HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
BUNGA TIDUR


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


Jangan lupa dukungannya.


Baca dulu tapi episodenya, okeh?


Tenkyu


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Mimpi Itu Hanya Bunga Tidur.


♥♥


“Val pernah bermimpi, kalau Val sedang berada di sebuah kebun yang kesemuanya adalah bunga tulip merah favorit Val... Apakah itu pertanda jika Val dan Kak Kafeel akan bahagia selamanya?-“


“Bukan pertanda, tapi memang kamu aja yang kelewat bahagia, Val...”


“Iya, makanya saking bahagianya sampe kebawa mimpi. Pasti ketawa-ketiwi sambil nari-nari di mimpinya kan?”


“Tidak tahu. Malah Val bingung?-“


“Kok bingung?-“


“Val rasanya merasakan campur aduk di hati Val dalam mimpi Val itu-“


--


‘Tapi yang aneh itu, kenapa aku berada berjarak dari keluargaku yang berkumpul, lalu aku juga tidak melihat Kak Kafeel di dekatku bahkan dia tidak juga ada bersama keluargaku?’


--


“Aku bermimpi, dimana aku dan Kak Kafeel berdiri di atas pelaminan dengan menggunakan pakaian berwarna merah -----“


Katanya, kalau ada seseorang yang bermimpi menjadi pengantin dengan menggunakan pakaian berwarna merah --- Itu adalah sebuah pertanda yang amat sangat tidak baik...


🌁🌁🌁🌁


Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia ....


“Drea mimpi aneh masa? -----“


“Mimpi apa?...”


Ada Drea yang berkata pada ibu kandungnya yang baru saja tiba di kediaman mereka yang berada di Jakarta itu.


“Drea mimpi, langit di atas mansion dan kediaman kita itu berwarna abu – abu pekat disertai hujan. Tapi langit di luar mansion dan kediaman ini biasa saja warnanya. Hanya mansion dan kediaman kita saja yang langitnya berwarna abu - abu pekat dan hujan, yang macam tak ada tanda - tanda jika hujan itu mau berhenti...”


Lalu Drea bicara panjang lebar pada Momma, dimana Mommy Ara juga ada bersamanya, saat kedua Mom Drea itu hendak masuk mengekori dua Dad yang sudah lebih dulu masuk kediaman bersama Aina.


“Terus?”


Momma bertanya lagi.


“Kok terus? Orang Drea ini nanya sama Momma juga?”


“Nanya untuk?” tanggap Momma.


“Ga untuk apa – apa. Drea cuma mau tanya, itu maksud mimpi Drea apa?” tutur Drea.


“Ya mana Momma tau, Juleha?” kata Momma.


“Ya Momma kan tahu banyak soal arti – arti mimpi? -----“


“Emang eike buku primbon mimpi?” Momma menanggapi dengan santai cerita Drea soal mimpinya itu, dimana Drea sontak mencebik.


Sementara Mommy Ara tersenyum tipis.


“Ih, Momma nih. Orang Drea tanya serius juga.”


“Ga pernah denger arti mimpi yang begitu... Kalau mimpi kepatok uler tuh Momma tau.”


“Jangan terlalu dianggao serius sebuah mimpi. Itu kan hanya bunga tidur, Little Star,” Mommy Ara berkomentar.


“Iya sih, tapi kan Momma kalau bermimpi yang tidak biasa itu suka karena ada firasat akan terjadi sesuatu? Entah pada dirinya sendiri atau orang – orang terdekat Momma.” Drea menanggapi komentar Mommy Ara.


“Itu cuma kebetulan aja.”


“Heemm,” dehem Drea. “Mudah – mudahan deh mimpi Drea itu cuma sekedar mimpi.”


Lalu Drea berucap kemudian.


“Mudah – mudahan hujan dalam mimpi Drea, bukan berarti air mata untuk keluarga ini -----“


“Iya Aamiin -----“


“Aamiin Ya Allah.”


‘Nyatanya mimpi kamu itu bermakna seperti itu, Drea.’


Momma membatin sendu. Lalu saling lempar lirik dengan Mommy Ara, yang sepertinya memiliki pikiran yang sama dengannya.


‘Hujan yang tidak berhenti – berhenti dalam mimpi Drea itu mungkin adalah air matanya Val. Dan awan abu – abu itu, adalah aku dan kami semua yang bermuram durja karenanya.’


Hati Mommy Ara bermonolog sama seperti hati Momma.


🌁🌁🌁🌁


Sementara itu di tempat lain ....


“Apa kau tahu ini hari apa, Har?”


Ada Varen yang sedang berbicara di ponselnya.


“Maafkan saya Tuan Alva, saya tidak bermaksud mengganggu akhir pekan anda.”


“Ada apa?”


“Begini Tuan, saya kebetulan baru mengecek surat – surat yang masuk yang hendak saya laporkan pada anda senin nanti -----“


“Lalu?” tukas Varen.


“Diantara surat – surat tersebut, ada surat pengunduran diri dari Tuan Kafeel, Tuan,”


“Apa? ...”

__ADS_1


🌁🌁🌁🌁


“Ada apa, Bang?” Papi John yang menangkap gurat keterkejutan Varen lantas bertanya.


Mereka berdua sedang duduk di bangku taman memperhatikan Putra dan Gadis yang sedang bermain bersama dua kakek dan satu Dad tak jauh dari tempat Varen dan Papi John duduk.


“Si Har bilang, ada surat pengunduran diri dari Kaka.”


“Hah?!” Papi John yang terkejut. “Tidak salah?!” tanyanya kemudian.


“Sepertinya tidak, Pi -----“


"Tapi kenapa? ..." ucap Papi John setelah Varen menunjukkan foto sebuah kertas dalam ponselnya ke satu Dad nya itu.


🌁🌁🌁🌁


“Ponselnya tidak aktif.”


“Titik keberadaan ponselnya?”


“Rumah ... Tapi ada yang aneh.”


“Apanya yang aneh? -----“


“Jejak titik keberadaan ponselnya kemarin ada di London. Sementara Kaka mengatakan padaku dia hendak mengurus bisnis pribadinya di Bogor.”


“Coba hubungi Magda atau Lena -----“


“Bang, Putra mau pipis ini katanya -----“


“Sudah sangat ingin kah, Jagoan?”


“No, Papap -----“


“Kalau begitu kita pulang sekarang, okay?”


“Okay. Gendong Papap.”


Varen langsung menggendong anak lelakinya itu.


“Aku akan coba hubungi Magda nanti saat sampai kediaman.”


🌁🌁🌁🌁


“Aneh banget si Kak Kaf tau – tau ngundurin diri dari perusahaan plus ga bisa dihubungi?” celetuk Nathan di saat dirinya sedang berjalan menuju kediaman yang jaraknya tidak jauh dari taman tempat ia dan mereka yang bersamanya mengajak Putra dan Gadis bermain di sana.


“Guepun heran, Than -----“


“Mungkin kau ada menyinggung perasaannya, Bang? -----“


“Kaka bukan orang yang mudah mengambil hati atas perkataan buruk orang lain, Dad. Lagipula kalau dia mau tersinggung, sudah dari awal dia bekerja padaku kalau mau mengundurkan diri sih.”


“Iya juga ya? ...”


“Sorry nih, bukan su’udzon ...”


Nathan berkata lagi.


“Udah cek keuangan perusahaan?”


“Har sudah mengeceknya, dan tidak ada kecurangan di sana yang Kaka lakukan -----“


Nathan menukas dan lainnya manggut – manggut, terkecuali dua bocil yang sedang berada dalam gendongan satu Dad dan Grandpanya.


🌁🌁🌁🌁


“Atau coba -----“


“Ulat buluuu,” gumaman Putra membuat Daddy Dewa menghentikan kalimatnya.


“Loh? -----“


“Mereka ada apa tiba – tiba ke sini? ...”


“Hoy!” Daddy Jeff berseru.


Mereka yang nampak baru saja keluar dari mobil itu, spontan menoleh serempak saat Daddy Jeff berseru barusan.


Namun hanya satu saja yang tidak menoleh, dan berjalan lurus ke depan dengan diam dan tatapan yang kosong tanpa mereka yang baru saja memasuki gerbang lihat ekspresi satu orang yang mereka sapa itu.


Varen, Nathan dan tiga Dads yang bersama keduanya sedikit mengernyit melihat wajah Rery dan Aro nampak tegang.


Dimana Mika, Ann hanya mengulas senyuman tipis kepada Varen dan rombongan lalu kembali berjalan bersama Val yang seolah di papah, sementara Rery dan Aro tidak mengekori empat saudari mereka itu yang hanya dipandangi saja punggungnya sampai masuk.


🌁🌁🌁🌁


“Kalian tahu – tahu datang ada apa? -----“


“Bukankah bulan depan baru Val akan fokus di sini?”


“Kenapa wajah kalian tegang begitu? -----“


“KENAPAA????!!!!”


Rery dan Aro baru saja hendak menjawab cecaran tiga orang yang keduanya baru salimi dengan takdzim, namun suara teriakan Val membuat Rery dan mereka yang bersamanya sontak terkejut dan langsung berhambur ke dalam kediaman.


“Val??”


Varen dan mereka yang baru datang bersamanya, langsung terheran – heran melihat Val yang sudah terduduk di lantai dan berada dalam dekapan Poppa sambil Val menangis hebat.


“Kenapaa? ... Poppa ... Kenapaa? ... Val, sa – lah apaa?? ...” lirih Val dalam isakannya.


Dan tentu saja Varen berikut Nathan dan tiga Dad yang bersamanya langsung berhambur mendekati Val.


“Val? -----“


“Ini, ada apa? -----“


“Kau bicaralah dengan mereka, R. Aku akan membawa Val ke kamarnya,” ucap Poppa yang langsung mengangkat tubuh Val.


“Ada apa ini, Dad? ...”


🌁🌁🌁🌁


Telah diceritakan oleh Dad R sambil menahan getir di hatinya atas apa yang sudah terjadi di London beberapa puluh jam yang baru berlalu pada Varen dan semua keluarga mereka yang berada di kediaman Jakarta, yang tentu saja menciptakan getir yang sama yang dirasakan Dad R serta semua yang sudah lebih dulu merasakan getir itu saat di London.

__ADS_1


Lalu tambahan dari Rery dan Aro tentang apa yang belum lama terjadi di sebuah hunian yang adalah tempat tinggal Kafeel bersama dua anggota keluarganya, tak hanya menambahkan kegetiran dalam hati mereka yang baru mendengarnya selain keterkejutan, namun juga menciptakan geram. Terutama di hati Varen, Nathan dan The Dads.


The Dads geram memang, tapi dua kakak lelaki Val jauh lebih geram.


“B*ngsat banget temen lo, Bang!” geram Nathan. Dengan seruan yang berapi – api.


Sementara Varen? ...


Tangannya mengepal kuat dengan rahangnya yang mengeras.


“Ambilkan belati gue, Than ... Apa yang Val rasa, harus dia rasa.”


Varen berucap datar, namun permintaannya yang pertama mengejutkan semua orang.


Hingga keterkejutan seluruh anggota keluarga yang ada berkumpul bersama Varen dibuat tercengang.


Kala Varen mengatakan,


“Jantung, untuk jantung.”


🌁🌁🌁🌁


Senyap sesaat, selepas Varen mengatakan hal yang membuat semua orang yang bersamanya tercengang.


“AMBILKAN BELATI GUE, THAN!!”


Hingga senyap itu dipecah dengan gelegar suara Varen yang penuh amarah.


“Abang -----“


“Aku sudah membayangkan bagaimana sakitnya hati Val ... Jadi akan aku buat Kafeel Adiwangsa merasakannya juga. Namun dalam arti yang sebenarnya.”


🌁🌁🌁🌁


Rahang Varen mengetat kuat, Nathan hendak bergegas untuk melakukan apa yang kakak tertua minta. Namun langkah Nathan di jegal Dad R, Varen ditenangkan Mommy Ara. “Sudahlah Abang -----“


“Iya, Mom ... akan menjadi sudahlah jika aku sudah memberi Kafeel Adiwangsa atas luka yang telah ia torehkan di hati Val.”


Varen menukas ucapan ibu kandungnya dengan segera. Datar dan dingin, namun matanya sudah berkaca – kaca. Mendengar cerita Dad R saja, Varen sudah geram adanya.


Ditambah informasi dari Rery dan Aro yang mengatakan jika hari ini Kafeel menikah meskipun dengan cara yang sederhana dan hanya ada segelintir orang saja, Varen tak hanya geram.


Si Abang murka.


“Akan aku bawakan jantung Kafeel Adiwangsa pada Val -----“


“Istighfar Abang -----“


“Tidak perlu mengotori tanganmu -----“


“Ndrew, bagaimana Val? ...” tanya Papi John mewakili lainnya.


“Hancur,” jawab Poppa. “Daripada kau membuang waktu dan mengotori tanganmu dengan darah Kafeel Adiwangsa, lebih baik kau gunakan tanganmu untuk merangkul adikmu yang sedang hancur itu.”


🌁🌁🌁🌁


Spoiler:


“Val, ingin kembali ke London.”


-


Dear my family yang blaem - blaem 😄😄,


I love you all that much, and I’m sorry.


Bukan Val tidak mencintai kalian, bukan ...


Tapi Val tidak sanggup lagi menahan sakit yang tak kunjung henti dalam hati.


Val bangga dan sangaaaat bahagia memiliki kalian selama ini. Sungguh, kalian keluarga yang hebat.


Val bersyukur sekali memiliki kalian dalam hidup Val.


Makanya Val tidak tahan melihat kalian bersedih hati karena Val.


Janji, Val tidak akan membuat kalian bersedih lama – lama lagi.


Yah, mungkin kalian akan bersedih lagi setelah ini. Val yakin itu.


Tapi sekali ini saja ya?


Sekali ini saja menangisi Val lagi.


Setelah itu berbahagialah selalu.


Okay? ...


Sa – yang, semua ...


Sampai berjumpa lagi, ya?


💞


You all lovely, sweety and of course beautifully


💞 Val 💞


Noted : Aku memiliki gelar pasti setelah surat ini kalian baca walaupun aku belum lulus kuliah.


💞


So, seperti ini Val tulis ya?


Big and a lot loves, warm hugs, kisses untuk kalian semua kesayangan Val.


Sampai berjumpa lagi ...


Sa – yang, semua ...


💞


Yang mencintai kalian,


--Valera Madelaine Aditama Adjieran Smith, the late one ( almarhum )--

__ADS_1


🌁🌁🌁🌁 🌁🌁🌁🌁


To be continue ...


__ADS_2