HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
TERNYATA


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


"Jangan memandang sesuatu itu salah jika kau belum tentu benar."


-Mikaela Finn Adjieran Smith



“Seriusan jadi ini si Mika ga bareng lagi disini?” tanya Arya. Val mengangguk-bersamaan dengan Aro dan Kafeel yang berdehem mengiyakan, saat Arya telah berada di dalam mobil yang ia tumpangi bersama tiga orang tersebut, berikut Mika dan dua pekerja mereka.


“Kak Arya tidak perlu merasa tidak enak,” ucap Val sambil menoleh pada Arya, saat Dika mulai membuat mobil yang ia parkirkan itu mulai bergerak dari tempatnya. “Mika tidak ikut lagi di mobil ini karena dia memang punya suatu keperluan.”


“Dia janjian sama temennya?”


“Oh bukan Kak....”


Val lagi yang menjawab.


“Ada hal lain lagi,” imbuh Val dan Arya pun manggut-manggut.



“Pintu keluar ini tempat mencar banget gini letaknya yah?” ujar Arya saat Dika telah melajukan mobil yang dikemudikannya untuk keluar dari tempat persinggahan mereka tadi untuk membeli kue. “Udah gitu berantakan. Jadi kayak kumuh banget, padahal seluruh ruko disini rame dan di tengah kota pula.”


“Antara low budget, pelaksananya yang asal, atau sebagian budget diselewengkan,” tukas Kafeel.


Arya, Aro dan Val manggut-manggut mendengar ucapan Kafeel.


“Beda banget sama kawasan daerah rumah Ake dan Ene ya? –“ ujar Aro. “Padahal daerah ini lebih central daripada kawasan tempat tinggal Ake dan Ene,” imbuh Aro.


“Setahu aku kalau kawasan ini sudah ada jauh sebelum kawasan tempat tinggal Ake dan Ene deh, kalau tidak salah Momma pernah cerita saat lewat sini lalu diajak makan shaomai langganannya yang pakai sepeda.”


“Ah iya, yang jorok-jorok enak itu ya? –“ timpal Aro, dimana Val tersenyum lebar.


“Iya betul-betul!”


Val langsung menimpali ucapan Aro lalu cekikikan.


Sementara Kafeel dan Arya terkekeh.


“Tapi betul sih, yang keliatannya ga higienis tuh justru biasanya malah enak.”


Aro berucap lagi.


“Betul sekali ki sanak!”


Arya menimpali, lalu ke empat orang itu terkekeh bersama.



“Eh?”


Arya bergumam sambil sedikit mengernyit.


Kala ia yang tadi sempat terkekeh bersama Val, Kafeel dan Aro melihat sebuah benda bergerak yang sepertinya ia kenali.


“Loh, itu mobil yang dipake Rery CS bukannya?” ucap Arya sambil menunjuk ke satu arah. "Kok mereka ke arah sana?.."


“Sepertinya betul deh dugaan aku, Ro? –“


Val yang sedikit merunduk untuk memperjelas penglihatannya pada arah yang ditunjuk Aro itu kemudian berucap, namun tidak menjawab keheranan Arya.


“Kayaknya sih iya, Val....”


Ucapan kedua kakak beradik itu membuat Kafeel dan Arya penasaran.


“Dugaan apa, Baby?-“


Kafeel sudah lebih dulu mengajukan pertanyaan yang sama ingin Arya tanyakan.


“Kenapa Mika meminta kita untuk pergi lebih dulu tanpa dia, Kak,” jawab Val.


Arya hendak bertanya,


“Berhenti Mas Dika!”


Namun suara Aro keburu terdengar berbicara pada sang supir.


“Minggir disini aja. Aman buat berhenti” imbuh Aro dan Dika mengangguk, karena di area yang Aro tunjuk ada beberapa mobil yang parkir di pinggir sebuah jalan akses masuk ke sebuah kawasan campur-campur, bukan jalan besar.


Jadi rasanya akan aman dari tilangan polisi.


“Kalian mau ngapain?....” tanya Arya spontan, saat mobil telah berhenti, lalu Val bergegas turun dan Aro mengikuti.


“Mau temani Mika, Kak,” jawab Aro.


Kemudian Arya mengernyit. ‘Nemenin Mika?’


“Oh panteess.”


“Kenapa Dik?” Arya yang tadi sempat bertanya-tanya sendiri dan melamun sejenak, terkesiap saat mendengar supir yang mengemudikan mobil mereka itu nyeletuk dalam gumaman.


“Itu Tuan, kebiasaannya Nona Mikaela kalo ngeliat yang kayak gitu—“ jawab Dika sambil menunjuk ke satu arah dimana Val dan Aro sedang berjalan menuju ke arah tersebut bersama Kafeel.


Arya mengernyit, dan kemudian segera keluar dari mobil untuk mencari tahu. Karena apa yang Dika ucapkan dan tunjuk sedikit kurang jelas baginya.


Kemudian Arya berjalan ke arah yang sama dimana Val, Aro dan Kafeel menuju. Lalu, ketika sampai di tempat dimana Aro, Kafeel dan Val berhenti kemudian Arya melihat pemandangan di tempatnya, Arya pun terpaku.



Beberapa saat sebelumnya,


“Tunggu deh ...” ( Val ).


“.........”


“Aku sepertinya sudah tahu kenapa Mika meminta kita pergi tanpa dia.” ( Val ).

__ADS_1


“Ada hubungannya sama Kak Arya?” ( Aro ).


“Ada.” ( Val ).


“Apa?” ( Aro ).


“Tadi jika aku tidak salah lihat, ada seorang ibu sedang mendorong sebuah wagon dengan dua orang anak di dalamnya, dan ada tumpukan kardus seperti yang ada di tempat anak-anak jalanan di bawah jembatan yang pernah kita datangi secara tidak sengaja itu loh.” ( Val ).


“Heemm-“ ( Aro ).


“Dan sepertinya Mika mau menolong ibu itu deh. Makanya dia meminta kita pergi lebih dulu dan meninggalkannya bersama Kak Bram?....” ( Val ).


“Kalau begitu sih kayaknya bener sih Nona Valera. Kalau memang benar ada ibu-ibu yang seperti Nona bilang tadi, dan Nona Mikaela melihatnya, pasti Nona Mikaela ga akan tinggal diam.” ( Dika ).


“Iya pasti.” ( Val ).


“Dan alasan kenapa Nona Mikaela minta buat ditinggalin disini pasti karena sindiran Tuan Arya, ya?” ( Dika ).


“Pinter Mas Dika!” ( Aro ).


“Tadi saya udah gatel sebenarnya mau nyeletuk pas Tuan Arya bilang Nona Mikaela ga punya hati nurani. Tapi saya dimarahi Nona Mikaela nanti.” ( Dika ).


“Jangankan Mas Dika, Val saja dilarang oleh Mika untuk cerita-“ ( Val ).


“Tuan Arya ga tau aja Nona Mikaela itu ternyata kayak apa orangnya.” ( Dika ).


“Wajar Kak Arya mikir gitu Mas Dika, Mika itu diluar judesnya naudzubillah. Orang juga taunya dia Cuma sering nyalon karena yang dipajang disosmednya kan hanya kehidupan hedonnya dia aja.” ( Aro ).


“Iya sih Tuan. Ga akan ada yang nyangka, kalau Nona Mikaela itu orang yang serius banget kalo udah nolong orang.” ( Dika ).


“Karena jika tangan kanan memberi, tangan kiri tidak perlu tahu.” ( Val ).


“Pasti setelah tau Nona Mikaela yang sebenarnya, Tuan Arya bakal ga enak hati sama Nona Mikaela.” ( Dika ).



Dan sekarang,


“Ya udah sih kalian duluan aja ke rumah Ake sama Ene. Ngapain jadi kalian malah turun sih?. Kasihan Mas Ken jadi muter tuh.”


Ini suara gadis yang bila dia sedang diam, gurat keangkuhan dan judesnya begitu kentara. –Mika-.


Namun kemudian, wajah angkuh dan judes itu berubah 360 derajat tak lama setelah orang yang Mika ajak bicara menyahut, lalu Mika beralih kepada dua anak kecil dengan pakaian yang amat lusuh dan kulit kehitaman, sedang menikmati roti dan susu ditangan mereka.


“Tunggu sebentar ya?”


Mika berbicara dengan senyum lebar yang nampak tulus kepada sepasang anak yang terduduk di sebuah gerobak itu.


“Sebentar lagi kalian tidak perlu tidur di gerobak ini.”


Lalu Mika berbicara pada seorang ibu, yang penampilannya sama seperti kedua anak di dalam gerobak.


Kulit kehitaman, dengan pakaian yang lusuh dan nampak sangat berkeringat.


“Ibu juga tidak perlu lagi mendorong-dorong gerobak ini lalu tidur di kolong jembatan, ya?”


“Neng, makanan yang eneng kasih ke ibu sama anak-anak ibu ini udah lebih dari cukup, Neng. Eneng ga usah repot cariin Ibu tempat tinggal.”


“Tapi, Neng-“


“Kalau Ibu khawatir tentang bagaimana ibu membayar sewa tempat tinggal Ibu dan adik-adik nanti, ibu jangan pikirkan hal itu ya?.... Ibu cukup ikuti apa yang saya bilang aja. Oke?”


Mika yang sedang berbicara dengan lembut dan akrab dengan seorang ibu tunawisma beserta dua anaknya itu bak Mika yang berbeda dari Mika, si Nona angkuh dan super judes itu.


Silahkan terkejut, jika melihat seorang Mikaela Finn Smith yang terkenal angkuh, judes dan hedon itu, terlalu berbeda jauh dari apa yang terlihat di permukaan selama ini.


Mika yang dipandang angkuh itu pasti akan dikira mudah jijik pada sesuatu.


Namun yang nampak sekarang, Mika sedang duduk di pinggir sebuah trotoar sambil berbicara pada seorang ibu berpakaian lusuh, bahkan aroma tidak sedap rasanya tercium dari tubuh si ibu dan kedua anaknya itu.


Tapi coba lihat pemandangan saat ini.


Mika yang seolah tak peduli keadaan sekitar, fokus saja pada ibu lusuh yang bahkan Mika rangkul dengan akrabnya karena ibu itu sedang menangis haru.


Tercengang?....


Rasanya yang mengira Mika adalah gadis dengan tiga poin negatif yang menonjol pada dirinya itu, mereka pasti akan tercengang melihat interaksi Mika dengan seorang ibu tunawisma dan dua anaknya yang kurus kering.


Bagaimana dengan Arya?


Arya tidak hanya tercengang, namun Arya rasanya malu hati pada Mika yang sudah ia katai tadi karena sangat acuh pada seorang peminta-minta.


Mika yang tadi Arya bilang tidak punya hati nurani, ternyata hatinya bak ibu peri.


Menolong tanpa ribut, serta tidak tanggung-tanggung.


“Sudah dapat rumah sewaan seperti yang tadi Mang Ateng bilang?”


Mika berdiri lalu berbicara pada seorang pria yang belum lama tiba dengan sepeda motor.


Dan tempat Mika telah digantikan Rery dan Ann yang sedari tadi juga bersama Mika berinteraksi bersama si ibu tunawisma dan dua anaknya yang tidak sengaja Mika lihat.


Dimana pria itu adalah salah seorang pekerja di rumah Keluarga Cemara.


“Sudah Non Mika.”


“Syukurlah.”


“Tapi karena Non Mika minta cepet, Mang Ateng dapetnya rumah kontrakan petakan, Non.”


Pria yang dipanggil Mang Ateng itu berucap.


“Tapi layak untuk ditinggali kan?” tanya Mika.


“Layak dong Non....”


“Ya sudah, ayo Mang Ateng tunjukkan jalan. Nanti saya ikuti dari belakang.”


“Iya, Non-“

__ADS_1


“Kak Bram, mobil yang dikemudikan Mas Fajri suruh kesini sekarang.”


Mika sedang fokus, tidak memperhatikan jika orang-orang yang satu mobil dengannya itu ada didekatnya sekarang.


“Naik mobil kita aja Mi, nanti gue bisa pindah-“


Mika langsung menoleh saat ia mendengar suara yang ia kenal.


“Loh , Aro? Bukannya gue suruh Mas Dika jalan duluan?”


“Iya memang, tapi tadi Kak Arya melihat mobil yang dikemudikan Mas Ken di jalanan seberang.”


Val yang menyambar untuk bicara.


“Oh.”


Bicara tentang ‘Kak Arya’ yang Mika sadari dari ucapan Val, membuat Mika sontak menoleh ke satu arah tak jauh darinya. Sebentar saja Mika menoleh pada dia yang tadi namanya Val sebut, karena Mika segera memutus kontak mata dengan Arya.


“Ayo Ibu, kita ke tempat tinggal ibu dan adik-adik yang baru.” Mika beralih lagi pada si ibu tunawisma yang langsung lagi Mika rangkul setelah dibantu berdiri oleh Rery dan Ann. Sementara dua anaknya, yang satu di gendong oleh Aro, dan satu lagi digendong oleh Kafeel.


Ibu tunawisma serta dua anaknya yang masih balita itu diboyong untuk masuk ke mobil yang standby dekat dari tempat mereka.


Mika mau tidak mau melewati Arya, namun Mika acuh saja, selain sedang merangkul sang ibu tunawisma untuk berjalan bersamanya.


“Sorry, Mi ....”


Arya berucap penuh penyesalan pada Mika.



Dihari terik ini,  Arya menyaksikan.


Betapa seorang Mikaela Finn Adjieran Smith, tidaklah seperti apa yang ditunjukkan oleh gadis itu dipermukaan .


Baik pada tampilan dirinya, maupun kesan pada media sosialnya.


Gadis judes nan angkuh itu, selalu memposting hal-hal hedon di media sosialnya, hingga terkadang nyinyiran sampai di kolom komentar Mika.


Tak ada nilai-nilai kebaikan yang nongol di akun medsosnya Mika, kecuali keluarganya yang bagi Mika dan para saudara-saudarinya, adalah anugerah dalam hidup mereka.


Tapi yang Arya lihat sekarang, Mika yang Arya pikir benar angkuh itu, ternyata mulia sekali hatinya.


Arya pikir Mika memandang kelas status seseorang, bahkan tega memandang jijik dan rendah mereka yang dianggap tak sepadan.


Namun pemandangan dimatanya benar-benar suatu kebalikan dari perkiraan Arya.


Mika yang angkuh itu, nyatanya membeli makanan banyak untuk ia berikan pada seorang ibu tunawisma dan dua anak balitanya yang nampak sekali kurang gizi.


Kalo kata Bram sih, tadi Mika keluar dari toko kue dengan menumpang lewat pintu belakang toko tersebut untuk menghindari pandangan Arya yang tadi sempat mengatainya tak punya hati nurani.


Dimana Mika hendak menghampiri ibu tunawisma dan dua balitanya yang kini tak tanggung-tanggung ditolong Mika. Diberikan makanan, bahkan diberikan tempat tinggal, walau baru sebatas kontrakan petakan yang bahkan kamar mandi pribadi Mika lebih besar dari kontrakan petakan tersebut.


Mika merogoh koceknya sendiri untuk membantu ibu tunawisma dan dua balitanya itu, meski para saudara-saudarinya yang sama mulia hatinya macam Mika sudah saling menawarkan bantuan.


Patungan untuk membantu ibu tunawisma yang kurang beruntung itu.


Yang ditinggal mati oleh suaminya yang hidup bertahun-tahun sebagai ‘manusia gerobak’.


Karena sang ibu dan almarhum suaminya itu memang tidak memiliki tempat tinggal, bahkan sampai mereka memiliki anak.


Hidup yang menyedihkan.


Dan lebih menyedihkan lagi, ketika si ibu ditinggal mati oleh suaminya, dengan dua balita mereka.


Hanya memiliki sebuah gerobak sebagai harta satu-satunya. Untuk mengais rezeki yang jauh dari kata cukup.


Gerobak yang juga berfungsi untuk menyimpan beberapa helai pakaian yang lusuh, serta juga tempat tidur untuk kedua balitanya.


Sementara si ibu, akan tidur beralaskan tanah disamping gerobak yang ditempati oleh kedua balitanya. Balita yang kurus kering, hingga rasanya memulas hati Mika yang sempat melihatnya.


Hingga niatan spontan itu tercetus di hati Mika, dengan menyuruh supir yang mengemudikan mobil yang ia tumpangi untuk mampir di toko kue karena ia ingin makan sebuah varian cake dari toko tersebut.


Yang pada kenyataannya, bukan itu alasan Mika sebenarnya. Mika mampir ke sebuah toko kue yang sudah sering ia sambangi jika melewati daerah tempat toko kue tersebut berada, hanya ingin membelikan roti dan beberapa makanan lain yang kiranya mengenyangkan.


Bukan untuknya, tapi untuk dua balita kurus kering dalam sebuah gerobak yang Mika lihat, serta ibunya. Yang terpapar teriknya matahari secara langsung di atas kepala mereka.


Yang sungguh membuat Mika rasanya tidak tega, namun Mika tidak berkata apa-apa setelah melihat pemandangan yang membuat Mika merasa miris dan iba. Mika hanya diam, namun niatan untuk membantu sudah ada di dalam hatinya, yang tentu saja Mika akan laksanakan tanpa perlu ia tunda.


Dan yah, seperti itulah.


Mika membantu si ibu tunawisma dengan dua balitanya secara diam-diam.


Terlebih ada Arya yang tadi sempat mengatainya. Jadi Mika lebih diam lagi, karena tidak mau kalau cowo yang Mika beri julukan sebagai sadboy itu mencibirnya kemudian dengan mengatakan jika dirinya sedang melakukan pencitraan.


Cih!. Persetan dengan pencitraan!.


Begitu kiranya pendapat Mika.


Dan hal itu memang tidak pernah dilakukan Mika untuk mendapat pujian dari orang-orang dengan memposting hal-hal yang berbau bakti sosial.


Padahal pada kenyataannya..


“Lo tau Ya’?..”


Kafeel yang berdiri disamping Arya yang sedang memandangi Mika yang nampak sibuk mengatur ini itunya dan bicara pada mereka yang berkepentingan itu, berucap pada Arya.


“Diantara semua orang di keluarga The Adjieran Smith, Mika yang paling aktif dalam kegiatan kemanusiaan,” imbuh Kafeel. “Mika bahkan sering jadi relawan yang rela datang ke tempat bencana alam dan sebagainya. Tapi ga satupun hal mulia yang si judes itu lakukan, dia posting dimedsosnya.”


Arya tersenyum miris, selepas mendengar penuturan Kafeel.


“Baru ini gue merasa, kalau gue benar-benar malu hati....“ sahut Arya.


Kafeel tersenyum lalu menepuk-nepuk bahu Arya. “Terkadang mata bisa salah, Bro.”



"Sesuatu yang bermanfaat lebih penting dari pada sesuatu yang sekadar dipandang hebat. Karena yang bermanfaat itu terasa, yang hebat kadang cuma untuk pandangan mata."


♥♥

__ADS_1


To be continue....


__ADS_2