
( Untuk Sebuah Solusi )
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Jakarta, Indonesia ....
“Kak Kafeel cemburu? ...“
Ini Val yang bertanya pada Kafeel, ketika pembicaraan mereka sampai kepada seorang pria yang berpredikat sebagai pacar Val sekarang.
“Menurut kamu?“ tanggap Kafeel kemudian pada pertanyaan Val barusan itu.
“Kak Kafeel cemburu pada Simon?”
Val lalu menjawab Kafeel yang menanggapinya dengan balik bertanya.
Kafeel tidak langsung menjawab Val lagi dengan ucapan.
Namun Kafeel yang melipat bibirnya dan nampak tersenyum masam di wajah Val, sudahlah kiranya menjadi jawaban untuk Val.
“Maaf ...” Val lalu bersuara lagi. Merasa ketidakenakan dalam hatinya setelah melihat ekspresi Kafeel barusan, namun Val hanya ingin bersikap jujur.
Seperti seorang Valera Madelaine Aditama Adjieran Smith yang selama ini memang selalu apa adanya. Pun spontan dengan cetusannya dimana hal itu berkenaan dengan pikiran dan perasaannya.
Yang terkadang kelewat polos juga.
Baik pemikiran, ucapan dan sikapnya Val.
“Tapi kan Val jatuh cinta pada Simon yang tampan juga seperti Kak Kafeel saat Val belum mengingat Kakak? ----“
♥
Benar memang apa yang Val katakan tentang sekiranya jangan dipersalahkan dirinya yang merasa jatuh cinta pada pria bernama Simon yang merupakan salah satu dosen di kampusnya dan kini pria itu adalah kekasih Val.
Namun tetap saja Kafeel merasa agak sedikit terganggu perasaannya mendengar Val memuji pria yang berpredikat sebagai pacar resminya Val sekarang.
“Kak Kafeel marah pada Val? ...” tanya Val dengan kepolosan pada Kafeel yang ia tangkap sedang sedikit melamun kala ia sedang bicara beberapa detik lalu. Kafeel yang sudah kembali memandangi Val itu pun tersenyum.
“Maunya sih marah, karena iya aku cemburu ... tapi sekarang kan kita ... jatohnya ... memang tidak ada hubungan apa-apa.“ jawab Kafeel kemudian.
“Maksudnya, Kak Kafeel sudah tidak mencintai Val?..”
Val langsung menanggapi jawaban Kafeel dengan raut wajahnya yang kini nampak sedih, karena dugaan tentang apa yang barusan Val katakan pada Kafeel dengan bertanya --- langsung muncul di hatinya karena ucapan Kafeel yang merupakan jawaban dari pertanyaan Val sebelumnya.
Dimana Kafeel yang menangkap ekspresi sedih Val itu langsung menangkup wajah Val dengan kedua tangannya dengan Kafeel yang sudah membuat dirinya dan Val kini berhadapan dan saling juga bertatapan, “Foto-foto Val di kamar aku ini, bukannya udah jelas kasih tau kamu bagaimana perasaan aku ke kamu?..” kata Kafeel kemudian sambil lekat memandangi Val.
♥
“Ga ada yang berubah tentang perasaan aku ke kamu.“ Kafeel kian berusaha meyakinkan Val tentang bagaimana perasaannya pada Val sekarang, yang tidak berubah meski kiranya Kafeel jadi mulai galau setelah mendengar perkataan Val tentang pacarnya yang bernama Simon itu.
“Lalu kenapa Kak Kafeel mengatakan kalau kita tidak ada apa-apa?..”
Val bertanya dengan polosnya pada Kafeel, tidak sadar jika ucapannya sebelumnya itu membuat Kafeel mulai galau selain berkesan ambigu.
Ya bagaimana Kafeel tidak galau dan ambigu kalau tadi Val bilang katanya dia jatuh cinta pada pria bernama Simon yang bisa dikatakan sebagai pacar resminya Val.
Karena kebetulan saat Val mengenalkan Simon pada keluarganya di London lalu mengumumkan jika pria itu adalah pacarnya, Kafeel pun ada di sana. Val nampak senang dan bahagia.
Lalu sekarang, saat Kafeel secara tidak langsung jika dirinya dan Val tidak ada hubungan --- karena memang itu kenyataannya kalau diurutkan peristiwa dari sejak Kafeel menemui Dad R di London kala itu --- Val malah nampak sedih.
Bingung ga tuh si AA? ...
♥
Namun sebingung, galau dan ambigunya Kafeel --- pria itu ingat kondisi Val yang bisa menjadi tidak fokus serta memiliki ingatan jangka pendek. Jadi Kafeel ingat, jika sesekali Val bahkan lupa dengan apa yang belum lama ia katakan dan lakukan.
Lalu dengan sabar Kafeel menjelaskan mengapa Kafeel bilang, “tapi sekarang kan kita ... jatohnya ... memang tidak ada hubungan apa-apa.“
Yang mana dalam Kafeel berusaha memberikan pengertian Val tentang kata – katanya itu, Kafeel juga menyertakan cerita bagaimana dirinya sampai tega menyakiti hati Val dengan teramat sangat.
Val fokus mendengarkan setiap kata – kata yang keluar dari mulut Kafeel dalam pria itu yang berusaha memberi penjelasan sekaligus bercerita pada Val.
“Ya sudah kita lanjutkan lagi hubungan cinta kita.”
Tapi kemudian Val mencetuskan kalimat dengan santainya.
“Kak Kafeel I love youu.. jadi kekasih Val lagi yaa?—Iya.” Val bahkan mengoceh lucu, dan berkata lagi dengan entengnya. “Okay kita pacaran sekarang, Kak..”
Kafeel langsung terkekeh kecil karena tingkah Val itu. “Kamu ini.. bisa ga sih ga ngemesin?” ucap Kafeel kemudian sambil menyentuhkan ujung hidungnya dengan hidung Val dengan gemas. Membuat Val jadi menerbitkan senyum manis karena sikap Kafeel itu. “Jadi kalau kita pacaran sekarang, kamu akan memutuskan Simon berarti ya?..”
“Bagaimana ya?“
Namun sedetik kemudian ekspresi wajah Val agak berubah.
♥
“Kok.. kamu kayaknya bimbang? katanya kamu cinta sama aku?“
Membuat Kafeel jadi bertanya-tanya. Makanya ia langsung mencetuskan pertanyaan pada Val, dengan sedikit kecurigaan dalam hatinya.
Yang mana jawaban Val kemudian, membuat Kafeel terperangah. Bahkan rasanya Kafeel tidak percaya dengan jawaban Val itu.
“Habisnya Val seperti punya perasaan spesial juga pada Simon—Rasa-rasanya sih, hati Val terbagi dua untuk Kakak dan Simon.“
♥
Kafeel benar-benar dibuat tak percaya dengan setiap penuturan Val, dikala mereka sedang membahas pacar resmi Val saat ini.
Ada kesal dalam hati Kafeel. Namun ada sendu dan mirisnya juga.
__ADS_1
Val yang dulu hanya mencintainya diluar kecintaan gadis tercintanya itu pada para pria dalam keluarganya, kini sudah berbeda.
Namun begitu, sedikit banyak Kafeel memaklumi. Pun Kafeel merasa dirinya harus ‘tahu diri’. Mencoba menganggap wajar saja jika mungkin hati Val telah memang terbagi diantara dirinya dan pacar Val sekarang itu.
Toh—katakanlah jika Val sedang berada pada dua masa. Meski belum lama Val mengaku jika dirinya telah mengingat Kafeel.
Makanya sekarang Val ada dihadapan Kafeel.
Tapi dengan Val yang bilang kalau hatinya ia rasa telah terbagi, Kafeel tidak bisa bersikap yang lain lagi selain pasrah.
Namun tidak juga Kafeel ingin mengalah.
Val juga masih mencintainya bukan?
Selain Kafeel memiliki ‘surat ijin’ dari keluarga Val, tentang—andai ingatan Val pulih dan Val ingin meneruskan hubungan cintanya dan Kafeel seperti sebelumnya.
Hanya saja Kafeel tidak ingin memaksa. karena Val punya hak untuk memilih.
Maka itu Kafeel ingin memberikan solusi.
Atau katakanlah Kafeel ingin Val memanfaatkan waktu sebanyak yang Val inginkan, untuk merasakan berat kepada siapa hati Val itu.
Padanya, atau pacar resmi Val sekarang?
Dan dalam waktu Val berpikir itu, Kafeel akan tetap berjuang agar Val menjadi miliknya.
Lagi!
Dan kali ini Kafeel tidak akan melepaskan Val lagi apapun yang terjadi.
Begitu, tekad Kafeel.
Meski sekarang Kafeel dibayangi rasa was-was andai hati Val malah berat ke pria yang bernama Simon itu.
‘Pokoknya gue akan memanfaatkan waktu Val yang memikirkan siapa yang mau dia pilih antara gue sama cowok yang satu ras sama cat tembok putih rs itu.’
Sekali lagi Kafeel bertekad.
♥
“Gini aja.. Sebaiknya..“
Kafeel sudah hendak menyampaikan apa yang ia pikir Val perlu lakukan sekarang terkait perasaan Val padanya dan pada pacar resminya itu.
“Ya sudah begini saja..” Hanya saja, Val sudah keburu menukas ucapan Kafeel. “Val akan mempertahankan kalian berdua, okay?!.. Janji, Val akan adil pada Kak Kafeel dan Simon..”
Jangan tanya bagaimana ekspresi Kafeel mendengar ucapan tanpa beban dan dosa itu. Dimana sedetik kemudian Kafeel membatin, ‘Adil dari Hongkong!’
Karena hati Kafeel jadi agak dongkol.
Hanya saja, tetap Kafeel tidak mungkin rasanya bersikap atau berucap ketus menanggapi ucapan Val pada gadis belia tercintanya itu, yang bicara tanpa beban dosa selain enteng saja menyikapi nasib dua pria yang harusnya Val pilih satu diantaranya.
‘Ini Val sadar ga sih ngomong begini?—‘
‘Bagus darimananya tau??—‘
“Kak?..”
♥
“Bagaimana?.. Kak Kafeel setuju bukaan dengan solusi dari Val untuk Kakak dan Simon?..” Val terdengar seperti mendesak Kafeel. “Kalau Kak Kafeel mencintai Val seharusnya Kak Kafeel rela melakukan apa pun permintaan Val—“
‘Ya ga pasrah juga diduain kellees..’
Kafeel menanggapi desakan Val dalam hatinya.
“Pokoknya Kak Kafeel percaya deh pada Val, kalau Val akan berlaku adil pada Kakak dan Simon. Nanti saat Val ke Jakarta, Val pacar Kak Kafeel.. Lalu di London, ya Val pacar Simon. Simple, bukan?..”
‘Wasaipel!’
♥
“Nanti, bla.. bla..”
“Nah begitu.. lalu—“
“Iya kan?..”
Val masih terus mengoceh perihal solusinya dengan begitu polosnya di hadapan Kafeel.
Dongkol, tapi Kafeel rasa tak berdaya untuk menginterupsi. Jadinya Kafeel sedikit memijat pelipisnya.
Pikir Kafeel Val hanya sedang bercanda, tapi Val nampak polos dan naturalnya mengoceh, meski ocehannya tidak masuk akal sekali.
Namun Kafeel ingat, jika jiwa Val—meski sudah mengingatnya, sedang berada di jiwa 14 tahunnya. Pola pikirnya masih amat lugu dan sederhana.
Jangankan Val yang 14 tahun. Val yang 18 tahun pun masih sepolos usia 14 tahun terkadang pikirannya, pun tingkah manja nan kekanakkannya.
Tapi hebatnya, Val bisa membuat Kafeel cinta mati padanya.
Tapi ya itu, sekalipun cinta mati—ga rela juga Kafeel harus berbagi Val dengan pria lain.
Jadi saat Val selesai mengoceh lalu bilang, “Bagaimana Kak, deal ya?—“
“No deal.”
Kafeel langsung menukas ucapan Val.
Membuat Val jadi langsung agak merungut.
♥
“Begini, Tuan Putri, “ Kafeel langsung berucap lagi selepas ia menolak dengan lembut ide Val yang Kafeel anggap tidak masuk akal baginya, selain Kafeel tidak rela.
__ADS_1
“Kadar cinta Kak Kafeel sudah berkurang ya pada Val?.. atau Kak Kafeel dendam pada Val karena Val yang melupakan Kakak?”
Dan Val kembali menyambar untuk bicara, sebelum Kafeel menyelesaikan kalimatnya. “Kok ngomongnya gitu sih?—“
“Habis Kak Kafeel tidak mau menuruti keinginan Val?..” tukas Val, dengan ekspresi sendu. Kafeel pun tersenyum padanya.
“Val, bagaimana aku mencintai kamu, mungkin itu jauh di batas yang bisa kamu bayangkan..”
Kafeel langsung menanggapi ucapan Val, dengan menangkup wajah Val lembut dengan kedua tangannya.
“Macam para Abang mencintai Kak Drea, Kak Tan-Tan ke Kak Via, para Dad ke The Moms. Atau Gappa pada Gamma, Ake Herman pada Nene Bela.. Cinta para pria dalam keluarga kamu pada pasangannya masing-masing, ga bisa dibandingkan dengan apapun. Dan begitu cinta aku ke kamu.”
Sambil Kafeel menatap Val dengan lekat dan teduh.
“Dan atas dasar itu Val, aku ga mungkin mungkin berbagi.. Karna ga ada laki-laki di muka bumi ini, yang rela buat berbagi perempuan yang dia cintai dengan pria lain. Coba aja Val tanya pada Abang, Kak Tan-Tan, The Dads, Gappa dan Ake Herman.”
♥
Val memperhatikan dengan seksama Kafeel serta ucapan pria itu kepadanya, lalu selepas Kafeel mengatakan kalimat terakhirnya, Val pun manggut-manggut kecil.
“Iya juga sih, ya Kak?..” polos Val.
Kafeel menerbitkan sepotong senyuman manis kemudian.
“Jadi, kalau boleh aku minta.. kalau perasaan Val seperti yang Val bilang tadi, Val masih mencintai aku, tapi Val juga sudah cinta pada Simon.. baiknya Val pikirkan dulu.. rasakan benar-benar.. pada siapa hati Val lebih beratnya? Aku, atau Simon.”
Kafeel bertutur penuh kelembutan untuk memberikan Val solusi perihal kebimbangan gadis tercintanya itu, pada dirinya atau pada pria yang berstatus pacar resmi Val di London sana. Dan solusi Kafeel itu membuat Val tercenung sambil memandangi Kafeel yang masih menangkup wajahnya, serta juga masih teduh memandanginya.
“Tetapi jika Val harus memilih, bukankah berarti Val akan menyakiti salah satu diantara kalian?.. karena Val yakin, jika Simon sangat menyayangi Val bahkan cinta pada Val.” Val lalu angkat suara. “Dan Kak Kafeel, yang Val tahu juga masih mencintai Val,” tambahnya.
“Hidup itu memang selalu akan sering dihadapkan pada masa dimana kita harus menentukan pilihan, Tuan Putri.”
Kafeel langsung menanggapi ucapan Val. Dan Val lalu mengangguk ringan kemudian. “Iya, sih,” ucap Val setelahnya.
Kafeel kembali tersenyum. “Jadi Val silahkan mengambil waktu sebanyak yang Val mau untuk menentukan pilihan diantara aku dan Simon.” Kafeel menambahkan.
♥
“Kak Kafeel rela menunggu Val mengambil keputusan?..”
“Dengan senang hati.” Kafeel menjawab tanpa ragu pertanyaan Val barusan.
“Kalau Val lama mengambil keputusannya bagaimana?—“
“Aku sanggup menunggu seumur hidup kok,” tukas Kafeel, dengan penuh keyakinan.
Val langsung tersenyum setelah mendengar ucapan Kafeel.
♥
“Kalau begitu, beri Val waktu untuk berpikir siapa yang Val pilih diantara Kak Kafeel dan Simon ya, Kak?”
“Tentu Val—“
“Agak lama tidak apa-apa?”
“Seperti yang aku katakan tadi, selama apapun yang kamu mau, aku akan menunggu.”
“Benar?—“
“Iya, Tuan Putri..”
“Lama loh Val berpikirnya—“
“Ga masalah, Val cantik—“
“Okay—“
“Ya sudah kalau begitu.”
Kafeel melepaskan tangkupan tangannya di wajah Val.
Lalu menggerakkan kakinya untuk bangkit dari tempat tidur, sambil Kafeel mengajak Val bicara.
“Aku antar Val kembali ke KUJ, ya?..”
Hanya saja Val tidak menjawab pertanyaan Kafeel itu.
“Val?..”
Kafeel menegur Val yang ia lihat nampak melamun.
“Okay, done!”
Dimana Val langsung bersuara setelah Kafeel menegur sambil menyentuh kepala Val yang matanya sedang menatap dinding di atas headboard ranjang Kafeel.
Membuat Kafeel agak mengernyit. Lalu spontan bertanya. “Apanya yang done, Tuan Putri?—“
“Berpikir—“
“Heu?—“
“Kan Val bilang, Val berpikir agak lama.. Maaf ya, membuat Kakak jadi lama berdiri menunggu Val berpikir untuk memutuskan—“
‘Perasaan belom ada semenit gue berdiri dari ranjang?..’ spontan Kafeel membatin.
“Dan Val sudah mengambil keputusan.. siapa yang akan Val pilih diantara Kakak dan Simon—“
‘Ja ilah. Katanya lama mau mikir?.. ini perasaan belom sampe lima menit Val gue tinggal berdiri?..’
♥♥
To be continue....
__ADS_1