HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
URUSAN ASMORO


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Jakarta, Indonesia..


“Cepat ke KUJ!”


“........”


“Dengar tidak?!”


“I-iya, Nona Mikaela.”


--


“Mohon maaf, Nona Mikaela... Ini, Bram telfon... Saya angkat, atau engga, Nona?—“


“Bilang aja suruh Kak Bram dan Kak Ken naik taksi ke KUJ!”


“I-iya, baik, Nona Mikaela....“



Mobil yang ditumpangi Mika kemudian dilajukan dengan segera oleh supir yang mengendarainya, dimana Mika duduk sendirian di kursi penumpang tengah dengan wajahnya yang ia palingkan ke jendela mobil di sebelah kanannya.


Rona merah kemarahan masih terjejak di wajah Mika dengan mengetat pula wajah cantik Mika, yang kesan judesnya jadi bertambah-tambah.


Namun begitu, mata Mika nampak berkaca-kaca dan ada jejak airmata di pipinya yang disebabkan matanya yang berkaca-kaca dari sejak ia mulai melangkah berpaling dari pemandangan yang meremat hatinya dalam kamar di unit apartemen Arya itu sempat mengeluarkan airmatanya.


Sudah langsung juga Mika hapus saat airmatanya itu keluar dan membasahi pipinya.


Tapi kemudian terbentuk lagi-----karena saat ia mulai berada di dalam mobil yang akan membawanya ke KUJ, Mika kembali mengingat apa yang ia lihat di unit apartemen Arya beberapa saat yang lalu.


‘Sialan!’ umpat Mika dalam hatinya. Sambil ia kembali menghapus kasar airmatanya.


Sementara supir yang mengendarai mobil yang Mika tumpangi, sering melirik Mika dari spion dalam mobil.


Hanya saja sang supir bungkam, enggan untuk bertanya. Meski dirinya penasaran, kenapa sang nona muda yang tadi nampak sumringah mukanya-----kini nampak marah dengan kesenduan yang juga nampak di wajah sang nona muda.


“Ternyata lo laki-laki brengsek, Arya Narendra!—“


Mika seringkali terlihat bicara sendiri, yang ucapannya tak jauh-jauh dari umpatan dan rutukan dengan nada suara yang bak orang sedang menggumam pun menggeram tertahan.


Dimana hal itu berlangsung hingga mobil yang ditumpangi Mika telah sampai ke kediaman utama keluarganya yang bertempat di Jakarta, yang belum sempat Mika sambangi dari sejak ketibaannya di Kota Metropolitan tersebut.



Kediaman Utama Keluarga The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia..


Mikapun keluar dengan tergesa dari mobil yang ditumpanginya saat seorang penjaga yang bertugas berjaga di dekat pintu masuk utama, membukakan pintu mobil di sisi tempat Mika duduk-----tanpa Mika yang biasanya mengucapkan terima kasih jika para pekerja melakukan tugas mereka, melakukan hal itu pada seorang penjaga yang membukakan pintu mobil untuknya, serta juga menyapa kedatangan si Neng Judes yang wajahnya kini sulit diartikan ekspresinya.


Mika melangkahkan kakinya lebar-lebar dan cepat sejak ia turun dari mobil menuju ke area dalam kediaman utama keluarganya yang bertempat di Jakarta itu-----KUJ, biasa tempat itu disebut. “Selamat datang, Non Mikaela,“ satu art ada dan menyambut Mika di area dalam KUJ.


Dimana satu art itu pun menyapa sang nona muda yang baru saja tiba, seperti penjaga di luar pintu masuk utama hunian The Adjieran Smith Family yang berada di Jakarta itu. Dan sikap Mika pun sama seperti saat ia disapa oleh penjaga di luar pintu masuk utama KUJ tadi.


Si Neng Judes mengabaikan sapaan dari art yang menyambutnya, dimana Mika terus saja berjalan dengan nampak buru-buru-----ingin segera pergi ke kamar pribadinya yang ada di satu kediaman milik keluarga besarnya itu.


Arah Mika berjalan saat kian dalam di KUJ saat ia hendak menuju tangga utama kemudian membuat Mika terlihat oleh beberapa pria yang sedang duduk bersama di sebuah ruang terbuka dekat tangga tersebut. Dimana salah satunya hendak menegur Mika, namun urung karena Mika yang sebelumnya berjalan dengan nampak tergesa itu berdiri di ujung tangga dan berbalik badan kemudian berseru pada seorang art yang memang mengikuti langkahnya meski tujuan art tersebut bukan untuk mengikuti Mika.


Hanya searah, namun tentu saja majikan kan jangan disalip langkahnya.


*****


Daddy Dewa yang sebelumnya ingin menyapa Mika.


Dimana ayah kandung Mika itu belum lama mengetahui apa yang terjadi diantara Mika dan Arya, dan sedang duduk membahas permasalahan 2 anak manusia yang masih hangat untuk dibicarakan, pun mencari solusi.


“Bi Farah....”


Namun Daddy Dewa spontan mengurungkan niatnya menegur Mika, karena putri kandung Daddy Boo-Boo yang tadinya ingin ia sapa itu kemudian diajak duduk bicara-----menghentikan langkah sambil langsung berbalik untuk mengajak bicara seorang art yang kiranya seusia dengan The Moms.


Lalu Daddy Dewa kemudian jadi sedikit terkejut bersama beberapa pria lainnya, karena ketika Mika berbalik badan sambil bicara pada seorang art yang Mika sebut namanya itu,


“Kalau Arya Narendra Datang Ke Sini Bilang Aku Ga Sudi Temui Dia!”


Mika langsung berseru dengan nada suara yang cukup lantang dan nampak geram.



“May,”


Daddy Dewa baru langsung angkat suara sambil berdiri dari duduknya dan menatap Mika seraya menegur putri kandungnya yang sedang nampak gusar dan geram itu.


Sikap yang tidak pernah Daddy Dewa atau para keluarganya lain lihat dari seorang Mikaela Finn Smith.


Kalau ngambek sih, sudah biasa.


Tapi Mika kali ini terlihat begitu emosi selain ada sendu juga yang tertangkap diwajah Mika, dan Daddy Dewa kiranya sudah tau penyebabnya.


“Maaf Dad, aku ingin ke kamar dan tolong jangan menggangguku.”


“May—“


“Biarkan saja dulu,” potong Dad R, kala Daddy Dewa hendak mengejar Mika yang sudah berjalan dengan cepat menaiki tangga selepas putri kandung Daddy Dewa itu menanggapi panggilan sang ayah yang berniat untuk mengajaknya bicara.


“Perempuan mana juga pasti geram jika ada di posisi May, Dad,” timpal Nathan. “Dan pastinya perasaan May juga lagi kacau balau sekarang. Jadi mendingan dibiarin aja sendiri dulu....” tambahnya.


Dimana kemudian misuh-misuh beberapa orang muncul dari ruangan lain bertanya ada apa selepas tadi mereka juga mendengar seruan Mika yang terdengar begitu kesal.


Yang kemudian beberapa orang yang menghampiri ke tempat Daddy Dewa berada mendapat cerita tentang insiden antara Mika dan Arya berdasarkan laporan yang diberikan salah satu bodyguard mereka, dari mulut Daddy Dewa yang menceritakan ulang apa yang satu bodyguard itu laporkan via telepon padanya.


“Yang bener, Dad???”


“Begitu yang Bram katakan padaku.”


“Masa sih Arya kayak gitu???—“


“Akupun ragu jika Arya sebrengsek itu,“ tukas Daddy Dewa.


“Tapi melihat sikap May tadi, sepertinya ia melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Arya selingkuh?”


“Do not judge tanpa tau story. Kadang yang terlihat mata bukanlah yang sebenarnya bila kita tidak melihat awalnya....” celetuk Papi John mengomentari beberapa cetusan dugaan yang tertuju pada Arya.


Lalu timpalan atas celetukan Papi John, datang dari Dad R. “Hem.... Jangan berspekulasi dulu, sebelum ada bukti kongkret yang menjadi bukti benar atau tidaknya suatu fakta—“


*****


Timpalan Dad R atas celetukan Papi John kemudian diiyakan Varen.


Varen paham betul ucapan ayah kandungnya itu, karena dirinya adalah orang yang tidak akan menyimpulkan sesuatu sebelum dirinya memahami betul sikonnya.


“Nganter kepala, lo?...” namun begitu, saat Arya telah muncul di hadapannya dan para pria yang sedang bersama Varen di teras depan KUJ yang seolah menyambut Arya ketika saat mereka sedang membahas masalah Arya dan Mika, si Recehboy itu menghubungi Daddy Dewa.


“Dad, Mika salah paham.”


“Salah paham bagaimana?”


“Tadi itu, bla... bla... bla...”


“Kau—“


“Tapi sumpah mati Dad ga ada apa-apa yang terjadi antara aku sama itu perempuan sialan!”


“Sangkalanmu tak guna tanpa kau memberikan bukti atasnya, Arya Narendra—“


“Oke, aku akan kumpulin bukti kalo emang aku ga seperti yang Mika pikirkan waktu dia ke apartemen aku tadi—“

__ADS_1


“Aku menunggumu kalau begitu.”



“Assalamu’alaikum.”


Gugup, tapi Arya datang dengan bukti tentang jika benar semua yang Mika lihat tidak seperti yang si Neng Judes itu kiranya pikirkan sampai menjadi murka pada Arya.


Menelan saja ancaman dan cibiran dari dua kakak lelaki Mika, Arya akan fokus pada tujuannya. Membuktikan kalau dirinya bukan pria brengsek dan benar-benar setia pada Mika.


“Ini, Dad...”


Dan bukti yang bisa menguatkan pembelaan dirinya itu, telah Arya masukkan ke dalam sebuah alat penyimpanan data eksternal yang dikenal dengan flashdisk.


Yang mana sedang Arya sodorkan kepada Daddy Dewa yang langsung mengulurkan tangannya untuk menerima flashdisk tersebut.


“Masuk,” ucap Daddy Dewa kemudian.


Mempersilahkan Arya masuk ke dalam KUJ setelah mengestafetkan flashdisk dari Arya pada Nathan yang kemudian mengantonginya.


“Kalo sampe ternyata ini video hasil editan, lo! Siap-siap! Gue bikin muka lo ga berbentuk.”


Lalu kalimat ancaman keluar lagi dari mulut Varen. Arya pun mengangguk menanggapinya.


Dan Arya menjawab ancaman Varen dengan tanpa gentar. “Jangankan muka. Ini seluruh badan gue kalo mau dipatahin silahkan, kalau emang itu video ga original.”


Setelahnya, Arya juga mengajukan penawaran apabila ucapan atas pembelaannya berdasarkan bukti yang ia berikan adalah fakta. Yang langsung diiyakan oleh para Dadnya Mika yang ada.


Namun dengan catatan yang harus digaris bawahi.



“Mom Ayank ga ikut nimbrung itu menyidang Kak Arya?”


Drea yang berucap pada Mom Ichel yang ada di dekatnya.


“Biarin aja itu urusan para Dad dan kakak laki-laki kalian—“


“Makan siang udah siap tuh.”


“Oh, okay—“


“Simon mau kamu yang panggilin atau Mami suruh maid yang manggil?”


“Val saja yang panggilkan, Mi,” jawab Val pada Mami Prita.


“Awas Kafeel Adiwangsa cemburu liat kamu pergi ke kamar Simon,” ledek Mama Jihan.


“Oh iya juga ya?...” sadar Val. “Tapi tidak enak juga kalau bukan Val yang datang menjemput Kak Simon untuk bergabung makan siang bersama kita.”


“Ya udah ayok aku temenin.”


Isha menawarkan diri.


Lalu bersama Val berjalan menuju paviliun tamu.


“Terus May gimana?—“


“Ya dipanggilkan juga, atuh—“


“Nah itu ada Kak Arya? belom clear kan masalah mereka kan?”


“Panggilkan saja,“ ucap Mom Ichel. “Tapi jika dia tidak mau keluar kamar ya biarkan saja.”


“Ya udah biar Via yang panggil May.”


“Kamu mendingan liat Gadis aja dulu deh Vi. Tadi kayaknya Mami denger dia nangis.”


“Suruh maid aja, atau panggil lewat interkom. Berlagak aja kita tak tau apa-apa.”


“Oke, Mom Ayank...”



Drea memanggil salah seorang art yang sempat wari-wari ke ruang makan dalam KUJ.


“Setelah itu tolong panggilkan May di kamarnya ya?” ucap Drea lagi dengan santun pada art yang dipanggilnya itu.


Dimana setelah menyahut mengiyakan, kemudian menyegerakan dirinya yang mendorong troli yang membawa kudapan itu meletakkannya di ruang makan, art bernama Seli itu pun bergegas untuk pergi ke kamar Mika.


“Tapi kalo kamu masih repot, panggil pakai interkom aja. Tuan dan Nyonya Besar biar saya yang panggilkan,” ucap Mama Jihan pada art yang bernama Seli itu sebelum dia undur diri dari hadapan para Nyonya yang sempat juga menyahut pada Mama Bear.


“Biar saya langsung panggilin aja Nyah, Non Mikanya. Sekalian saya juga mau masukin pakaian Den Ares sama Non Aina kok--"


“Ya udah. Makasih ya Sel—“



“Ada apa Mba Seli?”


Adalah Mika yang bicara lewat interkom dari kamarnya, karena dirinya malas untuk membukakan pintu kamarnya yang belum lama diketuk dari luar.


“Maaf, Non Mika. Non ditunggu yang lain buat makan siang, Non,” jawab Mba Seli.


‘Oh iya udah jam maksi.’


Mika lalu membatin.


‘Lapar sih—‘


“Non?—“


‘Tapi wajah gue pasti keliatan abis nangis. Dan gue masih malas buat cerita pada yang lain.’


“Non Mika?—“


“Ada siapa di bawah, Mba?”



Mba Seli lalu menjawab pertanyaan Mika dengan mengabsen satu-satu nama keluarga Mika.


“Tuan sama Nyonya Besar sedang dipanggil Nyonya Jihan di kamar mereka. Non Val sama Non Isha manggil tamu yang tadi dateng sama Tuan dan Nyonya Besar di paviliun tamu.”


‘Oh iya, ada Simon... makin malu gue keluar kamar kalo muka gue sembab dan pastinya kusut begini...’ Mika membatin lagi. ‘Tapi gue lumayan laper. Gimana dong??—‘


“Ada Tuan Arya juga, Non—“


“Hah? Ada siapa??...”


Mika sontak berhenti membatin dan menyambar ucapan Mba Seli saat ia telah mendengar nama Arya disebut.


“Laki-laki brengsek itu ada disini?!” tanya Mika dengan nada suaranya yang terdengar geram. Membuat Mba Seli jadi kikuk tiba-tiba setelah sempat terkejut mendengar kalimat yang barusan Mika ucapkan.


‘Aduh! Tadi kalo ga salah pas Non Mika ngomong kenceng sama Bi Farah, kayaknya dia lagi marah sama Tuan Arya ya? Aduuuhh... aku salah ga ya bilang ada Tuan Arya di bawah?? Tapi tadi aku ga dipesenin supaya ga kasih tau Non Mika kalo ada Tuan Arya...’


Mba Seli membatin gugup kemudian.


KLEK!


Pintu kamar Mika seketika terbuka, dengan sosok Mika yang juga nampak.



Sementara itu di ruang tamu KUJ, beberapa pria masih duduk bersama dan Arya sedang masih mencoba bernegosiasi dengan para Dad dan 2 kakak lelaki Mika dimana ada Mom Ichel juga yang sudah ikut nimbrung karena hendak menyela obrolan para lelaki itu yang ingin diminta untuk makan siang terlebih dahulu.


“Tapi kalau memang sudah dipastikan itu video original, aku langsung boleh ketemu Mika, ya?...” negonya Arya.

__ADS_1


“Boleh –“


“Tapi dengan catatan –“


“May bersedia menemui kamu...”


Yang diiyakan oleh 4 Dads of The Adjieran Smith yang bersamanya itu, namun ada syarat dan ketentuan berlaku.


“Tapi kan kalau video yang aku kasih itu terbukti original, aku bisa kali dibantu biar Mika mau nemuin aku?”


Arya pun masih berusaha agar ia bisa mendapatkan keinginannya.


Namun saat Dad R ingin menanggapi ucapan Arya tersebut, “NGAPAIN LO?!”


Tau-tau ada Mika yang muncul dengan tergesa sambil berseru dengan begitu menggelegarnya dan menatap sengit pada Arya yang langsung berdiri dari tempatnya.


Arya mengelus dadanya saking kaget. Sama juga dengan orang-orang yang mendengar suara menggelegarnya Mika itu. “LAKI-LAKI MURAHAN!”


Dimana setelah kaget berjamaah, orang-orang yang berada di dekat Mika dan mendengar lagi seruannya Mika yang masih menggelegar itu----terperangah,  lagi secara berjamaah. Akibat mendengar perkataan Mika yang merutuki Arya dengan cukup kasar.


Yang mana Mom Ichel langsung menyergah putri kandungnya itu. “May –“


“PERGI LO! KALO GA MAU GUE SIRAM AIR PANAS!” Namun Mika seolah tuli, dan tidak menggubris Mom Ichel juga lupa kalau ada orang lain selain Arya di sekelilingnya itu----dengan Mika yang masih berseru dengan begitu keras pada Arya.


Dimana Varen langsung merengkuh tubuh satu adik perempuannya itu untuk ditenangkan, dan sahutan dari Arya tak lama terdengar menanggapi seruan Mika yang bernada ancaman padanya barusan. “Silahkan! Lo mau siram gue pake aer panas, aer keras kek! Silahkan aja Mi! Tapi gue punya bukti jelas kalo lo cuma salah paham.”


Mika lalu ditenangkan setelah Arya bicara, pun Mika mau didudukkan di ruang tamu dan berhadapan dengan Arya yang selanjutnya bicara lagi.


“Gue udah kumpulkan semua video dari sejak kedatangan itu perempuan ke apartemen gue, dan gimana bisa dia tau-tau ada di posisi yang lo liat tadi,” tambah Arya yang sedang membela dirinya di depan Mika itu.


Kemudian Arya menoleh pada Daddy Dewa.


“Sorry Dad, tadi flashdisknya mana? Biar Mika liat itu bukti yang udah aku kumpulin. Sekalian kalian bisa nilai itu video asli atau hasil editan.”


Arya lalu memandangi satu-satu pria lain yang ada di sekelilingnya selain Daddy Dewa. Dimana Varen kemudian bersuara, bicara pada Kafeel.


“Ka, udah selesai yang tadi?” kata Varen pada kandidat calon suami Val yang 99% digadangkan akan positif menikah dengan adik kandungnya itu.


Kafeel pun langsung menjawab dan berdiri untuk mengambil sebuah perangkat elektronik yang program dibuat secara khusus oleh Varen. Sementara Mika bungkam namun masih sengit memandang pada Arya.


“Flashdisknya?...”


Arya bersuara untuk bertanya.


“Ga perlu.” Kafeel menyahut. Dimana Arya langsung mengernyit.


“Tapi –“


Kafeel menyodorkan satu tab pada Arya, setelah memberikan satu pada Varen.


“Nih. Kalau bukti yang lo bawa dalem flashdisk beda sama ini, berarti lo ngibul,” tambah Kafeel.



Arya langsung menyentuh layar komputer tablet yang akrabnya disebut Tab itu, setelah ia menerimanya dari tangan Kafeel. Dimana pada layar tab itu, sudah ada video yang siap diputar, dimana Arya kemudian nampak tercengang.


“Lah ini video-video yang aku dapet dari CCTV gedung sama unit aku –“


“Sama berarti? –“


‘Ya sama,” tukas Arya. “Cek aja itu diflashdisk yang tadi aku kasih –“


“Ya udah.”


Kafeel yang menyahut pada Arya, kemudian bicara pada Mika.


“Itu kejadian yang sebenarnya, May –“


“Tapi kan flashdisk yang tadi aku kasih belum kalian apa-apain perasaan?”


Arya yang heran itu berkomentar. Para pria yang bersamanya termasuk Kafeel tersenyum simpul saja.



Beberapa saat sebelumnya..


“Masa sih Arya kayak gitu???—“


“Akupun ragu jika Arya sebrengsek itu—“


“Tapi melihat sikap May tadi, sepertinya ia melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Arya selingkuh?”


“Do not judge tanpa tau story. Kadang yang terlihat mata bukanlah yang sebenarnya bila kita tidak melihat awalnya....”


“Hem.... Jangan berspekulasi dulu, sebelum ada bukti kongkret yang menjadi bukti benar atau tidaknya suatu fakta—“


“Iya, sih—“


“Kalau begitu cari kebenarannya.... Kenapa kalian malah diam saja?....”


“Ambil AS-Tab....”


“Tabnya siapa aja, Bang?—“


“Sembarang,”


“Mau berapa tab, Bang?—“


“3 atau 4 lah biar cepat—“


“Ya udah aku ambil dulu tab aku di kamar....”


“Ambilin punya gue juga, Ro. Ada di laci nakas samping tempat tidur sebelah kiri....”


“Tab pusat engga?—“


“Ambilkan juga lah. Mager—“


“Biar Drea yang ambilin. Abang taro di mana itu tab punya Abang?....”


“Ululu istri siaga—“


“Iya dong! Drea gitu loh!—“


“Istri siapaa?....”


--


“Lo bawa AS-Tab lo ga, Ka?”


“Ada di mobil. Bentar gue ambil....”


“Lo hack semua CCTV yang ada di pintu masuk itu komplek apartemen, Tan—“


“Okeh!”


“Ro, lo cek CCTV parkiran—“


“Siap Bos!”


“Ka, jebol perangkatnya Arya. Dia pakai sistem kita buat CCTV di unitnya. Biar gue yang jebol itu ponselnya si Recehboy.”


“Masya Allah... urusan asmoro... dah kek BIN lagi mau nangkep penjahat kelas kakap...”


“Gimana kalo kita buka jasa detektif swasta?”


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

__ADS_1


To be continue...


Terima kasih masih setia.


__ADS_2