
( PERNYATAAN )
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Little Star, Isola, Italy,
“Macam mau ambil kredit perbankan.” Adalah komentar spontan dari mulut Daddy Jeff setelah mendengar Arya menjawab keraguan Nathan atas sikapnya dan Mika yang nampak cuek – cuekan padahal kata Arya, dia dan Mika udah balikan.
“Nanti deh aku ceritain ...” jawab Arya menanggapi komentar Daddy Jeff, yang kemudian manggut – manggut kecil bersama Nathan.
“Ngomong – ngomong, Kaka, Dewa dan Ichel mana? ... Di ruangannya Val kah? ...”
Mama Jihan yang kemudian terdengar bertanya.
Yang kemudian pertanyaan Mama Jihan itu di jawab ‘Iya’, oleh Aro karena ia sudah dari ruangan Val sebelum bergabung ke ruang makan yang ada dalam kastil keluarganya di sebuah pulau pribadi mereka yang Varen beri nama Little Star Island itu.
♥
Malam berlalu, namun langit di atas pulau itu sedikit tertutup awan walau pagi telah datang.
Beberapa orang yang menempati sebuah kastil yang berdiri pada sebuah pulau pribadi dan tersembunyi telah bangun dari tidur mereka serta juga telah melakukan ragam aktifitas.
“Morning, Pap –“
“Go to your room and take enough rest ( Pergilah ke kamarmu dan istirahat dengan cukup )”
Adalah Papa Lucca yang menanggapi sapaan Kafeel ketika Papa Syaiton itu masuk ke ruang rawat Val, dan melihat Kafeel masih setia berada di sisi brankar Val.
“It’s okay, Pap. Aku sudah tidur kok –“
“Apa kau berjaga sendirian disini semalaman?“
“Tidak, Pap. Aku bersama Daddy Dewa, Arya dan Aro ...”
Kafeel menjawab pertanyaan Papa Lucca dengan dirinya yang sudah berdiri dari posisinya dan berhadapan dengan Papa Ghost yang masih gagah itu, meski usianya sudah kepala lima.
“Tapi tadi mereka undur diri untuk subuh berjamaah ...”
Kafeel lanjut bicara, menerangkan.
“And you didn’t go with them? ( Dan kau tidak ikut serta bersama mereka? )” tanya Papa Lucca kemudian.
Kafeel menggeleng.
“I’m doing prayer by myself here ( Aku beribadah sendiri di sini ) –“
“Aku senang mendengarnya.”
Papa Lucca menampakkan seulas senyumnya, sambil menepuk pelan lengan Kafeel.
“Karena kami mendengar kabar kau telah menjadi seorang dengan kelakuan yang buruk selama beberapa bulan terakhir. Dan aku berikut para Dad serta Mom termasuk juga The Olds, sangat prihatin dan bersedih hati juga mendengarnya, sekalipun kami pernah sangat marah padamu ...”
♥
Kafeel menunduk setelah Papa Lucca berbicara sedikit panjang, dimana setelahnya Kafeel menarik sudut bibirnya dan mengangguk patuh sambil memandang pada Papa Lucca yang menasehatinya kemudian. “Tapi untuk kau ketahui, semarah apapun kami padamu, kami tidak pernah sedikitpun membencimu. Dan kami sungguh menyesal mendengar kelakuan minusmu, bahkan kau menjadi seorang pecandu alkohol. Hentikan kebiasaan itu mulai sekarang, jadilah Kaka yang seperti selama ini kami kenal ...”
“Iya, Pap ... Pasti akan aku hentikan kebiasaan burukku itu selama beberapa bulan terakhir.”
Kafeel berujar, dan Papa Lucca kembali mengulas senyuman.
Lalu satu tangan Papa Lucca terulur ke kepala Kafeel dan mengacak pelan rambut pria itu.
Setelahnya Papa Lucca mengulangi perintah kecilnya pada Kafeel, yakni menyuruh pria itu kembali ke kamarnya dan beristirahat.
“Aku tidak apa, Pap. Aku tidak merasa kurang istirahat ...”
Namun Kafeel menolak untuk meninggalkan ruang rawat Val.
“Jangan membantah,” tegas Papa Lucca pada Kafeel kemudian, dengan nada suara yang normal.
“Baik, Pap.”
Kafeel akhirnya patuh.
“Tapi aku ingin berada di sini sebentar lagi saja ...”
“Hanya sampai sarapan siap, karena kau harus ikut serta bersama kami di ruang makan –“
“Iya, Pap.”
“Kalau begitu, aku tinggal dulu.”
“Iya, Pap.”
“Datang segera ke ruang makan saat kau dipanggil. Karena selain kau butuh asupan gizi, ada hal yang ingin kami bicarakan denganmu ...” ucap Papa Lucca lagi.
♥
“Ka, ayo sarapan.”
Papi John yang memanggil Kafeel.
“The girls yang akan menemani Val di sini ...”
Papi John berucap lagi.
“Ga apa Pih, biar The Girls sarapan dulu. Nanti aku bisa menyusul sarapannya kok. Lagian aku juga belum lapar.”
“Mereka sudah duluan sarapan.”
“Oh, ya udah ... Aku tunggu mereka datang, baru aku nyusul ke ruang makan ...”
Papi John pun mengangguk. Dan setelahnya ia melenggang menuju ruang makan.
Dan Kafeel segera menyusul ke ruang makan kastil di Little Star Island itu, ketika empat Incess of The Adjieran Smith telah masuk ke ruang rawat Val.
Dimana di ruang makan kastil telah berkumpul semua anggota keluarga The Adjieran Smith termasuk juga Arya, selain empat Incess yang sedang giliran menemani Val dan seperti biasa membersihkan tubuh Val dan tentunya mengajak ngobrol Val, demi memicu salah satu saudari mereka yang masih betah ‘tertidur’ itu agar segera siuman dari ‘tidurnya’ yang sudah hampir lima bulan.
__ADS_1
“Waduh, Mamam abis digempur tanpa ampun kayaknya nih?” Adalah Mama Jihan yang nyeletuk, ketika melihat Drea datang ke ruang makan dengan di gendong belakang oleh Varen yang cengengesan.
Dan Drea nampak lemas dan lesu.
“Emang Abang rese! ...”
Drea pun langsung menanggapi celetukan iseng Mama Jihan tadi.
♥
Drea langsung didudukkan Varen di atas kursi yang biasa Drea duduki di ruang makan kastil pada Little Star Island. Lalu Varen mengambil tempat di samping Drea, sambil Varen tetap cengengesan.
“Drea katanya mau balik lagi ke Jakarta hari ini?” Mama Jihan lalu bertanya. Sementara yang bersangkutan masih merungut sembari melirik sebal ke arah suaminya yang cengengesan itu.
‘Hah! Berjalan dari kamar ke sini saja tidak kuat!’ batin Varen.
“Ga jadi ...”
Baru Drea menjawab pertanyaan Mama Jihan tadi.
Dan sekali lagi, Drea melirik sebal ke arah Varen.
“Kenapa? Sudah hilang keinginanmu untuk mengurus istrinya Kaka?” Kini Poppa yang bertanya.
“Beluum –“
“Lalu kenapa ga jadi?”
Mama Jihan kembali bertanya.
“Ya itu seperti yang Mama Bear bilang tadi.”
Drea lalu menjawab.
“Drea digempur habis oleh Abang, bahkan sampai habis subuh tadi. Mentang – mentang Putra tidur di kamar Tan – Tan dan Via ... Kan Drea jadi lemas dari ujung rambut sampai ujung kaki? Belum lagi pinggang ke bawah Drea, rasanya encok!” cerocos Drea.
Tawa pun pecah di ruang makan kastil dalam Little Star Island itu seketika.
♥
“Lagian ngapain si ‘Ya, repot – repot ngurusin itu istrinya Kak Kaf? Papa Rico sama Papa Sean juga pasti udah ngurus itu cewe –“
“Permisi.”
Sebuah suara memutus ucapan Arya yang barusan berkomentar setelah ia tergelak bersama para anggota keluarga The Adjieran Smith yang ada di ruang makan.
Senyum lalu terulas di bibir para wanita The Adjieran Smith yang ada di ruang makan, ke arah sumber suara. “Kemari, Ka.”
Mommy Ara yang berkata, mewakili lainnya untuk mempersilahkan dia gerangan yang baru bergabung di ruang makan.
Kafeel.
“Iya, Mom.”
Yang kemudian menanggapi perkataan Mommy Ara seraya Kafeel mengangguk dan berjalan mendekat ke meja makan.
♥
Papi John menarik sedikit kursi kosong yang ada di sampingnya.
“Iya, Pih. Makasih –“
“Makan yang banyak. Lo sudah macam zombie gue lihat,” tukas Varen.
“Iya ... Makasih Va –“
♥
“Abis ini kamu istirahat Ka,” ucap Mami Prita saat ia dan semua yang bersamanya di ruang makan dalam kastil di Little Star Island itu akan memulai sarapan mereka.
“Istirahat. Jangan teka. Lo udah banyak nyusahin kita orang. Jangan nambah – nambah –“
“Jonathan Alton Smith,” Daddy Jeff menukas anak kandungnya yang mengeluarkan kalimat cibirian yang semua orang tahu jika itu tertuju pada Kafeel, termasuk Kafeel sendiri yang sadar cibiran Nathan untuknya itu. “Kau belum diminta untuk berkomentar, jadi makanlah dengan tenang,” ucap Daddy Jeff lagi.
“Iya, Dad. Sorry ...”
Nathan lalu menyahut.
♥
Sesi sarapan keluarga The Adjieran Smith berikut tiga kerabat yang ada bersama mereka dalam kastil di pulau pribadi milik keluarga tersebut berlangsung dengan tenang, tanpa ada sedikit pun percakapan. Hingga satu per satu orang di ruang makan dalam kastil tersebut selesai dengan sarapan mereka.
“Ka, setelah ini, kami ingin berbicara sebentar denganmu.”
Daddy Dewa lalu bicara setelah ia menelungkupkan sendok dan garpunya di atas piring makan miliknya.
Kafeel yang merasa jika ucapan itu tertuju untuknya pun langsung mengangguk mengiyakan ucapan Daddy Dewa barusan itu.
“Tapi jika kau memang ingin segera beristirahat pun tidak masalah.”
Dad R yang kemudian bicara. Dan Kafeel langsung menanggapinya. “Engga Dad, itu ga masalah. Aku juga udah sempet tidur di ruangan Val semalam ...”
♥
“Kau menyekap istrimu?”
Pertanyaan langsung keluar dari mulut Poppa, ketika para pria telah melipir ke salah satu ruangan di dalam kastil mereka di Little Star Island itu, selepas dari ruang makan.
Kafeel langsung mengangguk tanpa ragu. “Iya Pop,” ucap Kafeel kemudian.
“Kau juga menyiksa fisiknya?”
Poppa kembali melontarkan pertanyaan.
“Seingatku aku pernah menamparnya sekali, lalu mengikatnya di gudang. Mencekiknya setelah aku mendengar kalau Val telah bunuh diri –“
“Kau tahu apa konsekuensi tindakanmu itu?” tukas Daddy Jeff.
“Iya, aku tau, Dad. Jika setelah ini aku akan meringkuk di penjara pun aku tidak masalah.”
“Sepertinya kau sudah siap sekali untuk hidup di dalam penjara?”
__ADS_1
Daddy Jeff setengah mencibir. Kafeel tersenyum samar di tempatnya.
♥
“Jika kami meminta Rico dan Sean angkat tangan soal urusanmu dengan istrimu dan orang tuanya itu, kau akan masuk ke penjara ... Bahkan mungkin penjara di Malay. Dan kau pasti akan dibuat menderita di sana, mengingat mertuamu itu memiliki kenalan seorang petinggi polisi di negara itu ... Dengan mengatakan kau siap di penjara, kau percuma saja menyesal jika itu terjadi ...”
Papi John yang kini angkat suara, dan Kafeel lagi – lagi tersenyum samar. “Satu – satunya penyesalanku adalah menyakiti Val sampai sebegitunya. Tak berpikir panjang atas dasar tekanan tanpa ada celah bahkan waktu bagiku memikirkan cara untuk menggagalkan rencana licik mereka dan aku langsung berputus asa –“
“Jadi kau menyadari jika dirimu bodoh?”
Dad R setengah sarkas.
“Iya ...”
Kafeel segera menyahut.
“Sangat bodoh bahkan.”
♥
“Papa Rico dan Sean telah mengurus istri dan mertua lo.”
Varen yang kini angkat suara.
“Papa Lingga kenal dengan seseorang yang lebih berkuasa di Malay, jadi mudah saja untuk ‘mengurus’ dua mertua sialan lo itu. Termasuk juga istri lo, yang sudah dimasukkan ke daftar hitam orang – orang yang dibanned masuk ke Indo. Dan mudah saja juga jika membuat tiga orang itu dibanned dari Malay.”
Varen lanjut bicara.
“Tapi selanjutnya, kami serahkan itu pada lo. Bagaimana nasib mereka selanjutnya, kami kembalikan pada lo untuk memutuskan,” tambah Varen.
“Terserah aja, Va. Mau dibunuh sekalipun terserah ...”
Kafeel langsung menanggapi ucapan Varen.
“Gue udah ga peduli. Tapi mungkin gue aja lah, yang urus.”
Kafeel lanjut bicara.
“Bilang aja dimana mereka sekarang. Besok atau lusa gue ke Indo atau ke Malay untuk mengurus mereka kalau mereka ada di dua tempat itu. Kalian sudah cukup banyak membantuku.”
♥
“Selebihnya tentang tiga orang itu, biar aku yang menyelesaikan,” ucap Kafeel lagi sambil memandang tanpa ragu ke arah Varen dan beberapa pria The Adjieran Smith yang sedang bersamanya, termasuk juga Arya.
Dimana para Dad berikut Gappa yang kemudian m*ndesah berat sambil memandang pada Kafeel. “Satu – satunya yang harus kau selesaikan, adalah statusmu itu ... Dan dari informasi yang kami dapat, pernikahanmu itu telah terdaftar secara hukum ...“
Dad R kemudian angkat suara lagi.
Dan Kafeel langsung manggut – manggut.
“Aku sudah mengeluarkan kata talak padanya, sebelum aku datang ke London saat hendak memastikan kabar Val yang kudengar sudah tiada. Aku tidak memperhatikan soal pernikahan sialan itu yang sudah terdaftar secara hukum ...”
♥
“Kalau begitu, besok atau lusa aku akan kembali ke Indo untuk mengurus perceraianku secara resmi –“
“Itu saja yang perlu kau lakukan terkait istrimu,” tukas Poppa datar, namun ada ketegasan yang terpancar dari ucapannya yang menatap serius pada Kafeel. “Selebihnya kau tidak perlu berbuat apa – apa.”
“Tidak ada bantahan,” ucap Dad R mempertegas ucapan Poppa.
“Iya, Dad, Pop ...” Kafeel paham dan patuh.
“Ya sudah pergilah ke kamarmu dan beristirahat,” cetus Dad R.
“Tidak boleh ada bantahan untuk itu juga. Ada The Girls yang menemani Val, dan kami yang akan bergantian menemaninya. Jadi kau beristirahatlah dengan baik, tidak perlu sampai berpikir jika kami akan membawa Val pergi dari sini saat kau sedang pergi beristirahat.”
Gappa yang angkat suara menimpali cetusan Dad R, dan Kafeel menampakkan senyuman seraya ia mengangguk patuh.
♥
“Iya Gappa –“
“Ya sudah sana.”
Varen menukas sahutan Kafeel pada Gappa.
“Iya ...” jawab Kafeel.
♥
“Tapi maaf sebelumnya.”
Kafeel yang masih belum beranjak dari duduknya, dan menatap bergantian para pria di depannya.
“Setelah aku menyelesaikan semua urusanku terkait perceraianku, apa aku masih diperbolehkan untuk kembali ke sini?”
Kafeel bertanya dengan nada suara ragu – ragu.
♥
“Silahkan saja.”
Poppa yang langsung menjawab pertanyaan Kafeel tadi.
“Tapi satu hal yang perlu lo camkan baik – baik dalam otak lo.”
Varen kemudian menimpali.
“Sekalipun lo sudah bercerai dengan wanita busuk itu, dan kami semua tahu alasan lo kenapa sampai menikahinya. Jangan punya harapan, kalau lo dan Val akan kembali selayaknya dulu bagaimana hubungan kalian. Karena sedikit banyak, kecewa dan sakit di hati kami atas apa yang terjadi pada Val, masih ada. Jadi andai Val siuman dan selamat, kehadiran lo sebagai someone special untuk Val, sampai dengan detik ini, kami belum dapat menerimanya. Apa lo paham maksud gue?”
“Iya Va, gue paham. Sangat paham dan sadar diri. Gue akan terima apapun resiko asal Val selamat. Cukup melihat Val hidup dengan sehat dan bahagia, begitu aja, gue pun bisa bahagia. Karena bagi gue Val itu anugrah, yang dengan hanya mencintainya aja, gue bisa merasakan lebih dari sekedar bahagia –“
♥♥♥
To be continue ......
Esok hari, berhubung persiapan
lebaran, harap maklum kalau update terhambat yawgh.
Ma acih and Loph Loph selalu.
__ADS_1