HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
BEFORE GO – Sebelum Pergi


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


Jangan lupa dukungannya.


Baca dulu tapi episodenya, okeh?


Tenkyu


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Katakan 'Sayang', sebelum kau pergi ...


🍂🍂🍂🍂🍂


Jakarta, Indonesia...


“Kalian duluan saja, nanti aku menyusul..” ucap Val pada para saudara dan saudarinya ketika mereka telah sampai di sebuah pusat perbelanjaan yang memang menjadi tujuan mereka itu, selepas mobil yang ditumpangi Val sempat mampir sebentar di area rumah Kafeel.


Val pikir kuat, nyatanya tidak. Ia yang tadinya ingin turun berpamitan pada ibu dan adik Kafeel, termasuk Kafeel sendiri----mengurungkan niat pada akhirnya untuk keluar dari mobil dan masuk ke sebuah rumah yang ditempati oleh dua orang keluarga Kafeel dan terkadang Kafeel juga bermalam di sana.


Suguhan pemandangan yang Val lihat kala tiba di rumah keluarga Kafeel itu, membuatnya malah jadi meluruh di dalam mobil.


Ada Kafeel dan istrinya di depan rumah tersebut yang nampak sedang berdiri berdua di pandangan Val berikut mereka yang berada bersama Val dalam mobil.


Tidak terlihat sebuah interaksi mesra sih, namun tetap saja----hal itu meremat hati Val teramat kuat. Hingga sesak yang tadinya samar, perlahan mulai kentara.


🍂


“Mau beli apa di sini, Val?”


Aro lantas bertanya pada Val yang menghentikan langkahnya di depan sebuah toko yang memajang beberapa buah jenis mesin kopi modern untuk rumahan di bagian etalase depan toko yang di tata dengan apik dan elegan itu.


Val juga menunjukkan gelagat ingin memasuki toko tersebut, makanya Aro lantas bertanya. “Hadiah..” jawab Val datar, dengan pandangan sedikit nanar memperhatikan ke salah satu mesin kopi modern di etalase toko dekat dirinya berdiri.


“Hadiah un---“


“Kalian duluan saja..” Belum sempat Aro menyelesaikan pertanyaannya, Val sudah keburu memotong ucapan Aro.


“Eh?”


“Kalian duluan saja ke resto, biar aku yang menemani Val---“


🍂


“Kamu ingin beli hadiah untuk siapa, Val?..”


Ann yang ikut serta dengan Isha juga Mika ke dalam toko yang dimasuki Val, lantas bertanya pada Val yang sudah didampingi oleh seorang pramuniaga toko di dekatnya.


‘Tidak mungkin untuk hadiah pernikahannya Kak Kaf, bukan????..’


Kira-kira seperti itu Ann membatin, sama seperti kiranya Isha dan Mika yang ikut serta masuk ke dalam toko.


Sementara Aro-Rery- Ares dan Aina, sudah lebih dulu pergi ke resto yang menjadi tujuan para pewaris muda jajaran para adik itu.


“Hadiah pernikahan untuk Kak Kafeel..” Lalu Val terdengar berbicara, dimana ucapan yang keluar dari mulutnya sungguh membuat ketiga saudari Val yang sedang bersamanya itu terkejut bukan main.


Karena jawaban Val adalah dugaan dari ketidakmungkinan yang Isha, Ann dan Mika sempat pikirkan.


Hingga ketiganya menjadi tidak habis pikir, bingung dengan pemikiran Val.


“Aku tidak memberikannya selamat secara langsung, jadi lewat hadiah saja---“


“But, Val---“


“Kak Kafeel sama seperti Abang dan Dads sangat menyukai kopi hitam. Jadi aku rasa, aku ingin memberikannya coffee machine saja.”


🍂


Di sebuah hunian,


“Nona Muda Valera berpesan, jika anda tidak ingin menerimanya, terserah anda ingin buang atau gimana. Yang jelas saya tidak akan membawanya kembali bersama saya ..”


Ada Achiel yang sedang berbicara pada salah seorang penghuninya, berdiri di teras dan menolak untuk masuk meskipun telah dipersilahkan oleh orang yang sedang Achiel ajak bicara itu.


“Ini---“


“Yang besar ini, hadiah dari Nona Muda Valera untuk pernikahan anda---“


“Ya Allah---“


“Sementara ini .. Adalah sesuatu yang pribadi ..”


Sambil Achiel menyodorkan sebuah kotak kecil berikut dua buah amplop berbeda warna pada orang yang sedang ia ajak bicara itu.


“V-al .. Bagaimana kabarnya, Chiel?---“


“Menurut anda? ..”


Achiel segera menukas ucapan dia gerangan yang sedang Achiel ajak bicara itu.


Ada rasa geram sebenarnya Achiel pada pria yang sedang berada di hadapannya tersebut.


Namun atas nama profesionalitas, Achiel menahan diri untuk tidak memberikan satu bogem mentah ke wajah pria yang telah menyakiti satu nona mudanya dengan begitu dalam.


Walaupun dia hanya seorang pengawal pribadi saja, namun dirinya cukup dekat dengan satu nona muda si penitip amanat yang sedang Achiel dan satu rekannya sampaikan pada yang bersangkutan ini.


Tidak hanya dekat dengan Val saja, tapi juga dekat dengan semua pewaris muda The Adjieran Smith.


Makanya, jika salah satunya ada yang tersakiti----Achiel rasanya geram juga.


Apalagi Val yang memang satu nona muda yang khusus di jaganya jika yang bersangkutan sedang berada di Jakarta.


Yang sering menemani Val kemana-mana, mendengarkan satu nona muda ceriwis itu bercerita sepanjang jalan.


Belum lagi sering dikerjai juga oleh Val.


Jadi saat melihat betapa terlukanya satu nona muda yang dijaganya dengan khusus itu, hati Achiel yang paling ujung tuh rasa dicubit----ikutan sakit.


Terlebih, nona muda yang biasanya ceria dengan senyum yang sering sekali menghiasi wajah cantiknya----berikut kecerewetannya, kini berubah sekali sikapnya.

__ADS_1


Nona Muda Valera yang cerewet itu menjadi sangat pendiam.


Lalu ketika bersuara, Nona Muda Valera terisak. Kemudian meluruh dan lama baru kelar.


Bagaimana Achiel rasanya tidak gatal ingin memberikan bogem mentah ke wajah pria yang sedang ada di hadapannya ini coba? ..


‘Kenapa sih, sampe sekarang ga ada perintah buat gebukin dia?! ..’


Begitu kiranya Achiel berucap dalam hatinya dengan sinis, sambil memandangi dia gerangan yang ada di hadapannya itu----setelah Achiel memberikan tiga buah benda yang dibawanya kepada yang bersangkutan.


“Val .. gue tau, kalau dia menderita sekarang.”


Dia gerangan yang bersangkutan kemudian bicara.


Dia, Kafeel Adiwangsa.


“Gue .. ga bisa ngebayangin bahkan, bagaimana hancurnya Val sekarang .. Tapi, paling engga .. fisiknya .. Val .. sehat kan, Chiel?---“


“Setahu saya, anda sudah tidak diperkenankan untuk tahu setiap hal tentang keluarga majikan saya .. bukan begitu, Tuan Kafeel Adiwangsa? ..”


Achiel menjawab dengan datar pertanyaan Kafeel yang ia tukas dengan cepat, dan selanjutnya Achiel bicara lagi.


“Seperti yang saya katakan tadi, bahwasanya Nona Muda Valera berpesan----jika anda tidak ingin menerima semua yang diamanatkan oleh Nona Muda Valera untuk disampaikan langsung kepada anda, terserah anda ingin buang atau gimana. Yang jelas saya tidak akan membawanya kembali bersama saya ..”


Sambil Achiel menunjuk dengan dagunya barang-barang yang diamanatkan padanya oleh Val untuk diberikan pada Kafeel.


“Apakah ucapan saya sudah cukup jelas, Tuan Kafeel Adiwangsa? ..”


Sementara Kafeel, yang sedang Achiel ajak bicara itu,  kini tidak meresponnya.


Kafeel  terdiam, terpaku pada sebuah kartu ucapan yang sedang ia baca isinya.


‘Oh Val .. Sayang ..’


Yang membatin lirih kemudian di dalam hatinya, dengan tenggorokan Kafeel yang rasanya tercekat kuat, dan hatinya yang dijalari rasa perih.


“Saya permisi.”


Merasa tugasnya telah selesai, dan lagi Kafeel nampak termangu terdiam memperhatikan kartu ucapan yang sedang dipegang dan dibaca oleh mantan calon suami dari satu nona mudanya itu, Achiel bersuara untuk undur diri.


Namun langkah Achiel tertahan.


“Chiel---“


“Ya?”


Achiel merespons.


“Ini ..”


Kafeel menyodorkan satu amplop berwarna cokelat pada Achiel.


“Yang ini gue ga bisa terima ..” Sambil Kafeel berucap demikian.


“Silahkan anda kembalikan sendiri.”


Achiel berujar, mendorong amplop yang disodorkan Kafeel padanya itu.


“Untuk satu hal itu, silahkan anda menghubungi langsung kepada Nona Muda Valera, meski saya ragu beliau akan menerima panggilan telefon anda .. lagipula anda memerlukan ijin para Tuan Besar, berikut Tuan Alva dan Tuan Jonathan untuk dapat datang ke KUJ---“


“Iya, gue tau itu---“


“Dan lagi, percuma saja jika anda ingin mengembalikan langsung ini pada Nona Muda Valera ..”


Achiel berkata sambil menggerakkan dagunya ke arah amplop berwarna coklat dan tipis yang disodorkan oleh Kafeel padanya itu.


“Nona Muda Valera sudah tidak ada di Jakarta---“


🍂


Dear Kak Kafeel,


Terima kasih untuk semua yang pernah Kakak berikan untuk Val.


Untuk cinta dan perhatian Kakak selama ini, meskipun hanya kesemuan semata, meskipun hanya sandiwara.


Terima kasih juga untuk lukanya.


Semoga Kak Kafeel selalu berbahagia.


Maaf, Val tidak dapat memberikan selamat atas pernikahan Kak Kafeel.


Tapi saat melihat coffee mesin ini, Val langsung teringat jika Kakak sangat menyukai kopi hitam.


Jadi Val beli.


Dan ini, hadiah untuk pernikahan Kakak dari Val.


Note:


Val sertakan juga gelang yang couple dengan kakak, serta cincin yang kakak pernah berikan pada Val kala kakak melamar Val di SIN.


Val kembalikan.


Berikut cincin pertunangan kita.


Yang sudah tidak mungkin Val pakai, ataupun simpan.


Jujur, melihat ketiga barang itu, sungguh menyakitkan.


Tapi maaf,  Val tidak dapat mengembalikan gelang yang pernah kakak berikan untuk Val sebagai hadiah ulang tahun Val tiga tahun lalu.


Val menyukai modelnya.


Jadi ini, ada cek kosong yang dapat kakak isi sebagai penggantinya.


Val anggap ini Val beli dari seseorang di suatu tempat saja, agar tidak ada kenangan yang mengikutinya.


Ya sudah, itu saja.

__ADS_1


Sekali lagi, semoga kakak berbahagia.


Dan dengan ini, semua tentang kita, berakhir sampai disini.


Namun begitu, untuk yang terakhir kalinya Val ingin katakan,


Sa-yaang Kak Kafeel ..


*Mau seperti apapun Kakak menyakiti Val.



Salam,


Valera Madelaine Aditama Adjieran Smith.*


🍂


Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia,


‘Sekali lagi, semoga Kakak berbahagia ..’


Monolog lirih hatinya Val, yang sedang berada di dalam kamarnya dalam kediaman keluarganya yang berada di Jakarta tersebut.


Sedang memperhatikan sebuah figura foto yang telah ia turunkan dari dinding, yang kemudian ia letakkan di atas lantai dengan posisi yang disandarkan pada sebuah nakas----bersama beberapa figura lain yang berukuran kurang lebih sama dengan figura berisikan foto seorang pria yang sedang tersenyum tampan itu.


Figura tersebut adalah figura terakhir yang Val turunkan dari dinding kamar pribadinya itu.


Dimana semua foto yang berhubungan dengan pria yang telah menghancurkan hatinya menjadi berkeping-keping itu, telah Val turunkan sendiri.


Sementara foto dirinya yang sendirian, serta foto-foto yang berhubungan dengan keluarganya----masih terpasang indah di tempatnya.


Berkali-kali Val menarik nafasnya, karena dadanya terasa sesak----dan Val berusaha membuat udara masuk ke sana, bersamaan dirinya yang mengusapi terus pipinya yang sudah dibasahi oleh air mata.


Beberapa figura foto yang berisikan gambar diri Kafeel berikut gambar yang memajang gambar diri Val dan Kafeel yang nampak bahagia bahkan mesra serta tidak sampai hancur kala ia histeris waktu itu, sedang Val rapihkan.


Yang berukuran kecil, Val masukkan dalam kotak secara utuh----tanpa dikeluarkan foto dari dalam figuranya. Sementara yang berukuran besar dan terpajang di dinding sebelumnya Val deretkan dengan rapih, sebelum Val tutup figura foto berukuran besar itu.


“Val?----“


“Eh, Kak Via?----“


“Kamu sudah siap?”


“Sudah kok, Kak,” jawab Val pada Via yang datang menghampiri Val ke kamar pribadinya itu.


Sambil Val bangkit dari posisinya yang sedang duduk di atas kedua kakinya yang terlipat di atas lantai yang beralaskan karpet bulu.


“Eumm, Val----“


“Ya, Kak?”


“Kok? Ini kamu tutupin pakai kain putih semua?” Via berujar, setelah ia melayangkan pandangan ke sekitar kamar Val yang nampak berbeda dari yang biasanya itu.


Dimana hampir semua furniture yang ada di dalamnya, sudah tertutup dengan kain putih----termasuk tempat tidur Val.


“Tidak apa, Kak.”


Val menanggapi pertanyaan Via dengan tersenyum.


“Val hanya merasa, jika Val mungkin akan lama tidak menempati kamar ini----“


“Kalau begitu, nanti kami yang akan mengunjungi kamu di London sering-sering.”


Via menukas ucapan Val seraya merengkuh pundak Val dengan mengulas senyuman.


“Iya Kak Via,” balas Val yang juga mengulas senyuman.


🍂


Bagian lain Jakarta, 


“Val pergi dulu, ya? ..”


Val kini sudah berada di bandara, dimana sebagian besar bandara tersebut disewa oleh keluarganya untuk memarkirkan jet-jet pribadi milik tiap-tiap kepala keluarga----termasuk juga jet pribadi yang paling besar diantara semua yang mereka punya jika memang sedang ada.


“Kemarilah ..”


Varen bersuara.


‘Entah kenapa aku ingin memeluknya begitu lama----‘


“Abang .. Val sulit bernafas.”


Val menepuk-nepuk punggung Varen sembari melayangkan protes kecil.


“Tumben sekali Abang mau memeluk Val lama-lama? ..”


Val berujar setelah Varen mengurai pelukan eratnya pada sang adik kandung.


“Biasanya baru Val peluk sebentar saja langsung dilepaskan? ..”


Varen tersenyum simpul mendengar ucapan Val tersebut. “Harusnya kau bersyukur aku sedang ingin memelukmu lama-lama ..”


Val terkekeh kecil.


“Sa-yaaang Abang ..”


Kemudian Val berikut para anggota keluarganya yang lain saling memeluk dan melayangkan kecupan singkat tanda sayang.


Sebelum Val dan mereka yang berdomisili di London bertolak kembali ke Kota Asap tersebut, dan yang biasa berdomisili di Jakarta tetap berada di tempat mereka.


Mungkin akan merencanakan untuk menyusul ke London dalam beberapa hari ke depan.


“Tahu tidak? ..” Val berujar sebelum yang tinggal di Jakarta hengkang dari dalam jet pribadi yang akan digunakan Val dan rombongan yang akan kembali ke London bersamanya.


“Apa? ..”


“Val hanya ingin mengatakan, Val sa-yaang kalian semua ..”

__ADS_1


🍂 🍂


To be continue........


__ADS_2