
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Jakarta, Indonesia....
Meski baru malam keesokan harinya Kafeel membawa Val kembali ke Kediaman milik keluarga kekasih kecilnya yang berada di Jakarta itu. Namun Kafeel tidak dapat semburan omelan dari para orang tua dan tetua Val, karena Kafeel telah meminta ijin melalui Daddy R.
Serta dengan jujur Kafeel mengatakan jika ia membawa Val ke apartemennya untuk bicara, karena dirinya dan Val sedikit terlibat kesalahpahaman, yang Kafeel jelaskan dengan detail pada Daddy R. Lalu Kafeel menghubungi lagi Daddy R, kala Val jatuh tertidur di apartemennya.
Kafeel bahkan meminta pendapat Daddy R, saking ia ogah menghancurkan kepercayaan salah satu dari banyaknya Dad yang Val punya, dimana Kafeel kagumi itu sosok-sosoknya. Kafeel menanyakan pendapat pada Daddy R, apa ia diharuskan mengantarkan Val ke Kediaman keluarga besar kekasih kecilnya yang berada di Jakarta itu, meski Val jatuh tertidur.
Tapi Dad R mengatakan pada Kafeel,
‘Terserah padamu mau mengantarkan dia kembali ke sini atau tidak, Ka. Toh Val tertidur, dan rasanya kasihan jika kau membangunkannya. Tapi bila kau memang ingin mengantarkannya ya silahkan saja. Tidak pun tidak apa. Aku dan kami semua percaya padamu, jadi tergantung bagaimana kau menjaga kepercayaan kami ini padamu.’
♥♥♥
“Hey, pagi-pagi jangan bengong....” Kafeel yang tadi pergi untuk memesan makanan, telah kembali di dekat Val yang sedang duduk di sebuah kursi panjang dengan meja yang sama panjangnya dengan kursi yang Val duduki, di sebuah Pujasera-dalam area komplek kediaman utama keluarga besar Val.
“Val tidak sedang bengong, Kak---“ sahut Val. “Val hanya sedang memperhatikan lapangan basket itu.” tunjuk Val ke arah lapangan basket di hadapannya dan Kafeel itu. “Lapangan basket itu punya cerita antara Dad R, Poppa dan Momma semasa mereka muda dahulu. Terlebih untuk Poppa dan Momma....”
“Oh ya?” tukas Kafeel.
“Iya—“
“Ceritain dong.” Kafeel berkata antusias.
“Nantilah kapan-kapan. Panjang ceritanya---“
“Aku punya banyak waktu mendengarkan kok.”
“Nanti deh ya?---“ sahut Val. “Otak Val belum sinkron pagi-pagi seperti ini....”
Kafeel pun tersenyum geli, sambil mengacak pelan rambut Val sembari ia manggut-manggut.
Val pun balas tersenyum pada Kafeel.
♥♥♥
“Eh iya, biasanya suka pada sarapan disini minggu pagi begini keluarga kamu bukannya ya Val?” ucap Kafeel seraya bertanya.
“Iya.”
Val menyahut sambil menerima mangkok berisi bubur ayam yang dioper Kafeel padanya, saat si penjual membawakan pesanan mereka.
“Eh iya, aku lupa tadi tanya kamu ada yang ga mau kamu pakein di bubur ayamnya ---“
“Tidak masalah kok, Kak.... Val ini omnivora.” canda Val.
Kafeel terkekeh kecil sambil mengacak pelan lagi rambut Val.
“Ya udah, makan dulu yuk?” ajak Kafeel yang langsung diangguki Val dengan menampakkan seulas senyumnya lagi.
♥♥♥
“Oh iya ngomong-ngomong yang tadi. Tadinya aku pikir kita akan ketemu keluarga kamu disini yang suka main basket di lapangan itu kalau hari minggu begini. Apa masih pada tidur?.... Atau lagi pada mager?....” Kafeel berucap di sela ia menyantap bubur ayamnya.
“Kalau masih pada tidur sih sepertinya tidak.”
Val kemudian menyahut.
“Mungkin sebagian iya-“ kata Val lagi. “Mungkin juga ya itu seperti yang Kak Kafeel katakan tadi. Mager.”
Kafeel manggut-manggut. Val menyuap bubur ayam ke dalam mulutnya.
“Atau mungkin sedang bersiap-siap mengantar Aro.... oh ya ampun!----“ Val berkata setelah ia menelan bubur ayamnya, namun ia juga langsung berkesah.
“Kenapa?----“ sambar Kafeel seraya bertanya, melihat sikap Val yang sepertinya teringat akan sesuatu, atau melupakan sesuatu. Val segera menoleh pada Kafeel kemudian.
♥♥♥
“Ya sudah, kalau sudah selesai makan kita langsung bergegas ya? ---“
Kafeel kemudian berkata setelah Val mengatakan jika Aro dan para saudara-saudarinya akan bertolak ke SIN lebih dulu daripada orang tua dan kakek nenek mereka.
“Santai sajalah Kak.... Val bisa pergi bersama dengan The Dads, The Moms dan juga Gappa, serta yang lainnya ke SIN esok hari. Lagipula kan katanya Kak Kafeel mau ajak Val lagi ke rumah Bunda hari ini?”
“Ga apa, next time aja ke rumah Bundanya-“ ucap Kafeel. “Kalian kan sedang berkumpul lengkap disini, kan sayang buat dilewatkan main sama Mika dan yang lainnya?....”
“Santai Kak. SIN kan dekat.”
“Iya sih—“ Kafeel manggut-manggut. “Aku cuma ga ingin kamu jadi terbelenggu sama aku, dan melewatkan kesenangan menghabiskan waktu bersama keluarga kamu, Val....”
“Bersama Kak Kafeel juga kesenangan Val.”
Val berujar.
“Kebahagiaan Val lebih-lebih.”
Kafeel menanggapi ucapan Val dengan seulas senyum.
‘Kamu terbelenggu dengan perasaan kamu ke aku, makanya kamu belum melihat dunia luar lebih luas lagi.... Jika kamu bisa melihatnya, mungkin akan ada kebahagiaan lain yang bisa kamu temukan, terlepas dari aku, Val....’
__ADS_1
Hati Kafeel berbisik.
Lalu Kafeel menghela nafas frustasinya dengan sangat samar.
“Ya udah yuk, kita ke kediaman sekarang?“
Kafeel kembali berbicara pada Val untuk mengajak kekasih kecilnya itu pulang ke kediamannya, setelah ia bermonolog dalam hatinya.
Val pun mengiyakan. “Yuk.” Sahut Val seraya tersenyum.
♥♥♥
Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia....
Kafeel telah membawa Val pulang ke kediaman keluarga besarnya tersebut.
Yang mana para penghuninya sedang sarapan, dan Kafeel juga tidak mendapatkan semprotan dari para Dad Val, meski sempat mendapat picingan mata dari para naga itu, karena Val mengenakan kaos Kafeel.
“Val mandi di apartemenku, karena katanya dia tidak biasa keluar rumah tanpa mandi. Dan katanya juga, Val sudah tidak betah memakai baju yang sama setelah mandi.... Jadi aku pinjamkan kaosku.... Putri kalian yang aku culik tidak kurang sesuatu apapun, silahkan tanya langsung pada yang bersangkutan, atau visum kalau tidak percaya pada ucapanku....”
Begitu kalimat panjang yang Kafeel ucapkan pada The Dads dalam keluarga Val, saat mendapat picingan mata curiga atas Val yang mengenakan kaosnya.
Sementara sisanya yang mendengar ucapan Kafeel, terkekeh saja, selain Val yang mencebik pada para Dadnya yang menurut Val kadang berlebihan dalam segala hal itu.
Setelahnya, Val dan Kafeel bergabung bersama para anggota keluarga Sultan dan Sultanah yang sedang sarapan itu. “So Val, jadinya kamu mau ikut sama Rery dan yang lainnya bareng Aro ke SIN hari ini ga?”
Kak Via yang bertanya.
“Sepertinya Val pergi esok hari saja bersama The Dads dan lainnya yang pergi besok.” Val menjawab pertanyaan Kak Via sambil mengunyah sepotong roti bakar.
Membuat Kafeel tersenyum geli, karena baru beberapa menit yang lalu Val menandaskan bubur ayam tanpa sisa, kecuali mangkok dan sendoknya.
Dan sekarang kekasih kecilnya itu sudah memakan sepotong roti bakar lagi, plus segelas susu. Entah bagaimana besarnya lambung Val, padahal fisiknya tentu lebih besar Kafeel kemana-mana, meski untuk ukuran gadis seusia Val di Indo, Val masuk dalam kategori tinggi diatas rata-rata gadis seusianya.
“Val mau ke rumah Bunda Magda lagi, karena kemarin Val tidak lama disana, dan sedikit ada masalah.” Tambah Val.
Kak Via dan lainnya yang mendengar penuturan Val pun manggut-manggut saja. Sedikit banyak mereka sudah tahu tentang masalah Val dan Kafeel.
Karena di dalam Dinasti The Adjieran Smith, tidak ada yang namanya rahasia dalam keluarga inti mereka. Walau tetap ada porsinya, untuk pembahasan akan suatu privasi dari para anggota keluarga mereka.
♥♥♥
“Benar kamu ga mau ikut kita plesiran dulu di S-I nih, Val?”
Isha berbicara pada Val.
Val pun langsung mengangguk-angguk mantap.
“Aku kemarin tidak sempat bercengkarama lama dengan Bunda dan Lena.”
“Dan aku kan juga mau minta maaf pada Bunda Magda, karena sikapku kemarin di rumahnya.”
“Makanya jangan cemburuan jadi cewe—“ celetuk Rery.
“Ya habis wanita itu gatal sekali pada Kak Kafeel. Jadi aku kesal!”
Val segera menukas celetukan Rery.
Rery hanya geleng-geleng saja menanggapi ucapan salah satu saudarinya itu.
♥♥♥
“Val—“
Kafeel berucap pada Val, setelah tadi ia permisi sebentar untuk menerima panggilan telepon.
Val pun lekas menyahut pada Kafeel. “Ya Kak?...”
“Kamu kayaknya bisa ikut ke SIN hari ini dengan Isha dan lainnya.” ucap Kafeel lagi.
“Kan katanya Kak Kafeel mau ajak Val ke rumah Bunda? ---“
“Iya, tapi Bunda kebetulan ada acara dan itu di luar kota. Barusan Bunda yang telefon, sekaligus minta disampaikan maafnya ga bisa ikut juga ke SIN untuk menyemangati Aro, termasuk juga Lena, karena dia punya banyak tugas kuliah...”
Kafeel menerangkan.
“Tapi untuk ga ikut ke SIN, Bunda juga akan menghubungi Mommy kamu, kata Bunda---“
Kafeel mengusap lembut puncak kepala Val.
“Jadi kamu ga apa kalau mau pergi sekarang ke SIN bareng Isha dan yang lainnya ---“
Sambil Kafeel berucap lagi pada Val.
“Lagipula, aku harus mengurusi pekerjaan aku untuk besok, karena kalo engga nanti aku dipecat sama Abang Varen...” Lalu Kafeel terkekeh kecil, dan Val menanggapinya dengan seulas senyum.
“Kalau Val pergi hari ini, berarti ini terakhir kita bertemu dan bersama dong, Kak?...”
Val berkata sedikit lirih.
Kafeel mengulas senyuman, sambil masih membelai pelan kepala dan surai Val.
Val terdiam kemudian, menunggu Kafeel mengatakan sesuatu yang bisa membuat hatinya membuncah.
__ADS_1
“Ya udah, aku ikut ke SIN deh, nemenin kamu selama disana, sampai kamu balik ke London..” – misalnya.
Tapi pada kenyataannya,
“Kan Val harus menyemangati Aro, lalu mempersiapkan kuliah? Dan aku juga punya tanggung jawab pekerjaan disini yang ga bisa aku anggap remeh.. Iya kan?. Kapan-kapan kan kita bisa ketemu lagi?..”
“Tapi akan lama lagi baru bisa kita bertemu dan menghabiskan waktu bersama seperti kemarin lusa, kemarin dan hari ini.” Gurat sendu nampak di wajah Val. “Kak Kafeel tidak bisa menemani Val di SIN, lalu dari SIN Val akan kembali langsung ke London tanpa bisa mampir kesini lagi---“
Val lanjut bicara, masih dengan suaranya yang lirih.
“Kan masih bisa contact lewat ponsel?”
“Iya memang.. tapi kan sekarang kita sudah resmi menjadi sepasang kekasih?, kan lebih berat rasanya bagi Val bila jauh dari Kakak ---“
“Jangan sedih gitu dong,” potong Kafeel.
“Kak Kafeel ikut saja ya ke SIN? ---“
Val membujuk Kafeel.
“Biar Val yang bicara dengan Abang soal pekerjaan Kakak.”
Val menatap Kafeel dengan binar harapan di matanya. Kafeel tersenyum.
“Kan Val punya perjanjian sama Abang, bukannya?” ujar Kafeel. “Tidak boleh urusan kita mengganggu urusan perusahaan –“
“Iya memang.” Val menyambar. “Tapi Val berat sekali ini mau jauh-jauh dari Kak Kafeel setelah kita resmi berpacaran seperti ini.”
Dengan sedikit merungut Val menatap Kafeel yang terus mengulas senyumannya. “Dicoba dulu---“
“Kok dicoba dulu sih Kak? Memang Kak Kafeel tidak merasa berat seperti Val bila kita berjauhan seperti ini?. atau Kakak sengaja menyuruh Val buru-buru pergi karena Kakak ingin menemani sepupu jauh Kakak, si Rara itu ya?!---“
Val makin merungut.
“Pasti dia merengek kan pada Kakak yang meninggalkannya begitu saja kemarin, karena merasa dekat dengan Kakak?”
Kafeel mendengus geli kemudian. “Rara sudah kembali ke Dubai kemarin malam .. tempatnya bekerja meminta Rara untuk segera kembali ke sana untuk mengurus proyek kerjasama dengan perusahaan kalian yang memang baru terjalin saat Val bertemu dengan Rara untuk yang pertama kalinya di R. Corp.. nah, makanya aku juga harus mengurus berkas-berkas dan lainnya disini, selama Abang Varen kamu itu berada di SIN. Val, paham kan?”
Kafeel berucap panjang lebar dengan lembut dan sedikit hati-hati.
“Aku juga berat rasanya jauh dari kamu Val. Tapi mau bagaimana?.. Kita kan sudah memiliki aktifitas masing-masing dari sebelum kita resmi berpacaran?. Jadi sudah seharusnya terbiasa kan? ---“
“Tapi kan ---“ potong Val.
“Val,” Kafeel pun memotong ucapan Val. “Mau kan Val mendengarkan ucapan Kakak?” ucap Kafeel dengan tatapan bujukan yang ia sorotkan pada Val.
Berat rasanya bagi Val, namun Val mengangguk. “Iya...” jawab Val dan Kafeel pun meninggikan sudut bibirnya.
“Aku ikut kok untuk antar Val ke Bandara.” Ucap Kafeel untuk setidaknya menyenangkan Val.
Val pun meninggalkan Kafeel sejenak untuk ia berkemas bersama para saudara-saudarinya yang juga sedang berkemas di kamar mereka masing-masing dalam kediaman.
“Va ----“ Kafeel menghampiri Varen yang sedang bercengkarama dengan anak lelakinya dan beberapa anggota keluarga Varen yang lain di halaman belakang.
“Kenapa? Mau minta ijin gue buat jadi ipar?”
Varen menyahut dengan gurauan.
“Bisa bicara berdua? ----“ Kafeel hanya menanggapi gurauan Varen dengan senyuman tipis. Wajah Kafeel sedikit tidak santai.
Membuat Varen kini sedikit menampakkan wajah serius, karena dirinya menangkap suatu gelagat dari raut wajah Kafeel.
“Soal?...”
“Gue dan Val.”
Varen pun langsung mengangguk setelah mendengar jawaban Kafel.
“Jadi? Kenapa dengan lo dan Val? ...“
“Gue –“
“Lo ragu dengan hubungan lo dan Val?”
“Iya.”
“Lalu?. Lo mau membatalkan hubungan kalian? –“
“Gue kayaknya ga pantes buat dia, Va---“
Kafeel berucap dengan menatap serius pada Varen.
Varen pun melakukan hal yang sama seperti Kafeel, dengan menatap serius pada pria yang merupakan sahabat sekaligus tangan kanannya itu.
“To the point aja Ka, lo mau membatalkan hubungan lo dengan Val? Ya atau tidak?---“ tanya Varen dengan tetap menyoroti Kafeel yang sedang saling berhadapan dengannya saat ini.
♥♥♥
To be continue...
Jangan lupa sematkan Like, Komentar dan Ulasan di karya ini yah?.
Itupun jika berkenan.
__ADS_1
***Terima kasih.