
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
Jangan lupa dukungannya.
Baca dulu tapi episodenya, okeh?
Tenkyu
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Suatu Masa Kita Jumpa, Dengan Pasangan Berbeda. Jangan Ada Lagi Air Mata.
♥
London, England...
“Acara Val dan Kak Kaf tinggal tiga bulan lagi, May ... Gue udah niat banget mau ngelamar lo,”
ini Arya yang bicara, ketika lagi-lagi Arya akan pergi bertugas di tempat lain selain London dan di luar Inggris juga.
“Lo, berubah pikiran atau engga kalau gue akan datang melamar lo satu bulan setelah pernikahannya Val dan Kak Kaf? ...”
Lalu Arya bertanya pada Mika yang sedang mampir ke apartemennya pada saat satu weekend tiba.
“Engga,” jawab Mika.
“Beneran ya? ...“
“Iya.”
♥
“Besok sebelum gue jalan, kita cari cincin tunangan ya?”
Arya merengkuh Mika yang sedang memindahkan makanan yang ia bawa dari mansion ke wadah yang Mika temukan di pantri dalam apartemen Arya.
“Iya ...“
♥
“Kenapa mesam – mesem begitu?” tanya Mika dengan posisi tangannya yang melingkar di leher Arya setelah ia berbalik tak lama setelah Arya merengkuhnya dari belakang, lalu sesi canda tercipta hingga Mika kemudian membalikkan tubuhnya ketika kata cinta nan mesra serta terdengar tulus di telinganya keluar dari mulut Arya.
Bukannya menjawab, Arya malah kian mesam – mesem.
“Habis ya obat lo? ...”
Sambil Mika menempelkan telapak tangannya ke wajah Arya yang orangnya langsung terkekeh kecil.
♥
“Cieeee salting nih ye? ----“
“Apaan sih ----“
“Ngegemesin Neng Judes kalo salting begini,” goda Arya.
“Untuk dicatat ya Arya Narendra, kalau gue itu selalu menggemaskan dalam keadaan apapun.”
“Iya deh iya,” tukas Arya sambil mencubit gemas satu sisi pipi Mika lalu digoyangkan dengan pelan. “Tapi memang lo selalu menggemaskan kok di mata gue, Nona Mikaela Finn Adjieran Smith ... Suer!”
Lalu Arya tersenyum geli, sementara Mika mencebik.
Setelahnya Arya kembali melingkarkan kedua tangannya di pinggang Mika.
“Dan gue rasanya ga sabar menunggu hari dimana lo akan menyandang Nyonya Arya, Mi ----“
“Sabar ya? Gue kan juga harus mempersiapkan diri gue buat jadi seorang istri----“
“Dan seorang ibu. Ibu dari anak-anak gue,” tukas Arya.
Mika tersenyum lembut.
“Lamaran aja belum, udah mikirin anak ...” celetuk Mika kemudian.
Arya tersenyum geli.
“Ya namanya juga rencana----“
“Memang lo mau buru-buru punya anak habis kita nikah? ...”
“Mau punya sebelum nikah juga boleh. Ayo? ...” jawab Arya dan Mika langsung mencebik sekaligus mencubit pinggang pacar recehnya itu.
“Gue lagi ngomong serius tau ga? Cabul banget jadi orang...” protes Mika dan Arya terkekeh.
“Terserah elo kok kalo soal itu ...”
Lalu Arya berujar sambil membelai lembut kepala Mika, berikut pancaran ketulusan yang nampak pada tatapan Arya ke Mika saat ini.
“Kalau memang lo mau menunda punya momongan setelah kita nikah nanti pun gue ga masalah, karena yang penting buat gue adalah bisa miliki lo seutuhnya walau punya anak dengan lo itu juga termasuk dalam mimpi dan harapan gue, Mi ...”
“Ilmu gombal lo udah melesat tajam ya? ...” cetus Mika berseloroh, namun matanya berbinar dengan senyuman lembut yang terpatri di wajahnya kemudian.
Arya tertawa renyah, lalu menyatukan dahinya dan Mika.
“Makasih ya? Lo sampai mau mematahkan prinsip lo demi gue ...”
Arya berucap lembut selain ketulusan yang tersirat dalam ucapannya pada Mika yang kini wajahnya telah Arya pegang dengan satu tangannya.
“Because you worth it ( Karena lo pantas untuk itu ), Ar---“
♥
“Kayaknya ... Kita cari cincin tunangannya sekarang aja, deh, Mi ...”
Arya berbisik dengan sedikit terengah.
“Kalo berduaan gini lama-lama di sini, takut kakanda hilap ...”
Mika yang juga sedikit terengah itu tersenyum geli setelah mendengar ucapan Arya selepas pacar recehnya itu langsung mendaratkan sebuah ciuman setelah Mika mengatakan jika Arya pantas mendapatkan suatu pengorbanan darinya.
__ADS_1
Dimana ciuman yang tadinya lembut Arya lakukan di bibir Mika itu perlahan lembut, namun kemudian naik ritmenya setelah Mika membalas p*gutan bibir Arya.
“Sekalian aja kita ngedate abis cari cincin. Mau?---“
“Iya boleh. Tapi paling engga cicipi dulu ini puding buatan gue,” tukas Mika.
Sambil Mika menunjuk makanan yang ia bawa dari mansion, yang memang Mika buat sendiri itu setelah ia mulai mencoba mengasah kemampuannya di dapur atas dasar mempersiapkan diri menjadi istri yang kemungkinan akan terjadi tahun depan.
“Wuih udah niat banget jadi istri kalo udah bisa bikin puding begini sih ... Tapi ini pasti puding instan? ...”
Mika terkekeh geli.
“Masih bagus gue mau pegang itu peralatan dapur, Arya Narendra!---“
“Iyaa tersanjung aku tuuuhhhh.”
Lalu Mika dan Arya terkekeh bersama.
“Acih ya, Neng Judes?---“
“Iya, Mas Receh,” tukas Mika, dan kembali terkekeh bersama Arya.
Lalu ia dan Arya hengkang dari pantri apartemen Arya untuk sejenak bersantai di balkonnya.
♥
“By the way, Mi ----“
“Apa?”
“Ngomong – ngomong soal cincin tunangan, lo mau custom di tempat Gappa sama Gamma aja? ----“
“Bebas aja gue sih, Ar ----“
“Ya jangan gitu. Biarpun baru buat tunangan aja, tetep gue maunya itu cincin sesuai sama selera lo, Mi ----“
“Selera kita berdua lah. Berpasangan itu kan ga boleh mengedepankan pendapat sepihak aja ----“
“Adudu ... Bijak banget sih yayangnya Kakanda Arya nih? ----“
“Ck!”
Mika mencebik dan Arya tertawa renyah lalu melahap sepotong puding buatan Mika.
“Enak pudingnya? ...”
“Engga,” sahut Arya. “Ada ya puding instan ga enak gini, padahal kan tinggal bikin aja?”
Mika mendelik mendengarnya.
“Ya namanya juga baru coba buat!”
Lalu kesewotan hadir dari dalam diri Mika.
“Lagian kalau cinta tuh, harusnya tetap bilang enak walaupun puding buatan gue tuh ga enak! ...”sewot Mika.
Arya tergelak.
“Nyebelin!” sewot Mika lagi.
“Canda sayaaaannngggg.”
Lalu Arya mencubit gemas pipi Mika yang orangnya sedang bersungut itu.
“Enak kok ...” ucap Arya kemudian, sambil mengambil lagi sepotong puding dari wadah yang ia letakkan di sebuah piring kecil. “Lebih enak lagi kalo disuapin ...”
Sambil Arya menyodorkan piringnya itu pada Mika.
“Seriusan enak? ...”
Mika bertanya dan Arya mengangguk antusias.
“Emang lo ga coba dulu abis bikin? ...” Arya balik bertanya.
Mika menggeleng.
“Enak. Sumpah! ... Aaaaa ...”
Mika membuka mulutnya, karena Arya telah memotong sedikit puding yang kini sudah berada di sendoknya dan sedang Arya arahkan ke mulut Mika.
“Lebih enak lagi begini ---“
“Hmp ...”
Mulut Mika terbungkam sesaat.
“Arya ih!”
“Kalo gitu, puding buatan lo yang udah enak ini kan makin tambah enak rasanya di mulut gue ...”
“Recehboy cabuuuull ...”
Arya tergelak sambil meletakkan piring pudingnya karena Mika menjambak rambutnya gemas, lalu menarik Mika ke dalam rengkuhannya.
Lalu canda mengudara, hingga tawa dan interaksi mesra antara Mika dan Arya tercipta dengan begitu menyenangkannya.
♥
Sebahagia itu kiranya Mika dan Arya, disela mereka menunggu momen pertama mereka untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius selepas Val dan Kafeel mendapat momen bahagia mereka di tiga bulan ke depan.
“Love you, judesgirl yang udah berkurang judesnya ----“
“Love you too, recehboy, yang suka nyebelin kadang-kadang ...”
“Tapi cinta, kan?? ...”
“Banget ...”
♥
__ADS_1
Namun jika memang dua orang yang sedang menjalin hubungan dan sebahagia itu dalam merenda masa depan mereka, lalu mengapa satu momen dimana tangan yang tadinya saling menggenggam itu kini hanya saling berjabat? ...
“Bye, Mikaela Finn Adjieran Smith ... Doa gue semoga lo selalu bahagia.”
“Bye, Ar ... Doa yang sama untuk lo juga.”
Iya, tangan Mika dan Arya yang kini saling berjabat, bukan lagi menggenggam mesra.
♥
Jakarta, Indonesia...
Setelah sebulan kemudian, Arya datang ke Jakarta untuk menemui Mika selepas ia di tugaskan ke luar Inggris dan Indonesia oleh perusahaan tempatnya bekerja.
Pertemuan keduanya kini tak lagi diwarnai dengan kemesraan.
Tangan yang beberapa bulan terakhir saling menggenggam dengan eratnya itu, kini hanya saling berjabat canggung dengan luka dan perih yang tertanggung dalam hati.
“By the way, ini ...” ucap Arya sambil menyodorkan satu paper bag pada Mika. “Gue ga mungkin pakai ini di pernikahan Val dan Kak Kaf, karena harusnya lo dan Felix yang pake ...”
“Lo simpan atau lo buang aja, Ar---“
“Oh iya, gue lupa. Pasti lo dan Felix sudah menyiapkan pakaian khusus buat lo berdua untuk acara Val dan Kak Kaf.”
Arya berucap. Tersenyum. Namun getir yang teramat sangat menyeruak di hatinya. Mika pun tersenyum. Tipis saja. Bahkan sangat tipis.
“Ya udah ya, Ar. Gue permisi kalo gitu---“
“Iya, Mi ...” tukas Arya. “Sekali lagi, semoga lo bahagia ...”
“Lo juga, Ar ...:” sahut Mika pelan.
“Makasih, udah pernah bikin gue sangat bahagia, Mi ...”
Serak dalam nada suara Arya, dimana Mika hanya mengangguk samar dan tersenyum tipis sekali lagi.
“Sama-sama, Ar ...”
Mika menyahut pelan.
“Sama ... sama ...”
Mika berucap lagi dengan lebih pelan.
“Gue-pamit, Ar---“
“Gue boleh peluk lo buat terakhir kali ga, Mi? ...”
♥
Insan boleh berencana, namun takdir pun sebuah ketentuan.
Dan jika takdir yang terjadi jauh dari apa yang menjadi keinginan, bagaimana? ...
Ikhlas, menjadi pilihan untuk insan yang takdirnya tidak sesuai harapan.
Detik dimana Mika mengangguk samar ketika Arya meminta untuk satu buah pelukan yang mungkin terakhir yang bisa ia lakukan pada Mika, Arya langsung menarik Mika dan merengkuhnya erat.
Paper bag yang Arya pegang telah ia lepaskan dari genggaman, agar kedua tangannya dapat ia eratkan di tubuh Mika.
“Sa-kit ... Mi ... hati gue sakit banget ... tapi gue sulit membenci lo ... bahkan rasanya gue akan sangat merindukan lo dalam pelukan gue begini, Mi ...”
“Gue minta maaf, Ar---“
“Udah, Mi ... udah gue maafin.”
Arya mengurai pelukannya pada Mika. Berat, namun mau tidak mau pelukannya pada Mika harus ia urai.
“Lo, bahagia terus, ya, Mi?---“
“Lo juga, Ar ... jangan lupa bahagia ... gue yakin, di luar sana ... banyak gadis yang jauh lebih baik dari gue ... yang akan bisa menghapus luka yang gue buat di hati lo ...”
“Mudah – mudahan ...”
Arya menyahut, sambil menghapus airmata Mika yang membasahi pipi dara yang kini berstatus mantan itu.
“Sekali lagi, gue minta maaf ...” lirih Mika.
Arya mengangguk dan tersenyum.
“Doain ya? ...”
Arya berujar kemudian.
“Doain gue dapet yang lebih seksi dari lo ...”
Arya berseloroh, lalu ia dan Mika sama terkekeh meski jejak air mata menghiasi pelupuk keduanya.
“Well ... berhubung gue ga mau menyita waktu lo lebih lama ...” ucap Arya kemudian setelah menghela panjang nafasnya. “So ... bye, Mi---“
“Bye, Ar ....”
Mika mengangguk samar.
“Semoga lo cepat dapat pengganti gue, baik di hidup dan di hati lo ...”
Mika berucap pada Arya yang tersenyum mengangguk sekali lagi.
Lalu Arya mengangkat tangannya, sebelum pria itu berbalik badan dan berjalan menjauh dari Mika.
Dimana Mika memperhatikan punggung Arya yang perlahan menjauh sosoknya, dari ia yang masih berdiri di tempatnya.
Usai.
Mika menggigit keras bibirnya memandangi kepergian Arya. Cerita cintanya dan Arya telah usai.
♥♥
To be continue .......
__ADS_1