
Terima kasih masih setia
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading yah....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
R Corp, Jakarta, Indonesia....
Ruang kerja pribadi Varen.
‘Ah nanti saja aku pikirkan caranya .... yang jelas hari ini aku akan menempel pada terus pada Kak Kafeel!. Kalau perlu bukan lagi macam ulat bulu, tapi macam gecko ( tokek ) yang hanya akan lepas jika ada halilintar!’
Sementara ada pikiran dan hati yang sedang sibuk sendiri, si pemilik ruangan beserta istrinya yang ada dihadapan itu saling melempar tatap pada orang-seorang gadis belia tepatnya-yang sedang asik dengan pikirannya itu.
“Hey ulat bulu!” panggil Varen sembari menjentikkan jarinya dihadapan gadis belia yang nampak seperti sedang melamunkan sesuatu itu.
Si ulat bulu pun terkesiap. “Iya, Abang?....” Val pun segera menyahut dengan memandang pada Varen.
“Apa otak gatalmu sedang memikirkan hal konyol dan gila lagi??....”
Val pun langsung terkekeh mendengar satu kalimat cibiran terlontar dari mulut Varen.
Sementara Drea tersenyum geli.
“Aku ingin membawa Kak Drea makan siang. Setelah itu –“
“Kita ga nunggu Kak Kafeel, Abang?” potong Drea pada ucapan Varen.
“Aku akan meminta Harsena untuk menghubungi sekertaris Kafeel untuk menanyakan apa ia akan ikut kita makan siang atau tidak.”
Varen segera menjawab pertanyaan Drea, dan Drea pun mengangguk seraya tersenyum.
“Kamu ingin ikut bersamaku dengan Kak Drea, atau mau menunggu Kafeel selesai meeting?” tanya Varen pada Val.
“Ya tunggu Kak Kafeel dong....” jawab Val cepat.
“Ya sudah kalau begitu,” ucap Varen seraya meraih tangan Drea.
“Eh tapi aku sepertinya ikut Abang sama Kak Drea makan siang sekarang saja deh!”
Val meralat ucapannya seraya berdiri dari duduknya.
“Tumben, aku pikir kamu akan menempel pada Kafeel macam ulat bulu seperti biasanya,” cibir Varen.
“Malah aku ingin menjadi macam gecko sekarang sebenarnya, kan lebih merekat itu menempelnya jika Val jadi gecko ketimbang ulat bulu? ....” cetus Val. “Tapi berhubung cacing-cacing di perut Val sudah mulai berdemo, jadi nanti saja lah Val menempel macam gecko ke Kak Kafeel.”
Val kemudian menggerakkan kakinya untuk melangkah dan berjalan mendahului Varen dan Drea.
“Lagipula, nanti aku sudah menunggu Kak Kafeel, tahunya meetingnya sangat lama, dan setelahnya Val diabaikan lagi, seperti saat Val lari ke lobi nanti.”
Val berjalan sambil menggerutu didepan Varen yang nampak mengeleng-geleng malas, dan Drea tersenyum geli dengan tangannya yang digandeng oleh Varen.
“Har, tolong kau hubungi sekertarisnya Kafeel, dan minta dia sampaikan pada Kafeel, kalau kami pergi makan siang di Hen.... Katakan padanya untuk mengabari aku, apa dia akan menyusul atau tidak....” Varen langsung berbicara pada sekertarisnya setelah ia dan Drea telah keluar dari ruang kerja pribadinya.
Harsena yang berdiri dihadapan Bos Besarnya langsung itu menganggukkan kepalanya dengan patuh, seraya menyahut. “Baik Tuan,” jawab Harsena sigap.
“Dan setelah ini, kau juga pergilah beristirahat serta mengisi perutmu, Har,” ujar Varen.
“Baik Tuan.”
Kemudian Varen berlalu dari hadapan Harsena setelah berbicara dengan sekertaris pribadinya itu, menyusul Drea dan Val yang sudah berdiri di depan lift eksklusif yang tidak sembarang orang boleh dan dapat menggunakannya.
♥
Varen, Andrea dan Val telah berada di dalam mobil dengan seorang supir yang mengemudikan mobil yang ketiga orang tersebut tumpangi.
Sebuah nada dering terdengar dalam mobil yang ditumpangi oleh Varen, Drea, Val dan seorang supir.
Nada dering dari ponsel Varen yang langsung diraih oleh si empunya dari dalam saku jasnya.
Yang juga langsung dijawab oleh Varen, setelah melihat nama kontak pemanggil pada layar ponselnya. “Ya Ka?”
Dimana tentu saja Val yang duduk di kursi penumpang paling belakang langsung memfokuskan pandangan pada sang Abang, sambil curi-curi dengar pembicaraan Varen dengan orang yang sedang berbicara dengan abangnya itu pada sambungan telepon saat ini.
Karena Val dapat menebak siapa kiranya orang yang sedang menghubungi kakak lelaki kandungnya itu.
“Okay.”
“........”
“Gue juga akan kembali lagi ke Perusahaan selepas makan siang. Gue akan sempatkan buat mendengarkan laporan lo sebelum gue dan Drea berangkat nanti.”
“........”
“Jadi lo ga nyusul ke Hen?”
“........”
“Ya, tapi lo lebih baik selesaikan dengan cepat itu meeting, karena ini sudah masuk jam istirahat karyawan,” ucap Varen yang masih terhubung dalam panggilan telepon pada ponsel.
Dan tak seberapa lama kemudian, Varen terlihat sudah selesai berbicara pada sambungan telepon di ponselnya itu.
__ADS_1
♥
Varen segera menoleh pada Drea setelah ia selesai dengan sambungan teleponnya.
Kemudian Varen sedikit menoleh pada Val yang duduk di kursi penumpang bagian belakang. “Kak Kafeelmu titip salam----“
“Wa’alaikumsalam,” potong Val sebelum kakak lelaki kandungnya itu selesai bicara.
“Dia ga bisa ikut kita makan siang ....” Varen melanjutkan ucapannya yang tadi dipotong Val.
Lalu Varen menoleh pada Drea.
“Tanggung katanya.”
“Kak Kafeel itu mirip sekali sama Abang kalo lagi serius kerja. Ga akan mau ditinggal kalau belum selesai.”
Drea pun berkomentar.
“Ya kan memang harus seperti itu, jika tidak ingin beban bertambah dengan menunda-nunda pekerjaan, dengan menunda-nunda apa yang dapat kita lakukan dengan segera ....”
Varen berujar.
“Tapi tetap, kamu yang akan aku dahulukan diatas segalanya Little Star,” Varen menatap Drea dengan tersenyum dan mengelus lembut pipi istrinya itu.
“Mulai deh pamer kemesraan! ....”
Protesan terdengar dari mulut Val.
“Siapa suruh kau ikut denganku dan Kak Drea mu? ....”
Varen menyahut enteng.
“Ya tapi untung saja Val memutuskan untuk ikut Abang dan Kak Drea makan siang ....”
Val berucap.
“Karena kalau Val tadi tetap menunggu pria setengah om-om yang ga peka itu, bisa-bisa Val jatuh pingsan karena kelaparan.”
Ucapan yang terdengar seperti gerutuan dengan bernada gumaman.
Membuat Drea tersenyum geli, sementara Varen nampak acuh dengan gumaman adik perempuan kandungnya itu.
“Heran, kenapa sih Kak Kafeel itu cuek sekali padaku? ....” keluh Val. “Apa dia tidak percaya ya kalau Val ini begitu mencintainya?”
“Bagaimana dia bisa percaya jika kau mencintainya, kalau kau mengejarnya dengan begitu terang-terangan, kelewat agresif, macam fangirl yang terobsesi gila dengan idolanya ....”
Varen menanggapi ucapan Val sebelumnya.
“Kelakuanmu itu bahkan bisa saja membuat Kafeel il-feel padamu.”
“Ya habis sikapmu pada Kafeel seperti itu .....”
“Ya itu kan justru karena Val sangat mencintai Kak Kafeel, dan Val ingin dengan sikap Val yang selama ini pada Kak Kafeel, dia akan menyadari kesungguhan Val yang mencintai Kak Kafeel sepenuh hati Val. Tapi sepertinya Kak Kafeel tidak menanggapi Val dengan serius ....”
“......”
“Menyebalkan sekali ....”
Val menyambung ucapannya, seraya merutuk.
Drea kemudian memiringkan badannya ke arah Val.
Lalu Drea sedikit memanjangkan tubuhnya guna menggenggam satu tangan Val.
“Val,” panggil Drea lembut.
“Ya Kak Drea? ....” jawab Val yang sudah menoleh pada Drea, sejak kakak angkat merangkap kakak iparnya itu menyentuh tangannya.
“Mungkin benar yang tadi dibilang Abang----“
“Soal?” potong Val.
“Soal sikap kamu ke Kak Kafeel.”
Drea hendak menyampaikan pendapatnya.
“Kalau Kak Drea boleh kasih saran sih, sebaiknya Val jangan terlalu menggebu dalam mengejar Kak Kafeel.”
Varen akhirnya ikut memiringkan tubuhnya, dengan juga menatap pada sang adik perempuan kandung, yang sedang dinasehati Drea.
“Kak Drea yakin Val paham maksud Kak Drea barusan, kan?”
Val pun mengangguk.
“Iya Val tahu, kalau Val terlalu-lalu mengejar Kak Kafeel ....”
Ekspresi Val sedikit sendu.
“Tapi mau bagaimana? Val cinta, Val ingin bisa memiliki Kak Kafeel seutuhnya, baik sosok maupun hatinya.”
Val kemudian menunduk.
“Sementara Kak Kafeel selalu mengalihkan pembicaraan jika Val membahas tentang perasaan Val, apa yang hati Val rasa pada dia.”
__ADS_1
Val lanjut berbicara.
“Mungkin karena Kak Kafeel berpikir Val sedang bercanda, makanya Kak Kafeel seperti itu. Jadi Val berpikir, jika Val harus lebih bersikap agresif lagi, agar Kak Kafeel menyadari keseriusan Val.”
“....”
“Sikap Val memang salah ya kalau seperti itu? ....” lirih Val. “Apa Val jadi terlihat murahan ya dengan Val bersikap seperti itu pada Kak Kafeel? .... Makanya Dad R sama Abang sering memarahi Val? .... Tapi kan Val menempel pada Kak Kafeel, hanya menggelayuti manja lengannya.”
“....”
“Meskipun Val tahu, saat Kak Kafeel sedang berada di apartemennya kala Val sedang ada disini, tapi Val tidak sampai mendatanginya disana .... Val tidak pernah menyodorkan tubuh Val pada Kak Kafeel kok. Karena Val selalu ingat pesan Dad R dan semua Dads juga Moms, untuk tidak berlaku murahan.”
“....”
“Apa Val yang sering menggelayuti dan menempel pada Kak Kafeel selama ini, itu termasuk sikap yang murahan? ....”
“Ya bukan seperti itu juga ....” Varen menyela.
Adik perempuan kandungnya itu memang sudah hampir delapan belas tahun.
Namun terkadang cara berpikirnya masih begitu polos, selain kekanakkan. Dalam soal percintaan sih, lebihnya otak polos Val itu.
Karena secara kepribadian selain cerdas dalam akademis dimana seharusnya Val dan Mika sudah bisa masuk ke bangku perkuliahan saat umur mereka belum mencapai tujuh belas tahun, namun memilih untuk menunda kuliah yang baru akan mereka lakukan pada tahun ini, seperti Varen dulu. Val itu anak yang mandiri.
Manjanya Val yang walau kadang berlebihan itu hanya dalam sikap, namun tidak dalam kesehariannya. Patuh pada setiap ucapan para Dads dan Moms-nya, juga pada Varen, Nathan, Drea dan Via. Dari sejak sekolah si sekolah menengah pertama, Val sudah terbiasa mengurus dirinya sendiri, walau ada maid yang dikhususkan untuk melayani kebutuhannya jika Val mau.
Sama seperti anggota keluarganya yang lain. Para pewaris muda utamanya.
Hanya ya itu, Val polos dalam pemikirannya soal percintaan, bahkan mungkin dapat dikatakan Naif.
Untuk masalah salah atau benar, Val mampu membedakan dengan baik.
Hanya satu saja, yang membuat Val seolah buta, masa bodoh, tak perduli sikapnya yang kelewat agresif pada lawan jenis itu salah atau benar.
Satu saja, yang membuat Val tidak mampu berpikir rasional.
Kafeel.
Untuk satu nama itu, Val terkadang menutup mata dan telinga untuk setiap ledekan atau bahkan cibiran yang ia dengar mengenai sikapnya pada Kafeel. Semua tentang pria itu, seolah menyihir Val untuk tidak memperdulikan pandangan orang disekitarnya tentang sikapnya yang over agresif pada Kafeel.
Yang Val tahu, mau hanya satu. Yang Val tahu, cita-cita itu harus diperjuangkan, dan untuk itu Val harus berusaha keras agar cita-citanya tercapai. Karena maunya Val, adalah Kafeel yang merupakan cita-cita tertingginya.
“Ya bukan seperti itu juga ....”
Varen menyela ucapan Val yang menyangkut pemahaman Val soal sikap yang murahan.
“Kami tidak mengatakan dengan kamu yang menggelayuti Kafeel itu adalah suatu sikap yang murahan. Hanya saja sikapmu itu terkadang berlebihan pada Kafeel, bahkan tidak melihat tempat. Kafeel tidak akan menegurmu soal itu, karena dia menyayangimu. Tapi rasa sayang yang seperti apa padamu, ya aku memang tak tahu ....”
Varen bicara sedikit panjang pada Val.
“Aku tidak mungkin mencampuri urusan pribadinya. Hanya saja, aku ingatkan kepadamu, coba kamu jaga sedikit sikapmu pada Kafeel. Setidaknya jaga reputasinya saat didepan umum. Selain, bersikaplah lebih dewasa, lebih serius diusiamu yang hampir menginjak delapan belas tahun ini,” sambung Varen. “Selain itu, kamu sebaiknya memastikan apa yang kamu kejar, jangan sampai kamu mengejar angan yang kosong.”
“Maksud Abang?” tanya Val.
“Maksud Abang, coba Val bicara dengan Kak Kafeel, bicara serius. Abang, kami, itu maunya Val bahagia dengan sumber kebahagiaan Val. Tapi Val kan punya masa depan yang juga harus dapat Val capai dengan sebuah kesuksesan di luar Kak Kafeel, nah untuk itu, Val harus mempersiapkannya ....”
Drea yang menjawab.
“Yang dimaksud Abang untuk memastikan apa yang Val kejar agar Val tidak mengejar angan yang kosong, itu sebaiknya Val bicarakan dengan serius pada Kak Kafeel mengenai perasaan Val padanya. Lalu tanyakan juga, sebenarnya bagaimana perasaan Kak Kafeel yang sesungguhnya pada Val.”
Drea masih berbicara pada Val.
“Maaf, Kak Drea bukan menakuti apalagi menyumpahi. Tapi seandainya, jawaban Kak Kafeel diluar dari yang Val harapkan, setidaknya ada kepastian dan Val tidak mengharap serta mengejar sesuatu yang tidak pasti. Dimana kelak, hal itu tidak mengganggu cita-cita Val yang lain. Masa depan Val diluar Kak Kafeel.”
Drea menarik sudut bibirnya.
“Val paham maksud Kak Drea kan? ....”
Val menanggapi pertanyaan Drea dengan anggukkan.
“Iya Kak Drea, Val paham,” jawab Val dengan menampakkan senyumnya.
Dan Drea pun ikut tersenyum.
“Kak Drea .... kami semua pasti akan dukung Val, apapun itu, selama itu baik. Tapi, Val harus memperjuangkan sesuatu yang pasti ....”
“Iya, Kak Drea ....” ucap Val, dengan juga menarik sudut bibirnya, tersenyum pada Drea, yang kemudian berbalik dan duduk dengan benar setelah memiringkan sedikit tubuhnya untuk bicara dengan Val.
Val pun tepekur kemudian, setelah mendengar kata-kata Varen, juga nasehat panjang dari Drea. Ada yang sedang berkecamuk dalam otak dan hati Val saat ini.
‘Aku tahu maksud Kak Varen dan Drea tadi, adalah agar aku segera memastikan bagaimana sebenarnya perasaan Kak Kafeel padaku. Aku bukan tidak bisa bersikap serius didepan Kak Kafeel ....'
Val masih tepekur sembari memandang nanar pada jalanan yang mobil lalui.
‘Aku takut. Demi Tuhan aku takut, jika seperti yang Kak Drea katakan tadi, seandainya jawaban Kak Kafeel tidak sesuai dengan harapanku ....’
Hati Val masih bermonolog.
‘Aku takut kalau Kak Kafeel akan mengatakan jika selamanya dia hanya akan menyayangiku sebagai adik. Aku takut, kalau pada kenyataannya Kak Kafeel telah memiliki seseorang dalam hatinya dan orang itu bukan aku. Makanya aku tidak pernah bersikap dengan serius pada Kak Kafeel. Aku hanya cukup memberitahu lewat sikapku jika aku benar-benar menginginkan Kak Kafeel dalam hidupku ....’
Val menghela nafasnya sedikit berat.
‘Aku sungguh sangat ingin menanyakan pada Kak Kafeel dengan serius bagaimana perasaannya padaku. Tapi aku begitu takut dengan jawaban yang akan keluar dari mulut Kak Kafeel nanti ,jika jawaban itu ternyata hal yang menyakitkan untuk aku dengar .... dan jika hal itu sampai terjadi, lalu bagaimana nanti caranya aku hidup, jika Kak Kafeel tidak menjadi milikku?’
__ADS_1
♥♥♥♥♥♥
To be continue ....