
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Little Star Island, Isola, Italy ....
"K - ak... Tan... Tan..."
"V - Val?..."
"Mom - My..."
"VAALL!!..."
-
“Allah!”
“Apa itu suara Ara?...”
“VAL!”
-
"Mom - My..."
"V - a - l, sa - yaang..."
"V - Al..."
"Ya Allah, Val..."
-
“VAL KENAPA, KA?!”
“V-al, sudah sadar, Pop...”
-
“V-al???...”
“Oh, Val---“
“Val sayang, cucu Oma... akhirnya kamu sadar sayang...”
“Oh, Baby... Terima kasih Tuhan---“
🌷🌷🌷🌷
Satu per satu orang di dalam kastil pada Little Star Island berhamburan ke ruang rawat Val, setelah mendengar serta juga memastikan---bahwasanya mereka mendengar Mommy Ara berteriak.
Lalu suara tangisan berikut pujian dan ucapan rasa syukur memenuhi ruang rawat Val di bagian intensifnya, dimana Val terbaring di atas sebuah ranjang perawatan yang ada di bagian ruangan tersebut, setelah kesemua orang yang berhambur itu menyaksikan pemandangan yang sudah mereka tunggu dan harap serta selalu mereka rapalkan dalam doa.
Val mereka membuka mata, setelah hampir kurang lebih enam bulan lamanya mata itu tertutup rapat tanpa sekalipun terbuka.
🌷🌷🌷🌷
“Mom-Kak, Tan-Tan...Isha...”
Val bukan sekedar membuat pergerakan kecil, namun ia sudah dipastikan benar-benar telah terjaga dari tidurnya yang cukup panjang selama kurang lebih enam bulan itu, setelah ia menyebut satu-satu orang yang pertama mendekat padanya.
Walau masih nampak begitu lemah, namun mendengar Val bisa menyebut nama tiga orang keluarganya yang sudah menangis namun dengan tersenyum itu---kiranya telah dapat diyakini bahwa Val telah sadar dari komanya. Keyakinan itu diperkuat, kala Val sudah menyapa seluruh keluarga yang kemudian berhambur tak lama Mommy Ara berteriak histeris menyebut namanya.
Lemah terdengar suara Val yang pelan itu, namun matanya telah terbuka sempurna. Meski wajahnya masih nampak pucat dan tidak menunjukkan jika ia ingin beranjak dari posisinya.
🌷🌷🌷🌷
Sungguh, walau baru seperti itu saja---hati semua orang yang berada di kastil dalam Little Star Island, dimana kesemuanya adalah orang-orang yang menyayangi Val---sudah sangatlah bersyukur dan bahagia, melihat mata Val yang cukup lama terpejam itu, kini telah penuh terbuka.
Haru dan tangis bahagia tentu saja ramai tercipta setelah kesemua orang itu menyaksikan apa yang sudah Mommy Ara, Nathan dan Isha termasuk satu orang lagi saksikan, namun satu orang itu terpaku di tempatnya di ruang rawat khusus tempat Val selama ini berbaring---sekarang pun masih, karena Val merasakan tubuhnya tidak memiliki tenaga sedikit pun. Bahkan Val terlihat agak sedikit bingung, menatap satu per satu orang yang mengelilinginya---bergantian kemudian mendekat padanya dengan berlinang air mata.
Val ingin lagi berkata, namun ia rasakan tenggorokannya begitu kering setelah tadi ia menyebutkan satu per satu keluarganya.
__ADS_1
Selain, keinginan Val yang hendak lagi berbicara---terpotong. Karena kemudian Celine masuk ke dalam ruang rawat intensif Val, seraya ia mendekat ke ranjang perawatan Val.
"Maaf, semua. Saya hendak memeriksa Nona Valera dulu, jadi sebentar saya meminta ruang --"
"Baik, Celine." Dad R yang menyahut, sambil ia menyusut air matanya dan tersenyum penuh arti pada Celine."Tapi aku ingin berada di sini untuk menemaninya disaat kau memeriksanya,"
Dad R berucap lagi, dan Celine pun mengiyakan permintaan ayah kandung Val itu.
"Tentu Tuan..."
“Kalau begitu kami akan tunggu di luar.”
Daddy Dewa yang kemudian angkat suara, dan ucapannya itu diaminkan oleh anggota keluarga lain serta kerabat tertentu yang sedang berkunjung ke Little Star Island.
🌷🌷🌷🌷
Setelahnya, Daddy Dewa dan lainnya keluar dari ruang rawat intensif Val---dimana sebagian melipir ke bagian lain ruang rawat, dan sebagian menunggu hasil pemeriksaan Celine di luar ruangan tersebut---sementara Dad R dan Mommy Ara, tetap berada di sisi Val bersama juga Varen dan Drea.
“Dad-dy... Val, thir-sty...”
Setelah mereka selain lima orang yang kini berada di dekat Val keluar dari ruang rawat khusus tersebut, Val bersuara lagi dengan memberitahu bahwasanya ia haus.
“Apa boleh memberikannya minum, Cel?...”
“Tentu boleh, Nyonya...” jawab Celine cepat menanggapi Mommy Ara. “Biar saya ambilkan –“
“Ga usah Cel, kamu periksa aja Val. Biar aku yang ambilkan minum untuk Val...”
Drea yang kemudian menukas ucapan Celine, dan langsung melangkahkan kakinya dengan cepat untuk mengambilkan Val minum.
“Sambil menunggu Nyonya Muda Andrea mengambilkan anda minum, saya ijin melakukan pemeriksaan ya Nona Valera?...”
Celine lalu mengajak Val yang masih nampak lemah itu bicara, dan Val langsung mengangguk pelan menanggapi Celine tanpa menyahut.
“Ini,” Drea tak lama kembali dengan membawa segelas air minum dengan sebuah sedotan yang sebagian batangnya sudah tenggelam pada air minum dalam gelas yang ia bawa itu.
“Thanks... Kak-Drea...”
Suara Val sedikit agak jelas sekarang.
Dan untung saja, otak Drea tokcer untuk menyertakan sedotan dengan air minum yang ia bawa, karena Val masih nampak agak sulit untuk menggerakkan tubuhnya.
🌷🌷🌷🌷
"Mana Kaka?" Adalah Poppa yang bertanya sambil ia celingukan, setelah Celine melakukan pemeriksaan pada Val---kemudian membawa sample darah Val ke labolatorium yang ada di dalam kastil pada Little Star Island. Setelah sebelumnya Celine menjabarkan kondisi Val kepada setiap anggota keluarganya, yang diminta Celine agar ia berbicara di ruang dimana Val tidak mendengar apa yang ia sampaikan kepada keluarganya itu.
Lalu setelah selesai, semua orang dipersilahkan jika ingin mendekat lagi kepada Val---namun harus bergantian, setidaknya satu keluarga yang melebihi kesebelasan jumlahnya itu, membagi menjadi 2 atau 3 kelompok jika ingin berada di dekat Val yang masih nampak lemah, walau hasil pemeriksaan awal Celine, kondisi tubuh Val dapat dikatakan stabil. Namun juga, ada satu kondisi khusus yang masih ingin Celine pastikan dugaannya.
Dan sampai Celine dapat memastikannya, keluarga Val dibekali dengan apa yang boleh dan tidak boleh mereka lakukan, katakan---sampai hasil akurat terkait kondisi Val secara keseluruhan, Celine dapatkan.
🌷🌷🌷🌷
Pertanyaan Poppa yang mempertanyakan Kafeel, ketika ia menyadari bahwa pria itu tidak ia lihat lagi setelah ia dan lainnya keluar dari ruang rawat Val selepas Celine ingin memeriksa satu incess itu---kemudian ditimpali oleh Dad R. Yang setelahnya, ia dan Poppa memandang ke arah Nathan.
Dimana beberapa pertanyaan kemudian terlontar pada Nathan yang selanjutnya memberikan jawaban dengan sejujurnya kepada dua Dads of The Adjieran Smith tersebut.
"Lalu dimana Kaka sekarang?"
Dad R kemudian bertanya lagi, setelah mendengar cerita Nathan.
"Hanya dia saja yang tidak ada..."
Dad R kembali bersuara sambil ia celingukan.
Cukup terheran, karena ia rasa Kafeel pun sama sepertinya dan keluarga yang bahagia mendengar Val telah tersadar dari komanya selama kurang lebih enam bulan.
Dan atas dasar Dad R tahu betul betapa Kafeel mencintai putri kandungnya itu, rasa-rasanya pria itu pastilah menunggu untuk dapat bertatap muka dengan Val, seperti dirinya dan keluarganya juga.
Tapi ini Kafeel tidak ada di sekitaran mata Dad R memandang---diyakini tak ada juga di dalam ruang rawat Val baik di bagian ruang tunggu apalagi di ruangan intensifnya Val, jadi Dad R sedikit merasa heran.
Karena Dad R menerka---yang mana terkaannya kurang lebih sama dengan para Dad lainnya, yakni Kafeel akan memaksa untuk diperbolehkan bertatap muka dengan Val sesegera mungkin.
Tapi pria itu malah tidak ada sekarang.
__ADS_1
"Mungkin di kamarnya," celetuk Daddy Jeff, yang memang sedang berdiri bersama Dad R dan Poppa---serta beberapa pria The Adjieran Smith lainnya. Dad R kemudian mengangguk sekali setelah mendengar celetukan Daddy Jeff yang menerka.
"Ha, itu orangnya... berdandan untuk bertemu Val, eh?" cetus Papi John saat melihat kedatangan Kafeel yang kemudian mendekat padanya dan beberapa pria yang ada di dekatnya, selang beberapa belas menit dari sejak Poppa dan Dad R yang mempertanyakan pria itu akibat ketiadaannya dalam euphoria bahagia atas Val yang akhirnya membuka mata setelah koma selama kurang lebih enam bulan.
Papi John mengeluarkan kalimat godaan saat Kafeel datang, karena jika Papi John tidak salah---kini Kafeel menggunakan pakaian yang berbeda dari saat ia melihat pria itu kala ia berhambur ke dalam ruang rawat Val setelah mendengar teriakan Mommy Ara---dan Kafeel berpakaian cukup rapih sekarang.
"Jika kau ingin menemui Val, maka kau harus bersabar. Karena kamipun menunggu giliran." Menimpali godaan Papi John pada Kafeel, Daddy Jeff kemudian angkat suara.
🌷🌷🌷🌷
"Karena kami tak kuasa melawan para wanita-wanita yang kadang bisa bersikap bar-bar itu saat mereka memiliki keinginan mendesak, yang mana keinginan mereka sekarang itu menguasai Val..." Daddy Jeff bicara lagi, sambil ia menggerakkan kepalanya ke arah ruang rawat Val.
Dan Kafeel mengulas senyuman menanggapi ucapan Daddy Jeff, termasuk juga godaan dari Papi John sebelumnya.
Lalu setelahnya Kafeel bicara, menanggapi ucapan Daddy Jeff soal menunggu giliran untuk melihat Val. Dimana ucapan Kafeel itu membuat mereka yang mendengarnya terkesima dan tertegun sesaat.
"Ga apa, Dad... sudah cukup bagiku melihat Val membuka matanya dengan mata kepalaku sendiri. Aku ingin melihatnya sebentar lagi saja, tanpa perlu Val menyadari keberadaanku."
🌷🌷🌷🌷
Yang kemudian ucapannya itu Kafeel buktikan---dengan ia masuk ke dalam ruang rawat Val, namun tidak sampai masuk ke ruang intensif gadis yang dicintainya itu, dimana para wanita dan satu pria yang merupakan kakak kandung Val ada di sana.
Kafeel mengambil posisi dalam jarak tertentu, dimana pada jarak itu dia dapat melihat wajah Val walau tidak jelas---namun itu sudah rasanya cukup bagi Kafeel, yang melihat Val tak lagi terpejam diam, bahkan senyuman yang walau samar itu, Kafeel juga tangkap dengan matanya pada wajah Val yang nampak sedang mendengarkan para saudarinya yang mengajaknya bicara.
Yang Kafeel cukupkan, dan ia sudah sangat bersyukur untuk itu---lalu setelahnya Kafeel bergerak dan pergi dari tempatnya, kembali ke tempat sebelumnya. Dimana beberapa pria yang tadi berbicara padanya sebelum Kafeel melihat Val dengan Rery yang kemudian masuk ke ruang intensif Val dan berbisik di telinga Varen lalu Varen menyampaikan pesan berantai kepada beberapa orang yang sedang bersamanya menemani Val itu agar posisi mereka jangan terlalu rapat.
Guna memberi sedikit ruang bagi Kafeel untuk melihat Val, namun Val tidak dapat melihat pria yang sangat mencintainya itu---dan Val pun tidak juga menyadari pesan berantai yang disampaikan Kafeel kepada orang-orang yang berada bersamanya saat ini.
"Sebentar sekali?" Papi John yang langsung berkomentar ketika Kafeel telah kembali menyambangi ke tempatnya dan beberapa pria lainnya berada.
Kafeel pun langsung menanggapi komentar Papi John itu.
"Sudah cukup kok, Pih... Sudah bisa melihat senyum Val tadi, aku udah lega dan bahagia," kata Kafeel dengan santun dan senyuman yang menghiasi bibirnya.
Setelahnya, Nathan yang selama ini cukup terang-terangan bersikap antipati pada Kafeel---menyampaikan permintaan maafnya secara terbuka pada Kafeel atas sikap antipatinya pada Kafeel selama pria itu berada di Little Star Island.
Yang mana tentu saja permintaan maaf Nathan padanya itu, Kafeel sambut dengan tangan terbuka---karena dirinya juga tidak pernah mengambil hati sikap antipati Nathan padanya yang sering diwarnai dengan kata-kata sedikit sarkas.
Dihari ini, hubungan yang sempat renggang antara Kafeel dan keluarga Val itu perlahan mulai merekat kembali---walau tidak secara total.
Namun begitu,
"Aku sungguh berterima kasih atas ijin kalian hingga aku bisa dibiarkan berada di sini selama ini dan bisa berdekatan dengan Val... Dan sekarang, aku ingin berpamitan..."
Kafeel mencukupkan dirinya berada di Little Star Island.
🌷🌷🌷🌷
Tentu saja, Kafeel yang berpamitan itu membuat tanda tanya besar timbul di hati setiap orang yang mendengar kalimat berpamitannya tersebut---yang mana pertanyaan kemudian tercetus dari mulut Poppa, dimana Kafeel kemudian menjawabnya dengan santun dan tenang.
"Seperti yang aku katakan tadi, aku takut Val tidak senang melihatku di sini... Dan lagi, aku akan memegang janjiku padamu, Pop. Aku akan pergi sejauh-jauhnya saat Val membuka mata--"
"Aku tidak serius dengan itu. Tak perlu kau ambil hati," sambar Poppa.
Dan Kafeel tersenyum lagi dengan teduhnya pada Poppa, sebelum ia merespons ucapan Poppa barusan.
"Tak apa, Pop... aku sendiri juga merasa minder untuk menampakkan wajahku kepada Val. Jadi aku lebih baik segera pergi saja."
Setelahnya---Kafeel yang sudah siap berpamitan dan hendak menyalimi beberapa orang tua pria di dekatnya itu, menarik kembali tangannya yang sudah terulur---ketika sebuah suara terdengar dari dalam ruang rawat Val.
"Tunggu."
Membuat Kafeel langsung menoleh ke sumber suara, begitu juga mereka yang bersama Kafeel.
“Inget apa yang gue bilang saat lo gue bawa ke sini?...”
Adalah Varen yang menyergah pamitannya Kafeel yang hendak menyalimi para orang tua pria yang sedang berdiri bersamanya itu.
“Lo boleh pergi dari sini hanya jika gue mengijinkan lo pergi. Dan sekarang, gue belum mengijinkan lo untuk pergi. Karena lo, masih punya hutang pada adik gue.”
Yang mana, hutang yang dimaksudkan Varen adalah permintaan maaf Kafeel pada Val secara langsung.
“Lo hanya boleh pergi dengan ijin gue, atau kalau Val yang menyuruh lo pergi secara langsung setelah lo menyampaikan permintaan maaf lo ke dia, lalu Val tidak terima. Tapi, kalau setelah lo meminta maaf dan Val ga mengijinkan lo pergi, sampai mati lo harus tetap di sini.”
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷 🌷🌷🌷🌷
To be continue...