
(AKU AKAN SELALU MENCINTAIMU)
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
Untuk diketahui karya ini memang mengandung banyak unsur drama, oke?
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
“Val, Sayang, boleh kami tahu, mengapa tiba – tiba kamu ingin menemui Kak Kafeel?---“
“Karena aku sudah mengingatnya, Mommy.. Aku sudah mengingat apa yang telah aku lupakan---“
“Really, Baby?---“
“Iya, Daddy..”
“Alhamdulillaahh.”
----
“Hon..”
“Hem?”
“Apa kita perlu menghubungi Abang dulu sekarang dan mengatakan padanya tentang apa yang telah terjadi pada Val, dan kita sedang mengarah ke Jakarta saat ini? Karena aku baru ingat, jika Kaka kan tidak berada di Jakarta sekarang?---“
----
“Bagaimana, Hon? Ada balasan dari Abang?---“
“Belum.”
“Coba hubungi Kediaman dan tanya apa Abang sudah pulang dari Jepang.”
“Oke, kamu dan Val ke mobil saja duluan.”
♥
Jakarta, Indonesia ...
“Kita kembali ke kediaman dulu ya? Kamu istirahat dulu, sayang. Ini kan pertama kalinya kamu berada belasan jam dalam perjalanan selepas kamu tersadar dari koma, jadi kamu harus memperhatikan kondisi tubuh kamu dulu, Val.”
“No, Mommy. Aku ingin segera bertemu dengan Kak Kafeel—“
“Tapi ini sudah larut malam, Baby—“
“Val tidak peduli Daddy—“
♥
Val dengan kekeraskepalaannya yang kemudian menjadi berlarut – larut, membuat Dad R dan Mommy Ara merasa frustasi.
Jika Val tidak pernah melakukan kenekatan dengan mencoba menghabisi dirinya sendiri, mungkin Dad R dan Mommy Ara tak akan segan berlaku tegas pada Val.
Tapi mengingat kenekatan Val itu, Dad R dan Mommy Ara jadi memiliki perasaan was – was karena atas tindakan super nekat yang pernah satu putri mereka lakukan itu – pada kelabilan emosi Val.
Ditambah Val mengidap sebuah sindrom langka, dimana sindrom tersebut banyak juga efeknya. Mudah tersinggung dan marah serta perilaku rewel seperti anak kecil adalah diantaranya.
Dan itu yang sedang terjadi sekarang pada Val. Efek samping dari sindrom putri tidurnya kini sedang membuat Val terlihat gusar selain gelisah, yang apabila dilawan sikap Val itu sekarang, Dad R dan Mommy Ara khawatir Val akan tertekan.
Dan entah apa yang bisa ada dalam pikirannya saat Val merasa tertekan.
Seperti pasca hubungannya dan Kafeel berakhir kala itu.
Lalu Val yang juga tertekan dengan keluarganya yang di matanya terlihat juga tertekan mengetahui Val akan sulit sekali move on, merasa begitu terbebani.
Hingga Val yang lemah perasaannya itu, memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Yang untungnya tidak kesampaian, namun tetap menyisakan trauma dalam keluarga Val.
Makanya sekarang mereka lebih berhati - hati menghadapi Val yang kestabilan emosinya itu di khawatirkan masih labil.
Dan itu yang Dad R serta Mommy Ara lakukan saat ini, yakni membuat Val yang mulai gusar dan gelisah dengan tubuhnya yang agak gemetar berikut wajahnya yang terlihat akan menumpahkan tangis – menjadi tenang.
♥
"Val hanya ingin bertemu dengan Kak Kafeel!" ucapan Val yang gusar dan gelisah itu membuat Dad R dan Mommy Ara tak punya pilihan untuk mengiyakan atas rasa khawatir dan tak tega mereka pada Val. Padahal tidak sedikitpun Dad R dan Mommy Ara ingin menghalangi Val bertemu Kafeel.
Kalau ingin menghalangi kan seharusnya sudah dari sejak Val meminta untuk datang ke Jakarta untuk menemui Kafeel dengan segera, hal itu tidak diiyakan.
Begitu kiranya pikir Dad R dan Mommy Ara. Karena Val yang terkesan sedikit – sedikit mencurigai mereka. Namun apa mau dikata, Val yang sekarang memang sedang tidak stabil pikirannya.
Padahal, Dad R dan Mommy Ara itu hanya ingin Val menunggu sebentar saja untuk memastikan keberadaan Kafeel yang terakhir mereka tahu sedang bersama Varen.
Hanya saja, saat ini Val agak sulit diarahkan kesitu. Karena satu putri mereka itu sudah terlanjur berpikir yang tidak – tidak.
“Baik, tapi tenanglah dulu okay? Nanti kepalamu sakit bahkan kamu bisa pingsan kalau kamu terlalu gusar.“
Jadi kalimat itu yang kemudian keluar dari mulut Dad R untuk menenangkan Val yang perlahan mulai agak tenang. “Dad dan Mommy akan menemani kamu, hem?” yang Dad R lalu katakan, meski kabar dari Varen belum ia terima dan meski juga sudah larut malam.
♥
“Tidak Dad, Val saja sendiri yang menemui Kak Kafeel.“
Jawaban Val setelah Dad R berkata bahwasanya dia dan Mommy Ara akan menemani Val untuk pergi menemui Kafeel yang sebenarnya dua orang tua itu belum tahu betul keberadaan Kafeel yang terakhir mereka dengar sedang berada di Jepang bersama Varen.
Varen yang coba diraih Dad R melalui ponsel, belum memberikan balasan dari chat yang Dad R kirim hingga ia telah sampai di Jakarta.
Lalu Dad R dan Mommy Ara tidak sampai kepikiran untuk menghubungi Kafeel secara langsung, karena terpecah fokusnya oleh kegusaran Val.
Kemudian saat Dad R ingat untuk menghubungi Kafeel, Dad R pun ingat jika saat masih di mansion -- Val meminta untuk tidak memberitahukan Kafeel soal kedatangannya.
Selain Dad R memang tidak memiliki kesempatan untuk menghubungi Kafeel, karena dia dan Mommy Ara sibuk menenangkan Val yang sempat nampak gusar sampai setengah histeris.
♥
“Tidak untuk itu..“ jawaban Dad R atas ucapan Val yang ingin pergi sendiri untuk menemui Kafeel. Dad R yang selalu merasa khawatir pada putri kandungnya itu lebih over protektif pada Val sejak ia pernah melakukan kenekatan.
Bahkan sampai sebelum mereka bertolak ke Jakarta, Val masih tidak dibiarkan sendiri dalam kamarnya.
Tidak oleh Dad R, atau oleh para Dads of The Adjieran Smith yang lain. Yang dengan senang hati mau bergantian menemani dan menjaga Val, saat satu incess itu berada di dalam kamarnya, atau ruang dan sudut lain di mansion.
Selain The Moms dan para anggota keluarga mereka yang lain terutama Mika dan Ann yang sama tinggal di mansion utama London bersama Val juga Rery.
Lalu apabila tiga pewaris muda itu sedang ada kesibukan mereka sendiri, berikut anggota keluarga lainnya, ada para maid dan bodyguard yang senantiasa ditugaskan untuk menjaga Val.
Jadi meski Dad R sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mengabulkan apapun permintaan Val selepas tragedi kenekatannya, namun ada poin – poin tertentu yang digaris bawahi sehubungan permintaan Val untuk dikabulkan.
Seperti permintaan Val yang tadi contohnya, dimana Val mengatakan ingin pergi sendiri menemui Kafeel tanpa Dad R dan Mommy Ara menemaninya. Yang dengan cepat tidak diluluskan Dad R karena kekhawatirannya. Selain, ini sudah larut malam.
♥
“Maksud Val, Dad dan Mommy kembali saja ke KUJ. Biar Val ditemani Kak Achiel.”
Yang Val katakan kemudian pada Dad R dan Mommy Ara, setelah ayah kandungnya itu mematahkan ucapannya yang sebelumnya.
Dimana Dad R tidak memberikan ijin pada Val untuk pergi tanpa ia dan Mommy Ara dampingi di waktu yang selarut ini.
“Kan biasanya juga Val ditemani Kak Achiel selama ini, baik sebelum Val koma dan setelah Val sadar dari koma lalu memulai aktifitas Val beberapa bulan belakangan.”
‘Oh iya..’
Dad R dan Mommy Ara sama membatin setelah mendengar penuturan Val barusan.
“Dan Kak Achiel selalu menjaga Val dengan baik selama ini saat ia sedang bertugas—“
“Boleh kami mempertimbangkannya sebentar?—“
“Iya, Daddy. Tapi pertimbangannya, boleh, ya?..”
__ADS_1
Dad R dan Mommy Ara lalu mengulum senyum mereka setelah mendengar ucapan Val barusan.
♥
“Bagaimana menurutmu Ibu Peri?” Dad R berbisik pada Mommy Ara yang ia bawa sedikit menjauh dari Val.
“Diiyakan saja daripada Val nanti gusar lagi—“
“Tapi aku khawatir meski aku juga melihat tubuhnya sudah mulai gemetar saat gusar..”
“Seperti yang Val katakan tadi, ada Achiel bersamanya. Lalu sertakan juga satu atau dua orang untuk menemani Achiel dan Val.. toh kita masih dapat memonitor dalam perjalanan menuju dan dari KUJ nanti, sambil kita coba lagi menghubungi Abang atau bahkan Kaka untuk mencari tahu dimana dia—“
“Ya sudah.”
Dan setelah berdiskusi sejenak secara singkat dengan Mommy Ara, Dad R menyampaikan ijinnya untuk Val yang hendak menemui Kafeel tanpa dampingannya dan Mommy Ara untuk menemui Kafeel diwaktu selarut seperti saat ini.
Dad R sempat berbicara sebentar dengan Achiel sebelum ia pergi lebih dulu bersama Val dari bandara, dengan menumpangi mobil yang berbeda dari Dad R dan Mommy Ara.
♥
Val telah berada dalam perjalanannya untuk menemui Kafeel bersama Achiel dan dua bodyguard lain yang mendampinginya.
“Kita langsung ke rumah Tuan Kafeel?—“
“Eh jangan. Lebih baik ke apartemennya Kak Kafeel saja, karena dia lebih sering berada di sana seingat Val.”
Val menyambar ucapan salah seorang bodyguard yang bertugas sebagai supir saat ini. “Baik Nona Muda Valera.” Yang kemudian langsung menjawab ucapan Val dengan sigap namun santun, setelah juga sempat melirik Achiel yang mengangguk memberi persetujuannya.
“Kak Achiel.”
Val lalu mengajak bicara Achiel yang duduk disampingnya.
“Iya, Nona?—“
“Maafkan Val yang sempat melupakan Kak Achiel ya?”
“Saya tidak masalah dengan itu, Nona. Dapat melihat Nona lolos dari maut saja saya sudah bahagia. Lebih bahagia lagi, karena ingatan anda sudah pulih. Dan selanjutnya saya ingin anda bahagia terus selain sehat..”
Achiel berkata tulus.
Val pun tersenyum haru. “Terima kasih, Kak Achiel.“ Katanya kemudian.
“Terima kasih kembali, Nona Valera.”
♥
“Kak Kafeel?..”
Val telah berada di unit apartemen Kafeel.
Dimana Val memang dikenali sebagai salah satu putri dari keluarga pemilik gedung apartemen tersebut.
Dan Achiel pun memang dikenali sebagai orangnya keluarga The Adjieran Smith oleh para staf apartemen yang sedang bertugas.
Makanya akses untuk Val menyambangi unitnya Kafeel yang berada di lantai paling atas dan memiliki akses khusus itu dapat dengan mudah Val dapatkan.
Lalu bagaimana Val dapat masuk ke unit apartemen Kafeel dimana tersebut sebagai penthouse itu dengan password sebagai alternatif dari kunci kartu, adalah karena Val mengingat password apartemen Kafeel yang pernah Kafeel berikan padanya.
Bagaimana Val tidak mudah ingat? jika password itu adalah tanggal lahir Val secara lengkap. Meski angka – angka itu baru terbersit di saat Val telah berada di depan pintu unit penthousenya Kafeel.
♥
Val langsung bergegas masuk dengan diekori Achiel ke dalam unit penthouse Kafeel sambil ia memanggil Kafeel. Meski staf gedung mengatakan jika mereka sepertinya belum melihat eksistensi Kafeel di gedung apartemen tersebut selama beberapa waktu, namun Val kukuh mau melihatnya sendiri.
Dan sebagaimana apa yang dikatakan oleh staf gedung apartemen dimana Kafeel memiliki satu unit penthouse di sana, pria itu memang tidak ada di dalam unitnya tersebut.
Yang mana setiap ruangan telah diperiksa oleh Val dengan dibantu Achiel. Dan tidak menemukan Kafeel di sana.
Namun begitu, Val tidak berputus asa.
Setelah sempat menjejaki kenangan di unit penthouse Kafeel yang sempat membuatnya terkesima, dimana foto - foto Val amat sangat betebaran terpajang indah di hampir setiap bagian penthouse Kafeel.
Lalu Val membatin, 'Meski sudah menikah, nyatanya Kak Kafeel masih mencintaiku.'
“Kita ke rumah bunda Magda kalau begitu, Kak.”
Ucapan Val pada Achiel setelah ia cukupkan menjejaki kenangannya bersama Kafeel di penthouse pria itu.
“Baik, Nona Valera.”
Yang tentunya Achiel iyakan, sesuai dengan titah Dad R sebelumnya.
♥
Lengangnya jalanan, membuat Val tak butuh waktu lama untuk sama ke rumah bundanya Kafeel.
Dimana Val yang sejak setengah jalan nampak gelisah itu langsung melesat keluar dari mobil saat mobil yang ia tumpangi telah tepat berhenti di depan gerbang rumah Kafeel – dan setelah kunci otomatis pintu mobil dibebaskan.
Achiel pun dengan sigap melesat menyusul Val yang gelisah itu.
Kegelisahan Val yang berdasarkan atas ketakutan dan kekhawatiran jika dirinya tidak dapat bertemu Kafeel saat ini.
Yang kemudian Val suarakan pada Lena – adik Kafeel, yang kebetulan masih berada di ruang santai rumahnya, dan bunyi interkom yang ditekan seperti tanpa jeda itu langsung ia dengar.
Dan Lena sempat terkejut dengan kehadiran Val di larut malam seperti ini, lalu Val yang juga mengenalinya. Karena menurut penuturan sang kakak yang kembali dari Little Star Island kala itu, Val tidak mengingat Kafeel dan semua hal yang berhubungan dengannya.
Termasuk Lena dan bundanya.
Bahkan Achiel yang baru muncul di dekat Val saja juga Val lupakan, karena keberadaannya baru eksis setelah Val jatuh cinta pada Kafeel.
Jadi Lena cukup terkejut dengan Val yang mengenalinya. Lalu datang diwaktu yang sangat larut serta nampak tergesa sekali. Kemudian saat Lena ingin memastikan lebih lanjut tentang ingatan Val, Val sudah lebih dulu bertanya dengan resah padanya perihal keberadaan sang kakak laki – lakinya.
Pun, ada perkataan Val yang sedikit membuat Lena heran.
Namun keheranan Lena ia pause dulu, karena Val yang mencecar.
♥
“Jadi Kak Kafeel, apa ada di sini?..“
Val yang mencecar Lena.
“Ada, Val. AA ada di kamarnya.“
Dan Lena pun langsung menjawabnya.
“Syukurlah..”
Val merasa begitu lega.
‘Terima kasih Tuhan..’
Val berbisik dalam hatinya kemudian.
“Yuk, aku anter ke kamar AA?—“
“Terima kasih, Lena—“
♥
Setahu Val – sesuai ingatannya yang perlahan kembali, Kafeel telah menikah. Namun saat ia sudah begitu tak sabar untuk bertemu Kafeel, Val melupakan fakta yang sepengetahuannya itu. Tentang Kafeel yang beristri, Val betul – betul lupakan, ketika ia sudah berada di depan pintu kamar Kafeel di rumah bundanya itu.
Dan lebih tidak memikirkan apapun lagi, selain berhambur untuk memeluk Kafeel dan melepas semua rindu pada pria tercintanya itu, ketika Lena telah membukakan pintu kamar Kafeel yang tidak dikunci itu. "Silahkan, Val," kata Lena yang mempersilahkan Val untuk masuk ke dalam kamar sang kakak. Dimana Val sejenak terpaku di tempatnya, memandangi sosok yang sedang terbaring di atas sebuah ranjang itu.
"Kak - Kafeel.." Val lalu melirih dengan menutup mulutnya, dimana bulir air mata Val kemudian turun ke pipi sambil ia memandangi arah selurusan matanya itu.
♥
♥
__ADS_1
“By the way, muka lo pucat banget, Ka? Jangan bilang lo dropped gara – gara lihat foto mesranya Val sama Simon?—“
“Wa elah! Ga segitunya juga kali!”
“Asli, gue ga bohong. Lo pucat banget.”
“Cuma rada cape aja. Karena sebelum ke sini, ada dua event di kafe yang full dari siang sampe malem. Belum sempat tidur.”
“Nah ngapain lo paksain ikut gue ke sini? ...”
"Tapi waktu berangkat gue udah sempet merem kok ..."
"Lo kebiasaan, suka maksain diri."
“Janji harus ditepatin Va. Gue udah pernah ingkar janji sama lo soal bahagiain Val, tapi yang ada gue nyakitin dia banget – banget sampe hampir Val kehilangan nyawa dan membuat lo sekeluarga jadi ikut ngerasain pedih dalam hati kalian. Dan gue ... sangat merasa bersalah untuk itu. Jadi, sekarang ini, andaipun gue sekarat, sebisa mungkin gue tepati janji gue dulu sebelum amsyong—“
“Ck. Things happened are happened lah Ka. Yang penting sekarang lo mendingan balik ke hotel duluan, istirahat. Besok lo balik duluan aja ke Indo. Toh gue minta lo ikut buat bantu gue menilai orang – orang yang mau gue recruit, dan gue rasa list yang kita udah diskusikan cukup. Untuk interview secara personal dengan kandidat, gue bisa melakukannya sendiri—“
....
“Denger ga yang gue bilang? ...”
....
“Ka! Hoy! Lo tidur apa mati?—“
....
“K - a?—“
“Iya, Abang Varen?—“
“Setan! Gue pikir lo mati—“
“Haha! Segitunya Abang Varen khawatir sama adek ipar.”
“Najis!”
----
“Sorry, vertigo kayaknya nih gue—“
“Balik lo ke Jakarta sekarang juga—“
“Gue istirahat bentar juga oke.”
“Ga ada! Lo balik sekarang ke Jakarta.”
“Va—“
“Balik gue bilang! Muka lo pucet macam vampir ga minum darah seabad. Jangan sampai lo collapse, bikin Bunda sedih lagi lo. Tau ga?! Mau lo liat Bunda Ngedrop?! Balik lo ke Jakarta sekarang juga—“
“Oke oke—“
♥
♥
"Kak - Kafeel.."
Val yang melirih dengan masih terpaku di dekat pintu kamar Kafeel yang terbuka.
“AA lagi kurang enak badan. Demam tinggi pas pulang dari Jepang kemaren. Terus vertigonya juga kambuh. Tadi langsung tidur abis minum obat. Sebelumnya sih kayak orang mati abis minum obat.”
Lena sedikit mengoceh. Dan Val mengulum senyumnya, lalu Lena membalas senyumannya. Kemudian mempersilahkan Val untuk mendekat pada Kafeel.
♥
"Kak - Kafeel.."
Val melirih pelan sekali lagi, setelah ia membawa dirinya kini sudah begitu dekat dengan Kafeel yang masih nampak nyenyak terlelap di atas ranjangnya itu.
Rindu dalam hati Val kian benderang kala Kak Kafeel tercintanya itu sudah dalam pandangan Val. Lalu waktu, tak ingin Val siakan.
Bruk!
Val berhambur sangat antusias ke dada Kafeel yang sedang terbaring itu.
Dimana si pemilik dada langsung saja bangun dengan terkejut, ketika merasakan dadanya ditubruk dengan tiba – tiba.
“What the—“
♥
Sang pemilik dada yang ditubruk setengah mengumpat, dengan dirinya yang langsung bangun terduduk. Lalu sangat terkejut saat mendapati seseorang tengah bergelayut memeluknya.
Erat.
Lalu Kafeel memegang tangan yang memeluknya itu, sambil ia juga berucap.
Serta juga ingin melepaskan kedua tangan yang memeluknya itu dari tubuhnya.
“Sia—“
“Kak..”
Tak lanjut Kafeel bicara, ia terpaku dalam posisinya.
Satu tangannya yang terulur ke arah lampu tidur, tergantung di udara -- kala suara yang meski pelan itu ia dengar dengan jelas dan Kafeel kenali dengan teramat.
Suara yang menyebut ‘Kak’ dengan pelan itu.
Terlebih saat sang pemilik suara mengangkat dirinya, hingga samar wajahnya kemudian jelas terlihat dalam pandangan Kafeel -- setelah Lena yang masih berdiri di ambang pintu menyalakan lampu kamar Kafeel.
♥
Cinta memang tak selalu melekat dalam kebersamaan. Tapi akan melekat dalam doa – doa yang disebutkan dalam senyap. Doa Kafeel dalam hal ini. Selain keluasan hati atas ikhlas dan sabarnya atas sebuah penantian.
Penantian cintanya.
Atas cinta yang tulus miliknya pada seorang gadis belia yang membuatnya jatuh dalam kegilaan mencintai seorang wanita.
“V – v – a – l..”
Jangan tanya betapa terkejutnya Kafeel hingga ia menjadi gagap seketika.
Berpikir, jika mungkin ia sedang bermimpi. Namun jika mimpi, mengapa pelukan Val terasa sekali tadi?
Lalu jika mimpi, kenapa wajah yang amat Kafeel rindukan siang dan malam itu menghembuskan nafas hangat yang tidak ia rasakan pada mimpi – mimpinya tentang Val disebelum – sebelumnya, yang hanya Kafeel bisa lihat wajahnya dan tak terasa apabila ia menyentuhnya?
Lalu sentuhan tangan Val di wajahnya, juga amat terasa. Yang mana sama rasanya, saat dulu Val sering mengelus wajahnya itu dalam nyata.
Dan untuk semua yang ia lihat dan rasakan saat ini, Kafeel terpaku.
Namun di detik berikutnya ia tak sanggup menahan airmatanya lolos begitu saja dari pelupuk, ketika suara Lena ia dengar.
“AA ga lagi mimpi.” Lena mendekat, lalu menyentuh pundak Kafeel yang terpaku diam di tempatnya itu.“Karena Lena juga melihatnya, A. Tuan Putrinya AA.. Yang AA rindukan setiap detiknya.. Nyata.. Bukan mimpi..”
Lalu sosok yang membuatnya terpaku tak percaya itu bersuara kemudian.
Berkata, bertanya, dengan senyuman yang bercampur air mata.
“Hai.. Kak Kafeel.. I miss you so much.. Apa Kak Kafeel.. merindukan Val juga?..”
Oh, jangan tanya bagaimana Kafeel meluruh kemudian.
Air mata Kafeel yang tadi turun hanya sebulir kemudian menderas, dengan kedua tangan yang kemudian merengkuh tubuh Val dengan cepat dan eratnya.
Yang rengkuhan Kafeel di tubuhnya itu, Val balas dengan rengkuhan yang sama eratnya. Berbagi airmata, serta rindu yang entah seberapa banyaknya.
__ADS_1
♥♥♥♥
To be continue.....