
BAGAIMANA ITU TIDAK MENYAKITKAN?
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
Jangan lupa dukungannya.
Baca dulu tapi episodenya, okeh?
Tenkyu
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Airmata akan bicara, saat mulut tak mampu lagi menjelaskan sebuah rasa sakit.
💔 💔 💔
The Great Mansion of Adjieran Smith,
Waktu, sebelum dimana pemandangan menyakitkan terlihat oleh mereka yang berada di bangunan megah tersebut.
“Eh, Kak Kaf?...” Ada Mika yang sedikit terkejut ketika ia baru saja keluar dari garasi depan dan melihat ada Kafeel yang baru turun dari sebuah mobil yang sepertinya mobil sewaan.
“Hai, May ----“
“Kak Kaf sama siapa? ----“
“Sendiri.”
Mika pun berdehem samar.
“Kamu ga kuliah, May?...”
“Libur, Kak ----“
“Mau pergi?” tukas Kafeel.
“Iya, tapi ga sekarang. Itu pun kalau jadi...”
“Huum.”
“Ada pekerjaan mendadak ya, Kak?”
Kafeel tersenyum tipis selepas Mika bertanya.
“Kurang lebih begitu...”
“Tapi kalau Kak Kaf mencari Val, dia sedang kuliah sekarang.”
“Iya aku tau...” ucap Kafeel, mengangguk pelan.
“Kak Kaf sedang kurang sehat ya?”
‘Hatiku yang sedang sangat ga sehat.’
“Wajah Kak Kaf sepertinya agak sedikit pucat?...”
“Mungkin hanya sedikit jet lag aja, May ----“
“Langsung istirahat aja Kak, kalau begitu...” gagas Mika. “Kan kebetulan tuh tidak ada si ulat bulu selama beberapa jam ke depan, jadi Kak Kaf bisa mengistirahatkan diri Kakak lebih nyaman sebelum diganggu olehnya ----“
‘Oh Mika, aku malah berharap untuk diganggu olehnya seumur hidup aku ----‘
“Kak? ----“
“Eh, iya, May?”
“Kak Kaf harusnya bilang sama Abang deh, buat sudah mengurangi pekerjaan Kak Kafeel. Kak Kaf sudah terlihat keletihan sekali sepertinya. Baru dua hari yang lalu dari sini, sekarang sudah di suruh mengurus pekerjaan lagi dan kembali ke sini...“
Kafeel hanya tersenyum tipis.
“Ayo masuk, Kak. Biar aku minta maid merapihkan kamar Kak Kaf di sini.”
“Tidak May, tidak perlu,” sergah Kafeel pelan. “Aku kemungkinan tidak lama,” tambahnya. ‘Mungkin ini yang terakhir kalinya aku menginjakkan kakiku di sini ----‘ lirih Kafeel dalam hatinya kemudian.
“Ya ampun. Jangan bilang Kak Kaf mau langsung kembali lagi ke Indo atau terbang ke negara lain sehabis dari sini?...”
Lagi, Kafeel hanya tersenyum tipis.
“Sakit loh Kak, nanti,” sambung Mika.
“By the way, May...” tukas Kafeel. “Dad R... Apa ada di sini?...”
“Ada, Kak,” jawab Mika. “Kalau hanya cari Dad R, ada. Di ruang kerja utama sepertinya. Tapi kalau cari Poppa dan Papa, mereka sedang berada di luar.”
“Tidak apa, May... Dad R pun cukup ----“
“Ya, sudah. Aku bilang pada Dad R dulu kalau ada Kak Kaf di sini ----“
“Iya, May. Makasih...”
Mika menanggapi ucapan Kafeel dengan anggukan dan senyuman, lalu berjalan mengarah ke ruang kerja utama.
‘Val... Sayang... Maaf...’
Kafeel melirih lagi dalam hatinya selepas Mika telah ia lihat berjalan menuju ke ruang kerja utama.
Dirinya kini berdiri di depan sebuah meja kayu panjang, yang memajang foto – foto setiap anggota inti keluarga The Adjieran Smith yang dijajar dengan apik.
Dan foto Val yang sendirian, tengah ia pegang.
Menatap nanar, ada embun di mata Kafeel jika ada orang yang melihat mata itu lebih dekat.
“Kak Kaf, mau sekalian ikut saja ke ruang kerja utama? ----“
“Heu?...“
Kafeel terkesiap ketika Mika yang ia kira sudah berjalan menjauh darinya, tahu – tahu sudah dekat lagi suaranya.
“Ap – apa, May?...”
Kafeel sedikit gelagapan, sambil meletakkan kembali foto Val dalam figura dengan setengah tergesa ----- Seperti pencuri yang tengah dipergoki.
“Itu, tadi aku bilang apa Kak Kaf mau sekalian aja ikut ke ruang kerja utama?”
Mika berujar.
“Ohh...” sahut Kafeel. “Eum, Kakak minta tolong kamu lihatkan dulu Dad R, takutnya beliau sibuk. Aku tungguin ga pa – pa...”
Kafeel berujar kemudian, dan Mika mengangguk.
“Ya sudah kalau begitu, Kak...”
“Makasih sekali lagi, May.”
“Iya, Kak. Sama – sama.”
“.........”
‘Kak Kaf kenapa sedikit aneh ya sikapnya kalau gue perhatikan?...’
♥♥♥
‘Hey Nyonya Kafeel wannabe. Pulang kuliah langsung kembali ke mansion. Calon suamimu ada di sini.
Mika mengetikkan pesan dalam ponsel yang sedari tadi terselip di celananya, sambil senyum – senyum kala dia berjalan menuju ke ruang kerja utama.
‘Pasti Val akan kebakaran jenggot setelah membaca chat gue...’ batin Mika, yang segera memasukkan ponselnya kembali ke kantung celana yang ia kenakan.
Namun tak berapa lama, ponselnya yang disetel ke mode getar dengan bunyi yang pelan itu ----- bergetar dan berbunyi.
‘Duh, si ulat bulu cepat sekali merespon chat gue?... Bucin terlalu akut dasar!...’
__ADS_1
Mika bermonolog sambil tersenyum geli, lalu menggeser ikon berwarna hijau di layar ponselnya.
“Heee ----“
“Kamu serius, May?!”
Baru juga Mika hendak menyahut, namun suara Val sudah terdengar nyaring bertanya dari ujung telepon.
“Iyaa...” sahut Mika. “Kapan aku bohong, coba? -----“
“Okay, I’m sleeding back.”
Klik!
“Waduh!”
Mika menepak jidatnya.
‘Aigooo!!!! Salah gue! Haish! Lupa jika si ulat bulu akan menjadi ulat bulu yang kegatalan sendiri kalau dia sudah mendengar Kak Kafeel ada disini!’
Mika merutuk dalam hati.
‘Harusnya ga gue kasih tau Val buru – buru soal Kak Kaf ada di sini. Bolos nih ya itu si ulat bulu pasti -----‘
♥♥♥
Harusnya...
Harusnya Mika bisa menahan diri untuk tidak mengetikkan chat pada Val agar satu saudarinya itu tidak pulang ke mansion dengan segera.
Harusnya, Val kembali ke mansion saat Kafeel telah pergi setelah mungkin Dad R caci maki bahkan pukuli.
Harusnya, tangan Mika tak iseng sekali untuk memberi kabar pada satu saudarinya itu, tentang si jantung hati Val yang ternyata datang untuk ‘undur diri’
Yang Mika sungguh sesali, sangat...
Sungguh tidak akan Mika kabari Val, jika sedari awal Mika tahu niat kedatangan Kafeel hari ini.
Pemandangan mengiris hati ini, tidak akan Mika lihat dan tatapi.
“KAK KAFEEEELLLL!!...”
Val yang tampak kacau dan histeris dipegangi Dad R dengan kuat.
“M-aayyy... tolong... tolong kejar Kak Kafeel... May... Minta... min-ta dia kembali, Maayy...”
Mika membeku. Memandang pada Dad R, yang menatapnya dengan mata Dad R yang sudah basah dan sendu.
“Ya Allah! Val!”
“Ada apa, Hon?...”
“Dad... ada apa... Val, kenapa?...”
“Baby...”
Yang kemudian semua anggota keluarganya yang sedang ada di mansion, berhambur ke tempat Val yang terlihat, hancur...
Meronta...
Melirih...
Yang berlutut menangis tak habis – habis...
“To-loong Maayyy... Reryy... Ann... to, long... tolong kejar Kak Kafeel... katakan... katakan padanya... kalau Dad R, tadi hanya bercanda... kalau ----- kalau Dad R... Tidak serius... Menyuruhnya pergi dan jangan pernah kembali... Iya, kan... Dad?...”
Val meracau parah.
“JAWAB DAAAD!!!”
Diguncangkan Val, tubuh Dad R yang bergeming dengan rahang yang mengeras namun pedih begitu tersirat di wajahnya.
“Daad hanya bercandaa kan?...”
Yang pada akhirnya tak sadarkan diri di selang detik berikutnya.
Pelupuk mata Mika dan lainnya tak berhenti basah ketika semua orang yang biasanya memang berada di mansion London mereka telah berkumpul semua.
Ada amarah yang menggumpal dalam dada, namun getir pun ikut serta merambat di dalamnya.
Melihat kondisi Val mereka tak tega.
Bahkan lebih parah dari Mika saat syok soal berita tewasnya Arya.
Dan sekarang getir itu pun kembali terasa, saat Val bangun dari ketidaksadarannya.
“Ya Allah senangnya Val melihat kalian semua di sini. Val bermimpi buruk sekali tadi...”
Val menolak kenyataan.
Lalu saat ia disadarkan atas apa yang terjadi yang Val cetuskan sebagai mimpi adalah kenyataan yang harus dirinya hadapi, dara itu tertawa menyedihkan.
“Kalian ini... Candaan kalian luar biasa sekali... Sudah ya?... Berhenti mengerjaiku...”
“Val...” panggilan getir dengan tatapan tak tega menjadi respons mereka yang sedang mengelilinginya.
“Hentikan wajah tegang kalian itu...”
“Baby...”
“Hentikan...”
“Val...”
“Sabar, sayang..”
“Berhenti mengerjaiku, okay? ----“
“Kau yang harusnya berhenti...” tukas Dad R pada Val yang ia pandangi pedih. “Berhenti menolak kenyataan ----“
“Stop, Daddyy...”
“Berhenti membodohi dirimu...”
“Jangan ----- diteruskan, Dad...”
“Kau harus terima semua ini... Baby...”
“Dad, stop...”
“Kau dan Kafeel Adiwangsa sudah berakhir...”
“I SAID STOP DADDYYYY!!!!!”
Val menjerit kencang.
“Itu... itu ----- semua hanya mimpi...”
Lalu kekehan Val paksakan.
“Katakan , iya... please...”
Sambil menatap ke seluruh orang yang menatapnya tak tega yang dibubuhi air mata.
“Katakan iya... Val mo-hoon... Karena dada Val, sesak sekali inii...”
“VAL!”
“Oh Dear...”
“BABY!”
Spontan untuk meraih Val, yang lututnya tampak tak bisa lagi gadis itu topang sendiri.
__ADS_1
Val merosot di tempatnya, dengan satu tangan yang mencengkram dadanya dengan kuat, melalui kaos yang ia kenakan.
“Se – sak sekalii...” rintihnya.
Namun kemudian,
“Iya... Mimpi... Ini hanya mimpi...”
Val mengulas senyuman, dengan tangannya yang kemudian menghapus air matanya dengan kasar.
“Val yakin ini hanya mimpi. Kak Kafeel itu cinta mati pada Val. Jadi tidak mungkin dia mengkhianati Val. Tidak... Tidak mungkin...”
Val menggeleng antusias.
“Val.. Val akan menghubunginya...”
Val bangkit dengan bersemangat, namun dipegangi oleh Mika ----- Karena Val nampak linglung.
“Kak Kafeel, nanti... nanti pasti bilang begini, ‘Makanya, sebelum tidur baca doa agar tidak mimpi seram...”
“Val...”
“Iya, ucapan itu yang akan Kak Kafeel ucapkan pada Val...”
“Stop it, Val...”
Dad R menyergah Val yang nampak bersemangat.
“Val mau mengambil ponsel Val dulu...”
“Aku bilang berhenti Val!” Dad R memekik.
“Val tidak akan berhenti Daddy!” Val pun ikut memekik. “Ini semua hanya mimpi! Kak Kafeel cinta mati pada Val!”
Air mata Val menggenang lagi.
“Lagipula... Val... Memang harus berbicara dengan Kak Kafeel... Kami.. Kami akan melihat pakaian akad bersama... Sudah jadi Daddy... Hanya tinggal Val dan Kak Kafeel coba sekali lagi... Mau membawa juga, gaun untuk resepsi... Iya, kan Mommy?...”
“Hentikan, Val...” Lirih Dad R. “Terimalah kenyataan... Kau dan Kafeel sudah selesai ----“
“Tidak, Daddy tidak... Kak Kafeel mencintaiku... Dan apa yang aku rasa aku alami... Itu hanya mimpi... Hanya Mimpi Daddy!----“
PLAK!
“R!”
“HON!”
“DAD!”
“KAK!”
Pekikan langsung terdengar, kala sapaan telapak tangan Dad R sampai ke satu pipi Val.
“SADAR VALERA ADITAMA SMITH! KAU DAN KAFEEL ADIWANGSA TIDAK DITAKDIRKAN UNTUK BERSAMA!”
“Daddy, jangan mendoakan seperti itu...”
“Dia yang katamu mencintaimu... Nyatanya sudah akan memiliki anak dari wanita lain... Dan Itu, Ke – Nya – Ta – An!”
Tak ada maksud Dad R berlaku kasar pada Val.
Dad R hanya tak tahan, Val perlu benar – benar disadarkan.
Rencana pernikahannya dan Kafeel telah hancur berantakan.
Tak hanya kebahagiaan Val yang hilang, namun kebahagiaan Dad R dan semua orang pun sama hilang.
Harapan, sudah koyak menjadi serpihan.
“This is not a dream, Baby...” Ditangkup wajah Val kemudian.
“Ke – napa, Daad?... Kenapa ini terjadi?...”
Tangisan Val pecah lagi.
“Dada Val sesak sekalii... Jadi katakan... Katakan kalau ini hanya mim - pi...”
Val luruh di pelukan Daddy R, dengan melirih pilu.
“Se,sak Daddyy... Se - saak...”
Oh hati, milik mereka yang bersama Val, kembali dirambati getir dengan cepat.
Hingga sesak yang menghimpit rongga dada, tak hanya di rasa oleh Val saja.
💔 💔 💔
Sejenak, suasana di mansion tenang. Val diminta kembali ke kamar, dan dua saudari serta saudaranya mengantarkan. Lalu Val minta ditinggalkan sendirian dalam kamarnya.
Yang diiyakan, karena dirasa Rery, Mika dan Ann ----- Jika Val butuh ketenangan.
Alih – alih tenang, lima belas menit kemudian Val muncul lagi ke hadapan mereka yang belum membubarkan diri dari tempat di mana Val meluruh tadi.
Rapih.
Dengan sebuah tas selempang yang tersampir di salah satu bahu Val.
“Aku akan ke Jakarta sekarang juga -----“
‘Ya Tuhaannn...’ Mereka yang ada di hadapan Val itu, berkesah dalam hati bersamaan.
“Aku ingin memastikan, jika ini memang bukanlah sebuah mimpi -----“
“Baby -----“
“Biarkan.”
Suara Dad R terdengar.
“Biarkan gadis keras kepala itu pergi dan memastikan sendiri. Kalau Kafeel Adiwangsa sudah memilih jalannya...”
Menyergah mereka yang ingin menyergah keinginan Val yang tadi ia cetuskan.
“Dimana di jalan itu, bukan dirinya yang Kafeel Adiwangsa hampiri... Jadi biarkan... Biarkan dia pergi... Agar dia bisa melihat sendiri, sampai dia yakin... Jika mimpi indahnya yang telah Kafeel Adiwangsa bunuh mati, bukanlah sebuah mimpi...”
💔 💔 💔
Bukan salah Val, jika ia begitu keras menolak kenyataan ----- atas Kafeel yang telah menghancurkan satu dunianya yang penuh dengan bahagia.
Hingga kerasnya keinginan untuk memastikan alasan yang Kafeel katakan saat mengakhiri hubungan secara sepihak itu, Val kukuhkan.
Yang seharusnya tidak Val lakukan.
Karena sekarang, tak hanya harapannya yang semakin lebur.
Kala langkahnya sampai di sebuah rumah, yang ia lewati pagarnya dengan tergesa.
Hati Val, menjadi seperti sebuah kain putih yang dihias dengan tinta darah.
Disaat kalimat itu Val dengar.
Tak menggunakan pengeras suara, tapi Val bisa jelas mendengarnya.
“Saya terima nikah dan kawinnya Maura Cahyani binti Alam Yovan dengan mas kawin tersebut tunai.”
Di detik dimana, Val merasa hidupnya berakhir sudah.
💔 💔 💔💔 💔 💔
To be continue...
Mata aman?...
__ADS_1