, ya?...”

__ADS_1


“Iya, Gamma—“


“Janji?” Momma menimpali.


“Janji...”


Val menyahut.


“Val janji, kalian tidak akan melihat Val menangis lagi.”


‘Astagfirullah...’


Momma tiba-tiba beristigfar dalam hatinya.


Gelenyar aneh yang membuat tidak nyaman tahu-tahu Momma rasakan dalam hatinya.


“Kemari, peluk Mommy...”


Sesungguhnya, bukan hanya Momma saja yang merasakan ketidaknyamanan dalam hati yang enggan untuk dikatakan, agar tidak menimbulkan kekhawatiran.


‘Mungkin hanya perasaanku saja yang ikut terbawa kesedihan Val, jadi ada perasaan begini dalam hati.’


Begitu lima wanita beda usia selain Val berbisik dalam hati mereka masing-masing.


“Eh iya, tiga Dads dari enam Val yang tampan bukan main itu dimana?” tanya Val setelah ia selesai dipeluki oleh tiga Moms dan dua Neneknya.


“Sepertinya di ruangan ‘mainan’ mereka...” Mommy Ara yang menjawab pertanyaan Val barusan, dimana Val tahu ruangan yang Mommy Ara maksudkan.


🎑


“Halo tiga Dads tampannya Val dari tiga lain yang berada di Jakarta...”


“Masih betah berpura-pura, hem?...” Poppa yang bersuara, ketika Val datang ke tempat ia dan Dad R serta Papa Lucca berada.


Val tersenyum saja menanggapi cibiran Poppa padanya, yang sedang bersama dengan Dad R dan Papa Lucca di garasi tempat banyaknya koleksi mobil khusus diletakkan.


“Berhenti berusaha terlihat tegar, namun di dalam sini...”


Poppa merengkuh Val kemudian, lalu berucap sambil menunjuk ke dada kiri Val.


“Kau masih merasakan sakit dan nanti menangis diam-diam lagi...”


Satu Dad Val yang paling besar tubuhnya itu berucap frontal seperti selalunya.


Namun begitu, sebenarnya saat ini hati Poppa rasa tak tega melihat Val yang ia tahu dengan pasti----seperti halnya Dad R dan Papa Lucca merasa, jika Val semata-mata memperlihatkan seolah ia telah sembuh dari luka hatinya hanya untuk menyenangkan mereka.


“Poppa was right. Kami tidak ingin melihat kamu memaksakan diri,” timpal Papa Lucca. “FYI, bahu dan dada kami selalu siap sedia untukmu kapanpun kau membutuhkannya. Right Dad, R?”


🎑


“Daddy melamun?”


“Heu?...”


“Pasti Daddy semalam habis mesra-mesraan dengan Mom Peri ya? Jadi melamun?”


Dad R kemudian mendengus geli mendengar ucapan Val setelah ia terkesiap, karena sedang melamun itu.


“Sok tahu!...” ucap Dad R yang memencet gemas hidung Val yang kemudian terkekeh kecil.


“Love you, Dad. Muah!” ucap Val sambil memeluk erat Dad R, lalu melayangkan kecupan ke pipi ayah kandungnya itu dan melayangkan balik kecupan di pucuk kepala Val.


“Hanya Dad R saja yang kau berikan pelukan dan kecupan?—“


“Betul, kau tidak boleh pilih kasih.”


Papa Lucca menimpali ucapan Poppa.


Dimana Val dan Dad R terkekeh kecil bersama.


“Tenang saja Pop, Pap. Val pasti akan memberikan pelukan dan kecupan Val sama rata, kalau Papa Bear, Daddy Boo-Boo dan Papi ada di sini pun, akan berikan pelukan dan kecupan dari Val untuk mereka.”


“Abang dan Kak Tan-Tan?...”


Dad R menanggapi ucapan Val yang berceloteh itu, setelah Val selesai memeluki dan memberikan kecupan pada Poppa dan Papa Lucca.


“Tentu, juga Rery, Aro dan Ares... Para pria idolaku, terlebih Gappa dan Ake Herman...”


Membuat Dad R, Papa Lucca dan Poppa kompak menarik sudut bibir mereka melihat dan mendengar Val yang sedang mengoceh kecil itu.


Dimana ketiganya sama merasa, jika mereka ingin berlama-lama mendengarkan celotehan satu dara kesayangan mereka tersebut yang membuat hati mereka tak karuan rasanya setelah sempat melihat kondisi Val yang benar-benar terguncang karena pengkhianatan Kafeel.


‘Efek melihatnya bersedih begitu hebat, makanya melihat Val banyak bicara seperti ini, aku jadi malah menikmati mendengarkan dia berceloteh begini...’ Tiga Dad itu sama membatin yang kurang lebih serupa.


🎑


Sementara itu, di satu bagian mansion The Adjieran Smith yang lain......


“Mister Teddy?...”


Ada Mika yang kemudian menggumam lalu tertegun melihat sebuah boneka beruang raksasa ada di salah satu sudut kamarnya.


“Ini Mister Teddy, kan?” gumam Mika lagi sambil bertanya-tanya sendiri. “Kenapa ada di sini?...”


Dengan terheran-heran Mika mendekati beruang raksasa tersebut, yang ia ketahui adalah boneka kesayangan Val.


Ingin bertanya pada Val, namun Mika hendak meletakkan dulu tas serta beberapa buku besar di tangannya selepas ia pulang kuliah dan langsung pergi ke kamarnya dimana Mika hendak mengistirahatkan diri dan menunggu Arya menghubunginya.


Namun saat Mika sedang meletakkan buku berikut tas dengan sembarang di atas meja belajarnya di mana boneka beruang raksasa milik Val itu di letakkan di dekat meja belajar Mika dalam kamarnya tersebut, mata Mika mengerjap melihat sebuah kartu yang ada di atas paha boneka beruang yang diberi nama oleh pemiliknya dengan ‘Mister Teddy’.


Dear May,


Ingat tidak kalau kita memperebutkan Mister Teddy dulu saat kita melihatnya di toko boneka?...


Lalu bibir kamu mengerucut tajam saat kalah bermain gunting, batu dan kertas denganku dan harus merelakan Mister Teddy menjadi milikku?...


Maaf ya, aku egois waktu itu?...


Dan sekarang aku berikan ini padamu.


Hitung-hitung pengganti Kak Arya saat dia sedang bekerja jauh dari kamu seperti sekarang. ^_~


Aku sudah memeriksa Mister Teddy dengan seksama, dan dia masih seperti saat pertama aku memenangkannya dari kamu dulu.


Bukannya aku memberikanmu barang bekas, tapi aku tahu kamu sangat menyukainya.


Jadi diterima saja ya May?


Daripada Mister Teddy kesepian di kamarku nanti, lebih baik dia bersamamu saja, okay?


Sa-yaang May.


🎑🎑🎑🎑🎑


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2